AeriaCatZ: "Konnichiwa minna-san! Kembali lagi ke penpik CatZ yang gaje ini. Mumpung karena CatZ sayang sama kalian jadi author sempetin update, bahkan lebih cepat :D."
Jae: "Terima kasih bagi kalian yang udah reviews, sepertinya author gaje ini senang sekali mendapat 4 reviews dari orang yang berbeda."
AeriaCatZ: "IYAAA! CatZ seneng banget! KYAAAA! Ditambah lagi penpik ini nambah 1 fav ama follow *teriak gaje*."
Jae: *Sweatdrop* "Baiklah untuk menjawab reviews kalian tidak hanya kami berdua untuk kali ini. Disini juga ada Pein dan Konan.
Konan&Pein: "Haloo.."
Jae: "Baiklah, pertama-tama akan dijawab oleh saya sendiri."
AeriaCatZ: "Cie.. Cie.. Sendiri. Jomblo, ya?"
Jae: "Diam kau! Ok dari widya-Sslovers22: Gapapa, terima kasih sudah mendoakan. Untuk pertanyaanmu itu, Itachi dan Sasuke adalah saudara, kalau bisa silakan baca chapter... Eh maaf saya lupa chapter berapa. Tapi yang jelas ini bagian yang akan menjawabnya..
"PENGANUT SESAT!"
"Ck.. Disini berisik sekali sih! Mendingan gue selfie aja." Ujar Sasuke sambil mengeluarkan hanphonenya dan bergaya ala kuda nil, kakaknya Itachi hanya bisa geleng-geleng kepalanya melihat adiknya.
Konan: "Baiklah saya akan menjawab reviews dari hannavali795: Dulu aku juga beranggapan begitu. Terima kasih atas dukungannya."
Pein: "Baiklah giliranku *Masih ngeluarin cahaya ketamvanan*. Dari Kunikida692: Kami juga senang mendengarmu senang. Cepat-cepat login, ya! Terima kasih sudah memaklumi. Kami gak nyangka bahwa kau masih SMP. Tapi ngomong-ngomong siapa itu 'Si maniak bokep without his pierching' ?"
AeriaCatZ: "Hahahaha... Sudah-sudah lupakan saja! Baiklah saya akan menjawab reviews dari ElevRe: Yeyyyy! Akhirnya kamu balik lagi! Dulu aku sempet sedih tiba-tiba pembacaku banyak yang ngilang :'( . Sabar ya soal tugas sekolah, CatZ juga merasaknya *ngelirik tuga yang numpuk segunung*. Ternyata kamu kakak kelas, perlukah kupanggil ElevRe-senpai :3?"
Jae: "Sudah cukup! Terimakasih yang sudah mereviews dan membaca chapter lalu. Selamat membaca chaper 11. Semoga kalian suka."
AeriaCatZ: "Jae, ada ulat bulu dipundakmu!"
Jae: "GYAAAAA! SINGKIRKAN MAKHLUK MENJIJIKKAN ITU DARIKU! *lari-lari gaje*"
AllChara: *sweatdrop*
Memories in The School
Story by: AeriaCatZ
Warning Inside!
Happy Reading...
.
.
.
.
"Menurutku itu semua karena..."
.
.
.
.
.
.
"Pierchingnya.."
Chapter 11: Aura Ketamvanan dan Kecemburuan Konan (Bagian akhir)
"Pi-pierchingnya, hm?" Ujar Deidara agak terbata-bata.
"Kau yakin betul, Itachi?" Tanya Sasori setangah gak percaya.
"Tentu. Apa kalian gak pada sadar apa? Pas Pein udah balik tanpa pierching sikapnya udah berubah total." Jawab Itachi.
"Menurutku apa yang dikatan Itachi sepertinya benar. Waktu itu sebelum ia ke toilet alias masih berpierching sikapnya masih kayak biasanya, tapi pas dia udah balik dari toilet dalam keadaan tanpa pierching, sikapnya bener-bener dah berubah!" Konan mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi sore dan kemudian menjelaskannya pada semua orang.
"Gue baru tau kalo Pein punya kepribadian ganda." Ujar Hidan cukup kaget.
"Berarti supaya Pein kembali seperti semula, kita harus pasangin lagi pierching ke mukanya." Jelas Kisame yang disertai anggukan dari yang lain.
"Tapi kita mau nyari dimana tu pierching? Nyari pierching itu gak semudah yang loe kira." Deidara ber-opini.
"Benar juga. Oh iya! Konan apa kau tau bagaimana Pein bisa kehilangan piechingnya?" Tanya Zetsu yang baru saja dapat ide.
"Ngggg.. AH IYA!" Seru Konan dengan teriak membuat yang lain terkejut.
"Kalo gak salah pierchingnya diambil oleh Arisa!" Seru Konan lagi dan membuat Akatsuki melongo terutama Kakuzu.
"Kok, kamu tahu?" Tanya Kakuzu.
"Mmmmm... Kalau gak salah.."
Plesbek..
"Ti-tidak, maksudku ada apa dengan wajahmu?" Tanya Konan sambil berjalan menuju Pein. Kemudian menekan pipi Pein dengan kedua telapak tangannya. Ia memandangi beberapa piercing di wajahnya sudah menghilang.
"Entahlah, aku tadi sedang pergi ke toilet. Kemudian Arisa tiba-tiba menyerangku. Akupun berusaha melawannya, tapi ia berhasil mengambil percing di wajahku dan- AWW!" Pein berusaha menjelaskan, tapi terpotong oleh teriakan rasa sakit yang diakibatkan luka dari bekas tusukan piercingnya.
"Nanti saja menjelaskannya! Kau sedang terluka, cepat ikut aku! Kita ke UKS sekarang!" Konan secara spontan langsung menyeret Pein agak terburu-buru dan meninggalkan orang-orang yang tergeletak pingsan disana.
Plesbek End..
"Begitu ya. Berati tak salah lagi penyebabnya Arisa! Besok kita langsung temui Arisa buat ngebalikin pierching Pein." Usul Kisame dan mendapatkan anggukan dari yang lain.
"Kalian sedang apa? Sepertinya seru sekali," Pein tiba-tiba nongol dari belakang Kakuzu, tepatnya Kakuzu lagi duduk didepan pintu. Secara spontan, Akatsuki (minus Pein dan Tobi) langsung salting dan malah grebak-grubuk.
"Ti-tidak ada kok Pein." Ujar Konan sambil mengeluarkan senyuman ria tapi mencurigakan.
"Benarkah?"
"Tentu saja!" Jawab Akatsuki (minus Pein dan Tobi) kompak.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku ya?" Tanya Pein yang mukanya langsung tiba-tiba mendekatkan mukanya ke Konan, membuat muka Konan memerah karena terlalu sebentar melihat muka Pein yang begitu tamvan berada tepat didepannya dengan jarak satu jengkal (AeriaCatZ: "Sebentar aja udah gitu. Gimana kalo lama?") membuat Konan nambah salting.
"Ti-ti-ti-tidak ada kok Pein! Kami tidak menyembunyikan apapun darimu!" Seru Konan yang masih salting.
"Mmm.. Kalo gitu.. Tobi?" Pein bertanya pada Tobi, membuat Akatsuki tersentak, karena Tobi tak bisa enyembunyikan apapun dari Pein.
"Ahh.. Jadi kami sebenarnya lagi mendiskusikan tentang perubahan Pe-" Jawab Tobi riang tapi langsung terpotong oleh Hidan yang menyeret Tobi keluar kamar Konan dan..
BUAK... BLETAK.. BLETAK.. BRUKK
Suara keras muncul dari luar kamar, sedangkan Akatsuki yang lain (kecuali Pein) langsung memejamkan mata dan berdo'a.
'Semoga, Tobi bisa tenang di alam sana. Aaamiinn.'
Hidan kembali dari kamar Konan. "Maksud kami tadi kami sedang mendiskusikan tentang perubahan PEnIdikaN." Jawab Hidan tersenyum, tapi senyuman psikopat. Sedangkan Pein hanya mengangguk-angguk sambil natap Hidan ngeri dan kemudian meninggalkan kamar Konan.
"Kau apakan Tobi tadi?" Tanya Kakuzu yang masih natap Hidan ngeri.
Hidan hanya tersenyum dan menjawab, "Seperti biasanya, kok."
Semuanyapun berguman kecuali Hidan, 'Semoga Tobi bisa terima kenyataan ini.'
-SKIP TIMEEEE-
Para anggota Akatsuki pada keasikan molor, namun semua berubah ketika mereka terbangun dan mengecek jam milik mereka masing-masing yang sudah menunjukkan pukul 06:02.
.
.
.
.
.
.
"GYAAAAA TELAT BANGUNN!" Teriak mereka semua panik termasuk Konan, mereka langsung menuju ruang makan sambil bawa-bawa handuk masing-masing dan melihat sarapan yang tersaji lengkap diatas meja makan (Yaiyalah! Masa diatas jamban!). Mulai dari daging, telur, susu, roti, dan nasi.
"Semuanyaa.. Selamat Pagi!" Sapa Pein sambil tersenyum manis sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk Akatsuki. Sedangkan Kesembilan makhluk itu? Mereka cengo sejenak melihat Pein yang sedang menyajikan makanan untuk mereka, bukan hanya sikap, pesona, tapi keterampilannya pun juga berubah. Tapi yang paling cengo ialah Kakuzu karena, dia melihat ada daging di atas meja.
"Da-dari mana kamu dapat daging ini?" Tanya Kakuzu penasaran campur dengan firasat buruk.
"Hng? Ah, aku membelinya di pasar malam kemarin." Jawab Pein santai.
"Duitnya?" Tanya Kakuzu lagi.
"Maaf, tapi aku make uang kamu dulu." Ujar Pein.
"Du-du.. DUITT GUEEEE!" Teriak Kakuzu gaje sambil berlutut, sedangkan yang laen merasa bahwa gendang telinga mereka hampir pecah karena teriakan nista barusan.
"Hm? Kenapa Kakuzu? Ada masalah?" Tanya Pein sambil melemaskan sendi jari tangannya. Sebenarnya Pein bukan bermaksud mengacam, ia hanya ingin melemaskan sendi jarinya. Tapi Kakuzu malah nanggep kalo Pein lagi ngancem dia.
"Ti-tidak ada kok." Jawab Kakuzu takut dan langsung duduk tenang di kursi makan.
"Nah, silakan dimakan." Senyum Pein ramah.
"I-iya! Selamat makannn!" Para Akatsuki (minus Pein) langsung menyendokkan seutil meong (?) telur yang sudah tersaji rapi di piring mereka masing-masing. Dan menyuapkannya ke mulut mereka.
Satu suap telur telah mendara di mulut mereka dan..
"Di-dimana ini? Apa ini surga?" Tanya mereka yang melihat ke sekililing, semuanya indah seperti surga.
"Selamat pagi semuanya.. Apa anda menikmati makanannya?" Tanya sesosok makhluk bercahaya.
"Di-dimana ini?"
Syyat...
Para Akatsuki kembali ke dunianya..
INI BENAR-BENAR ENAKKKKK!
Seru mereka dalam hati, sedangkan Pein hanya tersenyum ganteng melihat anak buahnya makan dengan meriah. Akatsuki benar-benar tidak percaya bahwa ketuanya sudah berubah.
Jam sudah menunjukkan pukul 06:08. Akatsuki benar-benar menikmati makannya, kecuali Kakuzu yang harus merelakan uangnya pergi karena Pein diam-diam mengambilnya. Melihat Jam, mereka langsung berebut menuju kamar mandi. Pein yang biasanya ikut-ikutan berebutan hanya diam melihat anak buahnya yang berebutan kamar mandi.
"Pein tidak mau pakai kamar mandi?" Tanya Deidara.
"Ah, aku tidak usah. Aku akan mandi di tempat cucian piring aja." Akatsuki cengo lagi melihat kelakuan Pein. Ia bahkan rela berkorban demi anak buahnya.
Akhirnya Peinpun disuruh menggunakan kamar mandi dengan cara dipaksa.
Sedangkan Kisame, Hidan, Deidara dan Kakuzu mandi di kolam ikan Kisame, Tobi dan Zetsu mandi di akuarium Kisame, Konan mandi di danau (?) terdekat, Sasori mandi di genangan air yang terkapar di tengah jalan, sedangkan Itachi dan Kisame mandi pake air coberan. (AeriaCatZ: "Ck, ck, ck.. Gimana tuh jadinya?")
-Skip Time-
Jam udah menunjukkan puku 06:30, beruntung Akatsuki tidak telat. Kalau iya, maka mereka akan mendapat semburan ceramah rohani dari macan betina merah paruh baya (ditonjok Kushina) aka Kushina-sensei.
Pagi kali ni sangat berbeda dengan pagi yang sebelum-sebelumnya. Seluruh murid sedang heboh-hebohnya. Biasanya karena Itachi dan dan Sasori tentunya, tapi kali ini malah si ketua pierchingan yang jadi bahan kehebohan orang-orang. Mereka pada bisik-bisik dan kasak-kusuk, membicarakan ketua ganteng tanpa pierching di muka ini.
Dan juga biasanya Pein selalu menggoda
cewek-cewek cakep yang kebetulan lewat, tapi kali ini dia hanya berjalan dengan tenang dan cool. Para anggota Akatsuki yang lain hanya sweatdrop melihatnya.
Sampainya mereka di jalan pemisah antar kelas XI IPA 3 dan XI IPS 3, para Akatsuki langsung berpisah menurut kelas mereka masing-masing.
-SKIP TIME-
Scene: Kelas XI IPS 3
Para murid sedang pada ribut, namun semua berubah ketika negara angin menyerang, hanya apatarlah yang dapat menghenti-, Eh sori-sori. CatZ salah baca naskah. Mereka terdiam ketika melihat kelima anggota Akatsuki masuk, lebih tepatnya saat Pein masuk kedalam kelas.
"Murid baru?"
"Ganteng bangettt!"
Pikir mereka, tapi sama sekali tidak ada kabar apapun sejak kemarin. Biasanya kalo ada murid baru akan ada pemberitahuan sehari sebelum murid baru nongol.
"Aduh! Aku lupa bawa pena! Pein boleh pinjam penamu?" Seru Kisame sambil nengok belakang (soalnya Kisame duduk didepan Pein).
"Boleh kok. Ini!" Pein langsung menyerahkan sesosok pensil ke Kisame.
.
.
.
.
.
.
.
.
"HEHHHHH?!" Sorak anak kelas XI IPS 3 kecuali Akatsuki dan langsung mengerubungi Pein, bahkan sampe nendang Kakuzu supaya dia menyingkir (AeriaCatZ: "Yang sabar ya, Kakuzu *nepuk-nepuk pundak Kakuzu*.).
"Kamu beneran Pein?"
"Kok kamu bisa begitu?"
"Kyaaa... Pein! Aku gak nyangka kalo kamu ganteng banget!"
"Pein bagaimana bisa caranya ganteng dalam satu malam? Aku juga mau!"
Bagaimana cara Pein bisa menangani hal ini pada mereka?
.
.
.
Scene: Kelas XI IPA 3
Konan lagi melamun, saking seriusnya melamun, ia bahkan tidak sadar bahwa dari tadi Aadara ngeguncang-guncang tubuh Konan panik, karena takut kalo aja Konan kerasukan Dedemit, jin, iblis , syetan dan semacamnya.
Konan masih memikirkan Pein, ia tidak tau apa yang bakal terjadi ketika ia pergi jauh dari Pein saat dia bekeadaan seperti itu.
'Pasti Pein saat ini sudah dikerubungi para cewek-cewek.' Pikirnya.
Sedangkan Itachi cs menatap Konan dengan tatapan cemas.
-Skip Time-
"Hei Konan! Ayo ke kantin!" Ajak Aadara.
"Eh? Iya!" Jawab Konan kaku.
"Konan? Kau kenapa? Ada suatu masalah ya?" Tanya Aadara cemas.
Konan tersenyum pahit, "Tidak ada kok! Ayo!".
Didepan kelas IPA 3, Zetsu dkk sudah menunggu, tapi Pein tak ada. Konan celingak-ceinguk mencari Pein.
"Pein sudah duluan. Tadi dia diseret-seret oleh cewek genit." Belum Konan bertanya Kisame langsung jawab.
"Hm.. Ya sudah ayo!" Merekapun berjalan menuju kantin.
-Skip Time-
Suasana kantin terlihat ramai sekali. Para murid pada berdesak-desakan mengantri untuk membeli makanan, bahkan sampe ada yang pingsan (BUSET!).
Semua tempat duduk dan meja kantin tampak ramai. Hanya satu meja yang tidak ramai, yaitu meja kosong (YAIYALAH!). Maksud CatZ, meja yang ditempati Akatsuki.
Hidan mengaduk –aduk minumannya dengan tatapan kosong. Anggota Akatsuki yang lainpun juga sama, sedangkan Aadara ia memutuskan untuk pergi dan akan bersama Jae saja.
"Rasanya," Sasori membuka percakapan. Anggota Akatsuki yang lain sedaritadi melamun langsung tersadar kembali.
"Sepi, ya?" Sasori melanjutkan pembicaraannya. Yang lain hanya mengangguk.
"Kakuzu bagaimana?" Tanya Hidan.
"Gue sudah membujuk Arisa, tapi dia ngotot, bahkan mengeluarkan puppy of orochi miliknya sehingga aku luluh." Jelas Kakuzu.
"Begitu ya?"
"Gue sudah meminta bantuan teman kelasku yang lain untuk membantu kami mencari pierching. Ia sudah menemukannya, katanya nanti sore baru diberinya." Sahut Zetsu.
"Ohh.."
Konan mendengar suara cekikikan yang tak jauh darinya, ia melirik. Konan melihat Pein sedang tertawa ria bersama cewek-cewek yang sepertinya baru dikenalnya. Konan membuang mukanya, ia tak ingin lagi kembali melihat pemandangan itu. Ia hanya cemburu.
Meja yang ditempati Akatsuki masih saja suram, murid-murid yang berada disekitar mereka memutuskan untuk menjauh sejauh 2 meter dari sana.
"Tobi, kangen, Pein -sama." Ujar Tobi dengan nada agak sedih. Seolah-olah Pein sudah pergi sejak 20 tahun yang lalu. Deidara kemudian menyenderkan Tobi kepundaknya dan menepuk-nepuknya, seolah ingin juga berkata, "Gue juga kangen ama Pein."
"Meskipun Pein sekarang ganteng, sikapnya bagus, terampil. Tapi,"
"Jujur saja, gue lebih suka dia yang dulu. Ia yang selalu bertingkah kocak, absurd, dan gaje." Ujar Hidan. Para Akatsuki kembali mengingat-ingat memori mereka yang mereka lalui bersama Pein. Pada saat dikantin, markas, sekolah, dan dimanapun Pein selalu meriahkan suasana. Terutama Kisame dan Zetsu mengigat saat-saat uji nyali, dimana Pein jatoh terguling-guling akibat ia tergelincir saat nyoba jadi pocong.
Keheningan kembali muncul. Tidak ada satupun satu dari mereka yang bicara. Bahkan Tobi yang selalu riang dan penuh semangat tidak berbicara, hanya duduk diam menunduk.
TENG.. NONG.. NENGG..
JAM ISTIRAHAT UDAH ABIS WOI! YANG DIKANTIN CEPET BALIK KEKELASNYA MASING-MASING!
TENG.. NONG.. NENGG..
Suara bel penanda jam istirahat udah habis memecahkan keheningan di meja Akatsuki. Mereka memutuskan untuk kembali ke meja masing-masing.
Semua anggota Akatsuki sudah meninggalkan kantin dan menuju kelas masing-masing, biasanya akan selalu ada keabsurdan saat kembali kekelas, tapi kali ini mereka hanya kembali kekelas masing-masing dalam keadaan sunyi.
Kecuali Konan ia masih terduduk diam sendirian di atap sekolah. Ia ingin sekali angin yang sedang bertiup ini membawa pergi rasa sedihnya. Sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Kenapa masih sendirian?" Tanya orang itu sambil tersenyum.
"Pein?"
"Shhsss.. Aku sedang bersembunyi."
"Hm."
"Kenapa kau sendirian disini? Mana yang lain?" Tanya Pein sambil melirik-lirik sekitar.
"Mereka sudah kekelas masing-masing." Jawab Konan dingin.
"Kau kenapa? Ada masalah?"
"Tidak."
"Apa ada yang mengganggumu? Tenang saja aku akan membereskannya."
"Tidak."
"Hmmm.. Begitu. Kau butuh teman? Aku akan menemanimu."
"Tidak usah, lagian nanti kau juga akan telat masuk kan? Bisa-bisa Yamato-sensei, akan mengamuk denganmu." Tolak Konan tsundere.
"Tidak apa-apa. Aku lagi malas masuk kelas kali ini." Jawab Pein santai.
"Tidak." Jawab Konan lagi-lagi dingin.
"Hahh.. Kau cukup keras kepala, ya. Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan pergi." Hela Pein. Iapun langsung bangkit dan mulai berjalan.
"Tunggu!" Konan langsung menahan tangan Pein dengan tangannya, ia sebenarnya tidak ingin Pein pergi."
"Kenapa? Bukankah kau bilang kau tidak ingin ditemani?" Tanya Pein heran.
"Aku berubah pikiran." Jawab Konan dengan muka memerah, tapi ia tidak menunjukkannya pada Pein.
"Kau selalu saja begitu. Bagiku kau gadis yang sulit dimengerti." Ujar Pein blak-blakkan.
"Aku terkadang selalu tidak mengerti apa yang wanita inginkan. Mulut mereka berkata tidak tapi hati mereka berkata iya."
Konan hanya terdiam mendengar jawaban Pein, tapi ia tetap tidak melepas genggaman tangannya.
"Kau tidak tau apa yang kurasakan selama ini. Waktu itu, aku senang kau menjawab 'iya', tapi kau dingin, hampir tidak memperhatikanku. Kita seolah-olah hanya teman biasa bahkan kurang dari itu. Makanya aku berusaha mendapat perhatianmu, mulai berlaku konyol, membaca hal yang tidak boleh, menggoda gadis lain, tapi hasilnya hanya sedikit yang kudapatkan, sepertinya aku hanya terlalu berharap. Saat aku berusaha memperhatikanmu, kau malah hanya dingin seperti Elsa. Aku bahkan tidak tau lagi apa yang harus apa lagi. Apakah aku harus terus bertahan seperti ini, atau pergi meninggalkan"
Konan terkejut mendengar pernyataan Pein, matanya terbelalak tapi tak dilihat oleh Pein. Konan mengeratkan genggamannya. Konan membuka kecil mulutnya.
"Maafkan aku, aku telah cuek denganmu."
"Maafkan aku, aku telah dingin dan tak memperhatikanmu."
"Aku bahkan pernah menganggap kalo kita bukan seorang pasangan."
"Tapi saat kau seperti ini, kau jadi dekat dengan cewek lain, entah mengapa aku rasanya jadi ingin berteriak pada mereka, 'Dia milikku! Jangan dekat-dekat dengannya!'."
"Aku merindukanmu, kami merindukanmu. Kisame, Zetsu, Tobi, Deidara, Hidan, Sasori, Kakuzu, Itachi, merindukanmu. Tanpamu kami merasa tidak lengkap, bagaikan burger tanpa daging atau isi. Atau Mie instan tanpa telur dan nasi. Kami merindukanmu yang konyol, aktif, absurd, dan yang lainnya."
"Jangan pergi Pein! Aku tidak mau kau pergi lagi, aku tidak mau kau dekat dengan gadis lain. Kumohon! Jangan! Jangan!. Jangan pergi lagi! Aku tak mau kau pergi!"
"Jangan pergi!" Ujar Konan sambil menitikkan air mata, dan memperkuat genggaman tangan. Sedangkan Pein hanya sweatdrop, padahal ia hanya mau pergi ke WC dan balik ke kelas, tapi seolah-olah dia kayak mau pergi keluar negeri aja selama 50 tahun.
Disamping itu dia juga lumayan luluh, ia belum pernah Konan setulus ini mengatakan perasaannya.
"Konan.." Pein tersenyum kecil.
"..Aku mencintaimu Pein. Aku mencintaimu Yahiko." Pein kembali tersenyum, ia melepaskan genggaman Konan yang kuat, dan membelai pelan kepala Konan, Konan mendongakkan kepalanya.
Pein mendekatkan bibirnya dengan bibir Konan, "... Aku juga mencintaimu... Konan..."
CUP...
-Bersambung-
AeriaCatZ: "YEAAAAHHH! AKHIRNYAAAAA! DENGAN INI CATZ BISA FOKUS KE PAIR AKATSUKI YANG LAIN! YEAH!"
Jae: "Cukup teriak-teriaknya! Telingaku sampe tuli tauk! Cepet tutup penpiknya!"
AeriaCatZ: "Hehehe.. Iya-iya! Sabar dulu! Jadi untuk pembaca ini adalah chapter terakhir dari PeinxKonan, mulai chapter berikutnya Pein akan kembali berpierching, saat ini CatZ mau fokusin ke Itachi x Miwa dulu."
Pein's FG: "Yahhh.. Peinnya berpierching lagi."
Jae: "Aku saranin mendingan kamu fokus UAS dulu."
AeriaCatZ: "Oh iya, ya! Huweeeee... Pembaca mohon sekali doanya untuk UAS yang akan diselenggarakan 13 hari lagi! Oh iya satu lagi! Soal Pein x Konannya... CATZ BENAR-BENAR MINTA MAAFFFF... Soalnya ada halnya yang membuat cerita PeinxKonannya jadi agak hancur.
1. Author gak bisa bikin cerita romance
2. CatZ gak tau apa-apa soal cerita romance
3. CatZ gaktau apa-apa soal Pein dan Konan
AeriaCatZ: "Jadi karena itulah, jadi CatZ benar-benar-benar-benar minta maaf jika romancenya kurang ngena atau semacamnya. Karena ini penpik humor bukan romance. Jadi tolong ya dimaklumi."
Jae: *Sigh* "Baiklah terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter 12. Jangan lupa dukung authornya untuk UAS tanggal 28 November nanti."
.
.
.
Thank you very for reading.
Don't forget to follow my story, biar loe gak ketinggalan penpik ini.
Don't forget to give us your opinion by reviews :)
