Number Nine
Kisah klasik mengenai kehidupan asrama siswa badung yang kemudian menjadi persahabatan yang indah. Ada cinta, harapan, tawa, kesedihan dan juga kebahagiaan.
YAOI, SMUT, PORNOGRAPHY a Little, OOC, and Typo.
Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, Hunhan, KrisTao, dll.
Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Mr. Han (OC).
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Oh Sehun, Park Luhan (Marga saya ganti), Suho, Kris Wu, Kim Minseok, Chen, Tao, dan Lay.
Genre : Humor, Roman, drama.
Warning : Terinspirasi dari karya, Anthony Buckeridge—yang brilliant, tapi cerita sepenuhnya milik saya. No to Plagiator!
.
.
.
.
.
19. Kebohongan
Sesampainya di taman hiburan, anak-anak yang lain langsung berlarian kesana-kemari. Mereka berpencar untuk mencoba berbagai wahana yang baru. Termasuk Baekhyun dan juga Chanyeol. Baekhyun berjalan bergandengan tangan dengan Chanyeol. Tapi, saat melalui banyak wahana yang memacu adrenalin, Baekhyun menolak untuk menaikinya. Meskipun, sebenarnya Chanyeol ingin mencoba, tapi, kalau Baekhyun takut, dia juga tidak akan memaksa.
"Bagaimana dengan rumah hantu?" tawar Chanyeol lagi. Masih belum menyerah. Mungkin kalau Baekhyun takut dengan ketinggian, dia tidak takut dengan rumah hantu. Tidak ada salahnya mencoba. Toh, Chanyeol tidak mau hanya berjalan-jalan seperti ini tanpa mencoba satu wahanapun. Tidak afdol rasanya.
"Rumah hantu itu hanya bohong-bohongan, Baek!" Chanyeol langsung mengatakan itu ketika melihat wajah Baekhyun yang tampak tidak tertarik sama sekali. Dia membawa tangan Baekhyun ke saku belakang celana pendeknya. Baekhyun cemberut lalu menggeleng. Membuat Chanyeol menghela nafas pelan.
"Lalu, apa gunanya kita disini kalau kau tidak mau mencoba apapun, Baekhyun." Baekhyun menghentikan langkahnya. Menatap Chanyeol dengan pandangan 'Apakah kau sedang menyalahkanku?'
Yang langsung membuat Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya. "Aku tidak masalah kalau tidak menaiki apapun," katanya lembut. Membuat senyum Baekhyun langsung cerah, secerah biasanya.
Chanyeol mencium kening Baekhyun, pertanda bahwa semuanya baik-baik saja. Jadi, dengan mudahnya, Baekhyun kembali tersenyum dan menggandeng tangan Chanyeol. Chanyeol suka saat Baekhyun sedang tersenyum, jadi, dia tidak bicara apapun lagi.
Mereka masih mengelilingi taman hiburan. Meskipun cuacanya panas, itu tak menyurutkan semangat anak-anak yang lain untuk bermain. Baekhyun menyelipkan tubuhnya di bawah lengan Chanyeol. Ada begitu banyak hal yang disukainya hari ini. Menggandeng tangan Chanyeol, berpergian seharian bersama Chanyeol dan Chanyeol yang bersikap manis padanya. Baekhyun tersenyum dan semakin merapat ke Chanyeol.
"Kita istirahat dulu, Chanyeol. Kakiku pegal."
Chanyeol setuju. Dia menggandeng Baekhyun ke cafe yang tak jauh dari sana. Mungkin minum kopi, tawar Chanyeol. Dan Baekhyun dengan senang hati menuruti kemauan Chanyeol. Yah, meskipun, Baekhyun tidak terlalu suka minum kopi, asalkan masih bersama Chanyeol, dia akan tetap menyetujuinya.
"Hei, Baekhyun!" Itu suara Daehyun. Dia bersama beberapa teman sekelasnya menghampiri Baekhyun yang langsung tersenyum begitu melihat pria itu. Dua diantaranya adalah tim bisbol di sekolah. Dan Baekhyun sangat menganggumi sosok Daehyun yang mahir bermain bisbol. Jujur, meskipun Baekhyun menjadi gay untuk Chanyeol, dia pernah menganggumi Daehyun dari jauh. Sekedar menganggumi, bukan cinta atau semacamnya.
"Hai, Daehyun-ah. Terima kasih kaosnya."
Daehyun tersenyum canggung. Dia menggaruk tengkuknya; antara malu, senang dan salah tingkah. Teman-temannya yang lain hanya menggoda Daehyun dengan menyikut perut lelaki itu. "Wah, dia menyukai kaosmu, Daehyun-ah! Kau beruntung."
Baekhyun tertawa. Baginya, mungkin itu lucu. Tapi tidak untuk Chanyeol. Dia hanya menatap kedua orang itu dengan pandangan datar. Terlihat sekali bahwa Si Daehyun ini menyukai Baekhyunnya. Chanyeol bukan Baekhyun yang tidak peka. Sekali lihat saja, Chanyeol langsung mengetahuinya.
"Syukurlah, kalau kau suka. Kuharap kau bisa lolos babak audisi besok."
"Aku tidak yakin, Daehyun-ah. Tapi, terima kasih."
Daehyun akhirnya berani menatap Baekhyun setelah teman-temannya berhenti menggodanya. Dia tidak suka kalau Baekhyun merendah seperti itu. Ayolah, Baekhyun itu berbakat dalam bisbol! "Jangan begitu, Baekhyun-ah. Kau itu berbakat. Kau pasti lolos! Aku jamin itu!"
"Benarkah?"
Ditatap dengan mata berbinar seperti itu, tentu saja membuat Daehyun gugup setengah mati. Dia kembali digoda oleh teman-temannya sendiri. Mereka menggoda Daehyun dengan cara bersiul, pura-pura batuk dan lain sebagainya. Membuat Daehyun semakin salah tingkah. Baekhyun mengira itu hanya candaan saja, tapi sebenarnya, itu serius.
"Lucu sekali."
Perkataan Chanyeol yang tiba-tiba tentu saja membuat godaan-godaan itu berhenti. Mereka menatap Chanyeol dengan pandangan aneh. Sedangkan, Chanyeol menatap ke arah Daehyun dengan ekspresinya tidak terbaca.
"Lucu kenapa, Chanyeol?" tanya Baekhyun tidak mengerti. Dia menunggu jawaban Chanyeol, tapi, bukan jawaban yang didapat, melainkan ciuman Chanyeol di bibirnya yang justru didapat. Membuat jantung Baekhyun berdebar kencang. Kaget dan juga malu. Semua orang yang ada disana terkejut dengan tindakan Chanyeol yang tiba-tiba. Yah, meskipun Baekhyun itu terkenal di semua kelas; tentu saja karena tingkahnya, tapi, mereka tidak tahu bahwa Chanyeol adalah kekasih Baekhyun. mereka hanya tahu bahwa kedua orang itu sangat dekat.
"Baekhyun adalah kekasihku, kalau kau ingin tahu."
Daehyun ingin pingsan rasanya. Dia tidak tahu mengenai itu. Dia hanya tahu bahwa mereka berteman baik tapi, bukan berpacaran. Salahkah anak-anak kelas sembilan yang selalu menutup rahasia teman-teman sekelasnya. Mereka memang bukan tukang pengadu. Meskipun kelas sembilan itu kumpulan bocah-bocah berisik, bukan berarti mereka itu tukang penggosip.
Daehyun akan menghajar Chen setelah ini!
"Benarkah itu, Baekhyun-ah?" Suara Daehyun terdengar pelan dan ragu-ragu. Dia berkedip, matanya melebar, dan takut. Tapi, anggukan Baekhyun barusan serasa menghempaskan seluruh tubuh Daehyun begitu saja. Gila! Dia bahkan masih bersabar saat Baekhyun berpacaran dengan gadis kelas sebelah. Dia fikir Baekhyun bukan gay jadi dia menunggu. Lalu, mengiriminya coklat di loker; tentu saja agar Baekhyun menyadari bahwa ada orang yang mengagumi dia. Tapi... Tapi... sekarang?
"Kau gay?"
"Um... Sebenarnya, tidak. Intinya, dulu tidak. Tapi..." Ingat kalau Baekhyun bukan orang yang bisa menjelaskan dengan baik. Tapi, Daehyun langsung mengerti. Yah, Baekhyun awalnya bukan gay tapi si brengsek ini yang membuat Baekhyun-nya menjadi menyimpang. Oh, God! Kenapa dia harus didahului oleh anak baru itu?
Chanyeol menatap Daehyun tanpa ekspresi, tidak mengatakan apa-apa. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Semua orang membisu, menatap kedua orang itu yang ternyata masih bermesraan. Chanyeol yang memeluk Baekhyun dari samping dan Baekhyun yang menunduk malu.
Daehyun berkedip kemudian menggelengkan kepalanya, menghembuskan napasnya dalam-dalam. Dia sudah tidak punya kesempatan lagi. Paling tidak, dia akan menyerah kalau memang Chanyeol adalah pria yang pantas untuk Baekhyun. Tapi, kalau sampai si brengsek ini menyakiti Baekhyun, Daehyun bersumpah akan merebut Baekhyun dari tangan Chanyeol.
"Ayo kita pergi." Daehyun menatap teman-temannya. Dia tersenyum pada Baekhyun yang masih menunduk malu. Ekspresinya hati-hati. Takut saja kalau sampai Baekhyun menyadari perasaannya. Tapi, Baekhyun yang tidak peka tentu saja tidak tahu.
"Daehyun sangat baik, ya? Dia memberiku kaos dan bilang kalau aku berbakat. Nanti, kalau aku masuk tim bisbol sekolah, aku akan menaktirnya sesuatu."
Chanyeol melepas pelukannya dan moodnya tiba-tiba menurun drastis. Dia menatap Baekhyun dengan tatapan tidak suka. "Kau menyukainya?"
"Tentu saja, Yeol! Di tahun pertama, aku sudah mengaguminya! Dia pemain yang hebat! Pekerja keras dan selalu membantuku berlatih."
Chanyeol merutuk kebiasaan Baekhyun yang selalu mengatakan apapun dengan jujur. Paling tidak, dia seharusnya mengatakan bahwa aku tidak menyukainya atau apalah. Membuat mood Chanyeol benar-benar langsung turun. Dia menghabiskan kopinya dengan cepat. Lama-lama disini, hanya akan membuatnya teringat mengenai obrolan mereka tadi.
"Ayo, kita pergi!"
Tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Chanyeol langsung menarik tangan Baekhyun begitu saja. Membuat pria cantik itu menggerutu sebal di belakang Chanyeol. Sudah menyeretnya begitu saja, sekarang meninggalkannya di belakang. Apa tadi dia mengatakan sesuatu yang salah?
"Yeol, gandeng aku!"
Chanyeol masih diam. Berjalan cukup jauh di depan Baekhyun. Baekhyun tentu saja sebal. Dia berusaha mengimbangi kaki-kaki panjang Chanyeol dan berakhir dia yang terjatuh karena berlari.
"Aw! Chanyeol!"
Chanyeol terkejut. Dia membalikkan badannya dan mendapati Baekhyun yang mengerang kesakitan. Baekhyun terjatuh! Dengan sigap, dia berlari menghampiri Baekhyun dan melihat kaki kekasihnya itu. Sial, kakinya terkilir.
"Kau kenapa, Chanyeol? Apa aku berbuat salah?"
Chanyeol memeluk Baekhyun. Mengucapkan kata maaf berkali-kali. Memang, Chanyeol adalah pria yang dingin. Tapi, bukan berarti dia manusia yang tidak punya hati. Dia tentu saja pernah mengatakan maaf. Dia tentu saja memiliki perasaan bersalah seperti yang lainnya.
"Katakan padaku, kenapa kau membuatku sedih?"
Baekhyun menghirup nafasnya yang terengah-engah karena meneriaki Chanyeol. Dia mengerang. "Oh, apa kau sudah tidak mencintai aku lagi? Apa kau tidak mau menggandengku karena kau malu mempunyai pacar sepertiku?" gumamnya, bingung dan sedih. Baekhyun tahu semenjak dia berpacaran dengan Chanyeol, dia sudah menjelma menjadi pria yang mudah terhasut. Terhasut pikiran; apakah Chanyeol mencintaiku? Apakah Chanyeol selingkuh dan lain sebagainya. Membuat Baekhyun tanpa sadar menitikkan air matanya.
"Mengapa aku begitu lemah? Kenapa kau selalu membuatku cemas dan takut, Chanyeol? Apa salahku hingga kau mendiamkanku seperti ini?"
Chanyeol masih memeluk Baekhyun. Dia tidak perduli orang-orang menatap mereka dengan tatapan aneh. Masa bodoh! Satu tangannya menangkup di dagu Baekhyun, meminta pria itu untuk menatap matanya. Dan ketika melihat air mata Baekhyun, rasanya, seluruh tubuh Chanyeol terasa begitu sakit. Sakit yang aneh. "Maaf! Maaf, Baek!"
"Kenapa kau tidak mau menggandengku?"
Chanyeol tidak mungkin mengatakan bahwa dia sedang cemburu. Itu memalukan dan dia tidak ingin Baekhyun tahu mengenai perasaan Daehyun padanya. Bagaimana kalau Baekhyun membalas perasaan Daehyun? Chanyeol tidak mau kehilangan Baekhyun. Tidak akan pernah!
"Aku... Aku."
"Kau malu punya pacar sepertiku?"
Chanyeol fikir, Baekhyun memang benar-benar sensitif. Tapi, dia menyukai Baekhyun yang seperti ini. Begitu memikirkan perasaannya. "Tidak, Baekhyun. Sekalipun, aku tidak pernah merasa malu memilikimu."
"Lalu?"
"Aku butuh ke toilet," geramnya, suaranya rendah dan serak. Chanyeol sebenarnya malu mengatakan hal itu. Tapi, daripada dia mengatakan bahwa dia sedang cemburu, Chanyeol rela mengatakan hal itu. Menurutnya, itu lebih baik dibanding mengatakan, 'Aku cemburu, Baek! Daehyun itu menyukaimu!'
Itu lebih mengkhawatirkan dibanding perkataan, mari ke toilet. Setidaknya, itu bisa menutupi kenyataan bahwa si Daehyun itu menyukai Baekhyun. Chanyeol tidak ingin Baekhyun tahu mengenai itu. Bukannya dia tidak percaya pada Baekhyun, Chanyeol hanya takut saja. Takut tanpa alasan yang jelas.
"Ah! Chanyeol! Kenapa kau tidak mengatakannya? Ayo, kita ke toilet sekarang! Maaf, aku kira kau berjalan terburu-buru karena apa."
Baekhyun tampak menyesal. Wajahnya yang tadi berlinang air mata sekarang sudah ceria kembali. Mau tak mau membuat Chanyeol tersenyum juga. Dia membungkuk, melingkarkan lengan Baekhyun di sekeliling tubuhnya. Menggendong Baekhyun karena kaki pria itu sedang terkilir. Baekhyun menggelantung dan memeluknya dengan keras pada leher Chanyeol. Dia tersenyum senang.
"Ayo, ke toilet, Yeol!"
.
.
.
Setelah acara pura-pura ke toilet itu berakhir, mereka berdua menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di taman hiburan. Membeli gula kapas, bercanda-canda, yah, meskipun Chanyeol hanya akan menanggapi dengan gumaman atau kata-kata yang singkat, tapi sebenarnya, dia sangat senang berada di dekat Baekhyun seharian ini.
"Kakimu masih sakit?"
Baekhyun menggeleng, masih mengunyah permen kapas dan meminum sodanya. "Sudah baikan. Terima kasih sudah mengobatiku, Yeol!"
Chanyeol tertawa ketika melihat ada permen kapas yang tertinggal di sudut bibir Baekhyun. Dia ingin menggoda kekasihnya itu, makanya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menjilat bagian yang terkena permen kapas. Membuat Baekhyun terkejut setengah mati.
"Chanyeol!"
Baekhyun hampir saja memarahi pria itu kalau saja Chanyeol tidak buru-buru bilang kalau ada permen kapas di bibirnya. Baekhyun manyun dan Chanyeol menyeringai. Ada alasan pembenar dibalik tindakannya tadi. Apa dia bisa mencobanya lagi?
CHUP!
Chanyeol melakukannya lagi. Menjilat bibir Baekhyun. Mengemutnya. Merasakan manis sisa permen kapas milik Baekhyun tadi. Ya, Tuhan, kalau saja Chanyeol tidak ingat dia ada di taman sekarang, mungkin dia sudah menerjang Baekhyun sekarang. Sayangnya, Chanyeol masih waras untuk saat ini.
"Kau ini! Jangan menggunakan cara itu, Yeol!"
"Mau bagaimana lagi."
"Apanya yang bagaimana. Usap saja dengan tanganmu."
Chanyeol menatap Baekhyun.
"Baik. Kita ulangi."
Baekhyun sudah akan berteriak lagi. Tapi, sayangnya, tangan Chanyeol lebih cekatan dari yang dia kira. Oh, Baekhyun, seharusnya, kau sudah mengira hal ini!
"Jilat, sayang!"
Tangan Chanyeol masuk kedalam mulut Baekhyun, tepat saat pria itu akan membuka mulutnya untuk memarahi Chanyeol. Baekhyun bingung. Rasanya, seluruh tubuhnya lemas seketika. Baekhyun masih tidak tahu, apakah dia harus menjilat tangan Chanyeol seperti keinginan kekasihnya atau diam saja membiarkan tangan Chanyeol yang dengan lancangnya masuk ke dalam mulut Baekhyun?
"Sayang, jilat tanganku."
Perkataan Chanyeol entah mengapa terdengar seperti perintah. Baekhyun sudah masa bodoh dengan keadaan sekitar. Dia kemudian menjilati tangan Chanyeol. Tatapannya yang sendu, bingung, malu, dan takut justru malah membuat Chanyeol semakin terangsang.
"Shit, celanaku!"
Baekhyun menatap selangkangan Chanyeol yang menggelembung. Karena kaget, secara otomatis, Baekhyun melepas jilatannya. "Yeol! Kau tegang?"
Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam. Dia membantu Baekhyun untuk berdiri. Menuntunnya entah kemana. Yang pasti dalam fikiran Chanyeol, dia harus menuntaskan hasratnya dulu. Persetan soal yang lainnya.
"Yeol! Mau kemana?"
"Kemana saja, Baek. Aku sudah tidak tahan..."
"Mwo? Kau gila?"
Chanyeol melihat ada wahana kuda-kudaan berputar di sana. Di saat yang tepat. Chanyeol buru-buru mengantri dan membawa Baekhyun menaiki salah satu kuda. Chanyeol duduk di belakangnya. Baekhyun tahu dia tidak akan bisa menghentikan Chanyeol kalau sudah seperti ini. Jadi, Baekhyun diam saja saat Chanyeol mulai bergerak.
"Ssshhh... Ahh."
Baekhyun merinding saat tubuh Chanyeol menggesek-gesek bokongnya. Sepertinya, Chanyeol sedang mencari kepuasan sendiri di belakang sana. "Yeol! Ahh!"
Baekhyun tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia memang sama tegangnya dengan Chanyeol. Apalagi saat tangan Chanyeol mulai meremas-remas kejantanannya. Rasanya, pusing akibat putaran wahana kuda-kudaan ini langsung tergantikan dengan kenikmatan keduniawian.
"Ahhh... Baek!"
Chanyeol masih menggesek-gesek tubuhnya. Dia tidak perduli kalau kuda-kuda di belakang atau di depannya mungkin akan mendengar desahannya. Chanyeol adalah tipikal orang yang acuh jadi tidak masalah.
"Ahh, Chanyeol! Nanti kedengaran orang!"
"Nggh... Biar saja, Baek!"
Chanyeol masih menggesek-gesek tak tentu arah. Sedangkan tangannya memanjakan penis tegang Baekhyun. Mereka benar-benar tidak perduli dengan keadaan saat ini.
"Chan! Aku mau keluar!"
"Me too, Baby..."
CROT!
Baekhyun mendesah lega. Menikmati sisa orgasmenya dengan nafas panjang. Sedangkan Chanyeol sudah kembali normal dan merutuki kebodohannya. Dia berbisik pada Baekhyun. "Baek, celana kita basah. Bagaimana?"
Baekhyun yang sudah sadar sepenuhnya, hanya bisa menganga melihat celananya yang basah. Sial, Baekhyun lupa! "Dasar dobbi idiot!"
"Maaf, Baek. Aku kelepasan."
"Dasar pria mesum!"
"Begini-begini aku kekasihmu, Baek. Sudahlah, kita kembali ke bus saja." Chanyeol membantu Baekhyun turun dan keluar dari wahana itu. Baekhyun masih menggerutu. Dia menunduk ketika beberapa orang melihat mereka dengan tatapan aneh. Apa mungkin orang-orang itu yang duduk di dekat mereka tadi. Aish! Memalukan sekali!
"Dasar tiang idiot! Melakukan itu di tempat umum."
Chanyeol masih menggandeng tangan Baekhyun dengan wajah cuek andalannya. Dia bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk sekedar menutupi celananya yang basah. Chanyeol masih berjalan tegak dan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun. Baekhyun fikir, Chanyeol memang manusia tidak punya rasa malu!
"Kalau kau berani melakukan ini pada wanita lain..."
"Aku hanya melakukannya padamu," potong Chanyeol cepat. Dia membawa tubuh Baekhyun mendekat. Sambil tetap berjalan, Chanyeol memegangi pundak Baekhyun.
"Ada hal yang tidak bisa kuungkapkan padamu. Karena semua orang mempunyai rahasia. Tapi untuk kali ini saja, bisakah kau mempercayaiku?"
Baekhyun masih manyun. Tapi, diam-diam dia senang dengan kata-kata Chanyeol. "Waktu kau memandikanku kemarin, kau bilang aku tidak boleh mempercayaimu."
Chanyeol menghela nafas panjang. Dia mengatakan itu bukan untuk membuat Baekhyun salah paham. Chanyeol hanya tidak ingin nantinya Baekhyun terlalu mempercayainya. Entahlah, mungkin karena Baekhyun yang menjadi sensitif akhir-akhir ini.
"Kau boleh mempercayaiku sekarang."
"Benarkah? Kau tidak punya masa lalu yang aneh-aneh, kan?" Baekhyun berhenti berjalan. Menatap Chanyeol dengan pandangan yang menurut Chanyeol sangat lucu. Baekhyun mencoba memasang wajah tegas tapi entah kenapa justru terlihat imut di mata Chanyeol.
"Kau cantik sekali."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Baekhyun berteriak tapi wajahnya memerah karena malu. Membuat Chanyeol tak tahan untuk tidak mengecup bibir mengerucut kekasihnya itu.
"Tuh kan! Dicium lagi! Jangan menciumku di tempat umum lagi! Dan jangan di depan si Daehyun juga!" Kali ini Chanyeol yang diam. Kenapa nama Daehyun disebut-sebut?
"Kenapa memangnya kalau aku menciummu di depan Daehyun?" tanya Chanyeol datar. Wajahnya mungkin terlihat sangar. Tapi sebenarnya, dia sedang merajuk. Dan Baekhyun yang masih dalam mode sebal, tidak terlalu menggubris apakah Chanyeol marah atau tidak. Pokoknya, dia ingin berteriak saja hari ini.
"Tentu saja karena itu memalukan, pabbo!"
"Memalukan karena aku menciummu atau memalukan karena aku melakukannya di depan Daehyun?" Baekhyun terdiam. Berfikir. Dia tidak mau menyebut kata ciuman sekarang, karena itu cukup memalukan. Memalukan dirinya sendiri. "Karena kau melakukannya di depan Daehyun..."
Chanyeol gemas sendiri jadinya. Tanpa bicara sepatah katapun, dia meninggalkan Baekhyun yang berteriak-teriak memanggilnya. Masa bodoh! Begitu niatan Chanyeol awalnya. Tapi, saat mendengar ringisan baekhyun yang samar-samar, Chanyeolpun berhenti mengacuhkan Baekhyun.
Chanyeol menoleh. Kaki Baekhyun tadi kan terkilir. Dan itu semua karena salahnya. Chanyeol kembali menghampiri Baekhyun. Dia menggandeng tangan Baekhyun. menggenggamnya erat, memberikan ketenangan pada pria cantik itu. "Berjalanlah di sampingku. Jangan jauh-jauh!"
"Kan kau tadi yang berjalan menjauh."
Chanyeol menatap sinis ke arah kekasihnya.
"Apakah kau sedang menstruasi? Kenapa berteriak-teriak terus?"
"Dan kenapa juga tatapanmu begitu padaku?"
"Aku? Aku kenapa?"
"Kau memplototiku, Yeol!"
"Aku tidak begitu."
"Kau begitu."
"Ayolah, berhenti sekarang..."
Baekhyun manyun lagi. Membuat Chanyeol mau tak mau tertawa juga. Dia mengusak rambut hitam Baekhyun. sekarang rambutnya tambah panjang. Semakin terlihat cantik. Dan mungkin saja ada Daehyun-Daehyun di luaran sana yang belum terdeteksi olehnya. Chanyeol harus berhati-hati mulai sekarang.
"Baekhyun!"
Tiba-tiba terdengar suara Kyungsoo. Pria manis itu menghampiri Baekhyun dan memeluknya. Chanyeol kira mereka agak berlebihan; melompat-lompat, saling berpelukan; seolah-olah sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.
"Kalian anak kembar yang tertukar?" tanya Chanyeol sarkastik. Baekhyun memukul lengan Chanyeol, sedangkan Kyungsoo hanya bisa cemberut. Maunya juga meneriaki pria tinggi ini tapi, dia terlalu menakutkan untuk diteriaki. Jadi, Kyungsoo hanya diam saja.
"Aku merindukannya, Yeol!"
"Merindukan apa? Pria pendek ini?" tanya Chanyeol lagi. Kali ini sambil menunjuk Kyungsoo dengan tampang meremehkan. Kyungsoo secara reflek gantian yang memukul Chanyeol. Bukan di lengan seperti Baekhyun, tapi di kepala dan itu keras sekali. Baekhyun saja sampai kaget setengah mati.
"Dasar mulut iblis! Siapa yang kau sebut pendek?"
"Tentu saja, kau! Kau tidak sadar kalau kau itu pendek?"
"Aku ini tidak pendek. Aku hanya imut!"
"Imut itu Byun Baekhyun."
"Aku juga imut. Tanya saja Jongin."
Chanyeol langsung tersenyum miring.
"Kau imut? Dunia akan tertawa mendengarnya."
"Kau fikir kau tampan, apa?"
"Sejak aku dilahirkan, aku memang sudah tampan."
"Kau itu manusia es!"
"Dan kau manusia kerdil."
"Datar tanpa ekspresi!"
"Mata bulat tidak menarik."
"Telinga hobbit!"
"Bibir bentuk aneh."
"Kata Jongin, bibirku itu seksi, tiang!"
"Dia kekasihmu, tentu saja bilang begitu."
Kyungsoo sudah akan membalas perkataan Chanyeol, sebelum Baekhyun menariknya menjauh. Meninggalkan Chanyeol dan Jongin hanya berdua disana. Tapi, karena mereka sudah mulai akrab—atau lebih tepatnya Jongin, mereka tidak merasa canggung lagi.
Jongin menatap Chanyeol dengan pandangan jenaka seperti biasanya. Memeluk bahunya akrab. "Dia memang seperti itu. Kau tidak tersinggung, kan?"
"Dia membawa Baekhyun pergi dariku."
Jongin meringis. Apakah dia harus mengatakan, 'Wow, amazing!' atau mengatakan, 'Kau sedang bercanda, kan?' Tapi sepertinya tidak karena tampang Chanyeol seserius biasanya. Oh Well, apakah dia harus meminta maaf atau tidak? Jongin bingung dengan hal ini. Atau memang Chanyeol saja yang terlalu berlebihan dan posesif?
"Aku tidak sedang bercanda. Dan kau tidak perlu sekaget itu."
Jongin jadi kikuk sendiri. Dia lupa kalau Chanyeol ini hobi membaca pikiran seseorang. Lain kali Jongin akan mengingatnya. "Hmm... Mau minum kopi, mungkin?"
.
.
.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol pelan, sambil menyesap kopi setelah makan siang bersama Jongin. Saat ini, Chanyeol berdua saja dengan Jongin. Pacar mereka sudah pergi entah kemana dan karena kopi adalah kelemahan seorang Park Chanyeol. Jadi, dia mau saja diajak kesini oleh Jongin.
"Tidak ada."
"Ada yang kau sembunyikan dariku, Kim Jongin."
"Apakah kau benar-benar mencintai Baekhyun?"
Chanyeol mengernyit tapi, dia tetap menjawab pertanyaan Jongin. "Ya, tentu saja..."
"Kim Yejin. Aku tahu kau tidak punya hubungan apapun dengannya."
Chanyeol diam. Masih menyesap kopi sambil menatap Jongin dengan tatapan malas. Arah pembicaraan yang seperti ini, Chanyeol mulai bosan. Paling juga tidak jauh-jauh dari kata; perselingkuhan atau hal-hal semacam itu. Membuat Chanyeol muak.
"Tapi pasti oranglain."
Chanyeol tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke arah Jongin, tanpa ekspresi apapun. "Paling tidak, jawab sesuatu, Yeol."
Chanyeol sudah akan membuka mulutnya. Tapi ponselnya yang bergetar, membuat perhatiannya teralihkan. Dia buru-buru meletakkan cangkir kopinya dan menekan tombol hijau. Menerima panggilan seseorang.
"Yeobseyo."
Jongin kira Chanyeol akan menghindar dan menerima telepon jauh-jauh darinya. Kalau difikir-fikir, orang selingkuh memang seperti itu. Tapi, ini tidak. Chanyeol malah terang-terangan menerima telepon tepat di depannya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Suara Chanyeol mendesis. Sepertinya dia marah.
"Aku tidak bisa."
Jongin bisa melihat wajah Chanyeol yang kelihatan seperti orang linglung. Kenapa dengannya? "Aku bilang, aku tidak bisa, brengsek!"
Jongin malah merasa khawatir Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi pada pria ini. Tapi, Jongin bisa apa. Dia hanya bisa menunggu dan melihat. Hanya itu.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak keinginanmu?" tanya Chanyeol pelan. Nada suaranya mulai kembali pelan tapi tetap waspada dan tetap ada nada marah disana. "Dasar monster. Baiklah. Aku mengerti."
Chanyeol menutup sambungan. Menata kembali wajahnya dan kembali fokus pada Jongin. Malah sekarang, Jongin yang jadi kikuk sendiri.
"Katakan saja apa yang mau kau katakan? Aku tidak punya banyak waktu."
"Hmm... Itu tadi. Siapa?"
"Bukan urusanmu."
"Kau tidak apa-apa?"
"Tentu."
"Hm... Jadi begini..."
"Cepat sedikit, Jongin."
Jongin menggaruk kepalanya untuk menghilangkan kegugupan. Aneh memang. Tapi percayalah, berhadapan langsung dengan orang seperti Chanyeol, kau memang akan merasa terintimidasi dan juga canggung. Beda kalau dekat Baekhyun yang ceria dan juga hangat. Lain cerita.
"Aku mendengar percakapan kalian. Percakapanmu dengan Kim Yejin." Dugaan Jongin bahwa Chanyeol akan marah atau memasang wajah terkejut ternyata salah. Pria itu malah menyeringai.
"Lalu?"
"Siapa yang kalian maksud dengan dia? Mantan kekasihmu?" Chanyeol tertawa. Bukan tertawa geli atau tertawa yang lainnya. Tapi tawa meremehkan, tawa yang menyebalkan di mata Jongin. "Apa pedulimu. Urus saja urusanmu sendiri."
"Baekhyun adalah sahabatku."
"Aku tahu."
"Kau tidak sedang mempermainkan Baekhyun, kan?" Suara Jongin mulai rendah. Rahangnya mulai mengeras dan dia mendesis—karena terlalu marah. Chanyeol masih tetap tenang dengan wajah datar membuat Jongin muak melihatnya.
"Kau mempermainkan Baekhyun?"
"Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol itu?"
"Kau selingkuh?"
"Santai saja, Jongin..."
"Keterlaluan!"
BRUGH!
Jongin memukul telak rahang Chanyeol. Dia tidak perduli dengan pekikan dan teriakan orang-orang disana. Chanyeol terjatuh dari tempat duduknya. Dia menatap Jongin dengan tatapan seakan ada sesuatu yang menarik. Dan Jongin benci dengan tatapan itu.
"Kubunuh kau, Park Chanyeol!"
Jongin memukul Chanyeol lagi, berulang dan di tempat yang sama. Dia tidak perduli dengan apapun. Dia marah. Marah sekali. Sebrengsek-brengseknya Jongin, dia tidak pernah sekalipun berniat menyelingkuhi Kyungsoo.
Dia memang sering melirik wanita seksi, tapi sekalipun, Jongin tidak pernah melakukan lebih selain mengedipkan matanya. Jongin masih punya hati. Jongin mencintai Kyungsoo. Hatinya hanya milik Kyungsoo.
"Kau brengsek, Park Chanyeol!"
"Kau dibayar berapa oleh Baekhyun?" tanyanya sinis. Jongin tentu saja terkejut setengah mati. Dia menarik kerah Chanyeol dan memukul pria itu lagi. Persetan soal yang lainnya. Dia kecewa. Dia marah dan membenci orang-orang yang melukai teman-temannya.
"Apa kurangnya Baekhyun? Kenapa kau menyakitinya? Apa salahnya? Apa yang telah dia perbuat padamu, Park Chanyeol?"
Chanyeol menyeka darah di sudut bibirnya.
Menyeringai.
"Dia kurang memuaskanku di atas ranjang. Yah, dia memang memberikan kesuciannya padaku. Tapi, jujur saja, Kim Jongin, aku lebih suka gadis seksi yang liar saat bercinta. Lebih memuaskanku. Dan Baekhyun, tidak menarik sama sekali. Kurang seksi, kurang liar dan pasif sekali. Membosankan."
Wajah Jongin memerah. Menahan amarah.
"Apa kau bilang?"
"Aku sudah bosan berakting. Setelah menidurinya beberapa kali, aku akan memutuskannya. Dan kalian, kau dan juga Kyungsoo tidak perlu lagi mengurusi urusanku. Urus saja masalah kalian sendiri."
"Apa? Pu-putus?"
Jongin takut Baekhyun akan terluka. Pria itu dari luar terlihat kuat tapi sebenarnya sangat rapuh dan juga sensitif. Bagaimana kalau Chanyeol benar-benar memutuskan Baekhyun?
"Ya, dia orang yang kuno. Tapi, bisa kutiduri dengan mudah. Aku yang hebat atau dia yang terlalu murahan? Oh, apa dia membayarmu dengan tubuhnya juga? Makanya, kau membela Baekhyun, begitu?"
"Dasar sial!"
Jongin memukul Chanyeol lagi, lagi, dan lagi, hingga pria itu hampir kehilangan kesadarannya. Untung saja, sebelum Chanyeol benar-benar pingsan, Baekhyun dan juga Kyungsoo berlari menghampirinya. Baekhyun berteriak; menangis dan memeluk Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan, Jongin?" teriak Baekhyun marah. Dia memeluk Chanyeol dan mulai menangis. Menatap Jongin dengan pandangan benci. "Apa yang telah Chanyeol lakukan padamu. Hiks... Kenapa kau memukulnya?"
"Baekhyun, aku tidak..."
"Aku tidak apa-apa, sayang."
Chanyeol mencium kening Baekhyun. Memeluk pria cantik itu dan menyeringai ke arah Jongin. Tubuh Jongin tiba-tiba membeku. Dia mengepalkan tangannya saat tangan Chanyeol mengelus-elus punggung Baekhyun. Seolah-olah menenangkan Baekhyun. Persetan!
DUGH!
"Jongin!" Kali ini Kyungsoo yang berteriak. Dia menahan Jongin yang memukul Chanyeol di kepalanya. Pasti terasa sakit. Dan benar saja, kepala Chanyeol mulai terasa berat. Matanya berkunang-kunang dan dia memuntahkan darah. Baekhyun dan juga Kyungsoo kaget melihat hal itu.
"Chanyeol!"
Dan Chanyeol pingsan di pelukan Baekhyun.
TBC.
Happy Bday, Park Chanyeol.
Semoga sehat selalu, bahagia, panjang umur, tambah ganteng, tambah terkenal, cepet debut solo rapper(?)nya, dan tambah segala-galanya.
Jangan pacaran dulu yaaa, aku belum siap menerima berita apapun soal kamu ngedate untuk lima atau sepuluh tahun ke depan, hehehe.
Aku mencintaimu, sampai-sampai hanya melihat videomu, membicarakanmu dengan sahabatku, segala rasa suntuk, emosi dan sedih bisa berubah menjadi bahagia. Terima kasih atas kebahagiaan yang secuil itu. Meskipun kamu tidak sadar dan tidak tahu, tapi aku senang karena pernah merasakan rasa itu.
Pacarku bilang, aku boleh menyukaimu, aku boleh selalu ngepoin kamu dan bergosip soal kamu, itu karena dia juga suka Yuri(?), tapi percayalah, aku menyukaimu benar-benar tulus. Tanpa embel-embel kamu harus selalu follow Luhan, rappernya Ember lebih bagus dari kamu; atau apapun itu.
Bahkan ketika aku tahu kamu Black Jack dan menyukai Sandara, aku tetap mencintaimu.
I love you, We Are One, EXO JJANG! ^^
