Kill Bill
This moment is so sweet
Seeing your bewildered face
"Kim Doyoung awas!"
Terlambat, saat Doyoung membalikkan badan, dia sudah menabrak seseorang. Minumannya menumpahi baju dan sepatu yang dipakai orang di depannya. Doyoung mendongak, Jung Jaehyun.
Gawat.
Jaehyun adalah siswa populer di sekolah mereka, tampan, memiliki tubuh yang bagus, pintar, kaya, ketua tim basket, dan mungkin masih banyak lagi alasan yang membuatnya menjadi idola sekolah.
..tapi dari itu semua, Jaehyun juga terkenal sebagai anak yang galak dan er.. suka semaunya sendiri? Entahlah Doyoung tidak tau mau menyebutnya apa.
"Kim Doyoung."
Doyoung melihat Jaehyun yang sepertinya membaca name tag-nya yang tertera di samping kiri.
"Ikut aku."
.
Kini mereka berada di lapangan basket. Jaehyun berhenti di pinggir lapangan yang diikuti oleh Doyoung yang menundukkan wajahnya.
Jaehyun menatap Doyoung dengan salah satu tangannya berkacak pinggang. "Kau tau tidak, berapa harga sepatu ini?"
Doyoung menggeleng.
"Kau tau tidak setelah ini aku ada latihan basket?"
Lagi, Doyoung menggeleng.
"Kau tau tidak apa salahmu?"
Kini Doyoung mendongak, memberanikan diri melihat wajah Jaehyun. "Menumpahkan minumanku ke baju dan sepatumu." Ucapnya. Doyoung mengerucutkan bibirnya lucu, tapi sama sekali tidak merubah tatapan Jaehyun padanya.
"Lalu?"
"Aku minta maaf." Ujar Doyoung akhirnya.
Jaehyun menaikkan alisnya. "Hanya itu?"
Sementara Doyoung sendiri sedang berfikir, apabila dia meminta uang pada ibunya untuk ganti rugi sepatu Jaehyun, bisa-bisa uang sakunya dipotong selama satu semester.
Bayangan itu dia enyahkan. Lalu dia berucap dengan polosnya, "Aku akan mencuci sepatumu?"
Jaehyun hanya tertawa kecil, terlihat meremehkan menurut Doyoung. Lalu Jaehyun mengambil satu langkah ke depan, mendekati Doyoung.
"Bagaimana kalau kau mengabulkan satu permintaanku."
Doyoung berpikir lagi, apasih yang dia punya, lagipula Jaehyun juga tidak mengenalnya hingga dia berpikir positif akan dapat mengabulkan keinginan Jaehyun yang menurutnya tidak akan susah-susah.
"Err.. Baiklah."
Jaehyun tersenyum miring. Baiklah. Doyoung akui walaupun tersenyum jahat seperti itu pun, Jaehyun tetap terlihat tampan.
"Kim Doyoung. Dengarkan aku baik-baik. Mulai saat ini kau akan menjadi pacarku. Kekasih Jung Jaehyun."
Whaaaaaatttt
Doyoung membulatkan matanya, sama sekali tidak menyangka Jaehyun akan membuatnya menjadi kekasih pria itu.
.
"Doyoung-aaaah" Ten masuk ke kelasnya dengan heboh. "Kau benar berpacaran dengan Jung Jaehyun?"
Doyoung sendiri masih merasa pusing. Kemarin setelah kesepakatan itu, Jaehyun meminta mereka berfoto berdua dan tak lama Jaehyun mengupload di media sosialnya, tidak lupa memberi embel-embel 'kekasih'. Banyak yang tiba-tiba mengirim pesan padanya hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Sebagai jawaban Doyoung hanya menggumam. "Hm.."
"Woaaaahh." Ten heboh sendiri.
Belum selesai kehebohan Ten, kini seisi kelas ikutan heboh. Ternyata Jaehyun, iya si ketua tim basket itu datang ke kelas Doyoung dan menghampirinya.
Doyoung menjadi gelagapan dan menegakkan bahunya.
"Ini." Jaehyun memberinya sekotak susu rasa cokelat, membawanya ke genggaman Doyoung, lalu dia pergi begitu saja. Seisi kelas tambah heboh, ditambah dengan Ten yang megguncang bahu Doyoung sambil mengatakan betapa beruntung sahabatnya yang satu itu.
Tapi Doyoung merasakan sesuatu di tangannya. Ada selembar kertas terselip di genggaman tangannya.
Dibukanya kertas yang terselip itu, tertera nomor telepon Jaehyun juga kata-kata 'hubungi aku', membuat Doyoung mendengus saat itu juga.
Perasaan Doyoung jadi tidak enak.
.
One, two, three, four, come here
Hurry and come here before I count to ten
Benar yang Doyoung duga. Menghubungi Jaehyun adalah suatu kesalahan, tapi dengan tidak menghubunginya mungkin akan lebih memperberat beban Doyoung.
Jadi, saat ini Doyoung sedang menunggu Jaehyun berlatih bersama teman-temannya. Jaehyun yang memintanya, Doyoung diberi tugas untuk membantu menyiapkan handuk ataupun membawa minuman untuk pria itu.
Latihan sudah selesai dan Doyoung segera memberikan minuman yang sudah dibukanya kepada Jaehyun. Lalu mendapat sorakan dari beberapa temannya seperti, 'Cie yang sudah punya pacar' atau 'enak ya punya kekasih yang perhatian'.
Jaehyun hanya tersenyum kecil sementara Doyoung hanya membantin, kekasih apaan yang statusnya saja diresmikan secara paksa.
Setelah Jaehyun meneguk minumannya, dia mengingatkan, "Jangan lupa besok lusa kita latihan lagi." Yang dibalas anggukan dan beberapa jawaban dari anggota timnya, sebelum mereka akhirnya pulang, meninggalkan Doyoung kini hanya berdua bersama Jaehyun.
Sebenarnya Doyoung sedikit kagum dengan sifat Jaehyun yang satu ini. Maksudnya, sebagai ketua dia terlihat tegas juga bertanggung jawab pada anggota timnya.
Tapi kalau mengingat Jaehyun itu orangnya kadang suka memaksa (seperti permintaan Jaehyun padanya) membuatnya sering gregetan sendiri.
"Ayo pulang."
Doyoung tersadar dari pemikirannya akan Jaehyun. Lalu dia pun beranjak untuk pulang, saat dia akan melangkahkan kakinya menuju halte bis, sebuah tangan menahannya.
"Mau kemana?" Tanya Jaehyun.
"Halte bis."
Jaehyun menatap Doyoung dan menghela nafas. "Aku antar pulang, tunggu disini aku akan mengambil motor."
Tanpa babibu Doyoung pun menurut dan pulang bersama Jaehyun.
Sesampainya di depan rumah, Doyoung segera turun. Lalu melambaikan tangan pada Jaehyun berharap pria itu cepat pergi dari hadapannya.
Tapi Jaehyun masih memandang Doyoung beberapa saat. "Besok pagi aku jemput."
Doyoung baru saja akan mengelak namun Jaehyun segera menimpali, "Tidak usah beralasan, besok jam setengah 7 harus sudah siap. Mengerti?"
Hingga si pria bermata kelinci itu hanya dapat mengangguk pasrah, barulah Jaehyun menjalankan motornya, pergi dari hadapan Doyoung.
"Cieee sekarang sudah punya pacar yaaa." Gongmyung, kakak Doyoung segera menggodanya tepat saat dia membuka pintu utama.
Tuhkan ketahuan, batin Doyoung.
"Maah, adek udah punya pacar looo." Teriak Gongmyung. Kemudian tas yang di punggung Doyoung kini melayang pada tubuh kakaknya.
Ah, kau sadis juga ternyata, Kim Doyoung.
.
Who is worse, you or me?
It's a good thing that I caught you
Kini sudah hampir sebulan Doyoung mendapat rutinitas baru -menemani Jaehyun latihan. Sebagai anggota organisasi, dia sudah cukup sibuk tapi ternyata Jaehyun tidak segan-segan menambah kesibukannya.
Jaehyun selalu meminta Doyoung menemaninya berlatih, walaupun sedang tidak bersama timnya.
Contohnya saja kali ini, Doyoung menemani Jaehyun berlatih sendirian di lapangan basket. Peluh sudah membanjiri wajah dan tubuhnya tapi Jaehyun tak kunjung pergi ke pinggir lapangan untuk beristirahat.
Hingga Doyoung mau tidak mau ke tengah lapangan, tak lupa membawa handuk di tangannya. Jaehyun yang keheranan melihat Doyoung berjalan ke arahnya, berhenti memainkan bola basketnya.
Tiba-tiba saja Doyoung mengulurkan handuknya tepat di wajah Jaehyun. Membantu menyeka keringat 'kekasih'nya tersebut.
"Aigoo, tidak bisa ya ke pinggir lapangan dulu untuk istirahat."
Sementara Jaehyun tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya, hal yang jarang sekali Doyoung lihat. Sekalinya melihat, pipinya langsung memerah, jantungnya berdegup lebih cepat.
Jaehyun tertawa ringan. "Terima kasih."
Doyoung berdeham. "Hm." Tapi Jaehyun masih senantiasa menatap wajahnya membuat Doyoung salah tingkah.
"Doyoung." Panggil Jaehyun.
"Ya?"
"Ambilkan minuman, aku haus." Ucap Jaehyun.
Doyoung hanya mengerutkan dahinya dan berjalan ke pinggir lapangan sambil sedikit menghentakkan kakinya.
"Apa-apaan. Aku disini cuma dijadikan pembantu. Apanya yang disebut kekasih?" Doyoung menggerutu sendiri sambil mencari botol air minum di dalam tas.
"Apa kau bilang?"
Terkejut, Doyoung pun membalikkan tubuh dan terduduk di samping tasnya. Tiba-tiba saja Jaehyun sudah ada di dekatnya.
Dengan santai Jaehyun mengambil botol dalam tas tanpa kesulitan mencari dan meminum isinya beberapa teguk.
"Aku mendengar ucapanmu tadi." Ujar Jaehyun.
Doyoung sendiri gelagapan. "Em.. Ucapan yang mana ya?"
Jaehyun meletakkan kembali botol air minumnya lalu dia sedikit berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Doyoung. Kedua tangan Jaehyun kini masing-masing berada di sisi tubuh Doyoung.
Kemudian dengan kesadaran penuh, Doyoung tahu bahwa Jaehyun mendekatkan wajahnya sendiri padanya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Doyoung saat dirasa jaraknya belum cukup dekat. Bukannya apa tapi dia tidak mau pasrah ataupun percaya diri dan menutup matanya begitu saja.
Tapi justru yang dilihat Doyoung adalah Jaehyun tersenyum padanya. Menatap matanya dengan.. entahlah, tidak mungkin Doyoung akan mengatakan sorot mata kasih sayang bukan? Yang jelas tatapan itu berbeda dari biasanya, membuat Doyoung sendiri balik membalas tatapan Jaehyun padanya.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang sepasang kekasih lakukan." Ucap Jaehyun.
Kini tanpa Doyoung sadari, tangan kanan Jaehyun sudah meraih tengkuknya. Bibir pria itu menempel penuh pada bibirnya.
Jaehyun menggigit bibir bawah Doyoung membuatnya membuka sedikit bibirnya. Dia menggunakan kesempatan itu untuk meraup bibir kekasihnya, melumatnya perlahan.
Doyoung terlena dan mulai menutup matanya, membiarkan Jaehyun mendominasi ciuman pertama mereka.
.
Don't look at me with those shocked eyes
Should I just confess everything now?
Keesokan harinya kantung mata terlihat jelas di bawah mata kelinci Doyoung. Dia tidak bisa tidur karena memikirkan ciumannya dengan Jaehyun kemarin.
"Ngelamun terus." Tiba-tiba Rowoon berada di samping Doyoung. Rowoon adalah teman dekat Doyoung, selain Ten. Bedanya, anak tinggi yang satu itu senang sekali menggodanya, bahkan ketika dia sudah dikabarkan berpacaran dengan Jaehyun.
"Nanti cantiknya hilang loo." Ujar Rowoon lagi.
Doyoung mendengus, "Siapa juga yang cantik."
"Aku." Sahut Ten, di sebelah kanan Doyoung. Sambil menyomot makanan Doyoung yang masih utuh tidak tersentuh. Ngomong-ngomong mereka sedang berada di kantin.
Sementara Rowoon tidak menggubris Ten, tapi malah mendekatkan dirinya pada Doyoung.
"Apaan sih?" Ujar Doyoung, berusaha mendorong lengan atas Rowoon.
"Ih, tambah lucu deh kalau seperti itu." Lalu, 'cup' Rowoon mengecup pipi Doyoung singkat.
Doyoung menyentuh pipi dengan wajahnya yang terkejut. "Ya!" Sebenarnya Doyoung ingin membentak tapi Rowoon hanya nyengir saja di hadapannya.
"Kim Doyoung."
Suara itu.
Doyoung membalikkan tubuhnya, Jaehyun berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
"Ikut aku." Kemudian, seperti deja vu, Jaehyun menarik tangan Doyoung agar mengikutinya.
Seperti biasa, mereka kini berada di lapangan basket. Jaehyun menghempaskan tangan Doyoung kasar. "Kenapa kau hanya diam saja saat laki-laki lain menyentuhmu?!" Ucap Jaehyun tajam.
Doyoung masih terdiam. Jaehyun baru saja membentaknya?
"Oh, apa kau memang suka disentuh seperti itu oleh semua laki-laki?"
Kini Doyoung menatap Jaehyun nyalang, tidak percaya jika pria itu akan berkata sedemikian kasar.
"Rowoon itu temanku, dan aku juga tidak tahu kenapa dia melakukannya!"
Jaehyun mendengus. "Kau kan bisa saja menghindarinya sejak awal dia datang! Atau kalau perlu menamparnya setelah dia menciummu tadi!"
"Harusnya aku yang menamparmu, Jung Jaehyun." Ucap Doyoung datar.
"Apa kau bilang?"
Doyoung menghela nafas. "Sudahlah. Lagipula semua ini bukan urusanmu."
"Tapi kau ini kekasihku!" Ujar Jaehyun frustasi.
"Oh ya? Bahkan status kita kau yang menentukannya secara sepihak." Tantang Doyoung, walaupun dia sendiri sebenarnya merasa sedikit takut.
Jaehyun lalu tertawa, yang membuat Doyoung tambah tidak mengerti. Kemudian pria itu tersenyum kecut.
"Menurutmu, kenapa aku kemarin menciummu? Apa menurutmu aku akan mencium sembarangan orang?"
Jantung Doyoung berdegup lebih cepat. Kedua tangannya dikepalkan di samping tubuh, dia tidak bisa menjawabnya. Bingung akan merespon seperti apa, dia menundukkan wajah, tidak sanggup lagi menatap wajah Jaehyun.
Beberapa detik kemudian Doyoung merasa sepasang lengan melingkari tubuhnya. Wangi parfum Jaehyun tercium dari jarak sedekat ini.
"Aku cemburu." Ucap Jaehyun. "Aku tidak suka kau dekat dengan laki-laki lain."
Doyoung tidak mempercayai pendengarannya.
Kemudian Doyoung mendongak, mulai berani menatap mata pria di depannya.
Kali ini Jaehyun tersenyum.
"Aku menyukaimu."
Katakan ini bukan tanggal 1 April, batin Doyoung. Karena apabila ini benar April's fool maka dia akan benar-benar membenci Jaehyun karena telah membuat jantungnya berdetak tak karuan seperti ini.
"A-apa maksudmu?" Ujar Doyoung terbata.
"Sepertinya kau benar-benar melupakan aku ya." Jaehyun melepas pelukannya dan kini satu tangan mengetuk dahi Doyoung.
Doyoung mengerutkan kening, tidak paham. Melihat ketidaktahuan menyelimuti wajah Doyoung, Jaehyun menghela napas.
"Kau ingat tidak, anak laki-laki yang kau tolong di taman dekat dengan sekolah dasarmu dulu?"
Oh, sepertinya Doyoung mulai mengingat adegan pada masa lalu.
.
9 years ago..
Seorang laki-laki kecil nampak sedang mengerucutkan bibirnya lucu, dia sudah pulang sekolah sekitar setengah jam yang lalu namun ayahnya tak kunjung datang menjemput.
Dia tahu sih, ayahnya sedang sibuk dengan proyeknya, sementara ibunya tidak bisa menjemput karena menjaga neneknya yang sakit.
Jadi dia memilih untuk melangkahkan kaki kecilnya ke taman bermain dekat sekolah.
"Hiks.."
Pendengaran anak itu ia tajamkan, seperti ada anak yang menangis, batinnya.
Mata kelinci anak itu membulat melihat anak yang sepertinya hampir seumuran dengannya menangis tersedu di pinggir tangga perosotan. Lalu ia beranjak mendekatinya.
"Kamu kenapa?"
Sementara anak yang menangis itu menatap Doyoung sambil mengusap air mata dari pipi gembulnya. "A-aku kehilangan ibuku." Ujarnya.
"Memang kemana ibumu?"
Anak yang berpipi tembam itu pun menggeleng, tangisnya kini agak mereda. "Aku baru saja pindah di sini. Ibuku mengajak jalan-jalan tapi aku kehilangannya."
Anak yang lebih kurus kemudian mengulurkan tangannya. "Sini, aku bantu mencari ibumu."
Kemudian tanpa berpikir panjang, anak yang menangis tadi menerima uluran tangan anak satunya. Lalu mereka berjalan di sekitar taman, lebih dekat dengan batasan pagar dan duduk di sana.
"Sebentar lagi aku akan dijemput oleh ayahku, nanti kita cari bersama-sama ya! Ayahku pasti tau solusinya." Ucap si anak laki-laki kurus itu dengan ceria.
Si anak pipi gembul itu tersenyum dan mengangguk.
"Jaehyun!"
Tiba-tiba suara seorang wanita umur 30 tahunan mendekati mereka, lalu memeluk anak yang menangis tadi, si anak pipi tembam.
"Jaehyun, ibu mencarimu kemana-mana. Maafkan ibu." Ucapnya sambil mengecupi puncak kepala anak itu.
Mata kelinci anak satunya mengerjap beberapa kali. Baru mengetahui adegan seperti ini dalam hidupnya.
Jaehyun, anak yang dipanggil tadi, kini tersenyum di pelukan ibunya. "Ibu, anak itu yang menemaniku mencari ibu." Tunjuknya pada si anak dengan mata kelinci.
Kemudian ibu Jaehyun, mengelus pipi anak di sampingnya. "Oh, Terima kasih ya sayang, siapa namamu?"
Pemilik mata kelinci itupun tersenyum cerah, "Doyoung. Namaku Kim Doyoung."
Flashback end.
.
Doyoung menatap Jaehyun tak percaya. "Kau anak yang di taman bermain itu? Yang berpipi gembul dan menangis di bawah tangga perosotan?" Jari telunjuknya mengarah pada Jaehyun, lalu dia tertawa.
Jaehyun memberengut. "Jangan tertawa."
Doyoung pun berhenti tertawa dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
Jaehyun menarik nafas panjang. "Jadi?"
Sementara Doyoung menaikkan kedua alis.
Jaehyun melanjutkan. "Kau kan sudah tahu aku menyukaimu sejak saat itu, dan merasa senang sekali saat mengetahui kita berada di sekolah yang sama." Kemudian Jaehyun tersenyum. "Aku sering mengamatimu. Tapi kau terlalu dekat dengan Ten dan si tinggi Rowoon itu." Senyumannya luntur dan tergantikan oleh raut muka tidak suka.
"Maaf.. Aku tidak mengenalimu." Ujar Doyoung.
Jaehyun menggeleng. "Tidak apa-apa. Tapi.. Bisakah mulai sekarang kau mencoba untuk 'melihatku'? Aku tahu kau tidak membenciku, kalau dilihat dari tatapan matamu."
Iya kau benar, bahkan aku sudah mulai melihatmu Jaehyun, batin Doyoung.
Walau bagaimanapun, Doyoung tersenyum dan mengangguk. Membuat Jaehyun senang luar biasa. Direngkuhnya Doyoung kembali dalam pelukannya.
Kemudian Jaehyun menatap Doyoung dalam, dari mata, hidung, kemudian bibirnya. Dia mendekatkan diri dan Doyoung paham ketika napas Jaehyun mulai menerpa wajahnya. Doyoung tidak menolak. Membiarkan bibir mereka bertemu untuk yang kedua kalinya.
..
..
..
"JUNG JAEHYUN, KIM DOYOUNG. Ikut saya ke ruang BK sekarang juga!!" Dengan wajah memerah, guru Lee meneriaki mereka dari pinggir lapangan seberang.
-end.
.
Song by Brown Eyed Girls - Kill Bill
.
Sumpah ini sebenarnya judul dan liriknya nggak sesuai sama jalan ceritanyaa wkwk
Tapi aku tertarik sama liriknya yang malah bikin aku buat fanfic ini XD
Ohiya, aku mau berterima kasih dengan yang sudah mereview fanfic ini yumegurikawa (guest), tenbreeze, AqueousXback /yg udah review berkali-kali hehe, bapjuseyo, markhyucktrash /maaf belum bisa bikin requestnya uh, dietsney, ttoki ttoki, Bkhyn04, Kirisha Zwingli, konijntjesmeisje /aku ngakak baca komentar darimu wkwk, dan 1 guest lainnya terima kasih yaa
Ayok ayok yang belum review aku tunggu review kalian, kasih kritik saran apa aja boleh hehe, yang udah review juga boleh review lagii aku seneng malahan
See you next month? :3
