Walaupun ngebosenin tapi jangan bosen-bosen baca ya Minna XD

•••

"Minato, Kushina, kalian ikutlah ke ruanganku. Dan, Hinata pergilah ke kamar Naruto, kau bisa menjaganya malam ini".

Minato dan Kushina mengikuti langkah Tsunade menuju ruangannya, banyak hal yang perlu dijelaskan malam ini. Tsunade berfikir mungkin ini sudah saatnya Minato tahu tentang sakit yang diderita anaknya.

"Kalian duduklah" kata Tsunade begitu tiba di ruangannya.

"Ceritakan padaku Kaa-san, apa yang kalian sembunyikan dariku?". Tuntut Minato.

Tsunade terdiam sebentar, menarik nafas dalam, kemudian mulai bercerita.

"Naruto menderita kelainan jantung".

Minato terkejut, Naruto selama ini tampak seperti anak yang sehat dan normal.

"Kau pasti terkejut kan Minato? Naruto terlihat seperti anak yang periang, tapi sebenarnya ia bisa mati kapan saja, ia melarang kami untuk menceritakannya padamu agar kau tidak mengkhawatirkannya dan bisa fokus dengan pekerjaanmu".

Minato mengusap wajahnya, "Aku ayah yang payah". Ujarnya.

Kushina mengelus pundaknya, "Jika kau ayah yang payah, maka aku ibu yang payah juga, maafkan aku tidak memberitahumu dari awal".

"Lalu apa Naruto bisa disembuhkan?". Tanya Minato.

Tsunade mengangguk kemudian tersenyum.

"Aku sedang mencari pendonor, aku yakin aku hampir menemukannya, sementara ini aku hanya memberikan obat khusus padanya, tenanglah".

•••

Hinata memasuki ruangan Naruto dirawat, aroma obat menguar dari dalam sana. Ia melihat suaminya terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.

"Naruto-kun". Lirihnya.

Ia mendekat dan mengulurkan tangan berniat menyentuh wajah Naruto, namun ia menariknya lagi.

Ia ragu, apa boleh ia menyentuhnya?

Menarik napas dalam ia kembali mengulurkan tangan, menyentuh rambut pirang suaminya, mengelusnya pelan, ia merasa semakin sesak melihat orang yang ia cintai terbaring lemah dengan selang-selang infus yang terpasang di tubuhnya.

"Naruto-kun, bangunlah, kau membuat kami khawatir, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Tak biasanya kau sampai seperti ini". Hinata bermonolog sendiri. Baginya Naruto adalah pria yang kuat, meskipun sakit, ia akan tetap tersenyum ceria dan semangat.

Walaupun Naruto tak pernah tersenyum padanya, tapi ia selalu memperhatikannya. Ketika Naruto bertelepon dengan seseorang -yang ia tebak pasti Sakura- Naruto selalu semangat, bercerita panjang lebar di telepon sambil sesekali menggombal dan tertawa lepas. Hinata sampai tak berkedip melihatnya. Baginya melihat senyuman Naruto adalah moment yang paling membahagiakan seumur hidupnya.

Hinata duduk di kursi di samping ranjang Naruto, menggenggam tangan Naruto erat. Sampai rasa kantuk membuatnya merebahkan kepalanya di ranjang yang ditempati Naruto hingga membuatnya terlelap.

••

Keesokan paginya, Hinata terbangun, punggungnya terasa pegal karena ia tidur membungkuk. Ia melihat Naruto di depannya masih juga belum siuman.

Ia mengelus rambut suaminya pelan, mengeratkan genggamannya pada tangan Naruto yang besar.

"Naruto-kun, bangunlah, hiks".

Ia tak bisa menahan isakannya, suaminya belum juga terbangun.

Ceklek

.

.

Pintu ruangan Naruto terbuka,

Hinata segera menyeka air matanya. "Tou-san, Kaa-san, kalian datang".

Kushina mendekat ke ranjang Naruto tak memperdulikan sapaan Hinata.

"Pergilah ke kantin Hinata, beli sarapan dan bersihkan dirimu dulu, Naruto biar kami yang menjaga". Kata Minato.

"Tapi Naruto-kun belum bangun juga Tou-san".

"Aku sudah memanggil Baa-sanmu kemari, ia akan memeriksa keadaan Naruto lagi, kau juga harus makan agar tak ikut sakit".

Hinata mengangguk dan keluar menuju kantin. Sejak semalam ia belum makan, menunggu Naruto pulang kerja hingga ketiduran di sofa.

.

Ceklek.

.

"Aku akan mengecek keadaan Naruto". Ucap Tsunade saat tiba di kamar rawat Naruto. Ia menenteng kotak berisi obat-obat dan alat kedokteran.

Kushina dan Minato mengangguk kemudian mundur memberi ruang Tsunade untuk memeriksa kondisi Naruto.

Beberapa saat kemudian keringat mengalir dari pelipis Tsunade.

'Sial, detak jantungnya lemah, apa ia harus operasi sekarang? Tidak tidak, ini belum saatnya, aku harus melakukan sesuatu'. Batin Tsunade panik saat mengetahui kondisi cucunya dalam keadaan tak baik. Ia mengambil suntikan dan mengisinya dengan cairan obat lalu menyuntikkannya pada Naruto. 'Kumohon cepatlah bangun Naruto!'. Batin Tsunade.

Setelah semua selesai, Tsunade mengakhiri pemeriksaannya dan berbalik, memandang Minato dan Kushina.

"Bagaimana keadaan Naruto, Kaa-san?" tanya Kushina.

Tsunade berusaha tersenyum, "Y-ya, Naruto baik-baik saja, tapi mungkin ia akan tertidur sampai nanti sore, atau mungkin besok, kalian tak perlu khawatir".

.

Hinata memakan sarapannya dengan lesu, ia masih mengkhawatirkan keadaan Naruto. Bagaimana kalau Naruto belum bangun juga sampai besok?

Segera ia menandaskan sarapannya agar bisa cepat menemui suaminya.

Ia membuka pintu kamar inap suaminya, Kushina dan Minato masih di sini rupanya.

"Tou-san, Kaa-san, bagaimana keadaan Naruto-kun?" tanya Hinata.

Kushina menunduk sedih, Minato juga menatapnya dengan sedih.

"Baa-sanmu bilang, Naruto mungkin bangun besok". Jawab Minato pelan. Ia masih ragu sebenarnya, tapi semoga saja Naruto benar-benar bangun besok bukan?

"Begitu ya". Lirihnya.

.

.

3 Hari Kemudian..

.

.

Hinata masih di samping Naruto, memandangi wajah tampan suaminya tanpa berkedip, kenapa Naruto-nya belum bangun juga? Bukankah Tsunade bilang Naruto harusnya sudah bangun kemarin?

Hinata berfikir, apakah keadaan Naruto semakin parah? Mungkinkah Naruto harus transplantasi jantung sekarang?

Hinata terlonjak. Benar! Jika Naruto operasi sekarang, pasti Naruto bisa bangun kan? Setuju dengan pemikirannya, ia pun segera berlari menuju ruangan Tsunade.

.

Tsunade menelungkupkan kepalanya di atas meja di ruangannya. Ia bingung. Apa yang ia takutkan terjadi, sampai sekarang Naruto belum juga bangun. Tsunade sedikit cemas, apa ada yang salah dengan obatnya? Ia pikir ia sudah membuat obatnya dengan benar, tapi kenapa Naruto belum bangun juga?

Tok tok tok

Ia mendengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.

"Masuk" ucapnya.

"Tsunade Baa-san". Teriak Hinata ketika memasuki ruangan Tsunade.

"Ada apa Hinata? Kenapa kau panik seperti itu?". Tsunade bangkit dari duduknya dan mendekati Hinata.

"Baa-san, tolong operasi Naruto-kun sekarang!". Kata Hinata.

"Ap-apa!? Aku tidak bisa melakukannya sekarang Hinata!". Jawab Tsunade tegas.

"Aku mohon Baa-san, Naruto-kun sampai sekarang belum bangun juga". "Aku tidak bisa.. hiks.. melihat Naruto-kun seperti itu terus". Hinata menatapnya dengan sorot mata penuh luka.

Perlahan Hinata merosot turun, berlutut di depan Tsunade dan menggenggam ujung jas dokter yang dikenakan Tsunade dengan erat.

"Aku mohon Baa-san, ambil jantungku sekarang, untuk Naruto-kun.. hiks".

Tsunade mengepalkan tangan. Ia tak boleh goyah, ia sudah merencanakan jadwal operasi Naruto sejak awal, dan ini bukanlah waktunya.

Tsunade memejamkan matanya, menarik nafas dalam.

"Naruto tidak harus operasi sekarang, aku masih bisa mengatasinya". Kata Tsunade kemudian.

.

.

"Apa maksud semua ini?!". Teriak Kushina.

Ia dan Minato awalnya ingin masuk ke ruangan Tsunade namun urung ketika mendengar suara Hinata memohon untuk diambil jantungnya.

Tsunade dan Hinata terkejut.' Sial kenapa jadi begini?' batin Tsunade.

"Hinata, apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kau meminta pada Kaa-san agar diambil jantungmu?". Tanya Minato.

"Ak-aku…." Hinata tak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Hinata adalah pendonor yang kupilih untuk Naruto". Tegas Tsunade.

"Apa?!"

Hinata menunduk, Minato dan Kushina memandang Hinata tak percaya. Minato menatap ibunya,

"Demi Tuhan, Hinata masih hidup Kaa-san!". Protes Minato.

"Tou-san, jangan salahkan Baa-san, ini semua karena keinginanku sendiri". Kata Hinata.

"Jangan lakukan itu Hinata, kau masih muda!". Minato benar-benar tak habis fikir dengan jalan pikiran Hinata, ia masih muda dan masih memiliki masa depan yang panjang.

"Aku tidak ingin Naruto-kun menderita lebih dari ini, kumohon Tou-san, izinkan aku. Masa depan Naruto-kun jauh lebih penting daripada aku, dia memiliki kalian, keluarga yang menyayanginya, aku tidak ingin ia pergi begitu saja meninggalkan kalian, lagipula Naruto-kun adalah anak satu-satunya yang Tou-san miliki kan?". Hinata menatap Minato dalam, berusaha meyakinkan mertuanya.

Kushina sedari tadi terdiam, memperhatikan Hinata, ia tidak menyangka Hinata akan senekat itu. Jujur saja ia memang tidak ingin putera semata wayangnya meninggal, tapi ia juga tidak ingin mengorbankan siapapun. Ia takkan setega itu. Tapi melihat keteguhan hati Hinata membuatnya tak bisa berbuat banyak.

"Hinata". Panggil Kushina pelan. "Apa kau mencintai Naruto?"

Hinata menunduk, kemudian mengangguk pelan,

"Aku sangat… sangat mencintainya". Hinata tersenyum, namun air matanya masih jatuh. "Aku sangat mencintainya, Kaa-san". Ucapnya parau menahan tangis.

Bruk

Kushina menabrak tubuh Hinata dan memeluknya erat.

"Kaa-san"

Hinata masih terkejut, ibu mertuanya tiba-tiba memeluknya.

"Hinata, terima kasih".

••

Naruto membuka mata, melirik ke sekitar, namun hanya kegelapan yang dapat ia lihat.

"Ini di mana?".

Dengan terhuyung ia mencoba berdiri, berjalan ke sekeliling, samar-samar ia melihat cahaya redup di kejauhan. 'Seperti ada yang menyalakan api unggun'. Pikirnya.

Ia mendekat ke arah cahaya itu. Setelah mendekat, ia membulatkan mata tak percaya.

'Itu kan-".

"Mendekatlah Naruto". Ujar pria tua yang duduk di dekat api unggun tanpa menoleh ke arah Naruto, seolah ia tau ada Naruto di belakangnya.

"Ero Jii-san!". Teriak Naruto tak percaya. Kakeknya yang sudah lama tiada kini ada di depannya.

"Oi oi jangan memanggilku seperti itu! Namaku Jiraiya kau ingat!". Sungut pria itu.

"Hahaha, aku sudah terbiasa, omong-omong kenapa kau di sini Jii-san?". Tanya Naruto sembari duduk di samping Jiraiya.

"Tentu saja aku di sini karena aku sudah mati, Bocah".

"Eh? La-lalu kenapa aku juga bisa ada di sini?". Naruto mulai takut. Keringat mengalir di pelipisnya.

"Entah, mungkin kau juga sudah mati?".

'Tak mungkin aku sudah mati, tidak tidak ini tidak boleh terjadi, aku masih muda, tidaakk'. Batin Naruto panik.

Jiraiya menahan tawa melihat ekspresi Naruto yang ketakutan.

"Terima saja Naruto, ini sudah takdirmu. Nah berhubung kau sudah ada di sini, bagaimana kalau kita mengobrol saja". Tawar Jiraiya.

"Tap-tapi Jii-san, tak mungkin aku sudah mati, aku belum bertemu Tou-chan dan Kaa-chan". Naruto mengacak surai pirangnya kesal karena kakeknya nampak tenang-tenang di saat seperti ini.

"Naruto, kulihat kau sudah menikah". Ucap Jiraiya pelan dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.

Naruto yang mendengar itupun berhenti mengacak rambutnya dan menoleh pada kakeknya. "Ya, begitulah, apa kau bisa melihatnya Jii-san?".

"Ya, tentu saja, kau mempunyai istri yang sangat cantik dan sexy". Jawab Jiraiya menggebu-gebu.

"Jangan berbicara yang tak senonoh tentang istriku, Jii-san". Naruto memutar matanya bosan, kakeknya benar-benar masih ero seperti biasanya. Tunggu dulu, apa baru saja ia bilang 'istriku'? Sensasi aneh menjalar ketika ia mengatakannya.

Dan ia menyukai sensasi itu.

"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu Naruto?". Tanya Jiraiya lagi dengan ekspresi serius.

"Entahlah, aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya". Jawab Naruto.

"Kukira sudah saatnya kau untuk sedikit demi sedikit mencintai istrimu, lambat laun kau akan memahami perasaanmu padanya".

"Bukankah sekarang sudah terlambat Jii-san? Aku kan sudah mati".

"Baka, tentu saja kau belum mati, sebentar lagi kau akan terbangun".

.

.

"Eh?!"

Naruto seketika membuka mata, melihat sekeliling, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di depan api unggun bersama kakeknya. Ia ada di sebuah ruangan rumah sakit sekarang. Ia merasakan tangan halus tengah menggenggam tangannya. Menoleh ke samping, ia melihat Hinata tidur menelungkupkan kepalanya di pinggir ranjang sambil menggenggam tangannya.

'Lagi-lagi ia menungguiku'.

Ia menggerakkan tangannya yang lain untuk mengelus rambut gelap Hinata pelan agar tak mengganggu tidurnya. Istrinya nampak lelap saat ini.

Ia memandangi langit-langit kamar rumah sakit. Mengingat-ingat hal terakhir yang dikatakan kakeknya sebelum terbangun, hingga rasa kantuk membuatnya terlelap. Lagi.

•••

Bersambung…

Chapter selanjutnya adalah chapter akhir