Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
Kotetsu dan Izumo menegakan tubuhnya. "Kami hanya penjaga gerbang. Anda terlalu melebih-lebihkan, Sandaime-sama."
Pria ringkih yang dikenal sebagai Sandaime Hokage itu tersenyum lebar kemudian membalas, "Kalian yang terlalu merendah. Bagiku, kalian tetap Chunnin elit yang memiliki potensi mengagumkan."
Kedua Chunnin itu saling berpandangan yang sedetik kemudian disusul seulas senyum simpul.
"Jadi.. Kau bisa mulai menjelaskan alasanmu menjadikan dua penjaga gerbang ini sebagai teammateku?" Timbrung Uzumaki Boruto malas.
"Jaga bicaramu, Uzumaki Boruto."
Pemuda dewasa dengan headband model bandanna –Izumo- itu memilih tidak ambil pusing dengan perkataan kasar bocah pirang didepannya. Ia menoleh kearah si bocah dengan alis berkerut, "Uzumaki Boruto?"
Izumo dan Kotetsu sudah mendengarnya. Soal Uzumaki Boruto yang akhir-akhir ini banyak menjadi topik bahasan para Shinobi Konoha. Anak ajaib yang muncul secara misterius yang juga memiliki paras serupa dengan Jinchuriki Kyuubi. Bocah dengan segala keributan yang selalu dibuatnya sedari ia ada di Konoha. Anak laki-laki yang sering digosipkan sebagai Shinobi jenius dengan bakat mengerikan.
"Kau Uzumaki Boruto?" Tanya Kotetsu.
Boruto memajukan bibir bawahnya, menampilkan wajah masam khasnya, "Satu-satunya-ttebasa."
Kotetsu mengulas senyum lebarnya, "Seperti yang dikatakan banyak orang, kau sangat mirip dengan Naruto."
Uzumaki Boruto memutar bola matanya jengah. Ia tahu. Astaga, sungguh ia tahu. Sudah ribuan orang berkata demikian dan hal itu membuat Boruto jengah. Ia sedang tidak ingin mirip dengan ayahnya –Uzumaki Naruto- sekarang. Tidak untuk saat ini.
Sandaime yang mengerti dari perubahan ekspresi di wajah bulat milik Shinobi muda masa depan disebelahnya lantas mengambil inisiatif untuk mengalihkan pembicaraan. Berdehem sekali demi membuat kesan bahasan kali ini adalah hal yang berat dan cukup serius.
"Tadi kau bertanya padaku kenapa aku memilih Kotetsu dan Izumo sebagai teammatemu, benar?"
Boruto mengangguk singkat. "..Dan kau juga sempat berkata bahwa kedua orang ini adalah Chunnin, bukan?"
'Kedua orang ini?' Izumo meringis sebal dalam hati. Apa Bocah Uzumaki itu tidak bisa memanggil mereka dengan cara yang lebih sopan? Sial, mereka diremehkan oleh seorang bocah tengik.
"Benar." Balas Hokage ketiga. Boruto berkacak pinggang, ia memandang si kakek Hokage dengan manik yang memicing, meremehkan. Alis Sandaime Hokage sedikit terangkat. Oh, ayolah. Pandangan Boruto yang terarah padanya seperti menyiratkan perkataan 'Hey, Bung. Apa kau setolol itu? Peliharaanku bahkan bisa lebih pintar dari itu' dengan jelas.
"Lantas kenapa kau menyertakan dua orang yang berstatus Chunnin mengikuti ujian Chunnin? Apa maksudmu?" Tanya Boruto dengan dahi mengkerut. Sandaime Hokage menghela napasnya pendek. Hokage tua itu berusaha meredakan emosinya yang sempat terpancing. Tangan kanan si kakek Hokage itu terangkat menyentuhkan cerutunya kebibir, "Kau belum mengerti? Mereka hanya bertugas untuk menyempurnakan dirimu agar kau bisa mengikuti ujian chunnin. Sebagai syarat pelengkap untuk memenuhi aturan yang ada. Lagipula tidak ada Genin lainnya yang tersisa."
Kakak dari Uzumaki Himawari itu menelengkan kepalanya kearah dua chunnin yang tengah berdiri tegak disana, "Aku mengerti. Tapi siapapun pasti curiga. Amunisimu kurang kuat-ttebasa."
"Tidak. Tentu saja aku sudah memikirkannya." Hokage ketiga menggelengkaan kepalanya pelan. Kaki pendek milik si kakek tua itu melangkah pelan mendekati Kotetsu dan Izumo. Kedua Shinobi itu tersenyum tipis sebelum sang Hokage ketiga melanjutkan ucapannya. "Mereka akan berkamuflase menjadi Genin dan aku jamin, tak akan ada yang curiga dengan tim ini."
"Henge?"Tebak Boruto tak yakin.
Hokage ketiga mengangguk singkat, "Tepat." Kepala dengan topi berlambangkan semangat api itu menoleh kearah Kotetsu dan Izumo. Memberi isyarat dengan lirikan mata yang dibalas oleh anggukan patuh keduanya.
Hagane Kotetsu dan Kamizuki Izumo secara bersamaan membuat segel ditangannya, Dan–
Bofht!
Kumpulan asap disana menghalangi pandangan Boruto sepenuhnya. Manik serupa cerminan langit itu menyipit sesaat, kemudian terbuka kembali begitu asap-asap disekitarnya mulai menipis.
Dalam sekejap, iris Boruto mendapati personifikasi dua Shinobi yang sebelumnya terlihat dewasa kini menyusut menjadi sosok Genin dengan tubuh kecil sepertinya. Mengangkat sedikit dagu dan bibir bawahnya, Boruto memulai penilaiannya.
Kamizuki Izumo didepannya kini memiliki tubuh sebaya dengannya. Headband model bandannanya masih sama. Yang berbeda hanyalah poni yang biasa menutupi sebelah matanya kini menghilang serta garis wajah yang membulat khas anak kecil.
Manik Boruto beralih kearah Hagane Kotetsu. Pemuda dewasa tadi telah berubah sama kecilnya dengan Izumo. Penampilannya tidak seberantakan tadi, namun hidung yang merah serta tiga tempelan di kedua pipi dan dagunya begitu mencolok diwajahnya, membuat Boruto meringis.
Uzumaki Boruto mengusap alisnya sembari tersenyum, "Aku sempat meragukan kalian. Tapi kupikir, tak ada yang perlu kukhawatirkan lagi."
"Kami anggap itu sebagai permintaan maaf atas perkataanmu tadi, Boruto." Balas Kotetsu riang. Mata sipit milik pemuda itu seolah hilang begitu senyuman lebar miliknya terbit.
Hokage ketiga melirik si bocah Uzumaki dengan ekspresi puas. "Apa ini berarti kau setuju dengan anggota tim yang kuusulkan untukmu, Boruto?" Uzumaki Boruto mngangguk, "Ya. Boleh juga-ttebasa."
"Bagus. Itulah jawaban yang kuharapkan."
Pandangan Boruto beralih kearah batu kristal di atas meja Hokage. Dilihatnya sosok sang ibu yang tergambar disana. Boruto mengepalkan tangannya, kesungguhan jelas sekali terlihat dikedua shappirenya. Ia akan melindungi ibunya. Sekalipun ia harus merendahkan harga dirinya, ia akan tetap melindungi ibunya. Seseorang yang berharga baginya. Hinata.
Sandaime menghembuskan napasnya pendek, lantas beralih menatap Kotetsu dan Izumo bergantian. "Kalian boleh pergi. Bersiaplah untuk perintah selanjutnya." "Kami mengerti."
Kedua Chunnin itu melangkah pergi. Satu dua kalimat lagi mengakhiri percakapan diantara keduanya dengan si kakek Hokage. Debaman lembut pintu kayu yang khas menyisakan keheningan sepeninggal Kotetsu dan rekannya Izumo.
Sandaime memastikan kedua Chunnin itu sudah jauh meninggalkan pintu, kemudian menimbang-nimbang. Sekarangkah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Uzumaki Boruto soal itu? Bagaimanapun juga sebagai Hokage ia harus turun tangan. Selama Boruto berada di zaman ini, Bocah itu adalah tanggung jawabnya. Dirinyalah yang harus menjamin keselamatan Boruto selama bocah itu berada dizaman ini.
"Boruto." Ya, panggilan itu adalah awal. Boruto menoleh ringan, kemudian menjawab, "Ya?"
"Kau bisa mulai menjelaskan padaku perihal kejadian tempo hari?" Tanya Sandame hati-hati. Kakek tua itu beringsut menuju meja kerjanya. Mendudukan dirinya nyaman di kursi tanpa melepaskan pandangannya dari putra Uzumaki Naruto itu.
"Tempo hari?" Lagi, Boruto bertanya. Kali ini dengan kedua alis yang bertaut heran.
Menutup matanya sejenak, Sandaime lantas berpangku tangan, "Haruskah kuperjelas? Baiklah. Mengenai pemukulan yang kau lakukan pada ayahmu."
Rahang Boruto seketika itu juga menegang. Napas bocah Uzumaki itu mulai tidak beraturan. Gelagat yang menyiratkan bahwa bocah itu sangat tidak menyenangi pertanyaan dari sang pemimpin desa Konohagakure.
"..."
"Kudengar dari Kakashi kau mengamuk dan membuat Naruto babak belur. Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau tahu apa dampak dari tindakanmu yang tidak terkendali itu?" Tandas Sandaime dengan nada rendah.
Aku tahu. Tentu saja aku tahu. Boruto ingin mengatakannya. Namun perkataan itu tertahan diujung lidah, tertelan kembali, menanti untuk dimuntahkan.
Jangan salahkan dirinya. Boruto memiliki alasan kuat kenapa ia berani memukuli ayahnya. Meskipun alasannya terdengar mengada-ada dan tampak sepele, Tapi Boruto tak bisa membiarkannya. Mana bisa Boruto terima ayahnya menyakiti ibunya didepan dirinya sendiri? Tidak. Sampai matipun ia tidak terima.
Lagi-lagi, Boruto mendengar Hokage tua itu mengembuskan napasnnya pertanda orang tua itu frustasi. "Naruto adalah ayahmu –Itu fakta yang tida bisa kau bantah. Naruto juga adalah Shinobi Konoha serta Jinchuriki yang berharga bagi Desa. Kau harus mengerti. Kendalikan dirimu, kau tidak boleh membahayakan apalagi melukainya. Sama sepertimu, Naruto juga adalah tanggung jawabku."
"Kenapa tidak sekalian kau lenyapkan saja orang itu?"
Dahi Sandaime mengkerut heran dengan intonasi Boruto yang terdengar datar, "Apa?"
Boruto menggeram, "..Keberadaannya membuat semua orang menderita. Semua orang bahkan diriku! Ia juga membuat Hinata sama menderitanya. Aku tidak bisa... melihat.. ibuku... terus ia sakiti."
Hokage ketiga semakin mengerutkan alisnya. Bingung kemana arah pembicaraan ini?
"Apa yang dilakukan Ayahmu pada Hinata? Seingatku, Naruto tidak pernah memiliki masalah dengan keluarga Hyuuga –apalagi Hinata." Sandaime memutuskan untuk mengikuti alur pembicaraan yang dibuat si sulung Uzumaki.
Ada jeda yang panjang sebelum Boruto bisa menguatkan hatinya untuk bicara lebih lanjut. Bocah bermarga Uzumaki itu membuka mulutnya kemudian berujar lirih, "Dia berkata ia mencintai Sakura. Mengatakan hal seperti itu didepan ibuku... Dia memang bajingan. Tsk, Sialan."
Sarutobi Hiruzen mengerjap, kemudian mengangguk mengerti. Tidak heran Boruto mengamuk. Sebagai seorang anak laki-laki, Boruto pastilah lebih memihak ibunya. Bocah itu tentu saja hampir bisa merasakan emosi Hinata begitu mendengar pengakuan seperti itu dari Naruto.
"Seharusnya ia tak perlu ada."
"Boruto."
"Seharusnya ia tidak perlu lahir didunia."
"Boruto!" Sandaime meninggikan suaranya, yang dengan sukses membuat rancauan Boruto seketika terhenti.
Hokage ketiga memijat pelipisnya pelan, "Jaga omonganmu. Bagaimanapun dia adalah ayahmu. Tanpa Naruto, kau tidak akan pernah ada didunia."
Boruto berdecih, membuang mukanya cepat, "Lantas apa? Haruskah aku bersyukur karena hal itu?"
Hening sesaat. Sandaime memutar otaknya demi merangkai kata-kata yang bisa memojokan anak keras kepala didepannya. Ia melirik bola kristal dimeja. Disana masih tampak sosok Hinata yang terlihat gugup. Gadis muda itu bahkan sesekali melirik bocah pirang disampingnya was-was.
Terlihat dari manapun Hinata jelas menyukai Naruto.
"Kemarilah, Anak muda." Seru sang Hokage sembari mengayun-ayunkan tangannya didepan. Boruto dengan enggan melangkah mendekat meja Hokage. Menatap sang Hokage dengan wajah datar seolah tak tertarik.
"Bukan aku yang mesti kau tatap, tapi Bola kristal ini! Lihatlah." Gerutu si kakek Hokage sedikiit emosi. Uzumaki Boruto memilih menurut, ia memandangi bola kristal yang penampilkan sosok ibunya disana. Lalu apa? Ia sudah melihatnya dari tadi.
Hokage ketiga terkekeh sesaat. Membuat Boruto menatapnya kesal, Apa ditertawakan orang tua menyebalkan didepannya?
"Ibumu." Boruto berjerngit. Tunggu, Apa Sandaime membaca pikirannya? Dan apa katanya?
"Kau menertawakan ibuku?" Tanya Boruto setengah menggeram. "Oh, Tidak. Tentu saja tidak." Sangkal Hiruzen cepat. Ia tentu tidak mau menjadi sasaran amukan Boruto selanjutnya.
"Lihatlah dengan cermat. Ibumu terlihat senang duduk bersebelahan dengan Naruto –sekalipun hal itu tidak begitu terlihat karena ekspresi wajah malu bercampur gugup menutupinya."
Boruto tak menjawab. Tidak usah dikatakanpun ia sudah tahu. Sangat tahu malah.
"Dan ayahku sama sekali tak menyadarinya. Cih, payah." Tambah Boruto tak acuh.
Kali ini bola kristal menampilkan sosok Naruto yang berada di samping ibunya. Wajah yang membuat Boruto muak dan ingin langsung memecahkan bola kristal itu andai saja pemiliknya bukan Sandaime Hokage.
"Sangat aneh membicarakannya, tapi... tanpa Naruto sadari, ada seseorang yang bahagia dengan hanya melihat bocah itu tersenyum. Siapa yang menyangka?" Ujar si Hokage dengan nada sambil lalu. Uzumaki Boruto mengedikan bahunya. Entah itu sebagai balasan 'Aku tidak tahu' atau 'Aku tidak peduli'.
Sandaime kali ini memusatkan atensinya kepada Uzumaki Boruto. berdehem sesaat lantas kembali bersuara, "Setiap cinta memiliki waktunya, Boruto."
Boruto mengangkat wajahnya, balas menatap Sandaime bingung. "Jika sekarang belum saatnya, belum pantas, belum siap, maka bukan berarti itu bukan cinta. Percayalah. Sekalipun salah satu dari mereka coba menghindar, sekalipun salah satu dari keduanya coba menentang, Jika dan memang hanya jika ibumu adalah takdir benang merahnya, selalu ada jalan untuk mendekatkan jarak keduanya, Sedekat jantung dengan detakannya."
Boruto memilih bungkam, ia menggigit bibir bawahnya tak nyaman. Hokage ketiga menyentuh bahu Boruto pelan, "Kau tidak bisa membayangkan betapa mudahnya proses transformasi perasaan, dari sekedar teman sesama Shinobi menjadi seseorang yang begitu spesial. Layaknya ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu. Ini tentang waktu. Segala hal butuh waktu, begitupun perasaan ayahmu."
Uzumaki Boruto merasa pipinya memanas entah karena apa. Dengan cepat, bocah dengan surai pirang itu membuang mukanya.
Pikirannya berkecamuk. Perkataan Sandaime hokage memang ada benarnya. Tapi hati kecilnya masih belum bisa menerima sang ayah. Tidak setelah perkataannya yang dengan sukses menghancurkan hati ibunya berkali-kali, Lagi dan lagi. Bagaimana mungkin ia bisa terima? Kini bukan hanya hati Hinata yang terluka, Hati Boruto pun sama terlukanya. Membuatnya sesak.
Nasehat-nasehat Sandaime Hokage terdengar mudah dikatakan, tapi berat dijalani.
Jeda yang panjang menyelimuti atmosfer ruangan Hokage ketiga. Menyisakan detik jam yang terus berjalan, tanpa ragu. Ruangan itu seketika legang.
.
.
Boruto merasakan berbagai macam tatapan mengarah padanya begitu ia melangkah ke tempat dimana ujian chunnin babak kedua akan digelar. Namun Uzumaki Boruto tetap melangkah dengan percaya diri tanpa mengindahkan tatapan yang ditujukan padanya.
Izumo menyikut lengan si sulung Uzumaki ringan, "Kau tidak terlihat gugup sama sekali. Apa kau yakin ini adalah ujian Chunnin pertamamu?" Boruto menyeringai tipis, "Tentu saja-ttebasa. Hentikan gurauanmu."
Kini, Boruto dan timnya berdiri tepat didepan Shi No Mori bersama para genin lainnya –tentu saja. Boruto tersenyum miring, Hutan ini memang terlihat mengerikan, cocok dengan namanya. Tapi salah jika kau berpikir hutan ini membuat Boruto gentar. Ugh, Tidak. Melihat 'Hutan kematian' didepannya malah membuat darahnya mendidih dan semangatnya seketika memuncak. Uzumaki Boruto adalah tipikal orang yang memiliki pendapat tinggi mengenai dirinya sendiri dan ia tentu sangat yakin dengan ke-prodigiannya.
Tentu saja dirinya tak akan berkata 'tidak' kepada sesuatu yang dengan jelas menantang zona amannya. Mengepalkan tangannya semangat, Boruto merasakan lonjakan kekuatannya. Tempat yang sempurna.
"Hey, Boruto." Colekan Kotetsu mengintrupeksinya. Uzumaki pirang itu menoleh dengan alis yang saling bertaut.
Hagane Kotetsu menunjuk kearah belakangnya dengan ibu jari. Boruto memasang ekspresi jengkel khasnya, ia menarik lehernya sedikit demi menatap suatu hal yang berada tepat dibalik tubuh rekan satu timnya itu.
Matanya membulat begitu menangkap sosok seseorang disana, "Hinata!"
Suara itu mengundang semua orang yang ada disana menoleh kearah Boruto dan rekan se-timnya. Suara itu memang sudah tidak bisa lagi dikategorikan kedalam suara dengan bervolume rata-rata. Boruto meringis dalam hati, Jika bersangkutan soal ibunya, tubuhnya pasti selalu hilang kendali. Sialan.
"Kenapa kalian terlambat?! Aku baru saja selesai membagikan Formulir persetujuan untuk babak kedua, kalian pikir aku akan dengan senang hati membagikan formulir merepotkan itu sekali lagi, Hah?" Kini adalah Mitarashi Anko berjalan kearah ketiganya dengan langkah lebar-lebar. Tokubetsu Jounin itu mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung si sulung Uzumaki, "Dan kau! Pelankan suaramu kalau kau tidak ingin cepat ma-eh!?"
Boruto mengerjapkan matanya. Menatap sang wanita Jounin heran. Kenapa wanita ini tiba-tiba menghentikan rancauannya? Apa ada sesuatu diwajahnya?
Anko menyipitkan matanya penuh selidik. "Kau! Lepaskan Hengemu!" Perintahnya tegas.
"Apa?"
"Kau tidak boleh mengikuti Ujian ini dengan menggunakan wajah orang lain. Kau bisa menggunakan topeng –atau yang lainnya- jika kau tidak ingin orang lain melihat rupamu, Tapi jangan menggunakan henge! Kau mengerti?" Kata Anko sembari berkacak pinggang. Uzumaki Boruto mengusap tengkuknya kikuk, "Aku tidak-" "Jangan membantahku, bocah sialan! Lepaskan Hengemu kubilang!"
Kotetsu dan Izumo bersitatap. Baiklah, Anko memang bukan tipikal Kunoichi yang sering berada di desa, jelas ia tidak tahu.
"A-Ano.. Maaf menyela Anko-san." Izumo buka suara. Kunoichi dengan tubuh seksi itu menoleh kearah Izumo kecil. Menatapnya tidak senang dengan kening berkerut.
Chunnin yang berkamuflase itu mengangkat tangannya, menngacungkan sebuah perkamen kearah Mitarashi Anko. "Apa ini?" Tanya sang Kunoichi cepat. Kotetsu maju selangkah, ia tersenyum hingga matanya yang sipit terlihat menghilang, "Itu dari Sandaime Hokage-sama."
Mendengar nama Hokage, Anko dengan tidak sabaran menyambar perkamen dari lengan genin muda didepannya. Wanita dengan rambut violet itu membaca isi perkamen lamat-lamat, sesekali irisnya melirik Uzumaki Boruto serta rekan timnya dengan tatapan ragu.
Uzumaki Boruto membuang mukanya bosan. Sang bocah sudah biasa dicurigai pada zaman ini, jadi tenang saja, Ia akan berusaha sekuat mungkin mengendalikan emosinya.
"Uzumaki Boruto dan rekan timnya, Huh?"
Suara dari sang Kunoichi membuat Boruto mengangkat wajahnya. Ia mengangguk kecil lantas mengulas senyum semanis mungkin. Wanita mantan murid dari salah satu tiga Sannin Konoha ini mendengus pelan kemudian berujar malas, "Ambil Formulir pendaptaran di pondok itu. Setelah itu cepat kembali kemari."
"Kami mengerti." Ketiganya menjawab kompak. Begitu manik hitamnya menangkap Mitarashi Anko pergi menjauh, Kotetsu mendekatkan dirinya kearah Boruto, meletakan lengannya disebelah bibir, "Akan kuambilkan untukmu. Kau pergilah."
Manik sebiru langit milik Uzumaki pirang itu berbinar ceria. Seulas senyum lebar nan menghangatkan tercipta diwajah bulat miliknya, "Arigatou-ttebasa!"
Izumo mendengus senang, senyum simpul terbit setelahnya, "Well, Well, Aku tidak tahu dia bisa tersenyum seperti itu."
.
Uzumaki Boruto tidak peduli dari mana Kotetsu tahu perihal dirinya dan Hinata. Apapun yang ada dipikiran Chunnin penjaga gerbang itu, ia tidak peduli. Saat ini ia berterima kasih kepada pria satu tim dengannya itu karena telah memberikannya kesempatan untuk sekedar bercakap-cakap dengan ibunya sebelum ujian babak kedua berlangsung.
"Hinata!" Boruto meraih pergelangan tangan Hinata. Gadis Hyuuga itu terlonjak lantas berbalik dengan wajah yang ketara terkejut. "B-Boruto?"
Putra Nanadaime Hokage masa depan itu terkekeh pelan melihat reaksi ibunya. Ah, Ibunya memang manis. Manis hingga membuatnya tak tahan.
"K-Kupikir kau tidak jadi ikut. A-aku sama sekali tidak m-melihatmu di babak pertama, Dari mana saja kau ini?" Todong Hinata sedikit tergagap. Boruto tersenyum lebar. Ia sangat menyukai cara ibu masa depannya ini mengomelinya. Ekspresi malu, khawatir, dan kesal bercampur diwajah cantik itu dengan sempurna hingga tak bisa si pemiliknya sembunyikan.
Uzumaki Boruto menyunggingkan senyum lebarnya, "Mereka menahanku selama babak pertama-ttebasa. Sandaime-jiichan mengatakan bahwa aku ini di khususkan dan bisa langsung masuk babak kedua."
"Di khususkan? Kenapa Sandaime-sama jadi tidak adil seperti itu? Kami berjuang mati-matian di babak pertama sedang kau dengan mudahnya langsung lolos ke babak kedua. Yang benar saja." Timbrung Inuzuka Kiba yang berdiri tepat disamping si gadis Hyuuga.
Mengedikan bahunya, Boruto lantas membalas, "Mana kutahu-ttebasa."
"Baiklah! Akan kumulai menjelaskan tes kedua!"
Suara Mitarashi Anko yang menggelegar membuat semua kepala disana menoleh kearahnya. Boruto berdecak sebal. Ia bahkan belum bicara banyak dengan ibunya dan wanita Jounin itu sudah datang mengganggu.
Kotetsu dan Izumo bergerak mendekati si sulung Uzumaki, menyerahkan selembar formulir ketangan Boruto, kemudian memberikan isyarat untuk mendengarkan perkataan Kunoichi penyuka Dango didepan sana.
"Kalian akan ditantang untuk bertahan hidup dalam daerah terlarang ini." Anko mulai menjelaskan.
Putra Nanadaime bersidekap sembari mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Bertahan hidup? Ini akan jadi tes yang menarik. Siapa takut bertahan hidup di hutan? Boruto adalah murid dari Uchiha Sasuke yang legendaris, Bertahan hidup bukan hal yang perlu ia takuti, Dia tidak akan kalah dari Sasuke-occhannya!
"Selagi daerah ini terkunci, Aku akan memberi kalian sebuah program bertahan hidup khusus. Program itu adalah... Pertarungan menggunakan segala perlatan dan ninjutsu secara bebas. Tanpa peraturan, Yaitu 'pertarungan merebut gulungan'!" Anko menyeringai layaknya ular licik. Memberikan tatapan tajam pada genin-genin didepannya sambil mengangkat dua perkamen didepan wajahnya.
"Gulungan?" Gumam Boruto setengah melamun. Kunoichi dengan model rambut ponytail itu menoleh kearahnya dengan senyum kecil, "Benar."
Lengan Anko turun, Membiarkan perkamen-perkamen ditangannya lebih mudah dilihat. "Ten no Sho dan Chi no Sho... Bertarung memperebutkan gulungan ini."
"Setengah dari kalian membawa Ten no Sho, setengah lagi membawa Chi no Sho. Setiap kelompok mendapatkan satu gulungan," Tokubetsu Jounin itu menyatukan kedua gulungan itu ditangan kirinya, terkekeh pelan sebelum melanjutkan, "Lalu syarat untuk lulus tes ini adalah.. Membawa kedua gulungan Ten dan Chi ini tiba di menara pusat dengan anggota kelompok lengkap."
Mitarashi Anko menjejalkan tangannya –beserta dua gulungan- ke kantong jaketnya. Wanita itu menghela napasnya pendek, "Waktu tes babak kedua ini adalah 120 jam. Akan selesai dalam lima hari."
Boruto kemudian mendengar keluhan-keluhan memalukan yang membalas penjelasan Jounin wanita didepan sana. Keluhan-keluhan seperti 'Bagaimana dengan makan malamnya?' atau 'Bagaimana kami akan beristirahat dengan cukup kalau waktunya sesempit itu?'
Sebelah alis Boruto menukik turun. Yang benar saja, Mereka itu cengeng sekali. Apa benar mereka ninja? Seorang ninja seharusnya tidak memermasalahkan hal sepele seperti itu. Dulu sekali Ayahnya pernah mengatakan, Ninja aadalah seseorang yang mampu bertahan. Bagaimana bisa kalian menjadi seorang ninja kalau hal sepele saja sudah membuatmu gentar? Uzumaki Boruto mendengus meremehkan.
"Penjelasan selesai. Tukar tiga lembar formulir persetujuan dengan gulungan. Setelah itu pilihlah gerbang untuk memulai!" Anko mengangkat wajahnya. Menatap para Genin didepannya dengan wajah serius, "Nasehat terakhirku adalah... Jangan mati!"
Boruto merasakan ledakan semangatnya, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. berusaha mati-matian untuk tidak berteriak senang dan langsung menerobos hutan didepannya. Baiklah, bocah pirang itu dengan senang hati menarik ucapannya soal ketidaktertarikannya mengikuti Ujian Chunnin di Zaman ini.
Tim Boruto melangkah menuju pondok penukaran gulungan. Namun, sebuah tangan kecil menyentuh ujung jaket hitam milik si sulung Uzumaki. Membuat si empunya berhenti melangkah dan menoleh cepat.
"Hinata?" Tanya Boruto sembari memiringkan kepalanya sedikit.
Hyuuga Hinata memandang bocah pirang didepannya khawatir. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lantas berseru gugup, "H-Hati-hati. J-Jangan bertindak sembrono. Kendalikan dirimu, jangan mudah terpancing emosi. K-kalau kau butuh bantuan segera datang ke-"
Rentetan kalimat Hinata terputus begitu Boruto tiba-tiba menempelkan telapak tangannya dikedua sisi kepala milik Hyuuga Hinata. Secara naluriah –jika berhadapan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Uzumaki Naruto- Hinata menarik diri, namun tangan milik bocah yang mirip dengan Jinchuriki Kyuubi itu membuatnya tidak bisa bergerak. Oh, Astaga.
"Berhentilah mencemaskanku-ttebasa." Ujar Boruto pelan. Seulas senyum manis tersungging di wajah bocah lelaki dengan dua goresan dipipinya itu. "Aku akan hati-hati dan tidak akan bertindak sembrono. Aku juga akan mengendalikan emosiku, Dan jika aku butuh bantuan aku akan segera berlari ketempatmu karena aku yakin kau tidak akan pernah menjadi musuhku sekalipun keadaan membuatnya begitu. Oke?"
Hyuuga Hinata mengerjap dua kali. Kinerja otaknya tiba-tiba melemah. Ia tidak bisa seutuhnya mengendalikan tubuhnya sendiri. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan anggukan tanpa suara.
"Bagus." Senyum milik sulung Uzumaki itu makin merekah. Tangan bocah itu turun kesisi tubuhnya masing-masing. "Kau tahu kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku ini Shinobi jenius. Aku tidak akan kalah semudah itu. Lagipula..." Boruto menggantung perkataannya. Bocah dengan rambut pirang yang ia warisi langsung dari ayahnya itu berbalik memunggungi sang Hairess Hyuuga yang masih terpekur di tempat.
"..Aku disini adalah untuk melindungimu."
Kemudian bocah itu melangkah pergi. Tentunya dengan senyuman yang masih setia bertengger diwajah bulatnya. Meninggalkan Hyuuga Hinata yang membatu di tempat.
Astaga. Hyuuga Hinata menemukan dirinya bisa kembali menarik napas begitu punggung milik Uzumaki Boruto berada lima meter didepannya. Oh, Demi Tuhan..
Gadis Hyuuga itu terus menatap kepergian anak masa depannya dengan perasaan yang tak menentu. Hingga bahkan ia tak menyadari, sedari tadi, sepasang manik sebiru lautan mengawasi pergerakan keduanya dalam diam.
.
Hagane Kotetsu menatap kedua rekan timnya yakin. Ia memasukan gulungan Ten no Shonya ke kantong ninjanya. Kedua rekan timnya yang lain mengangguk mantap.
"Prioritas utama kita adalah menjaga Hyuuga Hinata. Jangan lupakan itu-ttebasa!"
Kamizuki Izumo mendengus pelan, "Kami tahu. Kau tidak perlu berisik seperti itu."
Ketiga Shinobi itu menatap gerbang yang tengah dibuka pengawas itu dengan wajah percaya diri. Dengan dua orang Chunnin sebagai rekannya, Uzumaki Boruto sama sekali tidak merasa khawatir. Ia pasti bisa melalui ini dengan mudah.
"TES BABAK KEDUA SELEKSI CHUNNIN.."
Boruto dan yang lainnya mulai menyiapkan ancang-ancang begitu suara nyaring milik Mitarashi Anko terdengar. "MULAI!"
~À Suivre~
A/N: Hallo! 'w')/ #ditabokReaders# Maaf telat banget updatenya. Sudah berapa lama? Sebulan kah? Akhir-akhir ini Bieber beneran sibuk, Well, kelas dua belas lagi sibuk-sibuknya, tapi Bieber akan selalu usahakan update kok! Janji! ^^
Bagaimana dengan chapter kali ini? ( 'w') Ada BoruHina tuh #ditamvol# Fufufu, Tapi Bieber perjelas, Scene Boruto dan Hinata diatas memang sengaja Bieber buat seperti itu kok '3' Hohoho/?
Maaf ya kalau chapter kali ini kurang memuaskan. Bieber usahakan kedepannya pasti akan lebih baik lagi ^^ Ganbarimasu!
Oke, kita mulai sesi tanya jawab ^^
Q: Sebentar lagi end dong, ya?
A: Nggak sebentar lagi juga sih mengingat Ujian Chunnin banyak kejadian pentingnya ^^
Q: Apa bakalan ketemuan ama teamnya karin?
A: Rahasia, fufufu *ketawa jahat*/?
Q: Sekali kali dibikin boruto yg dihajar naruto gitu
A: Kemarin minta Boruto hajar Naruto, Sekarang minta sebaliknya.. *garuk tembok* Sip! Di tampung sarannya ^^
Q: thor FF yg My Silky Love klnjtanxa.?
A: Aduh, Ada yang masih inget ff itu ternyata XD/digavlok
Q: apakah kakak ada rencana lanjutin sampai iinvasi pein?
A: Duh, Nggak kuat Bieber ( /.\)
Q: Bieber-san, aku pernah ngebayangin gimana kalau fic Boruto's time adventure ini jadi tajuk berikutnya naruto the movie 12 ya?
A: *blushing*(?) A-Aaa... Yah... Um.. #ceritanya salting#/dibuang
Q: apa kedatangan boruto ke masa lalu mempengaruhi masa depan nanti?
A: Berpengaruh. Lebih khusus kepada Boruto sendiri ^^
Oke segitu yang bisa Biebe jawab ^^ selebihnya yang nggak Bieber jawab itu berpotensi jadi spoiler, jadinya... well/?
Oh, Terima kasih kepada Drove MC Video untuk trailer story Fanfictionnya di Youtube ^^ Bieber kaget loh waktu liatnya XD nggak ada yang ngasih tau Bieber, Bieber gak sengaja nemu waktu iseng nonton Youtube XD Arigatou ya~ ^^
Bagi yang penasaran Videonya silahkan lihat di Youtube dengan men-search Drove MCV: [NARUHINA, Bolt U. FanFiction, Boruto's Time Adventure]
Akhir kata,
Mind to Review?
