Remake dari Emma Chase "Tangled".

Alur cerita sesuai dengan novel aslinya, hanya akan disesuaikan dengan cast & setting lokasi ^^

Karena ini Remake, kalau ada cerita (ff) yang mirip-mirip dengan pairing yang berbeda, itu wajar ya :)

Kali ini karakternya mayoritas OOC. Dan FF ini akan bercerita dengan POV Jimin.

Main Cast: MinYoon

- Park Jimin (!SEME!)

- Min Yoongi (!UKE!GS!)

Support Cast:

All BTS member (GS: Kim Seok Jin, Jung Hoseok, Jeon Jungkook) & other Idol (random)

Rate M

Genre: Humour, Romance, Drama, Fluffy.

DON'T LIKE DON'T READ


CHAPTER 11

Perayaan chuseok bersama keluarga diadakan setiap tahun di rumah orangtuaku. Ini selalu menjadi acara kecil keluarga. Ada orang tuaku, tentu saja. Kalian sudah bertemu Ayahku. Ibuku mirip Jin namun lebih tua dan lebih pendek.

Sebelum menganut kepercayaan feminisme yang kuat—ia pernah menjadi pengacara terkemuka sebelum naluri keibuannya memikatnya—dia suka memerankan ibu rumah tangga yang bahagia.

Setelah ia dan Ayahku memperoleh keuntungan finansial yang sangat besar, dia juga mengabdikan dirinya ke berbagai organisasi amal. Itu yang sekarang ibuku lakukan untuk mengisi sebagian besar waktunya setelah Jin dan aku telah keluar dari rumah.

Lalu ada Ayah Namjoon, Kim Tae Woo. Bayangkan Namjoon tiga puluh tahun mendatang dengan rambut menipis dengan banyak keriput. Ibu Namjoon meninggal ketika kami masih remaja. Menurut sepengetahuanku, sejak saat itu Taewoo samcheon tidak pernah berkencan sekalipun. Dia menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, diam-diam menghitung angka di kantornya. Dia adalah pria yang baik.

Dan ini mengantar kita ke keluarga Kim lainnya, orang tua Kim Taehyung. Kalian pasti tidak sabar untuk melihat mereka. Mereka sangat lucu. Kim Dong Wan dan Lee Shin Ji adalah orang yang paling sendu yang pernah kutemui. Mereka nyaris seperti orang linglung.

Kalian pikir orang tua Taehyung akan jadi lebih mudah tersinggung, bukan? Aku punya teori. Mereka melahirkan Taehyung di masa tua mereka, dan kurasa dia menyedot habis semua energi yang tersisa—layaknya parasit.

Dan akhirnya ada Taehyung, Namjoon, Jin, dan aku sendiri.

Oh, dan tentu saja satu perempuan lain dalam hidupku. Aku tak percaya bahwa aku belum pernah menyebut dia sebelumnya. Dia adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar menguasai hatiku. Aku adalah budaknya. Dia meminta, dan aku menurut. Dengan senang hati.

Namanya adalah Jangmi. Rambutnya panjang berwarna hitam dan memiliki mata terbesar yang pernah kalian lihat. Umurnya hampir empat tahun.

Lihat di sana? Di ujung lain dari jungkat-jungkit yang sekarang sedang aku naiki.

"Jadi, Jangmi, apa kau sudah memutuskan mau jadi apa kalau sudah besar nanti?"

"Ya. Aku ingin jadi seorang putri. Dan aku ingin menikah dengan pangeran dan tinggal di kastil."

Aku perlu bicara dengan kakakku. Disney berbahaya. Omong kosong pencuci otak yang merusak, kalau menurutku.

"Atau kau bisa kerja di bidang real estate. Jadi kau bisa membeli kastil sendiri dan kau tak butuh pangeran lagi."

Dia pikir aku bercanda. Jangmi tertawa.

"Jimin samcheon. Bagaimana aku bisa punya bayi kalau tidak ada pangeran?"

Ya ampun.

"Kau punya banyak waktu untuk mendapat bayi. Setelah kau mendapat gelar sarjana atau dokter. Oh, atau kau bisa jadi CEO dan memulai sebuah penitipan anak di kantormu. Jadi kau bisa membawa bayimu ke tempat kerja setiap hari denganmu."

"Umma tidak pergi ke kantor."

"Ummamu menganggap remeh dirinya sendiri, sweetie."

Kakakku adalah pengacara persidangan yang cemerlang. Dia bisa berkarir sampai ke Mahkamah Agung. Serius. Dia sangat hebat. Jin bekerja penuh semasa kehamilannya dan memiliki pengasuh yang sudah siap bertugas.

Namun ketika ia menggendong Jangmi dalam pelukannya untuk pertama kalinya. Pada hari yang sama dia memberi tahu si pengasuh bahwa jasanya tidak diperlukan lagi. Bukannya aku menyalahkan dia. Aku tak bisa membayangkan pekerjaan yang lebih penting lagi dibanding memastikan keponakanku tumbuh besar dengan bahagia dan sehat.

"Jimin samcheon?"

"Ya?"

"Apa kau akan mati sendirian?"

Aku menyeringai.

"Aku tidak punya rencana mati dalam waktu dekat, sayang."

"Umma bilang kau akan mati sendirian. Dia bilang pada Appa bahwa Samcheon akan mati dan butuh waktu berhari-hari sampai wanita tukang bersih-bersih menemukan mayatmu yang membusuk."

Bagus sekali. Terima kasih, Jin.

"Mayat itu apa, Jimin samcheon?"

Wow.

Aku diselamatkan dari keharusan menjawab ketika melihat Taehyung berjalan menuruni tangga menuju halaman belakang.

"Hei, sweetie, lihat siapa yang datang!"

Jangmi melompat dari jungkat-jungkit dan melemparkan dirinya ke tangan terbuka Taehyung.

Sebelum kalian bertanya, jawabannya tidak. Ketika dia dewasa, keponakan kecilku tak akan pernah berhubungan dengan seorang pria sepertiku. Dia terlalu pintar untuk itu. Aku akan memastikannya.

Kalian pikir itu membuatku munafik, ya? Tidak masalah. Aku bisa menerimanya.

Taehyung menurunkan Jangmi dan berjalan mendekat.

"Hei, bro."

"Ada apa?"

"Kau pulang lebih awal tadi malam?"

Dia bertanya padaku.

"Kau tak pernah kembali ke pesta."

Aku mengangkat bahu.

"Pikiranku tidak ada di sana. Aku pergi ke gym dan langsung tidur."

Sebenarnya aku menghabiskan waktu tiga jam menggempur samsak, sambil terus membayangkan bahwa itu adalah wajah Ravi.

"Kau berkumpul dengan Jungkook?"

Dia mengangguk.

"Dia, Yoongi, dan Ravi."

Aku menggeleng.

"Orang itu penjilat yang brengsek."

Jangmi berjalan ke arah kami dan menyodorkan satu stoples yang sudah setengah penuh dengan uang. Aku memasukkan seribu won ke dalamnya.

"Dia tidak begitu parah."

"Idiot itu membuatku jengkel."

Jangmi menyodorkan stoplesnya lagi, dan masuk seribu won lainnya.

Stoples?

Benda ini ditemukan oleh kakakku, yang tampaknya berpikir bahwa bahasaku terlalu kasar untuk anaknya. Ini adalah Stoples Omongan Jorok.

Setiap kali seseorang—biasanya aku—menyumpah, mereka harus membayar denda seribu won. Pada laju seperti sekarang ini, benda itu akan mengantar Jangmi sampai ke perguruan tinggi.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Jungkook?"

Dia tersenyum.

"Kita nongkrong. Dia asyik orangnya."

Biasanya Taehyung akan lebih terbuka dengan cerita rincinya. Bukan berarti aku terangsang pada cerita-ceritanya, tapi kalian harus tahu, Taehyung dan aku sudah berteman sejak lahir. Itu berarti setiap ciuman, setiap payudara, setiap handjob, blowjob, dan persetubuhan telah dibagi dan di diskusikan.

Dan sekarang dia menyembunyikan sesuatu dariku. Ada apa sebenarnya?

"Aku asumsikan kau sudah tidur dengannya?"

Dia mengerutkan keningnya.

"Tidak seperti itu, Jimin."

Aku bingung.

"Lalu kenapa, Taehyung? Kau tidak berkumpul dengan kami lebih dari dua minggu. Aku bisa paham kau terlalu pussy whipped (takut terhadap pasangan) untuk pergi keluar kalau kau mendapatkan seks darinya. Tapi jika tidak, apa masalahnya?"

Dia tersenyum dalam ekspresi nostalgia, mengingat-saat-saat bahagia.

"Dia hanya… berbeda. Sulit untuk menjelaskannya. Kami ngobrol, kau tahu? Dan aku seperti selalu berpikir tentang dia. Ini seperti saat aku mengantarnya, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi. Dia... membuatku takjub. Aku berharap kau tahu apa maksudku."

Dan yang menakutkan adalah—aku tahu persis apa maksudnya.

"Kau berada di wilayah berbahaya, bung. Kau lihat apa yang telah Namjoon lalui. Jalan ini mengarah menuju The Dark Side. Kita selalu berkata bahwa kita tidak akan pergi ke sana. Kau yakin tentang ini?"

Taehyung tersenyum, dan mengatakan padaku,

"Kau tak tahu kekuatan dari The Dark Side."

.

.

.

Sekarang waktunya makan malam. Ibuku membuat pertunjukan besar saat membawa keluar ayam panggangnya, dan semua orang ber ooh dan ahh sebelum Ayahku mengirisnya.

Ketika mangkuk disodorkan dan piring diisi, ibuku berkata,

"Jimin, sayang, aku akan membawakan untukmu sekantong besar makanan yang tersisa. Aku bahkan tak mau membayangkan bagaimana kau makan di apartemen itu tanpa adanya orang yang memasak makanan layak untukmu. Dan aku akan menaruh tanggal di wadahnya agar kau tahu kapan harus membuangnya. Terakhir kali aku melongok ke dalam kulkasmu, itu seperti semacam percobaan ilmiah yang sedang dipelihara di sana."

Ya. Ibuku menyayangiku. Aku bilang juga apa.

"Makasih, Umma."

Taehyung dan Namjoon membuat suara ciuman basah dan keras kearahku. Dengan kedua tangan, aku acungkan jari tengah kearah mereka berdua.

Disampingku aku melihat Jangmi menatap tangannya berusaha untuk meniru gerakanku. Aku dengan cepat menutup tangannya dengan tanganku dan menggeleng.

Selagi kami sedang makan, aku membuat pengumuman,

"Kurasa Jangmi seharusnya tinggal bersamaku."

Tak ada seorang pun yang bereaksi. Tak ada yang mendongak. Tak ada yang berhenti makan. Aku sudah pernah mengajukan usulan ini beberapa kali sejak keponakanku lahir. Jin berkata,

"Ayamnya lezat Umma, Sangat empuk."

"Terima kasih, sayang."

"Hallo, aku serius nih. Dia butuh pengaruh positif dari wanita teladan."

Ini langsung mendapat perhatian dari Si Menyebalkan.

"Sialan, memangnya aku kenapa?"

Jangmi menyodorkan stoplesnya kearah ibunya, dan masuklah uang seribu won. Sekarang kami semua membawa uang kecil pada acara makan saat liburan.

"Kau seorang ibu rumah tangga. Yang mana sangat terpuji, jangan salah paham. Tapi dia harus dikenalkan pada wanita karier juga. Dan demi Tuhan, jangan biarkan dia menonton Cinderella tolol itu. Contoh macam apa itu? Seorang gadis bodoh dan ceroboh yang bahkan tak bisa mengingat di mana dia meninggalkan sepatu sialannya, jadi dia harus menunggu datangnya pria brengsek dengan celana ketat untuk membawakan sepatu itu padanya? Yang benar saja."

Aku tak yakin berapa banyak dendaku setelah pidato singkat ini. Aku sodorkan Jangmi sepuluh ribu won.

Apakah aku sudah bilang stoples itu akan mengantar Jangmi sampai perguruan tinggi?

Maksudku sekolah hukum. Aku harus segera pergi ke ATM.

Namjoon ikut bergabung.

"Kurasa Jin adalah teladan sempurna untuk putri kami. Tak ada yang lebih baik lagi."

Namjoon adalah seorang pria yang sudah takluk. Dan Taehyung ingin bergabung dalam klubnya.

Tidak dapat dipercaya.

Jin tersenyum ke arahnya.

"Terima kasih, sayang."

"Sama-sama, dear."

Taehyung dan aku mulai terbatuk,

"Whipped..."

Jangmi menatap kami dengan curiga, tidak yakin jika kami perlu membayar denda atau tidak.

Jin merengut.

Aku melanjutkan,

"Aku harus membawanya ke kantor bersamaku. Dia harus bertemu Yoongi, bukankah begitu, Ayah?"

Ibuku bertanya dengan cepat,

"Siapa Yoongi?"

Ayahku menjawab sambil mengunyah,

"Min Yoongi, karyawan baru. Gadis yang cemerlang. wanita yang tidak takut mengungkapkan pikirannya. Dia bersaing secara kuat dengan Jimin ketika ia pertama kali masuk kerja."

Ibu menatapku dengan mata berkilauan penuh harapan. Seperti cara seorang chef memandang seember daging, membayangkan makanan lezat yang menunggu untuk dibuat.

"Yoongi ini terdengar seperti seorang wanita muda yang menarik, Jimin. Mungkin kau harus mengajaknya ke rumah untuk makan malam."

Aku memutar mataku.

"Kami kerja bersama-sama, Umma. Dia sudah bertunangan. Dengan seorang tolol, tapi itu lain lagi ceritanya."

Seribu won berikutnya lenyap tak berbekas.

Kakakku menyela,

"Kupikir Umma hanya terkejut mendengar kau menyebut seorang wanita dengan namanya. Biasanya kau hanya menyebut 'pelayan dengan pantat bagus' atau 'si pirang dengan payudara besar'"

Meskipun pengamatannya akurat, aku mengabaikannya.

"Intinya adalah, dia contoh yang hebat bagi Jangmi tentang seberapa tinggi wanita dapat meraih karirnya."

Terlepas selera buruknya terhadap laki-laki.

"Aku akan... Kurasa kita semua akan sangat bangga jika dia tumbuh dewasa memiliki separuh profesionalisme yang dimiliki Yoongi."

Jin tampak terkejut dengan pernyataanku. Lalu ia tersenyum hangat.

"Jangmi dan aku bisa pergi ke kantor minggu depan. Kita akan berkumpul denganmu untuk makan siang dan bertemu dengan Min Yoongi yang terkenal ini."

Kami makan dalam keheningan selama beberapa menit, dan kemudian Jin berkata,

"Itu mengingatkanku. Taehyung, bisakah kau mengantar aku ke acara makan malam amal pada Sabtu kedua di bulan Desember? Namjoon akan berada di luar kota."

Dia menatap ke arahku.

"Aku seharusnya meminta adikku tersayang untuk melakukannya, tapi kita semua tahu dia menghabiskan Sabtu malamnya di kota dengan pelac..." ia melirik putrinya "...perempuan murahan."

Sebelum Taehyung sempat menjawab, Jangmi memberikan pendapatnya.

"Kupikir Taehyung samcheon tidak bisa datang, Umma. Dia terlalu sibuk jadi pussy whipped. Apa artinya pussy whipped, Appa?"

Begitu kata-kata itu meluncur dari bibir malaikat kecilnya, reaksi berantai yang menghebohkan segera terjadi:

Taehyung tersedak jus jeruk di mulutnya, yang terbang keluar dan mengena tepat di mata Namjoon.

Namjoon membungkuk kesakitan, memegang matanya dan berteriak,

"Aku kena! Aku kena!"

Dan kemudian mengatakan bagaimana asam dari jus jeruk menggerogoti korneanya.

Ayahku mulai terbatuk. Ayah Namjoon berdiri dan mulai memukul-mukul punggungnya sementara mengajukkan pertanyaan kepada siapapun apakah ia harus melakukan penanganan pertama pada orang yang tersedak.

Ibu Taehyung menyenggol jatuh gelas anggur merahnya, yang dengan cepat merembes ke taplak meja berenda milik ibuku. Dia tidak berusaha untuk membersihkan kekacauan, melainkan berteriak,

"Oh, ya ampun. Oh, ya ampun."

Ibuku berlari di sekitar ruang makan dengan kalang kabut, mencari serbet kertas untuk menyeka noda, sambil meyakinkan Ibu Taehyung bahwa semuanya baik-baik saja.

Dan Ayah Taehyung... well... Ayah Taehyung terus saja makan.

Sementara kekacauan terus berlanjut di sekeliling kami, tatapan tajam mematikan dari Jin tak pernah goyah dari Taehyung dan aku. Setelah menggeliat di bawah tatapannya selama sekitar tiga puluh detik, Taehyung menyerah

"Bukan aku yang mengajarinya, Jin. Aku bersumpah demi Tuhan itu bukan aku."

Dasar pengecut.

Terima kasih, Taehyung. Cara yang bagus meninggalkan aku mati sendirian. Ingatkan aku untuk tidak pergi berperang dengan dia sebagai pendampingku.

Ketika pandangan marah Si Menyebalkan teralih sepenuhnya kearahku dengan kekuatan penuh. Aku merasa bahwa setiap saat aku akan menghilang menjadi tumpukan abu di kursi. Aku berjuang keras dan memberinya senyum paling manis dari adik laki-lakinya.

Coba lihat. Apakah ini berhasil?

Aku benar-benar mampus.

Lihat, ada satu hal yang harus kalian tahu tentang Keadilan dari Si Menyebalkan. Dia itu keras dan tanpa ampun. Kalian tidak akan tahu kapan datangnya; yang bisa kalian pastikan adalah bahwa itu pasti datang. Dan ketika terjadi, itu akan menyakitkan.

Sangat, sangat menyakitkan.


-TBC-

[HAHAHA… Suka banget sama Jangmi, anak NamJin emang cerdas jenius :D]

[stoples omongan jorok nya bener-bener kaya bank berjalan, apalagi kalau dideket Jimin :p]

[Review?]