Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.
Warning : AU and maybe OOC
Genre : Romace and Humor (?) never mean it to be a comedy anyway…
Chara : KibaIno
Chapter 11! XD
Saya balesin ripiu dulu, boleh? Boleh lah ya… ^^
#ZephyrAmfoter: silakan. ditunggu review selanjutnya.
#el Cierto : sip! Silakan lirik-lirik ke bawah. Hehe.
#Ena-Chan' Fourthok'og : nah, silakan cek jawaban kamu dengan chapter kali ini. :D
#sabaku latifah : Gakpapa, gakpapa. Makasih yang dah mau baca fic ini ya. Hehe.
#Cendy Hoseki : thank you udah baca dan review. dan yap, emang mereka mah gokil-gokilan sih, jd kalau nggak gitu romantis salahkan mereka yah? *ngeles* :P
#harumi arishima : wah, makasih ya! Nih, jawabannya ada di chapter ini :)
#Hyuuga no Hibari : makasih udah baca dan review ^0^ terharu waktu kamu bilang kamu suka fic ini dan FL. Makasih banyak yaaa! *melonjak-lonjak kegirangan* Soal Deidei, dia memang ada pasangannya kok. Klu-nya ada di chapter 6 lho. Hohoho. Tapi bukan ama Hana.
#Akira Tsukiyomi Sang Reviewer Terbalik : gomen, chapter ini pun belum ada unsur game-nya. Next chapter baru kembali ke rutinitas. Hahaha.
#Moe chan : oooo.. biar sasuke cemburu yak? *evil smirk* ditampung dulu yah idenya. Fufufufu!
#shana-chan : hapus keraguan shana-chan sambil baca chapter kali ini. Hahahaha. XD
#Minami22 : ehehe, maaf nggak bis akilat-kilat amat. Btw, senang mendengar kalau kamu suka fic ini, arigatou.
#vaneela : yosh, selamat membaca chapter kali ini. ^^
# Nicha Youichi : hehe. Makasih, makasih.
# Ino FaNs : iya nih, maafin yah. Soalnya tugas lagi banyak banget. Ngejar deadline pula. Uhuhu. Nah, silakan baca chapter ini buat ngejawab semua pertanyaan kamu XD
#Uzumaki Cool : udah cukup panjang kah? *memasang mata penuh tanya*
# Master-OZ : wokeh! Silakan update-an-nya.
#Kiryu-chan : makasih udah review. Selamat membaca! :D
Heuh, sebenarnya chapter ni dah lama beres sih, cuma karena ffn error, jd aja gak bisa dipublish. ini jg bisa publish setelah dapet trick dari beberapa temen. I give credits to both of them who have told me how to update my fic : licob green and V3Yagami.
Nah, selesai dah curcol-an-nya. Sekarang, seperti biasanya, I hope u'll enjoy the story! :3
Note : all story will be taken from Ino's POV
GAME MASTER
.
.
"Naruto-kun?" ujarku saat melihat sosok cowok berkulit tan dengan rambut kuning terang. Yang kupanggil hanya menyeringai hingga aku pun menambahkan, "Kenapa kau ada di sini?"
Sesaat, seringainya tampak hilang dan ia pun menoleh ke arah Kiba.
"Oi, oi! Kau bilang apa waktu mengajaknya ke sini?"
Sekarang giliran Kiba yang menyeringai. Menggantikan cowok berambut coklat itu, aku-lah yang menjawab pertanyaan Naruto tersebut.
"Dia nggak bilang apa-apa dan seenaknya mengajakku ke sini!" cibirku. "Jadi, apa sekarang aku boleh tahu alasan kenapa aku diajak paksa ke sini?" tanyaku sambil mengalihkan pandangan dari Naruto ke arah Kiba.
"Ah! Kupikir kau tertarik dengan teman cewek yang ingin kuberikan hadiah?" jawab Kiba enteng.
Aku pun mengernyitkan alis. Mendadak, pikiran irasional yang paling gila melesat di benakku. Aku tahu, sebenarnya ini nggak perlu kutanyakan karena pertanyaan ini malah akan membuat diriku terlihat bodoh. Tapi entahlah. Lagi-lagi mulutku sudah bertindak seenaknya.
"Maksudmu… Teman cewekmu itu si Naruto ini?" jawabku sambil meneliti Naruto dari atas sampai ke bawah. "Aku kira dia cowok?"
Kedua cowok itu saling berpandangan sebelum mendadak Naruto berteriak dengan lantang.
"AKU MEMANG COWOK!"
"Oh, iya, Ino! Kau belum tahu yah? Dia ini sebenarnya cewek lho! Nama aslinya itu Naruko!" bantah Kiba sambil menyeringai geli. Dengan gaya yang biasa ia lakukan untuk mengacak-acak rambutku, ia pun langsung mengacak-acak rambut Naruto yang memang dari asalnya sudah cukup acak-acakan.
"OI!" teriak Naruto lagi sambil mendepak tangan Kiba dari kepalanya. "Jangan sembarangan ngomong kau, Baka Inu! Aku ini 100% cowok tahu!"
Kiba tertawa puas dan lepas sementara aku masih menyipitkan mataku. Naruto memang nggak keliatan kayak cewek sih. Dan rasanya nggak mungkin kalau dia aslinya adalah cewek seperti yang dikatakan Kiba. Si dog-boy itu sudah dapat dipastikan cuma bercanda. Tapi kalau begitu… Di mana teman cewek yang ia maksudkan sebenarnya?
"Ngomong-ngomong," ujar Kiba setelah ia menghentikan tawanya, "kau cuma sendiri?"
"Nggak! Bareng dia kok! Tapi dia lagi di toilet sekarang" jawab Naruto sambil menengokkan kepalanya ke satu arah. Ia kemudian tampak menyipitkan matanya dan meletakkan sebelah tangannya di atas mata. "Ah! Itu dia!"
Sambil menggerakkan kedua tangannya dengan norak, kutegaskan sekali lagi, dengan norak, cowok ribut itu kemudian berteriak. "Hina-chan! Sini, sini!"
Aku nggak bisa menahan diriku untuk nggak menunduk. Kenapa? Ya karena teriakan si cowok kuning norak itu membuat beberapa pasang mata melirik ke arah kami sambil berbisik-bisik! Kami-sama, apakah nggak ada seorangpun yang pernah mengajarkannya kalau berteriak-teriak seperti itu hanya akan membuat orang menilainya sebagai cowok norak yang suka mencari perhatian?
Tch!
Tapi kayaknya dia nggak peduli deh! Atau bahkan dia nggak sadar kalau tatapan mata orang-orang itu sudah terarah padanya? Benar-benar cowok yang tebal muka! Terus ya…
Ng…
Eh…
Tunggu!
Apa katanya tadi?
'Hina-chan'?
Aku langsung mengangkat wajahku kembali dan kemudian mendapati seorang gadis berambut indigo panjang yang diurai. Pipinya tampak memerah dan tinggi badannya nggak lebih tinggi dariku. Gadis itu berjalan dengan langkah kecil-kecil yang terlihat anggun. Sebuah senyum terlintas di wajahnya yang oval sempurna.
"K-konbanwa!" sapa gadis itu dengan suaranya yang terbilang merdu, meskipun sedikit tergagap. "H-hisashiburi ne, Kiba-kun!"
"Yo, Hina-chan!" balas Kiba sambil tersenyum pada sosok cewek bermata pearl itu. Ia pun mengangkat sebelah tangannya sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk memegang tali tas punggung yang hanya ia letakkan di sebelah bahunya.
Sementara mereka berdua bertukar sapa, kepalaku kini mulai mengolah informasi yang baru saja kuterima.
Hina-chan?
Hina-chan itu…
Hyuuga Hinata kan?
Dengan kata lain… Mantannya Kiba?
Tanpa sadar, mataku sudah mulai menyelidik ke sosok cewek yang mengenakan sebuah kaos berwarna biru terang dan dilapisi bolero long-sleeves setengah badan berwarna hitam. Bawahannya, ia mengenakan rok sepanjang lutut yang berimpel-rimpel berwarna hitam. Ia pun mengenakan sepasang sepatu flat berwarna hitam. Penampilan yang sederhana tapi menunjukkan keanggunannya sebagai seorang cewek.
Dan yang lebih penting, dandanan yang ala kadarnya itu benar-benar membuatnya terlihat… Manis!
Ya, ya! Dia memang benar-benar cewek manis seperti yang dikatakan Kiba!
"A-ano!" ujar si cewek manis itu yang langsung membuyarkan segala lamunanku. "I-Ino-chan kan?"
"Oh? Iya!" ujarku tersentak. "Yamanaka Ino!" sambungku sambil mengulurkan tangan.
"Hyuuga Hinata," jawabnya sambil tersenyum manis dan kemudian menyambut uluran tanganku. "K-Kiba-kun sudah menceritakan tentang Ino-chan padaku!"
"Hee?" ujarku sambil melirik Kiba sinis. Karena cowok yang kulirik itu hanya bisa menyeringai, aku pun kembali memandang Hinata dan kemudian tersenyum basa-basi pada cewek itu. "Kiba-kun sih tidak pernah menceritakan apapun soalmu padaku!"
"Masa?" tanya Kiba dengan tampang yang entah berpura-pura terkejut atau benar-benar terkejut.
"Kalau pernah, sebutkan hari, tanggal, jam beserta tempat-nya!" jawabku dengan nada menantang. "Mungkin aku memang lupa!"
"Yah…" ujarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Mungkin aku memang belum pernah cerita. Tapi dipikir-pikir buat apa aku cerita soal Hinata padamu?"
Aku mengernyitkan dahi sebagai tanda kalau aku nggak senang dengan kata-katanya barusan.
"Oh ya? Kalau begitu, untuk apa kau menceritakan soal aku pada Hinata?"
"Karena Hinata temanku! Wajar dong kalau aku suka cerita-cerita padanya?"
Aku merengut. Ok. Jadi kedudukanku bahkan lebih rendah dari teman hingga ia nggak mau bercerita apa-apa padaku.
"Lagipula, aku nggak bilang macam-macam kok. Cuma sekedar informasi bahwa ada seorang cewek yang mendadak meminta bantuanku untuk bisa merebut hati kekasihnya lagi!" tambah Kiba lagi.
Memang sih, aku hanya kenalannya. Jadi dia… Eh? Apa dia bilang tadi?
"Hah? Apa? Ulangi sekali lagi? Aku nggak denger dengan jelas!"
Kiba menyeringai dengan sinis.
"Memangnya siapa yang meminta bantuanmu, hah? Dari awal kau yang menawarkan bantuan padaku! Bukan aku yang meminta bantuanmu! Catat itu!" ujarku sambil menunjuk-nunjuk dadanya dengan kasar.
Heran, kenapa aku jadi se-emosi ini sih? Padahal baru tadi aku merasa senang bersamanya. Tapi sekarang, mood-ku kembali memburuk! Dan… Uh! Apa nggak bisa aku melalui hari bersamanya tanpa bertengkar?
"Hihi."
Suara cekikikan kecil membuatku menolehkan kepala.
Hinata, si cewek manis itu, tampak tertawa geli mendengar adu debat singkat di antara aku dan Kiba. Nggak lucu tahu! Huh!
"Kalian akrab sekali ya?" ujarnya dengan sebelah tangan yang ia letakkan di depan mulutnya.
"Akrab? Sebentar! Akrab dari mananya?" semburku cepat.
Tapi Hinata nggak menjawab apa-apa lagi dan hanya memamerkan senyum manisnya pada kami berdua. Entah kenapa, mendadak aku merasa sedikit sesak saat melihat senyumannya. Apa senyuman itu yang sudah menjerat hati Kiba? Bagaimana ya perasaan Kiba saat melihat senyuman itu di depan matanya?
Tanpa memberiku kesempatan untuk lama-lama merenung, mendadak Hinata pun mengajak kami semua duduk di sebuah meja bundar yang berada di tengah. Sayang, padahal sedikitnya aku berharap kami akan menikmati makan malam di meja yang berada di dekat kaca besar dengan pemandangan yang menghadap ke danau. Tapi yang lebih penting daripada itu…. Sejak kapan si Naruto itu duduk di sana? Bahkan dengan tenangnya ia sudah menyebutkan sesuatu, yang kuduga pesanan, pada seorang waiter berseragam hitam putih!
Kiba yang tampak nggak mau kalah, langsung mempercepat langkahnya, meninggalkanku yang masih sedikit canggung dengan situasi ini. Bagaimanapun, aku ini kan cuma orang luar di antara mereka. Ah! Sudah kuduga! Seharusnya aku langsung minta diantar pulang saja tadi! Sekarang sih udah bener-bener terlambat!
Akhirnya, sebuah meja pun terisi penuh oleh kami berempat. Karena bentuk mejanya bundar, maka posisi duduk kami pun jadi mengelilingi meja tersebut. Begini urutannya. Hinata duduk di sebelah kanan Naruto dan di sebelah kiri Kiba. Nah, dari gambaran itu, tentunya sudah dapat ditebak posisi dudukku di mana kan?
Sekarang waktunya memilih menu makanan. Naruto sih sudah selesai dengan pesanannya dan kini ia tampak menunjuk-nunjuk buku menu yang sedang dipegang Hinata. Dari balik buku menuku, aku melihat tingkah polah kedua manusia yang jelas-jelas berbeda 180 derajat itu! Yeah, Naruto yang bawel dan Hinata yang kalem. Terlihat kontras bukan? Tapi aku rasa… Ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya!
Dan ya! Aku cukup yakin dengan dugaanku. Jangan tanya aku tahu dari mana. Sebut saja ini sebagai firasat gadis cantik! Dan gadis cantik ini menduga bahwa Hyuuga Hinata- mantan pacar Kiba- dan Naruto –sahabat Kiba- tengah menjalin hubungan spesial yang biasa disebut 'pacaran'!
Aku menggerakkan bola mataku, melirik ke pemuda yang berada di sebelah kiriku. Ia tampak cuek dan malah setengah bersenandung. Dengan santainya, ia membolak-balik buku menunya sebelum ia menyatakan pesanannya pada si waiter. Setelah selesai membacakan pesanannya, tiba-tiba saja ia… Melihat ke arahku!
Whoa! Aku buru-buru memindahkan pandanganku ke arah buku menu yang kuangkat cukup tinggi hingga sejajar dengan mataku. Aku berusaha konsentrasi untuk segera menentukan pilihanku. Tapi kok… Rasanya sulit ya?
Akhirnya, aku menurunkan buku menuku.
"Kau mau pesen apa?" tanya Kiba yang membuatku melirik lagi ke arahnya. Kali ini secara terang-terangan.
"Aku pesen minum aja!" jawabku akhirnya.
Kulihat, Kiba mengernyitkan alisnya. Kuduga sih, dia heran mendengar pesananku. Tapi memang aku nggak terbiasa makan malam kok. Jadi aku mengutarakan pesananku pada sang waiter tanpa menanggapi kebingungan Kiba. Setelah waiter pergi untuk mengurus pesanan kami berempat, Kiba akhirnya kembali berkata padaku.
"Apa sih? Kau diet segala ya?"
"Kenapa memang?" tanyaku sambil melipat kedua tanganku dan meletakkannya di atas meja. Tubuhku sedikit membungkuk sehingga agak menempel pada meja. Kemudian aku mengangkat sebelah tangan untuk menyangga wajahku yang tengah mengarah ke Kiba.
"I-Ino-chan nggak keliatan gemuk kok. Kenapa harus diet?"
Pertanyaan itu membuatku melirik ke asal suara. Lalu sambil mengangkat kepalaku dari tangan, aku menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku ini mudah gemuk. Jadi kalau makanku nggak kujaga, tubuhku bisa langsung melar."
"O-oh? Begitu ya?"
"Begitulah," jawabku masih dengan senyuman andalanku.
Setelah aku menjawab seperti itu, topik pun langsung beralih. Saat itulah, mendadak Kiba mengangkat tas hitam-nya ke atas pangkuannya dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti kantung hadiah berwarna dasar biru aqua dengan motif balon-balon biru dan kuning.
"Nih, Hina-chan!" ujarnya sambil menyodorkan kantung hadiah itu pada Hinata yang langsung menerimanya. Meskipun demikian, gadis itu tampak bingung sehingga ia mengerjab-ngerjabkan matanya dengan heran. "Sesuai janjiku! Kalau kau berhasil di resital kemarin, aku akan memberimu hadiah. Ingat?"
"A-ah? K-Ku-kukira kau cuma bercanda, Kiba-kun! Dan ini.. Oh? A-alat make-up?" ujar Hinata sambil menarik blush-on dari kantung hadiah itu. Setelahnya, ia mengeluarkan alat-alat make-up yang lain sebelum memasukkannya kembali. Gadis itu pun akhirnya melihat ke arah Kiba, tersenyum, dan kemudian berkata, "Hontou ni, arigatou gozaimasu, Kiba-kun!"
"Dou itashimashite!" jawab Kiba sambil memamerkan gigi-giginya. "Kau suka?"
"Ya!" jawab Hinata lagi dengan pipi yang kemerah-merahan. "S-sebenarnya, sudah sejak lama aku ingin mencoba membeli alat make-up, ta-tapi selalu ragu-ragu. Dan aku nggak tau merek apa yang bagus. Ng-nggak kusangka kau membelikan ini sebagai hadiah untukku. Terima kasih sekali lagi, Kiba-kun!"
Kiba-pun hanya tersenyum dan mengangguk sebagai respon dari ucapan terima kasih Hinata.
Lho? Tunggu, tunggu! Kenapa auranya jadi seperti ini? Tadi aku bilang kalau Naruto dan Hinata itu terlihat seperti sepasang kekasih kan? Kenapa sekarang situasinya jadi berubah seolah-olah Kiba dan Hinata-lah yang sepasang kekasih?
"Ne, Ne, Hina-chan! Gimana kalau kau coba make-up itu sekarang? Sambil menunggu makanan datang!" usul Naruto dengan riangnya.
"E-eh? T-tapi.. Aku.. Aku nggak terbiasa memakai make-up," jawab Hinata sambil menunduk dan memegang sisi kiri kanan kantung dengan masing-masing tangannya. "M-maksudku… Aku…"
"Tenang saja," ujar Kiba sambil menepuk bahuku, "ada Master-nya di sini!"
Dan… Apa maksudnya itu?
o-o-o-o-o
Di depan terdapat wastafel dengan cermin yang memanjang ke samping. Di belakang terdapat banyak ruangan kecil dengan pintu dari kayu. Di pojokan terdapat tissue gulung yang menempel pada tembok. Agak miring dari posisi tissue gulung, terdapat pot dengan tanaman imitasi.
Toilet wanita.
.
.
Ha~h! Apa sih yang sedang kulakukan?
Lihat?
Di depanku kini tengah duduk seorang gadis dengan poni yang dijepit ke atas menggunakan jepit ungu milikku. Aku berdiri di depannya sambil menyapukan bedak ke wajah oval-nya. Dan karena wajahnya memang sudah putih, sapuan bedak yang tipis saja sudah cukup untuknya.
Setelah kulihat bahwa bedak yang kusapukan ke wajahnya sudah merata, aku pun mengambil blush-on. Untung warna yang kupilih semuanya nggak terlalu mencolok dan cocok dengan warna kulit gadis ini.
Selanjutnya aku akan memakaikannya eye-liner. Aku menyuruhnya untuk memejamkan mata dan ia pun langsung menurut. Saat itulah, aku nggak bisa lagi menahan diriku untuk nggak bertanya.
"Kau mantannya Kiba kan?"
Kurasa aku melihat pundaknya sedikit terangkat saat mendengar suaraku. Tapi selanjutnya, pundak itu kembali turun dan terlihat santai seperti sebelumnya.
"K-kiba-kun cerita padamu ya?"
"Hana-nee yang memberitahuku pertama kali! Selanjutnya aku dengar dari Naruto!"
"Kau juga kenal dengan Hana-nee?"
Aku menggangguk. Ah, bodohnya aku! Dia kan lagi memejamkan mata. Gimana caranya ia bisa melihatku? Akhirnya kubiarkan suaraku yang menjawabnya. "Ya. Aku pernah bertemu dengannya. Satu kali. "
"O-oh. Hana-nee baik kan?"
"Hemh," jawabku sambil meniup-niup bagian matanya agar eye-liner cair itu cepat kering. "Sudah, kau boleh membuka matamu."
Ia pun membuka matanya dan mengerjab-ngerjabkannya sesaat. Aku pun mengambil lipstik dan mengangkat dagunya. Sekali lagi, aku bertanya.
"Kalau sekarang? Kau dan Naruto pacaran ya?"
Mendadak saja wajah gadis itu memerah. Bukan, itu bukan akibat blush-on yang kupakaikan lho. Itu warna alami wajahnya.
Ngomong-ngomong, karena aku sedang memakaikan lipstik ke bibirnya, Hinata-pun nggak langsung menjawab. Setelah lipstik selesai kupakaikan, baru ia menganggukan kepalanya dengan perlahan sebagai respon atas pertanyaanku sebelumnya. Aku nggak mengatakan apapun. Hanya ikut mengangguk tanda aku mengerti. Tapi biarpun aku bersikap seolah aku mengerti, pada kenyataannya, masih ada yang ingin kutanyakan padanya. Hanya saja, aku memutuskan untuk menunda pertanyaan tersebut saat kusadari bahwa aku telah selesai mendadani Hinata.
"Selesai!" ujarku sambil mengambil jepitku dari poninya dan kemudian merapikan poninya tersebut dengan ujung jariku. Untuk beberapa saat, aku terdiam dan mengamati hasil kerjaku. Setelah merasa cukup puas, aku pun menyuruh Hinata untuk berbalik, menghadap ke arah cermin. Ia tampak terperangah sejenak. Saat aku membereskan alat make-up-nya, bisa kulihat ia menyentuh wajahnya sendiri.
"Gimana menurutmu? Apa kau puas?"
"E-eh? I-ini… Luar biasa sekali, Ino-chan! A-aku.. Eh…"
"Kau terlihat semakin cantik," pujiku tulus. Hinata-pun kembali menampilkan rona merah alami di pipinya.
"Te-terima kasih!"
Mau nggak mau, aku pun tersenyum sembari menggumamkan, "Sama-sama."
Setelahnya, kami bersiap untuk keluar dari toilet wanita tersebut. Tapi, sebelum Hinata benar-benar keluar, aku berhasil menghentikannya dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah mengganjalku sejak tadi.
"Eh, Hinata," panggilku, "sebenarnya… Kenapa kau putus dengan Kiba?"
Hinata berbalik dan menatapku yang tadi berdiri di belakangnya.
"Eh?"
"Ah! Aku cuma pengen tahu aja! Nggak ada maksud apa-apa kok! Haha!"
Hinata tersenyum tipis. "S-Sebenarnya, waktu kami jadian, Kiba-kun nggak memiliki rasa apapun padaku kok! Dia hanya membantuku! D-dan, begitu dia pikir kami sudah nggak perlu berpura-pura lagi, kami pun putus secara baik-baik."
"Hah?" adalah reaksi spontanku saat aku mendengar jawaban yang meluncur dari mulutnya.
"K-Kiba-kun benar-benar nggak pernah menceritakan apa-apa padamu?" tanya Hinata dengan nada nggak percaya.
"Dia kan nggak menganggapku sebagai temannya. Makanya dia nggak pernah menceritakan apa-apa padaku!" jawabku sambil menyunggingkan senyuman sinis.
Hinata memandangku dalam diam sebelum mendadak ia balik melontarkan pertanyaan yang membuatku terkejut.
"Ino-chan… Suka sama Kiba-kun ya?"
DEG!
"H-hah? Mana mungkin! Orang seperti itu!" bantahku sekuat tenaga.
"Ng…"
"Sudahlah! Ayo kita kembali! Pesananmu nanti keburu dingin!"
Hinata pun nggak berkata apa-apa lagi dan kemudian mengikuti jalanku yang kini malah mendahuluinya. Dari jauh, Naruto sudah kembali berteriak-teriak untuk memberitahukan pada kami bahwa pesanannya sudah datang. Ck! Dia nggak perlu berteriak seperti itu kan? Seseorang, tolong ajarkan monyet kuning yang satu itu untuk bersikap lebih tenang sebelum kusumpalkan benda apapun ke mulutnya agar dia bisa diam!
Oh, ternyata permintaanku langsung dikabulkan. Mendadak saja si Naruto itu langsung terdiam dengan mulut yang menganga kayak ikan mas koki. Tapi… Kenapa Kiba juga jadi terdiam dengan tampang yang heran begitu sih?
"A-ano…"
Ah! Aku tahu alasannya sekarang!
Mereka pasti terkejut melihat wajah Hinata yang sudah kudandani! Apa boleh buat! Cewek satu ini memang jadi terlihat semakin cantik sih setelah didandani!
"Hi-Hina-chan cantik sekali!" ujar Naruto sambil berdiri dari kursinya. Aku nggak mengerti apa tujuannya berdiri di saat aku malah memilih untuk duduk.
Selanjutnya, aku sudah nggak begitu memperhatikan percakapan kedua orang yang merupakan sepasang kekasih itu. Mataku sibuk mengamati Kiba dan pikiranku sibuk menganalisa ekspresinya.
"Apa yang dia pikirkan ya? Apa dia menyesal sudah melepas Hinata? Tapi Hinata bilang, mereka jadian tanpa ada rasa apapun? Maksudnya apa ya?" Begitulah isi benakku yang sudah dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Tapi pikiran itu pun terhenti saat tiba-tiba Kiba menghadap ke arahku.
"Kau memang jago untuk urusan make-up ya?"
Aku terdiam beberapa saat sebelum aku berkata dalam nada yang datar, "Biasa aja! Pada dasarnya, Hinata memang sudah cantik, jadi make-up hanya membantu sedikit!"
Kiba mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aku kini memilih untuk nggak memandangnya dan menatap meja yang sudah dipenuhi berbagai macam makanan. Sekali lagi, pikiranku mulai berisik.
"Apa seperti itu ekspresi orang yang nggak pernah punya perasaan apapun pada mantan pacarnya? Kenapa aku malah merasa kalau Kiba… Justru masih menyimpan perasaan pada Hinata?"
Untuk beberapa saat, aku seolah sudah nggak sadar dengan keadaan sekelilingku. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Sesekali aku menyesap minuman pesananku. Tapi bagaimana rasa minuman itu, aku sama sekali nggak tahu. Saat itu, aku benar-benar seperti terisolasi dari dunia luar. Kesadaranku muncul hanya pada saat Kiba menunjukkan ekspresi tertentu. Ekspresi yang diperlihatkannya saat ia tengah berbincang dengan Hinata.
Sebuah senyum… Yang sangat berbeda dari biasanya.
Bagaimana menggambarkannya ya?
Seperti… Senyum lembut yang dipenuhi rasa sayang?
Sejujurnya, aku nggak suka melihatnya seperti itu. Sama sekali. Tapi… Apa hak-ku melarangnya? Dia… Siapaku? Hanya seorang 'guru' yang bersedia membantuku saat aku tengah bermasalah dengan mantan pacarku. Walaupun sebenarnya, masalah dengan mantan pacarku –si Sasuke itu- sama sekali sudah bukan masalah bagiku. Kecuali kalau kini aku juga mempertaruhkan gelar Game Master milik Kiba.
Tetap saja...
Aku…
Aku nggak suka situasi ini!
Katakan aku cemburu! Aku memang cemburu! Walaupun Hinata sudah memiliki Naruto, tapi… Kalau Kiba masih punya perasaan sayang pada Hinata… Aku…
"Eh! Aku pulang duluan ya?" ujarku sambil berdiri dari kursiku dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Bisa kulihat ekspresi ketiganya yang tampak terkejut sehingga aku memutuskan untuk berkata, "Aku lupa, ada janji dengan Aniki-ku! Bisa-bisa dia marah kalau aku terlambat!"
"Apa nggak bisa tunggu sebentar lagi? Aku belum selesai makan nih!" ujar Kiba.
"Kau makan aja dengan tenang! Aku bisa naik taksi kok!" ujarku sambil mengeluarkan dompet dari tasku. "Titip uang minumannya ya?"
Aku pun meletakkan sejumlah uang di atas meja.
"Ok! Aku pulang dulu ya! Sampai jumpa lagi semua!"
"Hei, Ino!" panggil Kiba.
Tapi aku nggak mengacuhkan panggilannya. Aku memilih untuk berlari dan menunjukkan seolah aku memang terburu-buru.
Aku cuma ingin menjauh secepatnya dari tempat ini. Karena aku nggak tahan… Kalau harus melihat kedekatan di antara keduanya lebih lama lagi! Maaf-maaf saja!
Aku…
"Ino!" panggil seseorang dari arah belakangku. Nggak perlu menoleh pun, aku tahu siapa yang baru saja memanggilku.
Aku menghirup napas, menghembuskannya, sebelum aku berbalik dan menatap langsung ke arahnya sambil berkata "Ada apa?"
"Ayo kuantar!" tawarnya sambil menunjuk ke arah belakang, tempat motornya diparkirkan, dengan menggunakan ibu jarinya.
"Nggak usah deh! Kau kembali aja ke teman-temanmu sana! Kau kira aku anak kecil yang nggak bisa pulang sendiri ya?"
"Bukan gitu juga sih! Kupikir karena aku yang membawamu ke sini, maka aku juga yang bertanggungjawab untuk mengantarmu pulang!" ujarnya sambil mengernyitkan dahi.
"Makasih! Tapi aku bisa pulang sendiri!" jawabku mulai ketus. Aku nggak butuh pertanggungjawaban semacam itu! Lagipula, aku rasa aku memang harus sendiri dulu untuk merenungkan banyak hal.
"Ck! Sepertinya sikap keras kepalamu kembali muncul ya?"
"Lalu? Apa pedulimu?"
"Yah…" ujarnya tampak kebingungan. Memang kan? Kau nggak peduli padaku. Bagimu, aku cuma seorang asing yang membutuhkan bantuanmu untuk memenangkan pertaruhan dengan mantan pacarku. Cuma itu. Temanpun…
"Kau itu temanku! Tentu saja aku peduli padamu!" ujar Kiba sambil mengulurkan sebelah tangannya dan kemudian menangkap tanganku. Sambil menarikku, ia kemudian berkata, "Sudahlah! Aku nggak menerima bantahan lagi! Akan kuantar kau pulang sekarang!"
.
.
Curang.
Kiba memang benar-benar curang!
Kalau dia menunjukkan perhatian seperti ini… Aku kan… Jadi nggak bisa berhenti berharap! Padahal aku sendiri belum mengetahui bagaimana perasaannya padaku!
"Nih, pake!" ujarnya kemudian sambil menyerahkan jaketnya dan sebuah helm. Awalnya aku ragu-ragu untuk menerimanya. Tapi karena Kiba mulai terlihat nggak sabar saat aku mengabaikan benda-benda itu, akhirnya aku pun mengambil kedua benda tersebut dari tangannya.
Tanpa terasa, dia pun sudah mengantarku sampai di rumah dengan selamat. Dia nggak ngebut seperti waktu keberangkatan tadi. Tapi entah mengapa, aku merasa perjalanan pulang lebih cepat berlalu dibandingkan perjalanan pergi menuju restoran tadi.
"Ehm, thanks udah mengantarku pulang!" ujarku sambil melepas jaket dan helm-nya.
Kiba menerima kedua barang itu dan langsung mengenakan jaketnya. Helm yang lain, ia gantungkan di tempat yang memang tertera di badan depan motornya. Kukira, ia akan segera pergi. Tapi nyatanya aku salah. Ia bahkan ikut melepas helm-nya dan kemudian menatapku selama beberapa saat. Tanpa berbicara apapun.
"Ada apa?" tanyaku yang merasa sedikit risih dengan tatapannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk.
"Kau meminta pulang… Bukan karena ada janji dengan Deidara kan?"
"Kenapa kau bisa menebak seperti itu?" tanyaku pelan.
"Karena sikapmu mendadak aneh setelah tadi keluar dari toilet bersama Hinata!"
"Cuma perasaanmu!" bantahku cepat. "Sudah ya! Aku…"
"Apa Hinata mengatakan sesuatu padamu?"
Aku yang baru saja akan berbalik untuk masuk ke dalam rumah, terpaksa menghentikan pergerakkanku saat mendengar pertanyaan itu. Aku pun kini menatap langsung ke dalam matanya setelah sebelumnya aku memilih untuk menghindari tatapan tersebut.
"Apa yang dia katakan padamu?" ujar Kiba mengulang pertanyaannya.
"Nggak ada!" jawabku cepat pada awalnya. Tapi setelah itu, mendadak muncul niat dalam diriku untuk kembali membahas persoalan yang belum sempat kuselesaikan dengan Hinata. Mungkin jawabanku ini terkesan memancingnya, tapi apa boleh buat. Aku ingin mendapatkan penjelasan yang sebenar-benarnya dari mulut Kiba langsung. Dia bilang… Kami teman kan? Jadi aku juga berhak untuk tahu. Iya kan?
"Ng..." imbuhku akhirnya, "Paling kami cuma membicarakan soal kenapa kau putus dari Hinata! Dan Hinata bilang, status jadian itu hanya untuk menolongnya! Sebenarnya kalian nggak ada rasa satu sama lain! Hanya itu!"
Selesai mengulang apa yang dikatakan Hinata tadi, aku pun langsung mengamati ekspresi Kiba. Dia terlihat heran sekilas. Tapi dengan cepat, ia mengubah ekspresi itu menjadi sebuah seringai.
"Oh? Kau penasaran soal hubunganku dengan Hinata ya?"
"Nggak juga," jawabku santai sambil mengibaskan rambutku ke belakang. Padahal sebenarnya, hatiku sudah berteriak-teriak meminta ia untuk segera menjawab. "Hanya saja, aku heran. Gimana bisa kau jadian kalau nggak ada rasa sama sekali pada Hinata?"
"Dari dulu sampai sekarang, di mata Hinata cuma ada Naruto," ujar Kiba sambil mengangkat bahunya. "Tapi Naruto sendiri terlihat acuh tak acuh waktu itu. Makanya, aku pura-pura jadian dengan Hinata untuk mengetahui perasaan Naruto yang sebenarnya! Begitu Naruto sudah menunjukkan kecemburuannya, aku pun memutuskan Hinata!"
"Oh," jawabku pelan. "Tapi… Ehm... Kau sendiri…"
"Eh, Ino…" potongnya dengan tatapan yang mengarah ke jam tangan di pergelangan tangan kirinya. "Udah dulu ya! Aku harus pulang nih!" sambungnya tiba-tiba sambil memakai kembali helm-nya. "Sampai besok ya? Jaa!"
Setelah mengatakan itu, Kiba langsung memacu motornya dengan cepat, tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk melancarkan protes.
"Sial! Apa dia sengaja langsung pergi karena ia tahu aku mau mengorek perasaan dia sebenarnya?" gerutuku tanpa beranjak dari tempatku berdiri saat itu.
"Haaaahh!" Aku menghela napas dengan kesal.
Bagaimanapun, masih banyak yang ingin kuketahui.
Ya.
Status jadian itu boleh aja pura-pura. Hinata boleh aja menyukai Naruto. Tapi… Bagaimana dengan perasaan Kiba sendiri? Apa arti status itu baginya? Lagipula, kalau mengingat kata-kata Naruto saat itu… Kiba seolah…
Aku berdecak pelan akibat pertanyaan yang nggak bisa kujawab itu. Maksudku, aku memang punya dugaan, tapi aku nggak bisa bilang apa dugaanku itu benar atau nggak.
Kiba menyukai Hinata tanpa sepengetahuan cewek itu. Dan dia rela mengorbankan perasaannya hanya untuk membuat Hinata bahagia bersama cowok yang sudah sejak lama disukai cewek itu!
Demikianlah dugaan terkuatku. Meskipun baru dugaan, tapi itu cukup membuat dadaku terasa sakit seolah ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum.
Aku menengadahkan kepalaku, memandang langit malam yang kelam. Bintang sudah jarang terlihat di tempat seperti ini. Sebagai gantinya, cahaya dari lampu-lampu jalan-lah yang membuat jalanan ini menjadi cukup terang.
"Seandainya aku nggak menyetujui tawaran bantuan Kiba waktu itu… Bagaimana perasaanku sekarang ya?" gumamku lirih.
Aku akhirnya menggelengkan kepalaku perlahan. Setelahnya, aku pun berbalik dan langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa segudang pertanyaan yang belum terjawab.
Untuk sekarang, aku hanya bisa berharap bahwa suatu saat nanti semua jawaban yang kuinginkan akan muncul dengan sendirinya.
Bersamaan dengan berlalunya waktu…
***TBC***
Nah, episode ini… Ada slight NaruHina! Hahaha! Udah kejawab kah semua pertanyaan seputar hubungan KibaHinaNaru? Udah lah yah? Soalnya, next chapter pasti kembali ke dunia mereka yang seharusnya, dunia game! XD
Ngomong-ngomong, di sini si Ino lagi nggak histeris-histeris amat. Malah cenderung mellow-mellow gimana gitu. Sebenarnya, saya lebih suka bikin waktu dia histeris sih. Tapi ada waktunya dia down juga kan? Jadi, inilah yang terjadi. Hahaha.
Okeylah, sekian aja omong-omong nggak pentingnya.
Sekarang giliran minna-san yang berbicara melalui review. ^^
Review-nya pleaaaaaaseeeee?
I'll be waiting!
Regards,
SUKie-Fox yang baru aja ganti nama jadi Sukie 'Suu' Foxie' :p
