Baekhyun mengerjapkan matanya berulang kali, lalu menggeliatkan tubuhnya, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Chanyeol. Namun sayang, tenaga yang lebih tinggi itu lebih besar darinya.

"B-bunny apa? A-aku tidak punya blog apapun!" sangkalnya. Baekhyun masih berusaha melepaskan dirinya. Semakin keras usahanya, semakin kuat pula pelukan Chanyeol.

"Tidak apa, sayang. Katakan saja, bukankah kau sudah berjanji akan jujur?"

"T-tapi-" Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Chanyeol yang saat ini menatapnya dengan intens. Ia mengerucutkan bibirnya, terisak pelan. "B-bagaimana kau tau?"

Chanyeol menghela nafasnya saat melihat Baekhyun yang menangis. Ia mengelus punggung polos Baekhyun lalu menghapus air mata lelaki mungil yang tengah berada didalam pelukkannya. Bibirnya mengecup kening Baekhyun pelan dan membisikkan kata-kata yang menenangkan Baekhyun, menyuruh lelaki mungil itu agar tidak menangis.

"Apa aku pernah mengatakan bahwa matamu itu special?" Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang mengangguk pelan. "Matamu, hidungmu, bibirmu, bentuk tubuhmu dan suaramu, aku sangat mengenalinya, Baekhyun."

Tubuh Baekhyun bergetar akibat kuatnya detakan jantungnya. Baekhyun meremas tangannya, tidak mempedulikan buku-buku jarinya yang memutih. "A-apa aku terlihat menjijikkan?"

Chanyeol terkekeh dan menggeleng kecil. Dengan Baekhyun yang berada di dalam dekapannya, Chanyeol bergerak duduk. Ia membawa Baekhyun duduk diatas pangkuannya dengan tangan yang melingkar pada pinggang si mungil. "Tidak sama sekali, Baek. Jika aku menganggap dirimu menjijikkan, aku tidak akan jatuh hati padamu."

"Benar juga..." gumaman Baekhyun membuat Chanyeol tidak dapat menyembunyikan tawa kecilnya. "T-tapi tetap saja. A-akh malu!" si mungil memeluk erat lehee Chanyeol lalu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kekasih barunya. Memejamkan matanya kuat-kuat.

"Jadi... apa alasannya?" tangan Chanyeol terangkat untuk mengelus punggung terbuka Baekhyun. Lalu merambat kebawah, memainkan bongkahan kenyal yang membuat dirinya gemas.

Baekhyun mengeluh pelan, tubuhnya menggeliat dengan dada yang membusung. "Berhenti~ atau aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!"

"Oke... oke."

Setelah menghela nafas panjang, Baekhyun memberanikan dirinya untuk menatap Chanyeol. Bibirnya ia tipiskan lalu membuka mulutnya, namun kembali menutupnya. Terlalu bingung untuk mengeluarkan kata-kata.

"Jadi..." Baekhyun memulai. Sipitnya yang melirik kesana-kemari membuat pipinya bersemu merah ketika tanpa sengaja melirik penis Chanyeol yang tertindih penisnya. Bbaekhyun langsung mengalihkan pandangannya. "Sewaktu SMP, teman-temanku sangat sering menggodaku. Mereka bilang kalau tubuhku membuat mereka terangsang. Awalnya aku tidak suka ketika mereka melihat kearahku lalu bersiul dan menatap penuh napsu," jemari Baekhyun yang bertaut saling meremas. Bibir bawahnya ia gigit, gelisah. "Namun lama-kelamaan mereka yang seperti itu membuatku merasa... senang."

Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Chanyeol lalu memejamkan matanya. "Lalu aku membuat blog itu. Aku merasa senang ketika orang lain memuji tubuhku."

"Kau senang karena itu?"

Baekhyun mengeratkan dekapannya pada leher Chanyeol lalu mengangguk. Bibirnyya membentuk sebuah senyuman tipis saat Chanyeol menekan tubuhnya dengan memeluk erat pinggangnya. Kemudian si tinggi membelai pelan punggung terbukanya.

"Baek, kalau aku menyuruhmu untuk menutup blog itu. Apa kau mau?"

Dengan cepat, Baekhyun menjauhkan tubuhnya dengan Chanyeol. Sipitnya menatap lama kearah Chanyeol, kemudian berkedip sekali dan mengalihkan pandangannya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah. "Menghapus?"

"Aku hanya bertanya."

"Apa kau bersedia untuk memuji tubuhku setiap hari?" senyuman miring terlukis pada sudut bibir Baekhyun.

Chanyeol menaikkan kedua alisnya lalu tersenyum. Tangannya mengelus pipi Baekhyun lalu mencubitnya gemas. "Tentu. Bahkan setiap detikpun aku mau."

Baekhyun tersenyum lebar lalu meloncat pelan diatas tubuh Chanyeol. "Baiklah aku akan menghapus blog itu~"

Senyuman Baekhyun di balas oleh Chanyeol. Lelaki yang lebih tinggi menarik hidung kecil Baekhyun lalu menepuk pelan pipi bokongnya. Lenguhan manja Baekhyun terdengar, Baekhyun menempelkan tubuhnya dengan tubuh Chanyeol lalu menekan tubuhnya. Menggesekkan penisnya dengan penis Chanyeol.

"Kau ingin tau Bunny yang sebenarnya?" bisik Baekhyun tepat dihadapan bibir Chanyeol sebelum ia melumat kasar bibir tebal Chanyeol.

.

Bunnybtm

ChanBaek

Final Chapter (baca a/n dibawah)

.

Baekhyun menarik tangan Tiffany saat wanita itu baru saja melangkah masuk kedalam kelas. Ia membawa Tiffany kepojok belakang kelas lalu mengajak wanita itu agar duduk setelah menarik acak kursi disekitar mereka.

"Ada apa?"

"Dia tau."

Kening Tiffany berkerut, bingung dengan ucapan Baekhyun. "Maksudmu?"

"Chanyeol..." Baekhyun melirik Tiffany malu-malu sambil menggaruk pipinya. "Dia tau kalau aku itu Bunny."

Tiffany terpekik pelan lalu memukul pundak Baekhyun. Ia menatap Baekhyun dengan wajah terkejutnya. "Bagaimana dia bisa tau?!"

Baekhyun menceritakan kejadian kemarin kepada Tiffany yang didengar baik oleh wanita itu. Walaupun dia tidak menceritakan semuanya, karena Baekhyun masih mempunyai malu untuk menceritakan kegjatan bercintanya dengan Chanyeol.

"Itu tandanya pak Chanyeol tidak rela membagi miliknya. Menghapus blogmu itu memang pilihan yang tepat, Baek. Kau sudah memilikj kekasih, kau harus menjaga perasaannya."

Kepala Baekhyun mengangguk cepat dengan senyuman lebar di wajahnya. Tiffany memang teman yang bisa diandalkan. Wanita itu selalu membuat dirinya lebih tenang, dan lebih dewasa darinya.

"Aku tidak menyangka, sekalinya kau mendapatkan kekasih, kekasihmu itu guru kita sendiri!" Baekhyun menginjak ujung telapak kaki Tiffany saat wanita itu memekik. Dia tidak ingin semakin banyak temannya yang tau kalau dirinya berkencan dengan guru disekolah mereka. Itu hanya akan membuat gosip-gosip aneh yang menyebar di lingkungan sekolah.

Tiffany menunjukkan deretan giginya lalu merangkul Baekhyun. "Tapi aku turut senang karena temanku ini sudah memiliki kekasih," tangan Tiffany mengacak poni Baekhyun gemas yang dibalas dengan tepukan di telapak tangannya.

"Ohiya, Baek. Kabarnya di kantin sekolah ada kios baru, lho!"

Dan sebelum Baekhyun menghajarnya, Tiffany berlari cepat keluar kelas dengan tawa besarnya. Meninggalkan Baekhyun yang menggerutu ditempatnya.

.

Selesai dengan makan siangnya, Baekhyun melangkah riang kearah ruangan Chanyeol. Mengetuk pintunya dahulu lalu masuk kedalam setelah mendengar suara kekasihnya itu. Setelab menutup pintu rapat-rapat, Baekhyun langsung berlari menghampiri Chanyeol lalu memeluk tubuh tinggi Chanyeol.

Kepala Baekhyun harus mendongak untuk menatap wajah tampan Chanyeol. Ia tersenyum ketika Chanyeol memberikan kecupam singkat pada keningnya.

"Chanyeol, aku rindu~"

"Aku juga, sayang."

Chanyeol membawa tubuh mungil Baekhyun kedalam gendongannya kemudian melangkah menuju meja kerjanya. Chanyeol memangku tubuh Baekhyun, lalu menatap lembut lelaki yang lebih mungil darinya.

"Kau sudah makan siang?"

Dengan anggukan semangat, Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol. Ia memeluk leher Chanyeol dengan manja, jemarinya memainkan rambut belakang Chanyeol. Senyuman lebar ia berikan kepada Chanyeol, lalu merengek pelan dan menggeliat diatas pangkuan Chanyeol.

"Ada apa?"

Bibir Baekhyun mengerucut dengan kepalanya yang menggeleng pelan. Kepalanya ia sandarkan pada pundak Chanyeol, tangannya kini melingkar pada pinggang Chanyeol. "Uang saku ku habis karena teman-temanku meminta traktir."

"Lalu?"

Kepala Baekhyun terangkat. Matanya menatap Chanyeol sebal. "Gantikan uangku!"

Chanyeol terkekeh pelan kemudian kembali membawa Baekhyun kedalam dekapannya. Chanyeol mengeratkan pelukkannya dengan gemas, lalu mengecup pucuk kepala dan pelipis Baekhyun.

"Aku ganti dengan dinner?"

Baekhyun tersenyum lebar dengan anggukan kepala cepat. Tubuhnya terlonjak-lonjak diatas Chanyeol dengan semangat. "Mau!"

"Baiklah, nanti malam aku jemput. Sekalian temani aku bertemu dengan seseorang," Chanyeol tersenyum teduh sambil mengelus kepala Baekhyun sebelum mengecup kilat bibir Baekhyun.

.

.

Baekhyun tidak tau, kalau orang yang akan bertemu dengan Chanyeol adalah kakak kandung lelaki itu. Ketika seorang wanita cantik dengan wajah yang sangat mirip dengan Chanyeol, Baekhyun hanya dapat berdiri kaku dengan mata yang terus berkedip-kedip. Tangannya meremas ujung jaket Chanyeol dan bersembunyi dibalik tubuh tinggi Chanyeol. Ketika Chanyeol ingin berjalan menjauh darinya, Baekhyun menarik jaket lelaki tinggi itu dengan kuat.

"Hei, sayang?"

"Aku malu~"

Chanyeol terkekeh lalu menarik Baekhyun agar berdiri disampingnya. Ia merangkul tubuh mungil Baekhyun, menarik tubuh Baekhyun agar menepel padanya.

Baekhyun merengek dan menggeliat untuk melepaskan pelukan Chanyeol. Wajah memerahnya ia tenggelamkan pada dada bidang Chanyeol. Tangannya meremas baju bagian dada Chanyeol.

"Tidak perlu malu, sayang."

Baekhyun menundukkan kepalanya saat Chanyeol mendorong pelan dirinya agar menjauh. Sambil menggihit bibirnya, Baekhyun melirik wanita yang berdiri didepannya.

"Hey," satu sapaan dari wanita didepannya membuat debaran di jantung Baekhyun semakin cepat. Baekhyun meremas tangan berkeringatnya. "Baekhyun."

Mata Baekhyun berkedip cepat lalu mengangguk dan tersenyum kecil. Remasan pada tangannya semakin kuat saat wanita itu mendekat dan berdiri tepat dihadapannya.

"Jangan takut atau malu kepadaku," wanita itu terkekeh dengan cara yang mirip Chanyeol.

Baekhyun melirik kearah Chanyeol, namun lelaki itu menaikkan kedua alisnya dan tersenyum kepadanya. Seolah-olah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena itu, Baekhyun mengabaikan degupan jantungnya dan memilih menatap wanita dihadapannya.

"S-selamat malam, noona," cicit Baekhyun pelan dengan senyuman kecilnya.

Degupan hebat di jantung Baekhyun perlahan reda ketika melihat senyuman teduh dari wanita tersebut.

"Halo Baekhyun, aku Yoora. Kakak Chanyeol."

Baekhyun menipiskan bibirnya lalu mengangguk. Saat Yoora mengajaknya untuk duduk dimeja yang telah dipesan, Baekhyun terkesiap merasakan tangan Chanyeol yang menggenggam tangannya. Ia mendongak dan mendapati senyuman Chanyeol.

Baekhyun duduk disamping Chanyeol, dihadapan seorang wanita yang menjadi kakak Chanyeol.

"Chanyeol pernah bercerita tentangmu padaku, setiap dia menggubungiku. Seorang murid yang membuatnya jatuh hati."

Pipi Baekhyun memerah mendengar ucapan Yoora, matanya melirik kearah Chanyeol yang menunjukkan cengiran kepadanya.

Dibalik meja, diam-diam Baekhyun mencubit paha Chanyeol.

Yoora yang melihat Chanyeol kesakitan terkekeh. Ia menyuruh Baekhyun dan Chanyeol untuk memesan makanan, begitu juga dirinya. Setelah memesan, dirinya kembali menatap Baekhyun dengan kedua tangan yang menopak dagunya.

"Aku tidak menyangka kalau kau semanis ini, Baekhyun."

Kembali, Baekhyun memerah karena ucapan Yoora.

"Jangan menggoda kekasihku, noona!" teguran Chanyeol diabaikan oleh Yoora, bahkan saat adiknya itu menatap sebal kearahnya.

"Jadi, kenapa kau mau menjadi kekasih adikku? Apa kau diancam?"

Baekhyun menggeleng cepat dengan wajah yang memalu. Ia mengigit bibirnya lalu melirik kearah Chanyeol, kemudian tersenyum malu-malu.

"Entah... aku merasa nyaman dan senang bersama Chanyeol."

"Apa Chanyeol pernah menyakitimu?"

Baekhyun mengangguk dengan cepat. Ia menipiskan bibirnya dan melirik kearah Chanyeol. "Bahkan saat itu kami belum berpacaran."

Yoora menghela nafasnya lalu bersandar pada kursinya. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap Chanyeol. "Kau tidak boleh menyakiti lelaki semanis Baekhyun, Chanyeol."

"Waktu itu hanya salah paham."

"Tetap saja, kau tidak boleh menyakiti Baekhyun."

Ucapan Yoora mendapatkan anggukan semangat dari Baekhyun. Si mungil tersenyum lebar sambil menatap Chanyeol. Merasa senang dan setuju dengan ucapan Yoora.

Chanyeol yang melihat itu terkekeh lalu mengacak poni Baekhyun dengan gemas. Ia menarik ujung hidung Baekhyun lalu mendekat untuk mengecup pucuk kepalanya. Ia kembali terkekeh ketika Baekhyun mengerucutkan bibirnya dengan wajah memerah dan menatapnya dengan mata anak anjingnya.

"Baekhyun sangat menggemaskan! Kau harus cepat mengenalkannya dengan ibu dan ayah!"

"Pasti."

Mata Baekhyun membola mendengar ucapan Yoora yang tampak semangat.

Bertemu dengan orang tua Chanyeol?!

.

End

.

Yuhuu~ akhirnyaaa selesai juga kkk. Semoga endingnya memuaskan kalian ya~

Maaf kalo aku telaaaat banget updatenya, karena seperti yang aku bilang di ig aku kalo aku baru pulang tadi u.u dan sampe rumah langsung mandi dan ngetik ff ini. Jadi maaf kalo ada typo dan kurang srek karena ini kilat banget u.u nanti kalo ada yg typo aku edit ya. Karena skrng belum sempet banget u.u

Terus... review ff ini nembus 900an :' yaampun aku terharu banget, karena ini ff pertama aku yang reviewnya sampe segini. Ternyata banyak yang mendukung ff ini banget. Dan aku ngerasa ga rela buat ngetamatin ini kkk. Cuma kalo gak tamat takut nanti malah melenceng ceritanya dan jadinya garing hehe. Pokoknya kalian luar biasa banget. Makasih banyak yaaaa yang udah support cerita ini. Kalian hebat! Dan yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampe disini, makasih kalian udah setia sama ff aku ini :'

Daaaan, niatnya ini bukan perpisahan kalian sama si bunny dan pak guru. Karena aku berniat untuk bikin satu chapter khusus sebelum say gutbai sama ff ini. Tapi aku butuh voting kalian disini untuk chapter special (kalo ada banyak yang mau). Satu, super fluff. Chanbaek disini itu maniiiiis banget. Kedua, full NC. ChanBaek disini yaaa gitu, isinya adega bikin anak mereka. Jadi kalo ada yang minat , bisa pilih yang satu atau kedua. Tapi ini tetep aku lihat seberapa pengennya kalian ya hehe.

Kalo pada gamau, kita bepisah disini dengan bunny dan pak guru~

Oke ini udah panjang banget, sekali lagi terima kasih banyaaaaak buat kalian yang udah mendukung ff ini. Goodbye teman-teman^^