Penulis: ksomm814

Penerjemah: Mini Marauder

Harry Potter series © JK Rowling

Informasi selengkapnya, kembali ke Bab 1.


Bab 11 Gryffindor vs Slytherin

Harry merasa gerah, namun nyaman di atas kasur empuk dan di bawah gunungan selimut dan bantal. Dia bisa mendengar samar-samar suara percakapan di kejauhan. Dia membenamkan wajahnya ke bantal, dalam usaha meredam suara-suara itu. Dia masih enggan mengentaskan diri dari kenyamanan yang membungkusnya. Dia senang di sini. Dia aman di sini.

Aman.

Dia tidak ingin melakukan apapun selain kembali lagi ke alam mimpi, tetapi sesuatu menghentikannya. Sesuatu menyentuh rambutnya. Gerakan itu terasa familiar dan asing secara bersamaan. Bingung mengisi otaknya, membuat Harry mengerang jengkel. Dia tidak ingin apa-apa selain tidur lagi. Secara reflek, Harry ingin menepis tangan menjengkelkan itu, tetapi tangan-tangannya sendiri masih tidur.

"Kurasa dia mulai bangun."

Bangun? Mengapa mereka menunggunya bangun? Harry semakin kebingungan sekarang. Berpikir keras sebisa mungkin dengan otak keruhnya, Harry mencoba mengingat kejadian-kejadian yang dia lalui tadi malam. Bicara soal tadi malam, dia tidak ingat pernah tertidur. Dia bahkan tidak ingat memasuki Menara Gryffindor.

SIRIUS BLACK!

Dia ingat. Dia ingat Black mencengkeramnya di dinding, menuntut agar dimasukkan ke Menara Gryffindor. Dia ingat mencoba membebaskan diri, tetapi gagal. Dia ingat sesuatu menghantam belakang kepalanya.

Harry langsung berguling telentang dan duduk, panik membuatnya sulit bernapas. Dia mengabaikan pusing yang menguasai kepalanya. Bayangan-bayangan orang bergegas ke sisi tempat tidurnya, sementara dua pasang tangan berusaha membaringkannya lagi, perlahan. Harry melawan tangan-tangan itu sekeras mungkin. Dia tidak mau menyerah. Sirius Black tidak akan pernah mendapatkan apa-apa darinya.

"Tenanglah, Harry," kata sebuah suara yang akrab di telinganya. "Kami tidak akan menyakitimu. Black tidak ada di sini. Kau sudah aman."

Harry berhenti melawan, tetapi sekujur badannya masih tegang, menolak tangan-tangan yang membujuknya berbaring lagi. Terengah, dia memandang berkeliling. "Aman?" dia bertanya, lirih. "Dia sudah pergi?"

Seseorang memakaikan kacamatanya, membawa ruangan ke fokus. Harry melihat Profesor Dumbledore dan Profesor Lupin yang mencoba membuatnya berbaring lagi. Di belakang mereka ada Profesor McGonagall, Madam Pomfrey dan Profesor Snape. Perlahan, Harry menyeret atensinya ke Profesor Lupin, lalu berpaling ketika matanya terasa panas oleh air mata.

"Kau tidak apa-apa, Harry?" tanya Profesor Dumbledore, lembut.

Harry mengangguk. "D—dia ingin masuk ke Menara Gryffindor," katanya dengan suara bergetar. "D—dia terus menerus berkata, 'dia ada di Hogwarts'. Dia khawatir. Dia pikir ada seseorang di Menara Gryffindor yang ingin menyakitiku. Aku—aku—"

"Sudah tidak apa-apa, Harry," kata Profesor Lupin. "Kau yakin Black tidak mencoba menyakitimu?"

Harry mengangguk lagi, sambil menatap tangannya. Mendadak dia merasa seperti bocah tertangkap basah sedang bermain di jalan padahal tidak boleh. Dia merasa sudah mengecewakan 'keluarga'-nya. Dia tidak menyukai perasaan yang menggerogotinya itu. "Maafkan aku," katanya, lamat-lamat. "Aku—aku tidak tahu dia akan ada di kastil. Seharusnya aku tidak meninggalkan jamuan."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Harry," kata Profesor Dumbledore, tulus. "Ini bukan kesalahanmu. Meskipun demikian, fakta dari persoalan ini adalah kamu tidak aman di sini, seperti yang kami perkirakan. Sirius Black mungkin sedang mencoba mendapatkan kepercayaanmu. Tetapi sampai dia ditangkap, aku harus bersikukuh agar kamu tidak kemana-mana sendirian."

Harry hanya bisa mengagguk, sementara air matanya jatuh. Dia benci merasa seolah-olah dihukum, padahal Dumbledore berkata dia tidak bersalah. Ini tidak adil. "Apa semua orang tahu?" dia bertanya.

Keheningan singkat menyusul. "Para Hantu memberitahu kami tepat ketika kami baru saja menyelesaikan jamuan," kata Profesor Lupin, berhati-hati. "Aku tahu kau tidak ingin menjadi pusat perhatian, Harry, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap itu sekarang. Teman-teman sekelasmu harus tahu ancaman ini nyata karena kami tidak bisa bersamamu sepanjang waktu. Apa kau mengerti?"

"Mereka akan berhenti setelah beberapa hari, Harry," kata Profesor Dumbledore, riang. "Istirahatlah. Ini masih dini hari."

Para orang dewasa perlahan mengundurkan diri dan keluar. Tetapi ketika Profesor Lupin berdiri, Harry secara insting menarik lengan baju laki-laki itu dan mendongak, menatapnya. Memohon agar laki-laki itu tinggal, tanpa kata. Harry tidak bisa menjelaskan, tetapi dia benar-benar tidak ingin sendirian sekarang ini. Lupin sepertinya memahami gesturnya, seraya mengambil tempatnya lagi di sisi tempat tidur. Berbaring lagi, baru saat itulah Harry merasakan kembali rasa pusing yang memenuhi kepalanya. Jumlah latihannya memblokir rasa sakit terbilang banyak, jadi hal itu sudah hampir menjadi sifat alaminya sekarang.

Lupin tersenyum lembut kepada Harry, lalu menyelimutinya. Mata Harry hampir menutup, sehingga dia melepaskan kacamata Harry dan memandangi anak itu perlahan terlelap. "Jangan khawatir, cub," gumam Lupin. "Kita akan bisa mengatasi semua ini."


Hari Minggu kali itu terasa panjang, bahkan minggu terpanjang. Semua orang ingin tahu detil-detil yang sekarang diklasifikasikan sebagai percobaan penculikan. Harry tidak ingin memenuhi harapan mereka, tetapi Nyonya Gemuk bercerita kepada siapapun yang bertanya (setidaknya porsi yang dia tahu). Ketika Minggu sore tiba, setiap orang punya versi cerita masing-masing, termasuk bagaimana Black bisa memasuki kastil.

Profesor Lupin benar. Para murid menganggap isu ini dengan serius. Seluruh penghuni Menara Gryffindor menyatakan diri sebagai pengawal kapanpun mereka bisa, yang berarti hal bagus. Dengan pertandingan Quidditch datang mendekat, atmosfir di antara Slytherin dan Gryffindor menegang. Beberapa perkelahian terjadi, dan sudah menjadi kegiatan sehari-hari murid-murid Slytherin melakukan apapun untuk menakut-nakuti Harry Potter. Kebanyakan meyakinkan Harry bahwa mereka melihat Sirius Black di kastil lagi. Sedangkan sisanya saling mengobrol tentang betapa cocoknya Lapangan Quidditch sebagai tempat membunuh seseorang, persis ketika Harry tengah melintasi mereka.

Profesor McGonagall bergabung dengan Madam Hooch dalam mengawasi latihan Quidditch yang jauh lebih lama dan melelahkan daripada sebelum-sebelum ini. Oliver Wood melatih keras timnya, tetapi tidak ada yang berani membantah. Setiap anggota tim Quidditch sama inginnya mengalahkan Slytherin, seperti Oliver. Tidak ada yang peduli seberapa buruknya cuaca menghadang, ataupun kalau mereka kembali ke kastil dalam keadaan basah kuyup.

Sehari sebelum pertandingan, cuaca berubah sangat buruk sampai-sampai mereka memasang lentera di sepanjang koridor. Memasuki kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Harry mulai mendapat firasat buruk soal pertandingan. Dia benar-benar tidak ingin bertanding di cuaca seperti ini. Memangnya bagaimana nanti dia mencari Snitch? Apa dia akan bisa melihat Snitch?

Harry duduk di bangku terdepan bersama Ron di kanan dan Hermione di kirinya, seperti biasa, sedangkan murid-murid sisanya berjalan santai memasuki kelas. Berputar di kursinya, mata Harry melebar melihat Profesor Snape berjalan menuju meja guru, jubahnya berkibar di belakangnya. Profesor Lupin pasti benar-benar sakit.

"Ini tidak mungkin terjadi," gumam Ron. "Tolong katakan kepadaku ini tidak terjadi."

Harry tidak mau ambil resiko menjawab, sambil mengawasi Profesor Snape membalik-balik halaman sampai ke akhir buku. "Buka halaman 394," katanya, dingin. "Hari ini kita akan mendiskusikan Manusia Serigala."

Tidak ingin menjadi sasaran kemurkaan Snape, Harry membuka bukunya dengan patuh. Dia bisa merasakan pandangan tegas Profesor Snape sebagai Ahli Ramuan menyebar ke segala arah, menunggu siapapun yang hendak melawannya. Begitulah caranya mengetes, mudah dan sederhana. Harry bertekad tidak ingin menjadi contoh murid yang melawan Snape.

Sayangnya, Hermione gagal menahan diri. "Tetapi, sir," dia memprotes. Kami belum seharusnya belajar Manusia Serigala sebelum semester depan. Kita baru akan memulai Hinkypunks sekarang."

Profesor Snape melotot ke arahnya dan berjalan perlahan mendekat. "Sepuluh poin dari Gryffindor karena bicara tidak sesuai giliran, Miss Granger," dia mendesis. "Sekarang, apa ada yang bisa memberitahuku, bagaimana cara membedakan Manusia Serigala dengan Serigala Asli?" Dia mengabaikan tangan Hermione yang mengacung di udara. "Tidak ada? Kasihan sekali. Kelihatannya Profesor Lupin yang kalian kagumi itu malas-malasan dalam mengajar."

Kali ini Dean yang angkat bicara. "Dia guru Pertahanan terbaik yang kami punya," katanya dengan berani. Beberapa orang mengangguk setuju, tetapi tidak ada yang berani menyuarakan pendapatnya.

"Sepuluh poin dari Gryffindor, Mr Thomas," kata Snape. "Kalau kalian melanjutkan ini, Gryffindor tidak akan punya sisa poin, bukan berarti aku sedang komplain. Sekarang, ada yang bisa menjawab pertanyaanku?"

Tangan Hermione masih mengacung. "Tolong, sir," katanya. "Moncong Manusia Serigala lebih pendek—"

Profesor Snape membanting tangannya ke meja Hermione dan melotot ke arahnya. "Bicara di luar giliran lagi, kamu akan menjalani detensi selama sisa semester ini," dia membentak. "Sepuluh poin lagi dari Gryffindor karena sok tahu yang menyebalkan."

Hermione menurunkan tangannya, pandangannya jatuh. Pasti menyakitkan sekali mendengar kata-kata itu terlontar dari seorang guru, meskipun semua orang mengatainya begitu hampir setiap minggu. Harry bisa melihat Hermione hampir menangis. Dia menggigit bibirnya sendiri agar dia tidak kelepasan berkomentar di depan Snape. Mengembalikan pandangannya ke bukunya, Harry bisa melihat Ron dari sudut matanya. Si rambut merah itu naik pitam dan baru akan membela Hermione, jadi Harry melakukan apa yang dia bisa… dia menginjak kaki Ron.

Ron langsung menoleh ke Harry, matanya menyala, menuntut penjelasan. Harry memberi Ron pandangan memohon, berharap temannya itu akan mengerti. Setelah beberapa saat, Ron memutar mata dan mengembalikan perhatiannya ke Profesor Snape.

Di sepanjang pelajaran, tidak ada yang berkata apa-apa. Mereka tidak melakukan apapun selain mencatat perihal Manusia Serigala di buku catatan masing-masing. Selagi Harry mencatat, dia terkejut mendapati banyak kesamaan dengan Profesor Lupin. Manusia Serigala sulit sekali menggemukkan badan disebabkan mereka terus berubah wujud, dan tampak sakit mulai sejak dua minggu sebelum berubah. Profesor Lupin kurus sekali dan memang sakit, tetapi itu saja tidak mungkin membuatnya Manusia Serigala.

Betul, kan?

Semakin banyak Harry belajar, semakin dia gelisah dan semakin nyatalah apa yang dia takutkan. Terlalu banyak kesamaan untuk diabaikan. Tetapi kalau dia benar Manusia Serigala, mengapa dia tidak mengatakannya kepadaku? Dia waliku! Harry memucat. Bagaimana kalau justru karena alasan itulah Profesor Lupin tidak memberitahunya. Bagaimana kalau semua orang seharusnya tidak tahu?

Di akhir kelas, Profesor Snape menugaskan dua gulung perkamen tentang cara mengenali dan membunuh Manusia Serigala. Seluruh kelas marah sekali. Akan ada pertandingan Quidditch di akhir minggu! Bukan hanya itu, ini Gryffindor vs Slytherin! Begitu Snape membubarkan kelas, semua bergegas meninggalkan ruangan. Semua orang, kecuali Harry.

Dengan hati-hati, Harry mendekati meja guru dimana Profesor Snape tengah berkemas. "Profesor," dia memanggil, lirih. Profesor Snape berputar dengan cepat, membuat Harry berlari mundur beberapa langkah, ketakutan. "Aku tidak bermaksud mengganggu Anda, tetapi ada yang ingin saya tanyakan," kata Harry gelisah, menghindari memandang Snape langsung di mata. "Dari yang saya baca, Manusia Serigala tidak boleh memiliki anak." Pelan-pelan, dia mendongak, mempertemukan mata dengan Snape. Pandangannya memohon. "Bagaimana dengan adopsi?"

Profesor Snape memandang Harry beberapa saat, lalu mengambil sebuah perkamen dan pena bulu. Setelah membenamkan ujung pena bulunya ke tinta, Snape menuliskan sesuatu dengan cepat lalu menoleh ke Harry. "Aku tidak tahu hukum-hukum apa saja yang tertulis, Potter," katanya, dengan sedikit nada kesal. Dia menyorongkan perkamen itu ke Harry. "Buku itu seharusnya bisa memberitahumu apa yang kau perlu tahu, tetapi kadang, bertanya kepada orang, yang mungkin tahu, akan lebih baik."

Pandangannya jatuh, selagi dia mengantongi catatan itu. Dia bahkan tidak tahu kalau dugaannya benar. Dia tidak akan menuduh Profesor Lupin untuk hal seperti ini. "Aku harap aku bisa," dia bergumam. "Terima kasih, Profesor."

Dia pergi bahkan tanpa melihat Profesor Snape. Seluruh dunianya terbalik. Profesor Dumbledore telah memberitahunya bahwa hubungan wali-anak ini hanya sementara, tetapi Harry berharap akan permanen. Harry merasa Profesor Lupin mengenal dan memahami dia lebih baik dari yang lain. Kalau harus kehilangan kesempatan itu, Harry tidak tahu bagaimana dia harus menerima kenyataan itu.


Harry tidak bisa tidur malam itu, kecuali kalau dia tertidur tanpa dia ingat. Benaknya terlalu sibuk berpikir dan badai berpetir di luar sana tidak membantu. Kilasan-kilasan cahaya menerangi ruangan. Angin kencang menerpa dinding kastil. Ini akan jadi pertandingan yang hebat, pikir Harry sarkas. Dia akhirnya berhenti berusaha tidur di dini hari dan berpindah ke Ruang Rekreasi bersama buku Mantra-nya. Kalau cuaca seperti ini akan terus berlanjut, dia jelas akan butuh sedikit bantuan.

Kurang dari sejam kemudian, dia menemukan Mantra yang bisa membuat kacamatanya menolak air, yang mana esensial. Dengan begini, dia akan bisa melihat… well… sehebat orang bisa melihat dalam keadaan cuaca seperti ini. Harry tidak mau mengambil resiko menggunakan Mantra-Mantra lain, takut tim Slytherin akan menuduhnya berbuat curang. Setidaknya sekarang, dia dan Malfoy berada dalam kondisi seimbang.

Dengan tidak adanya hal lain yang bisa dia lakukan, Harry berakhir mengerjakan PR tentang Manusia Serigala-nya. Dia masih tidak diizinkan pergi kemanapun, yang menjengkelkan. Selama berbulan-bulan waktu yang dia habiskan di Hogwarts sendirian, Harry sudah terbiasa keluyuran menyusuri koridor-koridor kapanpun dia sedang banyak pikiran. Selama dua bulan pertama sejak tahun ajaran baru dimulai, Harry juga terbiasa mengunjungi kantor Profesor Lupin kapanpun dia butuh teman bicara.

Dia tidak bisa melakukan yang terakhir disebutkan untuk beberapa alasan.

Harry sudah mengecek kalender dan menemukan fakta bahwa penyakit Lupin kebetulan sesuai dengan siklus bulan. Seolah-olah pecahan puzzle terus menyatu padahal Harry tidak ingin percaya. Dia mengira semua guru tahu soal ini, karena mereka semua berpartisipasi dalam meyakinkan Harry musim panas lalu. Kalau dia memberitahu mereka semua, mengapa dia tidak memberitahuku?

Seperti nasib sial Harry yang sering menyertainya, keadaan cuaca tetap luar biasa buruk. Semua murid bergelung diri di bawah payung yang kelihatan siap sobek diterpa angin. Berpakaian jubah merah, Tim bertarung melawan angin ganas sejak dari mereka memasuki lapangan. Hujan seperti datang dari berbagai arah. Tetapi hebatnya, dia bisa melihat dengan jelas. Mantra-nya bekerja dengan baik.

Tim Slytherin muncul di sisi lain lapangan dengan jubah hijau. Rasanya… aneh melihat tim itu tanpa seringai. Jelaslah mereka sama-sama khawatir bertanding di cuaca seperti ini. Para Kapten berjalan ke tengah lapangan, berjabat tangan, lalu kembali ke tim masing-masing. Harry bisa melihat bibir Madam Hooch mengucapkan sesuatu mirip "naiki sapu kalian!". Secepat dan serahasia mungkin, dia memasang Mantra Penghangat—sehingga dia tidak membeku kedinginan—sebelum mengayunkan kaki kanannya melampaui Nimbus-nya dan lepas landas tepat ketika peluit dari kejauhan berbunyi.

Naik dengan cepat, Harry berpegangan erat pada sapunya, mengabaikan goyangan akibat angin. Hanya butuh beberapa menit bagi Harry sampai basah kuyup. Tetapi berkat Mantra Penghangat-nya, dia tidak kedinginan. Bayangan-bayangan merah dan hijau berkelebatan dimana-mana, tetapi Harry tidak memperhatikan. Dia memfokuskan diri sepenuhnya ke Snitch.

Badai bertambah buruk. Semua orang makin kesulitan mempertahankan diri di atas sapu. Dua kali, Harry hampir bertabrakan dengan Bludger, sebelum suara peluit Madam Hooch melepaskannya dari konsentrasi. Memandang berkeliling, Harry melihat dan mengikuti teman-temannya merendah ke tanah. Mereka mendarat, mengabaikan lumpur yang menciprati jubah mereka, dan bergegas ke bawah payung untuk berlindung.

"Berapa skornya?" Harry berteriak mengatasi deru angin.

"Kita kalah sepuluh angka!" Oliver balas berteriak kepadanya. "Kau harus menangkap Snitch secepatnya, atau kita semua bakal mati beku!"

Memandang berkeliling, Harry baru menyadari semua orang menggigil kecuali dia. Tanpa berpikir panjang, Harry mengeluarkan tongkatnya dan melepas beberapa Mantra Penghangat. Semua orang berhenti menggigil dan memandang Harry, membuatnya tidak nyaman. "Apa?" tanyanya, gugup. "Cuma Mantra Penghangat biasa kok."

Para perempuan di tim terlihat seperti ingin menciumnya.

"Brilian, Harry!" teriak Oliver. "Ayo, Tim!"

Semua masih basah kuyup, tetapi setidaknya sudah tidak kedinginan lagi. Sekarang tidak ada lagi yang menghentikan Harry menangkap Snitch. Dia tidak mau berbasah-basah di bawah badai seperti ini lebih lama lagi. Guntur menggelegar, diikuti kilasan kilat. Itu saja sudah cukup. Harry melihat Snitch emas kecil terbang menuju tribun guru. Dia mengejarnya.

Harry hampir sampai, ketika suara-suara di sekitarnya lenyap. Masih ada angin, tetapi tidak ada aumannya. Kerumunan penonton tidak bersuara. Seolah-olah ada yang memencet tombol mute, tetapi itu tidak mungkin… kan?

Lupakan itu! Tangkap Snitch-nya!

Harry mengulukan tangannya ke bola kecil itu ketika hawa dingin intens yang familiar membungkus tubuhnya. Mantra Penghangat mendadak diangkat dan dia terperangkap di dalam suhu di bawah nol derajat Celcius. Abaikan! Pandangannya mengabur, napasnya semakin sulit. Harry baru tahu apa yang terjadi ketika sebuah jeritan familiar membahana di telinganya. Dia merasakan Snitch di tangannya dan seketika menangkupkan jemarinya. Dia tidak bisa bersikap acuh lagi.

"Jangan Harry, jangan Harry, kumohon jangan Harry!"

"Minggir kau, perempuan bodoh… minggir, sekarang juga…"

"Jangan Harry, kumohon jangan, aku saja, bunuh aku saja—"

Badan lemasnya ambruk ke depan, pegangannya terhadap sapu terbangnya mengendur. Sebelum Harry tahu apa yang terjadi, dia telah jatuh; jatuh ke dalam kegelapan; ke dalam kegelapan pilu yang telah menunggunya. Tidak ada yang bisa dilakukannya.

"Jangan Harry! Kumohon… kasihani dia… kasihanilah…"

Tawa melengking tinggi memenuhi telinganya. Rasanya dia pernah mendengarnya, terlalu akrab di telinganya. Satu lagi jeritan dan kegelapan menelannya.


Suara-suara di kejauhan mengetuk telinganya. Harry tidak ingin apapun selain kesunyian dan kembali tidur. Dia lelah sekali, badannya pegal-pegal. Setiap senti tubuhnya sakit. Jangan tanya soal bergerak. Sebuah aroma samar-samar merasuki hidungnya. Harry mengerang ketika dia mengingat-ingat dimana dia pernah mencium aroma itu. Tidak butuh waktu lama bagi Harry untuk menyadari bahwa dia di Infirmary. Tunggu… apa yang kulakukan di sini?

"Aku tidak percaya ini."

"Aku tidak percaya dia masih menangkap Snitch dengan mereka ada di sana."

"Aku tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupku."

Takut? Mengapa semua orang ketakutan? Apa yang orang-orang ini bicarakan? Pelan-pelan, otak Harry mulai jernih dan memori-memorinya kembali utuh. Dia ingat pertandingan Quidditch, ibunya memohon dan suara Voldemort. Mata Harry sontak terbuka dan tampaklah bayangan orang-orang berkumpul di sekeliling tempat tidurnya.

"Harry!" Fred berteriak. "Bagaimana keadaanmu?"

Harry menoleh ke suara Fred, namun sedetik kemudian dia mendesis kesakitan. Seseorang menggenggam tangan kanannya erat-erat, sementara seseorang yang lain memakaikan kacamatanya. Wajah-wajah segera mefokuskan diri. Seluruh anggota tim Gryffindor (masih belepotan lumpur dan basah kuyup), Ron dan Hermione mengelilinginya. Dari wajah-wajah khawatir mereka, Harry memperkirakan dia tampak parah.

"Apa yang terjadi?" dia bertanya. Suaranya serak. Dia punya gambaran general tentang apa yang terjadi, tetapi entah mengapa Harry membutuhkan konfirmasi. Dia butuh tahu kalau mimpi buruknya tadi adalah sebuah kenyataan.

"Er—well—kau jatuh, Harry," kata Oliver, canggung. "Setidaknya dari ketinggian lima puluh kaki: tepat setelah kau menangkap Snitch. Ada banyak sekali Dementor…"

"Dumbledore marah sekali, Harry," kata Hermione, meremas lembut tangan Harry. "Semua guru berlari ke lapangan dan mencoba memelankan jatuhmu, lalu melepaskan sesuatu keperakan ke arah Dementor, mengusir mereka. Dementor tidak seharusnya memasuki lapangan."

"Tetap saja jatuhmu masih lumayan keras," tambah Ron. "Kami kira kau sudah mati. Lalu, ada masalah soal sapumu."

Ada sesuatu di suara Ron yang membuat perut Harry melilit. Harry memejamkan mata, tidak bisa melakukan apapun yang lain. "Ada apa dengan sapuku?" dia bertanya.

"Sapumu diterbangkan angin ke Dedalu Perkasa, Harry," kata Hermione, gugup. "Aku ikut menyesal."

Harry merasa seperti mau muntah. Dia punya banyak pengalaman melibatkan Dedalu Perkasa untuk tahu amukan macam apa yang pohon itu bisa. Sapunya, Nimbus 2000, tidak mungkin bisa selamat. "Hancur," katanya, seraya memandang Ron, "…kan?"

Tangan-tangan menyentuh lengan dan kakinya, memberikan remasan simpatik. Ron memandang ke Hermione yang mengambil sebuah tas dari lantai dan meletakkannya di sisi tempat tidur Harry. "Profesor Flitwick baru saja membawakan ini," kata Hermione. "Aku turut menyesal, Harry. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ini. Profesor Dumbledore sudah mencoba."

Harry hanya bisa menatap tas yang berisi patahan-patahan kayu yang berasal dari sapu terbang setianya. Dia tidak pernah tahu seberapa sayangnya dia terhadap sapu itu sebelumnya. Sapu itu adalah hadiah ulang tahun keduanya. Sekarang, tidak lebih dari sekadar kayu bakar.


'Cub' itu artinya 'anak serigala'. Sebenarnya mau saya terjemahkan 'nak', tapi… kayaknya mengurangi feel. Jadi ya, saya biarkan. Wkwkwk.

Weee… libur sudah berakhir. Jadwal update balik dua hari sekali (atau sesempatnya). Saya target ujian skripsi akhir bulan ini. Mohon dukungan dan doanya ya!

Balasan review Chapter 9:

(1) ainun anissa 9, nggak apa-apa. Begini saja sudah menyemangati, kok ;) Saya usahakan, ya.

(2) Nyanmaru desu, di film kan Profesor Lupin bukan walinya Harry ;D Dan sejujurnya saya memang merasa lebih suka Lupin di cerita ini daripada di film. Di sini lebih kerasa peran 'paman'. Kalau di film itu… kayak… well, cuma sahabat orangtuanya Harry. Setuju, nggak?

Dan Snape! SNAPE! Dia adalah pahlawan sesungguhnya di novel Harry Potter *nangis* Saya menyesal sekali udah nyumpah-nyumpahin Snape *plak*

Penasaran-penasaran bakal terjawab di beberapa Chapter ke depan w Dalam waktu dekat ini, fokusnya baru keakraban Lupin sama Harry.

Balasan review Chapter 10:

(1) ainun anissa 9, kalau menurutmu? ;)

(2) Nyanmaru desu, Selamat~ murid-murid Hogwarts punya teori berbeda-beda. Kalau teorimu apa? Hahaha.

Tikus itu imut lho *disepak*

(3) Aoi YU Hara, walah, monggo, monggo difollow sama difav ;D Salam kenal. Saya penerjemah, btw. Authornya mbak ksom814.

(4) YMFS, Yeay. Gimana, ya? Masing-masing orang punya teori tuh. Teorimu apa? Hahaha.

Terima kasih~ Maaf menunggu lama.

Yak, semoga hari kalian menyenangkan!

Mini Marauder