Syndrome Chapter 11
Present...
.
.
.
Dua pilihan yang amat sangat sulit untuk memilih salah satunya, diantara mempertahankan cinta dan terjatuh bersama atau melepaskan cinta agar mampu mengebakkan sayapnya dan terbang tinggi dimana langit berada. Sehun dilemma, kedua pilihan itu tidak mampu ia pilih salah satunya, namun bagaimanapun hidup adalah suatu pilihan dan dia harus mampu memilih yang terbaik.
'Sehunnie...kau bilang akan pulang hari ini bukan? Aku menunggumu disini :*'
Sehun menghembuskan nafas lelahnya, beberapa hari terakhir Luhan mengiriminya pesan singkat; mungkin lebih dari 20kali selama sehari, bahkan kekasihnya itu berkali-kali menelepon; yang mana Sehun tidak pernah menjawab telpon ataupun membalas pesan dari Luhan. Dia butuh sendiri dan suatu ketenangan untuk memikirkan cara dan jalan terbaik untuk menyelamatkan hubungannya dengan Luhan.
Jalan pertama yang Sehun pikirkan adalah mempertahankan Luhan tanpa membuatnya terluka, namun konsekuensinya Yixing mungkin akan menyebar rekaman video itu, kemudian Luhan terkena skandal gay bersama dengannya, lalu agensi akan memberikan hukuman pada Luhan dan parahnya Luhan akan dikeluarkan dari perusahaan, Karirnya akan hancur, Luhan mungkin akan kehilangan impiannya menjadi seorang model ternama dan akan sulit mencari agensi baru jika skandal seperti ini terjadi.
Jalan kedua adalah melepaskan Luhan agar Luhan mampu meraih mimpinya dan merintis karirnya lebih tinggi. Luhan mungkin akan terluka, marah dan sakit padanya, hal terbesarnya adalah Luhan akan membencinya dan menganggap Sehun tidak bertanggung jawab karena dengan mudahnya ia mencampakkan Luhan setelah semua apa yang terjadi, membuat Luhan terlibat ciuman skandal dihadapan publik dengan pura-pura menjadi seorang gadis, Sehun bahkan telah menidurinya beberapa kali, lalu dengan mudah dia mrncampakkan Luhan begitu saja? Lalu bagaimana dengan permintaan Yixing yang memintanya untuk memacari Krystal?
"Arrrghhhh kenapa begini!" Sehun memukul sendiri kepalanya beberapa kali memikirkan semua ini. Kepalanya berdenyut sakit dan hatinya pun terasa nyeri.
Jika ada hal yang Sehun sangat sukai didunia ini adalah ketika ia bersama Luhan dan hal yang paling ia benci didunia ini adalah jauh dari Luhan. Lalu dia harus bagaimana menyikapi semua ini.
"Sehun!"
"Oh Sehun!"
Sehun melirik tanpa bersahabat pada Baekhyun yang tengah sibuk dengan koper-kopernya yang tengah ia masukkan kedalam bagasi mobil.
"Ada apa denganmu? Kau melamun lagi Oh Sehun."
"Aku tidak melamun, cepatlah aku ingin segera istirahat di asrama."
.
.
.
Penggemar dan banner mereka, kotak hadiah, blitz kamera, wartawan, semua menyambut kedatangan Sehun didepan agensinya, seingat Sehun saat dibandara tidak ada penggemar yang menyambut kedatangannya lalu mengapa mereka sekarang berkumpul didepan agensinya. Lagi-lagi ia hanya mampu menghembuskan nafas lelahnya.
"Kau memberi tahu perihal kepulanganku hyung?" Dia menatap kearah samping dimana Baekhyun mengemudi.
"Tidak."
"Lalu mengapa banyak penggemar dan wartawan disana?" Sehun menyilangkan lengannya, matanya menatap tajam kearah Baekhyun yang memutar dengan malas kedua bola matanya.
"Kau ini idol, apa kau tahu? Ada banyak penggemar yang pintar dalam mencuri informasi. Mencari tahu kapan kau kembalipun itu sangat mudah bagi mereka."
Sehun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi penjelasan dari sang manager.
"Sampai kapan kau akan melamun Oh Sehun? Cepat turun dan istirahatlah, besok ada banyak kegiatan untukmu."
Baekhyun menunjukkan dua bodyguard yang siap membantu Sehun sampai di gedung asrama dengan aman dan selamat dari kerumunan para penggemar.
Sehun memakai kacamata hitam nya sebelum kemudian benar-benar keluar dari mobil, meninggalkan Baekhyun yang masih sibuk atau mungkin sok sibuk, Sehun tak peduli. Ia hanya ingin segera sampai dikamar asramanya yang nyaman, kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah; tulang rusuknya terasa ingin patah.
"Aaaaaaaaa!"
"Oh Sehunnnnnnn!"
"Sehunnn oppaaaa!"
Klik
Klik
Sehun hanya mampu tersenyum dan melambaikan tangannya ketika para penggemar meneriakkan namanya.
"Luhannnnnn!"
"Kyaaa Luhan ada diatas sana!"
Ntah mengapa dari semua kebisingan yang terjadi, Sehun mampu mendengar seorang penggemar meneriakkan nama Luhan.
'Luhan diatas?'
Sehun mencoba mendongakkan kepalanya keatas gedung agensinya. Demi apapun! Jantungnya dengan sangat kencang berdetak tidak normal. Orang yang selalu menghantui Sehun, yang membuat Sehun gelisah, yang membuat darahnya mendidih, yang selalu membuat Sehun tidak mampu berhenti memikirkannya ada diatas sana, dilantai 3 gedung agensinya. Luhan; kekasih pujaannya tengah tersenyum lembut, meski jaraknya jauh, namun Sehun mampu melihatnya.
Segera Sehun kembali menundukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu dasar agensinya, ntah mengapa dia takut saat ini. Takut melihat Luhan. Rasanya dadanya sesak dan sesuatu menghalangi tenggorokannya, hingga untuk bernafas saja terasa begitu sulit.
Sehun segera memperlebar langkah kakinya, niatnya ingin segera pergi ke kamarnya untuk istirahat lenyap sudah ketika Yixing —orang yang sangat tidak ingin Sehun lihat tengah berjalan mendekat kearahnya. Menyebalkan sekali ketika Sehun juga harus melihat salah satu sudut bibir Yixing yang terangkat, menampilkan sebuah seringaian yang beribu kali lipat sangat menyebalkan.
"Oh Sehun baru saja tiba? Padahal aku menunggumu sejak 2 jam yang lalu."
"Sudah cukup kau berbasa-basi dan katakan apa yang kau inginkan kali ini?" Sehun melepas kacamata hitam yang bertengger keren di hidungnya hanya untuk menunjukkan tatapan betapa tidak sukanya Sehun pada pria di hadapannya saat ini.
Yixing yang ditatap seperti itu hanya tersenyum remeh. "Aku tidak ingin apapun lagi, aku hanya ingin kau menepati janjimu untuk menjauhi Luhan dan berpacaran dengan Krystal, atau rekaman video itu akan ku unggah ke internet. Silahkan pikirkan baik-baik." Ia kemudian menepuk bahu Sehun dan kembali menunjukkan seringaian menyebalkannya.
Sehun telah memikirkan itu sebelum dia memutuskan kembali ke Korea. Tentu saja dia pria keren dan juga tangguh yang tidak akan dengan mudah kalah dengan hal semacam ini. Jika Yixing mampu mempermainkan dan meresahkan dirinya, lalu mengapa tidak? Sehun juga mampu melakukannya.
"Baik, aku akan tunjukkan padamu, Krystal!"
Sehun kemudian memanggil Krystal yang kebetulan saja tengah berjalan menuju kearah mereka. "Kau akan mempercayaiku setelah ini Zhang Yixing dan jangan berani lagi mengancamku dengan rekaman itu!" Kini Sehun membalas seringain Yixing dengan tak kalah menyebalkannya.
"Sehun kapan kau kembali?" Krystal menyapanya dengan sangat ceria. Jujur saja Sehun sangat menyukai dan menyayangi Krystal sebagai seorang adik, meski ia tahu Krystal mencintainya dan Sehun tidak akan mampu membalasnya karena orientasi seks nya yang sudah tidak mampu dirubah lagi, terlebih setelah ia bertemu dengan Luhan.
Sekarang ia ragu dan merasa tak yakin untuk melakukan ini pada Krystal yang telah banyak membantunya sewaktu dulu di Kanada, namun demi Luhan, demi cintanya, belahan jiwanya, Sehun akan melakukan apapun yang mampu membuat Luhan bertahan dan meraih mimpinya, meski harus melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki masalah dengannya.
'Maafkan aku Krystal.'
Sehun dengan cepat menarik tubuh Krystal dan meraih dagu gadis itu sebelum kemudian Sehun raup bibir merah mudanya dengen bibirnya sendiri dan menciumnya dengan singkat. Dia merasa de javu melakukan hal ini dihadapan publik. Dia ingat, dia pernah melakukan hal ini dengan Luhan.
Krystal maupun Yixing sama-sama terkejut dengan perlakuan Sehun, terlebih para penggemar diluar sana juga melihatnya. Berdoa saja semoga Krystal tidak mengalami hal buruk dari penggemar Sehun setelah ini.
Sehun bahkan tidak melihat seseorang menitikkan airmatanya dan mengepalkan kedua tangannya.
Siapa peduli, meskipun Luhan melihat sekalipun, Sehun tetap akan melakukan ini. Demi dirinya dan demi kebaikan Luhan nantinya. Hanya butuh waktu untuk merubah keadaan ini menjadi sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan untuk selamanya. Dan setelah mencium Krystal, Sehun pergi begitu saja, meninggalkan dua orang yang masih terpaku.
Dia benar-benar lelah sekarang dan sangat ingin menjatuhkan tubuhnya diranjang empuk kamarnya segera.
.
.
.
Sehun berulang kali mengerang kerena tak dapat tidur, berkali-kali ia mendengar suara gaduh dari sebelah kamarnya, tepatnya itu kamar milik Luhan. Dia berpikir ada apa dengan kekasihnya itu, mungkin saja Luhan marah karena sejak ia kembali, ia sama sekali belum menemui Luhan.
Dengan penampilan yang tidak karuan Sehun keluar dari kamarnya, ia mengetuk kamar disebelahnya, menunggu Luhan membuka pintu kamarnya dan Sehun akan menghukumnya, atau sebut saja itu bukan hukuman tapi sebuah hadiah untuk Luhan.
Setelah menunggu beberapa detik akhirnya pintu itu terbuka, menampakkan Luhan dengan astaga Sehun bahkan sulit menjelaskannya. Mata Luhan yang sembab, hidungnya memerah, dan Luhan yang terbiasa rapi kini terlihat sangat kacau.
Luhan menatap Sehun tajam dan ia segera menutup kembali pintunya, namun terlambat ketika Sehun mendorong tubuhnya kembali masuk kedalam dan menghempaskannya pada dinding. Membuat Luhan meringis menahan sakit pada punggungnya. Melihat tubuh Sehun yang sangat dekat dengan tubuhnya, Luhan menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada Sehun agar menjauh, namun ia tidak berhasil dan justru membuat Sehun menghimpit tubuhnya dan mengunci pergerakannya dengan kedua tangan Sehun yang bertumpu pada dinding dibelakang Luhan.
"Apa yang kau lakukan! Minggir!" Dia berteriak tepat dihapan wajah kekasihnya.
"Kau marah? Kenapa?" Bukan malah menjauh, Sehun justru semakin mendekatkan wajahnya kearah wajah Luhan, membuat Luhan berkali-kali menelan ludahnya. "Aku tanya kenapa kau marah Lu?"
Luhan juga tidak mengerti mengapa ia harus marah? Lebih jelasnya Luhan merasa cemburu namun ia tidak menjawab pertanyaan Sehun, bahkan ia memalingkan wajahnya.
"Luhan tatap mataku ketika aku berbicara padamu!"
"Aku tidak mau bicara padamu! Pergilah!" Pupil mata Luhan bergerak dengan gelisah mencoba menahan airmata yang siap terjatuh kapanpun jika ia tidak berusaha mengalihkan perhatiannya dari pria di hadapannya itu.
Sehun semakin geram mendapat penolakan dari kekasihnya sendiri, tangannya meraih dagu Luhan dan memaksa Luhan menatap matanya yang berkilat amarah. "Kenapa kau seperti ini? Kau membuatku—" Sehun tidak melanjutkan ucapannya ketika dengan tiba-tiba Luhan meraih tengkuknya dengan cepat dan melumat bibirnya dengan kasar.
Sungguh ini pertama kalinya Luhan melakukan ini padanya, sebelumnya Luhan tidak pernah berani memulai jika bukan Sehun yang memulainya. Hangat airmata Luhan yang mengalir mampu Sehun rasakan di pipinya, membuatnya merasa bersalah, tapi lebih dari itu Sehun membiarkan Luhan melimpahkan kekesalan, kerinduan, dan apapun itu padanya sekarang.
Sehun membuka matanya ketika Luhan melepaskan tautan diantara mereka, nafasnya maupun nafas Luhan saling terengah.
"Kau ingin tahu kenapa aku marah?!"
Sehun diam, namun sorot matanya seolah menjawab 'ya' iq ingin tahu apa yang membuat kekasihnya marah.
"Kau Sehun! Bajingan! Setelah membuatku menunggumu kembali berhari-hari, ini yang aku dapatkan?! Melihatmu mencium gadis lain dihadapan mataku sendiri!" Luhan memukul bahu Sehun dengan kuat, meski terasa sakit namun Sehun tahu sakit dibahunya bukan apa-apa dibanding dengan sakit hati Luhan saat ini.
Sehun mengatakan ia tidak peduli jika Luhan melihat kejadian itu, namun melihat Luhan terluka dan menangis seperti ini membuat hatinya berdenyut sakit dan merasa bersalah.
"Aku punya alasan melakukan itu Lu."
"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan kita Hun." Luhan menghempas kasar tangan Sehun yang berada di pipinya. "Aku lelah, pergilah."
Luhan mendorong kembali tubuh Sehun yang menghalangi jalannya.
Namun baru dua langkah Luhan beranjak pergi, sepasang lengan melingkar disekitar bahu dan dadanya, punggungnya terhempas pada dada bidang Sehun. Luhan tahu Sehun akan berbuat hal manis yang akan membuat hatinya luluh, tapi itu dulu, tidak untuk sekarang dan mungkin seterusnya, dia benar-benar lelah sekarang. Melihat Sehun hanya membuatnya semakin putus asa.
Luhan mencoba melepaskan lengan Sehun yang melingkar di bahunya, namun Sehun justru meletakkan kepalanya dibahu kanan Luhan dan membuat Luhan tercengang. Bukan, bukan karena Sehun memeluknya dari belakang dan menaruh kepalanya dibahu Luhan yang membuat Luhan tercengang, tapi karena Luhan mendengar Sehun terisak dan cairan hangat yang membasahi bahunya, Luhan tahu itu airmata Sehun dan Sehun menangis sekarang.
"Jangan seperti ini Lu... a-aku punya alasan mengapa aku melakukan itu." Sehun semakin mengeratkan pelukannya, dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luhan yang sangat ia rindukan. Hatinya terasa terisis dan hancur berkeping-keping mendengar penuturan Luhan. "Setelah semua itu terjadi, aku akan dapat masalah, aku mohon tetaplah di sampingku sampai aku berhasil menyelamatkan hubungan kita dan juga dirimu Lu."
"Ap-apa ma-maksudmu dengan menyelamatkan diriku?" Luhan mencoba membalikkan tubuhnya menghadap sang kekasih atau mungkin calon mantan kekasih nya itu, hatinya tiba-tiba mencelos seperti terjatuh didasar perutnya menyaksikan hal yang tak pernah ia lihat dan rasakan sebelumnya. Airmata yang mengalir dari kedua mata kelam kekasihnya berhasil menggetarkan tubuhnya, ini sungguh kali pertama Luhan melihat Sehun menangis, selama ini ia hanya melihat kekasihnya itu tersenyum, tertawa, tanpa pernah melihatnya menangis. Hatinya perlahan luluh dan terdorong untuk melakukan sesuatu. Kedua tangan Luhan perlahan terulur untuk mengusap airmata yang terus mengalir dipipi Sehun dengan ibu jarinya, ia kemudian kembali menarik tengkuk Sehun dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku Luhan, tapi aku benar-benar ingin menyelamatkan mimpimu, dan juga hubungan kita dari Yixing, maafkan aku..." Sehun berkata disela-sela tangisnya, dia membalas erat pelukan kekasihnya dan menenggelamkan wajahnya yang penuh kesedihan diceruk leher Luhan.
Luhan melepaskan pelukannya dan menatap teduh kedua mata Sehun yang sembab. "Ssttt..." Dia meletakkan jari tengahnya pada bibir Sehun ketika Sehun kembali ingin menyuarakan isi hatinya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, aku yang salah, aku yang melibatkanmu dalam semua ini, akulah yang menyulitkan dan—" Ucapan Luhan seketika terhenti ketika Sehun menyingkirkan tangan Luhan yang berada di bibirnya dan menciumnya dengan tiba-tiba, membuat Luhan membelalakkan matanya beberapa detik sebelum kemudian ia memejamkan matanya menikmati ciuman lembut dan juga manis yang kekasihnya lakukan. Luhan berusaha mengalihkan perhatian Sehun dari rasa sedih dan tertekannya dengan membalas ciuman yang Sehun berikan, tangannya yang sebelumnya merasa keram kini mencengkeram erat kerah kemeja Sehun dan membuat Sehun memeluk pinggangnya dengan tak kalah erat.
.
.
.
Malam itu membuat Sehun melupakan sejenak masalahnya, membuatnya lupa akan apa yang telah ia lakukan pada Krystal, membuatnya melupakan apapun kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi esok hari, maupun lusa. Yang ia rasakan adalah kebahagiaan ketika bersama dengan Luhan, rasa rindunya pada Luhan yang membuncah ia curahkan sepenuhnya dibawah selimut putih dan cahaya remang-remang kamar kekasihnya.
Peluh yang Sehun hasilkan dari pergerakannya dibawah sana tak henti-hentinya diseka oleh tangan mungil Luhan yang bergetar. Dia pandangi wajah Luhan yang juga berpeluh dibawah tubuhnya, matanya terpejam memperlihatkan bagaimana lentiknya bulu mata itu menghiasi kelopak matanya dan bibir Luhan yang terbuka berulang kali memanggil namanya, membuat Sehun semakin menggila dan lupa akan dimana ia berpijak. Disesapnya dada Luhan yang penuh tanda kemerahan, lehernya yang jenjang tak henti-hentinya Sehun kecupi dan bibir ranum yang menggodanya sejak tadi membuat Sehun tak mampu mengendalikan diri lagi, ia meraup bibir Luhan dan melumatnya dengan kasar, menyebabkan rintihan Luhan tertahan.
"Emhhh..." Luhan semakin kuat meremas rambut Sehun, menyalurkan rasa nikmat yang tiada taranya, matanya terpejam dan bibirnya bergerak membalas lumatan demi lumatan dari kekasihnya.
"Aku mencintaimu Lu sshhh-"
Sehun membisikkan kata manis itu tepat ditelinga kanan Luhan dan membuat Luhan mrnggigit bibir bawahnya serta meremas erat punggung kekasihnya. Desah nafas Sehun yang berat membuatnya ikut menggila.
"Eunghh..a-akh a-aku juga me-mencintaimu Sse..Se..Hun." Luhan tak mampu lagi mengontrol suaranya yang terputus-putus, perlakuan lembut yang Sehun lakukan padanya membuatnya melayang-layang diangan, dia bahkan kesulitan untuk membuka matanya dan memejamkan kedua matanya dengan erat menikmati semua itu.
Setelah menunggu dengan sabar untuk mencapai puncak dari kenikmatan ini, Sehun terjatuh diatas tubuh Luhan dan nafas keduanya saling beradu, memburu oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan detak jantung dan kinerja paru-paru mereka.
Luhan masih memeluk erat tengkuk Sehun dan mengusap lembut rambut Sehun yang sedikit basah oleh keringat.
"Sehun—"
"Satu kali lagi Lu heum?" Ucapan Luhan terpotong ketika Sehun mengatakan itu dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Luhan yang berkerut di bawahnya.
"Tidak Hun, kau sudah lelah, tidurlah." Luhan menggelengkan kepalanya, matanya melirik jam dinding di kamarnya yang telah menunjukkan pukul 11 malam.
"Tapi Lu, aku masih ingin lagi." Sehun merajuk seperti anak kecil dan membuat Luhan tersenyum geli.
Luhan meletakkan kedua tangannya untuk mengusap kedua pipi Sehun, tubuhnya ia angkat sedikit untuk mengecup bibir kekasihnya yang membentuk kerucut karena kesal permintaannya tidak Luhan kabulkan.
"Ayolah Lu, sekali lagi." Sehun kembali ingin menyesap leher jenjang Luhan, namun Luhan mendorong dadanya dan merubah posisi Sehun menjadi dibawah tubuh Luhan.
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya." Luhan mengangkat sebelah sudut bibirnya, menyeringai nakal pada kekasihnya. Sedangkan Sehun hanya mengedikkan bahunya.
"Kalau begitu cepat lakukan, manjakan aku Luhan." Sehun melihat lagi seringaian Luhan, sebelum kekasihnya itu menunduk dan meraih batang di selakangnya dan memasukkannya kedalam mulut mungil itu. Itu membuat Sehun memejamkan kedua matanya dan mengerang ketika batangnya terasa hangat di dalam mulut kekasihnya.
"Emhh..kau nakal sekali baby Lu." Sehun memegang kepala Luhan dibawah sana dan memaksa Luhan untuk mempercepat kulumannya.
Jujur saja Luhan sangat merindukan Sehun dan momen seperti saat ini, jadi ia begitu semangat melakukan blowjob untuk membuat kekasihnya itu bahagia.
Luhan sedikit terbatuk ketika batangan keras bamun lembut itu menyodok kuat rongga mulutnya hingga sampai ke kerongkongannya, dan ketika ia terbatuk sebuah getaran nikmat Sehun rasakan. Kekasih Luhan itu berulang kali mengatakan betapa Luhan begitu hebat dan menggairahkan, Sehun bahkan tak berhenti menggeram, ia terlalu menikmati apa perlakuan Luhan yang memanjakannya.
"Ohh..Lu...akh- getting move please baby!"
Luhan tidak menggubris apa yang Sehun katakan, dia tidak mengerti bahasa Inggris, jadi Luhan pikir itu hanyalah ucapan nakal yang kekasihnya lontarkan, jadi Luhan terus mempercepat gerakannya, tangannya bahkan tidak bisa diam dan bermain disekitar perut ber-ABS milik Sehun.
"Ok Lu, berhenti menggodaku i want you and i want my dick tin your hole right now, please baby."
Lagi, Luhan tidak mengerti apa yang kekasihnya katakan, jadi ia mendongak menatap Sehun dan bertanya "apa yang kau katakan?
Sehun mengerang putus asa ketika Luhan menatapnya seperti anak kecil yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi Sehun menarik kedua tangan Luhan dan membuat tubuh mungil Luhan terjatuh diatas tubuhnya, dengan gemas Sehun mencium bibir Luhan, melumatnya sedikit kasar.
Ketika Luhan membalas ciuman itu, Sehun menggunakan kesempatan untuk merubah posisi dimana Luhan kini berada dibawah tubuhnya, ia mengangkangkan kedua kaki Luhan untuk mencari dimana surga miliknya berada.
Malam yang panas semakin membara dihiasi desahan kedua insan yang tengah dimabuk cinta.
.
.
.
©SYNDROME
.
.
.
Suara dering dari ponsel berwarna hitam diatas nakas yang terletak disamping ranjang itu membuat Sehun menggeliat tidak nyaman, begitu pula dengan Luhan. Siapapun pemilik ponsel itu, keduanya enggan untuk menjawab. Dering yang berkali-kali terdengar begitu menganggu, hingga tangan Sehun yang semula memeluk erat pinggang kekasihnya kini terulur mengambil ponsel itu; ponsel milik Sehun. Dia hampir menggeser tombol berwarna merah, namun ia urungkan ketika melihat nama executive director terpampang disana, tentu saja Sehun segera menjawab dan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Ya ini Oh Sehun." Suara khas dari seseorang yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"..."
"A-apa? Baiklah aku akan segera ke kantor."
Setelah menjawab seperti itu, Sehun segera mematikan ponselnya. Ia kemudian membangunkan Luhan yang sepertinya nampak kelelahan akibat aktivitas panas mereka semalam.
"Lu bangunlah...temani aku Lu, ayolah." Sehun menggoyangkan tubuh Luhan berkali-kali dan membuat Luhan menggeliat.
"Eunghhh ini masih pagi Sehunnie." Luhan menggunakan tangannya untuk mengusap matanya agar segera terbuka.
"Aku tahu Lu, tapi eksekutif direktur meneleponku dan mengatakan jika presdir ingin aku segera ke kantor, temani aku."
"Apa?! Presdir? Apa ini karna peristiwa kemarin Sehun-ah?" Luhan pun terkejut, ia segera menyeret tangan Sehun agar mengikutinya kekamar mandi. "Ayo kita mandi bersama saja, ada pakaianmu di lemariku, kau tidak punya waktu jika sudah begini." Luhan bahkan bertindak seperti istri yang takut suaminya akan dipecat jika tidak segera sampai ditempat kerja tepat pada waktunya.
Sehun sendiripun merasa gelisah, namun melihat Luhan berada disampingnya membuat Sehun merasa tenang dan bebannya terasa ringan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, mereka segera berlari menuju gedung agensi bersama. Luhan dan Sehun saling berpegangan tangan; menyalurkan kekuatan masing-masing.
Ketika mereka sampai dilantai 2, dimana ruangan sang presdir berada, Chanyeol telah berada disana. Ia menghampiri Sehun dengan raut wajah yang gelisah.
"Ini gawat Oh Sehun! Cepatlah keruang presdir!"
"Aku mengerti." Sehun melepas genggamannya pada tangan Luhan dan segera berlari menuju ruang presdirnya itu.
Sedangkan Chanyeol menahan Luhan agar ia tidak mengikuti Sehun. Meski sempat memberontak, namun pada akhirnya Luhan mengalah dan menurut pada Chanyeol.
Luhan khawatir Sehun tidak mampu menyelesaikan masalahnya seorang diri, namun bagaimanapun Sehun juga telah meminta Luhan agar ia tidak cemas, karena Sehun telah mempersiapkan diri untuk menerima konsekuensi atas perbuatannya.
Sehun telah sampai diruang presdir.
"Aku muak denganu Oh Sehun! Sebagai aset yang sangat berharga bagi perusahaan ini, kau selalu saja bertindak semaumu sendiri!" Baru saja masuk, Sehun langsung dihadiahi sebuah makian oleh sang presdir.
"Apa maksud anda presdir?" Ntah Sehun bodoh atau berpura-pura bodoh dengan melempar pertanyaan presdirnya.
"Lihat ini!" Sang presdir melempar koran dan juga sebuah tablet; untung saja tablet itu berhasil Sehun tangkap, jika tidak mungkin saja tablet itu akan terjatuh dan pecah.
Sehun mengambil koran yang tejatuh, terpampang dihalaman tedepan sebuah foto dirinya yang tengah mencium Krystal beserta artikel yang mengatakan ia menjalin hubungan kembali dengan Krystal.
"Lihat saham perusahaan menurun drastis, banyak netizen mencaci maki dan lebih dari itu, semua kontrak lagi-lagi dibatalkan hanya karena ulah satu orang! Dan itu kau Oh Sehun!"
Memang benar, ketika Sehun melihat dengan teliti layar tab itu terlihat sebuah bagan presentasi yang menunjukkan penurunan saham hingga 20%. Sehun tidak menyangka akan separah ini, ia hanya mengira saham akan turun 3-5% saja, namun angka yang fantastis justru tercetak sekarang.
"Aku akan membuat saham naik lagi, bahkan berkali lipat dari sebelumnya, aku akan bertanggung jawab presdir."
"Oh Sehun hentikan omong kosongmu itu dan jelaskan apa maksudmu mencium Krystal dihadapan banyak orang, kau mau menghancurkannya dan juga dirimu sendiri? Apa kau sadar karir kalian akan hancur?! Pernahkah kau pikirkan itu?!" Sang presdir marah dan mengajukan rentetan pertanyaan itu, dia bahkan memijat kedua pelipisnya sendiri, merasa pusing menghadapi tingkah dari aset berharga perusahaannya sendiri.
Sehun terdiam seribu bahasa, tangannya meremas koran yang ada pada genggamannya, matanya masih teliti memperhatikan presentase dari bagan saham yang menurun dari menit ke menit.
"Jawab aku Oh Sehun!"
Ntah sejak kapan sang presdir berdiri tepat dihadapannya dan mencengkeram erat kerah kemeja yang Sehun kenakan, membuat Sehun mendongak menatap kilatan amarah dari mata sang presdir.
"Seseorang berhasil menangkapku berciuman dengan pacarku. Kau tau aku tidak mungkin berpacaran dengan seorang gadis, jadi dia mengancamku dan juga pacarku, jika aku tidak memacari Krystal dan menjauhi pacarku, maka dia akan menyebarkan rekaman itu. Itu akan jauh lebih buruk."
Sehun mencoba menjelaskan walaupun ia ragu presdirnya itu akan mengerti dan memaklumi tingkahnya yang gegabah.
"Siapa kekasihmu itu? Dan siapa yang mengancammu? Wartawan? Penggemar fanatik? Sasaeng?"
"Kau tidak akan percaya ini presdir, tapi aku akan jujur, aku berpacaran dengan Luhan dan orang yang mengancamku adalah Yixing. Aku tidak mengatakan sejak awal tentang hubunganku dengan Luhan, karena peraturan perusahaan yang diberikan pada Luhan, tapi..." Sehun segera menjatuhkan tubuhnya dan bertumpu pada lututnya, memohon dihadapan sang presdir. "Kumohon presdir, jangan biarkan Luhan hancur karirnya, aku menuruti apa yang Yixing inginkan demi Luhan, kumohon jangan biarkan Luhan kehilangan impiannya."
Itu benar-benar hal konyol dan bodoh yang pernah Sehun lakukan selama hidupnya, haruskah dia bersujud? Haruskah dia memohon dan menjatuhkan harga dirinya? Selama itu untuk kekasihnya; untuk Luhannya, Sehun tidak peduli lagi jika dia menjadi gila seperti saat ini.
Presdirnya menghembuskan nafas berat yang lelah; lelah akan tingkah Sehun itu. "Jadi kau benar berpacaran dengan Luhan, dan Yixing memergoki kalian tengah berciuman? Merekamnya untuk menjadikan senjata agar kau menjauhi Luhan dan berpacaran dengan Krystal, kumudian demi melindungi Luhan kau mencium Krystal dihadapan Yixing agar Yixing percaya kau benar-benar menuruti semua permintaanya? Begitu?"
Sehun mengangguk.
"Kalau begitu akui saja hubungan kalian, jangan membawa Krystal! Kau tahu dia putriku Oh Sehun! Besok aku akan membuatkan jumpa pers untukmu dan Luhan, akui semua masalahmu dihadapan publik, setelah itu enyahlah! Cari agensi lain! Kau bukan lagi aset berharga setelah semua ini, kau hanya sampah!"
Sehun terkejut, dia tidak menyangka apa yang ia lakukan justru menjadi semakin buruk seperti ini. Harapannya menerima bantuan dari sang presdir lenyaplah sudah dan dia telah berhasil menghancurkan karir kekasihnya sendiri. "Presdir kukira kau akan membantuku tapi—"
"Aku sudah membantumu! Meringankanmu untuk berhenti berkarir!"
"A-apa? Tapi presdir bagaimana jika setelah pers nanti saham perusahaan ini naik hingga berkali lipat dari sebelumnya?" Inilah sebenarnya tujuan Sehun melakukan semua itu, menurunkan saham perusahaan dan menaikkannya kembali, jika ia berhasil bukankah sang presdir akan membantunya dan juga Luhan tetap bertahan?
Sang presdir tersenyum remeh pada Sehun. "Maka aku akan menarik kata-kataku, tapi Oh Sehun, kau harus tahu, dunia hiburan tidaklah seindah dunia disneyland , jika kau gagal, kau akan benar-benar hancur."
"Aku tidak akan gagal, aku akan berhasil presdir! Setelah itu, kau harus menuruti apa keinginanku jika saham benar-benar naik hingga berkali lipat dari sebelumnya." Ntah keberanian darimana yang Sehun dapatkan hingga ia dengan tegas mengatakan semua itu pada atasannya sendiri.
"Dengar bocah! Aku tidak butuh kata-katamu, aku perlu bukti dan buktikam semua omonganmu bukanlah sebiah omong kosong yang akan menjatuhkan dirimu sendiri ke dasar jurang dunia ini!"
.
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
.
.
Dohh Thehun goblok, eh maksudnya author -" Author bodoh banget ya nyari jalan keluar buat Sehun -_-
Tapi beginilah, author lagi pusing pala pacar barbie mikirin konflik FF ini, karena FF Fluff jadi gabisa pakai konflik yang berat, kalau berat2 berarti bukan FF Fluff lagi namanya. Barang kali ada yang mau ngasih solusi? #hastagngarep
Sebenarnya ini Chapter END berhubung terlalu panjang karena saya kasih NC kekekek, ntah kenapa otak mesum saya gabisa ilang dan gabisa buat ga buat nggak ngasih NC hahaha jadi chapter endingnya depan aja yeth.
Banyak reader yg dah bosen dgn FF ini, katanya kelamaan update dan makin ga nyambung ceritanya. Author minta maaf ya -"
Author selalu berterimakasih pada kalian yang mau meluangkan waktu untuk membaca FF ini. Terimakasih ya :*
Yang nanya fb ku fbku cuma KE V IN (XoXo) Silahkan di add yang mau.
