Mohon maaf atas keterlambatan pembaruan cerita, saya baru saja sembuh setelah hampir seminggu sakit. (tertawa)
Selamat membaca.
...
"Seokkie." Yoongi membuka pintu gedung olahraga, melangkah masuk kedalam dan memanggil Hoseok dari tengah lapangan basket, suaranya yang serak dan berat segera menggema keseluruh penjuru. Hoseok keluar dan mengunci pintu ruang pengumuman, ia menyahut sambil menuruni tangga disamping bangku penonton, gemerincing dari gantungan kunci ditangannya menjadi pengiring suasana.
"Gadis itu kesini?" Tanya Yoongi, berjalan kearah sebuah bola basket yang menyendiri didekat tiang ring; harusnya semua bola dikumpulkan kedalam keranjang.
"Kau juga lihat? Cantik ya, tapi rasanya dia mirip dengan Taehyung."
"Lupakan dia." Yoongi mengambil bola tadi, melemparnya ke ring. Masuk.
"Hah?"
Lagi, Yoongi mengambil bola dan kembali melemparnya memasuki ring, kalau saja mereka sedang bertanding, mungkin ini adalah sebuah kemenangan. Hoseok berjalan mendekat, sejak awal mereka bicara, Yoongi sama sekali tak menoleh atau melirik, hanya sibuk menatap lingkaran ring yang sangat ingin dilempari dengan bola. Hoseok merebut bola dari Yoongi, mencoba mengadu pandang dengannya. "Lupakan? Kenapa?"
"Lakukan saja," Sekali lagi, bola berpindah ke tangan Yoongi, langsung dilempar dan lolos melewati lingkaran keranjang diatas. Hoseok baru akan menyergah lagi ketika kemudian Yoongi melekatkan punggung tangannya ke bibir Hoseok, menatapnya lekat. "Itu kalau kau tak ingin ada korban lain setelah Bang Yongguk. Tapi kalau kau sangat ingin ada yang mati, sekalian saja buat spanduk, katakan kalau kau melihat gadis SMA Ilsun berwajah mirip Taehyung." Setelah itu ia menyingkirkan tangan dari wajah kawannya, memungut bola yang kini menggelinding dan membentur dinding pembatas antara kursi penonton dengan lapangan untuk dikembalikan kedalam keranjang bersama bola-bola yang lain. Hoseok diam, bibirnya melipat dan kepalanya memutar otak; Yoongi bukan tipe yang asal bicara, meski nampak lengah karena hampir selalu tidur, ia memiliki kesan tegas yang berbeda yang mampu membuat orang-orang percaya dan menuruti perkataannya. Artinya, Yoongi mengetahui sesuatu yang menjadi penyebab kenapa Hoseok harus melupakan 'Gadis Taehyung' dan Hoseok percaya kalau ia mau menuruti Yoongi maka semua terkendali.
Hal yang sama juga dilakukan Yoongi pada Jimin, ia meminta anak itu untuk melupakan apapun yang ia tahu soal Baby B. Ia juga bilang pada Jimin kalau pura-pura tidak tahu akan jadi lebih baik ketimbang sok tahu dan mati setelahnya. Seperti Hoseok, Jimin juga menuruti Yoongi dan memang itu yang terbaik untuk saat ini. Menjadi amnesia akan sangat membantu ketika kau mungkin menjadi salah satu orang dalam pengawasan Baby B; Yoongi mengalaminya.
Berada dalam garis keturunan yang terikat pada organisasi kriminal bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan sesuatu yang menyenangkan dan bukan sesuatu yang memberi banyak keuntungan. Menjadi salah satu dari baris generasi mafia adalah hal yang benar-benar memuakkan; perselisihan, kekerasan, hidup tanpa kasih-sayang merupakan hal lumrah yang menghantui sejak dilahirkan dan tiap membuka mata. Mungkin para awam berpikir mereka bisa berbuat semaunya jika berada dalam urutan lima besar di deretan preman-preman taraf pelajar, tapi ketahuilah, ketika nama mereka akhirnya masuk dalam minimal sepuluh teratas, tiap hari mereka akan bernafas dengan mempertaruhkan nyawa. Bahkan Yoongi, yang bukan preman, yang tak seorangpun menoleh ketika namanya disebut dengan lantang ditengah jalan, telah menjadi intaian lebih dari tiga kelompok mafia hanya karena dia dilahirkan dalam Fraksi Yang-eun. Bagaimana dengan yang memang mendapat predikat seperti Baby B? Seperti Namjoon, Minsoo dan Jungkook? Itulah sebabnya Yoongi memilih untuk menarik diri, menutup profil dirinya rapat-rapat bahkan dari Hoseok dan Namjoon. Yoongi tak mau hidup repot, ia tak mau kehilangan waktu yang bisa ia gunakan untuk tidur hanya demi sesuatu yang tak bisa ia rasakan manfaatnya. Memangnya apa manfaat dari merusuh? Selain kelelahan, apalagi?
Yoongi tahu segala hal dalam lingkup Kesatuan Ho-nam: mengenai Seo-bang (keluarga Baby B), Yang-eun (keluarganya) maupun OB. Ia tahu soal kesatuan ini lebih baik dari para tetua, dari saudara-saudaranya, bahkan dari orangtuanya. Tentu saja tak ada yang takut untuk bicara blak-blakan didekat Yoongi karena ia nampak selalu tidur, nampak lengah dan bodoh, padahal justru dia menyimak segalanya. Seluk-beluk Kesatuan Ho-nam hingga ke akar, termasuk kabar bahwa blok eksekutif berasal dari Fraksi OB yang 'dipelihara' oleh Baby B.
Min Yoongi bukan siapa-siapa, tapi dia tahu apapun; saat bersama yang lain, ia kembali sebagai 'bukan siapa-siapa' dan ia harap teman-temannya mampu melakukan apa yang ia lakukan, untuk diam dan melupakan segalanya.
Pintu klinik dibuka dan Jungkook merangsek masuk sambil memegangi lengan. Ia terluka dan ketika matanya menangkap Taehyung, rasa sakitnya lenyap dalam sekejap. "Tae!" Ia melompat, berlari dengan sumringah menuju tempat tidur Taehyung tapi ditolak. Jungkook bingung. "Kenapa Tae?"
"Jangan duduk disini, ini untuk Seok-hyung."
"Oke." Jungkook mundur, duduk di salah satu kursi dan Taehyung kembali melarang. "Itu untuk Joon-hyung." Lagi, Jungkook pindah ke kursi satunya dan Taehyung melakukan hal yang sama. "Itu untuk Yoon-hyung, lalu Jin-hyung disana."
Jungkook mengernyit. Jujur saja Taehyung membuatnya kesal. "Lalu, aku tidak boleh duduk?"
"Duduk saja didekat Jiminnie."
"Brrggh, oke oke." Ia menurut, duduk disisi kasur yang ditempati Jimin dan melihat Taehyung tersenyum senang. Jungkook ikut tersenyum, tak ada yang lebih ia suka selain senyuman Taehyung. Sejak kecil, ia selalu tersenyum saat Taehyung tersenyum, ia selalu tertawa saat Taehyung tertawa, ia melakukan apapun untuk menyertai Taehyung dan memang begitulah setianya Jeon Jungkook. Jimin salah tingkah, bingung karena Jungkook duduk tepat didekat kakinya. "Kau terluka?" Ia melihat lengan Jungkook, ada garis luka yang memisahkan kulitnya. Itu lumayan lebar. "Uh, kuambilkan pembersih,"
"Tidak perlu, Tae yang akan melakukannya."
"Aku tidak mau." Taehyung menjawab tanpa pikir panjang, membuat Jungkook menoleh kritis. "Tae?"
"Kau bisa melakukannya sendiri." Jimin mengoper kapas dan botol alkohol, lalu duduk ditempat yang kata Taehyung itu milik Seokjin. Akhirnya Jungkook membersihkan lukanya sendiri sementara Taehyung menyeret Jimin ke toilet.
"Kenapa tidak duduk didekat Kookie?" Ia bertanya, wajahnya kritis. "Aku sengaja melakukannya untukmu, Jiminnie,"
"Aku tak tahu!" Jimin melompat ditempat, kebiasaannya saat merasa kesal. "Mungkin aku hanya sebatas suka, atau, entahlah yang jelas aku tidak nyaman. Ketika berpikir kalau aku akan melakukan banyak hal bersama Jungkook dan membiarkanmu tak bisa menyentuhnya membuatku sangat tidak nyaman."
Taehyung diam, menunduk. Lagi-lagi ia dimarahi Jimin. "Kukira aku bisa membantu." Jimin menghela nafas, mengusap kepala Taehyung dan sentuhan itu terasa seperti bayi; rambut Taehyung sangat halus, kulit kepalanya dingin dan harumnya manis. Sekarang ia tahu kenapa Jungkook sangat suka menyentuh Taehyung. "Apa kau tak mau berterimakasih pada Jungkook? Dia yang menyuruhmu sembunyi diatap 'kan?
"Ah," Taehyung terkesiap. "Ah, benar," Ia merengek dan lari keluar toilet, merasa jahat karena membiarkan Jungkook mengobati lukanya sendiri. Sebenarnya itu hal yang sama sekali tak perlu dicemaskan, tapi tahulah bagaimana bentuk persahabatan dua orang itu. Jimin tertawa, setelah buang air kecil, ia mencuci tangan dan membasuh wajah. Tiba-tiba, ketika bercermin, muncul sosok lain dibelakang Jimin. "GYAAAAAH!"
Taehyung masuk ke klinik, ia tahu Jungkook menyorot kedatangannya tapi ia sama sekali tak bicara. Terus berjalan, mengambil kapas baru, obat dan perban kemudian duduk disamping Jungkook. Tak satupun diantara mereka yang bersuara, hanya Taehyung yang sibuk merawat luka sahabatnya. Sebenarnya Jungkook agak bingung karena Taehyung jadi aneh, tapi ia memilih diam, lebih tepatnya malas bertanya.
"Maaf." Kata Taehyung, masih sambil menjejalkan kapas ke luka Jungkook. Jungkook tak tahu kenapa ada 'maaf' muncul disini, yang ia tahu cuma mengenai betapa ia ingin mencium Taehyung; wajah anak itu lucu, kelewat serius saat memandangi lecet kecil ditubuh Jungkook seolah memikirkan 'kira-kira ini kena apa?', kadang ia bergumam kaget saat menemukan lebam ungu membiru yang terlihat sangat sakit. Astaga, Jungkook sangat bersyukur atas pemandangan yang muncul tepat disisinya ini.
Jungkook mencium pucuk kepala Taehyung yang tak bergeming, seolah tak terjadi apa-apa. Lewat beberapa detik, Jungkook mencium tepi alis Taehyung dan masih tak ada reaksi. Ketiga kali, Jungkook mencium pipi Taehyung, tanpa jeda ia juga mencium telinga anak itu, lanjut lagi ke rahangnya hingga sampai ke bibirnya. Ciuman itu hanya berdurasi tiga detik ketika Jungkook melepasnya, tapi Taehyung mengulurkan tangan, menangkup kepala Jungkook dan menciumnya lagi. Oh, betapa indah masa remaja.
"Berisik!" Ternyata itu Yoongi, baru saja masuk toilet dan sempat berpapasan dengan Taehyung diluar. Ia maju ke deretan wastafel dan mencuci tangan disana. "Kenapa kau selalu berisik?"
"YA TUHAN JANTUNGKU, WOW, LUAR BIASAAAA,"
"Diam, Park Jimin, diam." Yoongi menarik tisu panjang-panjang lalu ia balutkan pada telapak tangan. Jimin menggeleng kesal, apa Yoongi tak bisa menyapanya? Paling tidak jangan buat ia ketakutan di toilet. Anehnya, padahal Yoongi tak mengatakan apa-apa tapi Jimin menunggu sampai Yoongi selesai agar bisa ke klinik bersama-sama. Wow, Park Jimin. Wow. Lama saling bisu, Yoongi juga sudah selesai melap celananya yang seperti bekas diinjak gajah, ia akhirnya mau bicara. "Kenapa tadi kau menangis?"
"Apa?"
"Diatap."
Rasanya seperti ada efek suara 'dor' didalam kepala Jimin. Mana bisa ia bilang kalau itu karena ia memikirkan Yoongi? "Aku menyesal pada Taehyung, setelah hyung bilang kalau aku tak seharusnya marah, aku baru sadar, Taehyung tak mungkin sejahat Baby B." Ding-dong. Ia pandai berkelit seperti belut. Lidah Jimin seperti belut. Hebat sekali. Yoongi manggut-manggut, menyudahi acara bersih-bersihnya lalu diam dengan mata melekat pada cermin. Jimin sejak tadi menunduk dan ia baru mendongak ketika Yoongi mengusap pipinya, membekukan sekujur tubuhnya.
"Harusnya tadi aku melakukan ini padamu." Maksudnya seperti yang ia lakukan saat Taehyung menangis. Ia memang tak melakukannya pada Jimin karena saat itu pikirannya sibuk perihal Jimin yang memarahi orang tak bersalah. Yoongi menarik nafas, "Entah kau menangis karena aku atau bukan, tapi aku minta maaf." katanya, menepuk kepala Jimin dan ngeloyor kearah pintu keluar. Jimin masih mematung di tempat, tak bergerak. Sekali lagi Yoongi berbalik, "Berencana menginap di toilet?"
Jimin menggeleng meraih kesadaran. "Tentu saja tidak. Ayo pergi."
Kalau saja dua orang ini berpacaran, entah seperti apa jadinya.
ㅡ
Seokjin: absen. Pertama kalinya sejak Tax rampung ia absen dalam pertemuan. Tak ada kabar, bahkan panggilan Namjoon tak dapat jawaban. Saat ini Tax berkumpul di klinik, menunggu Seokjin, Yixing dan Chanyeol untuk berdiskusi. Mereka takkan tahu kapan Cheoju atau Baby B kembali ke Haeyu, takkan tahu apakah akan selalu dalam urusan yang sama, tapi satu yang pasti, Tax harus menyusun rencana, mengatur siasat. Mereka harus mengumpulkan semua masalah untuk dipikirkan pemecahannya. Yang lucu, orang-orang duduk sesuai aturan Taehyung: ia duduk bersama Jungkook, Jimin dengan Yoongi, lalu sisanya persis seperti yang direncanakan. Tak ada yang tahu kenapa Taehyung memasangkan Yoongi dengan Jimin. Siapa perduli?
"Yixing dan Chanyeol sedang dalam perjalanan kesini." Namjoon meletakkan ponselnya ke meja obat tempat guru biasa berjaga. "Memangnya mereka darimana?" Tanya Hoseok.
"Tadi kami berpencar setelah Jungkook mengabarkan kalau Baby B ada disini. Aku meminta mereka mengintai B karena Yixing tahu orangnya."
"Tunggu," Jimin menyela. "Jadi, bagaimana Jungkook bisa tahu kalau B disini?"
Mari telusuri apa yang ada dalam pikiran mereka setelah munculnya pertanyaan Jimin:
Hoseok: mungkin dia tahu wajah B dan sempat melihatnya dikerumunan orang. Wajar saja, mereka sama-sama preman.
Yoongi: hayoloh, Jungkook.
Namjoon: sepertinya Jungkook harus jujur.
Jimin: apa pertanyaanku salah? Semua orang mendadak diam...
Taehyung: astaga. Astaga, bagaimana ini?
Jungkook: ... "Hmm," Daripada berpikir, ia memilih untuk langsung bicara, melirik Taehyung sebentar lalu lirikan itu beredar ke semua orang. "Jadi, saat Cheoju mulai menyerang ramai-ramai, seseorang di jendela lantai atas berteriak 'bukankah itu Baby B', aku langsung menjerit pada Nam supaya dia sadar."
"Ohh," Hoseok dan Jimin mengangguk. Padahal dalam pikiran mereka:
Hoseok: siapa yang berteriak? Aku juga ada didekat Joonie tapi tak mendengar apapun.
Yoongi: hore, Jungkook.
Namjoon: yah, sampai kapanpun dia takkan mengaku.
Jimin: syukurlah, kukira Jungkook ada kaitan khusus dengan orang yang mirip Taehyung itu.
Taehyung: syukurlaaaahhh!
Jungkook: pasti Namjoon berpikir kalau aku akan membongkarnya disini. Maaf saja.
Pintu diketuk, Namjoon menjulurkan tangan dan membukanya. Itu Yixing dan Chanyeol, cengar-cengir memasuki klinik sebelum kemudian melotot ketika melihat Taehyung yang bengong disamping Jungkook. Untuk beberapa saat Yixing nampak gagu, tapi Chanyeol justru memasam. "Ada apa?" Tanya Hoseok.
"Tidak apa-apa. Nah, mulai darimana pembahasan kita?" Yixing menggelengkan kepala, tertawa kaku. Jimin paham benar dengan keadaan orang itu, ia pasti mengira kalau Taehyung adalah Baby B. Namjoon meminta 'hadirin' untuk menunggu sebentar lagi, ia mau menginterogasi Seokjin. Saat semua orang ada disini mengira-ngira Baby B, kenapa hanya Seokjin yang tidak hadir? Mungkin benar dugaan Hoseok kalau sunbae itu pasti sudah pulang, berlindung dari berbagai macam ancaman yang bisa merusak ketampanannya. Tapi, sepertinya Seokjin tidak seaneh itu walaupun sudah aneh dari sananya. Baru saja pintu tertutup, ada yang mengetuk.
"Aw," Seokjin meringis, mengompres luka disudut bibirnya dengan kaleng minuman dingin. Kenapa dia luka? Bukankah tadi dia tidak memukul siapa-siapa? Yeah, sementara yang lain memiliki kesibukan, apa yang dilakukan Kim Seokjin?
Selfie diantara orang-orang yang sedang tawuran.
Ceritanya, Pangeran Haeyu ikut berkelahi. Padahal ia akan menggunakan foto yang ia ambil untuk melakukan sesuatu. Seokjin memang tidak berkelahi di Haeyu, tapi siapa yang sadar kalau ia diam-diam pergi ke Sekolah Internasional Seoul demi menemui Wu Yifan?
"Selamat siang, aku Huang Zitao."
Tak seorangpun buka suara. Seluruh anggota Tax termasuk Yixing, Chanyeol dan Taehyung nampak kebingungan atas munculnya anak laki-laki berambut hitam dengan mata kelam yang telinganya memiliki banyak tindik. Dia mengenakan seragam asing dan apa yang ia lakukan di klinik sekolah lain? "Apa kau tersesat?" Tanya Yixing, sengaja menggunakan bahasa mandarin agar tidak mempermalukan si tamu kalau ternyata dia memang benar tersesat. Zitao menggeleng, "Aku kemari atas perintah Wu Yifan untuk mengkonfirmasi tawaran aliansi dari Haeyu."
Mendadak hening.
Terdengar detik-detik kesepian dari jam dinding.
"JEON JUNGKOOK?" Namjoon tak kuasa menahan jerit. Meski tubuhnya mematung dengan mata tetap melekat pada si tamu, ia bertanya lantang. Wajahnya persis gambar idiot di jejaring sosial. Komik meme. "AKU SALAH DENGAR ATAU DIA MEMANG MENGATAKAN 'ALIANSI'?"
"Sayangnya, Nam, aku mendengar hal yang sama." Jungkook menggaruk tengkuk. Namjoon, dengan gerakan horor, menoleh kebelakang, kearah kawan-kawannya. "Guys,"
"Ada apa ini, hyung?" Tanya Jimin panik. Yoongi hanya memutar bola mata, seperti biasa.
"Orang ini, dia tangan kanan Wu Yifan,"
"Siapa itu? Turis?"
"Orang nomor lima, setelah aku. Ayah Yifan adalah pemimpin mafia besar di Cina," Jungkook menjelaskan, ia nampak gugup. Biarpun cuma nomor lima, Yifan bukan orang sembarangan. Bicara performa, jumlah pasukan Yifan lebih unggul dari Minsoo walau tak ada jaminan bisa menyamai blok eksekutif, tapi beraliansi dengan berandal Cina kaya-raya itu bisa amat-sangat menguntungkan. Lalu Huang Zitao? Seperti ucapan Namjoon, ia adalah tangan kanan Yifan, sering diejek dengan sebutan Kungfu Panda, tapi demi Tuhan, jangan macam-macam dengan anak berpredikat lucu ini. "Yifan hampir tak pernah menampakkan diri kecuali sekolah mereka terancam. Ini ajaib."
"Bagaimana kau tahu soal ini?" Tanya Yixing pada Zitao, kali ini dengan bahasa lokal agar semua orang mengerti.
"Aku bertanya pada orang yang kutemui dan dia bilang Tax ada di klinik."
"Maksudku, kenapa Wu Yifan menyuruhmu kesini? Dan lagi, siapa yang mengajak beraliansi?"
"Salah satu dari kalian, yang bernama Kimojin, datang menemui kami."
"Kimojin?" Namjoon mengernyit.
"Kim Seokjin maksudmu?" Yoongi menyela.
"Iya, Kim Seokjin maksudku."
Lagi-lagi hening.
Kenapa tak pernah ada jangkrik disaat seperti ini?
"SEOKJIN KESANA? SENDIRIAN?"
Seokjin tersenyum senang ketika Yifan datang dan memberinya kompres luka. Yifan tak seburuk dugaan orang, ia laki-laki yang baik dan bisa diajak bernegosiasi. Babak-belurnya Seokjin adalah satu dari sekian syarat penerimaan ajakan aliansi dan Seokjin berhasil memenuhi semuanya. "Tak sia-sia wajahku lecet." Ia tertawa.
Hikmah: ternyata istilah 'jangan menilai orang dari penampilannya' tidak hanya berlaku pada Namjoon, tapi juga pada Seokjin.
ㅡ TAX! ㅡ
Bersambung
