'Jika kau merasakan debaran, bahagia, dan nyaman dengannya, itu artinya kau menyukainya.'
"Debaran? Ya aku merasakan itu saat dekat dengan namja tiang itu."
"Bahagia dan nyaman? Sepertinya akhir-akhir ini aku merasakan itu sejak kami mulai dekat."
Aku terus berjalan berputar di kamarku.
"Yak Byun Baekhyun, apakah kau menyukainya?" Timpalku pada diriku di cermin.
'Dan saat kita berdampingan, aku selalu berdebar karenamu. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ku pikir, aku tidak bisa jatuh cinta dengan seseorang karena sifatku yang kaku.--"'Jadi bagaimana dengan dirimu?'
Lagi dan lagi ucapan namja tiang itu menghantui pikiranku.
"Apa yang dia rasakan, sepertinya aku pun merasakannya."
"Lalu apa yang harus ku katakan padanya?"
"Omo...aku malu untuk mengatakannya!"
"Oh my...umurku sudah 23 tahun, dan aku baru bisa merasakan jatuh cinta dengan tingkah layaknya anak 17 tahun?"
Tiba-tiba smartphone ku bergetar tanda pesan masuk. Dengan cepat aku membukanya.
"Percayalah dengan jawaban dari hatimu. Jika perasaanmu belum sepenuhnya pada namja itu, yakinlah bahwa perasaan cinta itu akan datang dengan sendirinya. Hwaiting~!"
"Kenapa Kyungsoo maupun Luhan tahu tentang masalah kami? Apakah ini adalah rencana mereka?"
Tanpa membalas pesan ini, aku segera bersiap-siap untuk menemui Chanyeol.
Park Chanyeol POV
Aku sangat berdebar malam ini. Siap ataupun tidak, aku harus menerima jawaban dari Baekhyun nanti. Jika ia menolak ku, aku tidak bisa memaksanya. Dan jika ia menerimaku--aku berjanji gadis itu akan menjadi pertama dan terakhir dalam hidupku.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis mungil dengan dress hitam diatas lutut, rambut terurai bergelombang dan berjalan menggunakan hils hitam yang cukup tinggi. Ya, gadis itu Byun Baekhyun. Ia berjalan dengan anggun dan tersenyum manis padaku. Cantik sekali.
"Annyeong Chanyeol-ah~!" Sapanya sangat manis dan cantik.
Untuk beberapa detik aku terpukau dengannya malam ini. Aku merasa seperti berada dia surga dan mendapati bidadari di hadapanku ini. Bukan berarti Baekhyun tidak cantik di hari biasanya, namun kali ini ia sangat sangat cantik.
"Ahh...annyeong~Silahkan duduk!" Balasku cukup gugup.
"Kau sudah menungguku lama?" Tanyanya.
"Tidak begitu! Eumm...kau ingin pesan makanan apa?"
"Terserah padamu saja! Aku suka semua makanan kecuali yang berhubungan dengan ketimun."
Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman kami pun datang. Entah kenapa aku merasa sangat gugup malam ini. Bahkan jika di lihat dari wajah cantik gadis ini, ia terlihat begitu tenang.
Author POV
Sejujurnya Baekhyun merasakan gugup dan jantungnya sangat sangat berdebar dari sebelumnya. Tapi ia mencoba untuk menutupinya di hadapan Chanyeol.
'Bagaimana bisa makanan ini cepat habis? Bahkan aku sudah memakannya dengan sangat lambat.' Batin Baekhyun.
'Apakah porsi makanan ini sedikit? Kenapa cepat sekali habisnya? Aaahh...waktu begitu cepat.' Batin Chanyeol.
"Jadi..." kompak ChanBaek saling angkat bicara setelah selesai acara makan.
Chanyeol pun terdiam membiarkan Baekhyun untuk bicara lebih awal.
"Chanyeol-ah maafkan aku untuk akhir-akhir ini menghindarimu. A-aku hanya merasa gugup dengan semua ucapanmu kemarin."
"Kau tahu? Tidurku tidak lelap karena kau terus saja menghantui pikiranku. Dan aku merasa bersalah karena tidak meresponmu hingga saat ini. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir."
"Jadi--aku menolak..."
"Gwaenchana! Aku tidak bisa memaksa perasaan seseorang." Ucap Chanyeol dengan wajah kecewa ia segera beranjak duduk.
"Jjakaman! Aiisshh...kenapa kau memotong pembicaraanku? Aku belum selesai bicara." Timpal Baekhyun menahan lengan Chanyeol.
"Aku menolak untuk terus membohongi perasaanku padamu." Lanjut Baekhyun.
"M-mwo?" Kejut Chanyeol.
"Aku juga menyukaimu Park Chanyeol~!" Seru Baekhyun tersenyum manis.
"Jjinja?"
Baekhyun hanya mengangguk manis di hadapan Chanyeol yang tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya gadis mungil ini melihat senyum menawan milik kekasih pertamanya.
Byun Baekhyun POV
Kami berjalan mendekati sungai Han. Chanyeol terus saja menggenggam telapak tanganku tanpa melepasnya sedetik pun.
Sekarang pikiranku merasa ringan tanpa beban lagi. Kyungsoo benar, mempunyai cinta itu seperti mendapat kebahagian lebih. Bahkan baru saja aku mendapati cinta, aku merasa sangat bahagia.
"Eummm...apakah ini semua karena Kai dan Sehun?" Tanyaku.
"Mwo?" Bingungnya menghentikan langkah.
"Apakah kedua anak itu mendesakmu untuk perasaanmu?"
"Ani! Ini sungguh dari hatiku sendiri. Mereka hanya menjadi konsultasi untuk ku saja.--"
"Kau tahu? Saat aku menunggumu, Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika kau menerimaku itu artinya kau akan menjadi pertama dan terakhir untukku."
Blush~
Oh my...namja tiang ini sangat pintar membuat wajahku memanas dengan ucapan atau perlakuannya.
"Kenapa kau mau menerimaku?" Tanyanya.
"Eumm...karena--sepertinya tidak ada alasan. Karena perasaanku padamu tulus dan aku menerima apa adanya dirimu walau kau bertubuh raksasa seperti ini." Jawabku terkekeh.
"Omo...kurcaci ini berani sekali berhadapan dengan raksasa ini eoh? Kau ingin aku memakanmu?" Godanya.
"Jika kau memakanku, kau akan kehilangan ku yang sudah tidak ada lagi gadis cantik sepertiku."
"Jadi apa kau berani kehilangan--emmpphtt~"
Bibirku terbungkam oleh bibir plum milik Chanyeol. Aku cukup terkejut dengan perlakuannya yang tiba-tiba ini. Dan untuk pertama kali, kami melakukan ciuman tanpa dorongan dari alkohol. Lembut sekali, Chanyeol melumat bibirku sangat menuntun. Aku pun membalasnya lembut dengan melingkarkan lenganku pada pinggangnya. Ini masih membuatku sangat berdebar.
TBC~
cieee yg udah jadian :')
aku kapan ya? :')
wkwkwk
nasib mereka akan dimulai di chap depan...
makasih yg udah mau minat baca ini
