Warning : AU, Multi Pairing, maybe OOC, Rate T semi M, super panjang. 2 chapter terakhir! Diharapkan ripiunya!
*tewas di TKP karena langsung terbantai begitu fic chap 11 publish*
Hahahahaha, kayaknya night keterlaluan banget ya, update kelewat lama. Udah berapa lama ya? Maaf ya, gak tahu kenapa pikiran night malah penuh ma ide buat Catch atau WAMN. Gak bertanggungjawab emank, tapi night pasti update…
Once again, night serukan buat anak NS,, ikut partisipasi di IFA 2010!
Thanks to : Ainath Faldebara, Hikari Meiko EunJo, SoraHinase, Hikari-hime, aya-na rifa'i, DeviL's of KunoiChi, Nara Aiko, Ren Shiekaru, Cendy Hoseki, Namizuka min-min loveminho, Namikaze 'cherry' Hatake, Rinzu15 'The 4th Espada, Enny Love ShikaIno, NaruNarurin, Merai Alixya Kudo, Rere Aozora, karinuuzumaki, numpanglewat, Fidy Discrimination, Fhaska, kuraishi cha22dhen, Shirayuki No Aoi, NaMIKAze Nara, Aburame anduts, Violet7orange, bacadoang, natsu-CherryKnight, Aichiruchan, KasuHano-HimaUlqui, Nakamura Kumiko-chan, narusaku uzuharu makino, Chocomint the Snidget, Aileen, The RED Phantom, Lhyn Hatake, Saqee-chan, Alegre541 ga log in, Kanna Ayasaki, 12starZ, Ridho Uciha, sava kaladze, Elven lady18 gak login, Sora Linda, Zhan' Masamune, narusaku-inosai-temashika, sabaku no ligaara, NaRa'UzWa', Kurosaki Kuchiki, kobayashi akane males log-in, YamaNara ShikaIno, Tsukimori Raisa, Lyner Croix Rosenkrantz, Akasna Arishima, inessegreen, NorikoNori-chan, ratih desiana, Amaira Sora Miaw-Miaw, ichigo, staacha, Sakura 'Cherry' Snowfals lupa log in, Lar d'Gaara, Narunaru rin-chan, nadia, Namikaze Meily Chan.
Yosh. Selamat membaca.
Summary : Sebuah bencana membuat Sakura meninggalkan teman-temannya yang 'terhormat'; Namikaze Naruto, Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata, Nara Shikamaru, Sabaku Gaara. Sakura terpaksa banting tulang demi mengobati ayahnya Sarutobi Hiruzen yang stroke, dan Sarutobi Konohamaru, adiknya yang masih SMA. Dan jalan yang ditempuh untuk bertahan benar-benar meninggalkan predikat 'terhormat' dari raganya. Yamanaka Ino dan Nona Tsunade adalah orang baik yang membantunya dengan cara yang 'berbeda'. Dan kehidupan baru dimulai.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO-sensei
Sedikit inspirasi dari Memoirs of Geisha, dan tentu otak saya yang hobi berkhayal
"Apa maksudmu membeliku semahal itu?" Sang mademoiselle mulai bertanya dingin.
"Orang sepertimu tak ternilai harganya bagi beberapa orang, Sakura."
"…"
"Aku mengenalmu Sakura. Aku tahu kau orang yang seperti apa. Kau tak akan dengan mudahnya menerima semua ini. Tapi beda lagi kalau aku membelimu."
"…"
"Makanya kan aku bilang, aku membelimu."
"…"
"Aku tahu kau tak akan menerima apa yang kuberikan padamu dengan cuma-cuma, makanya kau harus memberiku balik sesuatu yang pantas dan memang seharusnya kau berikan pada orang yang membelimu kan?"
Sakura meneteskan air matanya lelah. Ia tak tahu kenapa. "A–Apa kau melakukan ini kare–"
"Aku mencintaimu."
"Kau tak pernah menoleh ke arahku, Sakura. Kau sibuk mengejar Sasuke dan sibuk menolak perasaan Naruto, sampai-sampai kau tak menyadari keberadaanku secara khusus. Aku tak berteman denganmu seperti Shikamaru yang melindungimu seperti adiknya. Aku mempunyai perasaan yang berbeda sejak dulu padamu. Tapi kau tak pernah sadar."
"G-Gaara, ak-aku…"
"Cobalah…"
"…" Sakura mendengarnya baik-baik.
"Cobalah untuk bersandar…"
"…"
"…padaku."
"Di mana Sakura?"
Ino menyeka air matanya. "Aku melakukan ini bukan untukmu." jawab Ino.
"…"
"Aku melakukan ini untuk Sakura." Ino lalu menarik lengan dua pemuda di hadapannya dengan tergesa-gesa.
Gaara hanya menggeleng lemah sebelum akhirnya merapatkan pelukannya pada tubuh Sakura. "Jangan berpaling dan menutup matamu, Sakura."
"Hah?"
"Aku ingin melihat kau juga menatapku sama seperti yang kulakukan. Bahkan mungkin tersipu untukku juga meneriakkan namaku saat aku menyentuhmu." bisiknya mesra.
"Apa?" Sakura terlihat bingung.
"Sebentar lagi."
"Gaara, sebenarnya apa maksudmu–ukh…" Sakura mendesah pelan saat ciuman pemuda itu turun ke tulang dadanya. Tangannya tanpa ia sadari mencengkeram helaian rambut merah sahabat lamanya itu.
BRAKK.
Pemuda pirang itu melepas jaketnya, menarik lengan Sakura dari belakang dan menyeretnya mundur, lalu memasangkan jaket itu di bahu Sakura sebelum akhirnya mencengkeram kerah kemeja Gaara yang kancingnya tak terkait satu pun.
Gaara hanya menyeringai. "Hai, Naruto."
Pemuda pirang itu kalap dan marah setengah mati.
BUGH.
.
MADEMOISELLE SAKURA Chapter 11: Happiness
.
"Hentikan!"
Dugh!
Suara Sakura entah hilang kemana kali ini. Alunan kata yang keluar dari bibirnya terasa lelah. Gamang dan tak bertenaga. Dan tentunya hal itu sama sekali tak membuat Naruto menghentikan hantaman kepalan tangannya, atau malah bahkan untuk membuat pemuda pirang itu mengendurkan pegangannya di kerah sahabat satunya.
Gadis mademoiselle itu bangkit. Tangannya hanya membenahi kimononya asal lalu menarik lengan sahabatnya—sahabat sekaligus pemuda yang namanya tetap tinggal di hatinya. "Hentikan Naruto! Hentikan!" pintanya putus asa.
Nyatanya pemuda itu sudah kehilangan kemampuan untuk mengontrol pikirannya sendiri. Sekalipun suara sang gadis mencoba menyadarkannya, tapi pemuda itu tak dapat merepon. Otaknya menolak untuk memproses tiap kalimat yang meluncur dari mulut gadis yang menjadi alasannya kalap.
"KENAPA KAU MELAKUKAN INI GAARA!" teriaknya kesetanan. "DI ANTARA SEKIAN ORANG YANG KUKENAL, KUKIRA KAU TAHU BAGAIMANA PERASAANKU! BEGINI SIKAPMU UNTUKKU, HAH! KUKIRA KAU SAHABATKU!"
"HENTIKAN, NARUTO!"
Sang pemuda berambut api itu hanya menyeringai. Ia tak menolak pukulan yang bertubi-tubi menghantam wajahnya dan mengakibatkan darah mengalir di sudut bibirnya. Tangannya hanya dengan santai mengusap darah itu. Matanya yang memandang tajam malah seolah melembut menghadapi kekerasan hati dan amarah Naruto yang tak terkontrol. Ia justru merasa kasihan. Bagaimana bisa dua sosok di hadapannya—Sakura dan Naruto—sedemikian bodoh untuk berpikir jernih apa tujuannya melakukan ini semua?
Berpura-pura saling menyerah.
Berdusta dengan mengatakan bahwa cinta mereka dihalangi takdir.
Bertingkah seolah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk membuat keduanya bahagia dengan tetap bersama.
"HENTIKAN NARUTO!"
Plakk.
Air mata mengalir lagi kali ini.
Sang pemuda pirang yang merasakan panas di pipinya kali ini tersadar. Tamparan keras yang barusan dilayangkan Sakura menariknya kembali ke alam sadarnya. Tangannya yang sedari tadi sibuk mencengkeram kerah Gaara kini berangsur menyingkir dan menyentuh pipi kirinya. Pemuda itu tak menoleh. Matanya masih menerawang sebelum akhirnya air matanya menetes. Jatuh ke tatami lusuh yang menjadi tempatnya berpijak dalam ruangan.
Bukan tamparan itu yang membuatnya meneteskan air mata. Bukan. Sungguh. Hanya saja ia juga tak tahu kenapa air matanya tahu-tahu sudah berkubang di lantai.
Pemuda itu menoleh. refleksinya—refleksi air matanya juga terlihat pada sosok sang dewi yang membutakan hatinya. Gadis itu juga menjatuhkan air mata, lebih banyak malah.
"Sa—Sakura-chan, ak—"
"Aku sudah bilang kan! Jangan memukulnya! Kenapa kau tidak mendengarku! Kenapa kau melakukan itu, hah!" teriak Sakura kesal.
Pertahanan gadis itu runtuh. Topeng kesakitan yang selama ini menghiasi wajahnya retak. Ia yang biasanya sanggup mengontrol emosinya di hadapan orang lain kini malah menangis tanpa bisa terkontrol.
"Sudah kubilang kan! Jangan campuri urusanku! Apa hakmu melakukan ini semua! Apa hakmu datang ke tempat ini dan mengacaukan semua!"
"Mengacaukan?" tanya balik Naruto. "Katakan padaku apa yang telah kukacaukan, Sakura!"
"…" gadis itu terdiam. Ia menggingit bibir bawahnya, mencoba untuk meredam isakannya sekaligus mengurangi gemetar yang kini merambat di tangannya.
Naruto yang merasa hancur meraih kedua sisi luar lengan sang gadis dan menarik gadis itu mendekat padanya, "Beri tahu aku, kalau seandainya kau memang menginginkan ini semua, kalau kau memang melakukan ini semua karena kau bahagia!"
"…"
"Apa kau kira aku bisa acuh dan bahagia sementara kau menderita tapi terus mengatakan bahwa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi. Suara Naruto perlahan melembut. Tangannya berangsur turun menyentuh pergelangan tangan Sakura, "Tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak bahagia selama ini, Sakura-chan… Aku akan membawamu pergi."
Galau.
Ketika ia merasakan kecupan lembut di tangannya, gadis itu merasa hatinya remuk. Tidak bisa. Tidak boleh jadi begini. Pemuda itu tak layak bersamanya. Bukan. Tapi ia tak layak untuk bersama pemuda ini. Ada gadis lain yang lebih layak. Ya, gadis Hyuuga itu.
Persetan dengan kebenciannya atau dendamnya. Hatinya sudah habis dimakan rasa sakit. Biarlah kali ini ia mencoba bahagia dengan apa yang ia maksud sekalipun ia tak menginginkannya.
Gadis itu menarik kasar tangannya lalu berlari keluar ruangan. Menabrak sang Mademoiselle Sky kemudian tetap lari menjauh.
"Sakura!" teriak Ino memanggil. Gadis pirang itu bersiap mengejarnya.
Greb.
Mata Ino terbelalak saat melihat sebuah telapak tangan menahan pergelangan tangannya. Shikamaru. Pemuda Nara yang sedari tadi diam di sampingnya dan ikut menonton drama menyakitkan barusan.
Naruto masih tertunduk. Memberi akses luas pada air matanya untuk menetes lebih banyak, seolah berharap rasa sakitnya hilang seiring jumlah tetesan air mata yang semakin menggenang.
"Hei Bodoh!" sebuah suara terdengar dari sang pemuda Sabaku. "Kau pikir dengan menangis Sakura akan kembali padamu?"
Naruto dengan cepat menoleh dan menatap tajam sahabat—atau mungkin mantan sahabat—yang barusan berkata lancang.
Nyatanya pemuda itu malah tersenyum lembut membalas tatapannya. "Kejar dia, Bodoh! Kau pikir untuk siapa Sakura menangis? Kalau memang aku dan Sakura menginginkan malam ini, kami bisa saja love making sejak tadi kan?"
"A—"
"Nanti kau harus berterima kasih padaku karena membuat Sakura menunjukkan perasaan aslinya…"
"…"
"Gadis itu masih sangat mencintaimu, Baka!" ejek Gaara sambil tersenyum. "Kejar dia, apapun hasilnya!"
Tanpa sempat membalas senyuman Gaara, Naruto segera berbalik. Shikamaru hanya menepikan tubuhnya, memberi jalan pada Naruto agar pemuda pirang itu berlari secepatnya. "Go!"
Barulah kali ini Naruto tersenyum. Pemuda itu tak menyia-nyiakannya. Ia langsung berlari kencang, menyusul gadis yang dicintainya. Berlari ke direksi dan jejak yang ditinggalkan gadis itu. Berusaha meraihnya sekali lagi.
Ino kali ini hanya bisa melongo. Pikiran lelaki. Ia tak tahu apa sebenarnya isi otak orang-orang ini. Sakura dan teman-temannya. Menderita demi orang lain. Menangis mewakili orang lain. Tapi juga tersenyum untuk kebahagiaan orang lain. Berakting tapi di sisi lain mewakilkan kejujuran mereka pada waktu yang sama.
"Hei, sampai kapan kau mau memegangi tanganku?" tanya Ino enteng.
Shikamaru kali ini tak protes. Ia hanya melepaskan genggamannya perlahan. Matanya masih menatap Gaara yang duduk di atas tatami dan sibuk mengerang memegangi luka di wajahnya. Pemuda Nara itu mendesah pelan. "Jangan menyusul mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya…"
"…" Ino hanya bisa mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong soal masalah, kenapa sepertinya tadi kau tak membantu Sakura melerai Naruto saat menghajarku, Shikamaru?" tanya Gaara malas, "Cih, pukulannya ternyata terasa sakit juga…"
Shikamaru melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu bersandar di daun pintu sambil tersenyum.
"Pose dan ekspresimu itu membuatku berpikir kalau kau menikmati pemandangan saat Naruto menghajarku tadi…" ungkap Gaara.
"Yaah… sedikit sih iya… Aku hanya berpikir kalau kau memang pantas dihajar," terang Shikamaru. "Lagipula kau membuat rencana seenakmu sendiri."
"Ugh, kau kejam Shika-kun…" ejek Gaara sembari menggodanya. Sesekali ia ingin mengajak bercanda sahabatnya yang pemalas itu. Setelah melewati ketegangan barusan, ia ingin merilekskan pikirannya.
"Hei, meskipun Sakura tidak menginginkan ini semua, tapi sepertinya kau memang menginginkannya kan?" tanya Shikamaru.
Gaara tersenyum sesaat. "Itulah makanya aku tidak mengelak dari pukulan Naruto, Mr. Genius. Aku anggap ini bayaran dari Naruto karena aku sempat menyentuh Sakura, fyuh…"
"Dasar bodoh."
Ino hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua pemuda itu. Ia dengan sigap mendekat pada sosok Gaara dan menarik lengan pemuda itu agar bangkit.
"Hei, kau mau apa?" tanya Shikamaru dari pintu kamar. Pemuda itu kini berdiri tegak, tak lagi bersandar santai di daun pintu.
"Aku ini masih punya hati. Aku yang bukan sahabatnya saja khawatir dengan lukanya…" jawab Ino. Gadis itu lalu tersenyum pada Gaara. "Ikut aku. Biar kubersihkan lukamu."
Gaara hanya mengangguk dan membiarkan gadis itu membantunya berjalan sambil sesekali merintih. Ia melirik Shikamaru saat melangkah keluar ruangan.
"Shikamaru, kali ini aku tidak bermaksud masuk lagi dalam hubungan orang, jadi jangan salah sangka. Pacarmu yang menawariku…"
Sementara Ino merah padam, Shikamaru hanya memutar bola matanya sembari berbalik mengikuti langkah Gaara dan Ino.
"Mendokusai."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"A—aku tidak tahu, maaf…"
"Kumohon, kau harus memberitahuku ke mana arah Sakura-chan pergi…"
Shizune sebenarnya tidak cukup buta. Hanya saja ia tak tahu harus berbuat apa. Gadis yang dicari pemuda di depannya ini barusan berlari melewatinya ke arah pintu belakang dengan wajah menangis. Ia tak tahu apa dengan memberitahu pemuda pirang ini semuanya akan baik-baik saja atau malah bertambah buruk.
Begitu banyak tipikal pemuda yang telah ia temui selama ia ikut hidup bersama Tsunade, orang yang sudah ia anggap ia kakaknya. Dan kalau ia boleh bicara soal hati, hatinya kini mengatakan bahwa pemuda ini pemuda baik-baik. Tapi ia gusar.
Pluk.
Sebuah tepukan hangat mendarat di pundak Shizune dari arah belakang. Bersamaan dengan Naruto, Shizune menoleh ke arah orang yang menepuknya.
Lelaki itu tersenyum lebar sembari mengangguk.
"Tuan Jiraiya?" ungkap Shizune tak percaya. Cukup lama ia tak bertemu lelaki itu.
Jiraiya malah menoleh pada Naruto yang memandangnya penuh harap. "Hei, Bocah. Apa kau mau berjanji kau tidak akan menyakiti Sakura?"
Naruto mengangguk cepat. "Akan kulakukan apa saja asal dia bahagia," jawabnya tegas.
"Gadis yang kau cari itu ada di ruang belakang. Larilah ke arah sana," perintah Jiraiya. Lelaki itu mendadak menepuk kepala Naruto, pemuda yang sebenarnya tidak ia kenal.
Tanpa basa-basi Naruto langsung melesat pergi. Tak ada kalimat yang meluncur dari mulut Naruto, hanya tatapan matanya sekilas yang menyiratkan bahasa 'terima kasih'.
Kali ini giliran Shizune yang memandang Jiraiya bingung. Mendadak lelaki itu muncul dan memberi tahu Naruto seolah tak memikirkan apa-apa. Padahal Shizune sempat gusar dengan pilihan yang akan diambilnya, "T—Tuan Jiraiya, kenapa kau memberitahu pemuda itu?"
Jiraiya hanya menoleh sambil tersenyum lebar, "Memangnya ada alasan untuk tidak memberitahu bocah itu?"
Kali ini Shizune menundukkan kepalanya. Ya. Ia juga tak tahu alasannya. Paling-paling jika ada yang menanyakan kenapa Shizune tak mau memberitahunya, ia hanya akan menjawab bahwa hal itu bukanlah urusannya dan ia tak mau ikut campur, hanya saja… benarkah itu alasannya? Ia sedih melihat Sakura, tidak, ia bukan hanya sedih karena itu. Ia sedih karena Sakura harus melangsungkan malam ini.
Tapi kesedihan adalah makanan sehari-hari Shizune.
Paradise adalah surga para malaikat terbuang. Semua bidadarinya memiliki kisah kelam. Tak hanya Sakura. Juga tak hanya Ino yang sempat kehilangan bayinya. Bahkan bukan juga Karin yang hidup sebatang kara sejak kecil sehingga harus jadi penjambret bersama Suigetsu dulu. Semua mademoiselle-nya adalah sosok malaikat yang terluka sayapnya.
"Um… Ada apa Tuan Jiraiya kemari?"
Jiraiya malah tertawa khas, "Memangnya tidak boleh? Bukankah aku sudah biasa kemari?"
"A—Ah, bukan begitu. Hanya saja kudengar dari Nona Tsunade bahwa kau sedang sibuk mengurusi proyek novel-novelmu yang kini jadi best seller," jawab Shizune cepat. Ia lalu menoleh ke ujung lorong yang terhubung di hall depan. "Nona Tsunade sedang ada di depan mengobrol dengan tamu-tamu lainnya."
"Oh…"
Shizune kali ini mengangkat wajahnya dan menatap Jiraiya yang terlihat bingung.
"Apa masih lama?"
Shizune hanya menggeleng pelan, "Aku kurang tahu soal itu. Apa ada sesuatu yang perlu kusampaikan?"
"Aku mau memberinya sesuatu…"
"Apa mau dititipkan padaku saja? Aku akan memberikannya pada Nona Tsunade nanti," jawab Shizune tanpa ragu. Ia sudah biasa dititipi barang dari orang untuk Tsunade, bahkan juga dari Jiraiya selama ini.
"Kali ini aku tidak bisa menitipkannya," jawab Jiraiya pelan. Lelaki itu merogoh kantong celananya perlahan dan mengeluarkan sesuatu kemudian menimangnya. "Barang seperti ini tidak bisa dititipkan 'kan?"
Mata Shizune melebar sebelum akhirnya ia tersenyum lembut dengan apa yang ditangkap penglihatannya saat ini.
Sebuah kotak kecil berwarna merah yang indah.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Sakura-chan?"
Gadis berambut merah muda itu tersentak. Wajahnya yang sedari tadi ia tenggelamkan di antara kedua lututnya kini terangkat. Suara itu… Naruto. sontak saja ia segera berbalik dan cepat-cepat berdiri. Pendengarannya tak salah. Pemuda yang menjadi alasan utamanya menangis malam ini kini berdiri di depannya tak sampai lima meter.
Gadis itu bingung. Ia hanya bisa melangkah mundur tanpa bisa berkata apapun.
"Sakura-chan, kumohon…"
Nyatanya panggilan khas yang lama tak menyambangi pendengarannya itu malah membuatnya tak tenang. Air matanya menetes lagi setelah tadi ia sempat mati-matian menenangkan dirinya sendiri.
Naruto yang merasa jaraknya dengan Sakura melebar, sontak melangkah maju meski perlahan, "Sakura-chan…"
Panggilan itu lagi. Sesak rasanya mendengar nada suara yang menyiratkan bahasa kasih di telinganya.
Greb.
Mata Naruto terbelalak saat tangan Sakura meraih sebuah pisau buah di atas laci kecil di sampingnya. Sakura mundur lagi kali ini, sampai akhirnya punggungnya menabrak pintu dan membuatnya terbuka.
Angin malam halaman belakang paradise semakin menusuknya.
"J—Jangan mendekat," pintanya sembari terisak.
Naruto hanya bisa memandangnya dengan ekspresi yang semakin sedih. Matanya tak menyiratkan ketakutan atau kekhawatiran. Pandangan matanya hanya melembut seolah iba. Bukan iba pada Sakura, tapi iba pada dirinya sendiri.
Apa perasaan cinta yang dimilikinya untuk gadis itu malah membuat gadis itu tak mau didekati olehnya?
Sama saja.
Terulang dan tak ada bedanya dengan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Gadis itu selalu menyangkal perasaan cintanya di masa lalu. Pada akhirnya gadis itu tidak menerimanya…
Tapi benarkah begitu?
Kalau kenyataannya begitu, kenapa gadis di hadapannya ini gemetar saat mengacungkan pisau itu ke arahnya? Kenapa tangannya gemetar dan bahunya yang ringkih bergetar hebat?
Tap.
Kali ini Naruto melangkah maju, memaksa Sakura untuk mundur lagi selangkah sehingga membuat keduanya melewati pintu belakang paradise.
"Kumohon, N—Naruto, tinggalkan aku sendiri…"
"Apa kau berharap aku mati?" tanya Naruto mendadak—yang langsung disambut tatapan tak percaya Sakura. "Kalau tidak, kenapa kau mengacungkan pisau ini padaku?" tanyanya lagi.
"Ak—Aku… Aku…"
Naruto melangkah lagi sehingga ujung pisau itu hampir mengenai dadanya. Perlahan tangan kirinya terangkat dan menyambut ujung pisau itu dengan genggamannya. "Kau tahu Sakura-chan… Aku tak takut pada kematian. Yang aku takutkan hanya kalau kau membenciku dan tak mau lagi bertemu denganku…"
"…"
"Kau pernah meninggalkanku sekali dan membuatku hampir mati."
Tes.
Setetes darah jatuh ke permukaan lantai bumi yang dingin. Darah yang mengalir dari telapak tangan Naruto.
"Kau sudah membuatku mati di sini," terangnya sembari mengarahkan ujung mata pisau yang bergetar—karena goncangan gemetar dari tangan Sakura—tepat di jantungnya. "Di sini… Sakura-chan…"
Klak.
Pisau itu terjatuh di tanah. Lepas dari genggaman Sakura ataupun Naruto. Gadis itu menangis lagi. Sakit rasanya melihat Naruto terluka.
Apakah selama ini Naruto sama sakitnya tiap ia terluka?
"N—Naruto, tanganmu…" gadis itu pada akhirnya melangkah mendekat pada Naruto. kedua tangannya yang masih setengah bergetar perlahan terangkat dan menyentuh telapak tangan Naruto. "Maaf."
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Sakura sebelum akhirnya gadis itu mendekap erat telapak tangan Naruto yang terluka dalam genggamannya. Tatapan Naruto semakin melembut. Sebuah senyuman tipis terlukis di bibirnya saat hidungnya bisa mencium jelas wangi rambut Sakura yang ia rindukan. Akhirnya Sakura mau menyentuhnya—setulus hati.
"Kenapa kita bisa sebodoh ini?"
Tanpa banyak bicara Naruto segera memeluk gadis itu erat seolah hanya ini kesempatan yang ia miliki. Sakura, gadis itu menangis lagi. Kali ini dadanya tak merasakan sesak, hanya tersisa lega yang sangat besar.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Apa ini?" tanya Ino.
"Tiket," jawab Shikamaru singkat sambil memandang mobil Gaara yang makin menjauh dari pandangan matanya.
"Untuk apa?"
"Keluargaku punya acara. Itu tiket masuk gedung nanti…"
"Aku tidak bodoh," jawab Ino setengah kesal. "Kau tahu masa laluku. Aku bukan gadis yang 100% bodoh. Aku tahu ini tiket alias undangan. Maksudku untuk apa kau mengundangku?"
"Aku tidak hanya mengundangmu. Ajaklah Sakura, dia butuh refreshing kan? Akhir-akhir ini ia terlihat tertekan."
Ino menimang-nimang benda dalam genggamannya. Ia akhirnya hanya mengangkat bahunya, "Terserah kau lah." Gadis itu kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam Paradise.
Shikamru hanya tersenyum tipis.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Perlahan Naruto mengecup kening Sakura kemudian turun ke pelipisnya. Ia mencium pelan seluruh lekuk wajah Sakura. Mengacuhkan jalanan belakang Paradise yang sepi. Sakura hanya terdiam. Sekilas ia tersenyum. Bahagia dalam arti sesungguhnya sebelum akhirnya ia mengecup bibir pemuda itu perlahan.
Bukan ciuman yang dibayangi nafsu. Hanya ciuman ringan yang lembut. Hanya ciuman yang melukiskan betapa benarnya perasaan yang ada dalam hati keduanya.
"Kau percaya takdir?" tanya Sakura setengah berbisik.
Naruto hanya menatap mata emerald gadis itu.
"Aku mempercayai takdir seburuk apapun itu, Naruto. karena itu… kembalilah pada Hyuuga Hinata."
Mata Naruto melebar, tak percaya dengan perkataan Sakura.
"Kalau kita memang ditakdirkan bersama, kau… akan berakhir bersamaku…" ungkapnya lagi. Gadis itu mencium Naruto lagi lalu memeluk pemuda itu erat.
"Kau akan tetap bersamaku pada akhirnya, Naruto…"
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Konohamaru… Ayah…" sapa Sakura yang berjalan pelan menuju pagar depan rumahnya. "Bagaimana pemeriksaannya tadi?"
"Nee?" sapa balik Konohamaru dengan sedikit bingung. Seingatnya kemarin sore kakaknya bilang bahwa malam ini ia akan pulang pagi.
"Kenapa baru pulang?" tanya Sakura lagi.
"Y—Yamato…" ucap Hiruzen pelan.
Konohamaru menunjukkan cengiran tipisnya. "Paman Yamato menahan kami di rumahnya dan memberi macam-macam oleh-oleh. Di tasku juga ada oleh-oleh untuk kakak," jawab Konohamaru sembari menatap sosok Sakura yang semakin mendekat ke arahnya. Tangan pemuda SMA itu masih menggenggam gagang pendorong kursi roda ayahnya. "Um… kata dokter, keadaan ayah semakin baik, Nee! Tak lama lagi ayah tak perlu pakai kursi roda," serunya girang.
Hiruzen tersenyum sembari mengangguk mengiyakan.
Kali ini Sakura tersenyum lebar lagi. Entah berapa banyak gadis itu tersenyum dalam sejam terakhir. Sedikit banyak hatinya terasa ngilu. Andai Naruto jadi miliknya—benar-benar jadi miliknya, tak hanya hatinya—kesempurnaan kebahagiaannya akan lengkap.
Sekali lagi gadis itu menoleh ke belakang. Menatap jauh direksi tempat Naruto berdiri di bayangan gelap belakang Paradise. Ah, kali ini Shikamaru, si pemalas itu berdiri tak jauh di belakang Naruto. Naruto tetap sama, tetap menatapnya sampai sekarng.
"Nee?" Konohamaru melengkah maju, melepas genggaman kursi roda dan mendekat di samping Sakura untuk melihat tampang kakaknya yang tersenyum miris. Mata pemuda itu masih dapat menangkap jelas garis-garis jejak air mata yang terlukis di wajah merona Sakura. "Apa dia menyakitimu lagi?" tanya Konohamaru tegas. Nada suaranya kali ini meninggi meskipun suaranya tak terlalu keras—berusaha tak mengusik ayahnya yang menatap keduanya dari belakang.
Sakura kali ini menoleh dan menatap sosok sang adik. Tangan lembutnya menyentuh kepala Konohamaru sebelum akhirnya mengacak rambut jabrik adiknya. Gadis itu mendekatkan bibirnya di telinga Konohamaru sambil berbisik pelan, "Selain kau dan ayah, dia adalah alasan kakak tetap bahagia."
Konohamaru masih terpaku dengan jawaban kakaknya saat gadis itu menyingkir dan mendekat pada ayahnya, mengambil alih tugas mendorong kursi roda.
"Baka, ayo masuk rumah… mau sampai kapan kau melamun di situ?" serunya sambil tersenyum.
Konohamaru menoleh. Ia tak tahu—masih tak tahu—apa arti ucapan Sakura. Ia bingung, sungguh, karena setahunya pemuda Namikaze itu pernah membuatnya menangis, tapi kini membuat kakaknya tertawa dan membicarakan soal kebahagiaan setelah sekian lama akrab dengan kata 'benci dan dendam'. Senyum.
Tak apalah. Yang penting kakaknya tersenyum, itulah pikiran Konohamaru. Kebahagiaan keluarganya adalah kebahagiaannya juga. Setelah sekian lama, akhirnya ia menatap senyuman tulus dari kakaknya.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Hari demi hari terlewat. Ketika dunia terus berputar, Paradise akhirnya ikut mengikuti pergerakannya. Sosok penginapan malam itu kini berubah. Surga yang katanya neraka itu kini mencoba bangkit sebagai surganya dunia. Bukan lagi dalam arti negatif, tapi dalam arti positif.
Perlahan dimulai pada malam itu. Malam perubahan bagi Sakura, yang ternyata juga berlaku bagi Tsunade. Wanita itu hanya bisa tersenyum bahagia menatap rekonstruksi bangunan Paradise tepat di depan matanya.
"Hei Kiba! Hati-hati membawa kayunya!" seru Jiraiya.
Kiba merengut kali ini, "Hei Pak Tua, kau kira aku ini kuli!"
"Apa bedanya?" ejek Jiraya enteng. Lelaki itu mendekat pada sosok Tsunade.
"Jangan menyuruh-nyuruh Kiba seenakmu. Dia sudah seperti anakku sendiri," ungkap Tsunade.
"Ah, anakmu kan anakku juga…" jawab Jiraiya—yang sukses membuat Tsunade merona merah.
Duakk.
"Aduu~h…" keluh Jiraiya memegangi kepalanya.
"Jangan menggodaku," ungkap Tsunade sambil melengos pergi mendekat pada Karin.
"Nona Tsunade, coba cicipi…"
Sumpit yang seharusnya bertengger di jari Tsunade malah digunakan Suigetsu yang seenaknya mencicipi masakan Karin. "Tidak enak, Kacamata. Kau payah!"
"Brengsek! Aku tidak memasak untukmu. Aku sudah minta ajari Shizune-nee susah payah tahu!" balas Karin. Gadis itu menyodorkan piring yang dipegangnya pada Tsunade lalu berlari mengejar Suigetsu.
Tsunade hanya bisa menggelengkan kepala. Ia jadi ingat masa kecilnya saat mengejar Jiraiya saat di Kyoto dulu. Wanita itu tersenyum lalu memandangi jari tangannya. Sebuah cincin tersemat di sana. Indah.
Slruup.
Mata Tsunade melebar. Ia lalu memandangi masakan Karin di tangannya. Enak.
"Kiba, kayunya!"
"Pak Tua, jangan memerintah saja! Bantu aku! Juugo, kemari!"
"Bagi seorang novelis sepertiku, tangan adalah sesuatu yang berharga…"
"Hei, Pak Tua, jangan pergi!"
"Aku mau menelepon keponakanku. Ia akan kemari…"
"Suigetsu, kemari kau!"
"Kejar aku, Nenek sihir!"
Tsunade mengelus dadanya. Ramai sih iya. Tapi kapan selesainya pekerjaan mereka semua? Wanita itu lalu mendekat pada sosok yang berdiri di pintu utama dengan tongkat penyangga di sisi tubuhnya, "Hiruzen-san…"
Lelaki itu tersenyum hangat, "Masakan Konohamaru s-sudah selesai. Ia m-membuat resep sesuai instruksi dari Sakura."
"Kalau begitu mari makan denganku… sekalian membicarakan bisnis."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Ino dan Sakura menghentikan langkahnya, mengacuhkan orang-orang berjas dan wanita –wanita cantik bergaun yang melewati tempat mereka berdiri. Dalam hati Ino bertanya-tanya mengapa ia menyanggupi undangan tak jelas dari sahabat Sakura?
"Ino, kenapa berhenti?"
Gadis pirang itu menoleh pada Sakura dengan tatapan bingung, "Apa kita memang perlu masuk ke dalam?"
"Shikamaru kan memang mengundangmu—maksudku mengundang kita," jawab Sakura sekenanya. "Lagipula di masa lalumu kau pasti tak asing kan dengan pesta seperti ini."
"Hah-hah-haaha," ejek balik Ino. "Tapi aku tak pernah datang ke pesta yang tak kukenal, Mademoiselle Sakura…"
"Ah, terserah kau lah…" jawab Sakura sebelum akhirnya seorang security gedung menghampiri keduanya.
"Apa Anda berdua membawa undangan?"
Ino hanya mengangguk malas sambil memberikan dua lembar undangan yang pernah disodorkan Shikamaru beberapa hari lalu.
Keduanya akhirnya melangkah memasuki gedung sebelum akhirnya langkah keduanya lagi-lagi terhenti. Sepertinya ia sempat melihat tulisan 'temu kangen' sebagai acara utamanya. Tapi kenapa semua tamu undangan terlihat glamour?
Sakura dan Ino meringis sebelum memandangi penampilan mereka satu sama lain. Kalau bicara soal mewah, keduanya mempunyai puluhan koleksi kimono mewah di rumah, tapi apa harus memakai kimono? Sedangkan sekarang mereka hanya memakai gaun bepergian biasa.
Sakura memakai celana panjang berwarna putih dengan dress pink serta cardigan jaring berwarna putih sementara Ino hanya memakai atasan ungu dengan kerah ala maid juga rok selutut bercorak abstrak. Tak bisa dibilang jelek memang, tapi kalau sekelilingnya memakai gaun, tetap saja terasa aneh kan?
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Terima kasih telah mengundang kami," ucap Deidara mewakili kedua orang tuanya.
Inoichi hanya bisa tersenyum mengangguk.
Shikaku menepuk bahu Inoichi pelan, "Jangan sungkan padaku Inoichi, um… kalau soal mengundang kalian, sebenarnya puteraku, Shikamaru, yang memaksa. Aku sendiri bingung saat mau mengantar undangan ke rumahmu, tapi malah ia yang ngotot untuk datang pada keluarga kalian."
"Ya… Shikamaru puteramu itu benar-benar pemuda baik… Shikamaru… usianya pasti sekarang sebaya dengan puteriku. Entah ada di mana ia sekarang…"
Shikaku hanya tersenyum sambil melirik puteranya dari kejauhan yang mengangguk padanya. Dasar bocah pemalas itu!
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Ah itu kan Shikamaru!" seru Sakura cepat sambil menarik bahu Ino sementara tangan kanannya menunjuk arah Shikamaru. Sang Mademoiselle Sky hanya melirik sekilas. Mata aquamarine-nya sempat bertatapan dengan mata onyx sang penerus keluarga Nara.
Sakura merengut sebal melihat sahabat pirangnya kembali memandangi sajian di hadapannya sambil sibuk memasukkan berbagai macam makanan ke dalam piring bulat di tangannya.
"Apa kau menyangupi undangan ini hanya untuk makan, Ino?" tanya Sakura sambil memicingkan matanya.
Gadis pirang itu memutar bola matanya sesaat. Ia malas menanggapi ocehan Sakura. Gadis pink itu memang terlihat jauh lebih ceria akhir-akhir ini. Cahaya mata emeraldnya terlihat bersinar tiap kali ia bicara, hanya saja Ino merasa Sakura agak terlalu bawel.
"Kira-kira ini boleh dibungkus pulang tidak?" tanya balik Ino.
Sakura sukses melongo. Ia hanya menggelengkan kepalanya heran sambil mendengus kesal. "Aku mau ke toilet dulu…" ucapnya pelan. Melihat tak ada respon berarti dari Ino, Sakura memilih melengos pergi.
Bukannya apa-apa. Bukan juga ia tak menghargai undangan atau lebih tertarik dengan hidangan pesta yang menggiurkan, tapi… sungguh, bukan ia yang mengalihkan pandangan pertama kali. Shikamaru yang melakukannya. Saat bertukar pandang tadi, ia yakin Shikamaru menyadari keberadaannya di pesta ini. Apalagi dengan penampilan 'biasa' seperti ini, si jenius itu akan lebih mudah menemukannya. Tapi nyatanya… sudah susah payah ia dan Sakura naik kereta sore untuk datang ke pesta yang membosankan ini, Shikamaru malah mengacuhkannya. Yang benar saja? Tahu begini ia memilih tidur di rumah berbantal perut Akamaru. Itu jauh lebih menyenangkan.
Ino mengedarkan pandangannya sesaat sebelum menatap lagi hidangan takoyaki yang mengelilingi sisi piringnya. Lapar… persetan dengan pesta menyebalkan ini.
Sementara itu Sakura perlahan melangkah keluar dari pintu kamar mandi. Gadis itu menghentikan langkahnya sesaat untuk sekedar menarik napas panjang. Ah, pesta keluarga Nara dan para koleganya. Apa ia juga perlu menemui paman Shikaku dan bibiYoshino? Sudah lama ia tak melihat keduanya. Rindu memang, sangat malah. Tapi kalau benar-benar bertemu, apa yang akan ia katakana? Belum lagi soal keadaan keluarganya sekarang. Bagaimana kalau seandainya mereka bertanya soal hidupnya setahun belakangan?
Gadis itu menarik napas lagi lalu melangkah maju sebelum akhirnya…
Brukk.
Sakura terjengkal ke belakang saat tubuhnya menabrak keras seseorang yang sepertinya terburu-buru ke kamar mandi. Tanpa mengangkat wajahnya pun ia tahu kalau orang yang ditabraknya juga terjerembab di lantai sama sepertinya.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" teriak Ino dari kejauhan. Sakura mengangkat wajahnya cepat dan dapat melihat tatapan khawatir dari Ino yang saat ini berjalan cepat ke arahnya.
Tunggu!
Pemuda yang ditabraknya ini terlihat mirip dengan…
"Ino?"
Mata emerald Sakura hanya bisa melebar saat mendengar pemuda di hadapannya menyebut nama sang Mademoiselle Sky. Ia kenal Ino?
Sedangkan Ino tak kalah kagetnya. Matanya sama-sama melebar. Hanya saja… Sakura dapat melihat ada bayangan air di sana yang semakin lama semakin jelas terlihat. Sakura masih terduduk di tempatnya saat pemuda itu bangkit berdiri dan berhadapan dengan Ino.
"D—Dei….nii?"
Mata Sakura melotot kali ini. Nii-san? Ia jelas mendengar Ino menyebut 'kakak' pada pemuda itu meski suara Ino terkesan pelan. Sangat pelan malah. Sakura tak menyangkal bahwa keduanya mirip. Sama-sama blondie. Sama-sama punya mata yang lebar. Dan dia memang… kakak Ino. Astaga…
Belum sempat Ino berkata apa-apa, sosok pemuda yang dipanggil kakak oleh Ino itu sudah mendekapnya erat. Sangat erat hingga Sakura bisa merasakan sesak saat melihatnya. Sebuah keluarga. Ino masih memiliki keluarga. Hari ini… akhirnya Ino melihat lagi sosok keluarga yang dirindukannya.
Air mata Ino tumpah. Ia tak ingin menangis. Hanya saja matanya terasa sangat panas saat dadanya terasa hangat oleh pelukan Deidara, kakaknya yang sudah lama tak ia temui. Sosoknya masih tetap sama seperti terakhir mereka bertatap muka. Hanya saja tubuhnya kini lebih tinggi, suaranya lebih berat, dan tubuhnya lebih kurus.
Ino membuka matanya yang tergenang air. Ia sempat mengedipkannya berkali-kali untuk membuat pandangannya jelas. Hingga akhirnya mata birunya menangkap sosok Shikamaru yang berdiri tak jauh di belakang Deidara. Shikamaru… kalau ini semua ulahnya, itu artinya tak hanya Deidara, tapi juga…
Mata Iino terbelalak. Entah apa yang kini mengontrol pikirannya, gadis itu melepas pelukan hangat Deidara lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Keluar. Ia harus cepat pergi dari tempat ini. Seluruh pertahanannya bisa runtuh sebentar lagi.
Pintu keluar. Tak jauh di belakang Shikamaru.
Greb.
Nyatanya langkah Ino terhenti saat genggaman kuat Shikamaru menahan lengannya. Pemuda itu tak menoleh atau bahkan melirik ke arahnya. Ino gemetaran. Gemetar hebat malah. Ia yakin Shikamaru dapat merasakannya juga dari sentuhan tangannya.
Ino melirik Shikamaru takut-takut, berharap pemuda itu menatapnya balik dan melihat betapa ia ingin pergi dari tempat ini. Detik ini juga.
"I—Ino?"
Namanya terdengar lagi dari mulut seseorang. Bukan Sakura, bukan Deidara, bukan juga Shikamaru. Suara inilah yang paling ia rindukan selama dua tahun ini. Pemilik suara inilah yang membuatnya tak pernah berpikir untuk menyerah dalam hidupnya. Pemilik suara inilah yang potretnya tetap tersimpan rapi dalam lipatan dompetnya sekalipun dompet miliknya telah berganti puluhan kali. Pemilik suara inilah yang paling ia rindukan, sekaligus paling takut ia temui.
Yamanaka Inoichi. Salah satu dari sekian orang yang namanya tersebut dari bibir Ino tiap gadis itu melantunkan doa.
"I—Ino… itu kau kan?" panggilnya sekali lagi dengan suara gamang.
Bibir Ino bergetar. Ia ingin berbalik dan menatap sosok ayahnya. Ingin sekali. Keinginan itu kuat sekali sampai-sampai membuat dadanya sesak. Tapi tubuhnya terasa kaku. Sungguh, ia tak siap. Tak pernah siap.
Tangan kiri Ino terangkat dan menyentuh tangan kanan Shikamaru yang masih mencengkeram erat lengan kanan Ino agar gadis itu tak pergi.
"Sh—Shi—"
"Ini yang terakhir," ucap Shikamaru pelan. "Ini terakhir kalinya aku mencampuri urusanmu seenakku sendiri." Gadis itu masih menangis tanpa suara sampai akhirnya Shikamaru menoleh, "Aku ingin melihatmu bahagia."
"H—Hime… ayah mohon, kemari… k—kemari… kembali pada ayah…"
Tangis Ino pecah perlahan. Gadis itu memutar tubuhnya dan mendapati sosok ayahnya yang kurus. Pipinya terlihar tirus. Garis wajahnya yang tegas dan ditakuti orang dulunya itu tak tampak lagi kali ini. Sungguh menyakitkan melihat ayahnya saat ini.
Tak ada perasaan lain selain rasa berdosa karena membuat ayahnya seperti ini.
Ino berjalan tersendat dan pelan mendekat pada sosok ayahnya. Lelaki tegas itu merentangkan tangannya, seolah tak sabar menunggu sang putri tercinta datang ke palukannya. Sekelebatan masa lalu saat ia masih kecil terlintas di otak Ino. Tiap kali ayahnya itu memeluknya erat setelah berlari ke arahnya.
Inoichi tersenyum lembut.
"A—Ayah… Ayah…"
Gadis itu akhirnya menghambur di pelukan Inoichi. Meluapkan segala emosinya dalam dekapan ayahnya. Isakannya pecah dan terdengar makin keras dalam pelukan Inoichi. Adegan yang tadinya tak diperhatikan orang-orang kini menarik pandangan tamu lain.
Shikamaru mendesah pelan. Biasanya ia akan menggumamkan kata 'merepotkan' untuk hal seperti ini. Tapi nyatanya kali ini tidak. Ia hanya tersenyum melihat sosok Ino yang menangis bahagia dalam pelukan ayahnya.
Ino pernah berdebat dengannya tentang definisi kebahagiaan bagi orang seperti Shikamaru—kalangan atas—dan Ino—kalangan bawah—yang berbeda. Namun pada akhirnya, tak peduli siapapun itu, kebahagiaan seperti ini tetap sama bentuknya kan?
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Ini kemeja Anda, Tuan Sasuke."
Sasuke menoleh sesaat pada Kabuto lalu tersenyum tipis. "Letakkan saja di sana, Kabuto."
"Baik." Kabuto sudah siap-siap berbalik pergi saat Sasuke memanggilnya lagi.
"Kabuto?" panggil Sasuke pelan. Pemuda itu dapat melihat Kabuto berbalik ke arahnya dan mengangguk. Sasuke menimang benda besar di tangannya lalu menyerahkannya pada Kabuto. "Tolong letakkan itu di mobil."
"Besok Tuan akan membawanya ke gereja?" tanya Kabuto heran. "Bukankah Tuan hanya ke gereja sebentar untuk memberi ucapan selamat untuk pernikahan besok?"
"Aku tidak mungkin memainkan biola di pernikahan orang, Kabuto…" jelas Sasuke. "Seperti yang kau tahu aku hanya mampir sebentar di pernikahan besok. Aku bukan mau memainkannya di sana, aku mau memainkannya di tempat Sakura. Kau bilang besok kan peresmian Paradise yang baru?"
"Kenang-kenangan untuk Nona Sakura?"
Sasuke hanya tersenyum pelan, "Yah, bisa dianggap kenang-kenangan sebelum aku meninggalkan Jepang."
"…"
"Aku memainkannya untuk diriku sendiri sekaligus untuk Sakura, mungkin agar aku dan Sakura sama-sama tak merasa sakit karena kalah."
Kabuto memandang tuannya dengan pandangan nanar. Ia hanya menatap sosok Sasuke yang berbalik mendekat ke balkon dan memandangi langit malam di luar. Ia menghela napas pelan. Nona Hyuuga Hinata. Kabuto bukan tidak mengenalnya. Bahkan Kabuto bisa bilang bahwa Sasuke tak pernah kalah. Pemuda itu sebenarnya sudah memenangkan hatinya. Sasuke hanya belum memenangkan takdir kebahagiaannya.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Kushina melangkah masuk perlahan ke kamar puteranya. Gelap. Sepertinya Naruto sengaja mematikan lampu kamarnya. Meski dalam kegelapan, Kushina tetap melangkahmendekat ke ranjang. Matanya dapat menangkap sosok tuxedo pernikahan tergeletak begitu saja di atas ranjang sementara sang pemiliknya lebih memilih duduk di pinggir jendela kamarnya.
"Naruto?" panggil Kushina pelan.
Naruto tak langsung menoleh. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh pada sosok ibunya yang berdiri tak jauh dari rangka ranjangnya. "Ibu?"
"Ya?"
"Apa Ibu tahu bagaimana caranya mengubah takdir sesuai harapan kita?"
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Ino tetap tak mau mengangkat wajahnya dari bahu Inoichi. Ia lelah. Sungguh kelelahan karena menangis. Air mata kerinduan yang ia simpan dua tahun lamanya telah tumpah dalam waktu kurang dari sejam. Inoichi tak protes, lelaki itu membiarkan kemejanya basah dan kusut oleh dekapan Ino. Ia hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Isakannya sudah terhenti sejak tadi namun gadis itu tetap tak mau melepas pelukannya.
"Maaf, Shikaku," ungkap Inoichi pelan pada sosok Shikaku yang berdiri tak jauh dari sisi Shikamaru. "Sepertinya aku 'sedikit' mengacaukan pestamu."
Yoshino hanya tersenyum sambil menepuk bahu Shikamaru kasar sebelum akhirnya mendorong putranya maju. "Sana, Pemalas."
"Jangan khawatir Inoichi. Aku ikut senang," jawab Shikakau tenang. "Lagipula acara ini memang ide Shikamaru untukmu dan juga putrimu."
Ino tertegun sesaat. Sebenarnya ia tak ingin lagi mempedulikan hal lain selain ayahnya untuk malam ini. Ia tak peduli lagi pada apapun. Hanya saja ucapan ayah si jenius berambut nanas itu membuatnya terpaksa mengangkat wajahnya dari bahu Inoichi.
Acara pesta ini memang sengaja untuknya dan ayahnya? Benarkah itu?
Mau tak mau Ino menoleh ke belakang dan menatap Shikamaru yang berdiri dengan muka tertunduk tepat di belakangnya. Ino sempat terdiam dan menunggu Shikamaru yang berbicara tapi nyatanya pemuda itu masih terdiam dan membuat suasana makin kaku. Belum lagi senyuman—seringai mencurigakan—dari kedua orang tua Shikamaru yang memperhatikannya sejak tadi.
"Shik—"
"Kau marah padaku?" tanya Shikamaru enteng. Pemuda itu akhirnya mengangkat wajahnya meskipun pemuda itu tak mau menatap matanya. Shikamaru lebih sibuk membuang mukanya kesana-kemari asal tidak menatap mata aquamarine Ino. "Lagi-lagi aku mencampuri urusanmu seenakku sendiri."
Ino menghela napas pelan sebelum mengangkat bahunya dan tersenyum. "Aku tidak marah. Kali ini aku tidak marah. Aku tidak akan marah pada siapapun malam ini…"
"Kalau begitu kau tidak boleh marah padaku setelah ini…"
"Hah?"
"Aku tidak melakukan semua hal merepotkan ini tanpa alasan. Aku memang ingin sekali mempertemukanmu dengan keluargamu, tapi ada hal lain yang juga ingin kulakukan."
Ino memiringkan kepalanya bingung.
Shikamaru menatap Inoichi perlahan lalu membungkukkan kepalanya hormat. Inoichi hanya bisa tersenyum mengangguk. Mengerti apa maksud Shikamaru sebenarnya.
"A—Ayah?" tanya Ino pada ayahnya, mencoba meminta bantuan ayahnya untuk memberitahu apa maksud Shikamaru.
Greb.
Lagi-lagi Shikamaru meraih tangannya. Kali ini bukan lengannya tapi jemari tangan kirinya sebelum tangan kanannya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sakura yang sedari tadi berdiri di samping Deidara mengangkat telapak tangannya untuk menutup mulutnya yang ternganga tak percaya. Ino… Shikamaru…
"Would you marry me?"
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Teng teng teng…
Suara berat lonceng gereja menggema berkali-kali. Sang gadis Hyuuga yang pagi ini menikah masih tetap mematut sosok cantik raganya yang terpantul di cermin di hadapannya. Ia tidak bergerak. Dan ia mengacuhkan ocehan orang-orang di sekitarnya yang sejak tadi lalau lalang masuk entah itu sekedar mengantar bunga, kado, buket ucapan selamat, atau bahkan tata rias.
Sungguh, ia pernah berpikir bahwa hari ini akan jadi hari yang paling membahagiakan dalam seumur hidupnya. Pernah.
Tapi kali ini sosoknya beku di atas kursi. Gaun putih yang begitu cantik yang melekat di tubuhnya membuatnya kaku tak bergerak. Pancaran keindahannya terlalu menghipnotisnya sampai-sampai ia seperti terseret dalam lamunan tak berujung. Pernikahan ini…
"Nee?"
Sebenarnya bukan hanya ia yang terdiam sedari tadi. Sosok adiknya itu sejak tadi juga menemaninya dalam diam. Hanabi setia menungguinya di sampingnya sedari tadi. Mungkin memikirkannya, atau mungkin juga memikirkan soal dirinya sendiri. Adiknya bukan gadis kecil lagi. Hanabi juga menghadapi persoalan hati yang menyedihkan.
Mengapa kebahagiaan jadi terasa sangat sulit diraih?
Hanabi menengok pelan ke jendela sebelum angkat bicara, "Sepertinya tamu yang datang semakin banyak. Acaranya sebentar lagi dimulai…"
"…"
"Nee, sebai—" kalimat Hanabi terhenti saat ia berbalik dan menengok ke arah pintu dan mendapati sosok seseorang berdiri tegap di sana. "S—Sasuke-nii?" ungkapnya tak percaya.
Kata yang meluncur dari mulut Hanabi barusan sontak membuyarkan lamunan Hinata. Gadis itu dengan cepat menoleh ke arah pintu untuk memastikan. Benar. Sosok itu…
Pemuda raven itu memandangnya sayu dari pintu ruangan ganti.
Uchiha Sasuke.
Hanabi cepat-cepat menghampiri Sasuke dan melewati pemuda itu. Ia sempat menengok kanan kiri sebelum akhirnya mendorong punggung Sasuke ke dalam ruangan lalu cepat-cepat menutupnya dari luar.
"Kalian berdua bicaralah. Waktunya tak banyak. Aku akan menjaganya dari luar…"
"Hn."
Mata Hinata hanya bisa melebar sambil melirik Hanabi yang yang mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya pintu ruangan tertutup.
Klek.
Siiing.
Sepi. Sasuke rupanya memilih diam kali ini. Dan Hinata tak tahu apa yang harus diucapkannya sekarang. Hinata akhirnya memutuskan untuk bicara duluan."K—Kau datang Sasuke-kun. Kukira k—kau tak akan datang."
"Hn," jawabnya singkat. "Tadinya aku tak berniat datang dan ingin langsung ke Sapporo. Tapi ini hari pernikahanmu. Kau sahabatku."
Entah mengapa kalimat itu menusuk Hinata begitu tajam. Datar dan tanpa emosi. Gadis itu hanya tertunduk.
"Dan lagi, aku tak tahu apa kita bisa bertemu lagi setelah ini…" ungkap Sasuke lagi sambil menyandarkan punggungnya di daun pintu yang tertutup, mencoba merilekskan tubuhnya sendiri.
Hinata tak bisa mengatakan apa-apa kali ini. Lidahnya kelu. Jika ini pertemuan terakhirnya dengan Sasuke, ia ingin bisa berkata banyak dengan hal dengan Sasuke.
Tidak.
Ia tak ingin ini jadi pertemuan terakhirnya.
"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu, Hinata."
Hinata mengangkat wajahnya perlahan dan menatap mata onyx Sasuke. Entah kenapa, yang ada ia malah menangis. Pemuda itu mendesah pelan hingga akhirnya mendekat ke meja rias Hinata dan menundukkan wajahnya sementara Hinata sedikit mendongak.
"Aku hanya bisa berharap kau tidak menjadi gadis cengeng lagi," ungkapnya sambil mengecup kepala Hinata pelan. Wangi lavender yang ia rindukan menyeruak meracuni indera penciumannya. Sekalipun pemuda itu tersenyum, nyatanya Hinata malah menangis dan merusak sedikit riasan di wajahnya. Jangan berpikir bahwa Sasuke tak menangis. Pemuda itu lelah menangis dalam hatinya.
"Sa—Sasuke, ak—aku…"
"I pray for your happiness. Sayonara…"
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Kushina merapikan dasi puteranya perlahan. Ia bukannya tak ingin memukul kepala Naruto dengan keras—seperti yang biasa ia lakukan—yang terus memasang wajah sayu. Hanya saja wajah melankolis Naruto malah membuat hatinya teriris. Benarkah puteranya ini tak bahagia?
"Naruto?"
"Aku tak apa-apa, Ibu," jawab Naruto pelan sambil bersiap pergi.
Kushina adalah ibunya, dan wanita itu tahu bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku harus ke altar sekarang."
"Naruto?"
Naruto hanya menoleh ke belakang tanpa menoleh pada sosok ibunya.
"Semalam kau bertanya tentang takdir yang kau inginkan kan? Apa kau tidak bahagia dengan takdir yang berjalan sekarang, Naruto?" tanya Kushina.
Naruto terdiam. Menunggu jawaban dari mulut ibunya.
"Takdir itu milikmu. Tak ada orang lain yang bisa mengubahnya selain kau sendiri, puteraku… find your own happiness, Son."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Kak Gaara?"
Gaara yang sebenarnya sibuk berbincang dengan tamu lain di pintu gereja menoleh pada sosok gadis di belakangnya. "Hanabi, ada apa?"
"Pinjam kunci."
"Kunci?"
"Kunci mobil," jawab Hanabi singkat sambil menoleh kanan-kiri, berharap tak ada keluarganya yang memperhatikan.
"Untuk apa?" tanya Gaara lagi.
"Aku membutuhkannya untuk nanti."
Gaara tak perlu mempertanyakannya lagi. Tanpa ragu pemuda stoic itu tersenyum dan menyerahkan kunci mobilnya.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Apakah upacaranya bisa kita mulai?"
Suara sang pendeta mulai menggema mendominasi hall gereja. Hinata sempat melirik Naruto, sekedar ingin tahu ekspresi calon suaminya. Nyatanya ia tak menemukan apa yang seharusnya terpampang di ekspresi seorang mempelai pria pada umumnya. Naruto tak menginginkan pernikahan ini.
Bagaimana dengan dirinya?
"Setelah saya bacakan doa, kita mulai sumpahnya. Anda siap, Namikaze Naruto… Hyuuga Hinat—"
"Hinata, Ak—aku tak bi…" kalimat mendadak yang meluncur dari mulut Naruto terhenti saat gadis Hyuuga itu menghadap ke arahnya sambil tersenyum dan setengah menangis. Tak jauh beda dengan keadaannya.
"P—Pendeta Hidan, j—jangan ucapkan sumpahnya," ucapnya sambil menunjukkan tangan kirinya pada sang pendeta selagi tangan kanannya meraih tudung putih yang tersemat di atas kepalanya.
Apa yang dilakukan gadis itu kemudian membuat semua tamu undangan terbelalak kaget.
TBC
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
At the backstage
NIGHT : Jyahh, udah apdet ngaret, dibikin ngambang pula… rush pula… maksa beneer…
SAKURA : Benar-benar author gak tanggung jawab
HINATA : M-Mohon author l-lain tidak meniru ya…
NIGHT : Hehehe, night tadinya juga bingung mau motong ceritanya dimana. Habisnya gak kerasa kok panjangnya jauh melebihi chapter kemarin…
SASUKE : Aku gak terlalu ooc tuh?
NIGHT : OOC itu indah *dikubur idup-idup*
INO : Apaan tuh bagian akhirku?
NIGHT : Hahahaha, maaf… dulu sketsa awalnya yang kepikir kisahmu berakhir di bagian ketemu Inoichi. Urusan romance mah masa bodo *dipelototi NaRa'UzWa'* nah, adegan lamaran yang keselip itu juga dadakan. Makanya abal sangat!
SHIKAMARU : Benar-benar payah… Mendokusai!
NIGHT : Halah… jangan banyak protes, kalian artisnya, night sutradaranya. Night bingung dah! Kok malah bagian NS-nya rada lempeng dibanding ShikaIno. Makanya night pernah bilang kalo NS-nya malah maju di fic WAMN… *nangis seember* Oh iya, ayo tebak bagian akhirnya. Udah bisa dibayangin tuh! *lirik-lirik NaruNarurin*
ALL CHARA : Oke, waktunya REVIEW Ya…
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Hm… Chapter 11 : Happiness selesai. Lammonyaaaa minta ampun memang. Ah, tapi kalau dibanding ini, kayaknya fic Wedding Dress lebih ngaret update-nya *ngaku dengan polosnya*
Ada yang gak puas ma romens ShikaIno-nya? Yang mau bikin lanjutan versi reader ndiri ya monggo… banyak hal yang bisa digali lho… misal Shikaku dibikin gak setuju… misal munculin sosok orang ketiga… misal juga munculin opini negatif masyarakat karena Ino mantan Geisha… *jadi inget pilem India-nya Pretty Shinta ma Salman Khan* Jyah! Bollywood… *atau Pretty Woman-nya Julia Robert* Wew, Hollywood…
Bagian JiraTsu juga silakan dibayangin ndiri. Bagian KonoHana ma SasuHina lanjut minggu depan. Bagian SuiKarin silakan dikembangin sendiri. Kiba? Ntar dah night pasangin ma ponakannya Jiraiya… NaruSaku jelaslah bagian chapter depan. The Last Chapter! Aduh, boyok'an rasanya… jam kompie sekarang 04:36 WIB *ngetik dengan mata 5 watt* Maka dari itu harap dimaafkan jika ada typo *lirik-lirik Bananaprincess yang biasanya sudi ngedit plus komen celah2 cerita night*
*Adit: yang bener aja….* Cerita ini penuh celah… silakan kembangkan bagi yang berminat!
Sekarang… waktunya…
Please…
R E V I E W
I
I
v
