Phobia : Yuri

.

.

.

.

[Sasuke Uchiha, Sakura Haruno] Ino Yamanaka

.

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

DLDR! (Jika tidak suka dengan adegan di dalamnya atau cerita yang dibuat Author, silahkan klik tombol back! Dilarang COPAS atau PLAGIAT dalam bentuk apapun! M for Save!)

Selamat Membaca!

oOo Phobia : Yuri oOo

Mebuki segera menuju rumah putrinya begitu menerima telepon dari Sakura. Wajah wanita paruh baya itu terlihat khawatir dan cemas, Sasori yang ikut mengantarkan ibunya juga ikut-ikutan khawatir. Tidak mungkin kan, jika Sasuke melakukan tindak Kekerasan pada Sakura. Jika itu benar-benar terjadi, ingatkan Sasori untuk memotong benda kebanggaan milik Sasuke.

Dan ketika mereka sampai, Mebuki dengan tergesa masuk ke dalam rumah Sakura. Sebagai seorang ibu, Mebuki langsung memeluk Sakura yang menangis sembari memeluk dirinya sendiri di ujung ruangan.

"Sakura, apa yang terjadi?" tanya Mebuki sembari mengelus punggung Sakura dengan lembut.

"Sasuke-kun.. Sasuke-kun..."

"Apa? Apa dia melakukan tindak kekerasan padamu?" tanya Sasori dengan khawatir.

Sakura menggelengkan kepalanya dan menunjuk surat yang tergeletak begitu saja di lantai. Sasori memungutnya dan membacanya, matanya membulat tidak percaya membaca kata demi kata yang tertera di kertas itu.

"Ini.. tidak mungkin."

.

.

Sasuke menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya sembari menarik nafas panjang. Dia sudah lelah dengan semua dokumen yang menumpuk, proyek yang harus dikerjakan dan meeting yang begitu banyak.

Onyxnya memandang foto Sakura yang sengaja dia letakan di mejanya. Dia merindukan istrinya, merindukan senyumannya, bagaimana menyebalkannya Sakura, bagaimana wajah malu-malu Sakura ketika ngidam. Dia merindukan semua yang ada pada diri Sakura.

"Sasuke-sama." Tayuya masuk ke dalam ruangannya. "Anda ada meeting dengan Nara corp."

Kami-sama, jangan rapat menyebalkan lagi.

.

.

.

Mebuki masuk ke dalam kamar putri bungsunya dengan membawa nampan berisi bubur dan memandang Sakura yang tidur dengan nyenyak. Sasori memaksa Sakura untuk meminum obat tidur karena seharian ini putrinya itu menangis.

"Sakura, bangunlah." Mebuki mengusap lembut rambut Sakura.

Perlahan emerald yang cerah itu terlihat. Sakura memandang ibunya yang tersenyum.

"Duduklah dan makanlah dulu, kaa-san sudah menyiapkan bubur untukmu."

Sakura mendudukan dirinya dan menerima bubur dari tangan ibunya. Namun, selera makannya sedang buruk hari ini. Bubur itu hanya dipandanginya tanpa melakukan apapun. Dia hanya ingin Sasuke, dia ingin suaminya disini, memeluknya dan menjelaskan apa yang terjadi padanya.

"Makanlah, Sakura. Kamu harus makan agar bayimu tetap sehat."

Sakura mengangkat kepalanya dan memandang ibunya dengan pandangan terkejut. Dari mana ibunya tahu tentang kehamilannya?

"Sasori yang menceritakannya pada Kaa-san." Mebuki bicara tanpa ditanya, seolah bisa membaca pikiran adiknya. "Kenapa kamu tidak mengatakan pada kaa-san tentang kehamilanmu ini?"

"Saku.. Saku tidak ingin Kaa-san kecewa dengan kehamilan Saku yang diluar pernikahan. Saku, hanya ingin kaa-san bahagia di masa tua Kaa-san."

Mebuki mengusap surai merah muda Sakura dengan lembut.

"Kaa-san bahagia karena Sasuke mau bertanggung jawab. Dia menikahimu dan manafkahimu."

"Tidak Kaa-san, jika dia memang bertanggung jawab dan mencintaiku kenapa dia mengirimkan surat itu untukku?"

"Kaa-san tidak tahu, sayang."

Mebuki memeluk Sakura dengan lembut. Dia tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini. Biar bagaimanapun, dia pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan dari ini. Sebagai seorang ibu, dia tidak ingin putrinya mengalami hal yang menyakitkan.

.

"Kaa-san." Sasori memandang ibunya yang keluar dari kamar adiknya.

Mebuki mendudukan diri di hadapan Sasori. Pemuda berambut merah itu meneguk susu di gelasnya dan menarik nafas panjang.

"Kamu sudah menghubungi Sasuke?" tanya Mebuki.

"Sudah, tetapi tidak ada jawaban."

Mebuki menarik nafas panjang.

"Kaa-san masih ingat bagaimana Sakura menemukan pesan singkat yang dikirimkan istri kedua Tou-san. Malam itu, Sakura menangis semalaman ketika mengetahui keluarganya hancur sebelum menceritakan semuanya kepada Kaa-san. Jika adikmu menjadi seperti itu, ini semua salah Kaa-san. Seharusnya, Kaa-san lebih memikirkan perasaanya dari pada perasaan Kaa-san sendiri. Kaa-san saat itu masih terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa tou-san kalian menikah lagi."

Sasori menggenggam tangan ibunya dengan lembut. Anak manapun tidak ingin keluarganya menjadi terpecah. Setiap anak menginginkan sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Tidak ada seorang anak yang ingin keluarganya menjadi berantakan bahkan menjadi broken home.

Hal yang paling diingatnya adalah ketika mereka berdua jalan ke sebuah mall. Saat itu Sakura ingin sekali membeli es krim strawberry kesukaannya. Saat mengantri, mereka melihat seorang ayah bersama kedua anaknya.

"Ayah, aku ingin es krim itu!"

"Cium pipi ayah, lalu kamu akan mendapatkannya."

Sasori tidak akan pernah melupakan ekspresi wajah Sakura saat itu. Begitu sulit untuk diartikan.

"Aku pernah merasakan posisi gadis kecil itu, bukan begitu nii-chan?"

Dia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Sakura saat itu begitu membekas di ingatannya.

"Apakah kamu percaya jika Sasuke benar-benar mengirimkan surat cerai itu? Mereka baru seminggu menikah dan rasanya lucu ketika Sasuke mengirimkan surat cerai untuk Sakura," ucap Mebuki. "Apa perlu Kaa-sann menghubungi Mikoto?"

"Jangan," cegah Sasori. "Aku yang akan datang ke kantor Sasuke dan akan menanyakan semuanya."

"Baiklah. Kaa-san serahkan semuanya padamu, Sasori."

oOo Phobia oOo

Ino datang ke rumah Sakura ketika mengetahui sahabatnya itu jatuh sakit. Saat dirinya sampai disana, ibu Sakura sedang membuat bubur. Dan ketika mendengar garis besar penyebab Sakura jatuh sakit, Ino segera menuju kamar sahabatnya itu.

Aquamarinenya memandang Sakura yang sedang tidur bergelung selimut. Wanita berambut merah muda itu tampak tenang dalam tidurnya. Perlahan, Ino mendudukan diri di samping Sakura dan mengelus rambut wanita itu dengan lembut.

"Ino?" Sakura sedikit membuka matanya.

"Aku disini, Sakura." Ino tersenyum. "Bibi Mebuki menghubungiku dan sudah menceritakan semuanya."

Emerald Sakura meredup.

"Kenapa, kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia mengirimkan surat cerai padaku." Sakura terisak.

"Tidak ada hal yang buruk terjadi, Sakura. Sasuke pasti memiliki alasan untuk melakukan semua ini. Dia mencintaimu seperti apa yang kamu katakan, Sakura."

"Tapi, Ino-"

"Percayalah, Sakura."

.

.

"Maafkan saya, tuan. Sasuke-sama sedang ada rapat," ucap Tayuya.

"Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar saja."

"Tidak bisa, Sasori-sama. Jadwal Sasuke-sama bahkan sangat padat hingga lembur nanti."

"Kapan dia ada waktu?" tanya Sasori.

"Tidak ada waktu, Sasori-sama. Banyak proyek yang ditunda Sasuke-sama dan semuanya harus di kerjakan dalam waktu dekat."

Sasori menarik nafas panjang. Dia memang mendengar jika Uchiha corp sedikit menurun. Mungkin menemui Sasuke akan sedikit susah.

.

.

.

Sasuke mengelus wajahnya yang terasa letih. Di hadapannya terdapat makanannya yang dibawakan Tayuya yang bahkan tidak tersentuh sama sekali. Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, tetapi semua pekerjaannya belum juga selesai. Bahkan dokumen yang dia kerjakan sedari tadi tidak ada yang berkurang.

Dia ingin pulang dan menemui Sakura. Rasanya dadanya terasa ingin pecah ketika mengingat wanita yang telah menjadi istrinya itu. Dia begitu merindukan sosok istrinya, merindukan senyumannya, merindukan masakannya, merindukan semua yang ada pada diri istrinya.

Tetapi, dia tidak bisa pulang sebelum seluruh pekerjaannya selesai. Apalagi, lusa dia harus rapat dengan pemilik-pemilik perusahaan besar yang telah bekerja sama dengannya.

Harinya pasti akan menjadi sangat panjang dan melelahkan.

.

.

"Kamu yakin akan melakukan semua ini, Sakura?"

Ino membantu Sakura memasukan semua barang-barangnya ke dalam koper. Pagi ini sahabatnya itu akan pulang ke Perancis bersama sang Ibu. Sakura menyeka air matanya, berhari-hari menangis membuat berat badannya turun dan matanya menjadi bengkak.

"Untuk apa aku tinggal disini tanpa Sasuke-kun, dia menginginkan hubungan ini berakhir dengan perceraian. Sasori-nii yang akan mengurus semuanya."

Ino memeluk Sakura, membiarkan ini menjadi pelukan terakhir mereka.

Dan ketika Sakura masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Emeraldnya memandang rumahnya yang baru ditempati bersama Sasuke. Dia tidak akan melupakan semua ini.

"Sasori-nii, aku punya satu permintaan sebelum kita ke bandara."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jika kita membangun jembatan disini, maka akses jalan akan lebih mudah dan kita akan terbebas dari macet."

Sasuke sedang menerangkan proyek baru yang akan mereka kerjakan. Dihadapannya, kakeknya duduk, Hashirama selaku pemegang saham terbesar kedua juga duduk, ada Naruto dan Sai yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.

"Bagus, pemikiranmu cukup bagus, Sasuke." Madara tersenyum ketika membaca konsep proyek baru mereka.

"Baiklah. Lalu-"

"Sasuke-kun."

Serentak mereka menolehkan kepalanya dan memandang Sakura yang berdiri di depan pintu ruang rapat. Sasuke terkejut ketika Sakura berjalan mendekat, lebih terkejut lagi melihat mata Sakura yang bengkak.

"Sakura, apa yang terjadi?" Sasuke mendekati istrinya yang terlihat kacau.

"Aku akan pulang ke Perancis. Terimakasih untuk semuanya, Sasuke-kun."

"Apa maksudmu, Sakura? Aku tidak mengerti."

Sakura menyeka air mata di sudut matanya dan menyerahkan amplop bersi surat cerai yang diterimanya beberapa hari lalu. Dan ketika Sasuke membacanya, onyxnya membulat tidak percaya.

"Omong kosong apa ini, Sakura?! Aku tidak pernah mengirimkan hal ini padamu!"

"Tapi kenyataannya, aku menerimanya atas namamu, Sasuke-kun!"

"Siapapun yang mengirimkan ini tidak lucu, Sakura." Sasuke memandang Sakura dengan intens. "Aku mencintaimu dan tidak ingin menceraikanmu apapun yang terjadi! Dalam benakku aku tidak pernah berfikir untuk menceraikanmu! Siapapun orang yang mengirimkan ini, dia hanya mengirimkan sebuah omong kosong!"

"Tapi, Sasuke-kun-"

Sasuke tanpa pikir panjang langsung membungkam Sakura dalam satu ciuman yang panjang. Sasuke melumat bibir yang begitu dia rindukan. Rasanya, energinya seperti terisi kembali.

"Aku mencintaimu dan kamu tahu itu, bukan?" Sasuke melepaskan ciuman mereka dan menyatukan dahi mereka. "Tidak ada perceraian, Sakura. Siapapun yang mengirim surat itu benar-benar mengirim omong kosong."

Sakura tidak bisa menahan senyumnya.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

Sasuke kembali menyatukan bibirnya. Melupakan keadaan sekitarnya.

"Ehem, dasar anak muda."

Sakura segera menjauh dan baru menyadari bahwa mereka ada di ruang rapat perusahaan. Madara tersenyum geli memandang keduanya.

"Mereka sedang kasamaran, begitu bukan, Madara?" Hashirama tertawa.

"Jika kau merindukan istrimu cari hotel, Teme."

Sasuke tersenyum ketika memandang wajah Sakura yang memerah.

"Ide bagus, dobe."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke-kun, kamu tidak akan meninggalkanku bukan?"

Sasuke memeluk Sakura dari belakang. Setelah kejadian tadi siang, Itachi selaku kakaknya langsung mengambil alih setengah proyek yang dikerjakan Sasuke. Ibunya mengomel panjang lebar tentang pekerjaannya yang menuntutnya untuk lembur dan akhirnya kesalahpahaman ini sudah berakhir.

Jadi, mereka langsung memutuskan pulang dan Sasuke langsung membawa Sakura keatas ranjangnya untuk tidur. Rasanya beberapa hari tidur di sofa kantor itu menyebalkan.

Meski tidak diketahui siapa yang mengirim surat cerai gadungan itu. Sasuke bersumpah akan membunuh orang itu.

"Sasuke-kun."

"Tidurlah, Sakura. Aku mengantuk."

Sakura tersenyum ketika Sasuke memeluk perutnya dengan erat disertai dengan dengkuran halus dari suaminya.

"Aku mencintaimu, Sasuke-kun."

Bagaimana jika yang mengirim surat cerai itu sahabat kalian sendiri?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

"Tadaima."

Ino muncul dengan gaun malamnya yang berwarna kuning cerah. Sai tersenyum dan mengecup pipi istrinya itu.

"Okaeri, Sai-kun. Aku memasakan makanan kesukaanmu." Ino tersenyum.

"Ino-chan, apakah kamu melihat keduanya tadi?"

Ino memandang Sai lalu menganggukan kepalanya.

"Aku percaya jika keduanya saling mencintai. Sekarang giliran kita untuk bahagia."

"Apa aku perlu memberitahu Sasuke dan Sakura bahwa kita yang mengirimkan surat cerai itu?"

"Kau terlalu polos, Sai-kun." Ino mencium bibir Sai. "Tidak perlu, mereka bisa membunuh kita nanti."

Ino tersenyum ketika mereka duduk di meja makan. Kini dia benar-benar rela melepas Sakura dan berjanji akan meraih kebahagiaannya sendiri.

.

.

.

.

Owari

Special's thank's to :

Cherryhamtaro, Frizca A, Misa Safitri3, Harunofarron38, Uchiha Javaraz, Harika-chan ELF, Cherry480, Bang Kise Ganteng, Hanazono Yuri, Name Whatiee, Ayuniejung, ernykim, Zarachan, Uchiha Pioo, Hima-chan, 69CoolAndCold69, Greentea Kim, Gelanggang, Genie Luciana, Rossadilla17, LukeLuke, Yosh-akimoto, Hime, Nurulita as Lita-san, Tsurugi de Lelouch, smilecherry, Yoriko Yokochidan, Uchiaru83, Haruka Ryokusuke, Yukinami Shina, Youngki Anggara, Firza290, Guest, Sarada Navers, Luhannieka.

Hoho.. fict ini belum sepenuhnya tamat. Pasti ada banyak yang merasa belum puas sama ending fict ini.. masih ada dua chap bonus untuk kedepannya.. jadi tunggu aja yaa..

Terimakasih banyak buat yang udah ngedukung fict ini.. pokoknya aku sayang kaliaaaannnn!

-Aomine Sakura-