Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira, Varia New Member (Selena dan Xenon) belongs to Eltrish. And don't forget that Xanxus and Squalo belongs to each other! (Fufufu, who can deny this fact?)
Warning: OOC, typo, cussing words, cerita amburadul, cacat, maksa, GJ, dan karya dari seorang penulis amatiran.
Fic ini juga merupakan fic dalam rangka meramaikan fandom KHR dengan pairing XS bersama Arisu-san!
Enjoy the story! ;)
Squalo dapat mendengar kicauan burung yang ceria menyambut datangnya pagi, saling balas-membalas membentuk simfoni. Ia tahu bahwa matahari sudah memancarkan sinarnya namun ia menolak untuk bangun sekarang. Matanya masih tertutup rapat. Sekujur tubuhnya terasa berat, rasanya malas sekali untuk digerakkan. Terlebih lagi ia sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya.
Squalo berbaring di atas tubuh Xanxus sementara pimpinan Varia yang sepertinya tidak bisa membedakannya dengan guling pun mendekapnya dengan sebelah tangan. Keduanya sama-sama tidak sadar, masing-masing masih terlelap dalam alam bawah sadar mereka sendiri.
Namun perlahan Squalo pun terlihat risih karena Xanxus memeluknya terlalu erat. Alisnya berkerut. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Dengan satu gerakan cepat ia pun berbalik membelakangi Xanxus-melepaskan diri dari dekapan Xanxus yang terasa seperti membelenggunya, lalu menarik selimut. Ah, begini rasanya lebih baik.
Baru sebentar Squalo merasa nyaman, Xanxus kembali memeluknya dari belakang.
"Ngh..." alis Squalo kembali berkerut. Ia berusaha mengenyahkan tangan Xanxus yang melingkar di pinggangnya namun sayang usahanya gagal. Memindahkan tangan bosnya itu serasa seperti memindahkan peti mati seorang diri, berat.
Mengikuti insting untuk mencari posisi tidur yang lebih nyaman, second command Varia itu kembali membalikkan tubuhnya menghadap Xanxus, membiarkan pimpinan Varia itu memeluknya sesuka hati; ia masih belum sadar-matanya masih terpejam. Ketika itu, ia merasakan nafas Xanxus yang berhembus di rambutnya. Hidungnya mencium bau alkohol yang selalu melekat dan seakan tak bisa lepas dari tubuh bosnya itu. Akhirnya Squalo pun membuka matanya perlahan. "Nggh..."
Butuh waktu beberapa saat untuk sepenuhnya sadar. Ia mengedipkan matanya satu kali, dua kali dan barulah membelalak lebar seakan mau melompat keluar. "VOOOOOOOOOOOOIIIII! APA YANG KAU LAKUKAN BOS BRENGSEK?!" teriak Squalo beranjak bangun sembari mendorong tubuh Xanxus menjauh. Akhirnya ia sadar juga.
Xanxus terpaksa membuka matanya setelah mendapat dorongan serta teriakan gratis sebagai ganti ucapan selamat pagi dari Squalo. Matanya yang semerah ruby memandangi Squalo tajam. Beraninya rain guardiannya itu mengganggu pagi harinya yang tenang.
"Sekali lagi kau berteriak di dekat telingaku, akan kubuat lubang di kepalamu sampah brengsek!" ancam Xanxus dingin.
"Voi! Harusnya aku yang marah bukan kau bos brengsek!" protes Squalo. Ia menuding Xanxus sembari melotot. "Kau sadar nggak apa yang baru saja kau lakukan!? Kau tidur sambil memelukku! Kau pikir aku ini guling?!"
Xanxus hanya terlihat menguap seakan tidak peduli. Sebentar kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Melihat itu, Squalo pun semakin naik pitam. Ia mengguncang-guncangkan tubuh bosnya itu agar ia kembali bangun.
"VOOOOI! AKU BELUM SELESAI BICARA BRENGSEK!" teriak Squalo.
Xanxus kembali membuka matanya. Kali ini ia memandang Squalo dengan tingkat kekesalan yang sudah meningkat dari sebelumnya. Sebelah tangannya menarik rambut Squalo dengan kasar. "Sudah kubilang jangan berteriak di dekat telingaku, sampah brengsek sialan." geram Xanxus sembari menarik rambut Squalo kasar. "Lagipula kenapa kau tidur di kamarku hah?!"
Wajah Squalo berubah masam. "Voi! Jangan salahkan aku! Aku hanya menemani bocah-bocah sialan itu bermain disini!" protesnya. "Lagipula sekalipun aku menumpang tidur disini, itu tidak berarti kau boleh memelukku bos brengsek!"
Xanxus menatap rain guardiannya tajam. Sebenarnya mudah saja berkata 'Aku hanya salah membedakanmu dengan guling, sampah brengsek! Masalah kecil begitu tidak usah dipermasalahkan kan?' tapi Xanxus memilih tidak mengatakannya. Mengenal perangai Squalo yang mudah emosi, rasanya bisa makin panjang saja urusannya.
"Ini kamarku. Peraturanku yang berlaku disini." ujarnya dengan arogan. Ia menarik wajah Squalo mendekat hingga hanya berjarak beberapa senti darinya. Matanya yang semerah ruby bertatapan dengan mata abu-abu Squalo. "Kalau kau tidak suka silahkan angkat kaki dari sini!"
Squalo baru saja hendak membuka mulut untuk protes, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan bocah-bocah yang perlahan semakin terdengar jelas. Beberapa saat setelahnya Selena dan Xenon terlihat berlari dan melompat memeluk Squalo.
"MOMAAAA!" panggil kedua bocah itu manja. Lengan mungil mereka bergelayut manja di tangan Squalo.
Squalo melotot galak sambil menarik tangannya kasar. "VOOOOOIII! SUDAH KUBILANG BERKALI-KALI UNTUK BERHENTI MELOMPAT DAN MEMELUKKU SEPERTI INI!" teriaknya. Namun seperti sudah biasa mendengar bentakan Squalo, Selena dan Xenon pun hanya nyengir kecil.
"Moma, Selenya lapal." ujar si putri kecil varia yang tidak lagi menghiraukan teriakan Squalo. Adik kembarnya pun mengangguk tanda setuju.
Alis Squalo berkerut pertanda ia mulai kesal. "Voi! Minta makan pada Lussuria sana!"
"Luculia tidak ada di lumah." ungkap Selena sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak ada? Memangnya dia kemana?"
Kedua bocah itu tidak menjawab dan hanya menyerahkan secarik kertas bertuliskan tulisan Lussuria. Squalo membaca baris-baris kata itu perlahan.
Hai, Squ. Maaf aku pergi tidak pamit, tapi rasanya aku tidak tega menganggumu dan bos. (Bel bilang kalian seperti keluarga bahagia yang tidur bersama)
Hari ini aku, Levi, Bel dan Mammon pergi mengemban misi dan kami tidak akan kembali sampai beberapa hari. Satu lagi, karena aku tidak sempat masak, pergunakan bahan makanan di kulkas dengan baik ya. (Tidak banyak yang tersisa tapi kurasa cukup untuk persediaan makan satu hari)
PS : Ternyata hubunganmu dan bos sudah berkembang sampai sejauh itu ya? Selamat!
Squalo langsung meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut kamar. Alisnya berkerut dan wajahnya berubah masam. Lussuria sialan! Awas saja kalau dia pulang nanti! Geramnya dalam hati.
Selagi second sword emperor itu sibuk mengumpat Lussuria dalam hati, Selena dan Xenon sama-sama menarik lengan baju Squalo dengan wajah merengut. "Moma, lapal." ujar Selena. Adik kembarnya pun ikut menambahkan, "Voi! Lapar!"
Squalo berdecak pelan kemudian beranjak bangun dari tempat tidurnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan malas diikuti Selena dan Xenon dari belakang. Sungguh hari yang sial untuk Squalo. Tidak hanya harus berbagi tempat tidur dengan Xanxus-terlebih lagi pimpinan Varia itu tidur memeluknya semalaman bagaikan guling, kini ia harus menyiapkan sarapan untuk kedua bocah itu.
Squalo membungkukkan tubuhnya untuk melihat isi kulkas yang tersisa. Tidak cukup banyak, dan kebanyakan adalah makanan untuk Xanxus-daging berkualitas tinggi. Menyiapkan daging sebagai sarapan tentu akan sangat merepotkan, jadi sekarang ia sedang mencari alternatif lain.
"Moma, lapal!" keluh Selena yang sudah duduk di depan meja makan dengan kedua tangan yang sudah siap dengan masing-masing sendok dan garpunya.
"Voi! Sabar sedikit bocah brengsek!" teriak Squalo tersulut emosi. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan menemukan bungkusan pancake siap saji yang tersimpan di atas rak. Aha, ini yang ia cari dari tadi. Menyiapkan pancake tentu tidak akan terlalu merepotkan. Dengan cepat second command varia itu membuka bungkusnya dan membuat adonan pancake.
Selang beberapa lama, dua porsi pancake siap santap pun jadi. Tidak tunggu lama Squalo langsung memberikan pancake itu pada Selena dan Xenon yang kelaparan dan sebentar kemudian kedua bocah itu sudah melahap habis sarapan mereka.
"Tambah!" seru keduanya bersamaan.
Squalo hanya memandang Selena dan Xenon dengan jengkel sembari mengambil kedua piring kosong dari tangan mereka. Sambil sesekali menggerutu, ia kembali membuatkan bocah-bocah itu pancake.
"Voi! Jangan minta tambah lagi!" ujar Squalo sambil meletakkan kedua piring itu di atas meja. Kali ini kedua bocah itu makan dengan perlahan dan Squalo lega begitu melihat keduanya tidak lagi minta tambah saat piring mereka kosong.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Squalo menoleh dan menemukan sosok Xanxus yang berjalan ke arahnya. Pimpinan Varia itu menarik kursi di sebelah Selena dan duduk disana. Wajahnya yang masih tertekuk masam membuktikan kalau ia baru saja bangun. Mood Xanxus memang selalu buruk kalau sudah berurusan dengan pagi hari. Apalagi kalau sebelumnya ada yang menganggu tidurnya.
"Popa!" seru Selena dan Xenon bersamaan menyambut kedatangan Xanxus.
Pimpinan Varia itu hanya melirik ke arah kedua bocah itu dan tidak menyahut. Moodnya yang buruk di pagi ini seakan mengunci mulutnya rapat-rapat. Ketika Squalo meletakkan secangkir kopi di hadapannya, barulah Xanxus buka mulut. "Buatkan aku sarapan." perintahnya pelan.
Dengan alis yang berkerut samar dan berdecak pelan Squalo menyahut, "Kau mau makan apa bos brengsek?"
"Daging."
"Baiklah." Squalo pun kembali melangkahkan kakinya ke dapur dan membuatkan sarapan untuk bosnya. Butuh kesabaran ekstra untuk Squalo karena ia sama sekali tidak biasa memasak di dapur. Selang beberapa lama-dengan penuh perjuangan hingga beberapa kali meledakkan kompor, Squalo pun menyajikan masakan buatannya itu pada Xanxus.
"Voi! Ayo coba dimakan! Aku berani bertaruh rasanya enak!" serunya dengan bangga.
Xanxus hanya menyerngit tipis. Ia memandangi piring di tangan Squalo sebelum mendongakkan kepalanya dan melihat rain guradiannya itu dengan pandangan jengkel. "Kau bermaksud menyuruhku memakan sampah ini? Kau bercanda ya?" tanya pimpinan Varia itu sinis.
Squalo langsung melotot. Enak saja masakan yang sudah susah payah ia buat disamakan dengan sampah. Apa Xanxus tidak tahu betapa susahnya perjuangan Squalo untuk membuatkan sarapan itu untuknya?
"VOOOOOIIII! Apa kau bilang!? Sampah?! Kau saja belum mencobanya tapi kau sudah berani mengatakan ini sampah?!" teriak Squalo emosi. Ia membanting piring itu di atas meja lalu menuding bosnya. "Dengar ya! Aku sudah menggunakan daging kualitas terbaik dan aku sudah bersusah payah membuatkan ini untukmu! Bisa nggak sih kau menghargainya sedikit dan memakannya tanpa protes?!"
Xanxus memandang Squalo tajam. "Aku tidak sudi memakan sampah ini. Buatkan aku makanan yang lain."
Squalo hanya bisa mengertakkan giginya dengan kesal. Ia menyambar piring yang ada di atas meja itu dan melangkahkan kakinya kembali berdapur. Sambil mengomel ia pun kembali membuatkan sarapan untuk Xanxus.
Berkali-kali terdengar suara benda yang pecah dari arah dapur. Xanxus hanya menyeruput kopinya dengan tenang seakan tidak mendengar apa pun-malah sepertinya ia senang karena telah berhasil membuat rain guardiannya itu kesal. Sementara Selena yang sedikit banyak terganggu dengan suara-suara itu mengerutkan alisnya tipis. Putri kecil Varia itu pun melirik ke arah Xanxus. "Popa, moma bayik-bayik saja? Dali tadyi moma mayah-mayah muyu."
Xanxus hanya nyengir tipis. "Ya, dia baik-baik saja. 'Mama' hanya kesal karena sebenarnya dia tidak bisa masak."
"Tapi tadyi mama masak pancake untuk Selena dan Xenon. Lasanya enyak sekali!"
"Voi! Enak!"
Xanxus hanya mendengus pelan seakan mencemooh. Seorang Squalo memasak pancake dan rasanya enak? Bercanda.
Beberapa saat kemudian Squalo kembali dengan masakan baru di tangannya. Dengan wajah masam ia menyodorkan piring berisi daging itu pada Xanxus. "Jangan minta aku buatkan yang lain lagi karena sudah tidak bahan makanan apa pun!"
Xanxus memandangi piring berisi masakan Squalo itu sejenak sebelum akhirnya ia beranjak bangun dan melangkah pergi. Sambil berlalu Squalo bisa mendengar Xanxus menggumamkan sebuah nama restoran. Tidak salah lagi, bosnya itu pasti berniat memesan makanan dari restoran. Squalo hanya memandangi kepergian bosnya sembari melotot. Vooiii! Dasar bos brengsek sialan! Aku sudah bersusah payah membuatkan sarapan untuknya tapi ujung-ujungnya dia tetap mau memesan makanan dari restoran! Batin Squalo kesal.
Selena dan Xenon sama-sama memandangi Squalo dalam bisu. Tanpa harus bertanya pun keduanya tahu kalau sekarang Squalo sedang emosi tingkat tinggi, karena itulah mereka memilih untuk diam dan mengamati saja.
Begitu sadar kalau kedua bocah itu sedari tadi mengamatinya, Squalo pun melotot galak. "VOI! Apa lihat-lihat hah?! Sana pergi ke tempat bos brengsek itu! Aku muak melihat kalian!"
Tidak perlu disuruh dua kali, kedua bocah itu pun langsung melesat pergi sebelum kena marah lagi. Sekarang hanya tinggal Squalo sendiri disana. Hanya tinggal ia dan sisa kekacauan yang ada-sirup maple yang tumbah ke atas meja, pecahan piring di dapur, dan sisa bahan makanan yang berceceran di lantai dapur.
Squalo memandang sekeliling perlahan kemudian menghela nafasnya pelan. Bagus, ini benar-benar hari yang 'indah'! batinnya sambil mulai membereskan semua kekacauan itu.
Hampir setengah hari lamanya waktu yang diperlukan Squalo untuk selesai membereskan semua kekacauan yang ada. Ia melirik ke arah jendela dan memandangi langit yang tak lagi biru. Sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi, ia melihat ke sekelilingnya lalu tersenyum puas. Kini semua kekacauan itu hilang sudah.
Voi! Aku memang hebat! Sekarang semuanya sudah rapi seperti sedia kala! Batin Squalo puas.
Ketika itu, Squalo mendengar suara perutnya berbunyi, protes minta diberi makan. Second command Varia itu melirik ke arah jam yang terpasang di dinding. Ah, sudah jam 3. Kalau begini sih ia tidak hanya melewatkan waktu sarapan tapi juga makan siang. Jelas saja perutnya mulai berontak.
Dengan malas, Squalo melangkahkan kakinya ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan hanya bisa tercengang begitu ingat kalau sudah tidak ada lagi bahan makanan yang tersisa. Voi, aku lupa kalau sudah tidak ada bahan makanan lagi! Batin Squalo.
Ide untuk memesan makanan ke restoran mengikuti jejak Xanxus terlintas di kepalanya, namun ia mengurungkan niat itu begitu melihat bungkus pancake yang masih tersisa di atas rak. Membuat pancake itu mudah dan tidak makan waktu lama. Daripada harus menunggu pesanan makanan dengan perut kosong, lebih baik ia membuat pancake sajalah.
Dengan cekatan ia pun membuat adonan pancake. Ketika ia baru saja mulai memasak, ia mendengar langkah kaki mendekat. Siapa lagi kalau bukan Xanxus?
Tanpa menoleh Squalo menggerutu pada bosnya itu. "Untuk apa kau datang lagi kesini hah?! Disini sudah tidak ada makanan!"
"Aku tidak datang mencari makanan, bodoh." sahut Xanxus pelan sambil mendekat ke arah Squalo. Alisnya terangkat heran begitu melihat rain guardiannya itu mengangkat pancake yang baru saja jadi ke piringnya. Ia hanya diam dan mengamati Squalo yang mulai memakan adonan bulat berwarna kecoklatan itu dengan lahap.
"Tapi tadyi mama masak pancake untuk Selena dan Xenon. Lasanya enyak sekali!"
Mengingat ucapan Selena itu, tanpa sadar Xanxus jadi penasaran untuk mencicipi. Sesaat sebelum Squalo kembali menyuapkan potongan pancake masuk ke dalam mulutnya, Xanxus menarik tangannya dan mencuri potongan pancake itu.
"VOI! Itu punyaku!" protes Squalo. Xanxus tidak menyahut dan masih sibuk mengunyah. Alisnya berkerut dan sedikit banyak wajahnya berubah. Pimpinan Varia itu diam lama sekali dan tidak berkomentar.
"Voi! Bagaimana? Enak kan?" tanya Squalo penuh percaya diri.
Xanxus masih tidak menyahut.
"Voi! Xanxus! Kau dengar aku kan!? Aku tanya bagaimana rasanya!? Enak atau tidak brengsek!?"
Setelah beberapa saat terdiam Xanxus hanya menatap rain guardiannya itu sambil nyengir tipis. Baiklah, ia harus mengakui kalau ia setuju dengan pendapat Selena dan Xenon. "Setidaknya ini lebih baik daripada sampah." ujarnya sambil berlalu. Untuk Xanxus, perkataannya barusan tentu sudah merupakan bentuk pujian terbaik yang bisa ia berikan untuk Squalo, tapi sayangnya yang bersangkutan tidak merasa demikian. Jangankan dipuji, ia justru merasa dicemooh.
"VOOOOOOOOIIII! KURANG AJAR! KALAU KAU TIDAK SUKA YA TIDAK USAH MAKAN BRENGSEK!" umpat Squalo emosi.
Ditutup dengan teriakan yang dipastikan dapat terdengar di seluruh penjuru markas Varia itu, akhirnya hari yang melelahkan untuk Squalo pun berakhir. Second command Varia itu bersumpah dalam hati kalau ia tidak akan pernah membuat masakan lagi untuk Xanxus. Terutama pancake!
Thanks for reading!
Review (critics and comments) would be appreciated!
See you next time~
