Copyright © 2016 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
The Way To Love You
Genre : Drama, Hurt/Comfort
Rate : M
Pairing : HunHan as Maincast.
Chapter : 11/11
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.
Summary : Luhan tahu jika dia tidak punya hak untuk jatuh cinta, mencintai, dan dicintai. Kala Oh Sehun datang, persepsi itu pun dikesampingkan dan dia menjatuhkan diri padanya. Kiranya, semuanya akan baik-baik saja jika Luhan terus diam menyimpan rahasianya. Berbohong akan menjadi satu dispensasi untuknya; agar dia bisa terus bahagia bersama Oh Sehun.
BGM : Be With You by Akdong Musician
Luhan tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang pengantin di hidupnya. Masalah akan keluarga serta lingkungan dalam pekerjaan sudah memberinya banyak beban secara mental. Dia tidak pernah berharap bisa menikah, sebab pernikahan bukanlah suatu jalan keluar demi mengatasi semua masalahnya.
Dunia berputar dalam waktu yang cukup singkat. Dalam tiap detiknya, satu keajaiban muncul dan disusul yang lain. Luhan punya kesempatan untuk mendapatkannya, lalu Oh Sehun-lah yang telah ditunjuk sebagai pembuka gerbang menuju kebahagiaan. Memang semuanya kelihatan tidak masuk akal. Tapi nyatanya, keajaiban itu memang benar-benar ada dan berpihak kepada Luhan.
Semua yang terjadi dalam hidup Luhan memang cukup sulit. Nyaris tidak ada kebahagiaan di ingatannya. Walau pun begitu, dia memiliki beberapa hal yang disukainya, seperti senyuman ibunya atau pun kasih tulus dari Sehun. Dua hal itu kelihatan sama, Luhan benar-benar yakin jika memang keduanya tidak berbeda setitik pun.
Mereka berdua pernah mengalami masa sulit, ketika kepercayaan menjadi batu sandungan. Seperti yang pernah Luhan pelajari, emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Begitu pula apa yang pernah dilakukan Sehun demi membuat semuanya jelas. Luhan waktu itu butuh waktu untuk menjelaskan semuanya, tapi Sehun keburu meledak. Laki-laki itu memang pantas mengutarakan kekecewaan dan kemarahannya. Karena sudah terjadi, mereka pun berpisah.
Kemudian tanpa disangka, takdir kembali menarik keduanya mendekat.
"Aku mungkin jadi pengantin yang paling bahagia sedunia," Luhan menggumam saat dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Resepsi pernikahan baru saja berakhir. Kini sepasang pengantin baru itu berada di sebuah kamar di hotel yang sama dengan ballroom tempat mereka menggelar resepsi.
"Kurasa, aku juga begitu," Sehun tertarik untuk datang. Memeluk istrinya dari belakang merupakan hal yang disukainya akhir-akhir ini.
"Terimakasih karena sudah menemukanku."
Mereka berpandangan lewat pantulan cermin saat Luhan mengatakan kalimatnya.
"Terimakasih karena sudah menggenggamku lagi, Sehun."
Sehun tersenyum dan mengecup bibir Luhan sekali lagi. Hari ini, dia sudah melakukan hal yang sama sekitar sepuluh kali. Kebahagiaan itu tidak bisa disembunyikan seorang diri oleh Sehun.
"Aku mungkin tidak bisa memberimu kenangan yang seratus persen bagus dan di indah di masa lalu. Tapi mulai sekarang, aku akan berusaha membuatnya, satu demi satu," sahut Sehun. "Kau harus bahagia."
"Kupikir, takdir tidak benar-benar mengkhianatiku. Kau menjadi kunci utama dalam kebahagiaanku, Sehun."
"Aku senang mendengarnya," tangan mereka saling menggenggam erat. "Aku berharap kita bisa terus berjalan ke depan, tanpa sedetik pun menoleh kebelakang. Kau mengerti maksudku?"
Kepala Luhan menoleh sehingga dia bisa memandangi wajah suaminya. Senyuman itu kembali terlukis pada bibir, dia pun mengangguk.
"Aku berjanji," bisik Luhan. "Aku berjanji, Sehun."
oOo
Sehun menyadari jika dia tidak bisa mencampuri hubungan antara istrinya dan Chanyeol. Luhan bisa kelihatan sangat terhibur saat Chanyeol berada di dekatnya, itu merupakan poin yang sulit dimiliki Sehun. Di hari pernikahan mereka, Chanyeol datang seorang diri sebab Baekhyun sudah sering mengalami kontraksi. Laki-laki itu mendapatkan waktunya untuk berbincang dengan Luhan, yang mana itu membuat Sehun tidak senang.
Cemburu di hari pernikahan merupakan hal yang tidak lucu. Sehun tahu jika dia tidak boleh cemburu. Luhan baru saja menjadi istrinya, seratus persen dia memercayai Luhan yang cuman mencintainya. Lagi pula, apa yang sudah terjadi antara istrinya dan Chanyeol sudah lama berlalu.
Sudah lama berlalu tapi masih terus berlanjut.
Sehun baru menyadarinya sesaat setelah dia membaca pesan percakapan antara Luhan dan Chanyeol di ponsel Luhan. Pesan dari Chanyeol merupakan alasan yang membuat Luhan sering mengecek dan mengetik sesuatu di waktu senggang. Mereka masih saling berkirim pesan.
Setelah Baekhyun melahirkan, Chanyeol mengirim banyak pesan gambar. Foto bayi Chanyeol memehuni galeri di ponsel Luhan. Itu kelihatan tidak wajar.
"Lulu! Kapan kau bisa mengunjungi Baekhee? Kau sudah janji akan mengunjunginya, 'kan? Kemarilah selagi Baekhyun tidur. Dia bisa saja cemburu kekeke ^3^"
Walau pun pesan itu kelihatan menggelikan, tapi Sehun tetap mengajak Luhan pergi mengunjungi Chanyeol dan Baekhyun. Untuk formalitas dalam kekeluargaan, begitu kata Sehun.
"Luhan! Aku tahu kau akan datang!"
Sehun dan Luhan disambut oleh Park Chanyeol yang tersenyum begitu lebar dan puas. Berkat suaranya yang keras, Park Baekhyun keluar dari kamar dengan langkah tertatih-tatih. Dia kelihatan memanyunkan bibir.
"Hai, Baekhyun Noona. Selamat atas kelahiran bayi kalian," Sehun berusaha tetap bertingkah ramah. Dia menyerahkan hadiah pada Chanyeol dan tetap memandangi Baekhyun. "Apakah kau sudah boleh berjalan?"
"Kenapa tidak?" Baekhyun memegangi pinggulnya. "Aku cuman butuh istirahat selama dua hari."
"Kalian datang kemari untuk menengok Baekhee, 'kan? Dia baru saja tertidur, tapi aku bisa mengantarkan kalian ke kamarnya," kata Chanyeol.
"Bolehkah?" Luhan bersuara sambil mengedip-ngedipkan matanya penuh harap—yang mana itu adalah jenis tatapan yang paling disukai oleh Sehun mau pun Chanyeol.
Sehun berdehem. "Kau bisa mengeceknya bersama Chanyeol Hyung. Aku ingin ke kamar mandi terlebih dahulu."
"Hei! Mana bisa begitu!" Baekhyun yang tidak bisa meninggalkan sofanya dengan mudah, berteriak. "Chanyeol, tetap diam di sini dan aku yang akan mengantar Luhan ke sana!"
"Baek, kau 'kan baru saja melahirkan."
"Aku bisa jalan!"
Tidak ada yang bisa menghalangi keinginan Baekhyun. Dia sudah terbiasa hidup sebagai putri di keluarganya sehingga Chanyeol pun segera menurutinya. Baekhyun dan Luhan dibiarkan menikmati waktu mereka di kamar tersebut, sedangkan para cowok berada di ruang tamu.
Luhan sempat dibuat takjub saat dia melangkah memasuki kamar Baekhee. Dekorasi yang ada di sini kelihatan sangat cantik, sehingga siapa pun pasti tahu jika seorang putri kecil memiliki tempat ini. Sebuah kotak tidur di tengah ruangan merupakan satu-satunya hal yang paling menarik perhatian. Di sana, Park Baekhee sedang tertidur pulas.
Dia kelihatan sangat cantik.
"Aku bisa melihat apa yang kau dan Chanyeol miliki pada wajah Baekhee," Luhan berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari wajah si bayi. "Kau benar-benar membuatku iri."
"Iri? Kenapa iri? Jangan-jangan kau ingin anak itu mirip wajahmu, begitu?"
"Unni, berhentilah berpikir jika aku akan merebut suamimu," Luhan menoleh, memberi tatapan langsung yang anehnya mampu membungkam mulut tajam Baekhyun. "Aku dan Chanyeol memang punya hubungan, tapi aku sama sekali tidak menginginkan cinta yang sudah diberikannya padamu. Aku sudah punya Sehun dan itu sudah cukup."
Baekhyun sepertinya menyadari jika kata-katanya terlalu jahat. Mendapati Luhan yang memandangi putrinya dengan tatapan hangat, Baekhyun jadi merasa bersalah.
"Kau bahagia?"
"Hm?" Luhan menoleh, bertanya lagi karena pertanyaan Baekhyun barusan terlontar dengan nada amat lirih.
"Kau bahagia?"
"Tentu saja," sahut Luhan tanpa pikir panjang. "Aku bahagia sekali."
Baekhyun mengerutkan bibir tipisnya lagi. "Kau harus bahagia. Karena jika kau bahagia, maka Chanyeol akan mampu melepasmu sepenuhnya."
"Aku yakin kalau Chanyeol sudah melepasku, sepenuhnya."
"Kalau dia sudah melepasmu, perhatiannya tidak akan terbagi antara kau dan aku."
"Sepertinya kau salah paham."
"Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya," Baekhyun bersikukuh. "Chanyeol masih sering mengkhawatirkanmu—dia sering terjaga di tengah malam hanya untuk mengirimimu pesan singkat untuk memastikan keadaanmu, lalu kembali tidur setelah kau membalasnya. Bukankah begitu?"
Tidak ada yang salah dalam kalimat Baekhyun barusan. Hubungan antara Chanyeol dan Luhan memang seperti itu. Mereka merupakan teman yang selalu saling mengkhawatirkan satu sama lain. Kebiasaan itu terbawa hingga keduanya memiliki pendamping hidup masing-masing.
Luhan tiba-tiba menggenggam telapak tangan Baekhyun. Kehangatan yang disalurkan oleh jemari-jemarinya ternyata tidak sanggup membuat Baekhyun menarik tangannya. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau itu menyakitimu. Aku minta maaf."
Baekhyun tersenyum, antara sinis dan sedih. "Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi? Pernikahanku dengannya kelihatan sangat semu karena Chanyeol tidak sepenuhnya mencintaiku."
"Itu tidak benar," Luhan tidak setuju. "Chanyeol sangat mencintaimu. Cuman kau yang bisa membuatnya kacau, antara bahagia dan sedih di waktu yang nyaris bersamaan. Kau tahu, Unni, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya jadi setengah sinting."
Itu adalah rahasia besar Park Chanyeol yang mungkin cuman diketahui oleh Luhan. Baekhyun kelihatan terkejut akan hal itu.
"Park Chanyeol, dia adalah laki-laki yang sulit untuk diacuhkan. Dia tidak bisa diacuhkan," Luhan ketahuan tersenyum hangat seusai mengatakannya. "Dia bukan tipe pria yang mudah tertarik pada perempuan. Dia punya banyak hal untuk dikhawatirkan dan dikerjakan. Tapi setelah dia bertemu denganmu, Chanyeol bilang jika pikirannya baru saja dikacaukan oleh seorang pemain drama musikal di klub kampusnya."
"Be-benarkah?"
"Setelah sekian lama, pada suatu hari Chanyeol bilang padaku kalau dia jatuh cinta."
Luhan tidak mengerti kenapa cerita tersebut masih sanggup menggores luka pada hatinya. Semuanya sudah berlalu dan Park Chanyeol sudah menghilang dari sisi spesial di hatinya. Kendati begitu, Luhan masih mengingat dengan baik perasaan seperti apa yang dirasakannya saat Chanyeol bilang tentang jatuh cinta kepada Baekhyun.
Perasaan bahwa Luhan telah kehilangan kesempatan untuk dicintai. Bukankah dia baru merasakannya juga dari Sehun setahun lalu?
Ternyata, Luhan tidak akan pernah bisa melupakan perasaan itu.
oOo
Sehun paling tidak menyukai saat-saat dimana istrinya lebih banyak diam. Celotehan Luhan merupakan melodi terbaik baginya. Kalau semua itu tidak diperdengarkan untuknya, semuanya terasa sepi dan mati.
"Kau kelihatan sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. Apakah aku benar?"
Luhan tersentak dan sempat hendak terjatuh karena terselip langkahnya sendiri. Dia baru saja ketahuan melamun oleh suaminya.
"Chanyeol dan Baekhyun itu pasangan yang sangat sempurna."
Kalimat itu tiba-tiba dilontarkan oleh Luhan. Mereka sedang berjalan di tengah supermarket, lalu tiba-tiba Luhan melamun dan mengatakan sesuatu tentang Chanyeol. Sehun tidak akan menyukai topik apa pun tentang Chanyeol!
"Apakah kau baru saja memberitahuku kalau kau cemburu?"
"Tidak," jawaban itu terdengar terlalu tenang dari Luhan. "Karena aku sudah memilikimu."
"Lalu, kenapa kau tiba-tiba membicarakan Chanyeol hyung?"
"Aku membicarakan pernikahan Chanyeol dan Baekhyun."
Sehun tahu jika dia tidak boleh cemburu terhadap teman istrinya. Dia sudah menekankan hal itu berulang kali. "Kita juga pasangan yang sangat sempurna."
"Apakah menurutmu begitu?"
"Anak muda, kenapa kalian tidak beli buah jeruk? Ini masih sangat segar karena baru datang jauh-jauh dari Jeju! Pasangan seperti kalian harus makan buah jeruk agar bisa segera diberi momongan!"
Sehun berdeham kering mendengar hal itu. Dia tahu jika istrinya juga merasa sedikit canggung ketika mereka ditawari buah jeruk. Tapi karena Luhan menyukai buah, dia memutuskan untuk membelinya.
"Apakah kalian pasangan baru?" Nenek yang menjaga stan buah jeruk itu tersenyum. Luhan cuman mengangguk dan berharap bisa mendapatkan jeruknya secepat mungkin. "Semoga kalian bisa dapat momongan secepatnya, ya!"
"Ah, nenek. Itu masih terlalu jauh."
Sehun melontarkan jawaban itu dengan nada main-main. Tanpa disadarinya, itu merupakan jawaban yang mampu membuat Luhan murung sepanjang hari. Seperti biasa, Luhan akan berusaha bertingkah seperti biasa. Untuk sekali lagi, dia mencoba menutupi masalahnya sendiri.
Sehun selalu dibuat penasaran akan apa yang mungkin ada di otak Luhan. Semuanya bisa berlangsung dengan sangat kilat. Hati perempuan memang selalu menjadi misteri bagi Sehun.
"Di luar sangat dingin."
Luhan mengacuhkan pemandangan malam di hadapannya, memutar tubuhnya demi memandang suaminya. Sehun melompat memasuki balkon apartemen mereka, bergabung bersama istrinya. Dia memeluk Luhan dari belakang agar mendapatkan kehangatan.
"Apakah kau tidak kedinginan?"
Kepala Luhan cuman menggeleng dan ujung bibirnya mengerut.
"Sedang memikirkan apa?"
"Aku cuman sedang melihat langit, tidak sedang memikirkan apa-apa."
"Kenapa melihat langit? Apakah ada yang bagus?"
"Hanya .., sedikit merindukan ibuku."
Kehidupan Luhan bersama ibu kandungnya memang tidak pernah menjadi topik pembicaraan. Sehun tidak pernah punya keberanian untuk bertanya tentang hal itu. Kelihatannya, Luhan punya trauma yang cukup besar. Sehun cuman tidak ingin membuatnya sedih karena masa lalu.
"Dulu, ibuku bilang padaku jika beliau selalu gagal melahirkan bayinya," cerita itu mengalir secara naluriah dari bibir Luhan. "Ibuku banyak melalui saat yang sulit saat mengandung. Ayah tidak pernah suka mendengar berita kehamilan ibuku. Karena itu, ayah selalu memukuli ibuku, memukulinya lagi dan lagi agar mereka tidak punya beban baru."
"Tapi kau berhasil lolos."
"Ya. Ibu sudah berusaha keras melindungiku. Sejak awal, ibu memang tidak pernah ingin melepasku."
"Aku bersyukur karena kau punya kesempatan untuk dilahirkan." Sehun menaruh dagunya pada pundak Luhan. "Dengan begitu, kita bisa bertemu dan bahagia bersama-sama."
"Hm.. Hmm." Luhan cuman mengangguk-angguk sembari menggumam. "Untuk bisa melahirkanku, ibu perlu melakukan banyak hal nekat. Bukankah itu kedengaran sangat menakutkan?"
"Apakah kau ketakutan?"
"Sangat," kuku jemari Luhan menancam pada kulit lengan Sehun. "Sangat takut."
"Aku akan sangat senang kalau kau bisa segera hamil."
Dua pundak Luhan menegang. Aliran keterkejutan berhasil membuatnya tersentak hebat. "A-apa katamu?"
"Kalau boleh jujur, Luhan. Aku sangat iri dengan Chanyeol hyung yang sudah jadi ayah."
Seperti sebuah pernyataan cinta yang sangat tulus, efeknya benar-benar luar biasa pada Luhan. Jantungnya berdebar sangat kencang, euforia kebahagiaan itu meluap di sana. Senyuman di bibir tidak lagi bisa ditahan. Luhan terlalu senang.
"Aku selalu memikirkannya sendiri. Aku takut itu membebanimu."
"Sehun, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Luhan berputar dan menghadapi wajah suaminya. "Kupikir, hal seperti itu-lah yang mampu membebanimu."
"Siapa di dunia ini yang tidak ingin punya anak?" pertanyaan dilontarkan sebagai tanggapan dari pernyataan Luhan. "Aku sangat menginginkannya darimu."
Gelombang yang sedari tadi datang dan memenuhi dada Luhan, akhirnya memaksanya untuk segera melingkarkan lengan pada leher Sehun. Demi menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Sehun, Luhan rela menjinjitkan kakinya. Dia melakukan hal seperti itu karena benar-benar bahagia.
"Bagaimana kalau kita mulai program untuk membuatmu hamil?"
Sehun menempatkan tangannya di pinggul dan punggung Luhan. Rasa nyaman menyebar secara kilat lewat sentuhan sederhana itu. Bahkan deru angin tidak memberikan dampak apa pun. Mereka merasa hangat berkat topik pembicaraan ini.
"Joha," Luhan mengangguk pelan. "Joha!"
Pelukan itu berusaha dilepaskan oleh Sehun. Dia menuntun istrinya untuk segera masuk ke dalam. Udara malam tidak terlalu bagus untuk kesehatan, begitulah alasannya.
"Aku yang akan mendekor kamarnya kalau anak kita sudah lahir!" Luhan tertawa-tawa.
"Heol. Kita bahkan belum tahu apakah dapat anak laki-laki atau perempuan."
"Laki-laki atau perempuan itu tidak masalah. Iya, 'kan? Sehun, kau tidak mempermasalahkan gender untuk anak pertama kita, 'kan?"
"Tidak." Sehun meremat pinggang istrinya dan menjatuhkan tubuh keduanya ke atas ranjang. "Tapi aku butuh secepatnya."
Luhan merona dan merengek seperti anak kecil ketika Sehun menggodanya. Luhan sering bertingkah layaknya bocah kala dirinya digoda habis-habisan. Itu sangat menggemaskan. Sehun baru menyadari jika dia nyaris melengkapi kebahagiaannya.
Karena Luhan sudah ada di sampingnya, kini dia butuh seorang anak dari Luhan.
Itu akan membuat kebahagiaan mereka jauh lebih sempurna.
END
Entah kenapa aku merasa deg-degan sendiri pas baca part dimana Sehun bilang kalau dia berharap bisa segera punya anak :"""") sadarilah, guys. Kenyataan itu lebih menyakitkan dari apa pun :"") suatu hari Oh Sehun akan bilang kayak gitu ke cewek yang ada di pelukannya, dan kita cuman bisa kedip-kedip di sini /yaampun hiks/
BTW, COBA DEH KALIAN BENER-BENER DENGERIN BGM-NYA PAS BACA FF INI. SUMPAH LAGUNYA CUCOK BANGET SAMA KEBAHAGIAAN YANG ADA DI FF INI, YAAMPUN~ /slapped/
Nah, nah. FF ini akhirnya udah berakhir, terimakasih untuk semua readers yang sudah berkenan membaca, mereview, memberi like, dan juga mem-follow dari chap awal sampai akhir. Terimakasih untuk semangat dan saran-saran yang juga sudah diberikan, yaaa~
Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya~~
