LEFT BEHIND


"Kemana Jongdae?" tanya Minseok.

"Mencari paman dan bibi. Kakak istirahat saja dulu, biar nanti aku yang memasak." jawab Jinwoo.

"Jangan bercanda, Jinwoo. Jongdae dimana?" bentak Minseok.

Jinwoo tampak ketakutan. Gadis itu menahan tangisnya, dengan terbata-bata ia menjawab, "J-jongdae.. pe-per-g-gi men-cari pa-man dan bibi de-dengan memak-kai perahu milik paman."

Minseok yang sadar dengan perlakuannya langsung beranjak dari tempat duduknya dan berusaha memeluk adiknya. Jinwo menyingkir, menolak pelukannya. Minseok merutuki emosinya yang belakangan ini sulit sekali dikendalikan. Ia sadar, harusnya ia sama sekali tidak boleh membentak Jinwoo.

Minseok pergi dari hadapan Jinwoo setelah menghabiskan teh yang dibuatkan Yixing. Gadis itu bergegas ke kamar dan memakai baju hangat. Ia berjalan tidak tentu arah, hingga saat ia sadar, kakinya membawa gadis itu ke rumah bersejarah untuk keluarga kecil mereka. Ya, langkah Minseok berhenti di sebuah rumah kecil tempat ia dan kedua adiknya dilahirkan. Rumah itu tampak tidak terurus dengan garis polisi yang membentang sebagai pengingat untuk para muggle bahwa di tempat ini pernah terjadi pembunuhan berantai, begitu alasan yang dibuat.

Minseok memasuki rumah itu, pintunya yang reyot langsung mengeluarkan suara saat dibuka. Minseok menyentuh benda-benda didalam rumah itu yang saat ini sudah tertutup dengan debu tebal. Gadis itu menitikkan airmata, 'tidak ada yang berubah' batinnya. Ia menyentuh sebuah bingkai foto, dan membersihkannya dengan tangan. Gadis itu kembali menangis saat melihat foto keluarganya. Lihatlah bagaimana kebahagiaan tampak terpancar di wajah mereka. 'Ibu.. Ayah... aku merindukanmu.'

Minseok keluar dari rumah itu. Ia nyaris berteriak, jika tidak menyadari siapa yang ada di hadapannya.

"Aku tidak akan memaafkan keluarga Oh!" ujar Jongdae dengan penuh kebencian.

"Jongdae? Dimana paman dan bibi?" tanya Minseok, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Dan kau Jung Minseok! Aku tidak peduli kau itu kakakku atau bukan. Tapi, dimana harga dirimu?! Mengapa kau rela ditiduri oleh pria bajingan macam Oh Sehun! HAH! Dan kau mengandung anaknya kan?! Jangan berbohong padaku!"

Minseok terdiam. Ia hanya bisa menangis saat mendengar makian Jongdae. Ia tidak bisa mengelak lagi, cepat atau lambat Jongdae pasti tau akan keadaannya.

"Apa Hong Taehyun tau? Apa sekarang kau lebih percaya dia daripada aku? Adikmu sendiri! Kenapa kau sebodoh itu Jung Minseok! Kemana perginya kakakku Jung Minseok yang jenius?! Kenapa ia idiot sekali! Keperawananmu itu harus dijaga sampai nanti! Hanya suamimu yang berhak mendapatkannya! Bukan pria yang bahkan tidak memiliki status apa-apa denganmu! Ke-"

"CUKUP! CUKUP!" Minseok menangis keras. "Tidak ada yang tau! Aku juga tidak tau kenapa gadis itu bisa tau! Kumohon berhenti Jongdae." Ia semakin menangis histeris.

Jongdae meremat keras kertas bertuliskan 'Oh' yang ditulis dengan entah darah milik bibi atau pamannya. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang.


Sehun berbaring di ranjang miliknya. Ia menoleh saat mendengar suara pintu dibuka, dan mendapati Luhan sedang berjalan mendekatinya. Gadis itu menaiki ranjangnya, sebelah tangan gadis itu memeluk tubuhnya.

"Hei, kau tau. Ternyata ayah dan ibu kita sedang menahan seseorang disana."

"Siapa?"

"Sepasang suami istri Jung atau Jang atau entahlah-" Sehun tiba-tiba langsung terduduk. "-k-kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti itu? Kau mengagetkanku, sayang." ujar Luhan yang ikut-ikutan terduduk karena ulah Sehun.

"Tidak apa-apa. Sekarang dimana ibu dan ayah?"

"Mung- Aah! Aku lupa, ayah dan ibu menyuruhku kesini untuk mengajakmu ke bawah, membicarakan pesta pertunangan kita. Merlin, kenapa aku bisa lupa."

"Sudahlah, ayo kita ke bawah. Mereka pasti sudah menunggu."

Luhan menggandeng tangan Sehun menuju tempat dimana orang tua mereka berada. Tidak seperti pasangan lain yang cenderung membangkang dengan rencana perjodohan mereka, Luhan dan Sehun sangat kooperatif dalam hal ini. Lihatlah, bagaimana antusiasnya Luhan saat ibunya dan ibu Sehun membicarakan mengenai gaun pengantin dan tema pesta, padahal pernikahan mereka akan dilangsungkan 2 tahun lagi. Sehun? Ia memang tidak seantusias Luhan, tapi, ia juga tidak membangkang dan bertindak aneh. Ia akan menyetujui semua pilihan Luhan dan orang tua mereka dan ia akan menjawab apabila dimintai pendapat.


Baekhyun menolak bicara pada Yifan. Ia marah besar pada kakaknya itu. Bagaimana bisa kakaknya menjodohkan dirinya dengan Chanyeol, yang bahkan seluruh Hogwarts tau mereka berdua adalah musuh besar. Gadis itu melihat foto kedua orang tuanya.

"Ada yang ingin kau bicarakan dengan kami, sayang?" tanya ibunya.

"Ma, kak Yifan menjodohkanku dengan Park Chanyeol. Mama tau aku benar-benar membenci pria itu" adu Baekhyun pada ibunya.

"Berhenti menangis dan bertindak seperti gadis bodoh! Dimana harga dirimu sebagai gadis Wu? Keluarga Wu tidak pernah menolak takdir. Dan, percayalah pada kakakmu, Baek. Dia hanya menginginkan yang terbaik untukmu, berada di bawah perlindungan keluarga Park memang pilihan tepat. Ia bahkan rela merusak persahabatannya dengan Sehun demi melindungimu."

"Lihat pa, mama tidak pernah membelaku! Dari dulu memang mama hanya menyayangi kak Yifan! Mama tidak pernah peduli padaku!"

"Jangan bertindak seperti anak kecil di usiamu sekarang Wu Baekhyun. Kami berdua menyayangimu, dan papa sudah tau semuanya. Bahkan papa dan mama yang menyarankan hal ini pada Yifan. Keluarga Park adalah keluarga bangsawan yang kedudukannya tertinggi saat ini, kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Memang, Park Chanyeol agak berbeda dengan anggota keluarga Park lain, ta-"

"Kalian semua sama saja! Pergi! Aku tidak mau berbicara pada kalian lagi!" Baekhyun menangis histeris. Ia melempar bantal yang dipegangnya ke arah foto kedua orang tuanya. Baekhyun menangis histeris. Bukan, bukan ini yang diharapkannya, bukan ini yang ia mau. Dan kenapa, ia merasa hidup sangat jahat kepadanya.


Kyungsoo bergulingan di kasurnya yang besar dan nyaman dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Memang ia merasa jahat karena bahagia di atas penderitaan Baekhyun, sahabatnya. Tapi, ia tidak bisa membohongi perasaannya karena pembatalan perjodohannya itu. Ya, Chanyeol seharusnya memang dijodohkan dengan dirinya. Tapi, entah kerasukan setan apa, tiba-tiba ayahnya dan tuan Park, ayah Chanyeol membatalkan rencana itu dan memilih menjodohkan Chanyeol dengan Baekhyun. Dan kemarin, dengan malu-malu ia memberanikan diri untuk berbicara tentang hubungannya dengan Tao pada keluarganya. Ayah dan ibunya hanya tersenyum dan mengusak rambutnya sebagai tanggapan. Ibunya bahkan memeluk dirinya lama dan menggumamkan, "anakku sudah dewasa" berkali-kali.

Kyungsoo melihat Joonmyeon memasuki kamarnya. Kakaknya itu lalu merebahkan diri di sampingnya dan menarik napas panjang. "Enaknya sudah memiliki kekasih. Sedangkan aku masih harus berusaha untuk menarik perhatian kak Yifan dari gadis Hong itu."

"Di sekolah nanti kau harus berusaha menarik perhatiannya, kak. Kalau tidak, minta saja ayah untuk menjodohkanmu dengannya." usul Kyungsoo.

"Tidak mau. Pihak laki-laki yang harus mengajukan lamaran terlebih dahulu. Lagipula kan gadis Hong itu tidak akan menjadi ancaman setelah menikah dengan anak laki-laki keluarga Kang itu." Joonmyeon bersikeras dengan pendiriannya.

"Tapi kak, ini bukan masalah gadis Hong itu akan jadi ancaman atau tidak. Masalahnya disini kak Yifan. Siapa yang tidak mau bersanding dengan seorang Wu Yifan? Di usianya yang belum genap 18 tahun, dia sudah bisa memimpin keluarga Wu dengan baik. Dia itu seorang role model bagi para pewaris seperti kita, kak. Pasti banyak yang mengincarnya untuk dijadikan kekasih atau bahkan calon suami. Pikirkan kata-kataku." ujar Kyungsoo.


"Well mate, it's not that bad. Kecuali kalau kau memiliki selera gadis yang lebih tua dan berpengalaman sih." ujar Seunghoon santai.

"Bukan itu masalahnya. Tapi..-"

"Tapi apa? Baekhyun itu musuhmu? Tapi, dia juga memiliki keraguan yang sama denganmu. Tidakkah kau mencoba berpikir dari sudut pandangnya? Dia seorang gadis, Merlin! Bayangkan betapa kecewanya dia saat tau kau yang akan menjadi suaminya. Lagipula kalian memang sudah terikat secara sosial kan? Maksudku sebagai sesama pureblood?" tanya Seunghoon.

"Entahlah..." Chanyeol menjawab dengan lemas. Ia sepertinya frustasi dengan masalah perjodohannya itu.

"Pikirkanlah nama baik keluargamu. Ingat, Baekhyun akan menjadi seseorang yang mengandung anakmu nanti. Bagaimana cara kau mengajari anakmu untuk memperlakukan ibunya dengan baik jika ayahnya mengibarkan bendera permusuhan pada ibunya sendiri? Kurasa dalam setiap perjodohan, pihak gadis yang akan menderita karena merekalah yang akan mengandung, melahirkan dan mendidik penerus keluarga. Dan, ternyata dunia sihir dan muggle memiliki kesamaan. Kau tau apa itu?"

Chanyeol menggeleng. Ia lelah mendengar ceramah Seunghoon nampaknya.

"Mereka yang memiliki posisi, gelar, dan kekayaan yang lebih tinggi daripada orang kebanyakan sering membuat lingkaran atau garis pertemanan, bahkan kekerabatan mereka sendiri tanpa memandang kelompok dan orang lain yang ingin masuk lingkaran itu. Orang-orang dari kalangan eksklusif biasanya tidak menerima, atau bahkan menganggap aneh sebuah perubahan. Hingga, kadang mereka lupa dengan sekitar. Mereka lupa dunia itu berubah, tapi mereka selalu ingat waktu berjalan." ujar Seunghoon. Pria hyper itu menghela napasnya.

"Sudah, aku mau menaruh ini di dapur. Bibi memanggilku dari tadi. Kau tidur saja, perjalanan Seoul-Qingdao pasti melelahkan."

Seunghoon menghampiri ibu Tao di dapur dan meninggalkan Chanyeol yang sedang sibuk merenung, memikirkan kata-kata sahabatnya itu. Tao sendiri? Ia tertidur di kamarnya, membiarkan dua orang senior yang menginap di rumahnya itu mengobrol di kamar tamu rumahnya.


Mino menceritakan tentang Seulgi pada sahabat-sahabat mugglenya itu. Seulgi? Ia tidak berani keluar kamarnya. Ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan begitu banyak orang. Dan, mereka semua amat sangat baik kepadanya. Bahkan, ia tidak diizinkan untuk mengangkat barang yang berat, ia juga akan dimarahi kalau ia menyakiti dirinya sendiri saat melakukan kesalahan.

Mino menceritakan masalah Seulgi dan kenapa Seulgi bisa berakhir disini pada ketujuh sahabatnya. Setelah Mino selesai bicara, ia memandangi wajah mereka satu per satu. Kebanyakan dari mereka terlihat kaget dan tidak percaya.

"Well, jadi tugasmu adalah mencari guru untuk adikmu ini?" tanya Zico.

Mino mengangguk. "Kalau bisa guru itu harus seseorang yang terbiasa dengan dunia sihir dan muggle. Squib seperti Seulgi juga tidak apa-apa. Penyihir juga tidak apa-apa. Yang jelas ia harus terbiasa dengan dunia sihir dan muggle." sambungnya.

"Apa semua squib bersikap aneh saat pertama dibawa ke dunia non-sihir?" tanya Taeil.

"Kalau itu aku tidak tau. Memangnya kenapa?"

"Tunggu... Minhyuk, ayo temani aku." ujar Taeil yang langsung menarik Minhyuk.

"Ya! kalian mau kemana?" teriak Jaehyo.

"Baechu."

"Hah? Baechu?" Mino tampak kebingungan dengan jawaban yang diberikan Taeil.

"Aaaah.. kurasa maksud Taeil Baechu yang 'itu'." ujar Kyung entah pada siapa.

"Yang mana?" tanya Yukwon.

"Yang sering digoda Jihoon"

"Siapa yang sering digoda Pyo?" tanya Mino penasaran.

"Ada keluarga aneh yang pindah didekat rumah Taeil beberapa tahun lalu. Sekitar 2 atau 3 tahun, kalau tidak salah. Aku lupa nama anaknya, pokoknya menurut pengakuan Taeil, keluarga gadis itu sering memanggilnya dengan sebutan Baechu."


"Era kegelapan itu sudah habis kan, pa? Apa itu berarti kita masih harus hidup dalam tradisi."

Dentingan pisau dan garpu mendadak tidak terdengar lagi di ruang makan mansion keluarga Kang. Semua mata orang yang berada di meja makan itu menatap Seungyoon dan ayahnya.

"Karena tradisi itu yang membuat kita kuat. Kau tau kan, antara keluarga penyihir pureblood disini memiliki ikatan satu sama lain."

"Lalu, kenapa papa memutuskan ikatan dengan bibi Hyejung? Bukankah bibi Hyejung-"

"Kita sedang makan, Yoon. Berhenti bertanya dan makan makananmu!" titah Tuan Kang.

Setelah selesai makan, Taehyun berjalan mengelilingi mansion keluarga Kang yang ukurannya sendiri 2 kali lipat lebih besar daripada rumahnya. Ia menyusuri setiap ruangan dan berhenti di perpustakaan. Taehyun melihat kumpulan buku-buku yang memiliki jumlah dan koleksi lebih lengkap daripada buku di rumahnya. Kebanyakan buku itu berisi tentang charms/mantra. Bukan hal yang mengejutkan bagi Taehyun, karena keluarga Kang dari dulu memang dikenal akan kemahirannya dalam hal mantra.

Taehyun melihat Seungyoon yang sedang membaca sebuah buku yang Taehyun sendiri juga tidak paham. Ia mendekati calon suaminya itu dan mendapati Seungyoon, sang calon suami menatapnya dingin.

"Kau tidak menyukaiku tidak apa-apa. Aku bisa bertahan, karena memang aku juga sudah terbiasa untuk dibenci orang lain. Tapi setidaknya bicaralah padaku apa yang kau rasakan." ujar Taehyun tanpa sadar.

"Maumu apa, Hong?"

"Aku..."

"Apa kekayaan keluargaku masih kurang? Kenapa kau masih menjual diri pada keluarga Wu? Ap-"

'PLAAK!'

Taehyun meninggalkan Seungyoon yang masih terpana saat mendapat hadiah tamparan keras darinya.


"Daeun!" panggil Sehun pada salah satu peri rumahnya. Peri rumah itu langsung ber-apparate ke hadapan Sehun. Dengan takut-takut ia berkata, "T-tuan memanggil saya?" cicitnya. "Bawa aku ke tempat orang yang ditahan papa dan mama." titahnya. Daeun langsung menggenggam tangan Sehun dan membawa tuannya itu ber-apparate ke ruang bawah tanah.

"Ambilkan ramuan pembersih luka dan penghilang rasa sakit kesini" titah Sehun.

Sehun mengecek kondisi dua orang tahanan itu. Tahanan pria yang Sehun tidak ketahui namanya itu rupanya masih sadar, Sehun tidak bisa menahan mulutnya untuk bertanya pada tahanan itu.

"Anda siapa? Kenapa anda ditangkap?"

"Aku Yonghwa, Jung Yonghwa. Dan itu istriku Seo Joohyun." ujarnya dengan suara lemah.

Wajah Sehun memucat. Pria itu tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai Daeun mengagetkannya.

"Tuan.."

Sehun yang tersadar dari lamunannya langsung mengambil ramuan yang diberikan oleh Daeun dan memberikannya pada Yonghwa dan istrinya. Sehun menarik Daeun menjauh dari mereka.

"Siapa peri baru di rumah ini? Bisa kau bawakan dia untukku?"

"Apa- a-apa tuan akan membebaskannya lagi?" cicit Daeun. Sehun mengangguk. "Aku tidak bisa melepasmu, kau itu peri rumah kepercayaanku. Jadi, bawa peri baru itu kesini." Daeun mengangguk dan langsung melaksanakan perintah tuannya itu.

Daeun kembali tidak lama kemudian dengan membawa seorang peri rumah bersamanya. "Namanya Dasomie, tuan. Ia baru 4 hari berada disini." "Bagus Daeun. Sekarang kau kembalilah bekerja." Daeun memberi hormat dan langsung menghilang dari hadapan Sehun.

"Dasomie, bawa aku dan 2 tahanan ini ke halaman belakang."

Sesampainya disana, Sehun mengeluarkan kaos kaki miliknya. Ia memberikan kaos kaki itu pada peri rumah barunya itu. Peri itu nampak girang dengan kebebasan yang ia peroleh.

"Dasomie, karena aku telah membebaskanmu. Bolehkah aku meminta sesuatu?"

"Apapun untuk tuan. Tuan baik lepaskan Dasomie. Dasomie akan melakukan apapun permintaan tuan."

"Bawa kedua orang ini ke mansion keluarga Wu. Jika pemilik mansion itu bertanya padamu siapa yang menyuruhmu mengirim mereka, jangan beritahu. Jangan ada yang tau identitasku, sekalipun itu tuan barumu. Mengerti?"

Peri rumah itu mengangguk. Ia langsung menarik pasangan suami-istri itu dan membawa mereka ber-apparate ke mansion Wu.


Yifan setengah berlari saat mendengar suara khas apparate. Ia terkejut mendapati seorang peri rumah membawa 2 orang yang nampaknya muggle ke hadapannya. Dari kaos kaki yang digenggam peri itu, Yifan tau, peri itu baru saja dibebaskan oleh tuan sebelumnya. Yifan mendekati peri itu dan mulai bertanya,

"Siapa namamu? Dan, siapa yang menyuruhmu kesini?"

"N-n-nama saya Dasomie, t-tuan. Dan, saya tidak bisa bilang." cicitnya. "Kau bisa ceritakan padaku, aku tidak akan memukul." peri itu tetap menggeleng. Ia bahkan mulai menghantamkan kepalanya ke lantai dan pilar mansion saat ia mulai tergoda untuk memberitahu identitas Sehun. Yifan menghela napasnya, "Baik, aku tidak akan memaksa. Sekarang berhenti menyakiti dirimu."

"Feisi." panggil Yifan. Saat peri rumah yang dipanggilnya berada di hadapannya, ia langsung berkata, "Bawa Dasomie ke dapur. Panggil Yujia kesini dan suruh Yujia membawa orang ini ke kamar tamu. Lalu suruh Yuge dan Xinfang merawat mereka." perintah Yifan.

"Baik tuan." Feisi langsung melaksanakan perintah tuannya itu.

Yifan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia menulis surat untuk Taehyun, memberitahukan gadis itu tentang hal aneh yang ditemuinya barusan. Yifan tidak mempedulikan Baekhyun yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu sibuk menulis surat untuk Taehyun dan mengirimkan surat itu lewat burung hantunya, Narcissus.

"Kalau kau masih protes tentang pernikahanmu dengan Chanyeol sebaiknya kau pergi dari hadapanku, Baek." ujarnya tanpa memandang wajang sang adik yang sudah memerah menahan marah.

Yifan langsung meninggalkan adiknya yang masih terpaku di depan meja kerjanya.


"Yixing, bisa kau ke kamar Jinwo sebentar? Ada masalah yang ingin kubicarakan dengan kedua kakakku ini" pinta Jongdae.

Yixing mengangguk. Ia langsung meniggalkan Jung bersaudara itu dan menuju kamar Jinwoo. Yixing tau, dari raut wajah Jongdae menyiratkan masalah yang mereka hadapi sangat serius. Yixing menghela napasnya, ia hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal buruk yang menimpa keluarga Jung.

"Paman dan bibi diculik." ujar Jongdae.

Jinwoo tanpa sadar menahan napasnya. Ia sangat terkejut, kenyataan bahwa ayah-ibu mereka sudah tidak ada sangat menyakiti hatinya. Dan sekarang, apa paman dan bibinya harus meninggalkan mereka?

Di sebelah Jongdae, Minseok menangis keras. "Dan... a-a-aku ha-hiks.." Minseok kembali menangis, dan tidak bisa melanjutkan bicaranya.

"Kak Minseok hamil. Kau tau anak siapa itu? Oh Sehun." bisik Jongdae dengan suara parau.

Minseok kembali menangis histeris. Jinwoo? Gadis itu tidak tau harus bagaimana mengungkapkan perasaannya. Ia ingin mengutuk kebodohan kakaknya itu, tapi, Jinwoo kembali berpikir, jika bukan karena kecerobohannya, maka ia dan saudaranya yang lain tidak perlu berurusan dengan seorang Oh Sehun. Pada akhirnya, ia hanya bisa menangis, menangis bersama kakaknya itu. Jongdae sendiri.. Ia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.


Taehyun menghela napasnya saat ia membaca surat yang Yifan kirimkan. Dengan berat hati, ia mengetuk pintu kamar Seungyoon dan langsung masuk saat Seunyoon menyuruhnya. "Aku ingin ke mansion Wu. Kau bisa melihat apa yang kulakukan disana. Jadi kau tidak perlu menuduhku melakukan hal macam-macam dengan kak Yifan." ujar Taehyun begitu masuk ke kamar Seungyoon. Seungyoon menatapnya sebentar, "tunggu aku di depan perapian."

Taehyun keluar dari kamar Seungyoon dan melakukan apa yang calon suaminya itu perintahkan. Tidak sampai 15 menit menunggu, ia melihat Seungyoon sudah ada di hadapannya. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam perapian "Wu's Mansion" ujar Seungyoon dengan keras dan jelas. Ia lalu menaburkan bubuk floo. Api berwarna hijau menyelimuti keduanya, membawa mereka ke mansion keluarga Wu.

Di depan perapian mansion keluarga Wu, Yifan sudah tidak sabar menunggu Taehyun. Ia sedikit terkejut saat melihat gadis itu membawa Seungyoon. Namun, Yifan paham, ia paham dengan kecurigaan Seungyoon saat melihat kedekatan dirinya dan Taehyun. Yifan tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, pada akhirnya Seungyoon harus tau.

"Ayo ikut aku, mereka ada di atas." ujar Yifan. "Bagaimana keadaan mereka?" "Baru siuman, tapi kurasa sudah bisa diajak bicara, Taehyun-ah. Sudah ada yang memberikan mereka obat penghilang rasa sakit dan pembersih luka. Tinggal luka dalam yang belum disembuhkan." "Ada apa ini?" sela Seungyoon.

"Ada seorang peri rumah yang membawa 2 orang muggle kesini. Kurasa muggle itu sempat disekap di rumah penyihir. Sialnya, peri rumah itu tidak mau memberitahu siapa yang menyelamatkan orang ini." jelas Yifan. Seungyoon mengangguk mendengar penjelasan itu. Kecurigannya sedikit berkurang pada Taehyun.

Taehyun, tanpa memperdulikan kedua pria yang sedang berbicara itu langsung memeriksa kedua muggle yang baru saja siuman tadi. "Hai, bisa aku periksa kalian sebentar?" tanyanya dengan sopan. Muggle wanita yang ada di hadapan Taehyun mengangguk. Taehyun mulai memeriksa kedua muggle itu secara bergantian.

Gadis itu menemui Yifan dan Seungyoon diluar, "Bisa kalian bawakan aku teripang, lada hitam, kunyit dan chamomile dan madu?" tanya Taehyun. "Ah, dan peralatannya. Aku minta kuali hitam berdiameter 5 cm." lanjutnya.

Yifan memanggil peri rumahnya, JiaQi dan menyuruhnya untuk mengambil barang-barang yang Taehyun butuhkan. Tidak lama kemudian, bahan-bahan yang diminta oleh Taehyun sudah ada di hadapan gadis itu. Setelah mengucapkan terima kasih pada peri rumah yang membawakan barangnya, Taehyun mulai mengolah ramuannya. Ia merebus berbagai macam bahan itu ke dalam kuali dan mulai memprosesnya. Gadis itu sesekali tersenyum pada kedua muggle yang tampak kagum saat melihatnya meracik ramuan.

"Apa ada yang salah?" tanya Taehyun. Muggle wanita itu menggeleng, "Aku hanya takjub melihatnya. Dulu, aku sering melihat istri kakak iparku melakukan hal serupa."

"Istri kakak ipar anda penyihir?" tanya Taehyun. Muggle wanita itu mengangguk. "Kakak iparku dan istrinya sama-sama penyihir." Taehyun mengerutkan keningnya.

"Ehm, maaf aku benar-benar tidak sopan. Aku Taehyun, Hong Taehyun. Kalau kalian?" ujar Taehyun, memperkenalkan diri.

"Aku Seo Joohyun dan ini suamiku Jung Yonghwa." ujarnya. Wajah Taehyun seketika memucat, tapi, ia berhasil menguasai emosinya dan kembali memasang wajah manisnya. "Nyonya Jung, ini ramuannya sudah jadi, kalian bisa minum ini. Hati-hati masih panas." ujar Taehyun sambil menyerahkan dua cawan ramuan pada sepasang suami-istri tersebut.

"Aku harus menemui pemilik rumah ini dulu." pamitnya.

"Kalian, ikut aku sekarang!" ujar Taehyun menarik tangan Yifan dan Seungyoon.

Taehyun menarik mereka berdua hingga sampai pada jarak yang lumayan jauh dari kamar tempat paman dan bibi Jung bersaudara dirawat.

"Mereka adalah Jung Yonghwa dan Seo Joohyun. Paman dan bibi dari Jung bersaudara! A-aku tidak tau siapa yang menyekap mereka. Tapi, kurasa mereka harus tau ini segera!"

"Selagi Joy Jung masih selamat mereka masih aman, karena incaran mereka sebenarnya adalah Joy. Joy adalah penghubung antara Jung bersaudara dan ibu mereka." ujar Seungyoon dengan santai.

Taehyun dan Yifan terkesiap, "Bagaimana kau bisa tau?" tanya Taehyun. "Seulgi itu adikku, ingat? Aku membaca semua ingatannya. Dan hal yang membuatnya gila seperti sekarang adalah kilasan ingatan tentang Joy. Mereka seumuran, Joy yang penyihir dan Seulgi yang squib. Dulu, Seulgi adalah gadis yang amat cerdas, sayang ia tidak memiliki bakat sihir sehingga harus diperlakukan seperti sampah. Ditambah kenangannya bersama Joy, dan Joy yang tiba-tiba menghilang karena mantra fidelius yang diberikan oleh pamanku sendiri, sebagai bentuk perlindungan bagi Joy dan keluarganya. Joy sekolah di Beauxbatons, dia tinggal bersama paman-bibiku. Joy gadis yang ceria, berlawanan sekali dengan Hayi, anak sulung paman-bibiku yang dijauhi di Hogwarts."

"Kami bisa menemuinya?" tanya Yifan. "Tidak. Tidak ada yang tau keberadaan mereka, bahkan aku pun sudah kehilangan kontak dengan mereka sejak 3 tahun lalu. Kurasa mereka mengganti penjaga rahasia mereka lagi."


"Kenapa wajahmu tampak lesu Jinwoo-yah?" tanya Yixing.

Jinwoo menggelengkan kepalanya. Sejujurnya, ia ingin berteriak keras, menumpahkan rasa amarahnya, rasa kecewa dan frustasinya. Tapi, Jinwoo masih tau batasan, ia tidak mungkin menceritakan masalah keluarganya yang super rumit pada Yixing. Ia tidak ingin menyeret Yixing dalam lingkaran permasalahan ini.

"Maaf jika kedatanganku malah mengganggu keluargamu, lebih baik aku pu-"

"Jangan! Kumohon jangan pulang, Xing. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit emosional."

"Baiklah.. Tapi, apakah pembicaraannya sudah selesai? Bolehkah aku ke ruang makan? Aku mau minum."

Jinwoo mengangguk.

Yixing berjalan menuju ruang makan, disana ia masih mendapati Jongdae yang sedang memainkan lighter. Wajah pria itu terlihat lesu, sama sperti Jinwoo. Yixing mengambil air minum di dalam kulkas, saat ia ingin naik kembali ke kamar Jinwoo, tiba-tiba Jongdae mengajaknya bicara.

"Terima kasih."

"Apa?"

"Terima kasih. Terima kasih karena sudah menemani Jinwoo selama di Hufflepuff."

"Kenapa? Dia kan sahabatku? Bukannya memang itu yang harusnya dilakukan sahabat? Kurasa kedua sahabatmu, Chanyeol dan Seunghoon juga memperlakukanmu dengan sangat baik. Tapi, kau saja yang terlalu tertutup. Chanyeol dan terutama Seunghoon selalu memberimu ruang khusus, mereka tidak pernah memaksamu, kan? Lain kali cobalah untuk lebih terbuka pada mereka. Mereka bukan orang jahat." ujar Yixing dengan polosnya.

Jongdae mengangguk. Ia hanya tersenyum, meskipun dalam hatinya ia gondok setengah mati pada Yixing. 'Sial, aku kan hanya melindungi diriku sendiri dari kemungkinan dikhianati,' batinnya, membela diri. Jongdae maklum dengan kepolosan dan kejujuran seorang Yixing. Setidaknya ia tau, gadis itu bisa menjaga dan melindungi Jinwoo.


Minseok memandangi perutnya yang masih terlihat rata. Ia mengelus perutnya itu dengan rasa sayang, "maafkan ketidakmampuanku untuk menahan ayahmu." bisik Minseok pada kandungannya itu. Gadis itu sedikit terlonjak saat mendapati Jongdae masuk ke kamarnya tanpa permisi.

"Cepat mandi, kita ke Gwangju, tepatnya ke bank Hanhaeng, lalu ke rumah sakit."

Minseok tercengang dengan ucapan Jongdae. "Untuk apa kita kesana?" "Tentu saja mengambil uang dan memeriksa kandunganmu. Memangnya untuk apa lagi?"

"Kau tidak bisa memeriksakan ini Jongdae! Aku masih sekolah! Kau mau aku dikeluarkan?" pekik Minseok. Masalahnya, setiap kehamilan yang terjadi di dunia sihir akan dicatat oleh rumah sakit. Fungsinya agar mereka bisa mengidentifikasi secara dini potensi yang dimiliki oleh seorang calon penyihir. Apakah anak yang dikandung memiliki bakat mertamorphagus, animagus, parselmouth, atau bahkan squib.

"Aku tidak segila itu mengajakmu ke Asklepios kak. Aku mengajakmu ke Boram hospital, rumah sakit muggle. Aku tidak segila itu untuk menjerumuskan kakakku agar dikeluarkan dari sekolah. Bagaimanapun juga, bayimu butuh diperiksa oleh dokter. Lagipula, disana ada seorang dokter squib, menurut kabar yang kudengar dari Seunghoon. Ayahnya kenal dengan dokter itu, aku juga sudah membuat janji dengan dokter Lee."

"Dokter Lee?" tanya Minseok.

"Nama dokter squib itu. Ayolah kak, kita tidak punya banyak waktu. Kapalnya akan berangkat dua jam lagi, belum menunggu bongkar muat barang dan berebut antrian dengan para turis."

Minseok bergegas mandi dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Ia terharu melihat kepedulian Jongdae pada dirinya dan anak yang dikandungnya, meskipun itu adalah anak dari orang yang paling Jongdae benci, Sehun. Setelah selesai mandi, ia langsung memakai baju dan turun. Disana ia melihat Jinwoo dan Yixing yang juga tampak rapi.

"Dimana Jongdae?" tanya Minseok.

"Dia sedang ke rumah tuan dan nyonya Han, tadi nyonya Han mencari kakak, tapi kakak masih mandi. Jadi, Jongdae yang dipanggil." ujar Jinwoo. Gadis itu sibuk memainkan ujung t-shirt yang dipakainya. Minseok mengangguk.

"Apa kakak merasa nervous?" tanya Jinwoo.

"Aku hanya takut dokter itu akan bertanya-tanya tentang... kau tau hal-hal semacam itu." Jinwoo menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti. Gadis itu kemudian menggenggam tangan kakaknya, "Kak, apapun yang terjadi nanti, aku dan Jongdae akan selalu ada disampingmu. Meskipun ini anak Sehun, orang yang aku dan Jongdae benci, tapi anak yang ada di kandungan kakak sekarang tetap keponakan kami. Aku dan Jongdae pasti akan menjaganya sekuat tenaga."

Minseok tersenyum mendengar penuturan adiknya itu. Ya, Jinwoo memang orang yang paling bisa membuatnya tenang.

Tidak lama, ia mendengar suara ribut-ribut dari luar. Ia langsung menarik Jinwoo untuk melihat apa yang terjadi. Disana, ia melihat Jongdae yang sedang kesulitan membawa beberapa barang dan Yixing yang membantunya. Keduanya beradu argumen karena Jongdae melarang Yixing membawa barang terlalu banyak, tapi Yixing memaksa karena kasihan melihat Jongdae yang kesulitan. Minseok melirik Jinwoo, begitu juga sebaliknya, "apa menurutmu mereka cocok?" tanya Minseok. Jinwoo mengangguk, gadis itu tersenyum lebar, membayangkan kebersamaan antara Jongdae dan Yixing. Seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba muka Jinwoo berubah, Minseok yang penasaran dengan perubahan muka Jinwoo hanya mengangkat sebelah alisnya, "Yixing menyukai kak Yifan sejak tahun pertama." ujar Jinwoo. Minseok hanya tersenyum, "jangan terlalu dipikirkan, kalau mereka memang berjodoh, pasti akan bersatu." ujarnya pada Jinwoo.