Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

Kyungsoo menatap pintu apartemen 3C nya, mempelajari setiap nuansa kuningan yang memudar dan lubang intip di bawahnya. Dan mengulur-ulur waktu seperti gadis perawan pada malam prom yang akan berlangsung lima menit lagi.

Pada awalnya Kyungsoo tak tahu kenapa dia begitu gugup. Dia jelas tidak gugup saat Jongin menyentuhnya. Tidak, tapi itu seperti api murni, hasrat tak terkendali yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Jadi yang harus dilakukan olehnya hanyalah berada dalam pelukan Jongin, dan dia akan baik-baik saja.

Kyungsoo memutar handle pintu dan memasuki apartemennya. Sebuah lampu kecil dengan bayangan berwarna keunguan di atas meja di dekat pintu memberikan kehangatan dan kesan sensual ke dalam sebuah ruangan kecil di sebelah kanan. Kyungsoo baru menyadari iPod miliknya terhubung ke satu set speaker kecil di ujung meja, memainkan lagu pelan dan seksi yang tidak diragukan lagi bahwa seluruh lagu yang dimainkan Jongin akan seperti itu.

"Disini, Kyung."

Kyungsoo meluncur dari sandalnya dan selanjutnya berjalan ke dalam sebuah ruangan, mencari Jongin. Suara lelaki itu, lebih kecil daripada biasanya, berasal dari ruang tamu, tapi Kyungsoo tidak melihatnya dimanapun. Perut Kyungsoo menegang menjadi sebuah simpul yang mungkin akan mencekik sesuatu yang beterbangan di dalam sana. Persetan kupu-kupu (sensasi gelisah di dalam perut seseorang yang dirasakan ketika bersama orang yang menakjubkan). Ini pasti burung kolibri. Terbang dengan kecepatan penuh.

Memutari sofa, Kyungsoo akhirnya menemukan Jongin duduk di atas lantai tanpa berpakaian tapi hanya mengenakan celana pendek atletik putih, satu kaki terlentang di depannya dan lainnya dilipat dengan lengannya bertumpu di lututnya. Jongin meletakkan bantal lantai besar yang biasanya ditumpuk di sudut dan melengkapinya dengan bantal dekorasi dari sofa dan dari tempat tidur. Itu terlihat seperti lantai seorang sheik dengan selera yang buruk dalam design interior, namun, itu juga penyusunan terseksi yang pernah ada.

Dalam satu gerakan yang mulus Jongin berdiri dan mengulurkan tangannya. Kyungsoo menelan ludah dan menyeka tangannya pada pahanya jikalau tangannya mengeluarkan keringat yang fantastis, dan kemudian menempatkan jari-jarinya ke dalam tangan Jongin. Jongin menarik Kyungsoo ke bagian tengah bersamanya tapi tidak menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Jarak diantar mereka tidak lebih dari dua inci, tapi itu terasa seperti di Grand Canyon.

Diangkatnya kepalanya, matanya bertatapan langsung dengan mata pria itu yang sedang menunduk untuk beradu pandang dengannya. Barulah Kyungsoo menyadari, mungkin Jongin menunggunya untuk mengambil langkah pertama, seperti bagaimana Kyungsoo melakukannya di ruang fitness. Okay, tidak masalah. Yang perlu kau lakukan hanyalah memulai sesuatu, Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan matanya dan wajahnya lebih dinaikkan, menunggu saat bibirnya akan bertemu dengan bibir Jongin, antisipasi mengalir melalu urat nadinya seperti obat bius.

Tapi tidak ada yang terjadi.

Membuka matanya, Kyungsoo bertanya-tanya jika waktu entah bagaimana caranya telah berhenti. Jongin tidak menggerakkan satu otot pun Otot-otot rahang Jongin mengencang. Ya Tuhan, itu sangat seksi. Mengapa itu begitu seksi? Kyungsoo bertanya-tanya apa artinya Jongin melakukan itu. Yifan selalu melakukannya ketika dia sedang murka. Apakah Jongin sedang murka?

"Jongin?" Ucap Kyungsoo pelan

Pada awalnya Jongin tidak mengatakan apa-apa, tapi perlahan jari-jarinya dinaikkan di atas bibir Kyungsoo sekali, seakan menyatakan Jongin tidak ingin Kyungsoo bicara, lalu menarik jarinya pergi. Kyungsoo mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak memahami maksud Jongin sedikitpun.

Jongin berjalan mengelilingi punggung Kyungsoo, lagi sangat dekat tapi tidak menyentuhnya.

Kyungsoo merasakan nafas lelaki itu di samping wajahnya ketika Jongin mencodongkan tubuhnya. Dan ketika sebuah jari menyusuri lengannya, Kyungsoo bersumpah sebuah aliran listrik telah membakarnya. "Rayuan bukan tentang tindakan," kata Jongin, menelusuri jarinya kembali menuju bahunya. "Ini tentang kendali. Aku dapat membuatmu melakukan semua tindakan itu kau menanggalkan pakaianku, melakukan striptis, bahkan dapat membuatmu berlutut di depanku dan selama aku yang memegang kendali situasinya, kamulah sebenarnya yang sedang dirayu."

Jongin menyibakkan rambut Kyungsoo hingga jatuh ke depan di satu sisi. Ya Tuhan, Kyungsoo ingin Jongin menarik dirinya ke dalam tubuh kekarnya, untuk merasakan dadanya yang menempel di bahu atas Jongin dan ereksinya terjepit disela-sela pantatnya.

"Buka kemeja, Kyungsoo."

Meraih keliman kemejanya dengan kedua tangan, Kyungsoo mengangkat tangannya, menarik melewati kepalanya, dan dilemparkannya ke sofa.

"Sekarang celananya."

Kancingnya dibuka dengan jarinya yang gemetar, menurunkan resleting ke bawah, dan membiarkan celananya jatuh ke lantai sebelum menendangnya. Yang tersisa di tubuhnya adalah bra berenda putih dan celana dalam thong yang sesuai.

Akhirnya Jongin meletakkan lebih dari satu jari padanya dan merasakan ciuman yang ditempatkan pada tengkuknya setelah membuatnya berada di tepian dalam waktu lama, itu seperti sentakan nafsu yang ditembak langsung ke dalam dirinya. Kyungsoo tersentak sebagai bentuk respon dan mungkin sudah mengeluarkan erangan, dia tidak begitu yakin. Tubuhnya, otaknya, semuanya terasa sangat sadar, mengalami hubungan arus pendek yang semuanya terjadi dalam waktu yang sama.

Lututnya lunglai, tapi tangan yang kuat meraih pinggulnya, dan Jongin menarik punggungnya untuk menahannya stabil. "Shhh. Aku memegangmu. Aku ingin kau berbaring telungkup. Gunakan bantal-bantal semaumu untuk membuat dirimu sendiri nyaman."

Jongin membantu Kyungsoo rebah dan ketika sudah beres, bergabung dengan merentangkan tubuh disamping dirinya. Dengan wajahnya berpaling kearah Jongin, Kyungsoo belajar tentang intensitas yang ada di wajahnya saat Jongin menggerakkan tangannya di punggung, pinggang, di atas gundukan dari pantatnya. Rahang Jongin terlihat menegang, membuat pipinya melekuk dengan setiap gerakan ototnya, dan mata cokelatnya di bawah lampu merah-biruan mengingatkannya akan warna menyala dari musim gugur.

"Sialan, Kyung. Kapan kau mendapatkan pantat seperti ini?"

Apakah ia harus menjawab pertanyaannya? Dia tadi tidak ingin agar dirinya bicara jadi dia hanya mengartikan itu hanya pertanyaan retoris. Disamping itu, dia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang diberikan padanya mengingat bagaimana otaknya telah berhenti begitu Jongin menyentuhnya.

Lagipula semua pertanyaan dan jawaban menguap ketika jari Jongin yang besar menelusuri garis thongnya diantara pantat hingga mencapai segitiga tipis yang menutupi seksnya. Secara naluriah Kyungsoo mengangkat pinggulnya, memberi Jongin akses yang lebih baik. Ternyata tubuhnya mempunyai pikiran sendiri. Syukurlah mereka mempunyai pikiran yang sama dengannya.

"Persetan kau begitu basah." Sekarang dua jarinya mengelus kembali ke depan dan ke belakang lagi. Kemudian Jongin memposisikan tubuh bagian atasnya diantara kedua kaki Kyungsoo, yang menempatkan wajahnya di daerah intim Kyungsoo.

Kyungsoo terkesiap ketika Jongin menggigit pantat kirinya. Tidak terlalu keras untuk menyakitinya, tapi cukup menyebabkan kejutan singkat sebelum Jongin menciumnya agar lebih baik.

"Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya," Kata Jongin, "tapi ada sesuatu tentang pantatmu yang membuatku perlu untuk melahapnya. Apakah itu menganggumu?"

"Tidak," kata Kyungsoo, mengangkat pinggulnya dari bantal di bawahnya, permohonan tanpa kata untuk meminta lebih.

"Tidak," Jongin setuju, meremas pantatnya yang lain dengan telapak tangannya yang kasar. "Kurasa kau malah menikmatinya, bukankah begitu?" Jari-jari Jongin dari salah satu tangannya kembali memijat lipatan bengkak saat tangan yang lain terus membelai dan meremas pantatnya dan yang Kyungsoo inginkan adalah lebih banyak lagi.

Plak!

Jeritan tertahan muncul di udara sesaat setelah tangan Jongin memukul pantat Kyungsoo. Sekali lagi, reaksi Kyungsoo lebih kepada shock daripada sakit.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Kyung." Menjawabnya? Dia bahkan tidak dapat mengingat namanya sendiri pada saat ini, apalagi pertanyaan itu. Untunglah Jongin mengulanginya. "Apakah kau suka apa yang kulakukan pada pantat indahmu ini?"

"Ya," Kyungsoo berseru diantara gigitan yang lain, yang satu ini lebih dekat ke lipatan pahanya. "Semua yang kau lakukan terasa sangat nikmat."

"Ini sesuatu yang sangat bagus, aku benar-benar menggigitmu cukup dalam untuk melihat tandaku di kulitmu, sayang."

Sebelum Kyungsoo memiliki kesempatan memberi tanggapan, Jongin memegang tali tipis yang mengikat pinggangnya di kedua tangan dan menariknya ke arah yang berlawanan, menghancurkan sutra itu menjadi dua. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi." Kyungsoo tidak tahu mengapa, tapi ide bahwa Jongin perlu mengganti celana dalamnya setiap kali dia merobek dari tubuhnya terlihat lucu. Kyungsoo terkikik. Sampai lidah Jongin menyapu seksnya dalam alur yang hangat dan basah.

"Ohmigod."

Sekarang giliran Jongin yang senang dan getaran dari bibir Jongin menggelitik kulit Kyungsoo yang kaya saraf hingga dan memeras lebih banyak cairan saat organ dalamnya mengejang. "Berbaliklah jadi aku bisa melakukan ini dengan benar (senonoh)."

Kyungsoo berguling ke belakang dan menatap ke atas seperti dia memegang dirinya sendiri. "Aku tak tahu kalau kata dengan 'benar' berfungsi dalam konteks ini. Kupikir kata keterangan yang kau cari adalah 'terlarang'."

"Kau benar. Terlarang jelas menggambarkan rencanaku untukmu. Tapi kau juga salah."

"Tentang apa?"

"Masih ada cara yang tepat untuk melakukan tindakan terlarang." Dengan seringai nakal dan kilatan jahat di matanya Jongin mengatakan. "Dan aku akan menunjukkan padamu dengan tepat apa yang kumaksud."

Jongin meyerap reaksi polosnya seperti gurun yang lama menunggu hujan. Dia belum pernah bersama dengan siapa pun yang menyerupai Kyungsoo. Dia selalu berkencan dengan gadis yang bersedia dan siap dan tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang dia lakukan tentang: seks tanpa ikatan.

Kyungsoo sangat menyegarkan dan begitu responsif. Jongin sangat suka membuat Kyungsoo tetap berada di tepian, selalu bertanya-tanya apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan kemudian mengejutkannya dan bahkan kadang mengejutkan dirinya sendiri dengan langkah selanjutnya.

Jongin menurunkan dirinya sehingga sebagian tubuhnya menutupi tubuh Kyungsoo, tapi masih cukup menahan diri hingga dia tidak meremukkan tubuh Kyungsoo dengan berat badannya. Kyungsoo seakan makhluk kecil mungil, halus dan lembut dan benar-benar cantik. Jongin tidak bisa mengerti mengapa Kyungsoo berpikir dirinya biasa saja.

Mata abu-abunya melembut diliputi oleh lingkaran berwarna arang menatapnya dengan pandangan nafsu tak terfokus yang merangsangnya. Jongin menyisir pinggiran poninya ke samping dan melihat bintik kecil berbentuk hati. Jongin menundukkan kepalanya dan menciumnya membuat mata Kyungsoo menutup saat mendesah kemudian ciumannya bergeser ke arah bibir penuh Kyungsoo.

Menggunakan tekanan Jongin mendorongnya untuk membuka bibir Kyungsoo dan menyapukan lidahnya untuk menemukan milik Kyungsoo. Merasakan lidahnya menggeser dengan lidah Kyungsoo, bergerak di atas dan di sekitar bibirnya saat mereka mengklaim satu sama lain adalah perasaan yang memabukkan. Tangan Kyungsoo naik untuk membingkai tulang rusuknya dan ketika Jongin menggoyangkan pinggangnya, menumbukkan kemaluannya terhadap tubuh Kyungsoo, jari-jari Kyungsoo menekan lebih dalam. Sengatan tajam dari kuku yang menggores kulitnya membangkitkan sesuatu yang sengit.

Bra Kyungsoo yang berenda menekan puting susunya yang sensitif dan Jongin mengerang saat mereka menegang oleh sensasinya. Meskipun begitu nikmat, Jongin lebih memilih agar sensasi itu pergi. Mencapai punggung Kyungsoo dengan satu tangan Jongin ahli melepaskan kaitnya, menariknya dari depan, dan melucutinya di suatu tempat di belakang Jongin saat Jongin pertama kali melihat payudara telanjang Kyungsoo.

"Luar biasa," Jongin berucap dengan nada serak. Dan memang benar.

Payudara Kyungsoo berukuran sempurna untuk tangannya; cukup kecil tapi kencang dan cukup besar untuk membentuk lengkungan yang membengkak pada bagian bawah karena beratnya. Hal pertama yang Jongin pikirkan adalah perlu untuk membuat pahatan tentang wanita di bawahnya. Jongin telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat segala sesuatunya menjadi tepat. Puting merah kehitaman yang mengkerut ketika Jongin melingkarinya dengan ujung jarinya. Lekukan lembut dari tulang selangka yang halus ke ujung puting. kesempurnaan di bawahnya semakin bertambah dibawah tatapan Jongin yang panas.

Tidak menyia-nyiakan sedetik pun Jongin membungkuk untuk menempatkan ciuman basah di dasar payudara Kyungsoo. Kyungsoo melengkungkan punggungnya dan nafasnya semakin cepat. Dengan lidahnya Jongin membuat gambar dengan pola malas, tapi berhati-hati menjauh dari pusatnya, membuat Kyungsoo lebih dekat ke tepian sekali lagi. Setelah satu menit atau lebih Jongin beringsut lebih dekat, sekarang menelusuri garis luar areola milik Kyungsoo.

Kyungsoo membuat suara frustasi dan mencengkram kepala Jongin, mencoba mengarahkan Jongin ke putingnya, tapi lagi-lagi Jongin membuat Kyungsoo menunggu.

Meskipun Kyungsoo tak pernah percaya padanya, menahan diri untuk mengambil payudara Kyungsoo hampir sama menyiksa baginya. Akhirnya Jongin membuka lebar dan menariknya sebanyak yang Jongin bisa ke dalam mulutnya. Jongin menyerang puting Kyungsoo dengan lidahnya dan menghisapnya seperti milik Kyungsoo adalah permen kesukaannya. Kyungsoo menjerit dan melengkung ke arah Jongin sampai punggungnya membungkuk. Akhirnya Jongin menarik kepalanya mundur sampai puting Kyungsoo dibebaskan dari bibir Jongin dengan suara pop yang basah. Pucuk memerahnya yang mengencang memberikan Jongin sensasi sama tingginya dengan memenangkan satu ronde di salah satu pertandingan dan memberinya motivasi yang sama untuk melakukannya lagi.

Jongin mengulangi seluruh prosesnya di sisi yang lain, memuja payudara Kyungsoo dengan mulutnya sementara tangannya berkeliaran di atas kulit selembut satinnya. Ketika Jongin yakin memenangkan ronde kedua juga, Jongin melepaskan payudara Kyungsoo dan menuju ke lokasi penaklukan berikutnya.

Menegakkan tubuh di atas lutut Kyungsoo, Jongin menggunakan tangannya untuk mendorong kaki Kyungsoo terpisah. Daerah kewanitaannya yang merah muda berkilau oleh cairannya. Jongin tak mampu menahan diri untuk memisahkan mereka dengan ibu jarinya untuk menatap sumbernya. Jongin tidak pernah mempelajari seorang wanita seperti ini sebelumnya dan terkejut Jongin benar-benar dapat melihat dinding-dinding bagian dalam milik Kyungsoo mengetat, sangat ingin menggenggam sesuatu di sana.

Menyeret tatapannya menjauh Jongin melihat ada ekspresi malu di mata Kyungsoo. "Kau sangat cantik. Tapi kau terlihat terlalu kosong." Menahan tatapannya Jongin menyelipkan ibu jarinya ke dalam lubang kewanitaan Kyungsoo. "Ingin sesuatu untuk mengisimu?"

Segera setelah Kyungsoo memberikannya anggukan Jongin menenggelamkan kedua ibu jarinya sedalam-dalamnya.

Kyungsoo menjerit saat pinggulnya terangkat dari bantal, tangannya mencengkram salah satu bantal dibawahnya. Respon Kyungsoo mendorong api dari dalam diri Jongin hingga intinya terasa mencair. Ketika Kyungsoo menurunkan pinggulnya sekali lagi Jongin menghadiahi Kyungsoo dengan mendorong ibu jarinya, memberikan tekanan pada dinding-dinding bagian dalamnya dengan setiap gerakan mundurnya.

Jongin melihat cairan kewanitaan Kyungsoo keluar, menetes ke celah pantatnya dan sebuah rasa dahaga yang mendalam akan diri Kyungsoo tiba-tiba membajirinya. Memposisikan tubuhnya lebih rendah, Jongin mulai mencium paha bagian dalam Kyungsoo.

"Jangan, kau tak perlu melakukan " cegah Kyungsoo.

"Ya, aku perlu," jika Jongin tidak menempatkan mulutnya pada kewanitaan Kyungsoo pada menit berikutnya dia akan menjadi gila. "Aku harus melakukannya."

Sesaat sebelum Jongin akan turun, tangan Kyungsoo menangkup dagunya untuk mencegah Jongin bergerak kemana-mana. "Jangan, maksudku adalah, itu tidak memberikan efek apapun untukku, jadi kau tak perlu melakukannya."

Jongin butuh beberapa waktu untuk memproses apa yang Kyungsoo katakan. Tidak memberikan efek apapun untuknya? Entah mantan suaminya begitu buruk dalam urusan oral atau tidak, Jongin bahkan tidak akan menyelesaikan itu. Jongin berani mempertaruhkan kontrak UFC-nya, bahwa pria itu memang begitu buruk.

Jongin melingkari pergelangan tangan Kyungsoo, menarik tangan Kyungsoo dari wajahnya, memberikan ciuman di pergelangan tangan Kyungsoo saat Jongin menatap mata wanita dibawahnya. Jongin membutuhkan Kyungsoo untuk melihat kejujurannya ketika ia bicara. "Aku perlu merasakan milikmu, Kyungsoo. Aku sangat ingin merasakan memilikimu ada di lidahku, di dalam mulutku. Dan aku jamin apa yang aku lakukan, aku berpengaruh besar untukmu."

Jongin tidak memberikan kesempatan Kyungsoo untuk berdebat dengannya. Jongin membenamkan wajahnya dan menjilat dari bawah sampai ke atas, menambahkan sedikit tekanan ketika Jongin tiba di clit Kyungsoo. Kyungsoo menjerit dan pinggulnya mencoba melengkung, tapi Jongin menahannya ditempat sehingga Kyungsoo tak bisa mengacukan apa yang sudah jadi sasarannya. Milik Kyungsoo terasa manis seperti madu. Jongin merasa senang bisa menghabiskan waktunya diantara kedua kaki Kyungsoo.

Di atas, mengelilingi dan langsung ke tengah, Jongin mempertahankan lidahnya dalam gerakan konstan, menyelesaikannya dengan ciuman dan gigitan kecil. Jongin memperhatikan setiap erangan, setiap rintihan, mempelajari apa yang Kyungsoo suka dan apa yang mendorongnya jadi menggila.

Keringat menutupi tubuh Kyungsoo, payudara Kyungsoo naik turun dengan nafas pendeknya, Kyungsoo melemparkan kepalanya ke belakang dan matanya erat tertutup. Kyungsoo adalah sebuah pemandangan yang tak ada duanya, menggeliat dalam sebuah pergolakan gairah. Tapi ada sesuatu yang akan membuatnya menjadi lebih baik. Untuk mereka berdua.

"Kyungsoo, sayang." Jongin menunggu agar suara yang seraknya untuk menembus pikiran Kyungsoo yang berkabut nafsu. Sesaat kemudian bulu matanya bergetar dan iris perak Kyungsoo menatap ke arah Jongin. "Angkat dirimu menyangga dengan sikumu. Aku ingin kau melihat apa yang ku lakukan pada vaginamu yang manis ini."

Perlahan Kyungsoo melakukan apa yang Jongin minta hingga Kyungsoo menyangga tubuhnya. Dengan kaki melengkung dan terbuka lebar dengan pantat di atas bantal besar Kyungsoo memiliki sudut pandang yang sempurna. Kyungsoo telah dekat dengan tepian sebelum Jongin menghentikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membawa Kyungsoo tepat disana dan menahannya tetap disana sampai Kyungsoo memohon pada Jongin untuk membawa Kyungsoo ke sisi yang lain. Senyum nakal menjulang di sudut bibir Jongin saat Jongin sekali lagi tenggelam diantara dua kaki Kyungsoo.

Kali ini Jongin memastikan untuk menjaga kepalanya miring ke samping sehingga dia tidak menghalangi pandangan Kyungsoo Dengan ujung lidahnya, Jongin menggoda bibir luar Kyungsoo dengan beberapa belaian sebelum akhirnya membenamkan diri untuk menemukan inti yang bengkak yang telah Jongin sapu dalam nafas yang tajam pada sentuhan pertama.

Menambahkan sensasinya Jongin memasukkan jari telunjuk ke dalam vagina Kyungsoo dan memompanya masuk dan keluar bersamaan saat lidahnya bergantian berputar-putar dan menjentik di atas klitoris Kyungsoo. Mata Kyungsoo seperti cairan perak di atas api. Nafas Kyungsoo menjadi terengah melalui bibirnya yang terpisah.

"Oh, Tuhan... Jongin." Kyungsoo mulai menggoyangkan kepalanya. "Aku tidak bisa Kau harus "

Hampir disana. Sangat dekat. Jongin menambahkan jari yang lain dan mengerutkan bibir di atas clit-nya, memberikan denyut dalam hisapannya.

"Ah!" Pinggul Kyungsoo bergerak, menggesekkan vaginanya terhadap wajah Jongin, dan Jongin tahu Kyungsoo berada pada titik dimana dirinya tidak bisa mengendalikannya walaupun Kyungsoo menginginkannya. Kyungsoo berada di tepi dari klimaks, tepat dimana Jongin menginginkannya.

"Klimaks lah untukku, Kyungsoo," perintah Jongin. "Biarkan aku meminum madumu."

Jongin meningkatkan kecepatan tangannya dengan mendorong jari-jarinya, menikmati cairan yang melapisi jarinya. Mengunci bibirnya di atas sekumpulan saraf Jongin memulai lagi dengan lidahnya. Beberapa detik kemudian, pada saat yang tepat, Jongin perlahan menutup giginya di atasnya, akhirnya menarik Kyungsoo masuk ke dalam jurang dimana tubuh Kyungsoo hancur dan wanita itu meneriakkan nama Jongin ke surga.

Dinding dari selubungnya mencengkeram jari Jongin saat Kyungsoo turun dari klimaksnya, bersamaan menurunkan dirinya untuk berbaring di atas bantal. Sayangnya Jongin sama sekali belum selesai dengan Kyungsoo. Kejantanan Jongin keras seperti palu dan Jongin telah berniat menemukan pembebasannya di dalam tubuh Kyungsoo. Dengan cepat menggapai ke sisi atas tubuhnya dan mengambil kondom yang sudah disiapkan dan menyelubungi miliknya sebelum Kyungsoo bahkan tahu Jongin telah bergerak.

"Kyungsoo?"

Kyungsoo tetap menutup matanya dan ekspresi puas terlihat di wajahnya. Jongun tersenyum ketika berpikir bagaimana singkatnya kepuasan Kyungsoo saat Jongin membuatnya terangsang lagi.

"Hmm?"

"Aku hanya ingin tahu apa itu memberikan suatu efek untukmu."

Matanya tiba-tiba terbuka. "Tidak juga, tidak. Apalagi yang kau punya, jagoan?"

Jongin menyempitkan matanya kearah Kyungsoo ketika dirinya mengaitkan lengan bawah di salah satu lutut Kyungsoo dan diangkat untuk membuka Kyungsoo lebar-lebar pada Jongin. "Kau sadar bahwa kau dalam posisi yang sangat berbahaya, kan? Tidak hanya kau menghina kemampuan seksualku, kau juga menantang seorang atlet yang sangat kompetitif."

Kyungsoo memberikan senyuman paling mempesonanya dan berkata, "Kalau begitu akan lebih baik jika kau membuktikan dirimu."

"Oh, baiklah aku akan buktikan. Anggap saja kau sudah diperingatkan, sayang. Kau yang memintanya."

Tetap mengangkat satu kaki Kyungsoo ke atas dan ke samping tubuhnya, Jongin mengarahkan kejantanannya yang berdenyut kearah vagina ketat Kyungsoo yang basah dan menenggelamkan miliknya sedalam mungkin dalam satu kali dorongan dari pinggulnya. Sebuah geraman bercampur erangan mengoyak udara.

"Astaga, kau begitu besar."

Jongin tidak menyombong diri ketika berurusan dengan kejantanannya, tapi ini bukan pertama kalinya dia mendengarkan seorang wanita mengatakan itu. Bagaimanapun, keluar dari mulut Kyungsoo tiba-tiba merasa dirinya seperti He-Man, tanpa pakaian berbulu. Jongin juga merasa besar seperti yang Kyungsoo nyatakan. Jongin tak pernah berada di dalam seorang wanita yang begitu ketat, sangat sempurna untuknya. Tak dapat menahannya lebih lama lagi Jongin menarik diri hampir keluar sepenuhnya, mendorong semuanya masuk ke dalam, dan kemudian mengatur irama lambat dan stabil untuk membawa mereka ke puncak secara bertahap.

Kyungsoo dengan terampil menggoyangkan pinggulnya untuk menyeimbangi setiap dorongan Jongin, menambahkan gelombang sensasi yang berasal dari kemaluan Jongin yang berputar-putar di bolanya dan menetap di dasar tulang punggungnya.

"Sialan kau terasa nikmat." Melihat ke bawah dimana tubuh mereka bergabung Jongin memperoleh pemandangan yang paling panas yang pernah dilihatnya. Bibir Kyungsoo licin mengisap di kemaluan Jongin setiap Jongin menarik dan melapisinya dengan cairan manis miliknya setiap kali Jongin bergoyang ke depan.

Jongin tidak menyadari bahwa Kyungsoo juga menatap pada pemandangan yang sama sampai Jongin mendengar Kyungsoo berkata, "Itu sangat panas."

"Hell yeah, itu sangat panas." Bahkan jadi lebih sekarang saat Jongin tahu bahwa Kyungsoo senang melihat Jongin bergerak di dalam dirinya. Perlu mengambil dari Kyungsoo sebanyak yang Jongin bisa, Jongin melepaskan kaki Kyungsoo untuk memposisikan dirinya di atas tubuh Kyungsoo dengan lengannya. Jongin menambah kecepatan saat Jongin menangkap mulut Kyungsoo dengannya, bercinta dengan mulut Kyungsoo menggunakan lidahnya bersamaan dengan gerakan tubuh bagian bawahnya.

Keringat tubuh mereka basah meluncur satu sama lain, suara daging bertemu daging di beberapa tempat dan nafas berat dengan disertai erangan memenuhi udara. Kyungsoo merengut mulutnya dari Jongin, Kyungsoo mengangkat dagunya dan meyakinkan Jongin untuk pindah ke lehernya untuk melanjutkan tujuan Jongin melahap Kyungsoo seluruhnya.

"Aku sangat dekat. Aku tak percaya aku akan uhn lagi."

Jongin tersenyum terhadap tenggorokan Kyungsoo ketika Kyungsoo mendengus menggantikan kata "orgasme" ketika Jongin menambahkan puntiran dari pinggulnya dalam dorongannya. Mengambil isyarat darinya, Jongin melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai Kyungsoo memanggil nama Jongin berulang-ulang antara memohon untuk berhenti dan jangan pernah berhenti.

Menyelinapkan satu tangan diantara tubuh mereka Jongin dengan mudah menemukan clit bengkak Kyungsoo dengan jempolnya menyeretnya dari atas dengan satu dorongan keras terakhir. Jongin tidak biasanya mengeluarkan suara selama berhubungan seks, tapi dia tidak dapat menahan erangannya seakan hidupnya terancam ketika mereka klimaks bersama, vagina Kyungsoo kejang-kejang di sekitar kejantanan Jongin saat Jongin menghabiskan dirinya dalam semburan yang kuat.

Ketika mereka kembali satu sama lain selama beberapa menit berikutnya diantara nafas berat dan otot-ototnya yang lemas, Jongin menyadari bahwa seks dengan Kyungsoo mengalahkan semua pengalamannya yang pernah dialaminya. Tak terkecuali saat Jongin mendapatkan seks yang liar, seks yang panjang, seks yang menyimpang dari apa yang baru saja mereka lakukan. Ada perbedaan besar. Jauh sekali perbedaan. Jongin tak dapat menunjukkan alasannya mengapa, Jongin terlalu lelah untuk coba memikirkannya.

Dengan hati-hati, Jongin menarik keluar darinya, dan membungkus kondom dengan tisu dan menempatkan ke samping untuk membuangnya di pagi hari. Kemudian Jongin duduk di tempat tidur di atas bantal, menarik selimut ke atas mereka, dan membungkus Kyingsoo kedalam pelukannya. Kepala Kyungsoo secara alami turun ke dalam lekukan diantara dada dan bahunya dan tangannya melingkar di sekitar perut Jongin. Dalam hitungan detik Jongin mendengar suara dengkuran lembut dan merasakan tubuh Kyungsoo kehilangan semua ketegangan saat Kyungsoo tertidur. Dan dengan senyum di wajah Jongin oleh kebahagiaan dirinya tak sepenuhnya mengerti, Jongin tidak tertinggal jauh di belakangnya.

.

.

.

.

.

.

T.B.C