Chapter 11
OooO
Angin semilir yang berhembus meniupkan jejak-jejak hujan yang baru saja usai. Titik-titik air yang melekat di ujung dedaunan perlahan turun, jatuh, membentur nisan Kankurou serta Gaara yang menggigil.
Seminggu Kankurou mendekam di sana. Apa dia kesepian?
Gaara sengaja membatalkan –mengundurkan tepatnya –kepindahannya ke rumah Sasori. Dia ingin lebih lama, setidaknya selama yang ia bisa, untuk menemani kakaknya.
Seragam sekolah SMA yang dikenakannya basah, membuatnya seolah melekat erat di tubuh. Rambut merahnya jatuh tak berdaya, beberapa menempel di keningnya, melemah. Bibirnya terus saja bergetar, walau ia tak menyadarinya. Dia kedinginan.
Sulit dipercaya. Gaara bahkan ingin tertawa keras sekarang, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah isak tangis tak jelas, yang semakin menjatuhkan kepribadiannya yang biasa. Kemana semua perginya keluarga? Kemana orang-orang yang seharusnya bisa melindungi mereka? Kemana ayahnya? Ibunya?
Sial!
Gaara mengutuk, entah pada siapa. Mungkin pada dirinya yang tak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan Kankurou. Mungkin kepada keadaan yang memaksanya untuk terpisah dengan kakaknya. Mungkin pada Tuan Sabaku dan Karura –ayah dan ibunya –karena bahkan belum pernah sekalipun mengunjungi pemakaman anak mereka sendiri.
Ya, mereka. Tentu saja!
Dari kecil, kehidupan keluarga yang didamba tak pernah mereka rasakan. Setiap hari, rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung berubah seolah neraka, panasnya membakar kebahagiaan yang selalu diimpikan. Dan semua itu karena pertengkaran memuakkan –yang sangat- sangat memuakkan bagi Gaara –antara ayah dan ibunya.
Saat itu, Gaara kecil hanya bisa bersembunyi di balik selimut tebalnya. Lalu Kankurou akan datang dan menepuk kepalanya, tersenyum, dan bilang semua akan baik-baik saja.
Dan sekarang, saat Gaara begitu tertekan, tanpa ada selimut yang bisa melindunginya, Kankurou juga tak ada untuk meyakinkannya. Kenapa dunia selalu saja mempermainkan manusia? Dalam hal ini, Gaara.
Jika bertanya soal benci, Gaara akan langsung mengingat kedua orang tuanya.
Dia benci mereka!
Dia. Benci. Mereka!
Ayahnya hanya tahu soal ambisi. Ibunya hanya tahu soal materi. Keduanya sering sekali memilih, dan cenderung menghindari segala resiko. Mereka selalu lari, dan tak akan pernah bisa mau kembali untuk menatap anak-anaknya. Entah itu Kankurou, Gaara, bahkan Temari.
Dan Gaara… benci mereka.
OooO
"Hei! Kena-" ucapan Temari terhenti begitu saja ketika matanya menangkap sosok Gaara yang masih memeluk Hinata. Wajahnya memerah sendiri. "Ah!" Pekiknya sambil nyengir, berusaha sebisa mungkin berwajah tanpa dosa untuk menghindari tatapan Gaara yang –bisa dibilang –mematikan.
Hinata sendiri semakin mengeratkan pelukannya pada Gaara seraya memejamkan mata dengan sangat erat sekali. Malu.
"Ahaha… ma-maaf," ujar Temari lalu mengambil langkah satu-satu, berjalan mundur dan menutup pintu kembali.
Gaara kembali memfokuskan diri pada Hinata yang disadarinya sedikit bergetar dan mencengkramnya kuat.
Mungkin dia harus berterima kasih pada Temari.
"Hey," panggil Gaara pelan.
"…"
"Kenapa kau ke sini?"
Hinata membuka matanya kembali dan segera menarik diri, lepas dari pelukan Gaara. Wajahnya semakin merah tak karuan. Benar juga? Alasan apa yang harus disampaikan? Dia rindu pada Gaara? Ah! Terlalu klise, bukan? Dipaksa Hanabi? Haduh, masa jadiin adik sendiri untuk tameng. Menyelamatkan Gaara dari orang tuanya sendiri? Yang ini kelihatan paling aneh.
"Hinata?"
"A-aku…" Hinata jelas terlihat gusar sekarang. Otaknya terus berpikir, tapi tak ada jawaban yang dirasa cukup bagus untuk pertanyaan Gaara. Bagaimana ini? Kami-sama… "A-aku… i-ingin, aku…m-merind-ah bukan. Kami-ya kami… kami merinduk…ah!" Hinata menceracau tak jelas.
"Kalau memang tak bisa menjawab, sebaiknya lupakan saja."
"Eh?"
"Aku tak akan menyiksamu dengan pertanyaan itu," kata-kata yang melegakan jika saja Hinata tak melihat seringaian lebar di wajah pacarnya, "Aku tahu kok, kau merindukanku."
Hinata melongo.
Sejak kapan tingkat ke-PD-an seorang Gaara membesar seukuran matahari?
Ok, selama ini Gaara memang sangat percaya diri, tapi bagaimana dia… dia… bisa sesombong ini? Kenapa jadi mirip Naruto?
"Heh, kenapa?" Gaara menyurukkan sedikit wajahnya ke depan dengan sengaja, memancing reaksi Hinata yang semakin terlihat gugup. "Kau merah, apa sakit?"
Gaara berpura-pura bodoh atau apa, sih? Yah, Hinata bisa saja marah tapi-
"Aku selalu suka kau yang seperti ini."
Wow!
Seketika angin sejuk berhembus dan membuat Hinata melayang dalam imajinasinya. Mau tak mau, Hinata semakin tersipu. Ah, masa bodoh dengan seringaian Gaara yang alih-alih tampak seram justru semakin membuat wajahnya tambah keren. Hinata sedang senang.
Sore itu, langit lembayung yang perlahan menggelap mencipratkan sedikit cahaya keemasannya pada Hinata dan Gaara, menciptakan badai baru dalam hati keduanya. Membuat rusuknya seakan dipaksa keluar untuk hancur, membebaskan sesuatu yang tertahan di dalamnya.
Gaara tak akan mau mengakuinya, tapi sama seperti Hinata yang hanya akan mengungkapkannya dalam hati, dia juga merasakannya; ia terus –dan akan selalu –jatuh cinta pada orang yang sama dalam setiap detik yang bergerak maju.
Hinata.
Gaara.
OooO
Berkali-kali Hinata menarik-narik ujung rok maidnya yang –menurutnya –terlalu pendek. Sejujurnya, ia risih. Ugh! Satu-satunya alasan yang memaksanya untuk bertahan adalah karena hanya ini cara untuk menyusup ke kediaman Sabaku yang jelas-jelas sangat secure.
Hinata menghela nafasnya.
Berterima kasihlah pada Hanabi yang ternyata telah menyiapkan semuanya. Ya. Gadis kecil dari klan Hyuuga itu sukses membujuk –memaksa –seorang Yakushi Kabuto yang ternyata juga punya butik di NY ini buat minjemin mereka kostum maid yang paling mahal. Terus, dia juga berhasil membuat Deidara yang nota bene anak pemilik Salon terkenal di Jepang untuk mendandai mereka. Lalu, Pein yang entah-kenapa-tapi-pasti-ada-Hanabi-dibaliknya mau merelakan tabungannya untuk nyewa van butut dan nyuap party organizer untuk mempekerjakan mereka dalam acara itu.
Ngerasa ada yang aneh nggak?
Kenapa mau kerja malah ngasih uang?
Oke. Udara mulai terasa dingin sekarang.
Hinata sedikit menggigil. Hawa beku yang muncul dari belakangnya membuat gadis itu sedikit bergidik ngeri. Merasa penasaran, Hinata berbalik takut-takut.
Di sana, berdiri Sasori sambil ngelakuin hal yang sama seperti Hinata barusan; narik-narik seragam maidnya.
Hinata tercengang untuk sesaat sebelum kemudian menahan dirinya untuk tidak tertawa. "S-Sas-Saso-"
"Hentikan Hinata!" gerutu si rambut merah sebal saat melihat Hinata menahan tawanya. Lihat saja, bahkan gadis itu sampai kesulitan memanggil namanya. Ah! Ingatkan dirinya untuk mencekik Deidara dan Kabuto nanti.
"M-Maaf," Hinata menunduk dengan tangan kanan membekap mulutnya sendiri, tapi tetap masih terdengar tawa kecil di sana.
Sasori menghela nafas, "Tertawalah sesukamu," katanya pada akhirnya. Menyerah. Dia memang terlihat konyol dengan semua ini. Semakin dipikir-pikir, ini bahkan lebih buruk dari make up untuk seorang badut. Habis, kalau dia tak menyamar jadi wanita, sudah pasti pamannya akan mengenalinya.
Sasori sekali lagi menghela nafas. Ah, pakaian maid wanita. Wa-ni-ta. Seragam dengan batas hanya beberapa centi di atas lutut yang menampakan kaki jenjangnya yang… oh Tuhan! Apa itu yang menempel di kaki Sasori? Bulu domba? Tapi hitam? Apa itu…
Hinata melihat Sasori dari atas ke bawah lalu ke atas lagi dan berhenti di… dada?
Bloody Hell!
Sejak kapan Hinata jadi pervert?
"I-itu…" Hinata menunjuk ragu-ragu dengan muka yang memerah, "apa?" Nggak mungkin Sasori suntik silicon, kan?
"Deidara menyuruhku memakainya. Disumpal pake jeruk."
"Oh," Hinata manggut.
Sementara itu mata Sasori mengitari ruangan, mencari sang sepupu yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Ah! Itu dia!
Sabaku Gaara berjalan menuruni tangga dengan anggun layaknya kaum bangsawan. Dagunya sedikit naik, menyiratkan rasa angkuh. Matanya melirik setiap undangan dengan tajam dan berhenti pada satu titik di tengah kerumunan.
Hinata.
Bibirnya tertarik sedikit hingga membentuk sebuah senyum samar yang tak bisa dinikmati orang lain. Gaara hampir saja menemui Hinata jika tangannya tak keburu ditarik sang kakak yang malam itu terlihat begitu feminim dengan dress hitam yang elegan. Mata tajam Gaara memandang kesal pada kakaknya.
Kenapa?
"Kau ini bodoh atau apa, sih?" bisik Temari dengan nada suara kesal, "Kalau nanti orang curiga bagaimana?"
Gaara diam dan menurut saat Temari menyeretnya mendekat ke tuan Sabaku yang sedang berbincang dengan salah satu koleganya.
"Ayah," sapa Temari.
OooO
"Sudah belum?" tanya Konohamaru sambil terus mengawasi sekeliling dengan pakaian maid laki-lakinya.
"Sebentar…" sahut si rambut mangkok –Udon.
Setiap lima detik sekali Konohamaru melihat antara Udon dan halaman belakang Sabaku yang besar dan sepi. Keringat mengucur lewat pelipisnya. 'Ayolah…' mohonnya dalam hati. Udon sendiri masih asik mengutak-atik sekering rumah megah itu.
"Dapat!" seru Udon. Dan sedetik kemudian, semua lampu padam.
OooO
Gaara bisa merasakan sebuah tangan menarik lengannya saat semua pandangannya gelap. Hampir saja ia melawan jika hidungnya tak mencium bau parfum lavender yang selalu dipakai Hinata. Tanpa banyak bertanya dia ikut kemana tangan itu membawanya.
"Hinata?" bisiknya.
"Ya. Ini aku."
Setelah yakin bahwa yang menariknya benar-benar Hinata,genggaman tangan Gaara semakin erat, mulutnya mendekat ke arah gadis itu, lalu berbisik lagi, "Terima kasih,"
'Ya,' sahut Hinata dalalm hati.
"Semua sudah berkumpul?" tanya sang pemimpin rencana, Hanabi, di dalam sebuah van yang mereka sewa.
BRAK!
Nampak Konohamaru dan Udon yang megap-megap di ambang pintu, berusaha mencari nafas yang hampir habis. "Sudah!" ujar Udon.
Hanabi mijit-mijit pelipisnya. "Kenapa kalian lama sekali? Bukannya cuma mutusin arus?"
"Iya. Tapi kuputuskan permanen," si Udon nyengir, "Hebat kan aku?" dadanya membusung, "Dengan begitu, waktu kita untuk kabur makin banyak."
"Ya, terserahmu lah," Hanabi tak ambil pusing.
Lalu van mereka langsung cabut sementara pada bodyguard disibukkan oleh keriuhan orang yang panic.
Selangkah lagi menuju Jepang.
OooO
Di ruang kerjanya Sabaku senior tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya saat Temari bilang Gaara telah pergi. Bagaimana mungkin dia berbuat hal memalukan seperti itu? Kabur di tengah-tengah pesta? Memuakkan!
"Tapi ayah, sekali saja…" Temari menelan ludah berkali-kali untuk meyakinkan dirinya bicara lagi, "… biarkan Gaara."
Tuan Sabaku memandang tajam pada puterinya. "Kau kira siapa kau?" desisnya. Temari sangat yakin kalau ada nada mengancam di suara ayahnya. "Hah! Kau kira siapa dia? Siapa kalian?" tantangnya. Beberapa saat suasana hening semelum akhirnya ayahnya berdiri dan berjalan keluar. "Aku akan menyusul anak itu."
Mata Temari membulat.
Ayahnya benar-benar nekat.
OooO
Mentari senja yang hangat membuat pipi Hinata memanas. Matanya melirik Gaara yang menatap lurus entah kemana, tapi tangannya terus menggenggam jemari Hinata erat. Apa ini mimpi? Hatinya bertanya-tanya. Matanya terasa berat dan tubuhnya terasa lelah. Perlahan, Hinata memejamkan matanya. Tertidur.
Gaara masih terus memandang ke depan, tapi tangannya merengkuh Hinata, membuat gadis itu bersandar di bahunya. Satu yang tak diketahui Hinata, sedikit rona merah mulai muncul di wajah Gaara yang terlihat senang.
Hanabi yang berada di sebelah mereka melirik dengan senyum kecil terpampang di wajahnya. Senang rasanya melihat Hinata yang bahagia.
"Hei, Hanabi. Kau nggak seharusnya melihat adegan itu." Konohamaru mendekatkan bibirnya dengan telinga Hanabi, membuat si Hyuuga sedikit terkejut.
Si bodoh ini, pikir Hanabi. Bisa-bisanya mereka duduk berdampingan. Oh! Demi kakek Sarutobi yang udah mati! Ini saat-saat paling menyedihkan dalam hidup seorang Hyuuga Hanabi selain ketika Moegi berhasil mengalahkan popularitasnya.
"Adegan apa sih? Mereka bahkan nggak ciuman! Kenapa nggak boleh dilihat?"
"Yah, siapa tahu kamu iri." Konohamaru menegakkan kembali tubuhnya, melirik Hanabi yang memandangnya tajam, lalu menepuk-nepukkan bahunya.
"Apa?"
"Kalau kau mau, aku tak keberatan meminjamkan bahuku."
Css!
Hanabi memerah.
Tahu nggak sih kalau Konohamaru terlihat keren dengan kata-kata barusan?
"Kok diem?"
Hanabi mengamat-amati cowok di sampingnya. Yah, mata onyxnya memang keren, sih. Seolah menghisap seluruh perhatian Hanabi ke sana. Terus, alisnya juga lebat, benar-benar cowok-isme. Rambutnya yang hitam jabrik juga, terkesan kayak semak yang lucunya terlihat benar-benar cocok untuk kepalanya. Dan sejujurnya, Konohamaru itu…
"Heh? Kok diem aja, sih?"
Hanabi terbangun dari lamunannya.
Konohamaru mendengus. "Kelamaan," gerutunya sambil menarik kepala Hanabi yang sepertinya tak keberatan bersandar di bahunya. "Begini kan lebih nyaman," ujar Sarutobi muda itu. Matanya melirik Hanabi lembut, "Iya kan," senyum terukir di wajahnya, "Hanabi?"
Ah! Terserahlah. Hanabi tak peduli lagi. Ia langsung memejamkan matanya dan terus menikmati saat-saat pesawat membawa mereka kembali ke Jepang.
Sementara Gaara melirik Hinata yang masih pulas tertidur. Perlahan wajahnya mendekat. "Aku selalu suka kau yang seperti ini," ujarnya sebelum menghapus jarak diantara mereka.
Kecupan singkat mendarat di kening Hinata.
Semoga mimpi indah.
OooO
Hinata berjalan di belakang rombongan bersama Gaara di sisinya. Cowok keren itu tetep anteng berjalan sambil menyeret koper Hinata yang lumayan besar. Di depan mereka ada Konohamaru dan Hanabi yang masih aja ribut entah soal apa. Lalu ada Udon yang asik merhatiin ponselnya. Lalu ada Sasori dan Ino serta Kabuto dan yang lain.
"Kau masih saja suka menunduk, heh?"
Hinata mengangkat kepalanya, melempar pandangan tak mengertinya pada Gaara.
"Memangnya aku ini jelek, ya?"
Hinata makin bingung. Gaara kok jadi mirip Hanabi yang kata-katanya sulit dicerna?
"Kau menunduk seolah malu."
"…"
"Apa kau ma-"
"Ah!" pekik Hinata memotong ucapan Gaara, "Ti-tidak kok."
Gaara menyeringai. Kena kau, Hinata!
Hinata bergidik ngeri.
"Kau mau bilang aku ini tampan, kan?"
Saat itu Hinata seakan terbius. Langkahnya berhenti dengan mata yang terpaku jelas pada Gaara yang saat itu terasa lebih hidup. Ah! Terkutuklah wajahnya yang sangat keren bahkan ketika seringai iblisnya itu muncul.
Gaara ikut berhenti dan menoleh pada pacarnya.
Anggota yang lain telah jauh meninggalkan mereka. Keheningan janggal yang menyenangkan hadir. Angin yang entah datang dari mana bergerak, menubruk mereka berdua, memberikan sensasi yang luar biasa menyejukkan.
"Kau tahu, Hinata?"
Tidak! Hinata tak tahu apapun saat ini. Pikirannya seakan membeku saat jade itu menatapnya.
"Aku tak akan percaya bahwa kau memang benar-benar ke New York untuk menemuiku jika bukan aku sendiri yang mengalaminya."
Rambut merah cowok itu bergoyang. Keren…
"Hinata?"
"Hm?"
Gaara menggeleng, "Tidak," katanya sebelum berjalan kembali. Kali ini, tangan kanannya terpaut dengan Hinata. Berdua melewati kerumunan orang menuju luar bandara. Senangnya… setidaknya sampai-
"Well, well, well," suara berat yang menyebalkan muncul diiringi tepukan tangan merendahkan. "Aku sudah menemukanmu. Jadi hentikan main petak umpet ini dan segeralah pulang! Aku tak punya banyak waktu."
Hinata ketakutan. Raut Gaara mengeras. Kenapa bisa secepat ini si Sabaku tua tiba?
TBC…
Chapter depan adalah chapter terakhir.
Semoga masih mau menunggu…
Mind to Review?
