"Selamat datang Hokage-sama." Para penjaga gerbang menunduk menyambut Naruto yang masih dalam mode sanin dan membawa Shikamaru yang masih terlelap di belakangnya.

Naruto hanya mengangguk tidak seperti biasanya ia akan cerewet tapi sekarang ia terburu-buru dengan cepat ia berlari kembali menuju kantor Kazekage.

@N63L

Gaara yang tadinya tercengang tak dapat berbuat apa pun kini dapat mengendalikan dirinya.

"Uchiha Sasuke." Gaara dengan suaranya yang khas.

Mata Sasuke yang semula terpejam menikmati momen kini seketika menajam menatap seorang Sabaku Gaara.

"Sasu-kun kau lama sekali!" Sayang sekali Hinata merusak petir yang menyatu dari kilatan mata Sasuke dan Gaara.

"Aku ada urusan." Jawab Sasuke sabar dengan pelan.

Kini Hinata sudah berdiri sendiri meskipun masih memegang bahu Sasuke dan memukulnya pelan.

"Kau kira aku juga tak punya urusan ha?!" Bentak Hinata sembari memeluk Sasuke kembali.

"Hn. Gomen." Suara Sasuke nyaris tak terdengar karena Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata dan berbisik pelan.

Hinata semakin menyamankan diri pada pelukan Sasuke. Tangan Sasuke melingkar begitu erat pada tempatnya yang pas, pinggang Hinata.

Kacang.

Satu kata untuk seorang Gaara yang masih senantiasa menjadi obat nyamuk bagi pasangan yang seperti baru bertemu setelah seribu tahun.

Gaara tercengan terkejut oleh dua fakta dan memiliki satu pertanyaan pokok.

Pertama, Hinata memeluk seorang. Dengan sifat Hinata yang seperti Gaara tahu tak mungkin ia seperti itu. Apa lagi pada orang yang bahkan Gaara tak dapat prediksi.

Kedua, Seorang Uchiha meminta maaf. Apalagi seorang Uchiha Sasuke. Meskipun tidak tahu menahu tentang Sasuke tapi Gaara sudah mengetahui tentangnya dengan karakteristik dan marga keluarga, meski hanya sedikit.

Meskipun Gaara tidak dapat mendengar suara Sasuke saat meminta maaf tetapi jangan remehkan mata dan memori Gaara yang senantiasa merekam semua kejadian yang mengejutkan ini sampai detailnya, bibir Sasuke yang bergerak.

Dan satu pertanyaan.

'Mereka memiliki hubungan apa?!' Batin Gaara frustasi.

Masalah Naruto belum selesai sekarang muncul cecunguk Sasuke. Pikiran Gaara kacau.

"Uchiha." Tak tahan Gaara.

"Sabak-u." Sasuke menjawab sambil meringis menahan sakit di pinggangnya.

Cubitan Hiata memang maut.

"Yang sopan." Kata Hinata lembut. Meski masih tetap wajahnya tertutup dada bidang Sasuke, Gaara dapat mendengar suaranya.

Gaara tersenyum kemenangan. Sasuke melihat itu membalas senyum mengejek dengan mengeratkan pelukannya pada Hinata.

Gaara panas kembali.

"Tujuanmu Uchiha." Tegas Gaara bertanya.

"Menjemput seorang Hime." Jawab Sasuke kalem sambil menatap tajam Gaara.

"Dia belum menyelesaikan misinya." Dagu Gaara terangkat.

"Apa perlu kuhancurkan tempat ini untuk menemukan segel terkutukmu." Tanggap santai Sasuke.

"Apa itu sebuah pertanda kibaran bendera perang?" Tanya Gaara meremehkan.

"Jika diperlukan untuk membawa Hime maka kulakukan." Jawab Sasuke santai.

Hinata mulai gerah dengan hawa diruangan ini. Di kata lain ingin segera pergi dari ruangan ini. Ia menguraikan pelukan dan menghadap ke samping dengan satu tangan yang masih bertengger di bahu Sasuke.

"Tak semudah itu." Kata Gaara melanjutkan.

"Maka kulakukan." Kata Sasuke melihat intens Hinata yang melihat Gaara, mengamati wajah Hinata mengobati rindu seakan tak ada Gaara di sana.

Hinata mendengus mendengar Sasuke.

"Jadi Gaara-kun, bolehkah aku?" Tanya Hinata dengan sabar.

"Apa-apaan itu Hina." Bisik Sasuke, Hinata mengabaikan.

"Hn." Jawab Gaara sambil menyedekapkan tangannya.

"Aku meminta baik-baik Gaara-kun." Hinata menjauh dari Sasuke mendekat ke Gaara meski tak sedekat pada Sasuke tadi.

Melihat mata Hinata. Sabaku tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa melihat Hinata sedih. Matanya melirik Sasuke yang memandang Hinata. Ia juga tak bisa melepaskan gadis itu bersama mantan buronan itu ataupun lelaki mana pun.

"Kau pergi bersamanya." Itu sebuah pertanyaan.

"Ya. Dia yang akan membantuku melarikan diri dan bersembunyi tanpa adanya perang." Jelas Hinata pelan.

"Hah, baiklah." Putus Gaara pada akhirnya.

Hinata bersorak senang. Saduke dan Gaara terdiam memandang keindahan Hinata.

"Uchiha, jika dia sampai tergores sedikit saja maka bersiaplah aku sendiri yang akan memoto-"

"Gaara-kun." Manisnya Hinata mematikan.

"Hn." Sasuke tersenyum kemenangan.

Gantian.

"Akan kusampaikan sendiri gulungan konfirmasinya pada Hokage." Gaara mengalihkan sambil berjalan kembali duduk pada meja kerjanya.

Mendengar itu Hinata kembali gelisah. Sasuke mendekat melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Hinata.

Sasuke melempar sebuah gulungan pada Gaara dengan tangan kanannya sambil tetap menunduk melihat intens Hinata.

"Itu laporan untuk penangkapan bandit di bagian baratmu." Terang Sasuke.

Gaara tahu Sasuke tak akan kemari dengan tangan kosong, penyuapan.

"Hn." Tangkap Gaara.

"Itu urusanmu ha?! Apa tak ada yang luka? Bandit itu menyeramkan." Kata Hinata sambil melihati Sasuke.

"Tak apa." Jawab Sasuke menangkap tangan Hinata yang berada di pipinya dan menahannya di sana.

Gaara panas.

"Ah. Aku lupa. Kau lebih menyeramkan Sasu-kun." Tanggap Hinata dengan senyum tanpa bersalah.

Gaara puas.

"Tapi aku tetap suka." Lanjut Hinata dengan riang seperti anak kecil kembali memeluk Sasuke dan menelusupkan kepalanya pada leher Sasuke, mencari kehangatan.

Gaara murka.

"Cukup! Kalian bisa pergi sekarang atau tidak sama sekali." Amuk Gaara.

Hinata tersentak terkejut dan Sasuke menggeran melihat itu.

Kalian bertiga benar-benar terlambat.

Braaak..

Pintu kantor Hokage terbuka.

Menampakkan Naruto yang tetap pada kondisinya.

Hinata mengintip.

Sasuke cuek.

Gaara cuek.

Naruto tegang.

Shikamaru menguap.

"Aku pamit Gaara-kun." Cicit Hinata.

Seketika Bussshhhhh..

Sasuke dan Hinata yang ada di hadapan Naruto yang masih membatu kini menghilang.

"Hn." Garaa telat menanggapi.

Tapi tanggapan Gaara menyadarkan Naruto yang kini dengan penampilan biasa tanpa sinar orangenya.

Shikamaru sudah berjalan menyamankan diri di kursi.

"Apa yang terjadi?" Seperti orang linglung Naruto.

Gaara hanya menghendikkan bahu.

TBC》