CHAPTER TEN

THE ENDING

.

I've been waiting my whole life
To know I wanted you


Itu hanya sebuah pintu—benda mati tanpa nyawa yang memisahkan antara dirinya dan Kyungsoo. Namun kali ini, benda itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Layaknya simbolisme yang menyatakan bahwa alam imaji dan kenyataannya hanya berjarak sejengkal dari pengamatan. Sebab ketika ia membuka pintu di hadapannya, sesuatu akan berubah pasti; apa yang Kyungsoo sampaikan lewat telepon tadi bukan semata khayalannya saja.

Menarik napas panjang, bibir Jongin kembali merapalkan niat.

Tangannya hendak meraih gagang pintu, akan tetapi benda di depannya mendadak terbuka terlebih dahulu. Dua pasang mata tertambat pada waktu bersamaan dan kedua pemiliknya sontak membeku—yang satu karena belum siap untuk mengucapkan kalimat pembuka, sementara yang lainnya karena, "what took you so long?"

Mulut Jongin membuka tanpa suara. Mengatakan bahwa ia menghabiskan waktu hampir dua puluh menit berkontemplasi dengan diri sendiri di depan pintu ini akan terdengar sangat dungu. Namun di lain pihak, ia harus mengucapkan sesuatu karena kerutan di kening Kyungsoo menuntut demikian. Maka dari itu, Jongin berdeham sekilas. Ia baru saja ingin mengucapkan kata pertama ketika bibir Kyungsoo tiba-tiba mengunci bibirnya.

Jongin tidak lagi bisa merasakan kakinya.

Ia sadar itu bukan hanya pengaruh dari lamanya ia berlari untuk sampai ke tempat ini, ia juga sadar itu bukan karena intensitas ciuman yang hanya berkisar pada taraf normal, melainkan karena seluruh sel tubunya berteriak bahwa ia—akhirnya, utuh kembali.

Kyungsoo melengkapinya.

Menarik lelaki yang menciumnya mendekat, Jongin mendorong tubuh mereka untuk masuk ke ruang apartemen. Ia ingin berbicara tentang banyak hal. Ada daftar panjang mengenai permohonan maaf yang harus ia sampaikan dan ia tidak tahu apakah seluruh isi daftar tersebut akan selesai hari ini. Apalagi, jika bibir Kyungsoo terus membungkamnya dengan cara seperti sekarang.

"Kyungsoo—"

"Not now," Kyungsoo menyela dengan nada terganggu. "Miss you."

Detik itu, terdapat kalimat protes yang menyala di benak Jongin. Ia tidak menyukai bagaimana Kyungsoo membuat ini terlalu mudah sementara ia masih belum tuntas dirundung rasa bersalah. Jongin telah berjanji ia akan memperbaiki permasalahan semacam ini di antara mereka. Ia telah berjanji ia akan meluruskan semua yang terasa timpang dan ia akan memulai pembicaraan itu saat ini juga.

Atau mungkin nanti.

Ketika rindu sudah mau berpaling.

"Not as much as I miss you."

Merengkuh lelaki yang kini mendekapnya, Jongin memutuskan untuk memperdalam ciuman mereka.

Seiring dengan menit yang berlalu, itu bukan menjadi pemandangan mengejutkan ketika mereka berakhir di atas sofa dengan tubuh saling tumpang tindih. Kaki-kaki Jongin mengurung Kyungsoo, sementara tangan lelaki di bawahnya mencengkeram tengkuk agar ciuman mereka tidak terputus. Jongin yang larut hampir tidak peduli. Ia hampir tidak mengendus adanya kejanggalan dari semua aksi Kyungsoo.

Akan tetapi, ketika jemari Kyungsoo mencoba menanggalkan pakaiannya, ia kemudian tersadar. Ini terlalu terburu-buru. Ini sama sekali bukan tipikal Kyungsoo yang ia kenal. Mencoba menarik tubuh menjauh, tatapannya disambut oleh lensa mata yang basah. Bahu Jongin seketika mengendur selagi mulutnya mendesah kecewa. Ia sudah bertekad kepada diri sendiri untuk lebih peka dan ia tidak mempercayai bahwa ia telah terlanjur lengah pada kesempatan pertama.

"Jongin—"

Kyungsoo mendadak bergumam, tangan lelaki itu kembali menemukan tengkuknya untuk mempertemukan bibir mereka lagi. Namun kali ini, Jongin dengan sigap menolak. Ia menyentak dua lengan Kyungsoo yang masih berusaha menarik wajah mereka mendekat sebelum menahannya di atas kepala lelaki itu.

"Apa yang kau pikirkan?"

Pertanyaan yang baru saja lolos tepat sasaran. Dalam sepersekian detik, Jongin dapat melihat perubahan raut wajah Kyungsoo yang menjadi jauh lebih sendu—seakan apa yang lelaki itu tampilkan sedari tadi hanya batas permukaan tanpa melibatkan sengketa terdalam yang berada di sanubari.

"K-Kau," ucap lelaki yang lebih pendek terbata. "Kau akan pergi lagi."

Hati Jongin serasa menyusut seketika.

Dengan perlahan, ia melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Kyungsoo. Tangan kemudian menuntun lelaki itu agar duduk di pangkuannya selagi pandangan menatap intens, hanya agar Kyungsoo memahami bahwa kalimat selanjutnya yang akan ia ungkapkan bukan merupakan bualan.

"Aku tidak akan pergi," tandasnya seraya mencium pelupuk kanan Kyungsoo. "Aku akan tinggal." Sebelum kemudian beralih ke pelupuk kiri, lalu bertahan lebih lama di sana. "Asal kau mau berjanji bahwa kau akan membantuku untuk membuat hubungan ini berhasil."

Ada desah lega yang sampai ke telinga Jongin dan itu membuat seluruh beban yang menghantuinya dalam kurun waktu terakhir hancur tidak bersisa. Jongin tersenyum tanpa perintah. Diperlukan perjalanan panjang berbatu hanya untuk menyadarkannya bahwa salah satu kebahagiannya—ternyata, adalah membuat Kyungsoo bahagia.

"Kita punya besok, kita punya lusa," lanjutnya tulus. "Kita punya selamanya bersama jika memang kau menginginkannya demikian."

-o-o-o-

Jongin rasa, ia akan menyusun perbaikan hubungan ini menjadi tahap bertingkat. Pada hari pertama kepulangannya, tidak ada yang terjadi. Tidak ada pembicaraan emosional mengenai apapun. Mereka hanya duduk berdua di atas sofa, menikmati hangat tubuh satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah kata. Kyungsoo tertidur di pangkuannya, sementara Jongin mencoba meredam kuat keinginan untuk menghisap rokok hanya agar lelaki yang telah pulas tidak terbangun.

Jongin tidak menyesali keputusannya.

Melihat Kyungsoo yang tertidur menjernihkan pikirannya yang masih keruh oleh penyesalan. Sepanjang malam, ia menemukan dirinya membelai rambut Kyungsoo—sesekali senyum kecil terlepas tidak sengaja ketika lelaki itu menyamankan diri di pangkuannya. Aktivitas tersebut ternyata lebih menyenangkan daripada menikmati batang tembakau di luar balkon sendirian.

Ia menemukan candu barunya.

Akan tetapi ketenangan pada hari pertama tidak lantas membuat Jongin menjadi pakar dalam hubungan. Itu sama sekali tidak menghapus fakta bahwa ia belum pernah memiliki pasangan serius. Terlebih lagi berkencan secara kasual yang melibatkan percakapan layaknya manusia dan bukan peraduan tubuh yang gila. Konklusi mengatakan, memang masih ada setumpuk hal yang harus ia pelajari.

"Mengapa kau selalu membawaku ke tempat-tempat seperti ini?"

Kyungsoo bertanya ketika mereka tiba di pelataran rumput terbuka yang berjarak tidak jauh dari kediaman orang tua Jongin. Sementara dengan 'seperti ini' apa yang lelaki itu maksud adalah tempat-tempat yang memiliki memori klasik bagi mereka.

Mengedikkan bahu, Jongin menyodorkan jawaban yang mengandung alasan utamanya, "kau selalu mengatakan bahwa kau menginginkan Jongin yang dulu."

Langkah lelaki di sampingnya terhenti. Jongin menengok dan mendapati Kyungsoo menunduk dengan kekehan pelan seolah jawabannya adalah pernyataan yang terlampau lugu. "Aku tidak menginginkan Jongin yang dulu." Ujar lelaki itu. "Aku menginginkan Jongin yang aku kenal kembali."

"Itu berbeda?"

"Jongin yang dulu adalah Jongin yang terikat masa. Sedangkan Jongin yang kembali adalah Jongin yang mencairkan sikap dinginnya, yang berhenti menyalahkan diri sendiri setelah apa yang terjadi pada Jennie, serta yang akhirnya merasa pantas untuk menjadi milik seseorang."

"Milkmu." Jongin mengoreksi. "Aku tidak peduli pada perasaan orang lain selain kau."

Kalimat itu diutarakan secara tidak acuh karena Jongin tidak menganggap itu sebagai rayuan. Namun bagi lelaki yang mendengarnya, barisan frasa itu menjadi sesuatu yang merampas napasnya untuk sesaat hingga ia bersemu, langkah kembali melaju untuk menyembunyikan pipi yang memerah.

Jongin yang sama sekali tidak menyadari itu tetap bersikap sewajarnya. Ia masih tidak bisa mendeteksi perkataan mana yang menimbulkan efek bagi lawan bicaranya—dalam konteks buruk maupun baik. Berjalan dalam diam, ia justru mencoba menyejajarkan diri dengan lelaki yang sudah terlebih dahulu melangkah.

"Kyungsoo," panggilnya pelan, dua tangan menelusup ke saku celana untuk menyamarkan kegugupannya dalam memulai topik yang ia pikir akan sedikit menyinggung. "Salah satu alasan mengapa aku mengingkari perasaanku adalah karena menurutku kau memiliki banyak sifat yang menyerupai Jennie."

Kyungsoo menaikkan alis meminta penjelasan.

"Kau tetap diam meskipun aku sengaja melakukan sesuatu yang menyakitimu. Maka dari itu, aku selalu mencoba mendorong amarahmu sampai tepi hanya untuk melihat kau muak kepadaku." Jongin menurunkan volume suaranya ketika melanjutkan dengan, "…dulu. Aku tidak akan melakukannya lagi sekarang."

Untuk sesaat, ia mengira pengakuannya akan membuat Kyungsoo merasa tersudut. Namun di luar dugaan, lelaki yang lebih pendek justru tersenyum menerima. "Aku tidak menyangkal."

"Dan apa kau akan berhenti?"

"Berhenti apa?"

"Berhenti membuatku berada dalam posisi benar terus-menerus. Kau harus berjanji bahwa kau akan menempatkan perasaanmu jauh lebih tinggi daripada perasaanku."

Lawan bicaranya menoleh. Sepasang manik jernih mengamatinya sejenak sebelum sang pemilik mengangguk seolah tidak mempertimbangkan apapun ketika menyahut, "okay."

"Kyungsoo," Jongin mendesis tidak percaya. "Aku bersungguh-sungguh."

"And I said okay, didn't i?"

Jongin masih tidak puas. Ini adalah perkara penting baginya dan ia merasa Kyungsoo tidak melihat keseriusannya untuk membangun hubungan mereka kembali. Maka dengan satu sentakan, ia menarik Kyungsoo sebelum menghantamkan punggung lelaki itu ke pohon. Jongin mencengkeram erat bahu lelaki yang membelalak, tidak mengizinkan ada pergerakan sedikitpun di antara himpitan tubuh mereka.

"Then what if I do this?"

Mendadak, bibir Jongin menjelajah ke leher Kyungsoo. Mengirimkan gigitan kasar yang membuat lelaki di rengkuhannya melenguh terkejut. Kakinya lalu dengan sigap masuk ke antara paha Kyungsoo, sengaja memberikan gesekan ke bagian bawah lelaki itu. Namun, tidak ada nada panik yang terdengar.

Balasan yang Jongin dapat justru adalah, "I don't really mind."

Dalam waktu yang singkat, Jongin berdecak kesal. Ia melepaskan semua kontak fisik mereka untuk membentak lelaki di hadapannya. "Kyungsoo, I'm harassing you."

"Well, you must think I'm innocent."

Kalimat itu sukses membuat Jongin mengambil langkah mundur menjauh. Matanya yang terbuka lebar mendapati Kyungsoo menatapnya dengan sorot menantang. Sebelum lambat laun sorot tersebut pudar, kemudian berganti dengan tawa yang tiba-tiba meledak keras.

"Oh, aku minta maaf." Kyungsoo berkata cepat selagi mencoba meredakan tawa saat Jongin tidak menampakkan raut terhibur. Lelaki itu melangkah mendekat menghampirinya, kening lalu jatuh ke dada Jongin bersamaan dengan lenyapnya semua tawa. "Aku juga ingin membuat hubungan ini berhasil. Jadi ketika aku menyetujui, aku tidak main-main."

Jeda, kepala Kyungsoo yang tertunduk kini mendongak untuk memandangnya.

"Tetapi tadi, memang bukan contoh yang tepat." Imbuh lelaki yang lebih pendek. "Itu adalah situasi dimana aku tidak ingin melawan."

Jongin menelaah pernyataan Kyungsoo seraya memincing curiga. "Kau sedang mencoba untuk mengacaukan pikiranku lagi."

Gelakan Kyungsoo setelahnya mengafirmasi prasangka Jongin. Akan tetapi kali ini, ia ikut tertawa. Jongin mengacak rambut Kyungsoo pelan sembari menggamit leher lelaki itu untuk kembali berjalan. Mengamati sekitar, pikiran Jongin tidak bisa mengenyahkan memori bahwa dulu mereka sering menghabiskan waktu di sini.

Berlari berkejaran dalam naungan masa muda, ketidakpedulian apapun selain diri sendiri, dan pikiran sempit yang dibatasi oleh perihal yang kasat saja. Sekarang, mereka berada pada tempat yang sama. Namun, mereka bukan lagi remaja, melainkan lelaki dewasa yang sedang menggantungkan hati pada satu sama lain demi masa depan yang tidak akan bisa tertangkap mata.

Fakta itu meninggalkan satu persamaan dan satu perbedaan.

Persamaannya adalah Kyungsoo masih menjadi sahabatnya—seseorang yang akan selalu dekat, yang menawarkan kenyamanan ketika orang lain tidak mampu, yang mengerti dirinya di samping seluruh kesalahpahaman di antara mereka.

"Hey, boleh aku menanyakan kalimat itu lagi?"

"Yang mana?"

"Yang selalu aku tanyakan kepadamu."

Kyungsoo mencoba mengingat, sebelum menyadari apa yang Jongin maksud. "Ya, tentu."

"Kyungsoo," gumam Jongin penuh harap. "Do you still love me?"

Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Kyungsoo untuk tersenyum, berjinjit menyejajarkan bibir dengan telinga Jongin, lalu membalas dengan kikikan pelan, "I do."

Sedangkan perbedaannya, mereka kini saling mencintai.

-o-o-o-

Tetapi tidak selamanya mereka bisa terhindar dari apa yang terkubur oleh permintaan maaf serta kata-kata manis. Permasalahan yang menjadi potensi keretakan masih menancap kuat. Satu yang paling besar terjadi ketika setelah berhari-hari Jongin selalu pulang larut dan Kyungsoo dilanda kecurigaan namun tidak tersuarakan.

Awalnya, Jongin selalu percaya ketika lelaki itu mengatakan tidak ada yang mengganggunya.

Akan tetapi lambat laun, ia mendeteksi perbedaan dari cara Kyungsoo memandangnya setiap kali ia pulang. Hingga akhirnya malam ini, semua rasa frustasi Jongin berkumpul. Ia mendapatkan sebuah tatapan yang berisi prasangka secara terbuka ketika memasuki ruang apartemen. Hal itu mungkin dipicu oleh bau alkohol yang menguar dari tubuhnya.

Namun Jongin bersumpah ia tidak sedang mengulang kesalahan terdahulu.

Itu hanya sebuah pesta selebrasi yang ia adakan di kantor setelah menuntut jam kerja tambahan pada karyawan-karyawannya ketika proyek yang menyita konsentrasi mereka akhirnya rampung hari ini. Kendati demikian, tidak ada komunikasi di antara ia dan Kyungsoo membuat kesalahpahaman terjadi. Apalagi ketika mereka memilih untuk tidak duduk dan membicarakan secara baik-baik, melainkan langsung memproses tuduhan.

"Jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan angkat kaki sekarang juga." Ujar Jongin saat ia melihat pandangan menusuk Kyungsoo untuk yang kesekian kalinya.

Ia tidak tahan dengan situasi ini, tetapi ia juga tidak pandai dalam menyelesaikannya. Maka dari itu, ketika Kyungsoo tidak kunjung memberi respon, Jongin segera bertolak ke arah pintu apartemen. Tepat saat tangannya meraih gagang pintu, ia baru mendengar suara dingin Kyungsoo memenuhi ruangan.

"For what?" nada lelaki itu rendah dan mengandung racun. "Looking for a good fuck?"

Jongin mendengus berang. Ia berbalik, kedua tangan berkacak pinggang dengan rasa tersinggung yang memuncaki kepala. Lalu bersama sirat mata yang memancarkan kilat amarah, ia membalas, "I have you, haven't I?"

Kyungsoo bergeming, seakan tidak terpengaruh. Namun Jongin tahu pasti kalimat itu menyakiti lawan bicaranya. Hal itu terbukti ketika Kyungsoo mengalihkan pandangan ke lantai apartemen mereka. Suara lelaki yang duduk terdengar semakin merendah saat bibirnya menggumam, "so I'm just the same, after all."

Jongin sontak tersulut.

"Kemari."

Dengan perintah tegas tersebut, Jongin mengedikan dagu—mengisyaratkan agar Kyungsoo berjalan ke depannya. Lelaki yang lebih pendek tampak mencerna sejenak. Terdapat keengganan yang berenang di lensa matanya, tetapi aura kemarahan Jongin mengalahkan itu.

Kyungsoo menuruti.

"The last time we did that, it wasn't just fucking." Jongin memulai sesaat setelah Kyungsoo berdiri di hadapannya. "Ada cinta yang terlibat untukmu, di suatu tempat, di tengah pengingkaran, prinsip, serta setumpuk kekuatan yang disiapkan hanya agar aku tidak jatuh kepadamu."

Ia menggertakkan gigi, sementara Kyungsoo perlahan memberanikan diri mendongak.

"But I'm way passed that, okay? Dan kau berjanji kau akan memberitahu jika ada yang salah."

Jongin menyibak rambut pelan saat menyadari bahwa intonasinya sudah terlampau tinggi. Lewat gerakan hati-hati, ia lantas meraih tangan Kyungsoo. Ibu jarinya mengusap punggung tangan lelaki itu lembut demi meyakinkan bahwa ia tidak berniat untuk bersikap kasar seperti saat ini.

Melalui perlakuan tersebut, Kyungsoo akhirnya bicara. "Kau selalu pulang larut."

"Itu yang mengganggumu?" gerakan Jongin di punggung tangan Kyungsoo berhenti. "Kenapa kau tidak bertanya?"

"Karena aku takut jawabanmu akan menyakitiku." Kyungsoo menjawab sambil menunduk, pandangannya mengintip takut dari sela-sela bulu mata. Pada momen itu, Jongin baru mengetahui seberapa besar trauma yang ia sebabkan dari semua kekacauan kemarin. Apalagi ketika Kyungsoo kembali menambahkan, "you always went looking for someone to fuck, but now you don't even make a move on me."

"You think I'm a maniac?"

Kyungsoo tidak menjawab.

"Kemari."

Kali ini, Jongin mengatakan itu dengan halus. Ia menuntun Kyungsoo menuju ke ruang tidurnya kemudian meminta lelaki itu untuk duduk. Di hadapan Kyungsoo, Jongin berlutut. Kedua tangannya masih menggenggam Kyungsoo untuk terus memberikan rasa tenang setelah pertengkaran yang baru saja terjadi.

"I don't like sex, Kyungsoo." Ungkapnya. "Itu hanya tindakan gegabah dan tidak pikir panjang agar kepalaku tidak selalu terisi olehmu."

Jongin meraih dagu Kyungsoo. Posisinya berubah bersimpuh demi menyetarakan pandangan dengan lelaki yang ada di depannya. "Deep down, what I always want is this," ia mencium bibir Kyungsoo. "I want to make love to you."

Satu ciuman lagi didaratkan—kali ini melibatkan lidah yang menerobos masuk.

Tangan yang tadinya terjalin kini merambat ke pinggang, membimbing agar Kyungsoo merendah hingga tubuh lelaki itu sepenuhnya bertemu ranjang. Jongin merasakan napas berat Kyungsoo menerpa bibirnya kala jemarinya mulai menanggalkan pakaian mereka satu per satu.

"I always want us to connect." Jongin memindahkan ciumannya menuju leher. Menggigit kecil, lantas berubah rakus ketika Kyungsoo mendadak mencengkeram punggungnya. "I want you to feel my love."

Ia menarik Kyungsoo untuk sedikit bangkit sebelum melepas satu-satunya pakaian yang menghalangi tubuh nyaris telanjang mereka. Dalam kesempatan itu, Jongin meminum banyak-banyak pemandangan lelaki di depannya. Kulit putih yang hanya sekali terjamah—dan itu olehnya, bibir ranum yang semakin bengkak setelah ciuman mereka, serta pandangan tulus yang tidak pernah Jongin dapat dari orang lain.

Tanpa ragu, Jongin yakin ia sedang mabuk saat ini.

Namun itu jelas bukan karena pengaruh alkohol yang ia minum di pesta tadi.

Larut dalam perasaannya sendiri, Jongin mengambil tangan Kyungsoo lalu meletakannya ke dada—tepat di bagian jantung.

"Do you feel it?" Kyungsoo yang bingung menatapnya dengan sorot bertanya-tanya. Tetapi lelaki itu mengisyaratkan bahwa ia sedang merasakan percepatan detak jantung Jongin yang tidak wajar. "It only goes like this when you're around."

Sorot Kyungsoo melembut, kemudian semakin melembut lagi saat Jongin menuntaskan kalimatnya.

"It beats for you, Kyungsoo."

Suasana berubah senyap. Kyungsoo tampak berusaha bernapas di sela-sela air mata yang menuntut untuk tumpah. Telapak tangan yang berada di dada Jongin terkulai lemah, dan Jongin mendapat dorongan untuk kembali mempertemukan bibirnya dengan Kyungsoo.

"I swear it beats just for you."

Kyungsoo menangis.

Namun kali ini, Jongin berharap tangisan Kyungsoo bukan disebabkan oleh kekacauannya. Ia berharap ia melakukan hal yang benar meskipun itu baru sekali. Membawa kepala Kyungsoo ke atas bantal, Jongin membubuhkan kecupan ke jengkal demi jengkal bahu Kyungsoo. Ia menikmati sensasi pertemuan kulit mereka, kaki Kyungsoo yang melingkar ke pinggangnya begitu kuat, dada yang saling bersentuhan begitu dekat. Jongin sungguh ingin bertahan dalam situasi seperti ini selamanya.

Tetapi malam tidak berniat membekukan waktu untuk mereka.

Maka Jongin memulai. Ia membuat Kyungsoo tetap tenang dengan hujan ciuman selagi jemari yang telah berlumur lubrikasi berusaha masuk ke dalam lelaki itu. Kyungsoo tampak menggigit bibir ketika telunjuk Jongin berhasil menyusup dan lenguhan lantas terdengar saat jari berikutnya mengikuti. Jongin segera mempersatukan kening mereka, ia tidak ingin terburu-buru seperti waktu lampau.

Ia juga ingin Kyungsoo menikmati setiap detik yang berlalu.

Tidak dibutuhkan jeda lama bagi Kyungsoo untuk meminta Jongin melanjutkan. Dalam gerakan pelan, ia memenuhi permintaan lelaki yang kini telah dibasahi peluh. Jongin benar-benar memanfaatkan waktunya—meregangkan jarinya di dalam, menusuk lambat, hingga desahan yang dihasilkan Kyungsoo berubah menjadi isyarat bahwa lelaki itu telah siap.

Dan mungkin saat ini bukan momen yang tepat, namun ketika ia bersiap menempatkan diri, ada rasa kagum yang tidak terbendung untuk Kyungsoo.

"Do you feel it?"

Sembari mengulang pertanyaan sebelumnya—dalam konteks yang berbeda, Jonngin menenggelamkan kejantanannya masuk. Kepala keduanya terlempar ke belakang secara bersamaan karena gelenyar yang membelenggu tubuh mereka. Kyungsoo masih belum bisa bicara, lelaki itu sibuk menutup wajahnya menggunakan lengan setiap kali pinggul Jongin bergerak dan menyentuh titik yang tepat.

"Feel it, Kyungsoo." Bisik Jongin. Tangannya berupaya menahan lengan Kyungsoo agar ia bisa leluasa melihat ekspresi yang dihasilkan lelaki di bawahnya. Kemudian dengan intensitas hujaman yang lebih dalam, ia merendahkan bibir ke telinga Kyungsoo seraya mendesah, "feel me."

Satu-satunya balasan yang mampu Kyungsoo ucapkan adalah 'ah, Jongin', sementara tubuhnya berayun dihujam oleh lelaki yang tidak berhenti membubuhkan kecupan ke dadanya.

"Feel me, feel my heartbeat." Jongin memperlambat gerakannya dengan sengaja. "Feel my love," bibirnya menemukan bibir Kyungsoo dalam lumatan ciuman berseling decak persatuan tubuh mereka. Kejantanannya terus mengisi Kyungsoo lambat, lambat, lambat, kemudian menghantam cepat. "Feel all of me."

Jeritan panjang Kyungsoo tertelan oleh ciuman, milik Jongin di bawah sana mendadak dijepit kuat dan ia tahu bahwa klimaks lelaki itu sudah di tepi. Tetapi Jongin belum mau memberikan kepuasan untuk Kyungsoo.

Belum, selama, "kau masih merasa ini hanya sekedar seks?"

Jongin membungkuk hingga dada mereka bersentuhan, jarinya kemudian menyibak surai basah Kyungsoo selagi tetap mempertahankan gerakan. Mendeteksi sentuhan Jongin di dekat wajahnya, Kyungsoo menoleh ke samping. Ia meraih tangan Jongin lalu menciumi pergelangan tangan lelaki yang lebih tinggi.

"Aku minta maaf."

Jongin membeku, sebab ia tidak mengantisipasi sebuah permintaan maaf dari Kyungsoo. Ia hanya ingin Kyungsoo tahu bahwa lelaki itu berbeda. Ia tidak pernah memperlakukan orang lain seperti ini ketika berada di ranjang dan Kyungsoo adalah satu-satunya pengecualian.

"Tidak," balasnya. "Aku minta maaf."

Setelah itu, seluruh kalimat yang tertahan selama ini mendesak keluar dari mulut keduanya. Kyungsoo mengungkapkan ada bagian dari dirinya yang menganggap bahwa Jongin akan meninggalkannya lagi, bahwa suatu saat ia akan menemukan dirinya patah hati untuk kesekian kali. Sementara Jongin terus-menerus merasa ia melakukan kesalahan—meskipun kenyataannya itu hanya buah pikirannya yang berlebihan.

Dalam sahut-menyahut pengakuan tersebut, Kyungsoo meraih wajah Jongin dan segera membungkam bibirnya dengan ciuman yang menyematkan, "I believe you."

Pandangan mereka bertemu, lengan Kyungsoo lalu melingkar di leher Jongin sebelum lelaki itu merubah posisi agar ia bisa berada di atas. Punggung Jongin yang baru saja menyentuh ranjang segera menegang sebab Kyungsoo mendadak bergerak menelan miliknya ke dalam lelaki itu.

"And I feel it, Jongin." Kyungsoo menyangga dirinya tinggi pada kedua lutut, kemudian membiarkan tubuhnya jatuh hingga kejantanan Jongin masuk seutuhnya. "I feel all of you."

Desahan menggema Jongin menjadi tanda percepatan ritme mereka. Telapak tangan Kyungsoo melebar di dada Jongin, menjadi tumpuan agar lelaki itu dapat bergerak lebih cepat. Milik Jongin terus diremas kuat setiap ujung miliknya menyentuh titik kenikmatan Kyungsoo. Lenguhan mereka yang didominasi oleh suara Kyungsoo memantul pada ruangan selaras dengan gerakan Kyungsoo.

"Kyungsoo—" mendekati klimaks, tangan Jongin mencengkeram pinggang lelaki di atasnya. Hujamannya berubah terlalu cepat dan Kyungsoo tidak lagi mampu bergerak selain menerima hantaman milik Jongin di dalamnya selagi genggaman memuaskan diri sendiri. "Aku mencintaimu."

Puncak Kyungsoo menjemput terlebih dahulu.

Bibir lelaki itu tengah mendarat di bibir Jongin ketika klimaksnya menyusul dengan lebih hebat. Tubuh keduanya bergetar dibasuh gairah, napas terengah. Lengan Jongin mendekap Kyungsoo erat agar lelaki itu tidak berguling dari atasnya.

Di tengah energi yang habis terkuras, itu sedikit mengejutkan bagi Jongin karena Kyungsoo—dengan kepala yang mendongak susah payah untuk memandangnya, masih memiliki tekad untuk sekedar membalas, "aku juga mencintaimu."

Lelaki itu jatuh tertidur pada detik berikutnya dan Jongin tidak bisa menahan gelembung tawa bahagia yang berkumpul di balik rusuknya.

Keduanya bertahan pada posisi itu untuk jangka waktu yang lama. Hanya setelah Jongin merasakan tenaganya kembali pulih, ia akhirnya dengan hati-hati membaringkan Kyungsoo ke sebelahnya. Mengendap-endap agar tidak menimbulkan gaduh, Jongin mulai membersihkan seluruh tubuh Kyungsoo menggunakan handuk basah. Tangannya bekerja untuk menyeka lembut, sedikit menjeda setiap kali wajah lelaki yang terlelap berkerut, dan baru berhenti ketika ia telah puas dengan hasil pekerjaannya sendiri.

Masih berhati-hati, Jongin mengambil selimut untuk menutup tubuh telanjang mereka berdua. Ia membaringkan diri di samping Kyungsoo yang tidur membelakanginya. Melihat punggung lelaki yang lebih pendek, benak Jongin mendadak bertanya-tanya tentang, "we can work this, can't we?"

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo—dan Jongin memang tidak mengantisipasi jawaban dari lelaki yang lebih tua.

Akan tetapi lewat pertanyaan tanpa tanggapan tersebut, Jongin justru mendapatkan segenap keyakinan yang hadir dari dalam dirinya. Ia mengingat perkataan Jennie, ia mengingat pertemuannya dengan Junmyeon, ia mengingat halus suara Kyungsoo ketika memintanya pulang, ia mengingat semua kesalahan yang ia perbuat dan itu membuatnya tenggelam dalam tekad untuk menebus apa yang sudah terlewat sia-sia.

Bergeser mendekat, Jongin secara tidak sengaja membangunkan Kyungsoo. Lelaki yang masih memunggunginya itu kemudian bergumam—nadanya penuh perhatian serta kantuk, "kenapa belum tidur?"

Jongin tersenyum. "Iya, sebentar lagi."

Melingkarkan lengannya ke pinggang Kyungsoo, Jongin bersyukur ia masih bisa mendapatkan kesempatan ini setelah semua drama di antara mereka. Pada saat itu pula, terdapat dosis nostalgia yang tiba-tiba tersuntik ke dalam nadinya.

Tanpa intensi apapun, Jongin mengecup punggung Kyungsoo—bibirnya bertahan di kulit telanjang hingga tarikan senyumnya teraba oleh lelaki yang sontak membuka mata.

Jongin merasakan bahu Kyungsoo menegak dan ia tidak tahu apa sebabnya. Lelaki itu terdiam sejenak, seolah tengah mengumpulkan kekuatan sebelum berbalik untuk menatapnya. Ia menangkap kedua mata Kyungsoo yang basah, kendati tidak ada tangis di sana.

"Jongin?"

Lelaki yang dilanda panik membalas ragu, "y-ya?"

Namun, Kyungsoo lantas tersungging lebar—bahkan sedikit tersengal, ketika melanjutkan dengan, "selamat datang kembali."

Itu bukan hanya sebuah sambutan yang tertunda.

Ada makna tersirat yang jauh lebih besar daripada apa yang disuratkan.

Walaupun Jongin tidak dapat menerka, gelombang rasa damai yang mengalir di sistem tubuhnya mendorong ia untuk memeluk Kyungsoo, membawa lelaki itu dekat ke jantungnya, dan tidak pernah melepaskannya lagi.


CHAPTER TEN: THE END


Author's Note:

AKHIRNYA SELESAI JUGA HUHUHUHU AKU SENANG SEKALI TT
memang ga bakat akutuh sama cerita berchapter uhuhuhu.
dan ini bakal jadi terakhir kali deh kayanya aku bikin cerita berchapter, karena mood-nya selalu ilang di tengah jalan.
aku tak sanggup :(

ANYWAY,
cerita yang seharusnya cuma jadi tiga part ini akhirnya selesai walaupun span waktunya sampe setahun.
terimakasih yang sudah mau baca, yang masih nunggu, yang terus ninggalin review.
aku tayang kalian!

sampai ketemu lagi di cerita berikutnya~
KAISOO FTW!

XOXO
Sher.