Aku bukan yang punya XXX HOLIC. kalo aku yang punya, XXX HOLIC nggak akan pernah tamat, dan genre nya jadi shonen ai
Kimihiro dibuat cemburu di chapter ini, cemburu ala Kimihiro tentu saja (Kyaaaaa)
Warning: Yaoi XD
Chapter 11
Unhoped Dinner
Pangeran Doumeki Shizuka Yamato yang merupakan pangeran kedua kerajaan Yamato sudah lama merasa kepribadiannya tidak cocok untuk menjadi pangeran. Ia terlalu cuek dan tidak ambil pusing soal tata krama. Contohnya ketertarikan khususnya pada lord Watanuki Kimihiro yang banyak dianehkan bangsawan lain. Selain wajahnya, lord Watanuki Kimihiro punya cacat besar dalam segi sopan santun pada pangeran, anehnya hanya pada pangeran. Shizuka sendiri sangat menikmati perlakuan sang lord padanya, tapi di lain pihak, Ratu dan bangsawan lainnya mencibir sikap Kimihiro. Terlebih sejak bertemu dengan lord Kimihiro, Shizuka sama sekali tidak menghadiri acara sosial.
Sebagai seorang pangeran yang memiliki kekuasaan yang besar, banyak sekali lady yang berusaha mendekatinya; awalnya mereka hanya mengirimkan surat, lalu berkembang menjadi oleh-oleh, selanjutnya bingkisan yang memiliki sentuhan pribadi seperti makanan buatan sendiri atau syal.
Seperti sekarang, Riku membawa sebuah kotak hadiah berisi makanan yang dikirimkan oleh lady Kana, dan seperti biasanya, dia hanya akan mengirimkan surat tanda terima kasih secara resmi yang di tulis oleh pelayan pribadinya, Riku. Dan tidak menyentuh makanan itu sama sekali.
Salahkan Kimihiro.
Natori datang siang itu untuk memberi laporan, melirik singkat bingkisan di atas meja. "Dari siapa kali ini?"
"Lady Kana."
"Hm..."
"Laporannya?"
Natori memberikan gulungan perkamen padanya. Tahu Doumeki bukan tipe orang yang sabar untuk membaca gulungan laporan, ia menjelaskan, "Singkatnya, kancing itu dibuat oleh pengerajin Yamada Shou, aku sudah konformasi padanya dan untungnya dia selalu mengingat milik siapa barang yang pernah dibuatnya. Lord Randalf."
"Seperti dugaan."
Natori mendengus, "Itu tetap tidak mempermudah urusan kita. Aku punya rencana," Natori menyeringai bangga. "Dan kita akan membutuhkan lord Kimihiro."
Shizuka mengerutkan sebelah alisnya. "Aku tidak bisa menjadikannya umpan."
"Aku sudah setuju," sahut Kimihiro dari ambang pintu, lengannya bersedekap. "Aku juga punya urusan dengan lord Randalf, omong-omong komplotannya punya payung milikku."
"Hnh. Keadaan bisa berbahaya lagi. Kagetora kabur dari penjara, ingat?"
Kimihiro menggigit bibirnya, tapi ia tak menyerah, "Ini juga pekerjaanku, Doumeki. Aku akan baik-baik saja."
Natori memotong, "Bagaimana kalau aku jelaskan rencananya dulu?"
Shizuka memandangnya sambil menyipitkan mata marah, tapi lalu berkata, "Jelaskan."
Natori berdehem, "Kau tahu, dua malam lagi, lord Randalf akan mengadakan pesta dansa di mansionnya. Ini bisa jadi kesempatan kita untuk masuk kesana dan menyusup mencari petunjuk apapun," ia menambahkan dengan cepat saat melihat ekspresi Shizuka, "Aku tahu ini gila, tapi biar aku selesaikan. Kita akan menyusup kesana, sebagai undangan, tapi itu membuat kita tidak bisa bergerak leluasa, karena itu kita membutuhkan Kimihiro."
"Tapi seandainya Kagetora ada disana, dia tahu siapa Kimihiro dan rumor bahwa dia dekat denganku sudah menyebar di seluruh kerajaan."
"Karena itu Kimihiro-chan akan menyamar sebagai wanita."
"Apa?"
"Dia akan menyamar sebagai salah satu sepupumu, hm... bagaimana kalau namanya lady Doumeki Ageha—Kupu-kupu?"
Sontak kepala Doumeki menyentak ke arah Kimihiro yang wajahnya merah padam. "Kau yakin?"
"Uh... demi kerajaan," gerutunya.
"Baiklah, kurasa itu cukup aman, tidak akan ada yang tahu kalau dia laki-laki."
"Menarik," gumam Shizuka.
Kimihiro memerah, "AKU TAHU! AKU TAHU APA YANG SEKARANG ADA DIPIKIRANMU, MESUM!"
Shizuka menatap Kimihiro dengan mata emasnya yang membara, "Kau mau latihan memakai gaun sekarang? Aku bisa membantumu—"
"MIMPI SAJA SANA!" sambil berteriak Kimihiro berderap keluar ruangan.
Natori memegangi perutnya, wajahnya ada di atas meja ditutupi oleh lengannya, tubuhnya gemetar hebat.
"Kau sakit?"
Lalu ia meledakkan tawa dan terjatuh di tatami. "Dua malam lagi pasti akan menyenangkan," semburnya diantara tawa.
"Hnh," Shizuka menyesap tehnya. "Bagaimana kita mendapat undangannya?"
"Ah, aku sudah mengatur pertemuanmu dengan lady Miwako nanti malam. Aku harap kau bisa merayunya untuk memberikan undangan itu. Dia sangat dekat dengan lord Randalf. Lagi pula kau seorang pangeran, akan sulit untuk menolakmu."
Shizuka mengerutkan dahinya tidak senang, "Kau mengaturnya tanpa sepengetahuanku?"
Natori mengibaskan tangan, "Ini bukan perjodohan. Ini satu-satunya kesempatan kita, tidak ada tawar menawar."
"Kimihiro tidak akan suka."
Natori mengangkat bahu, "Siapa yang tahu," ia menyeringai, "Mungkin sekali-sekali membuatnya cemburu akan menguntungkan perkembangan hubungan kalian?"
"Hnh."
xxXxx
Kimihiro sedang ganti baju saat ia mendengar suara kereta kuda memasuki gerbang kastil. Ia mengintip dari jendela dan melihat seorang lady turun dari kereta kuda. Yang mengejutkannya, Doumeki sendiri yang datang menyambutnya. Pria itu meraih tangan sang lady dan mengiringinya berjalan layaknya seorang gentleman sejati. Kimihiro mendengar ketukan di pintu saat Mayuri, salah seorang pelayan perempuan yang sangat ramah dan kini akrab dengannya, mengatakan kalau makan malam yang dibuatnya sudah disiapkan di meja.
"Ah, Mayuri, terima kasih. Apa kau bisa membawakan satu porsi lagi untuk tamu kita yang baru datang?"
"Oh, baiklah, my lord."
Kimihiro melepaskan Yukatanya kembali dan memilih pakaian yang lebih pantas. Ia ragu sejenak. Sudah lama ia tidak menghadiri acara sosial, bahkan hampir tidak pernah sepanjang hidupnya. Ia ragu apakah pakaian yang baru diambilnya cukup pantas untuk menemui tamu mereka, ataukah ia perlu memakai kimono dan hakama? Kimihiro merasa itu terlalu berlebihan untuk dikenakan saat makan malam. Walaupun Shizuka selalu mengenakan jenis pakaian itu. Pipinya memanas saat menyadari sedang memikirkan pangeran. Ia tidak ambil pusing lagi, dan mengenakannya.
Tamu mereka sudah dipersilakan masuk ke ruang duduk saat Kimihiro bergabung bersama mereka dengan menggunakan pakaian menyerupai kemeja, namun berkerah tinggi dengan manset ala china. Ujung lengannya melebar dibagian pergelangan tangan dan panjang pakaiannya sampai menyentuh lutut dengan belahan di setiap pinggirannya. Pakaian itu berwarna hijau dengan bordir naga yang menari di sepanjang dada dan punggungnya. Kimihiro mengenakan celana panjang hitam ketat yang dimasukkan ke dalam sepatu boot. Rambutnya yang belum dipotong sejak ia meninggalkan Hagi, ia naikkan ke belakang dengan penjepit bersimbol naga yang menggigit sakura.
Lady Miwako membelalakkan mata saat melihatnya. Shizuka yang sedang memunggunginya menoleh penasaran dan terpaku. Natori berhenti tersenyum. Kimihiro yang bingung dengan reaksi mereka menatap ke belakang punggungnya, mencari sesuatu yang aneh, dan saat kembali menoleh ke depan ia mendapati Shizuka sedang berjalan ke arahnya dengan sorot misterius. Natori segera melompat di antara mereka dan mendorong Shizuka menjauh darinya. "Nah, mari kuperkenalkan, lady Miwako Sadaharu, ini lord Watanuki Kimihiro dari kastil selatan."
Kimihiro tersenyum dan mengangguk sopan pada sang lady. Lady Miwako seketika berdiri dan merapikan gaunnya dengan tidak nyaman, berjuang untuk tersenyum dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kimihiro. Kimihiro meraih tangan itu ragu-ragu dan seperti yang biasa dilakukannya pada lady Yuuko; mengecup tangannya lembut dan berkata, "Senang bertemu dengan anda, my lady."
Pipi sang lady seketika merona. "Senang juga bertemu dengan anda, my lord."
Sang lady curi-curi pandang ke arahnya, lalu berkata. "Sepertinya rumor itu benar."
"Rumor?"
"Bahwa anda adalah lord tercantik di seluruh daerah barat ini. Aku malu mengatakan ini, tapi kau hampir membuatku tak percaya diri!"
"Ap—" ia menatap Shizuka yang hanya balas menatapnya dengan sorot aneh itu dan pada Natori yang melemparkan pandangannya ke dinding.
Sang lady berkata riang, "Aku akan senang bila bisa mengundang kalian ke pesta lord Randalf. Pasti banyak yang ingin bertemu dengan anda pangeran, dan anda lord Watanuki."
"Tidak denganku?" sahut Natori.
Sang lady tertawa anggun, "Tentu saja anda juga, lord Natori."
"Sayangnya Lord Watanuki tidak akan ikut, my lady," sahut Natori. "Saya akan bersama dengan lady Ageha, sepupu pangeran."
"Oh!" ia menatap Kimihiro, "Sayang sekali. Tapi saya juga tidak sabar bertemu dengan putri Ageha." Sang lady tiba-tiba bergelayut pada pangeran, "Dan saya senang sekali anda mau menjadi pendamping saya, pangeran."
Doumeki hanya mengangguk menimpali. Kimihiro merasakan pelipisnya berkedut. Ia berdehem sebelum berkata, "Makan malam sudah siap jika anda berkenan, my lady."
"Oh! Itu akan menyenangkan," ia memandang pangeran terpesona sambil tersenyum manis.
Kimihiro berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya. Apa yang sebenarnya para wanita lihat dari Doumeki? ia hanya orang tolol, pangeran rubah! Tukang paksa, pelanggar privasi, perut lubang hitam! Pikirannya buyar saat tepukan Natori mengagetkannya. "Kau tidak apa-apa Kimihiro-chan?" bisiknya.
"Hah?"
"Itu, dahimu. Dahimu berkerut."
Seketika tangannya melayang ke dahinya, pipinya merona hingga telinganya terasa panas. Ia menangkap tatapan Shizuka yang menyipitkan mata dengan ekspresi tanpa ekspresi seperti biasanya. Tapi Kimihiro tahu, mata emas itu, yang intens menatapnya membara karena kemarahan. Kimihiro mengerucutkan bibir kesal. Apa yang dilakukannya yang membuat pria bodoh itu marah? Dan seharusnya ia yang marah pada Doumeki sialan itu!
Kimihiro membeku, menyadari apa yang dipikirkannya. Menggeleng-gelengkan kepala untuk menghapus pikiran itu, tapi tidak bisa menghapus pipinya yang merona.
Natori mengerjapkan mata, dan tersenyum padanya. "Ayo, aku akan menemanimu." Sambil berkata begitu, ia seolah menggantikan Shizuka, meraih lengan Kimihiro dan mengiringinya berjalan menuju ruang makan. Natori menyeringai pada Shizuka, menahan diri untuk tidak bertingkah konyol seperti menjulurkan lidah.
xxXxx
Kimihiro tidak mau memandang ke arahnya, Shizuka menyadari itu. Pria itu mencurahkan perhatiannya pada Natori dan mengabaikan Shizuka sebisa mungkin. Bukan itu saja, yang membuatnya lebih geram adalah dengan mudahnya Kimihiro tertawa di depan Natori! Setiap tawa riang dan kekanak-kanakkan itu muncul, jantungnya berdegup sangat kencang.
Shizuka tahu dia kesal. Walau wajahnya tidak menunjukkan itu. Ini semua salah Natori, ia harus terjebak bersama lady Miwako disaat Kimihiro tampak... tampak... sangat luar biasa! Ia tak bisa menggambarkan dengan tepat apa yang ia inginkan. Kimihiro memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. Leher tinggi pakaian itu malah menunjukkan leher jenjangnya. Juga rambutnya yang ditarik kebelakang, memberinya pemandangan jelas kulit pucat tengkuknya yang mengintip. Lalu celana ketat itu, jika Kimihiro yang memakainya, itu adalah kriminalitas.
Setelah makan malam berlangsung dan mendengarkan bibir manis lady Miwako berusaha merayunya. Ia mengantarkan sang lady menuju kereta kuda. Membalas ucapan sang lady sekenanya, walau ia tahu sikapnya sangat dingin, tapi sang lady terlalu terpesona padanya untuk menyadarinya. Ia mengangguk sebagai balasan lambaian tangan sang lady dan berderap masuk ke dalam bahkan sebelum kereta itu pergi, bahkan sebelum sang lady memasukkan kembali kepalanya dari jendela kereta.
Dalam pikirannya hanya Kimihiro.
Ia mencarinya di kamar dan tidak menemukan pemuda itu. Ia mencarinya di ruang kerja, malah menemukan Natori menyeringai memandangnya. "Sedang mencari Kimihiro-chan?"
"Dimana dia?"
"Mungkin sedang menangis di suatu tempat," pelipis Shizuka berkedut, "atau malah sama sekali tidak peduli—"
"Hentikan," kata Shizuka dingin. "Atau aku tak kan memaafkanmu."
"Baiklah, baiklah..."
Shizuka kembali berbalik dan berkata, "Kupikir mendandani Kimihiro ke pesta itu bukan ide yang baik."
Natori menaikkan kedua alis, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Shizuka berdehem, "Ia belum berdandan perempuan malam ini, Natori. Dan dia sudah—"
"Luar biasa?"
Dengan enggan Shizuka mengangguk.
"Tenang saja. Aku akan melindunginya menggantikanmu."
"Hnh."
"Mungkin dia sudah ada di kamar?"
Shizuka meninggalkan ruang kerjanya.
Ia kembali ke kamar dan mendapati Kimihiro duduk santai di beranda sambil minum teh. "Belum tidur?" katanya tanpa memandangnya.
Shizuka memandang satu manju yang ada di piring. Kimihiro mengambil dan memakannya, lalu meminum tehnya. Ekspresinya tenang.
"Tidak ada bagianku?"
"Hm...? kau mau?" mengejutkan ia beranjak untuk mengambilkannya. Shizuka menaikkan kedua alis. Tak lama ia membawa beberapa manju di piring dan menyerahkannya pada Shizuka.
Shizuka menggigitnya dan membeku. Ia mengunyah perlahan, menelannya dan meletakkan sisanya kembali ke piring. "Apa makhsudnya ini?" katanya dengan nada dingin.
Kimihiro memandangnya sambil mengunyah manju, "Kenapa?"
"Ini bukan buatanmu."
Kimihiro tampak terkejut, "Hem... itu memang bukan buatanku, itu untukmu. Ini buatanku jadi ini untukku. Memangnya kenapa? Sama-sama manju."
"Apa kau memberiku makanan yang dibuat lady Kana?"
Kimihiro menghela napas, "Memang apa bedanya. Kau beruntung ada lady yang membuatkanmu makanan. Sekarang biarkan aku makan dengan tenang. Habiskan punyamu dan pergi tidur."
Shizuka melemparkan manjunya ke halaman.
"APA YANG KAU LAKUKAN, IDIOT?!"
Mata Shizuka menyipit, "Aku ingin makan manju."
"Itu manjumu yang kau buang ke halaman—" ucapan Kimihiro terputus saat Shizuka menciumnya dengan kasar, menarik rambutnya ke belakang hingga sang lord tersentak jatuh ke lantai. Shizuka menindihnya, memakai beban tubuhnya untuk menghentikan Kimihiro berontak. Kedua tangan Kimihiro ia tahan di atas kepalanya.
Shizuka menyusupkan lidahnya ke mulut sang lord, mencicipi manju yang ada disana. Enak. Mengulum dan menjilat bibir sang lord untuk mengambil rasa manju yang tertinggal. Setelah ia merasa Kimihiro kehabisan napas, ia menghentikan ciuman dan menarik diri, air liur mengalir di ujung bibir Kimihiro yang merah dan bengkak. Matanya mengerjap kaget dan pipinya merah padam. Bibirnya berdecak saat ia berkata, "Idiot, apa yang kau lakukan?" suaranya gemetar seperti seluruh tubuhnya.
"Aku ingin manju."
"Itu dari mulutku, idiot."
"Aku tidak peduli," tangan Shizuka meraih kancing baju Kimihiro.
"Sekarang apa yang kau lakukan?!"
"Karena manjunya habis, aku akan memakanmu."
"Ap—" Kimihiro merintih saat tangan panas Shizuka mengusap kulit di balik pakaiannya. Menyentuh putingnya.
"Kau semakin sensitif," Shizuka menyeringai senang.
"Salah siapa, bodoh."
"Hnh," Shizuka menggantikan jarinya dengan lidahnya, membuat Kimihiro melengkungkan tubuh dan mengerang. Dari perut Kimihiro, ia berkata, "Kalau kau berbuat seperti itu lagi, aku akan melakukan lebih dari ini."
"Uh. Kau memang menyebalkan! Apa yang telah kau lakukan padaku saat kau punya seluruh lady di kerajaan ini untuk dipilih!" Kimihiro terisak.
"Kimihiro?" Shizuka meraihnya, menariknya dalam pangkuannya. "Maafkan aku, maafkan aku, Kimihiro." ia mengecup air mata yang lolos dari matanya.
"Tolol."
"Aku," Shizuka mengangguk.
"Idiot."
"Aku mengakui." Ia mengecup bibir Kimihiro dengan lembut. "Aku membuatmu cemburu."
Merah padam Kimihiro berteriak, "SIAPA YANG CEMBURU, PANGERAN RUBAH TOLOL—" Shizuka menciumnya lagi.
"Aku senang."
"Pangeran aneh. Dan aku bukan manju."
"Bukan. Tapi aku bisa kenyang saat memakanmu," pipi Kimihiro merah padam. "Dan kau menu favoritku." Sambil berkata begitu, Shizuka menyentak pakaian Kimihiro. Kimihiro berjuang melepaskan diri, tapi itu memberikan Shizuka kesempatan untuk melepaskan celananya. Hanya butuh beberapa detik sebelum Kimihiro terbaring disana, telanjang, bergelung dan gemetaran.
"Kita masih di beranda, bodoh!"
Shizuka tidak memperdulikannya. Perhatiannya hanya tercurah pada jari-jarinya yang menyentuh tulang punggung Kimihiro, turun ke belahan pantatnya. Kimihiro menutupi pantatnya, tapi tangan itu beralih pada puting yang kini tampak jelas. Kimihiro terkesiap. Ia mengerang saat jemari Shizuka mulai bergerak, menekan, memutar-mutarnya dan mencubitnya.
"Kau akan membuat aku tidak bisa berjalan lagi, bodoh!"
"Hnh. Aku bisa menggedongmu."
"Idiot tidak bermoral."
"Bagaimana kalau lima ronde?"
"Dasar sakit jiwa! Kalau aku perempuan aku sudah hamil, idiot!"
"Aku mau anak perempuan."
"Mati saja!"
xxXxx
"Jadi, apa kau membuatnya menangis?" tanya Natori.
Garpu Shizuka terjatuh di piringnya dan Kimihiro tersedak tehnya. Asado pura-pura tidak mendengar.
Natori mengangguk, "Sudah kuduga," sebelum ia sempat dilempar piring oleh Kimihiro, Natori bangkit, "Aku sudah kenyang. Terima kasih atas makanannya," ia mengambil pedang yang disandarkannya di meja dan menyarungkan kembali ke pinggangnya. "Aku ada di Tokyo sampai besok, jadi jangan mencariku."
Mereka saling melemparkan pandangan dan melanjutkan makan. Akhirnya hari tenang datang.
xxXxx
Menjelang sore, saat Kimihiro sedang menyiram halaman beranda kamarnya, seekor burung merpati melesat di atasnya, berputar turun ke bawah. Shizuka berdiri melihatnya dari ambang pintu, saat merpati itu hinggap di lengan Kimihiro yang terjulur.
"Surat?" tanya Shizuka.
"Ya, ah dari Kitsune-san!"
"Bacakan."
"Dear Kimihiro-sama.
Aku berencana mengirimkan sendiri udon untuk anda dan pangeran. Tapi karena aku tidak bisa menembus dinding pelindung gaib di sekitar wilayah kastil, aku tidak bisa mengirimkannya sesuai janji. Jika anda berkenan, mungkin anda ingin datang sendiri di toko kami malam ini. Anak-anak mengatakan rindu dengan anda. Jika anda berkenan.
Salam hangat Kitsune."
"Udon," kata Shizuka bersemangat, sebisa wajah datarnya bersemangat.
Kimihiro tertawa pelan yang terdengar seperti lonceng bagi Shizuka. "Rupanya dinding pelindung yang kubuat terlalu kuat untuk Kitsune-san." Ia berpaling pada Shizuka. "Kau mau ikut?"
"Tentu. Malam ini?"
Kimihiro mengangguk.
xxXxx
Kimihiro memakai kimononya yang berwarna biru dan Shizuka memakai miliknya yang berwarna cokelat. Mereka menunggu sampai matahari terbenam di beranda, lalu menyalakan lampion. Kimihiro menggenggam tangan Shizuka dan menunggu. Tiba-tiba di depan mereka, cahaya-cahaya lampion muncul di udara, membentuk jalan menuju entah kemana. Shizuka tahu ini adalah wilayah batas antara dunia gaib dengan dunia manusia. "Ayo," kata Kimihiro, tidak bisa menyembunyikan semangatnya. Ia menarik Shizuka melewati jalan itu.
Di ujung jalan terdapat tanah lapang dengan sebuah kedai berdiri di tengahnya. Kunang-kunang berterbangan di tanah lapang itu dan anak-anak rubah berlarian di sekitarnya. "Pangeran dan Peramal datang!" seru mereka. "Pangeran dan Peramal datang!"
Kitsune keluar dari kedai untuk menyambut mereka.
"Silakan masuk! Silakan masuk!"
Shizuka menatapnya sekilas yang dibalas senyum lebar oleh Kimihiro dan mereka masuk ke dalam kedai.
Saat matahari terbit, mereka kembali ke beranda rumah, kekenyangan dan tertidur pulas.
Shizuka berpikir, itu adalah oden paling enak yang pernah ia makan.
Jika kalian sadar, my dears, Kimihiro memanggil pangeran 'Doumeki' saat ia cemburu :D
Dengan campur tangan Yuuko apa mungkin Kimihiro bisa hamil? Ahahahaha XD
