Title: THEY NEVER KNOW
Words: 6K
Pair: EXO KaiSoo-Kim Jongin-Do Kyungsoo
Genre: Non!AU, BXB
.
.
.
actually... i don't know what is this...
.
.
.
Menunggu kepulangannya menjadi hal yang lain sekarang. Jika dulu ia tidak perlu menunggu dan bisa pergi kemana saja berdua, sekarang ia harus menunggu—bahkan untuk menghubunginya menjadi hal yang sulit. Sesekali ia bercanda dengan yang lainnya tapi tentu saja rasanya tidak akan pernah sama. Ibaratnya orang lain butuh banyak kata-kata untuk membuat ia tertawa, tapi dia tidak. Hanya dengan sedikit senyum sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga.
Ia tidak ingin terbangun pagi itu. Ia bahkan tidak ingin membuka jendela yang sudah disinari matahari. Dilihatnya sebelahnya masih kosong; belum berpenghuni. Jika biasanya ia akan menemukan seseorang yang selalu memeluknya, kali ini ia menemukan dirinya sendiri tak berteman. Bahkan kamar gelapnya itu membuat suasana hatinya semakin tidak karuan.
"Soo?"
Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan seseorang disana, "Sarapan?" tanyanya.
"Aku—" Kyungsoo menghela nafasnya, "Baiklah. Tunggu aku di meja makan, Baek." Ucapnya seraya menyibakkan selimut yang membungkusnya.
Dengan langkah malas ia menuju kamar mandi dan membasuh mukanya. Kegiatan menyikat gigi yang biasanya riuh akhir-akhir ini terasa sepi. Bahkan sikat gigi berwarna hitam itu masih di posisi yang sama—mungkin kemarin terakhir kali disentuh. Sesekali Kyungsoo tersenyum kecut ketika melihat dirinya sendirian karena biasanya ia berdua—bersama orang yang masih dengan bodohnya ia tunggu untuk pulang. Ia tidak pernah mengerti mengapa bisa sebodoh ini. Bahkan sesekali ia meruntuki segala macam harapan dan keinginan yang selama ini ia gantungkan tinggi-tinggi.
Ruang makan sudah ramai dengan teriakan Jongdae dan Baekhyun yang mendebatkan mangkuk mana yang supnya berisi lebih banyak. Setidaknya dua orang yang tidak pernah akur itu membuat suasana hati Kyungsoo lebih baik; untuk sementara. Baru saja beberapa langkah, Minseok sudah menepuk-nepukkan kursi kosong yang ada di sebelahnya. Senyum lelaki itu memang menenangkan, apalagi sifatnya yang dewasa dan mau mendengarkan membuat Kyungsoo ingin membagi keluh kesahnya.
"Pagi."
Satu kata darinya berhasil membuat suasana ruang makan menjadi kikuk. Jongdae yang sedari tadi memaksa Baekhyun untuk menukar mangkuknya pun langsung membenamkan sendoknya tanpa berkomentar lagi. Bahkan Chanyeol yang tadinya sibuk mencecar Sehun karena kalah saat bermain game console, sekarang diam dan tersenyum pada Kyungsoo.
"Pagi juga, Kyungie." Ucap Chanyeol.
"Selamat makan."
Kyungsoo mulai menyendokkan makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Hanya delapan. Hanya delapan kursi yang terisi. Kursi yang disampingnya sekarang diduduki Minseok. Padahal biasanya orang lain. Ia makan dalam diam; hanya Kyungsoo saja. Karena yang lain berusaha membuat suasana menjadi ramai dan tidak kikuk. Tapi hasilnya bagi Kyungsoo sama; tetap aneh dan berbeda.
Dalam waktu singkat makanan itu habis. Biasanya ia akan betah berlama-lama di meja makan tapi kali ini tidak. Ia ingin cepat-cepat kembali ke kamar dan tidur. Baginya tidur menjadi pemecahan masalah yang memukul otak dan hatinya saat ini. Karena disaat tidur ia akan melupakan semuanya; kecuali jika dia memimpikannya.
"Aku sudah selesai." Kyungsoo berdiri dan mengangkat peralatan makannya.
"Hari ini aku yang harus mencucinya! Taruh saja disana!" seru Sehun.
"Hm."
Kyungsoo pun mengangguk dan melangkahkan kakinya kembali ke tempat dimana ia bisa tenang. Bukan tenang, paling tidak membuatnya otaknya serasa lebih damai. Kelambu yang masih menutupi jendela baru saja dibuka dan membuat Kyungsoo berjengit. Ia tidak mengira matahari bisa bersinar dengan bahagianya disaat ia sedang terjebak pada musim dingin.
Sekarang ia bersila dan menghadap jendela tersebut. Sesekali ia menguap dan meregangkan otot-ototnya yang jarang digerakkan—karena dia lebih suka tidur jika ada waktu luang. Matanya mengerjap seiring dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Ingin ia merebahkan badannya lagi, tapi tampaknya pemandangan pagi itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Ponsel yang ada di dekat lampu tidur pun ia raih. Pikirannya kembali kacau ketika melihat gambar belakang dari benda kesayangannya itu; foto selca antara Kyungsoo dan dia. Mungkin dua tahun yang lalu foto itu mereka ambil, disaat mereka masih bisa tertawa lepas tanpa beban—disaat ulang tahun mereka; 13 Januari. Hari dimana mereka sepakat untuk merayakan ulang tahun bersama. Tidak seperti tahun ini, dimana Kyungsoo sibuk dan tidak bisa merayakan berdua. Mungkin sekarang dampak dari kesibukannya akhir-akhir ini. Mungkin begitu.
Tidak ada panggilan ataupun pesan disana. Harapan Kyungsoo yang semula ada sekarang luntur. Ia hanya mengharapkan adanya pesan 'Selamat pagi, Hyung!'—seperti biasanya. Sekarang Kyungsoo benar-benar meruntuki kebodohannya. Ia tidak mengerti mengapa masih saja berharap disaat asanya sangat-amat ditentang oleh orang lain; oleh orang-orang yang 'membesarkannya'.
Ia merindukannya, sangat. Tapi sekarang merindukannya saja menjadi sebuah kesalahan bagi Kyungsoo. Bagaimana tidak, disaat ia seharusnya bisa menikmati waktunya bersama, semua orang di sekelilingnya memasang mata dengan pandangan mencibir. Jika Kyungsoo mengingat itu, serasa hatinya teriris dan tidak tega jika membayangkan wajahnya.
Langkah kakinya bergerak menuju kamar mandi dimana ia akan membiarkan air dingin mendamaikan otaknya. Disaat tetesan-tetesan air itu mulai membasahi badannya, ia merasa ada beberapa tetes air hangat yang mengalir di wajahnya. Ia tidak bisa menahan itu. Padahal selama 23 tahun ini dia tidak mengenal seorang Do Kyungsoo yang rapuh begini.
Tetesan air hangat itu mengubahnya menjadi sebuah isakan. Isakan yang terdengar di sebuah kesunyian. Ini terlalu berat baginya. Mungkin jika ia bisa memutar ulang waktu, ia tidak akan memilih jalan ini dan memilih jalan yang lain; jalan dimana ia memilih untuk tidak mengenal dia dengan dekat. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur. Ia terlalu jauh untuk kembali.
"Soo? Apa kau di dalam?"
Kyungsoo mematikan aliran airnya, "AH—iya. Siapa?"
"Minseok. Jika kau selesai nanti, bisa kita bicara sebentar?"
"Iya, Hyung. Aku akan segera keluar!"
Dengan cepat Kyungsoo menyelesaikan segala macam urusannya. Ia sendiri tidak tahu mengapa Minseok mengajaknya berbicara seperti ini. Mungkin Minseok sendiri sudah risih dengan segala macam perubahan yang dialami oleh Kyungsoo; risih. Padahal Kyungsoo pikir member nya tidak ada yang melihat perubahan sikapnya; atau mungkin tidak peduli.
Ketika keluar dari kamar mandi, Kyungsoo mendapati Minseok duduk di ranjangnya dengan ponsel di tangan. Dengan handuk yang masih terletak di kepala, Kyungsoo menghampiri member tertuanya itu.
"Ada apa, Hyung?" tanyanya.
"Kai... maksudku, Jongin. Ah—maaf jika aku to the point begini." Ia mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambut Kyungsoo, "Kau tahu, semenjak rencana itu dikemukakan oleh pihak agensi, kau menjadi berubah. Menjadi lebih diam dan jarang berkomunikasi dengan kami. Ada apa? Kami tidak melakukan hal yang salah padamu, 'kan? Apa gara-gara itu—"
"Hyung—"
Minseok menghentikan kegiatannya, "Kyungsoo-ya, kau bisa bercerita padaku. Aku tidak tahan dengan sikapmu yang seperti ini. Melihatmu seperti mayat hidup membuatku khawatir. Ceritakan padaku, semuanya." Ucapnya dengan handuk yang sekarang ada di pangkuannya.
Ragu. Adalah kata pertama yang ada di otak Kyungsoo saat ini. Bukan karena ia tidak mempercayai Minseok—ia sangat percaya terus terang—tapi ia masih belum tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin jika ada Jongin semuanya akan menjadi lebih jelas.
"Hyung, apa aku dan Jongin... maksudku, apa mungkin aku bisa baik-baik saja? Aku—aku ragu apa harus meneruskan ini semua atau tidak..." ucapnya lirih.
Minseok tertawa kecil, "Apa kau tidak bisa melihat Chanyeol dan Baekhyun? Mereka baik-baik saja, 'kan? Kau pasti bisa. Aku bahkan yakin jika kau bisa melalui ini semua; lagipula jika aku pikir, kau lebih dewasa daripada Chanyeol dan Baekhyun. Jangan ragu-ragu, Kyungie-ya."
Kyungsoo mengangguk pelan. Kali ini ia tidak tahu harus berkata apa. Yang ada sekarang dia berada di pelukan Minseok dengan rambut yang diusap perlahan. Tidak tahu kapan terakhir kali dia merasa lega begini. Walaupun ia tidak bisa menceritakan semuanya, tapi pelukan dan senyum dari Minseok cukup membuat dirinya sedikit tenang. Meskipun begitu, keraguan itu tidak pernah luntur. Dia tidak mau membuat Jongin menderita. Ia hanya ingin Jongin bahagia; tapi dia tidak tahu caranya. Ini sulit; bahkan lebih dari sulit.
.
.
.
Matanya kembali terpejam siang itu. Disaat member lainnya sedang gaduh di ruang tengah, ia memilih untuk mengistirahatkan pikirannya. Menangis di pelukan Minseok membuat energinya sedikit terkuras. Ia tidak ingat kapan terakhir terisak hingga matanya sembab begitu. Ia tidak peduli; toh member lainnya tidak ada yang tahu. Jadi ia tidak perlu menjaga image nya sebagai seorang poker face itu.
Pintu kamar itu terbuka. Masuklah seorang laki-laki yang memakai jaket berwarna hijau kotak-kotaknya. Mata lelaki itu memerah dan menimbulkan kantung disana. Ia terlihat lelah; bahkan sangat lelah. Langkah kakinya terseret seiring dengan tatapan yang terpaku pada seseorang yang tertidur di ranjang.
Pandangan itu berubah sendu ketika ia melihat hidung memerah dan mata sembab disana. Sekarang tatapannya berubah kabur seiring dengan air yang mulai menyeruak dari dalamnya. Ingin ia memeluk sosok itu seperti biasanya, tapi ia takut jika semuanya tidak menjadi wajar lagi.
"Hyung..." bisiknya lemah.
Kyungsoo, yang mendengar ucapan tersebut kemudian memutar badan. Matanya mengerjap untuk mencari fokus yang masih hilang ditelan mimpi. Ketika semuanya sudah jelas, ia tersenyum lembut. Orang yang paling ia tunggu untuk pulang akhirnya muncul di hadapannya.
"Hei, baru saja pulang?" ucapnya seraya mendudukkan dirinya di ranjang.
"Hyung—" Lelaki itu memeluk Kyungsoo dan membenamkannya erat-erat. Suaranya tercekat seiring dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kenapa? Hm?"
"Maafkan aku..."
Kyungsoo yang semula berusaha tegar akhirnya runtuh. Usahanya untuk menahan air mata pun berakhir dengan sebuah kegagalan. Ia tidak terisak; kepalanya sudah terlalu pening karena menangis sebelumnya.
"Jongin-ah, kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahanmu."
"Tapi—" Jongin melepaskan pelukannya dan menatap Kyungsoo lekat-lekat, "Aku tidak bisa mengelak kali ini. Aku harus mengikuti kata mereka hingga semuanya akan muncul beberapa bulan lagi. Aku tidak bisa membuatmu bahagia, Hyung. Bahkan sekarang kita harus mengurangi interaksi kita di depan fans. Padahal aku tahu kau seseorang yang manja jika bersamaku." Ia tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Kyungsoo, "Kita tidak pernah mengenal tempat, mungkin itu yang membuat mereka curiga dengan hubungan kita dan mengetahui semuanya."
"Itu salahku—"
"BUKAN! Aku yang memulai semuanya." Jongin memegang kedua tangan Kyungsoo, "Hyung, aku baru saja melakukan apa yang mereka mau agar hubungan kita tidak terkuak di media. Maukah kau menungguku? Maksudku... aku yakin waktu itu akan tiba nantinya."
Kyungsoo menundukkan kepalanya, "Maafkan aku—"
"Soo." Jongin mengusap pipi Kyungsoo dengan lembut, "Kau tahu, betapa lucunya dirimu. Seseorang yang poker face tapi selalu berubah manja jika bersamaku. Seseorang yang dewasa dan mau menerimaku yang kekanak-kanakan begini—"
"Jongin-ah..."
"Aku akan memperjuangkan semuanya. Tenang saja!" Jongin tersenyum diantara air matanya yang masih mengalir, "Kau tahu, aku selalu membayangkan kau dan aku berakhir dengan ending yang indah nanti. Kita bisa hidup berdua di pinggiran kota dengan sederhana tanpa harus memperhatikan cemoohan orang-orang di sekitar kita—"
"Jongin-ah, dengarkan aku—"
"Kita bisa meninggalkan ini semua, Hyung! Aku dan kau! Ini akan segera berakhir—"
"Jongin-ah!"
Kyungsoo berteriak. Baginya semua ini menyesakkan. Ia melihat betapa bahagianya mata Jongin yang sedang berkutat dengan imaji delusionalnya itu. Ia menginginkan itu juga; hidup dengan kebahagiaan berdua. Tapi itu terlalu sulit baginya. Meninggalkan semua yang selama ini menjadi cita-citanya; dan bahkan dia sedang menikmati hasilnya sekarang. Tapi Jongin—Jongin adalah cita-cita terbesarnya. Cita-cita yang terhalang sebuah pendapat tabu; sebuah tembok besar yang akan sulit untuk ditembus. Kyungsoo melihat kesungguhan Jongin untuk membuatnya bahagia; walaupun dengan semua keterbatasannya. Sikap anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu selalu ditampilkan Jongin di setiap membahas masa depannya. Impian itu ingin diraihnya. Sangat ingin.
Jongin terdiam. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri. Isakan yang selama ini dia tahan terlihat semakin realistis seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah angan-angan yang semakin kabur diterpa angin. Tembok penghalang mereka semakin kokoh walaupun sudah diterjang dengan rudal yang paling ampuh. Dayanya semakin lemah seiring dengan peristiwa yang akan dihadapinya nanti. Jongin tidak pernah tahu jika mencintai seseorang akan seberat dan sesulit ini. Meskipun dia mencintai Kyungsoo, dengan sangat, tapi semuanya serasa menjadi kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan sesaat dan akan berakhir menyedihkan suatu saat nanti. Dia lelah, sangat lelah. Bahkan serasa ingin menyerah saja. Meskipun Kyungsoo selalu menawarkan pelukannya, tapi semua terasa lebih berat dari semestinya.
"Aku pikir ini tidak akan mungkin. Kita harus berpikir realistis, Jongin-ah. Kita sudah dewasa—"
"Apa maksudmu? Kau ingin mengakhiri semuanya? Sudah lima tahun belakangan aku bertahan dan memperjuangkanmu dan kau ingin ini semua selesai? Begitu?"
"Demi kehidupanmu nanti, Jongin-ah. Demi kebahagiaanmu juga—"
"Aku? Kebahagiaanku?" Jongin mengerjapkan matanya tidak percaya, "Apa kau selama ini tidak sadar jika kau menjadi kebahagiaanku? Aku tidak menyangka kau berkata begitu padaku. Aku sudah mengorbankan semuanya—dan kau? Kau tidak mau berjuang denganku?"
"Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin orang-orang menganggapmu buruk—selama ini kau anak baik-baik. Aku yang membuatmu begini. Aku yang bersalah—"
"Lalu? Kau tetap ingin semuanya berakhir begitu saja?"
Kyungsoo mengangguk kecil. Bukan ini yang diinginkannya. Keinginannya sama dengan Jongin; menjalani hidup berdua nanti. Tapi itu sulit dan dia tahu. Dia tidak ingin lebih sakit dari ini. Dia juga tidak tega melihat Jongin yang disiksa secara perlahan. 'Orang-orang' itu tidak akan menyiksanya, karena akhir-akhir ini Kyungsoo memberikan uang lebih pada mereka. Dan pasti Jongin lah yang menanggung semuanya. Kyungsoo tidak tahu dia harus bahagia atau sebaliknya. Dia tidak suka melihat Jongin menangis begini, tapi dia putus asa dengan keadaan yang ada. Semuanya terasa mengikat; menyesakkan pikirannya.
"Aku pikir, pengorbananku... Ah, aku merasa dikhianati," Jongin bergumam lirih dengan senyum tidak percaya, "Baiklah, mungkin aku juga akan mengakhiri semua perjuanganku."
.
.
.
Dua bulan setelahnya.
Apa yang dilakukan malam itu akhirnya terkuak di media. Sebuah hubungan yang tidak seharusnya. Gadis itu tidak bersalah dan hanya bekerja pada semestinya. Lagipula dia sedang pada posisi yang sulit. Kakak perempuannya meninggalkan dirinya sendirian diantara orang-orang yang dengan keji membesarkannya. Memberikan janji-janji buram yang selama ini dinikmati diatas penderitaan yang mendikte. Gadis itu sama, sama sulitnya. Harus menutupi sebuah hubungan tabu dan harus bertahan disaat semua orang memandangnya dengan tatapan dengki.
Kyungsoo dan Jongin benar-benar selesai; berpisah. Jongin menuruti apa yang diinginkan Kyungsoo. Menyelesaikan semuanya sebelum terlambat dan terjatuh ke dalam jurang yang lebih curam. Jongin berusaha bahagia. Dengan menghabiskan waktunya dengan teman-teman lama walaupun kakinya sedang berada pada kondisi buruk. Terkadang ia harus berpura-pura di depan orang agar mendapatkan simpati. Walaupun kepura-puraan itu adalah sebuah perintah dari mereka. Jongin tidak semurah itu. Tapi semuanya sudah terlanjur. Benar-benar terlanjur.
Beberapa malam setelah semuanya terbuka, mereka harus bertemu. Entah apa yang akan dilakukan Jongin nanti; yang jelas dia belum siap bertemu dengan Kyungsoo, mantan kekasihnya sendiri. Dia belum sanggup melihat wajah itu. Wajah yang selama ini dia kagumi karena keteduhan dan kedamaiannya. Ingin rasanya masalah ini dia luapkan padanya tapi semua sudah tidak sama lagi. Toh Kyungsoo sendiri yang menolaknya. Jongin merasa jika pengorbanannya tidak dinilai berharga dan hanya dianggap remeh. Remeh seremeh-remehnya hingga Kyungsoo meninggalkan dirinya yang sedang berusaha keras. Ia pikir Kyungsoo akan menemaninya disaat sulit begini.
Gosip-gosip receh berkembang dikalangan orang-orang luar sana. Berita-berita palsu tentang dia dan gadis itu semakin liar karena bumbu-bumbu yang ditambahkan. Itu tidak benar, sama sekali tidak benar. Jongin bukan laki-laki yang seceroboh itu. Dia selalu memikirkan apa yang menjadi langkah selanjutnya. Lagipula, kebahagiannya bukan lah seorang gadis, tapi seorang lelaki yang sekarang duduk tidak jauh darinya. Lelaki itu terlihat lelah karena jadwalnya yang padat. Bahkan sesekali dia bersin karena flu yang sedang dideritanya. Biasanya Jongin akan mengusapkan tisu di hidungnya dan membiarkan lelaki itu menghembuskan ingusnya disana. Tapi sekarang berbeda. Dengan keadaan demam lelaki itu masih saja harus bekerja tanpa ada yang memperhatikan keadaannya.
Suasana disana terasa kikuk. Semua anggota grupnya tentu sudah tahu dengan keadaan mereka berdua saat ini. Bahkan sedari tadi Sehun menepuk pundaknya perlahan. Dia berusaha menenangkan, walaupun itu hanya memberikan efek satu persen saja. Jongin mengedarkan pandangannya, tapi selalu berakhir pada lelaki yang duduk di ujung ruang. Lelaki itu berusaha menghangatkan badannya. Terlihat pucat dan rapuh. Di dalam hatinya Jongin berteriak ingin merengkuhnya, tapi otaknya sudah berkoar untuk membiarkannya.
"Hei," Jongin mendongakkan kepalanya, "Dia sedang sakit. Kenapa kau diam saja?" tanya Baekhyun.
"Untuk apa? Itu bukan urusanku," ucap Jongin sembari tersenyum kecil.
"Kau—"
Baekhyun terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia pikir hanya seorang Kim Jongin lah yang paling tanggap terhadap keadaan Kyungsoo. Tapi kali ini, disaat semua orang khawatir, Jongin dengan santainya duduk dan sibuk sendiri. Sesekali dia tertawa karena komik yang dibacanya lucu; padahal semua orang sedang sibuk membujuk Kyungsoo agar mau makan barang satu sendok saja.
"Dia tidak mau makan, Jongin-ah. Bujuklah. Hanya kau yang bisa membujuknya," pinta Baekhyun sekali lagi.
Jongin mendecakkan lidahnya, "Sudah kubilang itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Bukan waktunya harus dibujuk begitu. Apalagi soal makan. Apa dia seorang anak berusia lima tahun yang harus disuapi ketika sakit? Dia masih bisa berdiri—bahkan baik-baik saja. Untuk apa aku harus membujuknya?"
Dengan sengaja. Memang dengan sengaja Jongin mengucapkan semuanya dengan keras—hingga semua orang disana mendengar ucapan sarkas itu. Beberapa diantara mereka membelalakkan mata tidak percaya. Dulu, istilahnya, jika Kyungsoo terkena air hujan setetes saja, Jongin akan dengan tergesanya membawakan payung untuk berlindung. Tapi sekarang? 180 derajat berbeda. Jongin menjadi orang yang paling acuh. Bahkan sama sekali tidak peduli.
"Jangan berbicara begitu!" seru Minseok yang duduk di sebelah Kyungsoo.
"Oh—Hyung? Aku pikir aku tidak membicarakan dirimu. Kenapa kau berteriak kepadaku?"
"Jaga ucapanmu, Jongin-ah!" giliran Junmyeon menyela.
"Apalagi ini? Kenapa semua orang memihak padanya? Hanya karena dia sakit? Sakit flu? Belikan saja dia obat di apotek dan dia akan sembuh dengan sendirinya! Jangan tertipu dengan akting lemahnya itu. Dia baik-baik saja! Ayolah!"
BRUK!
Jongin tidak tahu siapa yang mendaratkan kepalan tangan padanya. Ah, Chanyeol rupanya. Wajah sahabatnya itu sudah berubah merah padam tidak seperti biasanya yang ceria dan ramah. Jongin tertawa kecil—lebih tepatnya tertawa sarkas. Dia memandang orang-orang disekitarnya dengan tatapan yang paling tersakiti. Dia tidak mengira jika semua orang membela seseorang yang sudah mengkhianati perjuangannya selama lebih dari empat tahun ini. Hanya karena sakit flu? Ayolah—sakit flu tidak berbanding dengan sakit hatinya.
"Cih," Jongin meludahkan darah yang merembes di ujung bibirnya, "Bela saja pengecut itu. Teruskan! Anggap saja aku bukan bagian dari kalian."
Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Kakinya yang masih sedikit nyeri dia paksa untuk berlari. Tak apa, yang jelas dia sudah mengikuti apa yang Kyungsoo mau. Lagipula untuk mengembalikan kepercayaannya lagi sudah sangat sulit. Seharusnya, Kyungsoo ada disaat dia sedang diterpa celaan orang. Ah, sekarang dia berasa di sebuah ujung jurang. Semua orang yang semula bersorak di setiap langkahnya sekarang memberikan punggung dan berbalik arah. Benar, semua orang meninggalkannya disaat sulit begini. Semua fans yang semula merasa senang dengan kehadirannya sekarang cuek dan menganggapnya lelaki yang tidak benar—karena adanya gosip-gosip itu. Ia merasa ditinggalkan. Benar-benar sendirian.
Kyungsoo merasa pandangannya kabur seiring dengan langkah Jongin yang semakin menjauh. Matanya berair. Dia tidak tahu keputusannya akan semakin menyiksa. Ia hanya ingin Jongin bahagia dan tidak menjadikan dirinya beban. Dia berharap keadaannya membaik dan mereka bisa berteman seperti sedia kala. Tapi semuanya bohong. Semenjak hari itu Jongin menjadi acuh, bahkan makin lama makin acuh seakan Kyungsoo musuhnya saja. Kyungsoo tahu ini adalah efek dari keegoisannya; dari keputusannya yang terlampau sepihak.
"Soo? Kau baik-baik saja? Jangan dengarkan ucapannya—"
"Ini salahku, Hyung. Minseok Hyung, ini salahku."
Minseok hanya terdiam dan Kyungsoo tahu jika separuh dari hati Minseok berkata bahwa itu adalah salahnya. Bahkan Kyungsoo sekarang tidak tahu harus berbuat apa karena semuanya memburuk. Kesehatannya memburuk, dan keadaan lingkungannya yang tidak stabil. Dia semakin menyalahkan dirinya sendiri ketika melihat Chanyeol menghujamkan tangannya pada Jongin. Ini salahnya, benar-benar salahnya.
"Aku ingin berbicara dengannya," ucap Kyungsoo yang beranjak dari tempat duduknya.
"Untuk apa? Agar mendengar ejekannya lagi?" tanya Baekhyun emosi.
"Tidak. Aku pikir... mendengar suaranya akan membuat keadaanku lebih baik."
Senyum Kyungsoo yang lemah membuat semuanya terdiam dan tidak bereaksi. Tidak ada pula yang mencegah Kyungsoo untuk mencari Jongin meskipun suhu badannya sedang tinggi. Lagipula, jika sudah begini, kepala Kyungsoo akan sekeras batu. Lebih baik menuruti apa yang akan dilakukannya daripada mencegah sesuatu yang percuma.
Dengan langkahnya yang lemah Kyungsoo mencari dimana Jongin berada. Hingga dia menemukan lelaki itu sedang duduk di atap gedung dengan mata yang terpejam. Atap gedung menjadi tempat favorit mereka—scratch, dulu. Ragu-ragu, tapi ia memberanikan diri untuk duduk di sebelah Jongin, walaupun Jongin tidak tahu.
"Jongin-ah," sapanya dengan suara serak.
Lelaki itu tidak bergeming. Dia masih bertahan pada kediamannya.
"Jongin-ah," Kyungsoo berusaha lagi. Tapi suaranya berubah menjadi lebih serak daripada sebelumnya, "Jongin-ah," tidak ada respon. Lelaki itu masih memejamkan matanya dengan tangan yang terlipat di dada. Sama sekali tidak bergerak.
"Jongin-ah..."
Tangis itu meledak seketika. Kyungsoo hanya bisa menangkup wajahnya yang sudah basah. Dia tidak bisa melanjutkan usahanya walaupun hanya untuk membuat pria itu tersadar jika dia ada disana. Entah, entah pria itu sedang berpura-pura atau sebenarnya tahu akan kehadirannya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Jongin yang memandang Kyungsoo acuh.
"Maafkan aku—"
"Maaf? Untuk apa? Aku pikir kau sama sekali tidak membuat kesalahan padaku. Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Dengan seorang gadis yang mau tinggal bersamaku dan tidur denganku," ia tertawa hambar, "Itu 'kan yang kau mau? Kau mau aku menerima semua kritikan yang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Aku benar, 'kan? Aku bahagia, Kyungsoo-ssi! Aku bahagia! Apalagi melihatmu lemah begini!"
Kata-kata benar terasa menghujam Kyungsoo tanpa ampun. Kyungsoo-ssi? Kyungsoo bahkan tidak ingat kapan Jongin memanggilnya dengan panggilan itu. Baginya hanya ada, Soo, Hyung, atau bahkan Jagi. Kyungsoo mendengar helaan nafas Jongin yang sangat kuat. Dia memberanikan diri menatap mata Jongin yang memerah karena emosi yang berkobar. Tidak ada tangis, hanya ada emosi dan rasa tersakiti.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Jongin-ah. Hanya itu—"
"Kau pikir aku tidak bahagia selama ini? Aku memperjuangkan itu karena aku bahagia! Bukan karena aku tersiksa atau—sudahlah! Aku tidak ingin berbicara denganmu. Kau dan aku sudah selesai. Buat apa membuka sebuah memori jika itu hanya menyakiti, hm?" ia berdiri dari tempat duduknya, "Jangan mengkutiku. Aku sedang ingin sendiri."
.
.
.
Keadaan Kyungsoo semakin memburuk. Dia pikir dia hanya flu—tapi ternyata itu menyerang sistem imunnya yang sedang melemah. Badannya lemas dan tidak pernah beranjak dari ranjang. Beberapa jadwal terpaksa dikosongkan karena kepalanya terasa pening jika dia berdiri. Dokter bilang dia terlalu memforsir badannya. Dan dokter bilang dia sedang stres.
Ia berusaha memejamkan matanya. Ranjang di kamarnya sudah tidak pernah terisi. Penghuninya lebih memilih untuk pergi dan mengistirahatkan dirinya di tempat lain. Terkadang Kyungsoo berpikir jika Jongin dan gadis itu benar-benar berkencan. Membayangkan itu membuat Kyungsoo menangis lagi. Melihat berita Jongin dan gadis itu saja sudah membuatnya tersiksa, apalagi jika semuanya itu benar. Mungkin dia memilih untuk amnesia saja agar lupa dengan semua memorinya.
Baekhyun selalu setia menemaninya jika malam hari. Baekhyun bilang setiap malam dia selalu bergumam sesuatu yang tidak jelas, bahkan menggigil hingga berkeringat dingin. Kyungsoo selalu begitu jika sedang sakit. Itu mengingatkannya pada Jongin—yang dulu selalu terjaga jika Kyungsoo dalam keadaan lemah. Sekarang? Pulang saja pun tidak. Lelaki itu hanya akan datang jika mereka harus berlatih atau berkumpul. Lagipula Kyungsoo sedang sakit, tentu mereka tidak akan bertemu. Berkali-kali Baekhyun berusaha membujuk Jongin untuk menjenguknya, tapi Baekhyun bilang untuk sementara waktu itu belum berhasil. Untuk sementara waktu; atau mungkin selamanya begitu.
Kyungsoo membuat dirinya seperti ulat. Selimutnya dia biarkan membungkus badannya yang sedang demam tinggi. Semua anggota grup nya sedang pergi berlatih, dan pasti Jongin ada disana. Ingin rasanya dia bertemu dengan Jongin tapi semuanya terasa sia-sia. Lagi-lagi karena keegoisannya yang membuat situasi semakin kacau dan berantakan.
Hidungnya terasa gatal. Jika sudah begini pasti akan keluar darah dari sana. Kyungsoo selalu begitu. Demam tinggi selalu membuatnya mimisan dan kepalanya pening seakan sedang berputar hebat. Benar, selimut putihnya sekarang dihiasi dengan bercak merah yang keluar dari hidungnya. Dengan lemah dia berusaha meraih tisu yang ada di lemari kecil samping ranjangnya. Sudah beberapa helai tisu ia habiskan tapi darahnya tetap tidak berhenti.
Dengan terpaksa ia membuka selimut dan membiarkan badannya diterpa udara dingin. Langkahnya terseret seiring dengan kepalanya yang terasa berputar. Sempat dilihatnya jam dinding dan mengisyaratkan jika mungkin Baekhyun akan kembali sekitar 15 menit lagi. Lega, karena akan ada yang membantunya setelah ini.
Air dingin menyapa tangannya. Darah masih saja menetes dari hidungnya. Selalu begini. Sejak kecil ini tidak pernah sembuh—bahkan darah yang keluar makin dewasa justru makin banyak. Apalagi Kyungsoo sudah lama tidak sakit begini. Sekarang, disaat sedang sibuk-sibuknya, dia justru sakit dan terpaksa harus beristirahat di dorm.
"Kyung?"
Kyungsoo mendengar suara itu, "Baek?"
"Dimana?"
"Kamar mandi!" serunya seraya berusaha menyeka darah yang masih saja mengalir.
"Kyungsoo?" Baekhyun menyembulkan kepalanya dan Kyungsoo menoleh, "Astaga! Ada apa denganmu?"
Kyungsoo tertawa kecil, "Ini sudah biasa, tenang saja. Ini akan segera berhenti. Aku memang begini, Baek. Santai saja—"
"Tapi, lihat wajahmu pucat begini. Kita ke rumah sakit, ya? Aku akan menelepon manajer kita sebentar lagi—"
"Baek, aku baik-baik saja—"
"Tidak, Kyung! Jangan keras kepala! Kau sangat lemah sekarang!"
"Aku baik-baik saja. Jangan panik—"
Passed out.
Entah apa yang terjadi, Kyungsoo tidak tahu. Hingga akhirnya dia menemukan dirinya dengan tangan yang terhubung dengan sebuah cairan infus. Ranjang tempatnya berbaring juga tidak senyaman biasanya. Aroma kamar yang biasanya berbau aqua berubah menjadi berbau kimia. Dilihatnya disana ada Junmyeon yang tertidur di kursi, dan Baekhyun yang tertidur di ranjang satunya. Sekarang sudah jam sembilan malam, berarti sudah sekitar enam jam dia tertidur.
"Baek—" ucapnya dengan suara yang parau dan lemah.
Baekhyun membuka matanya, "Kau sudah bangun? Akan aku panggilkan dokter, hm?"
"Jangan—kau disini saja. Aku mohon."
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, "Semua member bergantian menjaga dirimu. Hanya Junmyeon Hyung yang bertahan disini. Dia benar-benar merasa bingung ketika kau pingsan tadi—"
"Jongin juga kemari?"
Kyungsoo bertanya dengan senyum yang mengembang. Harapannya serasa berubah menjadi benar. Ia berharap Baekhyun mengangguk ataupun berkata iya. Tapi ternyata salah. Baekhyun menggeleng dan mengusap rambutnya lembut.
"Ah... begitu ya..."
Dia kecewa. Sangat kecewa. Kecewa dengan Jongin. Apalagi kecewa dengan seseorang yang membuat Jongin begini; dengan dirinya sendiri.
.
.
.
"Hyung! Jangan diganti!" teriak Kyungsoo pada Yixing yang mulai mengganti channel televisinya.
Yixing hanya menempelkan telunjuknya di depan bibir menandakan Kyungsoo untuk diam. Lelaki itu memang selalu berani menantang satansoo untuk keluar—selain Chanyeol tentu saja. Minseok dan Junmyeon yang juga ada disana hanya bisa tertawa. Apalagi Kyungsoo yang biasanya melakukan pembalasan fisik tidak bisa berbuat apa-apa karena masih terkait infus dan badannya masih lemas.
"Aish, menyebalkan sekali," gumam Kyungsoo.
"AH—" Minseok menyodorkan apel yang sudah diirisnya pada Kyungsoo, "Yixing memang seperti itu. Seharusnya kau terbiasa padanya."
"Tapi aku sedang sakit, Hyung. Seharusnya dia memperlakukan aku lain daripada biasanya," gerutunya.
"YA! Jangan manja. Tidak ada Jongin disini—berarti tidak akan ada yang membelamu," goda Yixing.
Kyungsoo yang semula ingin menjawab hanya terdiam. Nama itu menjadi momok sendiri baginya. Sudah sekitar seminggu ini mereka tidak bertemu. Kyungsoo merindukannya; sampai-sampai dia lupa jika ada Jongin di dalam hidupnya. Kehadiran teman-temannya menggantikan Jongin, tapi tidak semuanya bisa. Terkadang dia merasakan ada sebuah bagian dari dirinya yang hilang; seperti potongan puzzle yang tidak memenuhi untuk bagian akhirnya. Ekspresinya yang semula sudah mulai ceria mendadak mendung. Memang, semua member sepakat untuk tidak membahas Jongin, tapi Yixing dengan polosnya melakukan itu. Lagipula Kyungsoo jadi ingat jika Jongin memang selalu membelanya jika member lain menggodanya; dan hanya dia yang mau membelanya.
"Aish, pria China—" Junmyeon memanggil Yixing, "Keluar sebentar," ucapnya kaku.
"EH? Ada apa?" tanyanya yang kebingungan karena Junmyeon menyeretnya keluar tiba-tiba.
Suasana antara Minseok dan Kyungsoo memnjadi kikuk. Bahkan sekarang Kyungsoo memakan potongan apel yang diiriskan Minseok tanpa berkomentar dan hanya mendaratkan matanya pada televisi yang sedang menampilkan iklan disana—padahal biasanya dia segera mengganti jika iklan dimulai.
"Kyung—"
"Apa aku benar-benar terlihat lemah ketika Jongin pergi begini?" tanya Kyungsoo.
"Tidak. Kau tidak seperti itu," ucap Minseok meyakinkan.
"Benarkah? Bahkan untuk membela diriku saja aku tidak bisa. Apalagi menghadapi orang-orang diluar sana," ia tertawa hambar, "Aku pikir dengan mendorongnya aku bisa bahagia—dia juga. Tapi ternyata semuanya salah. Aku tidak sekuat Chanyeol. Aku terlalu pengecut, pecundang."
Dia menangis lagi. Entah mengapa nama Jongin benar-benar mudah membuat matanya berair. Penyesalan dan rasa bersalah benar-benar menguar diantara pembuluh darahnya. Ini menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan dari ekspektasi sebelumnya. Dia kira dengan Jongin pergi darinya, dia bisa hidup normal. Ternyata tidak; dan dia yakin jika Jongin juga begitu.
Malam harinya tidak berbeda. Matanya sudah terpejam; tapi pikirannya tidak. Ia masih bisa mendengarkan percakapan Baekhyun, Chanyeol, dan Junmyeon yang sekarang ada di ruangannya. Kyungsoo berharap dia bisa segera pulang, tapi nampaknya tubuh kecil itu menolak semua keinginannya. Panas tingginya belum juga turun, bahkan dia masih mimisan sebelum—berpura-pura—tidur.
"Jongin tetap tidak mau kemari?" tanya Junmyeon.
"Tidak. Aku sudah membujuknya. Tapi anak itu," Chanyeol menghela nafasnya, "benar-benar keras kepala. Bahkan tadi ketika kami berlatih, dia bau alkohol—aku baru tahu dia bisa minum alkohol," ucapnya.
"Benarkah? Dengan siapa dia keluar semalam?"
"Entah. Aku tidak begitu tahu dengan siapa—bahkan siapa teman lamanya. Aku ingin mencari tahu tapi dia terlalu tertutup. Kau tahu sendiri jika dia hanya mau terbuka dengan Kyungsoo."
Junmyeon menderum lirih. Di dalam otak Kyungsoo masih berkecamuk rasa bersalah dan kecewa. Dia merasa dirinya lah yang membuat Jongin menjadi begini. Seorang laki-laki polos layaknya anak anjing yang selalu manja pada induknya—sekarang berubah karena sikap egois Kyungsoo. Tanpa Kyungsoo sadari air matanya merembes hingga membasahi bantal putihnya. Dia menangis dalam hening—berusaha agar ketiga orang lainnya tidak tahu dan tidak curiga. Dan mereka tidak pernah curiga.
Keesokan paginya Kyungsoo menemukan ruangannya kosong; tak berteman. Dia baru saja ingat jika kesemua member nya punya jadwal masing-masing. Bahkan Baekhyun sudah meninggalkan pesan jika dia akan kembali sore nanti. Ketika membaca itu Kyungsoo tertawa kecil, dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Baekhyun jika mengatakan hal itu secara langsung. Jika mengingat Baekhyun, tentu dia akan mengingat Chanyeol. Terkadang Kyungsoo berharap dirinya sekuat Chanyeol, tapi itu tidak mungkin. Chanyeol mempunyai peran yang sama dengan Jongin jika dalam hubungannya. Lebih banyak berkorban dan menggunakan logikanya untuk menyelesaikan sebuah masalah. Maka dari itu Chanyeol bisa bertahan ketika orang-orang itu memperlakukan hubungannya dengan Baekhyun seperti apa yang dilakukan pada Kyungsoo dan Jongin. Bahkan ketika Baekhyun menerima cacian dari orang-orang, Chanyeol selalu hadir dan menenangkannya. Itulah yang berbeda dari hubungan mereka dan miliknya.
Kabar Jongin layaknya sebuah berita yang tidak pernah tersiarkan; rahasia. Semua temannya tidak pernah membahas lelaki itu. Mereka bilang mereka ingin menjaga perasaan Kyungsoo agar semuanya menjadi lebih baik; walaupun sebenarnya Kyungsoo ingin tahu keadaan Jongin setengah mati. Ia merindukan sosok lelaki itu, meskipun mungkin Jongin sudah membencinya.
Dia mencoba meraih ponselnya yang tergeletak di samping vas bunga. Hanya untuk mengusir rasa sepi dengan menghubungi teman-teman lamanya. Ah, mungkin hidup menjadi seorang idol sudah membuatnya lupa jika masih ada teman lama yang mau menjadi sandarannya ketika lelah. Tanpa sadar dia membuka salah satu artikel yang menjadi headline pagi itu. Tentang Jongin dan gadis itu. Tentang bagaimana Jongin tinggal bersama dan sudah tidur bersama. Kyungsoo membaca komentar-komentar itu; sakit. Ingin rasanya dia berteriak pada semua orang jika Jongin bukan orang yang seperti itu; Jongin adalah lelaki manis yang memperlakukan semua orang dengan baik. Bukan seorang pencari perhatian seperti yang mereka katakan. Jongin juga bukan pria yang berani macam-macam dengan kehidupan pribadinya; bukan.
Kyungsoo meletakkan ponsel itu dengan lemas. Baginya membaca komentar-komentar itu sangat menyakitkan karena mereka tidak tahu siapa Jongin sesungguhnya. Bukan, Kai bukanlah Jongin. Kai hanyalah sebuah tokoh fiktif yang berkencan dengan gadis itu. Tapi Jongin? Jongin adalah miliknya. Jongin adalah pria lugu yang masih kekanak-kanakan. Bukan pria sensual seperti yang digambarkan dalam pribadi Kai. Bukan; Jongin bukanlah Kai. Kai adalah pria yang menjadi milik gadis itu; sedangkan Jongin adalah miliknya. Sepenuhnya miliknya.
Tanpa sadar Kyungsoo menangis lagi. Tidak bisa dibayangkan jika Jongin membaca semua caci yang tertulis di dunia maya. Tentang bagaimana orang mendakwa kelakuannya disaat semua itu hanyalah perkiraan mereka belaka. Rasa bersalahnya kembali kambuh. Jongin harus menghadapi semuanya sendirian disaat seharusnya mereka menghadapi masalah ini bersama.
Ini semua salahmu, Soo. Jongin membencimu. Jongin tidak mempercayaimu lagi. Kau sudah jahat padanya, Do Kyungsoo. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaan Jongin. Jongin sudah berkorban cukup banyak—bahkan mengorbankan dirinya sendiri. Dan kau? Kau bisa tertawa bersama teman-temanmu disaat Jongin menjadi benteng pertahanmu sendiri.
.
.
.
Kyungsoo sudah bisa menikmati ranjangnya lagi; meskipun semuanya tak lagi sama. Sebelahnya tetap saja kosong tak berpenghuni. Bahkan bau parfum Jongin yang biasanya tercium sekarang menghilang. Baju-baju yang ada di almari mereka masih rapi, menandakan jika Jongin tidak pernah pulang ke dorm lagi—atau mungkin hanya sesekali. Perasaannya serasa campur aduk; berantakan; amburadul.
Ia merebahkan dirinya. Dorm sedang sepi. Setelah mengantarkan Kyungsoo keluar dari rumah sakit manajernya langsung pergi entah kemana. Sekarang dia sendirian. Sendirian di dorm terasa aneh. Biasanya dorm sangat ramai dengan teriakan Baekhyun yang berdebat dengan Jongdae ataupun Chanyeol yang memaki-maki Sehun jika melakukan sesuatu dengan tidak benar. Dia merindukan masa-masa dimana mereka berkumpul bersama, bahkan sebelum ketiga sahabatnya pergi meninggalkan grup. Jika begini, kemana dia harus mengeluh? Minseok? Dia sibuk. Baekhyun? Suho? Semuanya sibuk dan meninggalkan dirinya sendirian tanpa teman.
KLIK.
Kyungsoo yang sudah memejamkan matanya pun menoleh. Tidak, untuk sekarang dia tidak ingin terjebak di situasi yang seperti ini. Jongin. Dengan mata sayunya datang. Tapi ketika menyadari jika Kyungsoo disana, dia hanya berjalan menuju almari dan membukanya; tanpa memperdulikan Kyungsoo.
"Hei," Kyungsoo membuka suaranya yang parau.
Tidak ada jawaban. Jongin hanya menyibukkan dirinya dengan memasukkan semua pakaian milikya ke dalam sebuah tas ransel besar miliknya.
"Kenapa kau mengambil semua pakaianmu? Kau akan pergi?" tanya Kyungsoo yang sekarang duduk di pinggir ranjang.
Jongin masih terdiam. Dia benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Hatinya sakit; dia tidak ingin dikhianati lagi. Selama beberapa bulan ini dia cukup menderita dengan celaan orang-orang yang ada di sekitar. Mendengar pamornya memburuk sudah menjadi makanannya sehari-hari. Disaat seperti ini dia membutuhkan Kyungsoo; tapi Kyungsoo malah pergi meninggalkannya dan memilih kehidupannya sendiri. Ia pikir dengan mengorbankan popularitasnya, Kyungsoo mau menemaninya dan menjadi tempatnya berkeluh kesah. Ternyata, Kyungsoo malah berhenti dan menyerah sebelum peperangan yang sebenarnya dimulai.
"Jongin-ah! Jawab aku!"
Teriakan itu membuat Jongin menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dan memandang Kyungsoo yang sudah berkaca-kaca. Dalam hatinya dia tidak tega, tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakui jika cintanya tidak pernah beralih. Baginya, sikap Kyungsoo tempo hari membuatnya sakit. Hanya karena masalah itu Kyungsoo meninggalkannya; tanpa memberikan kesempatan untuk Jongin berusaha lebih keras lagi.
"Iya, aku pergi. Aku tinggal di apartment temanku. Ada apa? Ada urusan denganmu?" tanya Jongin ketus.
Kyungsoo menggeleng dan berjalan mendekat ke arah Jongin, "Jangan pergi—" ucapnya lirih.
"Untuk apa? Aku tidak pernah di dorm lagi. Toh jika latihan tiba aku bisa datang kemari."
"Aku mohon—"
Jongin tertawa sarkas, "Aku harus pergi. Aku sudah berjanji pada temanku untuk tinggal bersamanya. Aku tidak ingin membiarkan dia sendirian."
"Teman? Siapa? Gadis itu?"
"Aku pikir itu bukan urusanmu," Jongin menutup tas ranselnya, "Aku pergi. Bilang pada mereka aku akan kembali jika ada waktu untuk berkumpul."
Kyungsoo melihat Jongin menenteng tas itu di tangan kanannya dan mulai membalikkan badan. Otaknya cukup bekerja dengan baik; hingga dia sudah melingkarkan tangannya di pinggang Jongin dan menangis di punggungnya.
"Aku mohon, jangan pergi..." pintanya lirih.
Jongin melepas tangan itu, "Aku harus pergi. Temanku sendirian—"
"Aku juga sendirian, Jongin!" Kyungsoo mengatur nafasnya, "Aku juga sendirian selama kau pergi! Aku selalu menunggumu—tapi aku terlihat seperti orang bodoh yang menunggu seseorang yang tidak pernah datang! Aku juga sendirian, Jongin... aku kesepian..."
Lelaki berkulit tanned itu membalikkan badannya, "Sendirian? Kesepian? Adakah yang menyuruhmu menjadi seperti itu? Adakah? Apa itu salahku? Aku pikir bukan," sindirnya.
"Kau tidak menyayangiku lagi?"
"Tidak."
Kyungsoo membulatkan matanya, "Bahkan... kau tidak kasihan padaku?"
"Tidak."
Kyungsoo menangkup kedua pipi Jongin dengan gugupnya, "Kenapa kau berubah secepat ini?"
Jongin menatapnya datar, "Karena kau yang secara tidak langsung memintaku untuk begini."
Kyungsoo merasa apa yang dikatakan Jongin benar. Dirinya sendirilah yang menyuruh Jongin untuk berubah dan mengacuhkannya. Lagipula, ketika masih bersama, Kyungsoo lebih banyak sibuk tapi Jongin selalu memperhatikannya barang hal kecil. Tapi ketika masalah datang, Kyungsoo malah menyuruhnya pergi dan menikmati semuanya sendiri. Harusnya Kyungsoo ada seperti Jongin yang hadir ketika dia lelah. Bukan mengusir ketika Jongin diacuhkan oleh orang-orang yang dulu mencintainya. Seharusnya tidak begitu.
"Maafkan aku..."
Untuk yang kesekian kalinya Kyungsoo terisak. Harga dirinya sudah terlampau jatuh di depan Jongin. Ia merasa jika dirinya lebih lemah daripada seorang perempuan. Tapi, kehilangan Jongin yang setiap hari ada untuknya memang sangat menyesakkan. Jongin yang biasanya selalu manja, yang selalu mengganggunya, yang selalu membuatnya marah, yang selalu menyebalkan, adalah Jongin yang mampu membuatnya tersenyum lepas, yang mampu membuatnya lupa jika lelah menyerang, dan yang mampu membuatnya terasa berharga.
"Maaf? Kau—"
"Aku menyesal, Jongin. Kau yang seperti ini membuatku merasa sedih. Bukan hanya kehilangan dirimu, tapi aku merasa sedih ketika melihat dirimu menjadi orang lain. Jongin yang selama ini aku kenal adalah Jongin yang hangat, bukan Kai. Kau Jongin, bukan Kai—"
"Setelah apa yang sudah aku lakukan kau baru menyesal sekarang?" suara Jongin berubah menjadi parau, "Aku harus menanggung semuanya agar kariermu tetap berjalan baik. Aku bangga melihat dirimu menjadi seseorang dikenal diluar sana—bahkan aku harus berpura-pura berkencan dengan gadis itu hanya untuk dirimu. Bahkan aku harus menelan celaan semua orang hanya untuk dirimu! Aku sudah mengorbankan semuanya!"
"Aku tahu, Jongin. Aku salah. Aku sudah menyadari semuanya. Maafkan aku..."
Selama lebih dari lima menit Kyungsoo terisak sendiri. Kediam-an Jongin justru membuat harapannya semakin pupus. Kepalanya sekarang tergantung dan dia hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangan karena tidak sanggup dengan apa yang terjadi nantinya. Dia siap, dia tahu, dan dia mengerti jika nanti Jongin akan meninggalkannya demi orang lain ataupun kesibukannya. Dia yang bersalah. Dia tidak akan melarang Jongin lagi untuk berkumpul dengan teman-teman lamanya karena mereka lah yang bisa Jongin percaya. Sekarang kepercayaan Jongin pada seorang Do Kyungsoo mungkin sudah menguap. Bagi Kyungsoo begitu.
Dua buah lengan merengkuh badan yang terkoyak itu. Lega. Kyungsoo merasa semua beban yang dipundaknya terlepas begitu saja. Sebuah telapak tangan yang mengusap rambut hitamnya membuat tangisnya semakin menjadi. Bukan karena tangis kesedihan, tapi karena sebuah kelegaan yang selama ini tidak terpikirkan olehnya.
"Maafkan aku..."
Jongin menderum lirih. Dia masih mengusap rambut Kyungsoo dengan lembut. Matanya yang juga berkaca-kaca membuatnya bekerja keras untuk tidak jatuh. Hatinya masih sakit; sangat sakit. Tapi melihat Kyungsoo yang lemah begini membuat rasa sakitnya jauh menjadi berkali-kali lipat. Semua orang menganggap Kyungsoo adalah orang yang kuat. Tapi mereka tidak tahu jika Kyungsoo bisa meringkuk lemah jika sudah berada di dekapannya. Semua orang diluar sana juga tidak tahu betapa besarnya dampak yang diberikan Kyungsoo pada hidupnya. Kyungsoo, baginya adalah orang yang mau menemaninya ketika semuanya baru dimulai. Dia tahu jika Kyungsoo melakukan kesalahan kali ini, tapi dia juga tahu alasan Kyungsoo berbuat begini adalah untuk kebahagian Jongin sendiri. Meskipun Kyungsoo melakukannya dengan cara yang keliru.
Tentu Jongin membatalkan rencananya untuk pergi. Dia lebih memilih menemani Kyungsoo yang sedari tadi belum tenang dari isakannya. Lagipula Kyungsoo meremas pakaiannya kuat-kuat seakan melarang Jongin untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Jongin masih belum banyak bereaksi, dia masih diam dan membuat Kyungsoo sedikit bingung apakah Jongin sudah benar-benar memaafkannya atau tidak.
"Jongin..." bisik Kyungsoo pada lelaki yang merebahkan diri di sampingnya.
"Apa?" jawab Jongin singkat.
"Tidak. Aku mohon jangan meninggalkan aku lagi—aku tahu aku yang bersalah. Aku bodoh sudah membuatmu tersiksa sendiri," dia menyusupkan dirinya pada dada Jongin, "Aku berjanji. Aku akan berjanji menemanimu melewati semua ini."
.
.
.
Lampu gemerlap panggung membuat matanya silau. Matanya yang tidak normal seperti orang lain membuatnya berjengit. Dia memerlukan untuk fokus, tapi bayang-bayang lampu panggung selalu membuat Kyungsoo mengernyit. Itu membutuhkan waktu. Lampu sorot yang mengarah padanya semakin membuatnya kesulitan untuk melihat obyek yang ada di depannya. Terhuyung. Ia tidak tahu jika ada tangga yang berada di bawahnya. Matanya kabur—sulit untuk menemukan fokusnya. Ia tahu jika ia akan jatuh. Dan ia sudah siap untuk sakit. Sebuah tangan menangkap lengannya. Tangan itu mencegahnya untuk terjatuh. Kyungsoo menolehkan kepalanya dan menemukan sebuah senyum manis terpapar dari wajah itu. Wajah dari orang yang paling berharga untuknya.
Sekarang dia menggenggam tangan itu erat. Senyumnya merekah layaknya sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Matanya berbinar mengisyaratkan rasa syukur yang sedang dirasakannya saat ini. Di depan semua fans ia tertawa dengan bebas. Sekarang dia tidak peduli. Jikalau pun mereka menganggap orang yang di sampingnya ini adalah milik gadis itu, Kyungsoo tidak peduli. Yang ia tahu Jongin adalah miliknya; seutuhnya. Sekarang, ia berjanji untuk menemani setiap langkah riskan yang ditempuh kekasihnya. Pengorbanan itu akan terbalas suatu saat nanti. Ia yakin, di masa yang akan datang, mereka berdua akan hidup bahagia.
Baginya, Jongin adalah mata; yang akan membantu ketika kehilangan fokusnya. Baginya, Jongin adalah tangan; yang siap menangkapnya ketika terjatuh. Baginya, Jongin adalah kaki; yang mampu menopang tubuhnya ketika terasa lelah. Baginya, Jongin adalah pundak; yang bisa menjadi sandaran ketika masalah sedang mendera. Baginya, bagi Kyungsoo, Jongin adalah segalanya.
.
.
.
END.
(whatthefuck is thattttt?)
