It's a Hurt Love.
.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Seorang wanita paruh baya tengah berdiri didepan sebuah pintu rumah seseorang yang terlihat cukup mewah. Wanita paruh baya itu menghela nafasnya mencoba menenangkan dirinya agar ia tak gugup. Dan saat sudah siap wanita itu kini menekan sebuah tombol yang terdapat dirumah itu, sesaat setelah menekan tombol itu, terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang dari dalam sana.
Gadis itu tersenyum saat mengetahui seorang wanita paruh baya tengah berdiri disana dengan wajah kagumnya.
"Eomma!" Seru gadis itu dengan nada cerianya memanggil wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan mengikuti gadis itu masuk kedalam rumahnya. Dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah itu saat gadis itu menyuruh.
"Rumahmu tampak besar dan mewah." Puji wanita itu dengan wajah kagumnya.
Gadis itu hanya tersenyum menanggapi kekaguman ibunya itu.
"Sebenarnya ini bukan rumahku eomma, ini rumah orang yang menolongku saat aku tenggelam." Jelas gadis itu yang kini tampak sibuk membuatkan minuman untuk ibunya itu.
Wanita paruh baya itu hanya terdiam mendengar penjelasan dari putrinya itu.
"Apa kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang?" Tanya wanita paruh baya itu saat gadis itu telah duduk di sampingnya dan memberikan segelas jus jeruk dimeja yang berada didepan wanita paruh baya itu.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan ibunya dengan menggenggam erat gelas yang kini berada ditangannya.
"Apa kau bahagia tanpa Jongin?" Tanya wanita itu dengan serius menatap putrinya.
Terlihat kini raut wajah gadis itu tampak berubah menjadi sendu. Ia bahkan hampir saja menjatuhkan gelas yang berada ditangannya itu kerena pertanyaan sang ibu.
"Ah, maksudku apa kau tidak merindukannya?" Tanya wanita itu lagi dengan masih menatap putrinya itu.
"Eomma aku..."
"Kyungsoo, eomma hanya ingin memastikan kau bahagia, jadi jangan siksa dirimu sendiri. Kau sudah cukup lama menderita." Ucap wanita itu memotong perkataan gadis itu
Wanita itu menggenggam erat tangan si gadis yang bernama Kyungsoo itu.
"Eomma..." Panggil Kyungsoo dengan menatap sang ibu.
"Aku...aku sangat merindukannya." Ungkap Kyungsoo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Wanita paruh baya itu tersenyum saat mendengar ungkapan dari putrinya itu. Ia merasa senang karena dengan begitu Jongin tidak akan sedih kembali dan bertingkah seperti orang gila seperti dua hari yang lalu.
Ya, setelah hari dimana Kyungsoo bertemu dengan nyonya Do dikedai dan mengatakan jika ia tidak ingin kembali lagi, seketika itu juga Jongin berubah menjadi lebih gila dari biasanya bahkan pemuda itu tidak keluar rumahnya selama dua hari ini.
Jadi nyonya Do pikir jika ia dapat meyakinkan Kyungsoo mungkin Jongin akan kembali menjadi Jongin yang dulu Jongin yang selalu tersenyum lebar bukan Jongin yang selalu memaksakan senyumannya dengan tatapan sendunya serta berbagai kegilaannya.
"Tapi eomma aku benar-benar tidak bisa kembali terlebih jika aku harus bersama Jongin." Lanjut Kyungsoo dengan menatap ibunya itu.
Mendengar itu seketika wanita paruh baya itu melepaskan genggaman tangan ditangan Kyungsoo. Ia terlihat sangat kecewa karena itu.
"Aku tidak bisa jika harus bersama dengan Jongin eomma, aku tidak bisa." Kata Kyungsoo yang mulai mengeluarkan cairan bening dari kedua mata bulatnya itu.
"Apa kau tidak kasihan padanya? Kau tahu berapa lama ia menunggumu?" Tanya wanita itu yang kini mulai berkaca-kaca karena mengingat bagaimana selama ini Jongin bertahan dan terus mencari Kyungsoo.
"Apa kau tahu? Ia pergi dari rumahnya hanya untuk merawat dan menjagaku karena ia ingin saat kau datang kau masih bisa melihatku. Kau tahu itu Do Kyungsoo?" Tanya wanita itu dengan mengguncang tubuh Kyungsoo.
Kyungsoo yang mendengar hal tersebut merasa terkejut karena selama ini Jongin hidup dengan hanya dipenuhi dirinya dan dirinya adalah poros dari kehidupan pemuda itu begitulah menurut Kyungsoo.
"Bukan hanya aku, dia juga diam-diam menemui ibu kandungmu dan memintanya agar saat kau kembali nanti dia tidak mencampakkanmu kembali. Bahkan ia juga selalu menjaga dan melindungi Baekhyun. Dia bilang kau pasti akan datang jika semua orang yang kau sayangi bahagia. Kau tahu itu?" Jelas wanita itu.
Kyungsoo mulai memejamkan matanya karena merasa tidak kuat mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya itu. Ia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang selama ini telah ia lakukan pada semua orang. Ia merasa jika dirinya sangat egois ia pikir jika ia menghilang maka Jongin dapat melupakannya dan Baekhyun bisa bersama dengan pemuda itu namun nyatanya Jongin justru semakin tergila-gila padanya.
"Tidak eomma." Kata Kyungsoo dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa." Lanjut Kyungsoo.
Wanita itu kini menghapus airmatanya dan menghela nafasnya sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah, kalau begitu jangan temui aku lagi, jangan muncul lagi di depan kami, aku mengizinkanmu untuk pergi jadi pergilah dan berbahagialah. Anggap saja kau tidak mengenal kami dan aku juga akan menganggap jika Do Kyungsoo sudah mati. Sekarang aku mengerti aku tidak akan menemuimu lagi." Ucap wanita itu yang kemudian berdiri dari tempat duduknya itu.
Kyungsoo hanya terdiam dan menatap lurus dengan pandangan kosongnya ia benar-benar sangat kacau saat ini. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Wanita itu menatap Kyungsoo untuk terakhir kalinya lalu meletakkan sesuatu diatas meja itu dan kemudian berlalu meninggalkan rumah itu.
Kyungsoo yang mendengar suaru sesuatu yang diletakkan dimeja tersebut kemudian menolehkan kepalanya dan menatap benda itu.
Ternyata itu adalah sepatu yang dulu dibelikan oleh ibunya saat ia remaja dulu. Seketika ingatan itu kembali muncul di memori Kyungsoo. Ia sangat ingat bagaimana ibunya membelikan sepatu itu dan memberikannya.
Dengan cepat Kyungsoo mengambil sepatu itu dan mengejar ibunya yang telah meninggalkan rumah itu.
.
.
.
Baekhyun tengah duduk disalah satu kefe dekat yang tak jauh dari butiknya. Sebenarnya saat ini Baekhyun tak sendirian karena didepannya sudah ada seorang pemuda jangkung yang menemaninya saat ini.
Mereka memang berjanji untuk bertemu dan berniat untuk makan bersama saat ini. Mungkin bisa dibilang pemuda jangkung itulah yang mengajak Baekhyun untuk makan bersama.
"Baek, aku ingin ke toilet sebentar." Pamit pemuda itu kepada Baekhyun.
Baekhyun menjawab pamitan itu dengan hanya menganggukkan kepalanya. Dan setelah mendapatkan persetujuan dari Baekhyun pemuda itu akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju kamar mandi yang telah tersedia disana.
Baekhyun dengan tenang melihat kesekelilingnya dan menunggu pesanannya datang. Namun entah kenapa saat ia melihat benda persegi tergeletak didepannya itu, ia merasa sangat tertarik dengan benda itu. Ia ingin melihat apa saja isi didalam benda tersebut.
Dan tanpa ragu Baekhyun mengulurkan tangannya meraih benda tersebut.
"Ayo kita lihat apa isi didalamnya." Kata Baekhyun yang kini sudah menggenggam benda itu.
Saat Baekhyun baru saja menekan tombol power terpampanglah foto pemuda dengan seorang gadis dan mereka tersenyum lebar disana.
"Manis sekali mereka. Astaga aku iri." Kata Baekhyun dengan senyumannya menatap layar pada benda itu.
Namun setelah dilihat-lihat seperti ada yang aneh dengan foto dilayar tersebut. Baekhyun merasa sangat familiar dengan gadis yang berada disamping pemuda itu.
"Kyungsoo?" Tanya Baekhyun pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
Jongin, pemuda itu tengah berdiri disana, didepan pintu rumah milik seseorang yang telah membuatnya gila saat ini. Tapi ia disana bukan untuk menunggu gadis itu melaikan ia disana menunggu seseorang yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Saat pintu itu terbuka Jongin segera menatap pintu itu dan benar saja seorang wanita paruh baya keluar dari sana dengan wajah sedihnya.
"Ya! Sudah ku katakan aku baik-baik saja kenapa harus kemari? Kau membuatku khawatir." Ucap Jongin yang terlihat khawatir dengan keadaan wanita itu.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya wanita itu dengan menatap Jongin.
"Tentu saja untuk menjemputmu, aku datang ke kedai tadi tapi Jung Ah bilang kau pergi menemui putrimu jadi aku kemari." Jawab Jongin dengan senyumannya.
"Jongin?" Panggil nyonya Do.
"Hm?" Jawab Jongin dengan menatap wanita itu masih dengan senyumannya.
Wanita itu kini menatap Jongin dengan tatapan ibanya. Ia benar-benar kasihan pada pemuda itu, ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa membujuk Kyungsoo untuk kembali.
"Maafkan aku." Sesal wanita itu dengan menggenggam tangan Jongin.
"Tidak, aku sudah cukup senang karena ia benar-benar masih hidup." Jawab Jongin dengan senyumannya yang ia paksakan.
"Eomma!" Panggil Kyungsoo saat ia membuka pintu rumah itu.
.
.
.
"Chanyeol?" Panggil Baekhyun kepada Chanyeol yang saat ini sibuk fokus menatap jalan didepannya.
"Hm?" Gumam Chanyeol yang menjawab panggilan Baekhyun.
"Aku ingin bertanya padamu?" Tanya Baekhyun yang tampak ragu dengan pertanyaannya.
"Tanyakan saja Baek." Jawab Chanyeol dengan santainya.
"Tunanganmu itu, apa sebenarnya dia adalah Kyungsoo?" Tanya Baekhyun yakin dan menatap Chanyeol.
Chanyeol yang mendengar pertanyaan itu segera menginjak remnya hingga membuat badan keduanya tersungkur kedepan. Dan Chanyeol segera menatap gadis itu karena saking terkejutnya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya Baekhyun yang menatap Chanyeol.
"Aku melihat wallpaper di ponselmu dan aku melihat sosok Kyungsoo disana, apa dia Kyungsoo? Apa selama ini kau menyembunyikan Kyungsoo?" Tanya Baekhyun yang semakin penasaran karena Chanyeol hanya diam dan menatapnya.
Chanyeol masih saja diam dan menatap Baekhyun dengan tatapan terkejutnya. Ia sangat terkejut karena Baekhyun akan mengetahuinya secepat ini.
"Jawab aku Chan! Apa selama ini kau menyembunyikan Kyungsoo? Dan bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" Tanya Baekhyun yang sudah sangat penasaran dan mulai tak sabar karena Chanyeol hanya diam saja tanpa berniat membuka mulutnya.
Chanyeol menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Setelahnya Chanyeol kembali mengemudikan mobilnya untuk menepikan mobil itu.
Setelah mobil itu menepi kini Chanyeol kembali menatap Baekhyun dengan serius.
"Dia memang Kyungsoo, Kyungsoo yang dicari oleh Jongin selama ini memang bersamaku. Saat itu pamanku menemukan Kyungsoo ditepi pantai, Kyungsoo dia terseret ombak saat badai itu datang dan karena hal itu Kyungsoo kehilangan ingatannya." Jelas Chanyeol.
"Lalu kenapa kau tidak memulangkan Kyungsoo ke rumahnya?" Tanya Baekhyun yang mulai sedikit kesal karena entah bagaimanapun juga Kyungsoo adalah adiknya dan yang jelas kekhawatiran seorang kakak kepada adiknya pasti ada dan muncul secara alamiah.
"Dan melihatmu tersiksa karena dia akan selalu bersama dengan Jongin begitu?" Tanya Chanyeol yang menatap Baekhyun.
"Apa?" Tanya Baekhyun yang tak mengerti dengan pertanyaan Chanyeol.
"Kau tahu Baek, kita akan sama-sama terluka jika Kyungsoo kembali bersama Jongin, kau tahu? Sebenarnya aku menyukai Kyungsoo dan karena itu aku memilih egois dengan tidak membawanya pulang ke keluarganya." Jelas Chanyeol yang tentu saja semuanya adalah kebohongan karena sebenarnya ia hanya ingin menjauhkan Kyungsoo dan Jongin demi kebahagiaan Baekhyun, gadis yang sangat ia cintai hingga ia melakukan apapun untuk membuat gadis itu bahagia.
Baekhyun yang mendengar itu hanya terdiam membisu tanpa berkata apapun. Ia terlihat gugup saat ini dan entah harus berbuat apa ia sungguh tak tahu.
"Jadi apa sekarang apa kau ingin aku membawa Kyungsoo kembali ke keluarganya dan membuat Kyungsoo kembali bersama Jongin lagi?" Tanya Chanyeol yang seperti mendesak Baekhyun untuk menyetujui rencananya.
Baekhyun semakin terlihat bingung saat ini, walaupun ia begitu mencintai Jongin tapi ia juga tidak bisa menyakiti Kyungsoo lagi terlebih semua masalah yang telah menimpa Kyungsoo. Ia memang tidak suka pada Kyungsoo tapi bagaimanapun Kyungsoo tetaplah adiknya.
"Kembalilah ke New York bersamanya." Ucap Baekhyun dengan menatap Chanyeol.
Baekhyun tahu ia sangat egois tapi entah kenapa ia sangat ingin bahagia terlebih bersama Jongin. Dan tanpa ia sadari ia sudah terlalu banyak melukai hati orang-orang yang menyayanginya dengan tulus terlebih hati seorang pemuda yang kini berada didepannya.
Chanyeol yang mendengar itu merasa hatinya terpukul tapi ia tetap saja menampakkan senyumannya didepan Baekhyun ia tidak ingin membuat gadis itu kembali bersedih lagi terlebih hanya karena Jongin. Ia akan melakukan segalanya demi Baekhyunnya, gadis yang sangat begitu ia cintai sejak dulu.
"Apapun Baek, asalkan kau bahagia maka aku juga akan bahagia." Batin Chanyeol.
.
.
.
.
.
Kyungsoo termenung diambang pintu itu dengan menggenggam erat sepatu yang diberikan ibunya. Ia tidak tahu jika ini diluar ternyata ada Jongin dan ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Begitu pula dengan Jongin dan nyonya Do. Jongin terus saja menatap gadis itu dengan tatapan sendunya. Ia benar-benar sangat merindukan gadis itu dan sangat mendambakan pelukan hangat gadis itu.
"Maaf telah mengganggumu, kami permisi dulu." Pamit Jongin yang tersadar jika tidak seharusnya ia terus menatap gadis itu dan membuat hatinya semakin terasa sakit.
Jongin dan nyonya Do segera berbalik dan hendak meninggalkan rumah itu.
"Jongin..." Panggil Kyungsoo saat Jongin baru beberapa langkah meninggalkan rumah itu.
Jongin dan nyonya Do seketika berhenti saat mendengar panggilan itu.
"Kim Jongin!" Panggil Kyungsoo lagi.
Jongin yang mendengar panggilan itu lagi segera berbalik dan menatap sendu Kyungsoo.
"Jongin..." Panggil Kyungsoo dengan suaranya yang sedikit parau.
Jongin terus menatap Kyungsoo dan mulai melangkahkan kakinya mendekati Kyungsoo.
"Aku akan kembali." Ucap Kyungsoo dengan menatap Jongin.
Jongin yang mendengar itu seketika menghentikan langkahnya dan menatap Kyungsoo dengan tatapan bingungnya.
"Aku akan tetap disini dan kembali kerumah." Ucap Kyungsoo lagi yang seolah tahua apa yang saat ini Jongin tanyakan dalam fikirannya.
"Jika kau bersama Baekhyun eonni maka aku akan kembali dan tetap disini." Lanjut Kyungsoo yang menatap Jongin dengan serius.
Jongin yang awalnya merasa sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Kyungsoo namun setelah gadis itu mengatakan hal itu, entah kenapa Jongin kembali merasa sakit. Ia benar-benar sudah tidak memiliki harapan bersama Kyungsoo saat ini.
Nyonya Do yang mendengar itu segera mendekati Kyungsoo dan setelah nyonya Do berada tepat didepan Kyungsoo, ia menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin seperti tatapan yang marah bercampur dengan sedih yang menjadi satu.
Plakkk
Dan saat itu pula nyonya Do melayangkan tangannya kewajah mulus Kyungsoo dengan sangat keras. Kyungsoo yang ditmpar oleh ibunya itu hanya diam saja bahkan ia merasa pantas mendapatkannya.
"APA KAU TAHU BAGAIMANA SELAMA INI IA MENDERITA KARENAMU?! KAU BENAR-BENAR GADIS BODOH!" Kata nyonya Do dengan mengguncang tubuh gadis itu agar gadis itu sadar.
"Bagaimana bisa kau memperlakukannya seperti ini?!" Kata nyonya Do yang sudah menangis histeris saat ini.
Sedangkan Kyungsoo sendiri hanya memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya, mencoba agar tangisannya tidak semakin menjadi-jadi namun apa boleh dikata hati dan matanya begitu menyatu sehingga apa yang dirasakan Kyungsoo saat ini membuat matanya berbicara jika saat ini ia benar-benar sudah sangat kacau hingga rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saja.
"Eomma tahu?" Tanya Kyungsoo pada wanita itu dengan suara paraunya.
"Baekhyun eonni, aku sangat menyayanginya, aku hanya ingin membuatnya bahagia. Dan saat ini kebahagiannya adalah Jongin, jadi aku ingin Baekhyun eonni bersama dengan Jongin." Ucap Kyungsoo dengan menatap wanita didepannya dan menggenggam tangan itu.
"Apa selama ini kau sudah bahagia? Apa kau pikir kau juga akan bahagia dengan keputusanmu? Kenapa kau masih saja bodoh Do Kyungsoo!" Kata nyonya Do yang masih saja menangis melihat bagaimana menderitanya gadis itu sejak ia masih kecil hingga saat ini.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya menyangkal pernyataan ibunya itu.
"Tidak, aku cukup bahagia eomma. Aku bahagia jika aku bisa bersama eomma." Jawab Kyungsoo dengan senyumannya walaupun airmatanya masih saja terus mengalir.
"Lalu apa kau pikir Jongin akan bahagia dengan keputusanmu?" Tanya wanita itu lagi.
Kyungsoo yang ditanyai seperti itu oleh ibunya kini menatap Jongin yang masih berdiri ditempatnya dengan airmata yang membasahi wajahnya. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Jongin saat ini. Ia menatap sendu pemuda itu yang termenung ditempatnya dengan lelehan airmata yang terus saja mengalir dari matanya.
Kini Jongin mengalihkan pandangannya dan menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sama sendunya dengan tatapan Kyungsoo.
"Jangan menangis, aku tahu kau laki-laki yang kuat. Jadi hapuslah airmatamu Kim Jongin." Batin Kyungsoo yang terus saja menatap sendu pemuda itu.
"Apa kau benar-benar bahagia? Apa kau akan baik-baik saja jika aku melakukannya?" Tanya Jongin didalam hatinya dengan terus menatap Kyungsoo.
"Kenapa nasib kalian harus seperti ini?" Tanya nyonya Do yang entah pada siapa.
Nyonya Do benar-benar tidak bisa melihat Kyungsoo dan Jongin yang ia anggap seperti anaknya sendiri kini bernasib serumit ini.
Jongin terus menatap Kyungsoo dengan tatapannya yang sulit diartikan tapi yang jelas tatapan itu seolah menandakan jika Jongin sangat merindukan gadis itu dan sangat sedih jika ia harus kehilangan gadis itu.
Jongin mulai melangkahkan kakinya mendekati Kyungsoo disana, hingga akhirnya ia sampai didepan Kyungsoo.
"Ayo kita lakukan jika itu membuatmu bahagia Do Kyungsoo." Ucap Jongin dengan menatap gadis itu.
Kyungsoo yang mendengar itu bukannya merasa lega tapia justru merasa semakin sakit. Bahkan airmatanya sudah meluncur dengan mulusnya membasahi pipinya.
"Kalian benar-benar bodoh, aku tidak ingin berurusan lagi dengan kalian." Kata nyonya Do yang merasa sangat putus asa dengan kedua orang itu.
Hingga akhirnya wanita itu memutuskan pergi dari sana dengan airmata yang masih bernilang diwajahnya.
Sedangkan baik Jongin maupun Kyungsoo sendiri kini hanya terus saling bertatapan dengan dipenuhi airmata dipeluk mata mereka masing-masing.
"Aku akan bahagia jika kau juga bahagia Do Kyungsoo." Kata Jongin yang masih menatap gadis itu.
Kyungsoo yang mendengar itu, kembali mengeluarkan airmatanya dari mata bulatnya itu.
"Tapi ijinkan aku melakukan satu hal untuk terakhir kalinya." Kata Jongin yang kini sudah meraih wajah Kyungsoo.
Kyungsoo hanya terdiam dan menatap Jongin yang menangkup salah satu pipinya dengan satu tangan kekar itu. Mereka hanya terdiam dan saling bertatapan tapi yang jelas saat ini wajah keduanya sudah mulai berdekatan hingga akhirnya mereka menghapus jarak yang tersisa.
"Aku mencintaimu Do Kyungsoo."
"Aku mencintaimu Kim Jongin."
Batin keduanya saat bibir mereka saling bersentuhan. Mereka berciuman dengan penuh kelembutana seolah-olah mereka ingin mengungkapkan perasaan mereka melalui ciuman itu. Ciuman yang pertama kali mereka dapatkan selama seumur hidup mereka.
Ciuman menyedihkan yang dipenuhi dengan airmata dan kerinduan terlebih lagi kenyataan jika mereka mungkin tak akan pernah bisa bersama.
Lumatan demi lumatan lembut mereka berikan satu sama lain seolah mereka tak akan pernah bisa lagi melakukan hal tersebut. Entah dosa apa yang telah mereka perbuat hingga mereka memiliki kisah cinta menyedihkan ini.
Dan tanpa mereka sadari seorang pemuda tengah duduk melihat pemandangan itu sejak tadi didalam mobilnya. Ia melihat semua yang terjadi karena pemuda itu tiba saat Kyungsoo baru saja membuka pintu rumah itu.
Pemuda itu sama sekali tidak berniat untuk pergi ataupun menegur kedua orang yang tengah berciuman itu. Ia hanya ingin menjadi pengamat disana dan melihat apakah kisah mereka akan berakhir tragis seperti remeo dan juliat ataukah berakhir bahagia.
"Seharusnya kau melihatnya Baek." Kata pemuda itu entah pada siapa.
"Maafkan aku karena telah menyakiti kalian, maafkan aku." Sesal pemuda itu.
Dan entah kenapa pemuda itu sudah mengeluarkan airmatanya dari mata besarnya itu. Ia merasa bersalah kepada dua orang yang sedang berciuman itu, ia selalu bertanya-tanya kenapa cinta mereka serumit ini? Mungkin jika salah satu dari mereka mencoba mengikhlaskan mungkin tidak akan menjadi serumit ini.
Setelah puas dengan apa yang ia lihat pemuda itu segera memutar arah mobilnya dan pergi dari sana meninggalkan Kyungsoo dan Jongin yang masih berciuman.
.
.
.
.
.
TBC.
.
Hallo? Hehehe maafkan author labil ini. Alhamdulillah setelah mencoba mengembalikan feel akhirnya bisa juga dan beruntung ini gara-gara temen Hee yang tiba-tiba tanya-tanya drama I Miss You dan cerita-cerita itu drama hingga akhirnya feel Hee balik lagi dan Hee ngetik ff ini sambil nangis gara-gara saking menghayatinya.
Hee gamau banyak-banyak jadi Hee ucapin terima kasih buat semuanya dan maaf jika Hee banyak kesalahan. Please give me a support.
Sekedar bocoran Hee punya niat bikin squel ff ini nantinya dan squelnya juga bakal ada konflik yang complicated jadi siapin hati tenaga dan pikiran kalian kalau Hee bikin squelnya.
See you next chapter~~
Salam cinta dari Hee :*
.
'Dongvil'
