Persona 4: Birth Of Tragedy

Genre : Suspense/romance

Synopsis: Semuanya sudah siap…

Disclaimer : Persona 4 milik Atlus, saya hanya punya OOC

Author's Note: chapter tersedih bagi author..(betapa tidak....chapter yang dibuat ketika kompie kesayangan rusak -hardisk ganti- sehingga kehilangan semua mp3, movie dan inspirasi- tapi ya sudahlah... Enjoy dan mohon reviewnya ok…



BAB 10

Toilet Lantai 2

Pukul 08.10

Derap langkah seseorang terdengar semakin mendekat ketika ia memasuki toilet pria itu dengan langkah yang terkesan tenang dan teratur. Langkah kaki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya dilanjutkan dengan menghampiri sebuah pintu sekat pembatas dan menemukan tidak ada satupun orang kecuali sebuah lubang di langit-langit yang ada di atas dengan triplek yang bergeser menampilkan bagian dalam langit-langit itu yang tampak berdebu dan tak terawat.


Kelas 2-1

Pukul 08.15

Suasana di ruang kelas itu berjalan kondusif ketika seorang Noriko Kashiwagi sedang membawakan pelajaran di pagi itu dengan cara yang unik (yap, cara yang unik...). Sisi yang salah dari usia 40-an, setidaknya itu sudah cukup untuk menggambarkan keadaan itu dimana sang guru lebih bertindak bagaikan seorang wanita penggoda, siswa yang hanya dibuat tercengang, Rise Kujikawa yang tidak tersenyum selama pelajaran dan Kanji Tatsumi yang bagaikan kehilangan seluruh pelita jiwanya ketika mendadak sebuah pintu geser kelas yang bewarna biru kehijauan terbuka menampilkan sesosok siswa yang baru saja keluar untuk waktu yang cukup lama membuat kegiatan belajar mengajar terhenti sejenak ketika perhatian seluruh kelas itu tertuju ke arah siswa itu tak terkecuali Kashiwagi yang tentunya akan meminta penjelasan dari sang pelajar yang tak lain tak bukan adalah sosok Vladimir Alexandrov Dostoyevsky yang berwajah tenang dan seakan tak bersalah.

Entah kenapa ketika melihat sosok pria Rusia itu, Kanji cukup tidak nyaman dengan semua ini dan kembali ucapan Rise berputar dalam ingatannya dan seperti gayung bersambut, Rise Kujikawa—sang diva yang tampak bosan selain menelan berbagai sindiran dari guru gila di hadapannya itu seakan menemukan suatu tempat rekreasi yang bisa dimanfaatkannya untuk membangkitkan keceriaannya. Ia lalu mendekati punggung Kanji dan berkata.

"Hmm...pucuk dicinta ulam tiba nih...."

Kanji hanya menoleh ke arahnya tanpa suara dengan wajah yang cemberut bagaikan kertas folio yang dilipat berkali-kali hingga menjadi kertas kecil yang bahkan sukar dilihat lagi, cukup bertolak belakang dengan lawan bicaranya yang tampak sangat menawan sehingga bukan sebuah kejutan lagi jika setiap kali gadis berambut merah muda itu membuka lokernya, ia selalu mendapatkan surat cinta dari beberapa orang yang intinya meminta hal yang sama, Jadilah pacarku. Tapi tidak pernah diindahkannya, hatinya adalah milik Souji dan akan selalu begitu walaupun ia telah wafat dan kenyataan jika ia lebih memilih Yukiko sebagai kekasihnya dengan melupakan Teddie yang senantiasa mengincarnya bagaikan seekor beruang yang mengincar ikan salem yang berenang-renang di sungai.

"Tapi mana Naoto-kun ya?..jangan-jangan ia kelelahan...atau mungkin ..ia tidak kuat lalu pingsan...."

"A...apa katamu?" Mendengar ucapan itu, hati Kanji seakan tertusuk sebuah besi panas. Ia mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia marah tetapi ia sadar jika itu semua tidak berguna.

Sementara itu di depan sana, Noriko Kashiwagi telah menatap pria itu dengan tatapan yang menyelidiki dari atas ke bawah sementara pria itu hanya terdiam seperti patung es.

"Hmmm....sepertinya kau memiliki alasan yang cukup bagus untuk mengatakan kenapa kau baru masuk kelas sekarang..." Suaranya terdengar seperti suara pemain utama wanita dalam film Moulin Rouge, membuat suasana di seluruh kelas itu tenggelam dalam kebekuan lebih-lebih ketika sang guru itu melemparkan pandangannya ke arah bangku kosong di dekat Kanji dan Rise dimana Naoto duduk di sana dan seketika itu juga kelas itu sadar jika keadaan bisa menjadi lebih buruk lagi.

"Ohh...dan aku juga tidak melihat wanita murahan itu di kelas ini juga dari tadi....." Ia kembali menatap pria itu, "Dan yang kudengar adalah kalian berdua keluar bersamaan...jika kau tidak berkeberatan, bisakah kau katakan kemana dia? kecuali jika kau telah diracuni oleh sifat buruk bocah itu..."

Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil menghela nafas sejenak, ia lalu berkata.

"Entahlah...saya tidak tahu soal itu..."

"Apa maksud perkataanmu itu?" Tanya Kashiwagi dengan sinis (apalagi jika ini menyangkut Rise dan Naoto) yang kemudian dibalas dengan tatapan beku pria itu.

"Saya tidak tahu menahu soal itu..." Jawab pria pindahan itu, "Saya memang keluar kelas bersama dengannya..tetapi kami menuju ke arah yang berbeda"

Mendengar hal itu, Kashiwagi hanya terdiam dengan gayanya yang senantiasa cukup seronok sementara seisi kelas hanya terdiam ketika Rise kembali berkasak-kusuk dengan Kanji Tatsumi yang kali ini benar-benar berwajah polos bak seorang bayi yang baru lahir.

"Sepertinya dugaanmu salah, Rise…" Ujar Kanji.

Rise menggeleng pelan, "Nggak….Rise tadi lihat mereka masuk ke wc bersama-sama…itu bohong…"

Dan agaknya kali ini suara dari seorang Rise Kujikawa terdengar oleh sang guru yang sedang berada di depan kelas, membuat guru itu menoleh kea rah mereka sembari berkata, "Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan Kujikawa?"

"T-tidak…"

"Kalau begitu jaga sikapmu! Sifatmu sama buruknya dengan wajahmu…"

Rise hanya bisa terdiam dalam hati yang mendongkol sementara guru itu kembali menatap pria bermata merah itu, "Baiklah kalau begitu…kembali ke tempatmu!"

Vladimir Alexandrov Dostoyevsky yang mendengarkan hal itu lantas mengangguk dan tanpa banyak bicara lagi segera berjalan kembali kearah bangkunya dengan dingin dan ketika pandangan matanya bertemu dengan Kanji, kontan ia merasa jika ada yang tidak beres.

"Tapi kuingatkan padamu, Tuan Alexandrov....jangan berbuat macam-macam di hadapan saya..."

Langkah kaki Vladimir Alexandrov Dostoyevsky terhenti sejenak, ia menoleh ke arah guru yang ada di belakangnya seraya berkata, "Terima kasih, Bu...akan saya ingat dari lubuk hati yang terdalam..." Lalu ia kembali berjalan menuju ke tempat duduknya dengan mengabaikan senyuman kecut Kashiwagi yang ada di belakangnya, yang tak bisa membantah ataupun berkata apapun, lelaki Rusia itu tidak berkata apa-apa yang menghina...Pada saat ia hendak duduk, kedua mata merahnya menatap wajah Kanji yang masam...membuatnya bertanya.

"Huh? Ada apa Kanji-san?"

"Ng-nggak..." jawabnya..."Nggak ada apa-apa kok.." Sementara itu, Rise memasang wajah senyuman licik yang tidak pernah bisa dipahami oleh seorangpun di tempat itu, baik Vlad maupun Kanji.

Ini semua alamat bakalan seru…hehehehe. Pikir Rise dalam hati.


Ruang Guru

Pukul 08.45

Yosuke Hanamura hanya bisa terduduk pasrah di hadapan seorang guru yang tampak bagaikan Hakim Bao yang duduk di meja pengadilan, kacamatanya yang tebal tampak begitu menekan kepercayaan diri Yosuke Hanamura. Sial betul aku hari ini!! Itulah yang kiranya ingin diteriakkan hatinya.

Jujur saja berbicara tentang pokok permasalahan yang menimpanya ini (dan bernama Chie Satonaka), sebenarnya peristiwa tadi pagi itu sudah ada di luar dugaannya sekarang, memang jika berhadapan dengannya ia begitu sensitive, salah bicara kaki melayang—pribahasa baru pengembangan dari buruk muka cermin dibelah tapi jujur saja ia sama sekali tidak tahu dimanakah ia seharusnya salah. Tidak pernah baginya untuk membuat Chie sampai begitu.

"Saya tidak tahu apa masalahmu dengan Satonaka, Hanamura…" Ujar guru itu sambil membenarkan posisi kacamatanya yang berbingkai tebal bewarna merah dengan lensa yang tebal pula sementara di luar sana awan stratus melayang-layang membentuk hamparan awan putih di langit biru yang ceria di luar sana, "Tapi jika kau sampai membuatnya menangis, berarti kau sudah keterlaluan…" Tatapan matanya kini tampak mengamati sosok anak manajer Junes itu dengan tidak menyenangkan dari balik kacamatanya itu. "Semua itu bukan berarti kau itu seorang lelaki, kau bisa berbuat apa saja…"

"T-tapi pak!" Yosuke mencoba membela diri,

"Tidak ada tapi-tapian…kau harus minta maaf padanya…" Ujar guru itu dengan ketus, "Atau kau mau saya mintakan izin skorsing selama satu bulan…"

Oh, crap! Gerutu Yosuke dalam hati, skorsing selama satu bulan hanya karena aku membuat Chie menangis? Jangan bercanda… Ia kini merasa ruangan di sekitarnya seakan bergerang mendekat, mencoba untuk menghimpit dirinya, membuatnya menundukkan kepala dengan sukses.

Aku..harus minta maaf….pikir Yosuke sambil menghela nafas…Apa yang harus kulakukan?


Tokyo, Jepang

Pukul 09.00

Mitsuhiro Seta berdiri di pinggir jendela rumahnya yang terletak di pinggiran kota Tokyo yang sepi dan mengawasi keadaan di luar sana ketika sinar matahari di langit bersembunyi di balik awan yang bewarna kelabu sementara pepohonan yang berdiri tegak di luar sana tampak bergoyang karena tiupan angin kencang, membuat beberapa helai daun terlepas dari ranting-rantingnya sebelum akhirnya melayang bebas dan terjatuh secara perlahan ke muka bumi.

Tak lama lagi semuanya akan terbalas. Ujarnya dalam hati ketika salah seorang bawahannya mengetuk pintu kamarnya.

"Masuk..." Ujar Mitsuhiro Seta yang melirik ke arah pintu kamar itu mempersilahkan bawahannya untuk masuk sementara kedua tangannya tampak sedang menyiapkan sepucuk baretta yang bewarna hitam sementara sebatang rokok tergantung di bibirnya dengan ujungnya yang sudah mulai menjadi abu saat pintu itu terbuka perlahan menampilkan sesosok pria yang tak lain tak bukan adalah bawahannya.

"Bagaimana?" Tanya anak tertua dari keluarga Seta itu dengan tenang seraya membuang abu rokok yang sedang diisapnya itu ke dalam asbak kaca yang tebal yang terletak di atas sebuah meja yang terbuat dari kayu yang ada di dekatnya sementara kedua matanya yang bewarna abu-abu menatap kearah bawahannya itu yang kini telah berdiri di hadapannya.

"Semuanya sudah siap, tuan...." ujar bawahannya itu dengan tenang membuat satu-satunya anak keluarga Seta yang tersisa itu tersenyum, tanpa banyak bicara lagi ia lalu menyambar sebuah jas bewarna hitam yang tergantung didekatnya sambil berjalan meninggalkan ruangan kamar yang bergaya klasik tahun 50-an itu dalam kesendirian sementara dibalik kaca jendela yang tertutup oleh tirai, sebuah Aston Martin Rapide bewarna hitam terparkir tepat di depan rumah itu dengan 3 orang pengawal yang berdiri di sekitarnya, menunggu seorang Mitsuhiro Seta untuk masuk ke dalamnya sebelum akhirnya pergi.


Kelas 2-1

Pukul 09.05

Kegiatan belajar mengajar di sekolah itu masih terus berlangsung ketika telepon genggam milik Vladimir Alexandrov Dostoyevsky berbunyi menandakan sebuah pesan masuk dengan suara yang kecil sehingga tidak menarik perhatian. Dengan tenang, ia lalu melihat isi pesan itu.

Dari : Mitsuhiro

Penghalang sudah disingkirkan?

Menatap ke arah isi pesan itu, ia hanya terdiam tanpa kata-kata kecuali membalas pesan itu dengan satu kata yang singkat namun menjelaskan segalanya.

Sudah..

Dan ia lalu mengirimkan pesan itu secara tersembunyi, sementara itu bermil-mil jauhnya dari tempatnya berada sekarang, Mitsuhiro Seta tampak tersenyum puas saat melihat pesan itu di tengah-tengah laju Aston-nya yang menyusuri jalanan kota Tokyo yang cukup padat dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya ia menyimpan kembali telepon genggamnya dan mengawasi keadaan di sekitarnya dengan tenang tanpa bicara sepatah kata apapun layaknya sebuah patung es berjalan, begitu pula dengan tiga orang bawahan yang mengawalnya di dalam mobil berkapasitas 4 orang penumpang itu.


Kelas 3-1

Pukul 10.00

Bel tanda istirahat pertama di sekolah itu berbunyi dengan nyaring ke seluruh penjuru gedung sekolah yang terletak di kota Inaba itu, membuat para guru menyudahi pelajaran yang mereka berikan dan meninggalkan ruang kelas setelah salam formalitas terakhir sebagai bentuk penghormatan diberikan oleh para murid, membuat ruang kelas yang sedianya tenang sejak jam pelajaran pertama kembali pada keadaan sebelum pelajaran sekolah dimulai seperti layaknya kelas 3-1 yang terletak di lantai 3 pada saat Yukiko Amagi beranjak dari tempat duduknya sementara Yosuke Hanamura yang tampak seperti pejuang yang telah kehabisan jiwa kini menempelkan kepalanya di atas meja seakan ingin merasakan tekstur keras dari meja itu.

Mungkin Yukiko Amagi tidak tahu dengan apa yang kini ada di dalam benak Yosuke Hanamura bahwa sesungguhnya ia sedang kehabisan cara atau lebih tepatnya adalah tidak tahu apa yang bisa dia perbuat untuk bisa membuat seorang Chie Satonaka memaafkannya. Satu hal yang agaknya cukup jelas dalam kepala pemuda berambut pirang itu adalah jika masalah kali ini sepertinya tidak akan selesai hanya dengan seporsi steak di Junes. Apa yang harus kulakukan sekarang? pikirnya sambil menatap ke arah tempat duduk milik gadis berambut bob yang masih kosong itu--tanda jika ia belum juga kembali. Entahlah...yang jelas semua ini adalah buruk.

Ia lalu menghela nafas saat ia melemparkan pandangannya ke arah teman baik Chie Satonaka itu, mungkin Yukiko-san bisa membantuku.

"Yukiko-san..." Panggil Yosuke seraya mengangkat kepalanya yang seakan mencium meja itu, akan tetapi gadis itu tidak mendengar suaranya selain menjauh dan hendak keluar dari kelas, membuat anak manager Junes Departement Store itu kembali memanggil namanya lebih keras, "Yukiko-san!"

Tetapi semuanya sia-sia...gadis itu telah menghilang dari hadapannya.

Besok jam istirahat...karena aku pulang cepat besok

Isi pesan singkat yang diterimanya kemarin kembali bergema dalam kepala Yukiko Amagi saat ia berjalan menuruni tangga saat ia mendapati sosok Vladimir Alexandrov Dostoyevsky berdiri menunggu di antara keramaian siswa-siswi sekolah itu dengan sabar dan dengan instruksinya ia mengajak gadis berambut panjang itu ke suatu tempat sementara Yosuke hanya bisa tertunduk bisu meratapi ketololannya dalam sepi di dalam keramaian kelas yang dipenuhi oleh manusia-manusia muda..


The Author's sez:

Dan sampai disini dulu chapter kali ini...dan seperti biasa adalah review dan masukan serta ide yang saya mohonkan agar diberikan oleh anda-anda sekalian. Hm..kayaknya segitu aja deh kali ini....dan....kembali saya harus mengurus makhluk ini...-buka pintu gudang-

A: I'm back...

K: BIarkan gw keluar...menghirup udara bebas.

A: Dengan semua hal yang sudah membuat gw jd begini....

K: Emang kenapa?

A: Gara-gara lo....gw digosipin gay!!!

K: Lha...siapa suruh siksa gw...?

A: Bangun...-njambak rambut Kanji-

K: Argh...!!

A: Kuberitahu alasannya sekarang...-nglempar Kanji ke tong sampah- alasannya adalah...semua ini karena lo tu preman gagal...lelaki jadi-jadian!!! dan gw akan membuat lo jadi lelaki sejati...

K: Huh? A-apa maksud lo..

A: Tenang..kita bakal senang-senang kok -senyum sambil ngeluarin video cam-

K: kok kayaknya gw ngerasa ada yang ga beres ya..

A: Dengan cara memfilmkan kamu melakukan adegan hentai dengan Naoto ahahahahaha...gimana senang kan?

K: Ratingnya bos...

A: masa bodo...yang penting kan kalo udah jadi bisa perbanyak...sebar di internet...jual ke temen...mayan buat nambahin uang jajan -evil smile-

K: oh crap...

A: Sekarang ayo ikut...gw buat lo jadi lelaki sejati...-keluar sambil nyeret Kanji-

DAn mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu...menuju ke lokasi syuting

Dan sekian dulu hasil poling kali ini Cuma saya ga taw ya....kok lagi2 kebiadaban berjangkit di otak saya....gimana kalo entah itu Kanji/Yosuke/Souji itu dibunuh orang yang ga dikenal trus yang dituduh ngebunuh sama polisi tu pacarnya sendiri...atau....menyuntik teddie atau nanako dengan sebuah virus menular (mematikan lagi)dan membiarkan mereka berbaur di tengah masyarakat sambil menyebarkan virus itu....belizimo...

DAn inspirasi kali ini:

- Film yang ga sengaja di liat di cinemax

- Lagu ost-nya the godfather

- Top Gear

Well...tolong review...masukan..ide...dan trakhir...sampai chapt berikutnya!!!