The Heirs

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichie Ishibumi

Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain

DevilNaru, SmartNaru

" Naruto sudah memperoleh 3 anggota peerage ?! Serius ?! " tanya Falbium dengan menggebu-gebu sangat bertolak belakang ketika ia dalam bekerja.

Ajuka mengangguk singkat, mengabaikan antusiasme yang sangat jarang ditunjukkan oleh sahabatnya tersebut. Maou Beelzebub itu menyipitkan matanya pada sahabatnya " Kuharap kau sedikit memperlihatkan semangat ini kala bekerja "

Sirzech dan Serafall mengangguk setuju.

Falbium hanya mendengus dan kembali menyandarkan kepalanya pada meja, kembali pada kebiasaan malasnya. Ajuka menghela nafas melihatnya, ia tahu itu tanda baginya untuk melanjutkan ceritanya.

" Aku tidak tahu dua anggota barunya, hanya yang pertama yang kuketahui. Dan dia … " Ajuka menjeda sejenak, memilih kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan Hidan " Terobsesi pada Naruto"

Namun kata yang ia pilih malah membuat ketiga sahabatnya itu merinding. Ajuka segera menyela " Ia menganggap Naruto sebagai Tuhan yang patut dipuja "

Sirzech, Serafall, dan Falbium diam sejenak, mencoba mencerna maksud Ajuka.

" Itu … terkesan menarik " komentar Sirzech dengan senyum terpaksa di wajahnya.

" Nah, setidaknya aku dapat bernafas lega mendengar anak angkatku dalam keadaan baik-baik saja. Sekarang … " Falbium menegakkan postur tubuhnya. " Aku telah memperoleh laporan lengkap mengenai tragedy Paimon "

Sirzech, Serafall, dan Ajuka tersenyum tipis melihat perubahan drastic sikap Falbium ketika membahas Paimon. Ketiganya sangat mengetahui hubungan deka tantara Minato dan Falbium, mereka rival satu sama lain, saling mendukung untuk menjadi yang terkuat. Bahkan ketika sempat berada di sisi berseberangan, Falbium yang pertama mempercayai Minato ketika Lord Paimon itu memilih berpaling pada New Satan pada Civil War. Persahabatan yang erat itu membuat Minato menjadikan Falbium sebagai Godfather dari Naruto. Dan, percayalah … Falbium, iblis paling malas di jagat Makkai, segera mengajukan dirinya untuk menginvestigasi tragedy Paimon. Mereka masih mengingat jelas bagaimana Falbium yang sangat pasif mengeluarkan aura membunuh yang terakhir mereka lihat ketika perang.

" Kau yakin kita melakukan ini di kala para tetua tidak di sini ? " tanya Serafall. Mereka hanya berempat di kastil Gremory, tidak ada pengawal sama sekali, bahkan taka da Grayfia di sisi Sirzech.

" Tidak " Falbium segera menjawab " Jujur saja, aku menaruh rasa curiga pada beberapa tetua. Kalian akan mengerti setelah mendengar laporanku "

Sirzech, Serafall, dan Ajuka mengerutkan alis mereka. Apa Falbium baru saja mengatakan bahwa ada tetua yang bersekongkol dengan Old Satan ?!

" Semenjak awal aku memeriksa tragedy ini, satu pertanyaan berputar di kepalaku … " Falbium menjeda sejenak hanya untuk memijit pelipisnya yang mulai berkedut nyeri " Mengapa Minato menggerakkan seluruh anggota Peeragenya untuk fokus pada evakuasi iblis Paimon? Mengapa menempatkan setiap kelompok, 2 iblis peeragenya? Untuk evakuasi dalam keadaan darurat seperti itu, satu iblis per kelompok sudah cukup. "

Sirzech menyeletuk " Bukankah itu untuk lebih memudahkan koordinasi ? "

" Kurasa Falbium benar " Ajuka segera membalas ketika Sirzech menatapnya bingung " di antara kita berempat yang paling mengetahui anggota peerage Minato adalah aku sendiri. Seluruh anggotanya merupakan orang-orang elit yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya baik itu dalam hal pertempuran maupun penyelamatan. "

Serafall yang mulai mengerti kemana Falbium dan Ajuka berbicara mencoba mengkonfirmasinya " Jadi, menurutmu Minato memiliki maksud tertentu dalam membuat kelompok evakuasi ini ?"

" Benar " Falbium mengangguk " Pikirkan, ia memiliki monster-monster di dalam peeragenya. Urahara, Killer B, Hisoka, Yami dan banyak lagi. "

Sirzech mengangguk. Ia sama sekali tak meragukan para anggota Minato, terlebih pada Urahara. Pria itu merupakan Shinigami tangan kiri Hades, kekuatan dan kejeniusannya menjadikannya sangat berbahaya. Ia masih ingat bagaimana Queen Minato itu mengalahkan Grayfia dengan mudah.

" Yah, tapi kita bisa menganggap bahwa Minato lebih memilih untuk mengutamakan keselamatan warganya bukan ? Kita tahu bagaimana Minato lebih menempatkan yang lain dibanding dirinya sendiri " Serafall mencoba berpikir tentang apa yang berputar di otak Minato.

" Itu benar. Awalnya aku berpikir begitu" Falbium berbicara lagi, kali ini matanya tertuju pada Ajuka " Katakan Ajuka, dibandingkan antara kau dan Minato, siapa yang lebih jenius ? "

Sirzech dan Serafall bingung atas pertanyaan di luar topik Falbium ini. Namun, jawaban dari Ajuka segera membuat mereka mulai berpikir ulang " Aku tak akan mundur ketika menyatakan bahwa aku lebih jenius dalam hal sihir. Namun, dalam hal taktik, pertempuran ataupun strategi … "

" Tepat sekali. Minato adalah sosok iblis paling brilian dalam masalah ini. Aku sangat yakin ia menyimpan sesuatu, sesuatu yang menjadi alasan mengapa ia memilih untuk membunuh dirinya sendiri "

" Tunggu ! Apa maksudmu dengan membunuh dirinya sendiri ?! " Serafall benar-benar terkejut dengan pernyataan terakhir Falbium ini.

" Seperti yang kukatakan tadi. Seandainya Minato menggunakan beberapa bidak terkuatnya untuk fokus menumbangkan Old Satan, ia memiliki kesempatan untuk selamat dan tak perlu menggunakan Teknik penarik bulannya. Bukankah itu terdengar seperti ia telah merencanakan ini semua ?! "

Tidak ada yang bersuara untuk menentang Falbium atas pendapatnya sekarang.

Serafall menatap lembut Falbium yang menghela nafas panjang. Ia sangat mengerti di antara mereka berempat, Falbium lah yang paling terpukul akan kematian Minato. Namun … sesuatu masih janggal.

" Jadi … mengapa kau mencurigai para tetua ?"

Falbium diam sejenak " Aku belum memiliki bukti. Namun, firasatku mengatakan bahwa ada yang bermain-main di sini. Ada yang memberikan akses kepada Old Satan untuk memasuki Paimon, merusak system komunikasi hingga membuat bantuan terlambat."

" Untuk saat ini … aku akan menyelidiki ini seorang diri."

Sirzech, Serafall, dan Ajuka tak berkomentar banyak. Mereka sudah sangat senang dengan kerja keras Falbium. Namun, kata-kata Falbium jelas membekas di hati mereka. Secara tak langsung Falbium memperingati mereka akan sosok yang mengancam Makkai ke depannya. Tanpa di ketahui ketiganya, Falbium menatap ketiganya tajam

' Aku bahkan merasa salah satu dari kalian bertiga baik secara langsung maupun tak langsung turut andil dalam hal ini'

Chapter 10 : Assasination Plan Begin!

Sinon baru saja kembali dari lingkaran sihirnya. Ia telah selesai mempersiapkan segala hal yang ia butuhkan dalam misi kali ini. Ia telah menyiapakan makanan dan minuman secukupnya, segala peralatan juga telah ia poles dengan baik sehingga tak akan ada kesalahan teknik yang dapat menganggu misi yang ia jalani.

Hybrid Manusia-Nekoshou itu merasa merinding seketika merasakan 4 energi berbeda memasuki kota tersebut. Ia mengambil teropongnya, mulai mengamati pada arah dimana sensornya mengatakan kedatangan keempat energy tersebut dan seringai kejam terbentuk ketika ia melihat seorang pria tua yang membawa 3 iblis muda bersamanya berjarak 100 km dari tempatnya sekarang.

Sinon dengan tenang mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa kata dan segera mengirimnya.

Tak perlu waktu hingga sebuah balasan menghampiri ponselnya.

" Tunggu intruksi dariku." Sebuah kerutan terbentuk pada dahinya membaca pesan tersebut. Namun, ia tetap mengikutinya. Ia tak peduli bagaimana, yang terpenting adalah hasilnya, ia bias membunuh iblis!

Sementara itu di tempat lain Rudiger menyeringai setelah memperoleh tanda dari Sinon. Sensornya memang mengatakan kehadiran dari target mereka, namun ia tak dapat menentukan dengan tepat lokasi dari keempatnya. Di sinilah peran Sinon yang dengan kemampuan sensor Nekoshou nya sangat membantu.

" Baiklah. Saatnya menjalankan bagianku "

Lingkaran sihir terbentuk di depannya. Ia tersenyum ketika sebuah tekanan energy yang kecil mulai dapat dirasakan. Ini sudah cukup untuk memancing dan memecah target mereka. Namun, untuk menahan seseorang dengan kekuatan sekaliber Gubernur Da-tenshi, ia perlu persiapan lain. " Dengan ini, hanya perlu sentuhan akhir "

XoX

Naruto, Shikamaru, dan Le Fay melongo melihat pemandangan di hadapan mereka.

" Selamat datang di kota Hashima. Pada awal abad ke -19, kota ini mulai ditinggalkan karena cadangan batu bara yang menjadi daya tarik kota ini telah habis dieksploitasi " Jiraiya menjelaskan.

Shikamaru melihat bangunan-bangunan beton di sekelilingnya yang telah mulai ditutupi oleh tanaman-tanaman yang menjalar. Jalanan aspal yang retak di mana-mana serta infrastruktur lainnya yang terlihat begitu kuno dan kumuh dibandingkan Tokyo, tempat ia tinggal dahulu.

" Aku dapat melihat bagaimana megahnya kota ini ketika masa jayanya " gumam Le Fay dengan sinar mata yang sedikit meredup membayangkan bagaimana kota tersebut ketika masa jayanya.

Naruto mengangguk dan berpaling pada Jiraiya " Jadi, apakah ada petunjuk tentang kemungkinan keberadaan kelompok Paimon dari sumbermu "

Jiraiya menggeleng " Sayang sekali tidak ada. Hanya saja, beberapa peneliti ataupun arkeolog pernah mengatakan bahwa terdapat beberapa kejadian aneh terjadi di kota ini setahun belakangan ini. Paranormal yang tertarik dengan tempat ini juga mengatakan hawa negative yang besar bersarang di kota ini. Dan itulah mengapa, aku datang membawamu kemari "

Pernyataan terakhir Jiraiya membuat Naruto tersenyum kecil " Jika benar begitu, maka kemungkinan besar mereka berada di sini "

" Tempat yang cukup aman untuk mereka berlindung adalah tambang-tambang bawah tanah bekas penggalian batu bara. Aku yakin banyak tambang yang tersedia di sini. Apa kita harus memeriksanya satu per satu ? " Shikamaru mulai ikut dalam obrolan ini.

" Itu tidak diperlukan " tanggap Jiraiya cepat. Ketika memperoleh tatapan kebingungan dari ketiga iblis muda di hadapannya, Jiraiya menunjuk Naruto dan Le Fay. " Oi Gaki, bukankah kau bisa menggunakan sihir Paimonmu untuk merasakan keberadaan yang lain ?"

Naruto menggeleng pelan dengan cemberut di wajahnya " Normalnya aku dapat melakukannya dengan mudah. Namun, semenjak tangan ini muncul " Naruto mengenggam tangan besinya dengan tangan kirinya " Kontrol mannaku terganggu. Aku masih berlatih memperbaikinya kembali bersama Le Fay – san "

Shikamaru menundukkan kepalanya tanpa disadari yang lainnya. Perihal tangan besi Naruto, ia selalu merasa bersalah ketika melihat tangan tersebut, tangan itu terus mengingatkannya akan pengorbanan Naruto untuk menyelamatkannya dari Yashamaru.

Le Fay yang juga ikut ditunjuk Jiraiya mengangkat tangannya dan melambaikannya dengan panik " Kemampuan sensorku tidak sebaik Naruto – san. Aku hanya dapat menentukan lokasi sebuah energi tertentu maksimal hingga 100 meter. Selebihnya hanya sebuah gambaran sekilas yang tidak begitu jelas "

Jiraiya sedikit meringis mendengar ini " Aku lupa menanyakan kepada kalian terlebih dahulu. Kalau begitu, jalan yang terbaik untuk sekarang adalah seperti yang Shikamaru katakan. Kita akan terbagi menjadi dua kelompok " Petapa katak itu mulai memikirkan bagaimana pembagian kelompok yang tepat. ' Shikamaru dan gaki saat ini benar-benar tak bisa melakukan sensor, maka dari itu … "

Menepuk tangannya untuk menarik kembali perhatian para iblis muda tersebut, Jiraiya menyampaikan apa yang ia putuskan dalam benaknya.

" Shikamaru, kau ikut bersamaku untuk menjelajah bagian barat kota. Sementara Naruto dan Le Fay akan memeriksa bagian timur. Kita akan berkumpul kembali di sini ketika tengah malam. Kalian mengerti ? "

Ketiga iblis muda itu mengangguk serentak. Le Fay dan Naruto serentak mengeluarkan sayap kelelawar mereka, tidak ada manusia yang tinggal di kota tersebut sehingga mereka tak perlu takut untuk membocorkan keberadaan makhluk supranatural kepada publik. Shikamaru tidak melakukannya, ia pergi bersama Jiraiya yang notabene manusia, sehingga ia akan menggunakan kakinya. Dengan anggukan serentak, Naruto dan Le Fay bergegas terlebih dahulu. Jiraiya dan Shikamaru memulai dengan melompati atap-atap rumah yang telah usang maupun tanaman-tanaman yang menjalar.

Tanpa mereka sadari, seekor kucing liar berwarna putih yang duduk di sebuah bongkahan batu besar memberikan apa yang ia dengar kepada Sinon yang tersenyum. Ia mengetik pesan untuk menyampaikan apa yang telah ia ketahui kepada Rudiger. Informasi ini akan menjadi sentuhan akhir untuk memulai misi pembunuhan Naruto Paimon!

Rudiger tanpa membuang waktu segera menuju titik yang dituju oleh Jiraiya dan Shikamaru. Ia harus segera memasang umpan dan kemudian perangkap untuk memastikan Jiraiya tidak menganggu rencana Jiraiya akan sangat menganggu rencana mereka, ia tidak begitu naif untuk menyangkal bahwa ia bisa menangani Jiraiya seorang diri. Kendati memiliki stamina dan manna yang hamper menyentuh tanpa batas, jurang antara pengalaman dan trik di antaranya dengan sang legenda sangatlah jauh. Hal itulah yang membuat para tetua makkai tak berkomentar banyak kala Jiraiya tinggal di Pillar Paimon kendati merupakan manusia.

Iblis setingkat Ultimate itu kini telah berada pada sebuah gua yang merupakan pintu masuk tambang batubara yang telah ditinggalkan.

" Tempat yang sempurna untuk menggurung sang legenda" bisik Rudiger dengan seringaiannya. Ia berjalan masuk tanpa penerangan, mata iblisnya tidak terpengaruh sama sekali dengan kegelapan tambang tersebut. Setelah memasuki tambang tersebut hingga pada satu titik, Rudiger memasang beberapa lingkaran sihirnya.

Ia memulai ritual untuk membentuk perangkap Jiraiya di tempat tersebut.

Jutaan lingkaran sihir Rudiger yang menyebar ke seluruh tempat yang tidak begitu luas tersebut bergerak untuk bergabung menjadi sebuah lingkaran besar dan akhirnya bersinar redup kala membentuk sebuah lingkaran besar.

Rudiger menghela nafas setelah selesai memasang perangkapnya. Ia mulai berjalan keluar dengan menekan energinya seminimal mungkin, pada tingkat dimana Jiraiya tidak dapat mendeteksi keberadaannya. Dalam perjalanan keluar ia menanam beberapa lingkaran sihir pada beberapa titik.

Seringainya melebar kala merasakan energi Jiraiya dan Shikamaru yang bergerak ke arahnya. Beberapa lingkaran sihir yang ia pasang memancarkan energi Paimon untuk memancing Jiraiya kemari.

Iblis itu segera memasang sihir Stealthbegitu melihat Jiraiya dan Shikamaru mulai memasuki gua tersebut. Dengan lihai, ia melewati mereka berdua yang mulai berjalan masuk

" Oi Shikamaru, apa kau merasa ada yang aneh pada tempat ini ? " Rudiger hanya diam mendengar Jiraiya yang mulai mengobrol dengan Shikamaru.

" Aku dapat merasakan berbagai sihir ilusi. Jika Paimon berada di sini maka hal itu tak mengherankan, hal ini mereka lakukan untuk menjauhkan ancaman bukan ? " Balasan dari Shikamaru kemudian membuatnya harus menahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

Yap, Rudiger tak hanya memasang pemancar energi saja. Ia juga memasang perangkap-perangkap kecil seperti ilusi ataupun penyembur api agar semakin meyakinkan bahwa ada suatu kelompok yang sedang bersembunyi di tempat tersebut.

Rudiger tak ambil pusing. Ia sudah sangat yakin bahwa perangkapnya akan berhasil, maka ia berjalan keluar gua tersebut dengan tenang. Setelah memastikan Jiraiya dan Shikamaru masuk cukup dalam, Rudiger segera membentuk batu raksasa untuk menghalangi pintu keluar gua tersebut. Tak lupa ia memasang berbagai trik lagi. Namun, ia masih belum dapat beristirahat, ia perlu sangat yakin bahwa Jiraiya dan Shikamaru benar-benar akan masuk dalam perangkapnya.

Dan jawaban itu segera muncul dengan teriakan samar yang datang dari dalam gua.

Rencana memerangkap Jiraiya sudah berhasil. Sekarang, ia hanya perlu mengejar buruannya. Sinon dapat mengatasi Naruto. Iblis tersebut segera menggunakan kemampuan sensornya yang tak pernah gagal melacak keberadaan targetnya. Sebuah seringai semu terbentuk ketika ia merasakan samar keberadaan targetnya.

" Huh … ini akan menarik " ujarnya kala merasakan targetnya berada pada tempat yang sama dengan Sinon.

XoX

Sinon menunggu dengan sabar hingga Naruto dan Le Fay termakan oleh pancingannya. Dengan matanya yang terus terfokus pada scope nya ia memperhatikan dengan baik kedua iblis muda itu menjelajah setiap seluk beluk kota mati tersebut. Jika saja Naruto bukan merupakan target misinya, ia akan memuji iblis muda tersebut akan ketekunannya untuk mencari anggota Pillarnya yang lain.

Senyum pada wajahnya mulai mengembang kala melihat Naruto dan Le Fay setelah berbincang sejenak segera terbang menukik pada titik yang telah ia pasang alat pemancar energi Paimon.

Di tempat Naruto dan Le Fay

Seperti yang Sinon duga, Naruto mengikuti Le Fay yang berkata ia merasakan samar keberadaan para Paimon. " Kau yakin akan ini, Le Fay – san ? " ujar Naruto ketika mereka mulai memasuki gang-gang kecil. Le Fay hanya mengangguk, ia harus fokus untuk mendeteksi energi para Paimon yang sangat samar.

Matanya melebar kala merasakan energinya semakin jelas dan dengan segera ia memberitahu Naruto " Di sana Naruto – san " Aku yakin kau dapat merasakannya juga bukan ? "

Naruto mengikuti arah yang ditunjuk Le Fay melihat pada sebuah gedung setinggi 30 lantai berjarak 20 km dari tempat mereka sekarang. Pewaris Paimon itu memejamkan matanya, mulai mencoba untuk mendeteksi energi dari para Paimon dan matanya melebar merasakan samar energi Paimon dari tempat tersebut.

" Mereka berada di sana"

Le Fay tak perlu terkejut kala Naruto segera menambah kecepatan terbang mereka. Ia segera mengikuti Kingnya tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Penyihir muda itu memberikan senyuman kecil atas determinasi yang ditampilkan oleh sepasang iris biru Kingnya.

Berbeda dengan Le Fay, Naruto semakin merasa terpacu kala energi yang ia dan Le Fay deteksi terasa semakin dekat. Ketika tiba pada lantai 10 gedung tersebut, ia dan Le Fay segera mendarat. Sayap iblis di punggung mereka segera menyiut hingga tak tersisa sama sekali. Setelah memastikan bahwa Bishopnya baik-baik saja, Naruto berjalan pelan mengamati salah satu ruangan dari bangunan yang telah dirambati oleh akar-akar pohon tersebut.

" Kenapa kita melambat Naruto – san ? " tanya Le Fay dengan ekspresi penuh kebingungan. Baru saja pemuda pirang itu menunjukkan antusiasme yang luar biasa kala datang kemari, kenapa ketika berada sangat dekat, ia malah melambat ?

" Hanya mengamati sekitar. Jika ini benar tempat Paimon berada seharusnya terdapat sihir ilusi ataupun semacam jebakan yang akan membuat makhluk lain mmenghindari tempat ini. "

Le Fay mengangguk mengerti. Hal ini juga terjadi pada kelompok yang dipimpin oleh Mia dan Roger. Mia membangun sebuah kubah sihir untuk menyelimuti area perhutanan untuk mengelabui setiap ancaman bagi kelompok mereka. Pertemuan antaranya dengan kelompok Mia dan Roger pun dapat dikatakan sebagai sebuah kebetulan.

Naruto dan Le Fay berjalan menyusuri balkon di lantai 10 tersebut. Energi para Paimon semakin terasa dekat, namun sama sekali tak ada keanehan, tak ada perangkap sihir, bahkan tak ada sihir yang terdeteksi sama sekali ?!

" Ini aneh …. " gumam Naruto mulai merasakan firasat buruk. Ia dan Le Fay berhenti ketika merasakan energi Paimon tersebut sangatlah dekat dan mereka dapat melihat sebuah benda mengkilat yang dengan sebuah lampu yang berkelip-kelip.

" I – itu .. ? " Le Fay tak tahu harus berkata apa ketika melihat Naruto berjalan menunduk menuju benda tersebut. Kecurigaan sang gadis penyihir terbukti benar ketika Naruto menggapai benda tersebut dan dengan cepat menghancurkannya dan seketika itu pula energi Paimon yang mereka rasakan menghilang total.

" Na … Naruto – san "

" Seseorang menjebak kita … " bisik Naruto dengan nafas terburu-buru. Dalam keadaan itu, pikirannya segera kosong dan kemudian untuk alasan yang tak ia mengerti, tubuhnya bergerak sendiri untuk menunduk.

Shot

Sebuah peluru perak bersarang pada tembok di hadapan Naruto, meleset dari balik kepala Naruto setelah tindakan mendadaknya.

Mata Le Fay membola melihat hal tersebut. Ia dan Naruto segera berbalik hanya untuk melihat sebuah benda mengkilat melesat ke arahnya. Itu peluru perak, senjata yang sangat efektif untuk membunuh para makhluk supranatural.

Exchange

Peluru itu kembali gagal setelah Naruto menukar benda di tangannya dengan Le Fay. Walaupun berbeda dari biasanya, respon sihirnya sangat lambat sehingga peluru itu masih sempat mengiris tipis pelipis Le Fay.

" Maaf aku sedikit terlambat, Le Fay "

" Jangan khawatir Naruto – san. Ini hanya luka gores. Sihir pemulihan akan segera memulihkannya. Terlebih kita harus segera pergi! "

" Kau benar! "

Namun belum sempat bertindak, sebuah ledakan besar terjadi membuat tanah pijakan mereka bergetar hebat. Naruto melebarkan matanya ketika mendongak melihat ledakan demi ledakan menghancurkan pillar-pillar yang menopang gedung tersebut, hal serupa juga terjadi pada pillar pada lantai di bawah mereka. Hal itu berarti gedung tersebut akan segera runtuh!

" Sial! "

Naruto dan Le Fay segera melebarkan sepasang sayap kelelawar masing-masing.

Krak

" Naruto – san ! " Le Fay berteriak keras ketika ia kehilangan pijakan dengan cepat, beruntung Naruto segera menangkap tangannya dan menariknya terbang ke atas. Dalam keadaan tersebut, pikiran Naruto hanya terfokus untuk terus menghindari bongkahan-bongkahan reruntuhan gedung yang hendak mengubur mereka hidup-hidup.

Le Fay yang melihat keadaan Naruto ini segera memutar otaknya. Namun jalur pikirannya segera berhenti ketika tanpa sengaja melihat siluet sebuah segel sihir yang menempel pada setiap bongkahan.

" Naruto – san! Ada mantra ledakan yang tertanam pada setiap bongkahan reruntuhan ini ! "

Sinon yang mengamati situasi tersebut dari jauh hanya mengeluarkan seringainya. " Terlambat! " ujarnya menjentikkan jarinya dan seketika cahaya terang menyilaukan diikuti suara ledakan menggema hingga ke tempat di mana ia berada.

Ia melihat kembali dari teropongnya bagaimana bangunan 30 lantai tersebut benar-benar telah meledak. Rencananya simple saja, ia akan mengumpan Naruto dan Le Fay pada gedung tersebut, kemudian ia akan memanfaatkan keadaan saat umpannya ketahuan untuk langsung menggunakan silent kill.

Sebagai pro, ia tak berhenti di sana. Walaupun ia tak menyangka Naruto akan lolos dari silent kill nya, assassin itu telah menambahkan rencana-rencana lainnya seperti memasang bom pada pillar-pillar atas dan bawah bangunan tersebut. Ia juga tak lupa memasang mantra peledak pada seluruh sisi bangunan tersebut. Jikapun itu semua belum cukup untuk membunuhnya, maka ia akan datang sendiri untuk membunuh Naruto. Potensi kemenangannya sangatlah besar mengingat targetnya hanyalah iblis muda yang mana energinya sudah pasti sangat terkuras karena harus menyelamatkan diri dari ledakan massif tersebut.

Dan karena itulah, ia tak terlalu terkejut ketika ia melihat sebuah siluet menyusup cepat keluar dari kepulan asap hasil ledakan tersebut.

Sebelum ledakan massif itu terjadi, Le Fay dengan instingnya segera membentuk barrier berbentuk lingkaran yang cukup untuk melindungi mereka berdua. Naruto memanfaatkan waktu singkat yang diberikan oleh bishopnya tersebut untuk mengandalkan longinusnya. Ia mulai mengimajinasikan sebuah benda yang memiliki fungsi kecepatan yang cukup untuk menuju ke tempat orang yang bertanggungjawab atas semua ini. Seiring semakin jelas benda tersebut dalam imajinasinya, sebuah benda yang mengikuti apa yang Naruto imajinasikan terbentuk di hadapan mereka. Dan Le Fay melebarkan matanya ketika melihat sebuah sepeda motor terbang dengan desain modisnya terbentuk di sana.

Tanpa perintah verbal, Naruto menarik Le Fay untuk mengendarai sepeda motor tersebut. Barrier lingkaran terbentuk di sekitar sepeda motor tersebut, cukup untuk melindungi mereka yang mengendarainya. Naruto tersenyum senang setelah bunyi mesin motor tersebut berdengung halus saat ia menarik gasnya.

" Sekarang saatnya kita menemui siapa yang mengusili kita ! "

BRUMM

Tersentak dengan peningkatan kecepatan seketika itu, Le Fay reflex melingkarkan tangannya pada pinggang Naruto untuk mencari keseimbangan. Tindakan ini segera membuat magician muda itu bersemu merah, sementara sang pewaris Paimon tidak bereaksi apa-apa. Matanya terfokus pada satu titik yang ia anggap merupakan tempat keberadaan orang yang menjebak mereka.

" Le Fay – san, bisakah kau membuat sihir yang memungkinkanku melihat jauh ke depan ?! "

" Huh ?" Le Fay yang pikirannya masih berkutat untuk menghilangkan rasa malunya atas situasinya bersama sang King, tidak menangkap dengan baik permintaan Naruto.

" Apa kau mengetahui sihir yang memungkinkanku untuk melihat ke sana " Naruto menunjuk pada sebuah gedung setinggi 20 kaki berjarak 10 KM dari tempat mereka berada. " Aku akan segera menggunakan Exchange untuk ke sana. Jadi – "

" Aku mengerti Naruto – san ! " Le Fay mulai membaca mantra dengan cepat. Naruto tak dapat mendengarnya begitu jelas, ia hanya dapat menangkap di bagian akhir ketika magician muda itu menyahut

Overlooking

Naruto dapat merasakannya, penglihatannya yang seketika menjadi lebih luas dan tajam, seperti shooter kamera. Dan ia dapat melihat dengan jelas seorang gadis yang mengarahkan sniper pada mereka.

Ia menyeringai ketika gadis tersebut menembakkan sebuah peluru lagi pada mereka.

Exchange

Sedikit terlambat dari biasanya, keberadaan mereka dan peluru tersebut segera berganti. Kontan saja, pergantian posisi itu membuat Sinon melebarkan matanya, benar-benar terkejut. Dengan gerakan cepat, Naruto melompat dari sepeda motornya tak lupa untuk membawa Le Fay bersamanya dan berteriak keras " Order : Self Destruction! "

Sepeda motor yang melayang menuju Sinon menyala terang dan segera meledak

DUARRRRRRRR

Suara ledakan demi ledakan yang memekakan telinga mulai membuat seorang gadis yang berada dalam gedung yang sama dengan Sinon mengerang kesal. Dalam tempat persembunyiannya yang gelap, iris mata kuningnya yang berkilat kesal terlihat jelas. Sepasang ekor kucingnya menegang setelah mendengar ledakan besar yang sangat ia yakin berada dekat dengan tempat ia berada.

" Baiklah! Aku kesal sekarang! Mereka harus diajari tata krama ! "

Kembali ke tempat Sinon Vs Naruto dan Le Fay

Naruto dan Le Fay telah berdiri dalam ruangan tersebut. Ekspresi serius terpasang di wajah keduanya kala melihat Sinon sama sekali tidak terluka setelah menerima ledakan tepat di depan muka.

' ini lebih cepat dari yang kuperkirakan. Namun, masih sesuai dengan rencana' pikir Sinon. Tangannya mulai bersinar dan bergerak menelusuri snipernya, merubah bentuknya menjadi sebilah tombak bermata ganda, yakni tepat di masing-masing ujungnya.

" Wow, sekilas itu terlihat seperti Innovate Clear. " gumam Naruto penuh kekaguman sama sekali mengabaikan fakta bahwa gadis di depannya merupakan orang yang telah menjebaknya. Jalan pikirannya terhenti seketika Le Fay bersikap siaga kala gadis di depannya mulai merendahkan tubuhnya, sikap awal dari petarung tombak!

Sinon mulai terlebih dahulu, ia menusukkan tombaknya lurus yang segera Le Fay respon dengan membentuk lingkaran sihir pertahanan. Namun, lingkaran itu segera hancur memberikan akses langsung bagi tombak itu untuk menusuk Le Fay. Naruto segera berdiri di depan Le Fay, menghalangi tombak Sinonn dengan lengan kanannya.

Trang

' Lengan baja huh ? ' batin Sinon yang telah melompat mundur.

Tangannya bersinar kembali, menyelimuti tombaknya hingga sekejap berubah menjadi panah, namun masih dengan mata tombak yang berada pada ujung busurnya.

" Le Fay tetap berada di belakangku, begitu menemukan kesempatan segera serang dia dengan sihirmu " bisik Naruto cukup hanya untuk didengar keduanya. Penyihir muda itu hanya mengangguk, menyadari kelemahannya sebagai wizard dalam pertarungan langsung.

" Nah, nona … jika kau ingin bertarung mari lanjutkan ! " Lengan kanan Naruto mulai memanjang, bertransformasi menjadi sebilah pedang. Sinon menyimpan keterkejutan di dalam benaknya.

Sinon mengangkat tangannya, dari ketiadaan, tiga anak panah tercipta dengan setiap mata panahnya yang mengobarkan api keunguan.

" Api suci ?! " sahut Naruto terkejut. Le Fay menyipitkan matanya, ia harus bersiap untuk membantu Naruto, sedikit saja terkena panah yang mengobarkan api suci tersebut, sudah cukup untuk membuat iblis sekarat!

" Mati ! " Le Fay segera membentuk Barrier berlapis-lapis di depan Naruto

Tiga panah itu melesat sangat cepat, menghancurkan lapis demi lapis barrier Le Fay. Naruto mulai meragukan senjata yang dipegang Sinon itu benar-benar busur panah melihat bagaimana kecepatan panah itu sama sekali tak mengurangi kecepatan panah tersebut.

Trang

Trang

Trang

Namun berkat barrier Le Fay, Naruto dapat melihat jelas arah kedatangan panah tersebut dan menghindarinya. Namun, Sinon belum selesai. Itu masih permulaan. Berikutnya yang datang adalah lima anak panah, dan seperti strategi sebelumnya Naruto menghindarinya kembali dan terus mencoba memangkas jarak antaranya dan Sinon.

Menyadari niat musuhnya, Sinon menarik nafas panjang. Sudah cukup baginya untuk bermain-main. Dari tangannya yang kosong, ia melakukan gerakan menarik anak panah dari busurnya. Dari gerakannya tersebut, anak panah yang terbentuk dari api keunguan murni berkobar mengerikan.

Naruto meneguk ludahnya merasakan hawa panas kendati jaraknya masih sangat jauh.

Namun, bukan hanya itu masalahnya. Tetapi keberadaan anak panah yang sama yang berada di belakang punggung Sinon.

" Banishing Arrow Go ! "

" Naruto – san ! " Le Fay kali ini tidak membentuk barrier, melainkan melontarkan panah-panah api kemerahan untuk berhadapan dengan puluhan panah Sinon.

DUAR

DUAR

DUAR

Setiap anak panah Sinon dan Le Fay bertemu akan terjadi ledakan kemudian, panah Sinon terus melaju menuju targetnya!

Naruto menggertakkan giginya, ia fokus pada lengan kanannya yang segera membentuk perisai cukup besar untuk menahan setiap panah Sinon yang datang.

" Tak bisa membalas huh ? Di sini aku pikir membunuhmu akan sulit " ujar Sinon dengan sedikit seringaian.

" Heh, katakan itu padamu sendiri. Seorang pembunuh profesional bahkan harus menghabiskan banyak waktu untuk membunuh 2 rookie iblis seperti kami ! " balas Naruto.

" Waktu tidak penting sekarang. Orang hanya peduli pada hasil " Sinon membalas dengan tenang.

" Oh ya ? Kalau begitu … terima ini ! " Perisai Naruto mengeluarkan sinar terang yang cukup untuk membutakan Sinon sejenak. Ketika salah satu panah Sinon berada di dekat Naruto, pewaris Paimon itu segera membentuk lingkaran sihir di tangannya. Exchange

Keberadaan panah tersebut ditukar oleh Sinon yang masih menutup matanya akibat silau perisai Naruto. Dalam gerakan cepat, Naruto segera merebut busur di tangan Sinon. Ketika Sinon sadar senjatanya telah berpindah tangan, terlambat baginya untuk bertindak karena Naruto segera mencekiknya dan melemparnya sedikit jauh, namun Sinon dapat bertahan dari lemparan tersebut.

" Dengar, aku tidak terlalu senang menghajar seorang gadis. Senjatamu kini berada di tanganku. Bisakah kau menjelaskan pada kami siapa yang menyewamu untuk membunuh kami atau mengapa kau menjebak kami ?! " Sinon memasang ekspresi datar. Tangannya bergerak menggores udara kosong, dari goresannya tersebut api keunguan membara dan kemudian membentuk busur panahnya kembali.

" Kau membuat kesalahan fatal " Naruto yang menyadari apa yang dimaksud Sinon hendak segera melempar busur panah di tangannya, akan tetapi …

" ARRGGHHHHHH " senjata itu seketika berubah menjadi kobaran api keunguan yang membakar lengan kiri Naruto. Sebelum sempat api itu merambat pada bagian tubuh lainnya, Le Fay segera mengurung api tersebut dalam sebuah lingkaran sihir dan melemparnya pada tempat lain, yang mana merupakan tembok gedung mereka berada. Tak perlu waktu lama bagi api itu untuk merambat membuat gedung tersebut terbakar!

Sinon menyeringai lebar, situasi semakin berpihak padanya. Busur panah di tangannya mengelora dengan keberadaan api yang membakar gedung mereka. Dan ia segera mengumpulkan semua api tersebut, berniat membentuk panah yang cukup kuat untuk membunuh Naruto dan Le Fay dalam sekali serang.

Akan tetapi saying sekali, ketika ia hendak mengumpulkan api keunguan tersebut, semua apinya segera padam.

" Kheh … kalian sudah membuatku cukup kesal " Kehadiran suara baru itu menarik perhatian ketiganya. Namun, Le Fay segera memanfaatkan perhatian Sinon yang teralih untuk memulihkan lengan baja Naruto.

Sinon menyipitkan matanya ketika melihat sosok yang tak begitu jelas rupanya karena berdiri pada sebuah kerangka atap dimana langit-langit gedung tersebut telah terbakar habis. Mata gadis itu terfokus pada kehadiran api keunguan yang berkobar di kedua telapak tangan sosok tersebut.

Matanya seketika melebar ketika sosok itu melompat turun hingga tepat menengahi antara Sinon dan Naruto serta Le Fay. Di depannya, ia melihat sosok gadis nekoshou, sangat jelas dari dua ekor kucing di belakangnya dan sepasang telinga kucingnya, mengenakan kimono hitam yang turun hingga ke pertengahan pahanya.

" Kuroka … " Sinon berbisik dengan memendam penuh kebencian.

Sosok yang diketahui sebagai Kuroka itu mengedipkan matanya " Kau mengenalku nya ? Mah, aku tak perlu heran, terlebih setelah para iblis meletakkan sebagai buronan kelas SS. "

Ucapan Kuroka semakin membuat Sinon tak bisa menahan emosinya. Gadis di depannya ini adalah penyebab para iblis membantai desa para Nekoshou, gadis ini merupakan penyebab ia menjadi assassin, hidup dalam kubangan darah dan kebencian, gadis di depannya inilah perenggut kebahagiaannya.

Kuroka yang sama sekali tak memperhatikan raut kebencian Sinon memasang wajah jengkel. Gadis buronan itu segera menyampaikan maksud kedatangannya " Dengar, aku tak peduli apa yang kalian perdebatkan. Namun, kuharap kalian menyelesaikannya di tempat lain. Gedung ini markasku, dan aku sangat tak menghargai bagaimana pertarungan kalian merusak rumahku. "

" Rumah ? "

Kuroka mendengus atas kebingungan Le Fay " Dengar iblis muda, buronan sepertiku sulit untuk mendapatkan rumah tetap. Kau akan mengerti, begitu Kingmu mulai bosan padamu dan membuangmu "

" Tidak ! Naruto – san tidak akan bersikap begitu ! " Kuroka memberikan tatapan menantang pada Le Fay

" Kau pasti baru direinkarnasi bukan ? Kingmu … " Kuroka menunjuk pada Naruto " Pasti membujukmu dengan hal-hal manis untuk menjadi anggota peeragenya atau bahkan kau tengah dalam keadaan hidup dan mati ketika dia mereinkarnasimu. Iblis adalah makhluk yang penuh tipu muslihat. Kau harus mengerti itu "

Naruto masih belum dapat berkomentar, merasakan sakit begitu perih pada lengan kirinya. Le Fay baru saja hendak menjawab ketika Sinon tanpa disangka segera melesat … menyerang Kuroka.

Trang

Busur panahnya yang telah menjadi tombak ditahan oleh cakar Kuroka. Kuroka menyipitkan matanya pada Sinon " Nah, sekarang apa masalahmu ?! "

Sinon memasang ekspresi begitu kesal " Kau tak mengetahuinya ?! " Tombaknya mengeluarkan api ungu yang menggelora mengancam untuk membakar Kuroka hidup-hidup. Tak ingin nasibnya begitu, Kuroka segera mengumpulkan api sejumlah sama pada cakarnya membuat ledakan yang cukup untuk memisahkan mereka berdua.

" Apa masalahmu bocah ?! " Kuroka melemparkan bola-bola api ketika melihat Sinon segera membombardirnya dengan panah-panah api keunguan. Namun tak ada balasan verbal, Sinon menghilangkan tombaknya, ia mengeluarkan dua pisau militer yang melekat erat di genggamannya. Sekejap, kedua pisau itu diselimuti oleh api keunguan.

" Kubunuh kau ! " Sinon melesat cepat menuju Kuroka yang menyiapkan cakarnya. Ia tak mengerti mengapa gadis di depannya sangat bernafsu menyerangnya. Namun, ia tak mempedulikan itu, gadis itu menyerangnya, maka ia akan bertarung pula untuk mempertahankan diri.

Le Fay takt ahu apa yang terjadi. Namun, perubahan sikap Sinon memberinya semakin banyak waktu untuk memulihkan Naruto. Ia mulai tersenyum ketika melihat luka bakar di tangan kiri Naruto mulai memulih. Naruto yang mulai dapat menyingkirkan rasa sakit atas lengannya dari otaknya mulai berbicara pada Le Fay.

" Le Fay – san dengar kau bukan hanya Bishop bagiku. Kau adalah temanku. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Aku tahu banyak iblis di luar sana yang bertindak seperti apa yang buronan itu katakan, tapi – "

" Aku mengerti Naruto – san. Kau tak perlu menjelaskannya " Le Fay memotong kata-kata Naruto dengan senyuman tipis di wajahnya. Ketika melihat ekspresi Naruto yang ingin menjelaskan lebih lanjut, ia menggeleng pelan dan bangkit " Terlebih, aku lah yang memintamu untuk menjadikan anggota peeragemu bukan ? Kau tak perlu khawatir Naruto – san "

" Yap. Itulah artinya teman " Naruto mengangguk dan bangkit pula. Ia melihat pertarungan fisik antara Sinon dan Kuroka yang semakin brutal dengan alis tertaut. Ia mulai mencoba membuat lingkaran sihir dari tangan kirinya, akan tetapi lingkaran itu segera menghilang.

" Sial. Api suci itu membuatku semakin sulit mengendalikan sihirku. "

" Untuk sementara andalkan aku Naruto – san " Le Fay mengajukan diri dan Naruto mengangguk.

" Kita tunggu kesempatan yang tepat. Aku masih butuh jawaban atas siapa yang berencana untuk membunuh kita " Le Fay mengangguk atas perintah Naruto. Terlebih, saat-saat ini bisa digunakan untuk memulihkan kemampuan mereka bukan ? Terkadang menjadi penonton sangatlah menyenangkan.

Sinon dan Kuroka kembali menabarkan senjata masing-masing. Dalam hal kekuatan, kecepatan, maupun kelenturan, Sinon jauh lebih unggul dari Kuroka. Ia memanfaatkan ketiga keunggulannya itu untuk membuat variasi serangan yang menyuliktan buronan SS itu. Setelah beradu, ia menekan lebih kuat sehingga Kuroka sedikit terdorong. Memanfaatkan kendurnya pertahanan tersebut, Sinon segera menendang Kuroka yang masih sempat menyilangkan tangannya di depan dada untuk menghalau Sinon. Namun, tindakan itu malah digunakan oleh Sinon sebagai batu lompatan, dengan beberapa salto di udara, Sinon segera membuat busur panahnya kembali dan menembakkan beberapa panah lagi yang segera ditepis oleh Kuroka menggunakan roda-roda apinya.

Kuroka menyeringai. Insting bertarungnya berteriak gembira menemukan lawan seperti Sinon. Bagaimana variasi bertarungnya dapat menutupi kekurangannya dalam hal penguasaan sihir. Sebagai buronan SS, ia memiliki penguasaan sihir yang bukanlah hisapan jempol belaka. Roda-roda api sucinya berputar secara otomatis untuk melindunginya. Dari roda-roda apinya tersebut, ia bisa mentransformasi berbagai serangan, membuat tembakan api, panah api atau bahkan seperti tadi menghisap serangan yang Sinon berikan.

" Kau tahu, aku menikmati pertarungan ini. Namun melihat bagaimana besar emosi yang kau tujukan padaku, aku tak bisa berhenti berpikir apa yang menyebabkannya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? "

Sinon masih dengan tatapan yang terpaku pada Kuroka menggelengkan kepala. Kuroka semakin bingung atas jawaban Sinon. Lantas apa yang ia lakukan sehingga membuat Sinon begitu emosi padanya.

Sinon mengatur nafasnya. Ia sadar tidak dapat membunuh Kuroka jika tidak bersungguh-sungguh. Seringai melebar di bibirnya ketika memikirkan satu-satunya cara untuk membunuh Kuroka.

" Mungkin ini akan membuatmu mengerti " ujar Sinon menarik perhatian Kuroka.

Sinon menghela nafas panjang. Ia mulai berkonsentrasi dan ledakan energi segera menerpa tubuhnya, yang turut merubah penampilannya. Sepasang ekor kucing muncul di belakangnya dengan sedikit bulu kebiruan di ujungnya, sepasang telinga kucing hadir di kepalanya, gigi taringnya sedikit memanjang, dan kemudian cakarnya ikut memanjang dan menebal.

Penampilan Sinon membuat ketiganya terkejut, terlebih pada Kuroka.

" Ka – kau – "

" Ya. Aku adalah Nekoshou yang terlahir kembali dari neraka untuk membunuhmu! "

XoX

" Ada petunjuk ? " Jiraiya bertanya dengan nada lelah pada Shikamaru yang menggeleng pelan. Petapa katak itu mengambil posisi duduk bersila pada lantai tambang yang ditinggalkan tersebut.

" Tidak. Kita terus berputar di tempat yang sama." Balas Shikamaru yang ikut bergabung duduk di samping Jiraiya.

" Kita jelas telah dijebak. " rutuk Jiraiya, ia menatap tajam pada tanah kosong di depannya, di mana pada tempat itu sebelumnya terdapat benda yang mengeluarkan pancaran energi Paimon sebelum akhirnya lenyap atas kemurkaan Jiraiya dan Shikamaru.

Jiraiya dan Shikamaru yang telah menyadari kenyataan bahwa mereka dijebak segera bergerak untuk kembali. Kebingungan mendera mereka ketika mereka terus kembali pada tempat semula setiap kali berjalan ke jalan masuk. Mereka mencoba berbagai arah hanya untuk kembali ke tempat semula. Bagaimana mereka bisa yakin bahwa mereka sama sekali tidak berpindah kemana-mana ? Jawabannya adalah ide Shikamaru untuk menorehkan lumpur pada dinding. Dan mereka setelah lebih dari 100 kali mencoba, Shikamaru berhenti menghitung ketika mencapai angka 100, selalu menemukan lumpur di dinding tersebut.

" Bukan hal yang tak masuk akal. Targetnya pasti adalah Naruto. Mereka yang menjebak kita pasti ingin menjauhkan anda dari Naruto. "

" Aku benci mengakuinya. Tapi kau benar bocah " Ujar Jiraiya lelah. Shikamaru bangkit berdiri lagi, ia tak boleh bersantai-santai sekarang, ada kemungkinan sahabatnya dalam keadaan bahaya dan ia harus di sana untuk membantunya.

" Untuk sekarang, lebih baik kita istirahat dan makan terlebih dahulu. Kita butuh energi untuk berpikir. " Jiraiya menyarankan dan Shikamaru mengangguk. Mereka telah berjalan berputar-putar begitu lama, kelaparan dan frustasi tak akan membawa mereka keluar. Jadi, ia mulai mengumpulkan kayu atau apapun yang dapat ia temukan sebagai bahan bakar dan kemudian dengan jutsu Katon Jiraiya, mereka dapat membuat api unggun. Jiraiya mengeluarkan beberapa daging kaleng untuk mereka panggang.

Shikamaru memandang kosong pada panggangan, menatap tanpa minat pada Jiraiya yang memanggang dagin kaleng. Jiraiya segera memberikan meletakkan daging yang selesai di panggang tersebut pada kaleng kosong tersebut dan menyerahkannya pada Shikamaru.

Gerakan ini membuat Shikamaru menyadari sesuatu.

" Itu dia ! " ujar Shikamaru bangkit berdiri setelah menerima daging panggang dari Jiraiya.

" Apa ? "

Shikamaru menunjuk pada bayangannya sendiri di tembok yang diciptakan oleh api unggun Jiraiya.

" Aku dapat menuju tempat Naruto dengan menembus bayangan ini "

" Kau benar-benar dapat melakukannya ?! " tanya Jiraiya sumringah. Jika perkataan Shikamaru benar, maka mereka akan memperoleh jalan keluar!

" Yap. Aku dapat melakukannya dengan sacred gearku. Namun, mengingat jaraknya aku hanya dapat membawa diriku sendiri "

" Itu tidak masalah. Setelah keluar segera cari Naruto. Jika dugaan kita benar, dia membutuhkan bantuan secepat mungkin. "

Shikamaru mengangguk. Perkataan Jiraiya memang benar, tapi ..

" Tak perlu cemaskan aku " Jiraiya segera menyambung sebelum Shikamaru ragu. " Aku adalah petapa katak yang bahkan kekuatannya merivali Gubernur Datenshi. Tenang saja, aku akan segera keluar dari sini "

Shikamaru menyeringai kecil mendengar bagaimana gurunya menyombongkan diri " Anda benar Jiraiya – sama. Guruku bukan orang yang perlu dikhawatirkan "

Jiraiya tersenyum sebelum akhirnya berujar serius " Pergilah! "

Shikamaru mengangguk yakin. Ia memfokuskan diri pada sacred gearnya dan sekejap ia memasuki balance break nya dan tanpa kata-kata menerobos masuk pada bayangan tersebut.

Setelah memastikan muridnya pergi, Jiraiya menikmati daging panggangnya sembari memikirkan cara untuk meloloskan diri dari perangkap ini. Ia juga mulai menduga-duga siapa yang terlibat dalam rencana ini.

' Mungkin itu bisa dilakukan '

TBC