A Walk To Remember

Kan Kukenang Selalu

Chapter 10


Disclaimer: Cerita ini milik Nicholas Sparks, penulis asli novel "A Walk To Remember". Semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini, tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.

Warn! Typo(s) OOC AU diksi tidak tepat dll.

Remake! : Emma Griselda ‖ Rating : T


AKU mengantar Kagome pulang dari panti asuhan malam itu. Mulanya aku tidak yakin apakah aku akan melakukan kebiasaan lama dengan pura-pura menguap dan meletakkan tanganku di pundaknya, tapi sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana perasaan Kagome terhadapku. Memang, ia telah memberikan hadiah paling istimewa yang pernah kuterima. Meskipun aku mungkin tidak pernah akan membukanya dan membacanya seperti yang dilakukan Kagome, aku tahu pemberian Alkitab itu baginya sama seperti memberikan sebagian dari dirinya sendiri. Namun, Kagome memang termasuk orang yang akan mendonorkan sebuah ginjalnya pada orang asing yang ditemuinya di jalanan, kalau orang itu memang betul-betul membutuhkannya. Jadi, aku tidak yakin akan arti hadiah yang diberikannya ini.

Kagome pernah mengatakan padaku bahwa ia bukanlah orang tolol, dan kurasa akhirnya aku mengakui bahwa Kagome memang tidak tolol. Ia mungkin saja … ehm, berbeda … tapi, rupanya ia tahu apa yang telah kulakukan untuk anak-anak panti asuhan itu, dan kalau direnungkan kembali, kurasa ia sudah mengetahuinya bahkan di saat kami sedang duduk di lantai ruang tamunya. Ketika ia menyebutnya sebagai mukjizat, kurasa yang dimakusd Kagome adalah aku.

Seingatku, Akihiro masuk ke dalam ruangan saat Kagome dan aku sedang membicarakannya, namun, ia tidak banyak bicara ketika itu. Akihiro tua memang tidak seperti biasanya belakangan ini, setidaknya sepanjang pengetahuanku. Oh, khotbah-khotbahnya masih tetap tentang uang, dan ia masih menyinggung tentang para pezina, tapi akhir-akhir ini khotbahnya lebih pendek daripada biasanya, dan kadang-kadang ia akan berhenti di tengah khotbahnya dan akan memandang dengan tatapan aneh, seakan tiba-tiba teringat pada sesuatu, sesuatu yang menyedihkan.

Aku tidak tahu apa artinya, karena aku tidak mengenalnya dengan cukup baik. Saat Kagome membicarakan ayahnya, sepertinya ia sedang mendeskripsikan seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Aku tidak bisa membayangkan Akihiro yang memiliki rasa humor sebagaimana aku tidak bisa membayangkan ada dua buah bulan di langit.

Bagaimanapun, ia memasuki ruangan sementara kami sedang menghitung uang, dan Kagome berdiri dengan air mata tergenang. Akihiro bahkan seakan tidak menyadari kehadiranku di sana. Ia mengatakan pada putrinya bahwa ia bangga padanya dan menyayanginya, tapi kemudian ia kembali ke dapur untuk menyelesaikan khotbahnya. Ia bahkan tidak menyapaku sama sekali. Oke, aku tahu bahwa aku bukan anak muda yang paling religius dalam jemaatnya, namun, aku tetap menganggap sikapnya agak aneh.

Saat sedang memikirkan Akihiro, aku melirik ke arah Kagome yang sedang duduk di sebelahku. Ia sedang menatap ke luar jendela dengan wajah damai, tersenyum simpul, tapi pada saat yang sama tatapannya seakan menerawang. Aku tersenyum. Mungkin ia sedang memikirkan diriku. Tanganku mulai terulur ke arah tempat duduknya, namun sebelum aku berhasil meraih tangannya, Kagome memecah keheningan di antara kami.

"Sesshōmaru," katanya sambil berpaling ke arahku, "apakah kau pernah memikirkan Tuhan?"

Aku menarik tanganku.

Saat aku sedang memikirkan Tuhan, aku biasanya membayangkan-Nya seperti dalam lukisan-lukisan tua yang biasa aku lihat di gereja-gereja—sosok yang tinggi besar menjulang di atas suatu pemandangan alam, dalam jubah putih dan rambut panjang tergerai, jarinya menunjuk atau semacam itu—namun aku tahu bahwa bukan itu yang dimaksud Kagome. Ia sedang berbicara tentang rencana Tuhan. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk menjawab.

"Tentu," sahutku. "Kadang-kadang, kurasa."

"Apakah kau pernah mempertanyakan mengapa ada beberapa hal harus terjadi sebagaimana adanya?"

Aku mengangguk, meskipun tidak begitu yakin.

"Aku sering memikirkan hal itu belakangan ini."

Lebih sering daripada biasanya? Aku ingin bertanya, namun, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tahu masih banyak yang ingin disampaikan Kagome, karena itu aku tetap diam.

"Aku tahu Tuhan memiliki rencana untuk kita semua, tapi kadang-kadang aku tidak mengerti apa pesan di balik itu. Apakah kau pernah mengalaminya?"

Ia mengatakannya seakan hal itu selalu kupikirkan sepanjang waktu.

"Well," ujarku, sambil berusaha untuk mengarang menjawab, "kurasa kita memang tidak harus mengerti sepanjang waktu. Kurasa kadang-kadang kita hanya perlu percaya saja pada-Nya."

Kuakui itu jawaban yang lumayan bagus. Kurasa perasaanku terhadap Kagome membuat otakku bisa bekerja lebih cepat daripada biasanya. Aku bisa melihat bahwa ia sedang memikirkan jawabanku.

"Ya," kata Kagome akhirnya, "kau benar."

Aku tersenyum dalam hati dan mengubah topik pembicaraan, karena berbicara tentang Tuhan bukanlah jenis percakapan yang dapat membangkitkan suasana romantis.

"Kau tahu," ujarku ringan, "rasanya menyenangkan tadi ketika kita duduk di bawah pohon."

"Ya, memang," ujarnya. Pikiran Kagome masih berada entah di mana.

"Dan kau juga kelihatan cantik."

"Terima kasih."

Ini tidak selancar yang kuharapkan.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku akhirnya, dengan harapan perhatiannya akan teralih padaku kembali.

"Tentu," sahutnya.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Setelah pulang gereja besok, dan, ehm … setelah kau menghabiskan waktu bersama ayahmu … maksudku …" Aku terdiam sejenak dan menoleh ke arahnya. "Maukah kau datang ke rumahku untuk makan malam Natal?"

Meskipun wajahnya masih mengarah ke jendela, aku bisa melihat samar-samar bayangan sebuah senyum.

"Ya, Sesshōmaru, dengan senang hati."

Aku menarik napas lega, sementara aku masih belum dapat mempercayai bahwa aku telah sungguh-sungguh mengajaknya. Aku bertanya-tanya bagaimana semua ini sampai bisa terjadi. Aku melewati jalan yang jendela-jendelanya tampak dihiasi lampu-lampu Natal, lalu melintasi Beaufort City Square. Beberapa menit kemudian, ketika aku mengulurkan tanganku ke arah kursinya, aku akhirnya berhasil menggenggam tangannya, dan Kagome tidak menarik tangannya menjauh. Itulah akhir malam yang sempurna.

o0o—

Ketika kami tiba di depan rumahnya, lampu-lampu di ruang tamunya masih menyala dan aku bisa melihat Akihiro di balik gorden. Kurasa Akihiro sengaja menunggu karena ia ingin mendengar cerita tentang acara di panti asuhan itu. Entah itu, atau ia ingin memastikan bahwa aku tidak mencium putrinya di jalan masuk rumahnya. Aku tahu Akihiro akan mengangkat alisnya jika aku melakukan hal-hal semacam itu.

Aku sedang memikirkan—mengenai apa yang akan kulakukan di saat kami akhirnya harus berpisah, maksudku—saat kami keluar dari mobil dan mulai melangkah ke arah pintu. Kagome tampak senang dan puas pada waktu yang bersamaan, dan kurasa ia gembira aku mengundangnya untuk datang ke rumahku besok. Karena Kagome cukup cerdas untuk menarik kesimpulan mengenai apa yang telah kulakukan untuk anak-anak panti asuhan itu, kurasa ia juga cukup peka untuk memahami situasi ini. Kurasa ia bahkan menyadari bahwa baru pertama kali inilah aku mengajaknya menghabiskan waktu bersamaku atas kemauanku sendiri.

Saat kami menapakkan kaki di undakan depan rumahnya, aku melihat Akihiro mengintip ke luar dari balik gorden kemudian menarik dirinya kembali. Sebagian orang tua, seperti orang tua Kagura misalnya, itu berarti bahwa mereka tahu kau sudah sampai di rumah dan kau masih memiliki beberapa menit lagi sebelum mereka membukakan pintu. Biasanya itu memberi waktu untuk bertatapan sambil mengumpulkan keberanian untuk berciuman. Biasanya waktu yang dibutuhkan memang selama itu.

Sejauh ini aku tidak tahu apakah Kagome mau menciumku, sesungguhnya aku tidak yakin ia mau. Tapi, dengan penampilannya yang begitu cantik, dengan rambut tergerai dan semua yang terjadi malam itu, aku tidak ingin menyia-nyiakan peluang itu kalau memang ada. Aku dapat merasakan ketegangan di dalam perutku saat Akihiro membuka pintu.

"Aku mendengar suara kalian," ujarnya perlahan. Kulitnya tampak pucat seperti biasanya, dan ia kelihatan lelah.

"Halo, Pendeta Higurashi," sapaku dalam nada kecewa.

"Hai, Otōsan," sapa Kagome dengan riang beberapa saat kemudian. "Seandainya Otōsan ikut tadi. Suasanya betul-betul luar biasa."

"Aku ikut gembira." Akihiro seakan mengumpulkan keberanian kemudian berdeham. "Aku akan beri kalian kesempatan untuk saling mengucapkan selamat malam. Aku akan membiarkan pintunya terbuka."

Akihiro memutar tubuhnya dan kembali masuk ke ruang duduk. Dari tempatnya duduk, aku tahu bahwa ia masih dapat mengawasi kami. Ia berpura-pura membaca, meskipun aku tidak bisa melihat apa yang ada di tangannya.

"Aku senang sekali malam ini, Sesshōmaru," ujar Kagome.

"Aku juga," sahutku, sementara merasakan tatapan Akihiro yang ditujukan ke arahku. Aku bertanya-tanya apakah Akihiro tahu bahwa aku telah menggenggam tangan putrinya dalam perjalanan pulang.

"Pukul berapa sebaiknya aku datang besok?" tanya Kagome.

Alis Akihiro tampak terangkat sedikit.

"Aku akan menjemputmu. Bagaimana kalau pukul lima?"

Ia menoleh ke belakang. "Daddy, apakah aku boleh mengunjungi rumah orang tua Sesshōmaru besok?"

Akihiro mengangkat tangannya lalu menggosok matanya. Ia mendesah.

"Kalau itu kau anggap penting, boleh saja," sahutnya.

Bukan jawaban yang terlalu meyakinkan, tapi cukup baik bagiku.

"Apa yang harus kubawa?" tanyanya. Sudah merupakan tradisi di daerah Setalan untuk menanyakan pertanyaan itu.

"Kau tidak usah bawa apa-apa," sahutku. "Aku akan menjemputmu pukul lima kurang seperempat."

Kami masih berdiri di sana selama beberpaa saat tanpa mengatakan apa-apa, dan aku bisa melihat Akihiro mulai agak kehilangan kesabarannya. Ia belum membalik selembar pun halaman bukunya sejak kami berdiri di sana.

"Sampai ketemu besok," ujar Kagome akhirnya.

"Oke," sahutku.

Ia menundukkan kepalanya untuk sesaat, kemudian menatapku lagi. "Terima kasih telah mengantarku pulang," katanya.

Setelah itu, ia berbalik dan melangkah masuk. Sekilas aku melihat seulas senyum membayang lembut di bibirnya saat ia mengintip dari balik pintu, persis sebelum ia menutupnya.

o0o—

Keesokan harinya aku menjemput Kagome tepat pada waktunya dan senang melihat rambutnya kembali tergerai. Ia mengenakan sweter yang kuberikan padanya, tepat sesuai janjinya.

Ibu maupun ayahku agak tercengang ketika aku menanyakan pada mereka, apakah mereka tidak keberatan kalau aku mengundang Kagome untuk makan malam. Sebetulnya itu bukan masalah—setiap kali ayahku pulang, ibuku akan menyuruh Helen, koki kami, memasak cukup banyak untuk sebuah pasukan kecil.

Kurasa aku belum menyebutkannya sebelum ini, mengenai si koki, maksudku. Rumah kami memiliki seorang pelayan dan seorang koki, bukan hanya karena keluargaku mampu, tapi juga karena ibuku bukan ibu rumah tangga paling hebat di muka bumi ini. Ia memang bisa membuat sandwich sekali-kali untuk makan siangku. Tapi, ada saat-saat ketika mustard bisa menodai kuku-kukunya, dan untuk melupakannya ia akan membutuhkan sedikitnya tiga sampai empat hari. Tanpa Helen, aku mungkin dibesarkan hanya dengan memakan kentang lembut hangus dan steik garing. Untungnya, ayahku sudah menyadari itu begitu mereka menikah, sehingga si koki maupun pelayan kami sudah bekerja di tempat kami sejak sebelum aku lahir.

Meskipun rumah kami lebih besar daripada rumah kebanyakan orang, itu bukan istana atau semacamnya, dan koki maupun pelayan kami tidak tinggal bersama kami karena kami tidak memiliki fasilitas tinggal yang terpisah atau semacam itu. Ayahku telah membeli rumah itu karena historisnya. Meskipun rumah kami bukan yang pernah ditinggali Blackbeard, yang tentunya akan menjadikannya lebih menarik lagi bagi orang seperti aku. Pemilik sebelumnya adalah Kazuo, yang pernah ikut menandatangani Konstitusi. Kazuo juga pernah memiliki rumah pertanian di daerah pinggiran New Bern, yang terletak sekitar empat puluh mil dari jalan besar, dan di sanalah ia dimakamkan. Rumah kami memang tidak setenar rumah tempat Kazuo dimakamkan, meskipun masih memberikan hak pada ayahku untuk membual di sepanjang lorong gedung Kongres. Setiap kali ayahku mengitari kebun, aku bisa melihatnya berangan-angan mengenai warisan yang ingin ditinggalkannya. Entah mengapa itu membuatku sedih, karena apa pun yang akan ia lakukan, ia takkan pernah bisa mengungguli Kazuo. Suatu peristiwa bersejarah seperti menandatangani Konstitusi hanya akan terjadi sekali selama beberapa ratus tahun, dan entah apa pun yang kau lakukan, seperti memperjuangkan subsidi para petani tembakau atau menyatakan pendapatmu mengenai "pengaruh Merah" tidak akan bisa menandinginya. Bahkan orang seperti aku tahu mengenai hal itu.

Rumah kami pernah tercatat dalam National Historic Register—dan kurasa masih sampai sekarang. Meskipun Kagome sudah pernah ke rumahku sebelumnya, ia tetap masih terkesan saat melangkah masuk ke rumahku. Ibu dan ayahku mengenakan pakaian yang bagus, begitu juga aku, dan ibuku mencium pipi Kagome untuk menyambutnya. Saat ibuku menciumnya, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak berpikir bahwa ibuku lebih berhasil daripada aku.

Kami menikmati makan malam yang menyenangkan, cukup resmi dengan empat menu utama meskipun tidak terlalu mengenyangkan. Orang tuaku dan Kagome mengobrol dengan akrab—meskipun aku mencoba nimbrung dengan lelucon-leluconku, sasarannya terasa kurang mengena, setidaknya orang tuaku tidak mengerti. Tetapi, Kagome tertawa, dan akui menganggapnya sebagai pertanda baik.

Setelah makan malam aku mengajak Kagome berjalan-jalan di kebun, meskipun saat itu musim dingin dan bunga-bunga tidak ada yang mekar. Setelah mengenakan jaket, kami melangkah ke luar menembus udara dingin. Aku bisa melihat asap yang keluar mengiringi hembusan napas kami.

"Orang tuamu benar-benar pasangan yang luar biasa," katanya kepadaku. Kurasa selama ini ia tidak memasukkan khotbah-khotbah Akihiro di dalam hatinya.

"Mereka memang baik," sahutku, "dengan cara mereka masing-masing. Ibuku sangat manis." Aku mengatakan ini bukan hanya karena kenyataannya memang begitu, tapi juga karena hal yang sama biasanya diucapkan anak-anak tentang Kagome. Aku berharap Kagome menangkap maksudku.

Ia berhenti melangkah untuk memperhatikan semak-semak tanaman mawar. Bunga-bunga itu tampak gersang, dan aku tidak mengerti apa yang membuatnya merasa tertarik.

"Apakah benar yang mereka katakan tentang kakekmu?" tanya Kagome. "Apa yang diceritakan orang-orang tentang dirinya?"

Rupanya ia tidak menangkap isyaratku saat itu.

"Ya," sahutku, sambil mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa kecewaku.

"Itu menyedihkan," ujarnya dalam nada ringan. "Makna hidup ini kan lebih daripada sekadar uang."

"Aku tahu."

Ia menatapku. "Sungguh?"

Aku tidak membalas tatapannya saat menyahut. Jangan tanyakan padaku mengapa.

"Aku tahu apa yang dilakukan oleh kakekku itu salah."

"Tapi, kau berniat untuk mengembalikannya, bukan?"

"Sejujurnya, aku belum pernah sungguh-sungguh memikirkan soal itu."

"Tapi, apakah kau akan melakukannya?"

Aku tidak langsung menjawab, dan Kagome mengalihkan perhatiannya dariku. Ia mulai memandangi tanaman mawar dengan tangkai-tangkainya yang gersang lagi, tiba-tiba aku sadar bahwa ia ingin aku mengatakan 'ya'. Itu merupakan sesuatu yang akan ia lakukan tanpa berpikir dua kali.

"Kenapa kau selalu melakukan itu?" celetukku sebelum sempat menahan diri. Aku merasa darahku naik ke pipiku. "Membuatku merasa bersalah, maksudku. 'Kan bukan aku yang melakukannya. Kebetulan saja aku lahir di dalam keluarga ini."

Kagome mengulurkan tangannya untuk menyentuh setangkai mawar. "Tapi, itu bukan berarti kau tidak dapat memperbaikinya," ujarnya dengan lembut, "saat kau mendapatkan kesempatan untuk itu."

Aku memahami benar maksud Kagome, dan jauh di dalam lubuk hatiku aku tahu bahwa ia benar. Namun, keputusan itu, kalaupun harus diambil, masih jauh sekali. Menurut pendapatku, masih banyak hal penting lain yang harus kuselesaikan. Aku mengubah topik percakapan kami ke sesuatu yang terasa lebih mudah bagiku.

"Apakah ayahmu menyukaiku?" tanyaku. Aku ingin tahu apakah Akihiro akan mengizinkanku menemui Kagome lagi.

Kagome membutuhkan beberapa waktu sebelum menjawab.

"Ayahku," ujarnya pelan, "mengkhawatirkanku."

"Bukankah semua orang tua begitu?" tanyaku.

Ia menundukkan kepalanya, kemudian melihat ke arah lain sebelum menatapku kembali.

"Kurasa ayahku berbeda dengan orang tua lain. Tapi, ia menyukaimu, dan ia tahu aku senang bertemu denganmu. Karena itulah ia mengizinkanku datang ke rumahmu untuk makan malam ini."

"Aku senang ia mengizinkanmu," ujarku tulus.

"Aku juga."

Kami bertatapan di bawah penerangan cahaya bulan, dan aku hampir saja menciumnya di situ, namun ia keburu menoleh dan mengatakan sesuatu yang sempat membuatku bingung.

"Ayahku juga mengkhawatirkanmu, Sesshōmaru."

Caranya mengatakan itu—lembut dan sedih pada waktu yang bersamaan—membuatku tahu bahwa alasannya bukan hanya sekadar karena ia menganggap diriku kurang bertanggung jawab, atau karena aku sering bersembunyi di balik pohon dan mengejeknya, atau bahkan karena aku merupakan bagian dari keluarga Taishō.

"Kenapa?" tanyaku.

"Untuk alasan yang sama seperti aku mengkhawatirkanmu," sahutnya. Ia tidak menguraikan lebih lanjut, dan aku tahu saat itu bahwa ia menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan kepadaku, sesuatu yang juga membuatnya sedih. Namun, baru kemudian aku tahu rahasianya itu.

o0o—

Jatuh cinta pada gadis seperti Kagome Higurashi jelas merupakan hal paling aneh yang pernah kualami. Bukan hanya ia gadis yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelum tahun ini—meksipun kami dibesarkan bersama—tapi, ada sesuatu yang berbeda di dalam seluruh caraku merasakan sesuatu untuknya. Sama sekali berbeda dengan perasaanku terhadap Kagura, yang langsung kucium saat kami hanya berduaan. Aku belum pernah mencium Kagome. Aku bahkan belum pernah memeluknya atau mengajaknya ke Cecil's Diner atau bahkan mengajaknya nonton film. Aku belum melakukan sesuatu yang biasanya kulakukan dengan cewek-cewek lain, namun demikian aku telah jatuh cinta padanya.

Masalahnya adalah, aku masih belum tahu bagaimana perasaannya terhadapku.

Oh ya, tanda-tandanya memang ada, yang sebetulnya sama sekali tidak luput dari perhatianku. Alkitab itu, tentu saja, yang tampak jelas, tapi selain itu aku ingat caranya menatapku saat menutup pintu rumahnya di Malam Natal. Ia juga telah membiarkanku menggenggam tangannya dalam perjalanan pulang dari panti asuhan. Menurutku jelas ada sesuatu—hanya aku masih belum yakin bagaimana cara mengambil langkah selanjutnya.

Ketika aku akhirnya mengantar Kagome pulang setelah acara makan malam Natal itu, aku menanyakan padanya apakah aku boleh datang ke rumahnya kapan-kapan, dan ia mengatakan itu akan menyenangkan. Begitulah persisnya yang ia katakan—"Itu akan menyenangkan". Aku tidak memedulikan sikap kurang antusiasnya—Kagome memang memiliki kecenderungan untuk berbicara seperti orang dewasa, dan kupikir karena itulah ia dapat bergaul dengan mereka yang lebih tua dengan begitu akrab.

Hari berikutnya aku berjalan ke rumahnya, dan hal pertama yang kuperhatikan adalah mobil Akihiro sedang tidak ada di jalan masuk. Ketika ia membuka pintu, aku cukup tahu diri untuk tidak menanyakan kepadanya apakah aku boleh masuk.

"Halo, Sesshōmaru," sapanya seperti biasa, seakan ia terkejut melihatku. Rambutnya kembali tergerai, dan aku menganggapnya sebagai pertanda baik.

"Hai, Kagome," ujarku ringan.

Ia menunjuk ke arah kursi-kursi di depannya. "Ayahku tidak di rumah, tapi kita bisa duduk-duduk di teras kalau kau mau …"

Jangan tanyakan padaku bagaiman kejadiannya, karena aku juga masih belum dapat menjelaskannya. Sesaat aku berdiri di sana di hadapannya, bersiap-siap untuk berjan ke teras, namun ternyata aku tidak melakukannya. Bukannya melangkah ke arah kursi-kursi yang ditunjuknya, aku malah melangkah mendekati Kagome dan meraih tangannya. Aku menggenggam tangannya dan menatap matanya lekat-lekat, sambil bergerak semakin dekat. Ia tidak melangkah mundur, namun, matanya melebar sedikit, dan untuk sekejap aku sempat mengira bahwa aku telah melakukan kesalahan dan nyaris tidak meneruskannya. Aku berhenti sebentar dan tersenyum, sambil memiringkan kepalaku, dan hal berikut yang kulihat adalah Kagome memejamkan matanya dan juga sedang memiringkan kepalanya. Wajah kami semakin berdekatan.

Kejadiannya tidak sepelan itu, dan yang jelas tidak seperti ciuman yang kau lihat di dalam film-film zaman sekarang. Namun, dalam caranya sendiri, ciuman kami amat istimewa. Satu hal yang terlintas dalam benakku saat bibir kami bertemu adalah aku yakin kenangan itu akan abadi selamanya.


TO BE CONTINUED—


A/N: Semua pertanyaan mengenai tulisan ini, akan dibalas di final chapter. Tulisan ini akan diperbarui setiap chapter untuk setiap hari.

Salam hangat,

Emma Griselda

Surakarta, 19 Oktober 2017