SWEET NOTHING
DONGHAE X HYUKJAE
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul SWEET NOTHING karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita. Dan. Didalam Fanfic ini anggap saja seorang lelaki bisa melahirkan, dan membesarkan seorang anak.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi/MPREG harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 10
You're my shadow, my shadow, I know you're close
You're my shadow, my shadow, everywhere i go
"My Shadow, Jessi J"
.
.
Kau seperti layaknya udara, tidak terlihat, tidak teraba, namun nyata ada.
Hyukjae membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing dan pandangannya berputar. Dokter yang memeriksanya mengatakan kalau ia hanya kelelahan. Butuh banyak istirahat. Tapi, otaknya tidak bisa berhenti bekerja. Ia masih tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit. Saat ia sadar beberapa saat lalu, kepalanya terlalu pusing untuk mengenali. Semua seperti buram dan suara seperti berdengung-dengung.
Seingatnya, ia sedang mendekor kue di dapur Sweet Sugar sebelum pandangannya berputar hebat dan tiba-tiba semua gelap. Orang terakhir yang dilihatnya adalah Donghae. Mungkinkah Donghae yang membawanya ke sini? Tapi, laki-laki itu sudah pamit dan keluar dari dapur saat itu. Atau mungkin Donghae kembali untuk melihatnya? Atau bukan Donghae, melainkan Junsu atau karyawannya yang lain? Kepalanya semakin pusing karena terlalu banyak berpikir. Ia hendak meraih ponselnya untuk menghubungi anak-anaknya, tapi badannya terasa terlalu lemas. Ia kembali memejamkan mata.
Tidak tahu berapa lama ia kembali terlelap ketika merasakan ada seseorang menyentuh kening, pipi dan lehernya. Tangan yang besar dan hangat. Tangan seorang lelaki. Mungkin dokter yang sedang memeriksanya. Ia malas membuka mata. Terasa terlalu berat.
"Kalau butuh apa-apa, panggil saya saja Tuan."
"Iya. Terima kasih, suster."
Hyukjae terkesiap mendengar suara itu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Suara itu begitu dikenalnya. Suara... Donghae.
Dengat amat perlahan, Hyukjae kembali membuka matanya. Pandangannya masih berkunang-kunang, tapi ia bisa mengenali laki-laki yang duduk di sisi ranjangnya. Ternyata benar, Donghae yang membawanya ke sini. Karena laki-laki itu mengkhawatirkannya? Karena laki-laki itu merasa tidak mungkin meninggalkan atasannya tergeletak tak sadarkan diri? Atau karena laki-laki itu—seperti yang dikatakannya sendiri—mencintainya?
"Hyuk..." panggil Donghae saat melihatnya membuka mata. "Sudah merasa lebih baik?"
Hyukjae merasa mendengar nada cemas dalam suara Donghae. Ia berusaha memfokuskan pandangannya dan melihat nyata gurat kekhawatiran di mata laki-laki itu. Hatinya terasa hangat di antara keresahannya.
"Masih pusing, ya? Atau ada yang terasa sakit?" tanya Donghae lagi.
"Tidak," kata Hyukjae pelan. "Sudah mendingan."
"Aku takut kau kenapa-kenapa." Donghae memandangnya penuh perhatian.
Selama beberapa saat, Hyukjae hanya bisa terdiam mendengar kata-kata itu. Semua yang di lakukan laki-laki tampan itu mau tidak mau membuatnya tersentuh. Tidak peduli penolakannya. Tidak peduli kekasarannya. Tidak peduli ketidakacuhannya. Tapi, Donghae tetap di sana. Tetap ada untuknya.
Sekelebat pikiran, muncul dalam pikiran Hyukjae dan membuatnya khawatir. "Jeno dan Jisung bagaimana? Aku belum memberi kabar mereka."
Donghae menepuk punggung tangan Hyukjae lembut. Senyumnya terulas. "Aku tadi menyemapatkan kerumahmu dan sudah memberi tahu Jeno dan Jisung. Tadinya mereka mau ikut kesini, tapi karena besok masih ulangan semester, aku suruh mereka belajar saja. Besok kau juga sudah bisa pulang, kan?"
"Lalu, kue yang sedang aku dekor? Itu harus jadi besok." Tubuh Hyukjae terasa menegang oleh rasa cemas. Membuat denyut di kepalanya kembali terasa.
"Hyukjae..." Donghae menggenggam tangannya, memberinya keyakinan. Ia menatap langsung ke bola mata lelaki manis itu. "Sekarang kau jangan terlalu banyak berpikir. Semua akan baik-baik saja."
Tatapan mata dan genggaman tangan Donghae membuat wajah Hyukjae menghangat. Begitu lembut. Begitu penuh arti. Sedikit demi sedikit tubuhnya terasa meleleh, seiring degup jantungnya yang menguat. Ia menyadari betapa besar hati laki-laki ini. Betapa tulus. Dadanya terasa sesak. Sikap Donghae meruntuhkan dinding pertahanannya. Perasaan yang selama di pendamnya, mengaliri hatinya—meski masih terselip ragu dan takut di dalamnya.
"Istirahat, ya, Hyuk," ucap Donghae seperti berbisik. Perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya.
Hyukjae tersenyum dan mengangguk. "Thanks, Hae."
Donghae membalas senyumnya, lalu menunduk, mengetik sesuatu di ponselnya.
Seraya mengendalikan detak jantungnya, Hyukjae memejamkan mata. Kalau saja ia bisa percaya. Kalau saja Tuhan memang menautkan hati mereka bersama. Kalau saja semua ini terlihat mudah seperti kelihatannya.
.
.
.
Hyukjae merasa senang dan lega saat Dokter mengatakan kalau dirinya sudah boleh meninggalkan rumah sakit siang ini. kesehatannya mulai membaik, hanya butuh istirahat cukup untuk memulihkan. Ia sengaja tidak memberitahu Ryeowook agar adiknya yang sedang berada di Incheon itu tidak panik dan cemas.
Sambil mengemasi pakaian kotor, pikirannya tertuju pada Donghae. Rasanya seperti mimpi ketika terjaga tengah malam dan laki-laki itu masih berada di sisinya. Ia pikir, itu hanya halusinasinya saja. Tapi, mendapati sarapan dengan pesan dari Donghae membuatnya sadar, itu nyata.
Dimakan sarapannya, terus diminum obatnya.
-Donghae-
Mengingat pesan itu membuat senyum dibibirnya mengembang. Ada kehangatan muncul di dadanya dan perutnya melilit. Ia merasa seperti remaja belasan tahun yang menerima pesan dari orang yang disukainya. Atau mungkin begini rasanya... jatuh cinta? Sepertinya sudah begitu lama dan ia lupa bagaimana perasaan itu.
"Hyukie, are you okay?" tanya Junsu yang sedang membantunya.
Hyukjae tersadar dari pikirannya dan mengangguk. "Y-ya... i'm okay." Ia tergagap seketika.
Alis Donghae terangkat melihat tingkah sahabatnya, tapi belum ingin berkomentar apa-apa. Ia menggamit lengan Hyukjae, bersama-sama meninggalkan ruang perawatan rumah sakit. Bau obat-obatan berbaur dengan udara panas menguar di sekeliling mereka. Keduanya menyusuri lorong rumah sakit yang terasa begitu panjang.
"Jujur, ya, Hyuk, aku tidak menyangka Donghae bisa mengurus semuanya tadi malam." Ujar Junsu dengan pandangan lurus menyusuri lorong. "Dia mengantarmu ke sini, terus dia ke rumahmu melihat anak-anak dan mengambil baju untukmu, terus balik lagi ke sini untuk menjagamu. Aku menanyakan kabarmu terus sama dia semalam."
Wajah Hyukjae merona merah mendengarnya. Ia berusaha menyembunyikan keresahannya. Donghae rela melakukan apa pun untuknya. Untuk membuat dirinya terbuka. Untuk membuat dirinya bahagia. Tetapi, ia takut tidak bisa melakukan hal serupa.
"Aku rasa dia benar-benar sayang padamu, Hyukie. Tidak mungkin orang mau melakukan itu semua kalau bukan untuk orang yang dia sayang." Junsu menoleh ke sahabatnya. "Perasaanmu sendiri ke dia bagaimana?"
"Jujur, aku tidak tahu. Aku bingung dengan apa yang aku rasakan." Hyukjae mendesah pelan. "Aku masih merasa takut, Junsu-ya..."
"Donghae bukan Siwon, Hyukie. Aku tahu Donghae dari kecil." Junsu menatap lekat lelaki manis disampinya. "Sekarang, memang susah menilai orang. Tapi tidak semua orang hatinya jahat."
"Lalu... umurku dan Donghae? Statusku?" Hyukjae menggigit bibirnya.
"Kalau Donghae bisa menerima, bisa menjagamu, bisa menyayangimu, semua tidak akan jadi masalah." Junsu tersenyum, memberikan pengertian. "Cinta tidak melihat dengan mata, tapi dengan hati."
Hyukjae menggenggam erat ujung sweater yang dipakainya. Keresahannya makin menjadi. Bukan tentang Donghae, tetapi tentang dirinya sendiri.
"Kau tidak perlu berpikir macam-macam dan terlalu jauh sekarang oke? Kalau kau memang merasakan hal yang sama dengan Donghae, kasih kesempatan untuk dirimu sendiri, Hyukie. Jangan ditahan perasaanmu. Sakit. Rasa suka atau cinta itu sah-sah saja." Kata Junsu. "Jangan sampai, saat kau menyadari kalau kau seharusnya membuka kesempatan, kesempatan itu sudah hilang." Junsu menguatkan pegangan di lengan Hyukjae, memberi kekuatan dan keyakinan.
Hyukjae hanya tersenyum. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perasaanya sendiri. Selama ini ia hanya ingin melindungi dirinya. Menyelamatkan hatinya agar tidak terjerumus oleh perasaanya. Tapi, mengapa yang terjadi sebaliknya? Ia ingin sekali bisa berusaha untuk percaya.
.
.
.
Dan, aku ingin berusaha, asalkan kau ada.
Hari sudah gelap ketika Donghae sampai di rumah Hyukjae. Ia membereskan pekerjaan dan beberapa pesanan di Sweet Sugar juga membuatkan neapolitan cake—cake cokelat dengan tiga lapis mousse; vanila; pistachio, dan stroberi. Tak lama ia menekan bel, pintu terbuka. Jisung muncul di sana dengan mata melebar senang melihat kehadirannya.
"Donghae, Ahjussi!" pekik Jisung riang.
"Halo, Jisung-ie!" Donghae mengusap rambut bocah kecil itu. "Eomma sudah pulang, ya?"
"Iya, sudah." Lalu Jisung berlari masuk sambil menyerukan kedatangannya.
Donghae tersenyum senang melihatnya sambil berjalan masuk dan menutup pintu. Mungkin seperti itu rasanya ketika pulang kerja, disambut keriangan anak-anaknya. Rasa lelah, penat, dan semua yang memenuhi pikirannya selama di dapur, hilang. Ada perasaan hangat menyelinap ke dadanya.
"Hai, Hae..." sapa Hyukjae yang datang dari ruang tengah. Ia sedikit canggung.
"Kelihatannya kau sudah sehat." Donghae memperhatikan lelaki manis itu. Ia senang mendengar sapaan Hyukjae. Terdengar riangan.
"Ya." Hyukjae merasa dirinya terlihat bodoh saat itu. Namun, semua kata-kata seperti meluap dari otaknya.
"Ini, untukmu." Donghae menyodorkan kantong yang dibawanya.
Hyukjae membawa sedikit kantong dengan penasaran. "Kau membuat apa?"
"Lihat saja sendiri." Donghae tersenyum.
Hyukjae mengangkat bahu dan mempersilakan Donghae duduk di ruang tengah sementara dirinya pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Tidak biasanya ia begitu bersemangat seperti ini. dibukanya kotak kue itu dan ternyuh melihat neapolitan cake yang tampak cantik dengan hiasan krim kocok, potongan stroberi, dan kacang pistahio cincang. Ia mengambil pisau untuk memotong-motongnya.
Hyukjae membuatkan sirup dan meletakan potongan-potongan cake di atas sebuah piring, lalu membawanya ke ruang tengah. Di sana, didapatinya Donghae sendang bermain ular tangga yang dimainkannya bersama Jisung. Di luar kehendaknya, kehangatan menjalari hatinya melihat keakraban keduanya. Terutama saat Donghae dan Jisung tertawa. Terlihat seperti seorang ayah dan puteranya.
"Ini minumnya, Hae." Hyukjae meletakkan gelas berisi sirup di atas meja, juga piring berisi potongan cake. Ia mengambil salah satu potongan cake ke piring kecil dan dicobanya. Seperti perkiraannya, kue buatan sang koki ini, rasanya luar biasa.
"Thanks." Donghae meneguk minumannya. "Kata Jisung, Jeno sudah tidur."
Hyukjae mengangguk. "Iya, kelelahan latihan basket."
"Ah, ya, dia akan tanding antar sekolah minggu depan." Donghae meletakkan kembali gelasnya. Ia tersenyum membayangkan anak laki-laki itu. "Jeno pasti bisa. Di punya semangat besar."
Hyukjae mengamati Donghae. Semua ini terasa aneh. Terasa tak terduga. Berlangsung begitu saja di dalam hidupnya. Laki-laki itu masuk kedalam dunianya, menjalari hingga sudut-sudut terkecilnya, yang bahkan ia sempat tidak menyadari itu ada.
"Jisung mau kue itu!" bocah kecil itu menunjuk kue di atas piring.
Sebelum Hyukjae mengulurkan tangan, Donghae lebih dulu meraih piring, mengambilkan potongan cake untuk Jisung. Dan tanpa diduganya, Donghae menyuapi putranya. Mereka kembali bercanda dan tertawa. Ia masih tidak mengerti apa yang dirasakannya. Jantungnya berdentum-dentum. Perasaan hangat mengalirinya.
Mungkin Junsu benar, selama ini ia salah menilai Donghae. Mungkin benar, laki-laki ini berbeda. Dalam hati Hyukjae memutuskan untuk mencoba. Ia tidak tahu sampai di mana batas kemampuannya. Ia hanya ingin melihat dari sudut pandang berbeda. Setidaknya, ia berusaha.
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf untuk typo yang masih bertebaran, dan maaf jika ada yang kurang nyaman dalam pergantian cast dan perubahan cast menjadi Boys Love, apalagi dengan tema MPREG yang ada di FF Remake ini. Ini hanya sekedar untuk meramaikan Fanfic HaeHyuk yang semakin jarang dijumpai di FFn. Dan, segala Review positif yang kalian berikan, sepenuhnya aku persembahkan untuk Sefryana Khairil ^^
TERIMA KASIH yang sudah menyempatkan untuk Review^^
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
