Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T+
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Kata-kata kasar, Not BASHING, dll.
Character→ Sasuke, Sai, Naruto, Kiba: 25th
Neji: 26th
Shikamaru: 27th
Gaara: 23th
Hinata, Sakura, Tenten, Ino: 24th
Temari: 25th
Other Chara: -menyesuaikan-
If you don't like? So don't read! Happy reading all, please RnR.
Sugar Princess71 Present
.
.
.
Malam ini terasa begitu menyulitkan bagi Sakura bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Pertemuannya dengan Shion merupakan penyebab utama yang membuatnya kesulitan memejamkan mata. Shion telah menjelaskan tanda tanya besar yang menghantuinya mengenai ketidakberadaan Naruto.
Sakura sangat kecewa mendengar semuanya. Sakura bukan kecewa mengenai Naruto yang menemani Shion, dia sangat mengerti itu. Bagaimanapun juga Shion memang memiliki hak atas Naruto. Shion adalah tunangan resmi Naruto jika saja kecelakaan tidak menimpanya. Hal itu jualah yang membuat Sakura sangat shock tatkala berjumpa dengan Shion setelah tujuh tahun lamanya. Dirinya merasa bersalah akan semua derita Shion karena bagaimanapun juga hanya Naruto-lah satu-satunya yang Shion miliki saat ini. Maka tatkala Sakura melihat Shion, hatinya telah mencoba untuk mengikhlaskan Naruto namun di luar dugaannya Shion malah menolak permintaannya dan justru memintanya berbaikan dengan Naruto. Shion bahkan memohon-mohon kepadanya dan menjelaskan semuanya bahwa seringnya Naruto tidak berada di rumah karenanya. Sesungguhnya hal yang membuat Sakura kecewa adalah sikap Naruto yang menutupi semuanya bukan mengenai Naruto dan Shion dalam suatu hubungan.
Hal itulah yang membuat Sakura tidak menerimanya karena bagaimanapun juga mereka adalah suami istri. Jadi sudah seharusnya tidak ada rahasia di antara mereka. Terlebih jika ini menyangkut Shion yang juga telah ia anggap sebagai temannya sendiri.
"Oh Kami, terima kasih kau telah menjelaskan semua yang tersembunyi dariku. Lantas kini apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memaafkan dirinya?"
Sakura memilih meminum segelas air putih untuk menjernihkan pikirannya sebelum mencoba kembali memejamkan matanya. Hanya berselang tiga detik matanya terpejam, bayangan pertemuannya dengan Shion dan perkataan gadis pirang tersebut mengganggunya.
"Sakura kumohon jangan berpisah dengan Naruto … sungguh, ini semua salahku! Seharusnya aku tidak memohon dan menahan dirinya untuk tidak meninggalkanku. Pa … padahal dia telah mengatakan ingin bersamamu dan anakmu, namun aku takut Sakura, aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali dirinya maka a … aku egois untuk menahannya," Shion menangis sesenggukan, berkali-kali dara cantik ini menarik nafasnya dan mencoba menceritakan yang sebenarnya kepada Sakura yang terdiam.
"Maafkan aku Sakura, aku mohon maafkan aku dan jangan salah paham kepadanya. Di … dia tidak pernah berslingkuh, ja … jangankan secara fisik, hatinya pun hanya untukmu. Aku sangat menyesal telah membuatmu sengsara dengan menyembunyikan ini semua darimu." Shion menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Sakura.
"Selama lima tahun diriku berusaha menghapusnya dan menyadari bahwa Kami-sama tidak menakdirkannya untukku, namun ketika aku bertemu dengannya, tepatnya dua tahun yang lalu dengan egois aku menganggap bahwa dirinya diciptakan untukku dan kaulah perebutnya dariku."
"Huft, namun kini aku sadar setelah Sasuke semakin meyakinkan kekeliruanku tepatnya dua hari yang lalu. Ba … bahwa dia hanya memandangku sebagai soerang adik perempuan dan itu tidak lebih. Tentunya ini berbeda dengan cara dia memandangmu Sakura. jadi, walaupun aku tetap di sisinya bahkan ketika masa SMA, di … dirinya tetap tidak untukku. Percayalah karena ini kenyataannya …."
"Kaa-chan, kenapa belum tidul?"
Sakura terkejut mendapati Hoshi yang terbangun, ia membelai rambut pirang anaknya dan menatap lembut sambil tersenyum. Senyuman yang seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Lalu ia pun memeluk putra kesayangannya dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya memang akan baik-baik saja.
.
.
.
"Ino-chan kau pulang, ah senangnya."
Ino menyambut pelukan Hinata dengan tawa renyah, "Memangnya aku salah jika pulang ke apartemenku sendiri?"
Hinata hanya tersenyum melihat Ino yang selalu percaya diri dan hal itu membuat pesonanya keluar, andai dirinya demikian, begitulah kiranya pemikiran Hinata. Hinata yang tersadar dari lamunannya terkejut dikarenakan Ino menghilang dari hadapannya. Hinata mambil kesimpulan Ino tengah membersihkan dirinya karena suara air dari kamar mandi dan ia pun memilih menuju dapur untuk memasak makan malam.
"Wah tampaknya karinya sangat enak, kau sengaja membuatnya spesial untukku?"
Hinata hanya tersenyum melihat Ino yang bertingkah seperti anak kecil, ia pun duduk di seberang Ino dan ikut menyantap makanan. Sepuluh menit berlalu dan mereka telah selesai menyantap makan malan, namun keduanya enggan beranjak dari meja makan.
"Ino-chan bagaimana kabarmu juga pemotretannya?"
Ino tersenyum bahagia melihat kekhawatiran sahabat sekaligus iparnya, "Menurutmu?"
"Aku serius, jangan menggodaku." Hinata mengerucutkan bibirnya, kesal dengan Ino yang menggodanya.
"Hehehhe aku hanya rindu dengan semburat merah di wajahmu, hime." Ino semakin usil menggoda Hinata, kini tangannya merangkum pipi Hinata yang merona.
Hinata yang tidak mau kalah, balas menggoda Ino, "Hmm jadi seperti ini ya, sifat seorang model ternama?" Untuk meyakinkan aksinya Hinata bahkan berdiri sekaligus berkacak pinggang dengan tatapan tajam, yang sayangnya tidak membuat Ino ketakutan justru malah membuatnya tertawa.
"Hahahaha Hinata, Hinata sejak kapan kamu menjadi seperti badut?"
"Hmm tau deh yang seperti boneka Barbie." Hinata menundukkan dirinya kembali dengan wajah yang dipalingkan.
"Senanngnya bisa seperti ini, aku kangen Hinata, rasanya lama sekali tak melihatmu." Ino langsung menghambur memeluk Hinata, sementara Hinata tampak diam dengan tatapan kosong ke jendela. Ino bingung dengan sikap Hinata, apakah Hinata tengah mengerjai atau Hinata tengah mengalami masalah sepeninggalnya. "Hinata-chan, ada apa?"
"Ino-chan, apa aku jahat?"
Ino mengernyitkan dahi, ia bingung dengan maksud pertanyaan Hinata. Ino pun meletakkan tangannya di dahi Hinata. "Kamu sakit, Nata-chan?"
Hinata menggeleng dan menatap sendu Ino, "Aku tidak seharusnya memberi harapan pada Gaara-kun."
"Memangnya kenapa Hinata-chan, Gaara orang yang baik dan kurasa dia sangat tepat untukmu, jadi sebaiknya kamu membuka hatimu."
Hinata hanya terdiam mendengar petuah Ino, hal ini membuat Ino geram. "Cih, jadi kamu masih memikirkan laki-laki berengsek itu? Ayolah Hinata, kamu itu cantik, kamu baik, gak seharusnya kamu bersama laki-laki seperti dia!"
"Aku hanya merasa seperti kosong … ma … maksudku, tidak seharusnya aku …." Hinata menidurkan kepalanya di pangkuan tangannya seraya memejamkan matanya.
"Kamu merasa seperti ini karena tidak jujur, kurasa kamu harus menghadapi Sasuke sebagai Hinata, bukan Hinata yang pura-pura sakit."
Hinata merenungkan dengan baik kata-kata Ino, tampaknya dia memang harus menghadapi masalah ini sebagai Hinata yang benar-benar dalam keadaan ingatan yang utuh.
.
.
.
"Tenten, kau serius akan kembali ke rumah?"
Tenten mengangguk singkat, hal ini langsung membuat Neji menghambur memeluknya. Tenten terkejut mendapati pelukan dari suaminya. Namun seketika dirinya sadar akan permasalahan yang dirinya alami, ia pun melepaskan pelukan suaminya. "Jangan sembarangan Neji, Aku melakukan ini semata-mata untuk Ji-san, jadi kau jangan ambil kesempatan!"
Neji tersenyum lembut, "Terima kasih kau sudah pedulu dengan Ji-san."
Tenten memandang direksi lain, menyembunyikan rona merah yang muncul dari wajahnya. Dirinya gugup mendapati senyuman lembut Neji yang terkesan tulus, tetapi rasa sakit yang menyiksanya selama ini membuatnya memudarkan rasa empati yang mendadak muncul untuk suaminya.
"Jangan berlebihan, aku meyanyangi Ji-san layaknya ayah kandungku. Lagi pula, Haru pasti senang sekali bisa bersama dengan jii-san."
Neji yang semula cerah kembali murung, bagaimana tidak, dirinya teringat anaknya yang telah dua bulan lamanya tidak bertemu. Neji menyesali dirinya yang telah berbuat kesalahan.
"Sudah selesai, kan?"
Neji menarik tangan Tenten yang hendak pergi meninggalkan restoran, "Tunggu sebentar, kumohon."
Tenten memutar matanya, pertanda bosan, "Apa lagi? Minggu lalu sudah kutegaskan mengenai perceraian, jadi kurasa tidak ada masalah lagi kan?"
"Apakah memang sudah tidak ada kesempatan?"
Tenten menghela napas, dia paling tidak menyukai pertanyaan seperti ini. Sejujurnya hatinya masih ingin memberikan Neji kesempatan, namun dia terlalu takut mengambil resiko dan membuatnya tersakiti.
"Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku juga harus segera ke Tempat kerja. Sampai jumpa."
Neji benar-benar tersiksa melihat kepergian Tenten, dirinya tidak menyangka kalau sebentar lagi akan kehilangan segalanya.
"Kalian lebih berharga dari segalanya dan kebodohanku adalah menyadarinya ketika telah kehilangan segalanya."
.
.
.
Sai menatap kesal pintu apartemen yang tidak kunjung terbuka, padahal dirinya telah menekan bel pintu lebih dari satu jam. "Cih, kenapa tidak dibuka-buka? Apa dia sedang pergi?"
"Sa … Sai-kun?"
Sai memamerkan senyum menawannya kemudian membalikkan wajahnya berharap orang yang dia nanti adalah yang memanggilnya. "Ino, kenapa suaramu seperti Hinata?"
Hinata tersenyum lembut dikarenakan Sai yang mengira dirinya adalah Ino. Sai terkejut mendapati Hinata yang berada di belakangnya dan bukanlah Ino, tampaknya telinganya memang tidak salah dengar.
"Konnichiwa, Sai-kun …."
Sai kembali menunjukkan senyuman yang membuat matanya menyipit. "Kau juga ingin bertemu Ino, Hinata?"
"Tidak, aku memang tinggal di sini bersama Ino-chan. Ayo masuk, Sai-kun kau pasti lelah karena menunggu lama."
Sai mengikuti Hinata masuk ke apartemen istrinya. Sai merasa déjà vu berada di ruangan apartemen, tempat dirinya biasa menemui Ino, mengobrol sekaligus bersantai atau sekadar tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan.
"Mau minum apa?"
"Apa saja."
Sai memilih menelusuri apartemen sembari menunggu Hinata yang tengah menuju pantry untuk membuatkannya minuman. Sai terdiam cukup lama tatkala mendapati foto pernikahannya terpajang manis di pusat ruangan. Diambilnya foto tersebut dan merabanya.
"Terima kasih masih memajang ini, Ino."
"Ma … maaf lama, aku sekalian menyiapkan makan siang, kurasa kau belum makan."
Sai kembali tersenyum, di dalam hatinya dia merasa iba terhadap Hinata. Sai sangat tidak menyangka kalau sepupunya tega menduakan Hinata, padahal Hinata adalah wanita yang sempurna.
"Kenapa melamun, apa makanannya tidak enak?"
Sai kembali menggeleng, "Aku hanya teringat saat kami, maksudku aku dan Ino menikmati makan bersama, seperti saat ini." Sai tersenyum, "Makanan yang kau buat sangat enak, berbeda dengan kami yang biasa-biasa saja bahkan nyaris gagal. Kami memakannya di ruang tamu sambil menonton film. Maaf aku jadi menceritakan hal yang tidak penting."
Hinata tersenyum lembut, "Tidak apa-apa, aku senang mendengarnya. Kurasa kau dan Ino masih saling mencintai, lantas kenapa harus berpisah?"
"Aku telah menyakitinya dan kurasa perpisahan, suka ataupun tidak selama Ino bahagia, aku akan menerimanya. Hinata, kamu tahu Ino di mana? Kami terlibat proyek bersama dan hari ini ada rapat, tetapi aku tak melihatnya."
Hinata beranjak dari sofa dan membereskan piring-piring kotor, Sai pun membantunya. "Terima kasih, tetapi kamu tak perlu repot, kamu kan tamu. Ino tidak mengatakan dirinya ke mana, dia hanya izin untuk pergi selama tiga sampai tujuh hari. Kenapa kamu tidak bertanya pada Kakashi-san, dia kan manager Ino."
Hinata tidak tega melihat Sai, namun ia telah berjanji pada Ino untuk tidak mengatakan perihal keberadaannya jika ada yang menanyakannya. Lagipula Hinata tidak mau turut campur dan membuat kemelut yang melanda Sai dan Ino semakin larut, dirinya lebih memilih diam dan menjadi pendengar yang baik.
"Hinata, selama ini apakah Ino pernah menceritakan sesuatu padamu?"
Hinata menggeleng, "Tidak, kami bahkan jarang bertemu, I … Ino-chan sangat sibuk."
Sai menyadari kebohongan Hinata, namun dia memilih diam. "Hinata, aku izin istirahat di sofa ya, rasanya lelah sekali."
"Baiklah, tetapi aku izin pergi ya, ada urusan."
"Tenang aku pastikan apartemen ini akan aman dari gangguan apa pun. Kamu mau pergi dengan Gaara ya?"
Hinata yang tengah mengambil tas, tampak terkejut. Sai tersenyum melihatnya, "Aku tahu kau tidak benar-benar lupa akan Sasuke. Sebaiknya jika kamu memang ingin berpisah, berpisahlah dengan baik-baik. Kode apartemen ini apa ya?"
Hinata berusaha bersikap sewajar mungkin, "Kurasa Sai-kun, masih menghafal kodenya. Sampai jumpa …."
Hinata sadar tindakannya bisa menyulut kemarahan Ino dengan mengizinkan Sai berada di apartemennya tanpa pengawasan. Namun Hinata tidak tega melihat Sai, ia merasa Sai sangat merindukan Ino dari sorotan matanya. Mungkin membiarkannya berada di sini akan membuat Sai jauh lebih baik, begitulah pikir Hinata, lagi pula Ino pun sedang berada di rumah orang tuanya.
"Terima kasih, Hinata-chan, kau baik sekali padaku dan kuharap kata-kataku barusan tidak menyakiti hatimu."
Hinata hanya tersenyum dan berjalan keluar. Sejujurnya hatinya benar-benar merasa sakit ketika Sai menyinggung permasalahannya dengan Sasuke, namun dia harus kuat. Hinata telah bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih baik lagi. Mengenai permasalahannya dengan suaminya, Hinata sudah siap untuk menyelesaikannya tanpa harus bersembunyi di balik rekayasa penyakitnya.
xxx
"Hinata-chan, apa aku tengah bermimpi, kamu mengingatku?"
Raut bahagia tidak dapat Sasuke sembunyikan, bahkan sebelum dirinya sampai di restoran, senyuman tidak henti ia tunjukan tatkala mendapati pesan singkat Hinata untuknya. Sasuke merasakan jiwanya serasa terisi kembali, dirinya tidak mempedulikan tatapan heran para karyawannya yang terpenting dapat bertemu dengan Hinata.
"Kamu mau pesan apa, Sasuke-kun?"
"Kamu, eh, em … maksudku." Saking bahagianya Sasuke menjadi terlalu kikuk hanya untuk mengatakan menu makanan yang ingin ia pesan.
"Aku pesankan yang seperti biasa kita makan di sini saja ya?"
Sasuke menatap Hinata tak percaya, dirinya seperti tengah bermimpi. Namun faktanya inin adalah kenyataannya dan hal ini membuatnya semakin bahagia. Hinata memang obat yang paling manjur baginya, bertemu dengan Hinata membuatnya melupakan semua masalah pribadi dan kantor yang tengah menimpanya. Kehadiran Hinata bagaikan angin surga yang membawa kedamaian padanya.
"Sasuke-kun langsung saja ke inti, kenapa aku memanggilmu kemari."
Detak jantung Sasuke menjadi tidak menentu, ia tidak pernah melihat Hinata sebegitu percaya diri dan firasatnya mengatakan bahwa apa yang akan Hinata katakana bukanlah hal yang baik. Untuk menetralisir kepanikan yang menyergapnya, Sasuke meminum air putih yang tersedia dan secara keajaiban, ia tidak menyangka rasa air putihnya seperti kopi yang biasa ia minum.
"Oh iya, selamat ya, kudengar wanita itu telah melahirkan. Kamu pasti sangat bahagia menjadi seorang ayah." Sasuke hanya membisu, tidak memberikan tanggapan apa-apa. "Aku minta maaf telah membohongiku perihal penyakitku, aku tidak bermaksud."
Lagi-lagi tidak ada kata-kata yang dikeluarkan Sasuke, hal ini membuat Hinata gugup luar biasa. Hinata memilih meminum jus apel yang dipesannya untuk membuatnya lebih tenang. "Sasuke, kau kini telah memiliki keluarga baru dan kurasa keluarga barumu akan membuatmu lebih bahagia. Jadi, alangkah lebih baik kita akhiri saja pernikahan kita. Lagipula anakmu yang baru lahir, membutuhkan pengakuan dan di negara kita, tidak memperbolehkan dua pernikahan sekaligus."
Sasuke memandang tajam Hinata, matanya menelusuri akankah ada kegundahan dari Hinata mengenai kata-katanya. Sasuke begitu terkejut mendapati tatapan penuh kemantapan dari Hinata, ia menundukkan wajahnya dan memegang dadanya yang serasa remuk. Angin surga yang semula memberikan kedamaian, tiba-tiba berubah menjadi api neraka, tampaknya begitulah arti pertemuannya dengan Hinata saat ini.
"Kurasa, apa yang kukatakan sudah sangat jelas, mungkin seminggu lagi kita sudah tidak berstatus suami-istri. Semoga kebahagian selalu bersamamu, maaf jika aku memiliki kesalahan, dan terima kasih atas semua yang telah kamu berikan kepadaku."
Sasuke menarik tangan Hinata, menghalanginya untuk pergi meninggalkan restoran. "Hinata, kumohon."
Hinata tidak kuasa menatap Sasuke, ia memilih mengalihkan pandangannya. "Maaf, Sasuke." Hinata menepis tangan Sasuke dan mengambil tasnya untuk kemudian meninggalkan Hinata.
Sasuke yang masih tidak bisa menerima kenyataan, berusaha membawa Hinata ke dalam pelukannya. "Hinata, kumohon, jangan tinggalkan aku. Ka … kamu segalanya bagiku." Hinata terkejut mendapati bahunya yang basah oleh air mata Sasuke. "Kau napasku, Hinata, maafkan aku …."
Pengunjung restoran terhenyak melihat pemandangan yang memilukan, di mana seorang Uchiha yang terbiasa dengan pembawaan dingin dan angkuh, kini memeluk seorang wanita dan menangis tersedu-sedu.
"Ini yang terbaik bagi kita, Sasuke, percayalah." Hinata berusaha tetap tegar dan tidak terbawa suasana.
Sasuke pun akhirnya melepaskan pelukannya dari Hinata, tetapi itu tidak membuat Hinata seutuhnya terbebas. Sasuke kini bersujud dan memeluk kaki Hinata, "Kumohon, berikanlah aku satu kesempatan lagi. Aku janji jika kamu memberikan hal itu padaku, aku akan berusaha membahagiakanmu dengan segenap jiwaku."
Benarkah Sasuke akan membahagiakan Hinata, tampaknya semua usaha yang dilakukan Sasuke untuk meyakinkan Hinata, tidak membuat Hinata meralat keputusannya. "Aku akan lebih bahagia, jika kamu kembali kepada mereka. Sasuke, Karin dan anakmu lebih membutuhkan dirimu daripada aku. Ah ya, kuharap kamu mengizinkanku sesekali melihat anakmu, pasti sangat menyenangkan bisa merawat dan membesarkan seorang anak. Sayangnya Kami-sama tidak memberikan kesempatan itu padaku, ya kan, Sasuke?"
Tubuh Sasuke serasa kaku, bagaikan buah simalakama, kata-kata yang dahulu Sasuke gunakan terhadap Hinata, kini telah melukai dirinya. Sasuke terus terdiam dan menatap Hinata yang kini telah pergi meninggalkannya.
.
.
.
"Temari, kamu tidak apa-apa?"
Temari tersenyum mendapati perhatian ibu mertuanya. "Aku tidak apa-apa Bu, hanya kecapean."
"Cih, bagaimana tidak kecapean Temari-nee mengurus segala sesuatunya sendiri. Merawat anak dan membiayainya, di mana peran si nanas itu?"
Temari memberikan tatapan tajam kepada Gaara, dirinya menjadi tidak enak hati kepada ibu mertuanya akibat kata-kata Gaara. Memang apa yang dikatakan Gaara ada benarnya, namun tidak seharusnya dia mengatakannya kepada mertuanya yang tidak bersalah. "Maafkan kata-kata Gaara, kaa-san."
Yoshino hanya tersenyum, bagaimana pun juga yang dikatakan Gaara memang benar, anaknya sangat keterlaluan. Yoshino hanya bisa berharap Temari masih mau memberikan kesempatan kedua bagi putra semata wayangnya.
"Tidak apa-apa, dia memang sangat keterlaluan. Aku telah membuatkanmu sup ayam, kuharap ini akan membuatmu lebih baik, terlebih sup ini kaya rempah yang akan menghangatkanmu."
Temari tersanjung dengan perhatian Yoshino, dirinya menjadi ragu jika harus berpisah dengan Shikamaru karena itu artinya tidak terikat hubungan keluarga lagi dengan Yoshino. "Terima kasih atas perhatianmu, aku sangat menyayangimu kaa-san. Bolehkah aku menganggapmu seperti ibu kandungku sendiri?"
Yoshino mengangguk dan langsung memeluk Temari, "As your wish, honey."
"Neechan, aku pamit kerja. Hm, sebaiknya nee-chan jangan terlalu terbawa suasana, besok adalah sidang perdana nee-chan. Sebenarnya akan lebih simple jika si nanas itu, langsung menanda-tangani surat serainya."
Pasca-kepergian Gaara, Yoshino memutuskan untuk menanyakan keputusan menantu kesayangannya. Yoshino tidak bermaksud mengganggu keputusan yang akan diambil Temari, dia hanyan ingin meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang akan diambil menantu kesayangannya adalah yang terbaik untuknya.
"Kaa-san sekarang jam berapa ya? Aku harus menjemput anak-anak."
Yoshino tersenyum, "Kamu memang wanita baik, sedang sakit seperti ini, masih memikirkan anak-anak. Kamu tenang saja, Shikamaru sudah menghandlenya. Tidak apa-apa, kan? Bagaimana pun juga, Shikamaru adalah ayah kandung mereka.
Temari tersenyum, "Masalah antara aku dan Shikamaru, tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagian anak-anak. Kaa-san, benar, bagaimana pun juga mereka pasti merindukan saat-saat bersama dengan ayah mereka."
"Temari, boleh aku bertanya?"
"Tentu, kaa-san."
"Apakah kamu bersungguh-sungguh untuk berpisah dengan anakku?"
Temari terdiam cukup lama, hal ini membuat Yoshino menjadi tidak enak hati. Tidak seharusnya dirinya menanyakan hal ini, padahal Temari sedang sakit. "Em, lupakan saja pertanyaanku, apakah kamu sudah lapar? Sebaiknya aku mengambilkan makanan untukmu."
Temari menggeleng, "Tidak apa, kaa-san, aku belum lapar, nanti kita makan bersama, ya? Sejujurnya di hatiku masih ada rasa cinta untuknya, namun aku ragu, kaa-san. Aku takut Shikamaru kembali menyakitiku dan anak-anak. Aku pikir, jika kami berpisah, itu akan lebih baik untuk anak-anak. Mereka tidak akan melihat kami bertengkar, hanya perbedaannya kami tidak tinggal serumah lagi."
Yoshino takjub mendengar jawaban Temari, dengan berat hati, ia pun berusaha mengikhlaskan perceraian yang akan menimpa putranya. Yoshino mengelus rambut Temari, "Apa pun yang terjadi dalam pernikahan kalian, tidak akan membuat hubungan kita berubah, selamanya kamu akan menjadi anakku."
Temarin memeluk Yoshino, melimpahkan semua kasihn sayang. Sejak pertama, Temari memang telah menganggap Yoshino layaknya ibu kandungnya yang telah meninggal walaupun Yoshino sangat tidak merestui pernikahannya dengan Shikamaru. Aneh memang, ketika dirinya dan Shikamaru akan berpisah justru Yoshino semakin dekat dengannya.
"Terima kasih, kaa-san."
"Aku benar-benar tidak mengerti Temari, kenapa Shikamaru bisa menyakitimu wanita sebaik dan secantik dirimu? Kamu tahu Temari, sampai detik ini, aku tidak bisa berhenti menertawai diriku yang sempat berpikir negatif tentangmu."
Temari mencium pipi Yoshino penuh kasih, "Tidak masalah, kaa-san, yang terpenting sekarang semuanya baik-baik saja."
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu?"
Karin yang tergeletak lemah, berubah rona wajahnya pasca kedatangan Sasuke. "Dari mana saja? Kenapa baru datang, apa kamu tidak menghawatirkanmu atau setidaknya anak kita?"
Sasuke mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang Karin. "Maaf, di kantor banyak urusan."
Karin tahu Sasuke telah menyembunyikan sesuatu darinya, namun dirinya memilih untuk menenangkan hatinya, setidaknya Sasuke masih mau menjenguknya. "Jangan terlalu capek, nanti kamu sakit."
"Hn, bagaimana bayi kita?"
Rasa takut membayangi Karin, dirinya kembali teringat Suigetsu dan keinginan pria itu untuk memilikinya juga anaknya. Karin ragu dengan semua sandiwaranya, apakah dia harus meneruskannya atau menyudahinya. Bukan hanya itu, Karin bahkan ragu, keinginannya bersama Sasuke murni rasa cintanya yang besar ataukah hanya obsesi yang tidak tersampaikan.
"Dia baik-baik saja, sekarang berada di ruangan bayi. Sasuke-kun istirahat saja, jam besuk bayi sudah berakhir."
"Karin, bolehkah aku bertanya?"
Karin mengangguk lemah, dirinya mencoba memantapkan hatinya jika saat ini adalah saat dia bersama dengan Sasuke. Karin pun sadar, jika dia terus memaksa Sasuke untuk berada di sisinya hanyalah kesia-sian. Buktinya selama kebersamaannya, Sasuke tidak pernah sedikitpun menyentuhnya walaupun mereka berada dalam satu ranjang.
"Apakah bayi yang kamu lahirkan memang darah dagingku?"
'Oh Tuhan, kenapa dari setiap pertanyaan yang bisa muncul, Sasuke harus mempertanyakan masalah ini?' Batin Karin.
"Sasuke, maafkan aku."
Sasuke merasakan ketidakpuasan dari jawaban Karin yang ambigu. "Apa maksudmu?"
Karin menghela napas, dirinya tidak sanggup untuk menjawab perasaan Sasuke, walapun ia telah siap jika harus melepas Sasuke. Hal ini tidak dikarenakan tawaran Suigetsu yang akan menjaganya ataupun perasaannya yang mulai mengalir untuk ayah dari anaknya. Hanya saja, Karin sangat menghawatirkan kebahagiaan anaknya kelak, jika dia terus memaksakan egonya.
"Kumohon, kau memaafkanku, Sasuke. Tetapi kalau kamu tidak mau memaafkanku, aku menerimanya."
Sasuke memandang Karin tajam, "Jangan bertele-tele, Karin, cepat jawab pertanyaanku."
Karin meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya begitu erat. "Bukan, di … dia bukan anakmu, a … aku menjebakmu waktu itu."
Walau pelan, Sasuke dapat dengan jelas mencerna jawaban yang dikeluarkan Karin dan hal itu membuat hatinya merasa terbakar. Sasuke menghempaskan tangan Karin dan menatapnya tajam. "Kau!"
Karin tak kuasa menangis mendapati tatapan Sasuke, ia terus memohon maaf, namun Sasuke nampak tidak peduli. Sasuke meninju lemari kecil di depannya dan membuat tangannya berdarah. Karin berusaha menggapai tangan Sasuke yang berdarah untuk mengecek seberapa parah lukanya, namun Sasuke menghentak tangan Karin. "Jangan sentuh aku dengan tangan busukmu! Cih, kau benar-benar wanita iblis Karin, apa yang kamu cari dariku hingga kau setega ini padaku?!"
Karin menggeleng lemah, permohonan maaf terus-menerus didengungkannya. "Bagaimana Karin, apakah kau puas sekarang setelah kau berhasil membuat Hinata menceraikanku?"
Karin terkejut, ia menatap Sasuke tidak percaya. "Ma … mana mungkin …."
Sasuke menghela napas, ia berusaha mengontrol emosinya agar tidak sampai melukai Karin. Bagaimanapun juga Karin tengah dalam kondisi lemah pasca melahirkan. "Hn, faktanya demikian. Hahahaha, ini mungkin hadiah yang pantas kudapatkan! Aku begitu menginginkan seorang anak, sampai-sampai aku tidak berpikir jernih ketika kau menipuku. Hn, mungkin karena aku memang bodoh, sampai-sampai aku melukai istriku karena seorang bayi yang jelas bukan anakku!"
"Sa … Sasuke maafkan aku, a … aku janji akan menjelaskan semua ini ke Hinata."
"Kau pikir Hinata akan percaya omonganmu setelah semua kekerasan yang kuberikan padanya?"
"Maafkan aku, Sasuke, a … aku …."
"Sudahlah, lupakan saja, kau istirahat saja."
Karin menatap punggung Sasuke iba, dirinya tidak menyangka semuanya akan berakhir begini. Melihat Sasuke yang membisu dan meninggalkannya begitu saja, membuat hatinya tidak tenang. Karin lebih memilih Sasuke mencaci makinya atau bahkan memukulinya, ketimbang diam seperti itu, hal ini membuatnya semakin tersiksa.
"Kau tidak salah, Sasuke. Maafkan aku, seandainya saja aku mengikuti ajakan Suigetsu waktu itu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini dan rumah tangga masih bisa terselamatkan."
.
.
.
"Jii-san tidak menyangka, Haru sudah sebesar dan sepintar ini. Jii-san rasanya ingin tinggal di Konoha saja ketimbang harus pergi lagi ke New York."
Seharusnya gelak tawa bahagia yang menyambut perkataan Hiashi, tetapi malah kesunyian yang mencekam. Perasaan gelisah menggelayuti hati Tenten dan Neji. Jika Hiashi menetap di Konoha, tentunya cepat atau lambat kebohongan mereka bahwa semuanya baik-baik saja akan terungkap.
"Kalian kenapa diam saja? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"
Neji dan Tenten dengan kompak menggelengkan kepala mereka. "Ka … kami hanya …."
"Jii-san, makan yuk, Halu udah lapal."
"Hahaha, ternyata kamu masih cadel."
Haru memajukan bibirnya, tidak suka diledeki demikian oleh kakeknya. Hiashi pun menepuk-nepuk kepala Haru penuh kasih dan memimpin doa untuk makan bersama. Neji dan Tenten mengucap syukur yang tidak terkira, setidaknya saat ini kebohongan mereka masih menjadi rahasia.
TBC
Semoga kalian tidak kecewa dengan chapter ini dan masih mempunyai keinginan untuk membaca fanfic ini. Aku berharap banyak, kalian masih sudi memberikan kritikan, saran juga semangat untukku dalam membuat fanfic ini. Derita bagi author yang telah menelantarkan fanfic adalah membuat reader memaafkannya. Aku menyadari itu dan sangat sadar permintaan maaf tidak akan merubah apa pun selama fanfic yang kutelantarkan belum tercantum label "complete". Semoga saja, aku bisa sampai ke titik itu dengan segala kekurangan yang kumiliki dan aku masih memiliki kepercayaan diri untuk tetap menjadi author di fandom ini. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk curhat, jadi hiraukan saja ya … Terima kasih. ^^
Balasan Review …
Renita Nee-Chan : Makasih Renita-san… :* Emm maaf banget ya porsi SaiIno masih sedikit, tapi tenang aja, aku udah pikirin buat porsi mereka yang cukup wah. Kuharap kamu sabar menunggu untuk itu. ;)
altadinata : Ini sudah lanjut, maaf telah update… Terima kasih reviewnya.
: Maaf untuk pertanyaanmu, aku belum bisa menjawab. Yang jelas, aku akan berusaha buat Hinata bahagia. Thank for review… ;)
Guest 1 : Ya, aku mengerti perasaaanmu, aku akan berusaha untuk itu. Tetapi, aku tidak dapat berjanji apakah mereka berpisah atau bersatu. Terima kasih reviewnya, rasanya rindu melihat review sepanjang ini. :D
LotuS-Mein319 : Terima kasih reviewnya. :D Maaf sepertinya chapter ini membuatu kecewa karena tidak kilat dan lebih sedikit wordnya. Chapter depan, aku akan lebih berusaha lagi.
Enrique : Terima kasih, aku akan berusaha untuk itu.
OnyxDevil : Aku akan berusaha untuk itu, terima kasih sudah mereview dan kuharap kamu senang dengan chapter 11 ini. ^^
n : Hehehe maaf n-chan, aku belum bisa menyimpulkan akankah SasuHina harus berakhir atau tidak, masih banyak pertimbangan. Oh, ayolah, kasih tau alamat fbmu, kutunggu. Thank for review ya… :D
roti bakar: Makasih juga sudah mereview… :D Aku senang lihat reviewmu, jadi makin terbakar untuk segera menyelesaikan konflik ini. ;) Wah kurasa kamu paling beruntung karena tampaknya chapter ini ada porsi SasuHina dan NejiTen. ;)
Luluk Minami Cullen : Iya, akan kuusahakan untuk memperbanyak SH walaupun harus dibarengi pair-pair yang lain. Makasih banyak reviewnya. :D
hinatauchiha69 : Maaf ya gak bisa update kilat. Terima kasih reviewnya. ^^
Hyou Hyouchiffer : Hm, maaf ya Hyou-chan, sekarang malah gak update kilat. Iya, sepertinya aku akan mengkelarkan konflik NS dulu karena mereka lebih simple ketimbang pasangan yang lainnya. Untuk SH, kurasa tidak akan secepat itu, tetapi aku akan berusaha menampilkan mereka di setiap chapternya. Makasih yaaa udah review… #peluk ^^
Lies Veno321 : Kuharap kamu masih menunggu untuk membacanya, maaf telat update. Terima kasih reviewnya. ^^
Aisanoyuri : Hehhe begitulah permasalahan mereka berbeda-beda, walaupun beberapa ada yang berselingkuh tapi titik yang membuat mereaka berselingkuh pun berbeda. Terima kasih mau menunggu dan setia dengan fanfic ini, aku sangat terharu. :D Ini sudah lanjut, maaf masih membuat menunggu karena telat update. Thank for review…
corn flakes : Terima kasih super untukmu, reviewmu membuatku semangat. :D Maaf ya kalo aku ngecewain dengan update molor, tetapi kuharap kamu masih mau membaca kelanjutan kisah mereka. :D Untuk masalah cerai atau tidak, tampaknya itu jawaban paling sulit kubuat, banyak pertimbangan yang harus kupikirkan, tetapi aku akan berusaha membuatnya tidak terlihat "maksa". Makasih yaaa reviewnya, tentu aku pasti melanjutkan fanfic ini. Maju terus, pantang mundur, hehehe.
Guest 2 : Maaf membuatmu menunggu dan kecewa. SaiIno akan kuusahakan lebih banyak hintnya di chapter depan. Terima kasih sudah mereview. ;)
Sungguh aku gak nyangka akan mendapatkan semangat yang begitu melimpah, terima kasih semuanya, love you all… :*
