Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
.
.
.
Lagu pengiring chapter 11 ini:
Notes And Word by One Ok Rock
.
.
.
Kasih Tak Memilih
Author: Kenjo Mika
.
.
.
Chapter 11. Bunga mawar merah
.
.
.
'Eh, siapa orang ini?' batin Ravel yang berlari beriringan dengan Naruto, tidak mengetahui bahwa Naruto sedang menyamar.'Dia akan membawaku kemana? Tapi, ya sudahlah, aku menurut saja kemanapun dia membawaku. Asal aku bisa terbebas dari FTF ini.'
Begitulah, dan sukses mengukir senyum di wajah Ravel yang berseri-seri. Merasa berhutang budi pada sosok pria yang menarik tangannya ini.
Setelah ini, apa yang terjadi?
Naruto dan Ravel terus berlari menuju ke arah luar gedung kampus. Sementara para fans maniak tetap juga mengejar mereka, tanpa berhenti sedikitpun.
Pagi-pagi buta seperti ini, mereka berdua - Naruto dan Ravel - dihadapkan pada kejadian konyol ini. Mau tidak mau, mereka harus menerima keadaan yang telah terjadi pada mereka sekarang.
Berlari bersama di halaman depan gedung kampus, Naruto menyeret Ravel sampai ke taman kampus. Dimana banyak pohon yang sedang berguguran di sana, juga ada tanaman bonsai yang berdaun kekuningan, tumbuh di antara pepohonan itu.
Naruto memilih bersembunyi di balik tanaman bonsai itu, berlutut, dan memeluk Ravel seerat-eratnya. Ravel terdiam dan merasa jantungnya berdebar-debar tatkala dipeluk Naruto seperti ini. Apalagi Naruto mengisyaratkan padanya agar tetap diam dengan cara menempelkan telunjuk di bibir. Ravel mengerti itu dan berusaha agar tetap diam sembari menutup mulutnya dengan dua tangannya.
Dalam situasi seperti ini, Ravel memilih untuk tidak menunjukkan sikapnya tsundere. Dia ingin terbebas dari kejaran para fans maniak itu. Itulah yang terpenting.
SIIING!
Hening.
Tidak ada suara apapun di taman kampus itu. Benar-benar hening bagaikan di kuburan.
Sepertinya para fans maniak itu tidak menyadari mereka bersembunyi di balik tanaman bonsai lalu memilih pergi dari sana.
Beberapa menit kemudian, merasakan situasi sudah aman, Naruto melongokkan kepalanya dari balik tanaman bonsai. Dia masih memeluk Ravel.
"Apa para fans itu sudah pergi?" tanya Ravel pada Naruto.
"Sudah. Keadaan sudah aman sekarang," jawab Naruto sambil menatap ke arah Ravel.
DEG!
Jantung Ravel berdegub kencang tatkala wajahnya sangat berdekatan dengan wajah Naruto. Wajahnya memerah padam dan...
BUAK!
Melayangkan pukulan super kuatnya pada Naruto sehingga Naruto terlempar dan mendarat di tanah dengan sukses.
GUBRAK!
Alhasil, Naruto terkapar di atas rerumputan dengan kedua matanya yang membentuk obat nyamuk. Kepalanya pusing tujuh keliling akibat dipukul sekuat tenaga oleh Ravel. Tidak pingsan, masih sadar.
Ravel berdiri dan keluar dari balik bonsai, menunjukkan wajahnya yang garang dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Asap kekesalan keluar beberapa kali dari hidungnya.
"Da-Dasar, lelaki mesum! Berani-beraninya kau memelukku!" seru Ravel yang sangat emosi.
"Ma-Maaf... Aku tidak bermaksud begitu... Aku terpaksa memelukmu agar kau tidak berisik," jawab Naruto yang berusaha bangkit dari baringnya.
"Hmmm... Tunggu... Suaramu tidak asing bagiku. Apa aku mengenalmu?"
"Tentu saja, payah. Aku ini Naruto, tahu."
Naruto membuka kacamata hitam dan maskernya. Sungguh mengejutkan Ravel. Kedua matanya terbelalak. Mulutnya ternganga habis.
"A-Apa!?"
"Reaksi kagetmu berlebihan, gadis monster."
"JANGAN SEBUT AKU GADIS MONSTER! DASAR, LELAKI MESUM!"
"HEI, AKU TIDAK MESUM, TAHU!"
"ITU MEMANG BENAR, KAN!?"
Ravel mendelik ke arah Naruto. Naruto juga mendelik ke arah Ravel lalu menghembuskan napas kekesalannya. Berbicara dengan nada rendah, tidak meninggi seperti tadi.
"Ya sudahlah. Aku tidak mau berdebat denganmu lagi."
"Apalagi aku, huh..."
Mereka berdua saling membuang muka. Kemudian Naruto berkata lagi.
"Oh iya, kau berhutang budi padaku."
"Hutang budi apaan, hah?!"
"Aku sudah menolongmu agar para fans itu tidak mengejarmu lagi. Jadi, aku minta kau mentraktir aku makan siang hari ini!"
"A-Apa!?" Ravel emosi lagi dan menoleh ke arah Naruto."AKU TIDAK MAU MENTRAKTIRMU!"
Naruto menoleh juga ke arah Ravel dan menunjukkan wajahnya yang kesal.
"Tidak mau ya? Ya sudah, aku akan menelepon Produser sekarang karena kau telah bertindak kasar padaku. Aku pastikan kau akan dikeluarkan dari Five Tales. Jadi..."
Belum sempat Naruto melanjutkan kata-katanya, Ravel memotongnya.
"Jangan!"
Naruto sudah memasukkan tangannya ke dalam kantong jaketnya, hendak mengambil ponselnya itu. Ravel memperhatikannya, menghelakan napas, dan berkata lagi.
"Baiklah... Aku akan mentraktirmu makan siang hari ini."
Saat itu juga, Naruto menyengir lebar.
Ancamannya berbuah hasil yang nyata. Ravel setuju akan mentraktirnya makan siang sebagai tanda balas budi.
.
.
.
"Ini untukmu!"
Sebuah ramen cup ukuran jumbo yang baru saja diseduh, disodorkan pada Naruto, yang duduk di bangku pengemudi, persisnya di dalam mobil Naruto. Naruto menyengir lebar sembari menyambar cepat ramen cup itu dari tangan Ravel.
"Terima kasih."
"Uhm...," Ravel cemberut lalu menggigit hotdog miliknya dengan perasaan kesal."Ukh..."
Naruto memperhatikan Ravel yang duduk di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Naruto heran.
"Tidak ada," jawab Ravel sambil mengunyah makanannya dengan gerakan cepat.
"Apa kau tidak ikhlas mentraktirku?"
"Ikhlas."
"Kalau ikhlas, kenapa wajahmu cemberut begitu?"
"Tidak apa-apa. Sana makan ramenmu itu."
Memalingkan wajahnya dari Naruto, Ravel terus mengunyah. Wajahnya masih terlihat cemberut.
Sementara Naruto, hanya mengangkat kedua bahunya. Cuek dan langsung memakan mie ramennya itu dengan menggunakan sumpit.
Hening.
Mereka berdua saling terdiam dan menikmati makanan masing-masing.
Sesuai kesepakatan mereka berdua tadi pagi, Ravel membelikan Naruto sebuah cup ramen di kantin kampus. Naruto menunggunya sambil duduk santai di dalam mobil, yang terparkir di tempat parkiran khusus. Naruto terpaksa bersembunyi di dalam mobilnya, guna menghindari kejaran para fansnya. Tidak menyamar seperti mata-mata lagi.
Sebaliknya Ravel, yang bergiliran menyamar. Dia mengenakan perlengkapan penyamaran Naruto seperti topi rajut hitam yang menutupi rambutnya, kacamata hitam, dan jaket berwarna hitam. Penampilannya yang serba hitam ala mata-mata ini, sukses membuat orang-orang menjadi curiga melihatnya.
Dengan hati terpaksa, Ravel melakukannya. Kalau tidak, Naruto akan mengeluarkannya dari Five Tales dan dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Karena dia sudah merasa nyaman menjadi bagian dari anggota Five Tales. Apalagi dia sudah berteman akrab dengan Kanade dan Yuuto.
Ravel sangat suka dengan musik dan pernah bermimpi untuk menjadi anggota dari sebuah band. Dengan kemampuannya sebagai drumer, Ravel mengikuti ajang pencarian bakat diselenggarakan oleh Produser "Namikaze Record", dan harus bersaing dengan sepuluh ribu orang. Hingga pada akhirnya, dia terpilih menjadi anggota Five Tales. Kabar baik ini sukses membuat hatinya meledak senang.
Impiannya terwujudkan. Dia menjadi drumer di sebuah band.
Yang mengejutkannya adalah dia harus sekelompok dengan Naruto, yang notabene adalah musuhnya selama di kampus.
Dan dia harus menuruti semua perintah Naruto karena Naruto adalah ketua Five Tales sekaligus anak dari Produser.
Kehidupannya semakin bertambah buruk karena harus bertemu dengan Naruto hampir setiap hari. Baik itu di kampus, di studio latihan Five Tales dan dimana saja. Tidak jarang jika dia dan Naruto bertengkar karena hanya masalah yang sangat sepele.
Untuk itu, dia ingin mengakhiri permusuhan ini, dengan cara berteman dengan Naruto. Melakukan gencatan senjata sekarang juga.
Setelah lama terdiam, mereka sudah menghabiskan makanan masing-masing. Tahap terakhir, mereka mengambil minuman kalengan teh dengan kompak dari plastik yang tergeletak di tengah-tengah mereka.
"Ah!?" keduanya saling ternganga lalu saling memberikan deathglare.
Kemudian membuang muka masing-masing, dan membuka pengunci minuman kalengan teh dengan kompak. Juga meminum minuman kalengan teh itu dengan kompak lagi.
Karena merasakan itu, sudut perempatan sudah hinggap di kepala Ravel. Ravel mendelik dan menjauhkan minuman kalengan teh dari mulutnya.
"KENAPA KAU MALAH MENIRUKU!?" bentak Ravel tiba-tiba.
"Uhm... Siapa yang menirumu, hah?" Naruto juga mendelik ke arah Ravel."Justru kau yang meniruku."
"AKH! DASAR, TUKANG JIPLAK!"
"APA!?"
"IYA. KAU ITU TUKANG JIPLAK YANG SUKA MENIRU PERILAKU ORANG LAIN! ITULAH JULUKAN YANG BARU BUATMU!"
"AKU INI BUKAN TUKANG JIPLAK, TAHU!"
"TUKANG JIPLAK!"
"GADIS MONSTER!"
"APA!? TUKANG JIPLAK!"
"GADIS MONSTER!"
"AKH! NARUTO! KAU MENYEBALKAN!"
BUAAAK!
Perut Naruto ditonjok keras oleh Ravel sehingga Naruto terdiam dan langsung memuntahkan apa yang dia makan tadi. Akibatnya, pakaiannya habis terkena bekas muntahannya itu.
"Huek... Ah... Sa-Sakit...," Naruto memegangi perutnya yang terasa sakit dengan kedua tangannya.
"Huh...," Ravel keluar dari mobil Naruto dan membanting pintu mobil dengan keras.
BLAM!
Naruto memandangi kepergian Ravel itu dengan tatapan yang tajam. Lantas berteriak sangat keras hingga mengguncang tempat itu.
"AWAS YA KAU, RAVEL! AKU AKAN MEMBALASMU! LIHAT SAJA NANTI!"
.
.
.
Akibat perbuatan Ravel itu, dengan terpaksa, Naruto pulang dulu ke rumahnya. Membersihkan dirinya dengan cara mandi dan berganti pakaian. Kemudian pergi lagi ke suatu tempat.
Jadwal kuliahnya sudah selesai hari ini, juga tidak ada acara lainnya, sehingga dia lebih leluasa untuk pergi ke tempat dia tuju sekarang. Tentunya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Koneko.
Sempat juga dia singgah ke toko bunga yang ada di pinggir jalan, hanya untuk membeli sebuket bunga mawar merah. Dia ingin memberikan sebuket bunga mawar merah ini pada Koneko sebagai tanda cinta darinya.
Bunga mawar merah melambangkan cinta. Hal ini dia ketahui dari Minato ketika bertanya tentang jenis bunga apa yang tepat diberikan untuk gadis yang dicintainya.
Pagi tadi, Minato menjawabnya sambil tersenyum, saat sarapan pagi bersama Naruto.
"Bunga mawar merah. Artinya aku mencintaimu. Itulah bunga yang pernah aku berikan pada ibumu saat menyatakan cinta pada ibumu."
"Begitu ya, Tousan."
"Ya, jadi berikan bunga mawar merah untuk Koneko-chan."
"Baik! Aku akan membelinya nanti."
Begitulah percakapan Naruto dengan ayahnya. Menuntun Naruto untuk menunjukkan perasaannya pada Koneko bahwa cintanya memang tulus. Dia berharap Koneko senang saat menerima sebuket bunga mawar ini.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia tiba di rumah sakit Suna dan memarkirkan mobilnya di tempat parkiran khusus. Langsung masuk ke gedung rumah sakit dan menuju ke bangsal dimana Koneko dirawat.
Berjalan santai sambil membawa sebuket bunga mawar merah di kedua tangannya, senyuman terus melekat di wajah Naruto yang sangat berseri-seri. Dia tidak sabar melihat reaksi Koneko setelah menerima hadiahnya ini.
'Semoga Koneko-chan suka dengan hadiahku ini. Karena aku tahu kalau dia itu memang sangat suka dengan bunga,' batin Naruto yang mengingat masa kecilnya bersama Koneko.
Dahulu kala itu, masih tinggal di mansion Gremory, Naruto dan Koneko yang sama-sama menjadi pelayan, pernah menanam berbagai jenis bunga di taman belakang mansion Gremory. Mereka melakukannya saat Grayfia meminta mereka untuk membantunya menanam berbagai jenis bunga. Rias tidak ada saat itu, karena harus mengikuti les musik. Lalu Koneko pernah berkata padanya sehingga Naruto terpaku mendengarnya.
"Andai aku mendapatkan sebuket mawar merah dari orang yang kucintai. Aku pasti sangat senang menerimanya karena bunga mawar merah berarti aku cinta padamu..."
Koneko memegang setangkai bunga mawar dan tersenyum simpul pada Naruto lalu melanjutkan kata-katanya.
"Ini untukmu, Naruto."
Naruto yang masih berusia 15 tahun, tidak tahu apa-apa tentang maksud Koneko yang memberikan setangkai bunga mawar merah padanya. Dengan polosnya, dia menerima setangkai bunga merah itu dan menganggap pemberian Koneko ini sebagai tanda persahabatan. Padahal Koneko sudah memberitahukan arti bunga mawar merah itu, tapi dia tidak peka sama sekali.
Mengingat kejadian itu, barulah menyadarkan Naruto bahwa Koneko sudah menyatakan cinta padanya melalui bunga mawar merah itu. Bunga mawar merah menjadi wakil perasaan Koneko dan dianggap sebagai tanda persahabatan olehnya. Bodohnya dirinya, karena baru sekarang menyadarinya.
Tapi, sekarang keadaan sudah berbeda. Naruto sudah mengetahui perasaan Koneko itu dan Koneko juga sudah menjadi pacarnya. Itu sudah cukup membuatnya lega karena sudah membalas perasaan Koneko. Baginya, Koneko adalah cintanya yang terakhir. Dia menyakini itu pada lubuk hatinya yang paling dalam.
Tanpa terasa, langkahnya sudah sampai di tempat yang ditujunya. Dia menghelakan napasnya sejenak dan mulai memegang gagang pintu bangsal Mawar 009 itu.
KLAK!
Pintu terbuka. Naruto masuk ke dalam, menunjukkan cengirannya yang lebar dan berseru keras.
"Aku datang!"
"Selamat datang!"
Terdengar suara dua gadis yang berbeda, menjawab perkataan Naruto. Naruto pun terpaku dengan mulut yang ternganga.
"Ah...," Naruto terkejut setelah melihat sosok gadis berambut silver yang duduk di kursi, tepatnya di samping tempat tidur yang ditempati Koneko."Rossweisse!"
Ya, gadis berambut silver itu adalah Rossweisse. Dia sangat cantik dalam balutan pakaian dress biru selutut dan dilapisi dengan jaket kulit berlengan panjang yang berwarna putih. Sepatu datar berwarna putih membungkus kedua kakinya. Pita berwarna putih tampak terpasang di dua sisi rambutnya. Memberikan kesan seperti gadis berumur sekitar 18 tahun, padahal nyatanya sudah menginjak 24 tahun.
Begitu senangnya bertemu dengan Rossweisse lagi, bersamaan Rossweisse berdiri dan berkata dengan nada yang ramah.
"Halo, Naruto."
"Ro-Ross... ROSS-SAN!" teriak Naruto yang sangat gembira, berlari cepat, dan langsung memeluk Rossweisse."AKU MERINDUKANMU!"
GREP!
Rossweisse membelalakkan kedua matanya ketika mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Naruto. Wajahnya merona merah dan merasakan jantungnya yang berdegub sangat kencang.
DEG! DEG! DEG!
Begitulah bunyi debaran jantung Rossweisse.
Sementara itu, Koneko yang terbaring di atas tempat tidur, memasang ekspresi tidak suka. Kedua matanya melotot pada Naruto yang memeluk Rossweisse. Naruto menyadarinya dan spontan melepaskan pelukannya dari Rossweisse.
"Ah... Eh... Ma-Maaf," kata Naruto yang tertawa cengengesan sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Ah, ti-tidak apa-apa," Rossweisse tersenyum maklum tapi semburat merah samar-samar masih terlihat jelas di dua pipinya.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah seenaknya memelukmu."
"Sudah, Naruto. Aku bilang tidak apa-apa, kan?"
"Iya ya..."
Naruto menjadi salah tingkah karena dilototi terus oleh Koneko. Rossweisse menyadarinya dan berucap.
"Kau datang juga untuk menjenguk Koneko ya?"
"Iya. Kalau kau sendiri, kenapa bisa ada di sini?"
"Oh itu, karena aku mengetahui kabar Koneko dari Gaara saat aku baru saja tiba di kantor Namikaze Record, pagi tadi. Kata Gaara, Koneko masuk rumah sakit. Makanya aku datang langsung ke sini untuk menjenguk Koneko."
"Oh, begitu ya?"
"Iya."
"Terima kasih karena kau sudah mau menjenguk Koneko."
"Sama-sama."
Rossweisse tersenyum. Naruto juga tersenyum. Keduanya salah tingkah. Sehingga suasana menjadi hambar begitu.
Kemudian Rossweisse memutuskan keluar dari tempat itu.
"Oh iya, kalau begitu, aku keluar dulu ya," Rossweisse bergegas melangkahkan kakinya.
"Kau mau pergi, Ross-san?" terdengar Koneko yang bertanya.
Menoleh ke arah Koneko, Rossweisse tersenyum.
"Iya. Mau pulang."
"Jangan pulang dulu. Sebaiknya kau pergi saja dengan Naruto. Karena Naruto mau mengajakmu kencan."
"Eh?" Naruto ternganga dan memandang ke arah Koneko dengan bingung."A-Aku tidak..."
Koneko memandang Naruto dengan wajah yang datar sambil terbaring di atas tempat tidurnya.
"Dan Naruto juga membawa sebuket bunga mawar merah untukmu. Tapi, Naruto malu memberikannya padamu."
DEG!
Jantung Rossweisse berdetak kencang setelah mendengarnya. Melihat ke arah Naruto, Naruto tampak melototi Koneko yang sudah seenaknya berbicara seperti itu. Koneko hanya memalingkan mukanya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya.
Entah apa yang dipikirkan Koneko, Naruto sedikit kesal dibuatnya. Kemudian menyerahkan sebuket bunga mawar merah itu pada Rossweisse, dengan hati yang tidak merasa enak. Padahal sebuket bunga mawar merah itu seharusnya diberikan pada Koneko.
Dengan wajah yang cerah, senyuman manis ditunjukkan Naruto.
"Ini untukmu, Ross-san. Terimalah."
Rossweisse terdiam sambil memandangi sebuket bunga mawar merah yang berada di depan matanya ini. Bunga mawar merah yang berarti 'aku cinta padamu.'
"Ta-Tapi... Bunga ini pasti ingin kau berikan pada Koneko, kan?" tanya Rossweisse kemudian.
"Tidak. Aku tidak memberikan bunga ini pada gadis yang di sana...," Naruto melirik tajam ke arah Koneko sekilas lalu menatap wajah Rossweisse lagi."Aku membelikan bunga ini khusus untukmu karena aku berfirasat kau akan datang ke tempat ini. Ternyata firasatku benar, kau memang datang ke sini."
"Begitu ya... Kalau begitu, terima kasih."
"Iya."
Naruto mengangguk disertai kedua pipinya yang memerah bersamaan Rossweisse menerima sebuket bunga mawar merah dari tangannya. Rossweisse tersenyum dan memeluk erat sebuket bunga mawar merah di dadanya.
Menyaksikan itu, Koneko terdiam. Naruto melihat ke arahnya. Koneko tersentak lalu membuang muka lagi. Seketika Naruto mengerti bahwa Koneko sedang mengalami namanya cemburu.
Berpikir hal ini akan menjadi menarik, Naruto menarik pandangannya lagi dan langsung menggenggam tangan Rossweisse.
"Seperti dikatakan Koneko tadi, aku memang mengajakmu kencan. Lagipula kita ini masih berpacaran, kan? Kita belum putus sejak aku menyelamatkanmu dari Riser."
"Eh? A-Apa yang kau katakan, Naruto!?"
"Ayo, kita pergi sekarang!"
Tanpa aba-aba lagi, Naruto menarik tangan Rossweisse sehingga Rossweisse terseret olehnya. Rossweisse sempat melihat ke arah Koneko dan merasa tidak enak meninggalkan Koneko.
"Koneko-chan... Maaf, aku harus pergi dengan Naruto."
Koneko menoleh ke arahnya dan tersenyum simpul. Menjawab dengan nada yang datar.
"Tidak apa-apa. Pergilah."
"Nanti aku dan Naruto kembali ke sini."
BLAM!
Pintu tertutup dengan suara yang sangat keras. Barusan Naruto yang menutupnya. Koneko terpaku di tempat. Menunjukkan wajah yang datar disertai kedua mata yang sayu.
"..."
Terdiam tanpa kata-kata. Dia memang sengaja melakukan itu agar Naruto menyadari perasaan Rossweisse itu. Karena dia tahu bahwa Rossweisse menaruh hati pada Naruto.
Lalu Rossweisse juga tidak tahu kalau dia dan Naruto sudah berpacaran sekarang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Rossweisse setelah mengetahui semua ini. Tidak ingin menyakiti perasaan Rossweisse yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
'Aku ingin Ross-san bisa bersama Naruto-kun supaya Ross-san merasa senang. Semoga Naruto-kun mengerti dan tidak memarahiku nanti. Ya, meskipun aku memang sangat cemburu dan kesal saat Naruto-kun memeluk Ross-san tadi. Apalagi Naruto-kun bilang 'aku merindukanmu' pada Ross-san. Aaah... Aku merasa Naruto-kun juga mempunyai rasa pada Ross-san. Aku tahu itu lewat tingkahnya tadi...'
Begitulah yang dirasakan Koneko di dalam hatinya. Dia menutup kedua matanya secara perlahan-lahan, menepis segala kecemasan yang kini menyerang hatinya. Cemas jika Naruto memang mempunyai rasa pada Rossweisse.
Di sisi lain, dia juga merasa kasihan pada Rossweisse dan berpikir akan membantu Rossweisse agar Naruto menyadari perasaan Rossweisse. Dia ingin Rossweisse bahagia bersama Naruto.
Dua pikiran yang berbeda, menimbulkan kegelisahan di jiwanya. Mencoba menenangkan diri agar berpikir positif bahwa Naruto hanya ditakdirkan menjadi miliknya.
Dia percaya itu dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Karena Tuhan-lah yang menentukan keputusan yang terbaik untuknya.
.
.
.
POV: NARUTO
.
.
.
Aku mengajak Rossweisse ke sebuah taman yang ada di pusat kota Suna. Kami baru saja tiba di sini, dengan menggunakan mobilku. Lalu mobilku diparkirkan ke tempat parkiran khusus, dan dijaga oleh tukang parkir yang dapat dipercaya.
Selama perjalanan dari rumah sakit Suna ke taman kota ini, aku memilih diam sambil terus fokus menyetir mobil. Sementara Rossweisse juga terdiam, sembari duduk di sampingku. Entah apa yang dipikirkan Rossweisse, aku tidak tahu. Namun, yang penting aku sekilas saja memandang ke arahnya.
Rossweisse tampak menikmati pemandangan lewat kaca jendela mobil yang terbuka lebar. Sehingga angin masuk ke dalam mobil dan menerbangkan rambutnya yang panjang. Rambutnya berkibar-kibar seperti bendera, dan cukup membuatku terpaku saat melihatnya. Tapi, hanya sekilas saja dan memfokuskan untuk melihat ke depan kembali.
Tiba-tiba, muncul satu kata di pikiranku yaitu...
Cantik!
Ah, apa yang kupikirkan? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menepis rasa kagum sesaat itu.
Bagiku, orang yang kucintai adalah Koneko. Tapi, mengapa jantungku berdebar-debar begini? Apalagi aku sangat senang ketika bertemu lagi dengan Rossweisse. Tanpa sadar, aku memeluknya dan mendapatkan tatapan tajam dari Koneko.
Aku tersentak dengan apa yang kulakukan. Aku sadar bahwa Koneko cemburu jika aku memeluk gadis lain di depannya. Kelihatannya Koneko marah padaku. Aku tahu itu.
Tapi, aku mengatakan pada diriku sendiri, aku akan membicarakan hal ini pada Koneko. Tentunya setelah berkencan dengan Rossweisse.
Berkencan? Apa-apaan itu? Aku tidak suka saat Koneko mengatakan itu. Aku tidak habis pikir tentang maksud Koneko itu. Sehingga membuatku kebingungan dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Apa boleh buat, aku berpikir mengikuti apa yang dikatakan Koneko. Sekalian menguji reaksi Koneko bagaimana saat aku bersikap seolah-olah menjadi pacarnya Rossweisse. Walaupun kenyataannya, aku tidak berpacaran dengan Rossweisse.
Setelah lama merenung semua ini, tanpa sadar langkahku sudah mencapai di tengah taman. Rossweisse mengikutiku dari belakang. Kami berdua terdiam hingga aku memutuskan untuk bersuara untuk mengawali percakapan di antara kami.
"Kita berhenti di sini, Ross-san," kataku sambil menghadapkan diriku pada Rossweisse.
Rossweisse juga menghentikan langkah. Jarak kami sekitar dua langkah saja.
"Ya," Rossweisse tersenyum hambar."Maaf, jika kau terpaksa mengajakku kencan karena Koneko-chan. Aku tidak menginginkan semua ini. Jadi..."
Aku menyela perkataannya dan tersenyum kecil.
"Aku tidak terpaksa kok. Aku memang benar-benar mengajakmu kencan."
"Masa? Kau pasti bohong."
"Tidak. Percayalah padaku."
"Ya, aku percaya. Tapi, soal bunga tadi?"
"Itu... Rencananya sih buat Koneko-chan. Tapi, ya sudahlah, untukmu saja. Aku akan membeli bunga yang baru untuk Koneko-chan nanti."
"Begitu ya... Tapi, apa kau tahu arti bunga mawar merah itu?"
"Tahu... Artinya aku cinta padamu, kan?"
Hening.
Rossweisse tampak terpaku saat aku mengatakan kalimat terakhir itu. Aku tersenyum dengan wajahku yang sangat berseri-seri. Bisa melihat semburat merah yang samar-samar di dua pipi Rossweisse. Satu menit kemudian, Rossweisse menundukkan kepalanya. Aku memperhatikannya dengan bingung.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kau telah memberikan bunga itu padaku, berarti kau telah menyatakan perasaanmu padaku," jawab Rossweisse yang masih menundukkan kepalanya.
"Eh?"
Aku membelalakkan kedua mataku dan baru menyadari sesuatu yang salah. Aku yang bodoh, bisa-bisanya memberikan bunga mawar merah pada gadis lain. Gadis lain yang menerimanya pasti akan salah mengartikan, jika mengetahui arti bunga mawar merah tersebut.
Seperti kata ayah dan Koneko, bunga mawar merah adalah lambang cinta, yang dikhususkan pada orang yang terkasih. Itu berarti Rossweisse sudah menjadi orang yang terkasih karena aku sudah memberikan bunga mawar merah itu pada Rossweisse.
Aku bingung. Aku kalut. Perasaanku menjadi tidak enak. Takut menyinggung perasaan Rossweisse. Apa yang harus kukatakan sekarang? Aku tidak tahu lagi.
Kulihat, Rossweisse mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajahnya yang sebenarnya padaku. Wajah Rossweisse masih cerah. Senyuman manis diukirnya di wajahnya. Tapi, sorot kedua matanya terlihat redup.
"Tapi, kalau kau ingin memberikan bunga itu pada Koneko-chan, berarti kau mencintai Koneko-chan, kan? Apa aku benar?"
"..."
Aku terdiam sebentar lalu mengangguk pelan. Rossweisse tersenyum lagi, maju perlahan-lahan ke arahku dan menggenggam tangan kananku.
"Cepat beritahu perasaanmu pada Koneko-chan. Aku akan mendukungmu."
"I-Itu... Aku sudah menyatakan perasaanku pada Koneko-chan."
"Eh? Kapan?"
"Sudah lama."
"Ah...," Rossweisse tampak terkejut."Aku baru tahu. Tapi, kenapa Koneko-chan tidak memberitahukannya padaku saat mengobrol tadi?"
"Mungkin dia malu memberitahukannya padamu."
"Mungkin saja begitu. Tapi, ya sudahlah, selamat karena kau sudah jadian dengan Koneko-chan. Aku turut senang."
Rossweisse tersenyum lagi dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan kananku. Wajahnya berseri-seri. Turut merasakan apa yang kurasakan.
Aku terpaku dan kemudian ikut tersenyum.
"Terima kasih."
"Oh iya, kau jadi mengajakku kencan, kan?"
"Ya. Tentu saja. Kita akan berkencan di sini."
"Apa Koneko-chan tidak marah?"
"Tidak, Ross-san. Kau dengar sendiri, kan, kalau Koneko malah menyuruhku untuk mengajakmu kencan."
"Pasti Koneko-chan cemburu karena tidak suka melihat aku berdekatan denganmu."
"Aku rasa tidak. Dia tidak akan cemburu."
"Benarkah?"
"Benar."
Aku tersenyum sambil memegang dua bahu Rossweisse dengan erat. Menatap wajah Rossweisse lekat-lekat. Lalu melanjutkan kata-kataku.
"Aku akan membuatmu senang selama berkencan denganku. Anggaplah seolah-olah aku adalah pacarmu. Bisa, kan?"
Rossweisse tampak terpana. Semburat merah samar-samar terlihat di dua pipinya. Kemudian mengangguk pelan.
"Bisa."
"Baguslah. Untuk kencan pertama ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu. Lagu baru yang baru kuciptakan. Mau dengar?"
"Mau."
Rossweisse mengangguk lagi. Sukses mengukir tawa lebar di wajahku. Aku merasa senang karena Rossweisse mau mendengarkan aku bernyanyi.
Di jalan setapak taman ini, hanya ada aku dan Rossweisse. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Untung sekali, sehingga bisa memungkinkan aku bernyanyi.
Mengenakan perlengkapan penyamaranku lagi, seperti topi hitam yang menutupi rambutku dan kacamata kotak yang memberikan kesan santai pada diriku. Aku merasa nyaman saat menyamar seperti ini.
Aku menjauh dari Rossweisse, berbalik dan memandang langit biru yang cerah. Perasaanku sangat bahagia sehingga menuntunku untuk segera bernyanyi tanpa musik.
Tapi, di gendang telingaku, seakan-akan mendengar alunan musik yang merdu. Mengiringi aku bernyanyi untuk kekasihku dan sahabatku.
I wanna dance like no one's watching me
I wanna love like it's the only thing I know
I wanna laugh from the bottom of my heart
I wanna sing like every single note and word it's all for you
Pikiranku terfokus pada Koneko. Mengingat masa-masa kecil terindah kami. Sungguh menyenangkan sehingga membuatku tersenyum. Masih memandang langit. Membayangkan wajah Koneko terbentuk dari awan-awan putih.
Is this enough?
Aku menurunkan pandanganku dan merasakan belaian angin yang menerpaku. Rasanya sangat nyaman.
I wanna tell you and this is the only way I know
And hope one day you'll learn the words and say
That you finally see, what I see
Aku menoleh ke arah Rossweisse. Rossweisse masih berdiri di sana, dan tetap mendengarkan aku bernyanyi. Aku berjalan ke arahnya dan menunjukkan senyumku padanya.
Another song for you about your love
'cause you love the me that's full of faults
I wish you could see it from this view
'cause everything around you is a little bit brighter from your love
Aku menatap wajah Rossweisse dari jarak yang sangat dekat. Rossweisse tampak terpaku. Aku terus bernyanyi dan berjalan melewati Rossweisse.
I wanna dance the night away with you
I wanna love because you taught me to
I wanna laugh all your tears away
I wanna sing 'cause every single note and word it's just for you
Aku menutup kedua mataku. Membayangkan Koneko yang selalu bersamaku. Bagiku, Koneko adalah segalanya. Tidak akan tergantikan oleh siapapun.
Hope it's enough?
Aku membuka kedua mataku dan memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaketku. Berbalik lagi untuk memandang Rossweisse.
I wanna tell you and this is the only way I know
And hope one day you'll learn the words and say
That you finally see, how I feel
Kulihat, Rossweisse memegang rambutnya dengan tangan kanannya. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar karena dimainkan angin. Sungguh, dia cantik sekali.
Another song for you about your love
'cause you love the me that's full of faults
I wish you could see it from this view
'cause everything around you is a little bit brighter from you love
Apa yang kupikirkan? Kegelisahan menyerangku. Aku memalingkan wajahku dan melihat ke arah lain. Tetap berfokus menyelesaikan nyanyiku.
Not a day goes by that I don't think
About you and the love you've given me
I wish you could see it from this view
'cause everything around you is a little bit brighter from your love
Life is just so much better from your love.
Selesai.
Aku menghentikan nyanyiku dan mendapatkan sambutan tepuk tangan dari Rossweisse. Rossweisse tertawa lebar sambil berseru keras.
"WAH! HEBAT! LAGU YANG BAGUS SEKALI!"
Aku menoleh ke arahnya dan sedikit ternganga.
"Eh? Benarkah?"
Rossweisse mengangguk dan mengacungkan dua jempol padaku.
"Benar. Lagu yang sangat keren. Aku beri dua jempol padamu. Aku sangat suka."
Mendengar itu, aku tertawa senang.
"Terima kasih."
"Ya. Tapi, ngomong-ngomong, apa lagu ini sudah dibuat video klipnya?"
"Belum. Rencananya sih seminggu lagi."
"Oh."
"Oh iya, dua minggu lagi, aku dan Five Tales akan mengadakan konser tunggal di studio stasiun tv Suna One. Aku harap kau datang ke sana untuk melihat konser Five Tales yang pertama. Sekalian kami akan mengumumkan lagu keluaran terbaru kami itu."
"Lagu baru yang kau nyanyikan tadi?"
"Ya. Jadi, kau bisa datang ke konserku nanti, Ross-san?"
"Ya...," sahut Rossweisse cepat."Tentu aku akan datang nanti."
"Terima kasih. Aku benar-benar senang mendengarnya."
Aku tertawa lebar. Merasakan wajahku berseri-seri. Rossweisse tersenyum. Wajahnya juga tampak berseri-seri.
Lantas aku berjalan mendekatinya lagi dan meraih tangan kanannya. Kugenggam tangan kanannya dengan erat.
"Aku lapar. Yuk, beli makanan di luar sana. Aku yang akan mentraktirmu."
Rossweisse mengangguk. Aku menarik tangan kanannya sehingga dia terseret oleh langkahku. Dia berjalan di belakangku. Entah bagaimana ekspresinya sekarang.
Namun, yang pasti, aku akan membawanya pergi kemana saja. Membahagiakannya hanya untuk beberapa jam saja.
.
.
.
Tepat pada pukul 6 sore, aku mengantarkan Rossweisse pulang ke apartemen yang berada di pusat kota Suna. Rossweisse tinggal di apartemen Ravel selama berlibur ke kota ini.
Di depan apartemen itu, mobilku terparkir. Aku dan Rossweisse mengobrol sebentar sebelum Rossweisse keluar dari dalam mobilku.
Dengan senyuman manis, Rossweisse memegang sebuket bunga mawar merah di kedua tangannya. Aku juga tersenyum saat Rossweisse berkata.
"Terima kasih banyak buat hari ini. Aku sangat senang."
"Ya, sama-sama."
"Kalau begitu, aku keluar ya. Sampai jumpa lagi, Naruto."
Rossweisse keluar dari dalam mobilku dan menutup pintu mobilku dengan suara yang pelan. Sempat juga dia melambaikan tangan padaku.
"Hati-hati di jalan ya, Naruto. Jangan mengebut. Patuhilah rambu-rambu lalu lintas."
"Ya, terima kasih."
Aku juga melambaikan tangan kananku. Tersenyum dan mulai menghidupkan mesin mobil.
BRUUUM!
Mobil pun hidup dan patuh saat kukendalikan. Aku mengendalikannya sehingga berjalan secara perlahan-lahan. Meninggalkan Rossweisse yang masih berdiri di sana.
.
.
.
POV: NORMAL
.
.
.
Menyaksikan Naruto pergi sampai hilang dari pandangannya, Rossweisse terdiam terpaku. Wajahnya yang tampak cerah, berubah drastis menjadi suram. Kedua mata biru yang bersinar, juga berubah drastis menjadi sayu. Hatinya merasa sedih karena sudah mengetahui perasaan Naruto yang sebenarnya.
Naruto mencintai Koneko. Itulah kebenarannya sehingga mengugurkan tanaman cintanya yang hampir tumbuh sempurna. Menjadi layu seperti musim gugur ini. Tidak bisa hidup kembali kecuali disiram dengan cinta Naruto.
Ya. Cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Rossweisse mengakui itu. Perasaan sakit itu segera dilampiaskannya dalam bentuk air mata, yang sebentar lagi akan jatuh membasahi bumi.
Sebelum itu benar-benar terjadi, Rossweisse bergegas masuk ke gedung apartemen. Menuju apartemen Ravel yang berada di lantai dua.
Dengan menggunakan lift, dia bisa cepat sampai di lantai dua. Berjalan cepat-cepat menyusuri lorong yang sepi dan berhenti berjalan ketika mencapai ke tempat tujuannya.
Apartemen nomor 020, itulah apartemen milik Ravel. Rossweisse langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu ataupun memencet bel.
KLAK!
Pintu terbuka. Rossweisse masuk dan berkata dengan lesu.
"Aku pulang ~..."
"Selamat datang!"
Terdengar suara keras yang menjawab perkataan Rossweisse. Rossweisse menutup pintu kembali. Melepaskan sepatunya dan diletakkannya di pojok ruangan.
Lantas dia berjalan pelan menuju ke ruang tamu, dimana ada Ravel yang sedang duduk santai di sebuah sofa sembari memainkan ponsel.
"Hei, Ross-nee. Darimana saja sih?" tanya Ravel yang sangat penasaran.
"Tadi aku jalan-jalan sebentar dengan sahabat lamaku," jawab Rossweisse yang tersenyum sambil memeluk sebuket bunga mawar merah di dadanya.
"Sahabat lama? Siapa?"
"Pokoknya aku tidak mau menceritakannya sekarang."
"Eh? Kenapa? Jangan buat aku penasaran dong."
"Sudah ya. Aku mau ke kamarku dulu."
Dengan cepat, Rossweisse berjalan masuk ke kamarnya yang berada di ruang keluarga. Ravel menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya. Penasaran ingin mengetahui siapa sahabat Rossweisse yang sudah mengajak Rossweisse jalan-jalan.
'Hmmm... Siapa sahabat lama Ross-nee itu? Apalagi Ross-nee membawa sebuket bunga mawar merah. Hm... Hm... Sangat mencurigakan,' batin Ravel yang memasang wajah yang penuh selidik.
Berbalik ke arah Rossweisse yang sudah berada di dalam kamarnya. Ia meletakkan sebuket bunga mawar merah itu di atas meja, persis di samping tempat tidurnya. Ditatapnya lama sebuket bunga mawar merah itu.
Teringat saat awal pertemuannya dengan Naruto di bus itu hingga sekarang. Naruto telah menyelamatkan hidupnya sehingga ia terbebas dari jeratan Riser. Sejak saat itulah, dia jatuh cinta pada Naruto.
Naruto sangat baik, perhatian dan suka menolong. Itulah yang menjadi alasan mengapa Rossweisse begitu mencintai Naruto. Rossweisse ingin memberitahukan perasaannya ini agar tidak ada lagi beban yang menyiksa dadanya. Perasaan yang terlalu lama dipendam, akan bertambah besar dan kuat. Sehingga tidak mampu lagi untuk menahannya. Ingin keluar dan mencapai hati yang ditujunya.
Kasihnya tak tersampaikan. Berujung dengan rasa sakit hati. Apalagi mengetahui bahwa orang yang dicintai, sudah memiliki tambatan hati. Tidak mungkin dia merusak hubungan itu, dengan menjadi orang ketiga.
Tidak!
Ia tidak ingin menyakiti perasaan siapapun. Tidak ingin mengecewakan perasaan Koneko yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Baginya, kebahagiaan Koneko adalah yang terpenting. Karena Koneko sudah mencintai Naruto selama bertahun-tahun. Sudah banyak rintangan yang dihadapi Koneko sehingga membuat hati Koneko berkali-kali terluka. Menanti Naruto menyadari perasaannya dan membalas cintanya. Itulah yang dikatakan Koneko padanya, tempo dulu itu.
Benar. Rossweisse sudah mengetahui bahwa Koneko mencintai Naruto. Ia memilih mengalah dan tidak berani lagi untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Naruto. Padahal ia juga berharap agar Naruto menyadari perasaannya. Tidak berharap juga Naruto membalas perasaannya.
Tapi...
Entah mengapa rasa sakit ini terus menusuk hatinya. Terasa tersayat-sayat dengan bilah pisau yang tajam. Menjadi terluka parah dan butuh perawatan yang sangat lama. Sehingga meninggalkan perih yang begitu mendalam.
Tanpa sadar, rasa panas muncul di kedua matanya. Kedua matanya yang sudah berkaca-kaca, memaksakan cairan bening keluar dari sela-selanya. Mengalir turun seperti air sungai.
Tubuhnya berguncang hebat seiring dia menangis. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Melampiaskan kesedihannya karena cinta bertepuk sebelah tangan. Sungguh sangat menyakitkan.
Maka biarkanlah dia sendiri dulu. Berteman kesunyian, kegalauan memenuhi hatinya yang terluka.
.
.
.
Naruto kembali ke rumah sakit untuk menemui Koneko.
Setibanya di bangsal dimana Koneko dirawat, Naruto langsung masuk dan berjalan pelan mendekati Koneko. Tangan kanannya bersembunyi di belakang tubuhnya. Berseru dengan keras.
"Koneko-chan..."
Koneko yang tertidur, menjadi terbangun dan melihat Naruto sudah berdiri di samping kiri tempat tidur yang ditempatinya. Dilihatnya, Naruto menatapnya dengan wajah yang sangat datar. Tapi, kedua mata Naruto menajam.
"Ah, kau rupanya, Naruto-kun...," kata Koneko dengan nada yang datar.
"Ini untukmu," Naruto langsung menyodorkan sebuket bunga mawar merah itu pada Koneko."Aku membelikan bunga baru untukmu. Jadi, terimalah hadiah spesial dariku ini."
Koneko terpaku lalu menerima sebuket bunga mawar merah itu dari tangan kanan Naruto. Naruto langsung duduk di kursi yang terletak di samping kiri tempat tidur yang ditempati Koneko.
"Terima kasih, Naruto-kun."
"Hn."
Merasakan jawaban Naruto yang terkesan dingin, Koneko menoleh ke arah Naruto. Naruto masih memandangnya dengan tajam.
"Ada apa?" tanya Koneko yang merasa heran sambil memeluk sebuket bunga mawar merah itu di dadanya.
"Kau... Benar-benar menyebalkan ya?" jawab Naruto yang berwajah kesal."Kenapa kau malah bilang kalau aku mau mengajak Ross-san kencan dan memberikan bunga mawar merah itu pada Ross-san?"
"Oh, itu ya. Tidak usah dibahas lagi."
"Tidak usah dibahas? Justru aku ingin membicarakannya padamu. Apa maksudmu yang sebenarnya?"
"..."
Koneko terdiam. Naruto masih menatapnya tajam. Kemudian Koneko melanjutkan kata-katanya.
"Tidak ada maksud apa-apa."
"Kau pasti bohong."
"Aku tidak bohong."
"Kau pasti merasa kesal sehingga mengatakan itu. Karena kau cemburu padaku. Apa itu benar?"
"...!"
Kedua mata Koneko sedikit membulat. Dengan cepat, dia menguasai dirinya dan memalingkan mukanya dari Naruto. Menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya.
Naruto memperhatikannya sebentar lalu tersenyum. Bertolak dari kursinya dan berdiri. Menarik pipi kanan Koneko ke arahnya karena Koneko memalingkan muka ke arah kanan.
Koneko membiarkan Naruto melakukannya dan merasa berdebar-debar tatkala kedua pipinya dipegang erat oleh dua tangan Naruto. Apalagi wajahnya sangat berdekatan dengan wajah Naruto. Tinggal beberapa cm lagi.
Dilihatnya, Naruto tersenyum manis padanya sehingga memunculkan semburat merah tipis di dua pipinya. Merasakan jantungnya sangat berdebar-debar.
"Kau cemburu. Aku tahu itu. Tapi, kau tidak mau mengakuinya," ucap Naruto dengan nada yang lembut.
"A-Aku tidak cemburu...," Koneko kelihatan gugup.
"Apa benar?"
"Be-Benar."
"Dasar, gadis kucing. Kau benar-benar menggemaskan."
Secara perlahan-lahan, Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Koneko. Menempelkan bibirnya pada bibir Koneko. Mengecup bibir Koneko dengan penuh perasaan.
Koneko menutup kedua matanya dan membalas ciuman Naruto. Apalagi kedua tangan Naruto masih memegang dua pipinya, semakin lama semakin kuat.
Suasana yang begitu hening dan dingin, menemani mereka berdua. Cukup lama mereka seperti itu. Hingga Naruto menyudahinya.
Wajah mereka masih berdekatan, berjarak beberapa cm. Wajah mereka sama-sama memerah.
"Ah... Naruto-kun... Maaf... Kalau aku malah seenaknya mengatakan itu."
"Tidak apa-apa. Kau tidak salah."
"Benarkah? Kau tidak marah padaku?"
"Tidak."
Koneko tersenyum simpul melihat Naruto yang juga tersenyum. Bersamaan Naruto mengecup pipi kirinya.
Setelah itu, Naruto menjauh darinya dan kembali duduk di kursinya semula. Koneko memandang Naruto dengan hati yang sangat berbunga-bunga. Lalu bertanya pada Naruto.
"Oh iya, bagaimana dengan kencan kalian itu?"
Naruto menjawab dengan senyuman.
"Menyenangkan. Kami pergi ke tempat-tempat yang bagus. Jalan-jalan, makan-makan, foto bersama... Hmmm... Pokoknya seru."
"Uhm...," wajah Koneko menjadi kusut."Senangnya... Ross-san bisa kencan denganmu."
"Ya, kalau kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu kencan juga. Aku akan membawamu ke tempat-tempat yang bagus di kota ini. Bagaimana? Kau mau, kan?"
"Mau!"
"Cepat sekali jawabnya. Hehehe..."
Naruto menyengir lebar sembari membelai rambut Koneko. Koneko tersenyum simpul dengan rona merah tipis di dua pipinya.
Tiba-tiba...
TOK! TOK! TOK!
Terdengarlah suara ketukan pintu, bersamaan suara seseorang yang sangat keras.
"Permisi!"
Naruto menoleh ke arah pintu. Begitu juga dengan Koneko. Lantas Naruto menjawabnya.
"Masuk saja ke dalam."
KLAK!
Pintu terbuka. Beberapa orang masuk ke dalam satu persatu. Sehingga mengejutkan Naruto.
JREEENG!
Rupanya para anggota Five Tales yang datang, yaitu Kanade, Yuuto, dan Sasuke kecuali Ravel yang tidak datang. Bersama para anggota Akatsuki seperti Karin, Deidara, Sasori, dan Itachi. Juga ada Gaara, Asia, Minato, Kakashi dan Obito.
Mereka semua menghampiri Naruto dan Koneko. Berkumpul dan mengelilingi Naruto dan Koneko. Naruto yang kebingungan, menatap setiap wajah itu satu persatu hingga berhenti pada Minato yang berdiri di sampingnya.
"Apa-apaan ini?" sembur Naruto yang melotot."Kenapa kalian semua datang ke sini?"
"Hei, apa yang kau katakan, Naruto? Tentu saja kami datang ke sini untuk menjenguk kekasihmu ini," semprot Karin yang berwajah sewot.
"Iya. Kami datang sama-sama atas inisiatif dari Produser," ungkap Gaara.
"Ya. Itu benar," Minato tersenyum.
"Dan kami sudah membawakan oleh-oleh buat Koneko-chan...," tambah Yuuto yang juga ikut berbicara.
"Jadi, ini kekasihmu yang menjadi inspirasi lagu pertama Five Tales?" tanya Sasuke yang penasaran.
"Ya. Begitulah, Sasuke," Naruto melihat ke arah Sasuke.
"Ya sudah, ini terimalah oleh-oleh dari kami!" Karin mengakhiri percakapan itu.
Saat itu juga, Naruto dihujani berbagai oleh-oleh yang diberikan oleh orang-orang itu. Naruto kewalahan saat menerimanya. Sebaliknya Koneko malah berbicara dengan Karin, Kanade, dan Yuuto. Minato yang tertawa melihat Naruto. Gaara yang sibuk berbicara dengan Asia. Itachi juga sibuk berbicara dengan Sasori dan Deidara. Terakhir Sasuke yang berdiam diri, memandangi Koneko dengan lama.
Entah apa yang dipikirkan Sasuke. Seulas senyum simpul terukir di wajahnya yang tampan.
Naruto yang sedang sibuk meletakkan semua oleh-oleh ke atas meja, merasa sangat kesal karena semua orang menghujaninya dengan tumpukan oleh-oleh. Memangnya dia itu tukang angkat barang? Begitulah yang dirasakannya.
"Huh... Menyebalkan...," gumam Naruto dengan nada pelan."Padahal rencananya aku ingin berdua saja dengan Koneko di sini. Tapi, kenapa Tousan malah mengajak mereka semua ke sini sih? Aaaah... Gagal total rencanaku."
Menghelakan napas kekesalannya, Naruto memandang ke arah Koneko. Koneko yang asyik berbicara dengan Kanade, Yuuto, dan Karin. Wajah Koneko terlihat memerah begitu lalu melirik juga ke arah Naruto.
Saffir biru beradu pandang dengan mata emas. Saling melempar senyum masing-masing.
.
.
.
"AKU TIDAK MAU MENYANYI LAGI! GANTI SAJA DENGAN YANG BARU!"
"SONA-CHAN! TUNGGU DULU!"
"AKU KELUAR DARI FIVE GIRL MULAI DETIK INI!"
BRAAAK!
Pintu terbuka dan terbanting dengan keras saat seorang gadis berambut hitam pendek dan berkacamata, keluar dari ruang latihan Five Girl. Sehingga membuat keempat rekannya menjadi panik karenanya.
Sona, sang vocalis Five Girl merasa tersinggung karena Serafall mengatakan bahwa dia harus berekspresi saat bernyanyi. Bukan menunjukkan wajah datar terus-menerus sehingga akan membuat para penonton sweatdrop jika melihat dia bernyanyi. Apalagi ditambah suaranya yang juga datar, itu semakin menambah jatuhnya nama baik Five Girl.
Karena Sona sudah memutuskan keluar dari Five Girl, mau tidak mau Serafall harus mencari pengganti Sona sebagai vocalis. Hal ini membuatnya sangat panik dan membicarakan hal ini pada ketiga rekan lainnya.
"Ah, bagaimana ini? Sona malah keluar dari band ini. Ini semua salahku... Huwaaaa...," Serafall malah menangis ala air terjun sambil jatuh terduduk di lantai.
Ketiga rekannya sweatdrop melihat tingkah Serafall yang seperti anak-anak menangis karena ditinggalkan ibunya.
Lalu Akeno berlutut di sampingnya dan memegang bahunya. Menjawab dengan senyuman.
"Tenang saja. Jangan menangis, Sera-san."
"Hm, semua ini bukan salahmu, Sera-san," kata Ophis yang bersidekap dada dengan wajah yang datar.
"Cari saja penggantinya. Apa susahnya sih?" celetuk Raynare yang terkesan cuek.
"Kemana kita harus mencari penggantinya? Aku tidak tahu lagi. Huwaaaa...," Serafall malah bertambah menangis.
"Sudah... Sudah... Sera-nee," Akeno berusaha menghibur Serafall dengan cara menepuk-nepuk bahu Serafall."Aku punya usul... Bagaimana kita minta bantuan pada Minato-Ojisan?"
"...!" ketiga gadis itu melihat ke arah Akeno.
Spontan, Serafall berhenti menangis. Akeno tersenyum dan merasa lega karena berhasil membuat Serafall menjadi tenang.
"Minta bantuan pada Minato-Ojisan?" tanya Serafall dengan wajah polos.
"Iya. Aku dengar Minato-Ojisan sangat pandai mencari seorang vocalis," jawab Akeno.
"Hm, ide yang tidak buruk," Ophis memegang dagunya dengan tangan kanannya.
"Tapi, kita bisa saja minta bantuan pada ayahmu, kan, Sera-san?" tukas Raynare.
"Tidak bisa. Ayahku itu tidak bisa diandalkan," ungkap Serafall yang cemberut.
"Ya. Kalau begitu, kita minta rekomendasi vocalis baru saja pada Minato-ojisan," Raynare menghelakan napas.
"Baiklah... Aku akan menelepon Minato-Ojisan," Akeno tampak antusias lalu mengambil ponselnya dari kantong mantelnya.
Ketiga gadis itu memperhatikan Akeno yang mulai berbicara dengan Minato lewat komunikasi antar ponsel. Akeno tersenyum dan berkata dengan nada riang.
"Halo, Minato-Ojisan. Ini aku Akeno. Aku ingin minta bantuan Ojisan sekarang..."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
JAWABAN REVIEW:
christian: ya, mungkin rias berjuang lagi untuk merebut naruto. Tapi, lihat saja nanti.
Yang menghamili Akeno, ntar diceritain di chapter depan.
Ya, udah lanjut nih.
Namikaze Tobi Lucifer: hahaha... Sudah saya duga. Memang kayak drama korea nih fic. Saya juga merasa gitu.
Terima kasih banyak ya buat reviewnya.
Kiseki Tyrant: iya. Lanjut ini.
lauda 9396: hahaha... Iya juga. Benar banget.
Guest: you can translate this fic with google translate.
kazahama san: ya, Koneko nggak bakal berpisah lagi dari Naruto.
dhany dhacil: hahaha... Rias pasti mau sama kamu.
Makasih ya.
Sedakama Amatrakai: kemungkinannya Koneko bakal ikut band atau jadi ibu rumah tangga. Ntar lihat aja di chapter depan. Saya masih bingung menentukan nasib Koneko ke depannya.
Ya, Ravel akan jatuh cinta sama Naruto karena suatu hal. Lihat aja nanti.
Jiraiya ya? Hmmm... Akan saya pikirkan.
Dan terima kasih banyak.
Hahaha.
rudinixel007: oh, maaf ya. Pasti membosankan. Saya udah munculin Rossweisse nih.
Sylvathein: hehehe... Iya. Itulah yang terjadi.
Kalau panas, dinginkan dengan kipas angin.
Terima kasih ya.
Virgo980: hai Virgo. Salam kenal ya.
Nggak apa-apa. Saya mengucapkan terima kasih karena kamu sudah meluangkan waktu untuk mereview fic ini.
Ganbatte juga.
wawan: oke, lanjut nih. Makasih.
adam muhammad 980: ya, Ravel akan jatuh cinta dengan Naruto. Tapi, belum saatnya.
Tsubaki Matsuda: oke, makasih ya. Syukurlah kalau begitu.
KidsNo TERROR13: yups lanjut.
The Spirit Of Lightnhing: makasih ya. Akan saya lanjutkan. Hiks *nangis juga*
Uciha916: makasih. Lanjut nih.
reyvanrifqi: makasih. Akan saya lanjutkan terus sampai tamat.
.
.
.
NOTE:
Maaf, saya membalas review kalian lagi di halaman review. Semoga kalian memakluminya.
Lagu yang dinyanyikan Naruto di chapter ini adalah Notes And Word by One Ok Rock. Saya jadikan sebagai lagu barunya Five Tales. Hanya meminjam saja.
Setelah ini apa yang terjadi?
Lihat saja di chapter 12.
Terima kasih ya.
