NAC's Vacation to Bali
-WHAT?! IMPOSSIBLE!!-
"Apa? Cross-sensei sama O-chan-sensei berantem?" Allen memastikan.
"Sejak kapan?!" Rhode dan Lenalee nyambut.
"Liat aja deh... dari kemaren mereka jauh-jauhan, kan?" Lavi memberi alasan yang langsung disusul dengan manggut-manggutnya temen sekelasnya.
"Emang jauh-jauhan artinye berantem, nye?" tanya Johny polos.
"JELAS DONK JOHNY!!!" bantai para cewe' ditambah Lavi.
Disisi lain...
"Seriusan! Tumben banget, kan? Si Olivia n si Cross ga leket-leketan kaya amplop ma perangko," Komui mulai berujar.
"Indeed, bener juga ya... semalem juga... si Cross ga terus bareng si Olivia, lho. Malah waktu si Olivia udah tumbang aja baru si Cross ngedeketin dan bawa dia pulang," Reever menjelaskan.
"Kalo kata gue sih... ini kesempatan emas, Bak-sensei. Kan kalo Olivia ga punya Cross di sampingnya, kamu bisa ngedapetin dia lebih gampang, kan?" goda Komui, dalam hati, bagus, kalo lu jadi sama Olivia, Lenalee bakalan 100% aman.
Bak berseri. Dia sudah memutuskan kalau dia akan mendapatkan Olivia. Para guru-guru pun nampaknya setuju membantu Bak-sensei.
Selain itu...
"Udah dong, Olivia..." bujuk Claude.
"Tapi... ta... tapi," masih mau nangis, walau keliatannya cuman kaya orang kelilipan mpe matanya be-aer.
"Masih banyak cowo' diluar sana, bukan cuman si keparat tukang gombal itu doang, kan?"
"Tapi Cross beda, Claude. Dia kenal saya... dan dia bisa ngebuat saya..."
"Tapi kalo tetep aja dia nyakitin kamu, untuk apa dipertahanin?" saran Claude lagi.
"Tapi, sayang kan ga selamanya manis... sayang tuh kadang perih banget..."
"Dan kalo ternyata dia bukan orangnya?"
Olivia diam. Claude bener juga sih, tapi Olivia ga suka kalau dia harus kehilangan apapun. Malah kalo bisa, dia pengen bisa milikin semua hal tanpa harus kehilangan apapun. Ga etis sih... ember, tapi siapa juga yang ga mau hal itu, coba?
***
And the Fight's On
Cross diem.
Olivia juga diem; sambil meluk Timcanpy yang entah kenapa jadinya deket banget sama dia.
Bak diem, kalo yang satu ini jelas kenapa ga bisa ngomongnya.
Alumnus masih sibuk sendiri, kaga merhatiin apapun; tapi bisa dibilang diem juga.
Guru-guru, diem, cuman dalem hati pada bilang, fight! Entah ngedukung siapa.
NAC, mereka sih kalo diem artinya detik-detik menuju kiamat; intinya, mereka tetep aja ribut.
Bisik Rhode pada Lenalee dan Fou, "ih, ngeliat mereka berdua diem-dieman gitu malah bikin kesel deh!"
Beberapa teman-temannya mengangguk setuju.
Kalo mereka terus berantem, artinya kemungkinan Cross-sensei masuk kelas tepat waktu tiap Social Subject bertambah besar. Dan itu adalah bencana!
Komui memberi semangat dengan bisikan tepat di kuping Bak, "ayo! Kamu bisa. Ajak ngomong tuh..."
Kalo saran dari Cross tentang ngegaet cewe', itu gue masih bisa terima... masalahnya, emang tu manusia bakal bagi-bagi sarannya? Apa lagi kalo strike objectnya Olivia... ga mungkin, kan? Lha ini... Komui yang bahkan ga pernah pacaran yang sis-con lagi yang ngasih saran... perlu dicoba ga sih? Bak mempertimbangkan.
"Bener, kan? Perempuan itu lebih suka sama laki-laki yang pinter..." Claude mengakhiri kebisuan. "Setuju ga, O-chan?"
"Pastinya, sih. Kalo ga pinter, mending jangan pernah ngarep," tetap dingin seperti biasanya.
Cross dan Bak, keduanya masih confident bahwa mereka masuk kedalam kategori itu; ya... seenggaknya sampe Tiedoll yang entah punya dendam kesumet apa sama Cross melanjutkan kata-kata Olivia yang dingin tadi, "tapi ga asal pinter ngegombal, kan?"
Sing... sing... sing... ada yang rasanya masuk ke kuburan tuh.
Ngerasa diri pinter sih, keduanya emang. Tapi kalo udah punya embel-embel ngegobal, kayanya mau sepinter apa juga ga guna ya?
"Gombal?" tanya Olivia, "saya ga butuh janji. Yang saya perluin itu kepastian. Apa pentingnya janji, pujian, n harapan kalo akhir-akhirnya malah bikin sakit hati kalo ga kesampean."
Strike! Tapi... kali ini panah yang menyakitkan.
"Tapi... bukannya Bak dikenal sebagai guru yang tepat janji?" tanya Komui, yang juga kayanya having grudge ke Cross.
"Bener! Sangking tepat janjinya, bilang minggu depan mau ulangan beneran ada ulangan minggu depannya, kan?!" sambut beberapa member NAC yang mendapatkan nilai bagus, siapa aja... well, have a thinking of them, ok?
Ga nyambung!
Nie anak-anak!!! Minta di sate, atau direbus? Atau di barberque? Atau di panggang? Atau di goreng?
Cross, kamu lagi laper?
"Iya... enak punya guru kaya Bak. Ga kaya zaman gue, guru gue cuman bisa bilang belajar, tapi ga pernah ngajar..." sambung Anita.
Nanclep lagi dah...
"Wah... kalo gitu Olivia... gue bisa jadi kandidat, kan?" tanya Bak polos.
Cross, MAU NGAJAK PERANG? OK, GUE LADENIN TANTANGAN LU, BAK-CHAN!!!
First Round, Get the Troops
Ga jelas juga kejadian ini set-off nya dimana. Entah di salah satu pura, atau malah di Tanah Lot, atau... peduli!!!
"Kasian Shishou," Allen berkomentar, "biar pun emang pantes banget dia digituin... tapi, guru-guru ga harus sampe turun tangan, kan? Ini jadi perang yang ga adil!"
"Che... pokoknya, gue ga mau ikut campur dah... urusan orang gedhe itu mah."
"Tapi ye..."
"Emang pantes aja, kalee!" bentak Rikugou ke Johny. "Siapa suruh juga dia bikin soal Sosial yang membunuh seperti kemaren?"
Cross, seperti Yankumi di Gokusen, muncul dari out of nowhere dan langsung ngomong, "yang kemaren bikin soal itu bukan gue, bocah!"
"Eh, Cross-sensei..." Lenalee kali ini faster.
"Trus?" Rikugou menuntut jawaban.
"Ya, Nee-chan-mu itu yang bikin soal kiamat itu," Cross menjawab santai.
Tapi, hanya terdengar bisik-bisik dari beberapa orang yang sejak tadi diam, "oh... pantes aja... iya, wajar lah... wong kalo nie guru ga bechus yang bahkan ga tau dia wali kelas kita yang bikin soal... jelas soalnya ga mutu kalee... iya... tuh, dia kan meragukan... malah kata Rikkun dia ga punya tampang pernah sekolah..."
Kalian... Cross udah pengen banget mencitin nie anak satu-satu, tapi mereka saat ini baginya adalah aset berharga, "hey, gue bisa denger bisik-bisik kalian."
Lavi, Allen, Kanda, dan beberapa yang lain kembali nunduk.
"Seriusan?" Fou keliatan excited banget, "pantes soalnya mutu."
"Susah tahu! Itu mah bukan mutu!" teriak teman-teman lainnya.
"Emang bener! Yang meriksain jawaban kalian juga more-or-less dia..."
Niat ga sih ini orang jadi guru...
"Ok, Cross-sensei," untuk pertama kalinya Rikugou manggil Cross dengan sebutan itu. Tapi kejutan baru saja dimulai saat dia melanjutkan, "kali ini kita gencatan senjata."
Melihat Cross yang nampaknya menemukan troops baru, Bak mulai nampak seperti cacing kepanasan. Tapi, kemudian dia menjadi lebih tenang ketika sekompi guru-guru nampaknya memutuskan untuk berkoalisi dengannya.
"Olivia," Bak memanggil, dia sudah mulai dengan rencana yang dibuatin Claude dan Tiedoll.
Olivia cuman nengok, ogah mendekat. Seperti biasa...
NAC melihat flaw pada rencana Bak; well, they outsmart him.
"O-chan-sensei!" teriak Allen histeris.
"Kenapa?" tanya Olivia, emang lebih terkenal baik pada Allen dkk dari pada ke guru-guru ya?
"Rikkun jatoh!" Lavi melanjutkan dengan kebohongan gajhe asal jadinya.
Olivia langsung lari kearah Rikugou dan... Lavi melanjutkan kata-katanya, "sampe rambutnya jadi item gtu..." dari awalnya juga udah item kali, cuma Lavi aja yang ga tau mau ngelanjutin kebohongannya ama apa.
Yaph! Satu-Kosong buat anak-anak NAC.
Kesimpulan, hasil ronde satu adalah seri pada pihak Cross dan Bak.
Yang dapet poin malah Rikugou dan kawan-kawan yang berhasil mendapatkan perhatian Olivia.
Anak-anak dodol!!! Pikir kompak Bak dan Cross.
Round Two, and the war set off...
"Hei, cewe'..." goda Cross pada seorang perempuan cantik yang lewat di depannya.
Perempuan itu cuman tersenyum, "hai."
"Boleh tahu nama kamu?"
"Rui," jawabnya singkat.
"Wow...nama yang unik, seunik orangnya..."
"Makasih," tetep tersenyum.
Di kejauhan, Olivia udah melirik dengan tatapan makin dingin. Panasnya Sanur tidak lagi terasa baginya.
Bak, tetep aja ngedeketin Olivia.
"Eh, Rui, kamu punya peta?" Cross masih melanjutkan di sudut lain (emang laut punya sudut?).
"Hah?"
"Iya... peta." Melihat Rui yang bingung... Cross melanjutkan, "soalnya saya ga tau gimana caranya keluar dari mata kamu. Saya tersesat disana."
Olivia makin bete.
Bak merasa kesempatan makin gede.
"Kamu itu sering keliling dunia, ya?"
"Hah?" Rui makin bingung, lagi.
Cross ngelanjutin gombalannya, "soalnya, kemana pun saya pergi, rasanya saya selalu ngeliat kamu. Mungkin kita udah ditakdirkan dari dulu, ya?"
Olivia merasa beku.
Guru-guru mulai manas-manasin.
NAC, lagi pada nyusun rencana.
Lavi, "kalo nanti Bak-sensei udah terlalu deket sama O-chan-sensei, langsung bantai aja pake pasir... ajak perang, ok?"
Yang laen bingung. Lavi mikir, trus ngomong, "kurang jelas?"
Dijawab kompak sama pasukannya, "ga, Jendral. Cuman kaget aja, tumben rencananya keren, gitu..."
Oh, ternyata... pantes, pada bingung.
Bak dengan ga tau drinya mendekati Olivia yang lagi dingin dan bete. Lavi memberi aba-aba dan...
"Oli..."
"SERANG!!!" Lavi berkomando. Bola-bola pasir jatuh menghujam Bak yang tak bisa berkutik. Segala macam lemparan diarahkan. Mulai dari yang tenaganya lemah seperti punya Johny, Alma (yang entah kenapa bisa ikutan ngelempar juga, sambil tidur lagi) dan Lenalee, menengah seperti punya Link dan Chomesuke, keras dan sangat menyakitkan seperti punya Allen, Lavi, Wisely, Jasdebi, Fou (yang kayaknya ada faktor plus-plus), dan Rhode, sampai yang ga berperasaan dan ga berkepri-manusiaan seperti punya Kanda (yang entah kenapa juga, menganggap ini sebagai permainan yang menyenangkan), dan Rikugou yang memang membenci Bak yang membuat soal killer di UTS.
"Terima ini!!! Heyeah!!!" teriak mereka sekelasan bagai teriakan perang bangsa Viking dan Barbarian. Hasilnya, Bak pun hanya bisa meringkuk pasrah pada nasibnya. Sepertinya, dewi Fortuna dan Cupid memang tidak senang padanya, terlebih lagi Cupid-Cupid dari tempat laknat bernama Noah's Ark Class.
Cross sih tadinya mesem-mesem aja ngeliat penderitaan Bak sambil asik ngegodain cewek, sampe satu kali, sebuah bola pasir yang ga berperasaan dan ga berkepri-manusiaan dari Rikugou nemplok di kepalanya.
"WADAWW!!! SAKIT TAUUU!!!!" Cross bertereak kesakitan.
Awalnya, dia kira itu cuman peluru nyasar, sampe ketika Rikugou negur dia, "WOOIIII!!! BANTUIN DONG!!! JANGAN MALAH ASIK NGEGODAIN CEWEK, BOTAK!!!!"
Cross cuman bisa elus dada, merasa anak-anak ini memang kurang ajar.
And the Result for This Fight Is...
'Kacamata' buat Cross vs Bak, dan 2 point untuk NAC. Sebenernya siapa sih yang perang disini?!! Kok malah NAC yang dapet point?
Olivia yang udah kesel sama perilaku-perilaku aneh manusia-manusia HQH, akhirnya memutuskan untuk berbicara pada Bak; tentu saja, sekalian bikin Cross kesel karena Olivia jalan sama orang lain selain dirinya.
"Bak..." Olivia memulai pembicaraan, "maaf, ya. Kamu jadi biru-biru..."
"Oh, itu bukan salah kamu, kok, Olivia..." walau dalam hati, Bak tahu jelas kenapa NAC benar-benar menyiksanya.
"Hm... sebenernya..."
"Iya, itu salahin aja Cross-sensei yang manas-manasin mereka..."
"Bukan, Bak." Olivia memperjelas, "saya mau minta maaf karena saya tadi ga sengaja nginjek kaki kamu pake heels waktu di hotel. Pasti kaki kamu masih biru, ya?"
Bak serasa baru kesamber geledek. Sial banget dia, dia ampe lupa kalo kakinya bekas keinjek tadi pagi.
"Cuman itu?" Bak nanya, entah dengan maksud apa.
"Hm... satu lagi. Maaf karena kamu harus nemenin saya seharian karena Cross ga ada, ya?"
Sweatdroops.
Lalu, Olivia melangkah menjauhi Bak yang masih tetep campur aduk.
Tiba-tiba, Cross mendekatinya dan berujar, "Olivia... maaf ya..."
Olivia tetep diem. Jelas, dia masih kesel sama manusia yang satu ini; perlu diingat, di juga sempet makin ilfil karena kelakukan Cross tadi.
"Ya... Olivia ya... maafin aku ya... jangan marah lagi..." Cross mengulang-ulang kalimat itu setelah perang selesai; maksudnya, setelah NAC memenangkan dua nilai.
"Jangan, Olivia... mendingan ama Bak aja..." Tiedoll menyarankan. Entah kenapa, tiba-tiba semua orang udah pada ngerubungin mereka. (Emang lagi nonton doger monyet?)
"Hhh... punya cowok kayak kamu tu susah tau. Masa cuman permintaan satu-satunya ga dikabulin. Malah jadi perang 'kan akhirnya..." kata Olivia, lirih. Cross cuman tertunduk dikatai begitu.
"Kurang ajar!" malah Claude yang esmosi, eh... emosi. "Masa cuman satu-satunya permintaan ga dikabulin sih, Cross?!!!" Lalu Claude berbalik ke Olivia dengan tatapan kasian, "emang kamu minta apa, O-chan? Minta engagement ring? Nikahnya di gereja St. Basilica? Pengen gaun yang mewah tapi Cross ga mau dengan alasan boros?" Claude nanya serangkaian pertanyaan yang dijawab dengan gelengan. "Terus apa dong?"
"Ga gitu... saya cuman..."
"Kenapa? Kalian nyusun rencana pernikahan, tapi ga beres-beres gara-gara Cross kebanyakan ngelantur?" tanya Komui naas.
Masih gelengan.
"Cross ga mau setia sama kamu? Ga mau janji kalo kamu bakal jadi satu-satunya perempuan dihatinya?" Bak mulai melodrama.
Reever nyambung, "atau Cross ga pengen banget punya anak, sementara kalo udah nikah nanti kamu pengen cepet punya anak?"
Hah?! Olivia sempet shock sama pertanyaan Reever.
Olivia udah mau ngejelasin dari tadi... dia mulai buka mulut, "sebenernya..."
"Reever! itu sih kamu aja, kan?" bentak Claude, "pasti kamu ikut campur lagi sama urusan di departement konseling keluarga, kan?!"
Tiedoll ikut bersuara, melanjutkan kemarahan Claude, tapi kali ini pada Cross, "Cross! Kamu tuh ya! Jangan suka nyakitin hati perempuan, napa? Emang kamu..."
"Hah?!" Cross mulai mau ngomong, "bukan..."
"Jangan bikin alesan, WK ngaco!" bantai NAC riang, jarang-jarang bisa ngehina Cross tanpa kemungkinan buruk yang mengancam.
"Dasar botak! Kamu kenapa tega banget sama O-chan-sensei!" tambah semua siswi NAC, mengikuti cara ngomong Rikugou.
"O-chan-sensei, udah jangan sedih... kita nyesel deh, udah ngebelain manusia yang satu itu..." sesal para siswa NAC.
"Gini..." Olivia mulai menjelaskan, kali ini, tatapan dinginnya dan bibir tipisnya membuat tidak seorang pun berani menyambar lagi, "sebenernya, saya cuman nyuruh Cross nyukur jenggot, abis saya ga suka ngeliat jenggot berantakan gitu..." jawab Olivia dengan nada super kalem.
Claude cengok, Bak bengong, Tiedoll menganga, Winter tetep malanjutkan minum air kelapa muda, se-NAC-an muncul asep di ubun-ubun.
Intinya, yang paling merasa ketipu dan marah adalah NAC, entah pada Cross, entah pada Olivia. Bingung mau marah ke siapa. Ke Cross? Orang mereka yang salah paham kok. Ke Olivia, pada ga tega, lagian mereka juga ga nanya dari awalnya. Memang... dilema itu menyakitkan, Jendral.
Nah, itu dia cerita dodol ini...garing kayanya...
Some of these are based on true life experiences...
And...
Please review and flame it...
