Balasan review.
Hai minna-san! Aku balik lagi! *lambai-lambai tangan ke readers* Maafin saya ya, karena ngilang begitu saja selama sebulan. Itu… sebetulnya… aku writer's block gitu, abis bagian di chapter ini –spoiler- romantis-romantis gitu… aku lagi nggak mood bikin yang kayak gitu, ya gini deh hasilnya. *pundung*
Jadi nih ya… aku nggak tahu next chapter bakal diupdate. Karena mungkin akan ada drama gitu, terus aku males bikinnya :''D Genre andalanku kan angst/hurt/comfort/action/crime jadi… agak aneh kalau aku bikin romance/drama. Tapi demi menyenangkan penggemar saya yang setia :"""D /plak/ abaikan apa yang baru saya bilang.
Ditambah, laptop perlu rusak segala lagi -_- Jadi maaf keterlambatannya ya! Hounto ni gomenasai nee~
Akiyama Taiga: Hey hey! Makasih makasih udah review! Memang ini bertebaran rumitnya… duaar hahahahah. Rahasia dong ;) Stay tune, 'kay?
Moka Kujyou: Soalnya dia mengira Lucy yang membunuh Lisanna, *spoiler* walaupun padahal bukan!
Anonymousgirl88: Aku juga benci niih arrgghhhararakghgh *kesel jadinya* Eh sama, aku juga sama kok! Aku cuma gasuka Gruvia doang! *peace sambil nyengir gaje* Cici apaan yah ._. Tae yang memang ganteng ^^b HAHAHAHAH #stressberkepanjangan Gapapa aku seneng kalau ada banyak tanda seru. Jadi kayak kebawa serunya gitu 3
Regina (chapter 10): Eh iya? Mungkin karena aku update chapternya pas barengan Regina-san review kali ya ^^b Iya juga ya /plak Mungkin 3 chapter ke depan baru muncul permasalahannya Erza. Masalahnya permasalahannya Mirajane lebih mengambil peran besar dalam plot.
Regina (chapter 9): Salah xD Tapi bagus juga usaha nebaknya ^^b Hubungan Lucy ama Jellal… rahasia lol. Stay tune kay?
Mako-chan: Siiip deh! Emang Mirajane cocok banget jadi matchmaker. *ketawa gaje*
Bjatihowo: Gomen gomen, nggak sempet kubaca ulang lagi -_-'' Hehe *ketawa* Emang AU, tapi patokannya masih berdasarkan canon juga gitu lho ^^b
Thank you yang udah review, lanjutan review yang belum dibales chapter depan aja yaaak. *pemalas banget nih author #ditendang*
Chapter 11: Terbelalak
"Ki….Kita…?" Lucy mencoba berbicara setelah keheningan yang canggung. "Ma-Maksudmu, kau dan aku? Kita berdua? Di ruangan ini?" Tambah Lucy bertubi-tubi, memastikan apa yang dia dengarkan tidak salah. Gray menoleh pada Lucy, memastikan bahwa apa yang ia dengar itu benar. Lelaki itu mengangguk.
Langsung saja sekujur tubuh Lucy terasa lemas. Dia merosot sampai tidak bisa lagi berdiri. Kemudian dia teringat ponsel. Perempuan itu langsung saja berdiri dengan cepat, menelan ludah sambil menatap ke arah lelaki bermata biru gelap itu.
"Mungkin ponsel Gray bisa—"
"Tidak." Gray menepis harapan terakhir Lucy. "Aku sudah mencoba menelpon entah Caprico atau yang lainnya, hasilnya nihil. Pasti Mirajane sudah menyabotase segalanya. Dia itu punya seribu cara untuk mendapatkan yang dia inginkan."
Lucy angkat bicara, "I-Inginkan?" Dia jadi gugup seperti ini, kenapa sih?
Gray mengangguk lagi, mengiyakan. "Benar. Pasti dia—" warna merah menjalar di wajah Gray. "Kita untuk menghabiskan malam berdua di ruangan ini."
Mendengarnya saja sudah membuat Lucy dag-dig-dug tidak jelas. Dia panik dan cemas, apalagi Gray adalah 'bosnya' di sini. Perasaan aneh yang melandanya ketika dia divonis harus bermalam dengan pemuda ini.
"Kalau begitu, Gray, kau mandi saja." Lucy mencoba tenang. Dia mengibaskan rambut pirangnya pelan.
Pemuda di depan Lucy itu mengernyitkan dahinya akan perubahan sikap Lucy yang tergolong cepat. "Kau tidak apa-apa?"
"Ya," jawab Lucy cepat-cepat. "Aku baik-baik saja dengan ini, aku akan menghabiskan malam dengan—denganmu, Gray." Akhirnya Lucy menyelesaikan kalimatnya. Dia bisa merasakan panas menjalar dari pipinya setelah berkata begitu kepada Gray Fullbuster.
Gray tampak terkejut juga. Kemudian dia mengangguk, merasakan wajahnya ikut memerah. Dia lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi tanpa menjelaskan apa-apa pada Lucy. Lucy hanya bisa menatap kepergian Gray dengan iris mata cokelatnya.
Langsung saja Lucy menelusuri kamar Gray. Ada meja kecil di samping tempat tidurnya. Iphone dengan casing berwarna biru navy terletak di situ. Tidak jauh dari iPhone-nya, ada figura dengan foto di dalamnya. Seorang anak kecil berambut pirang dan anak lain berambut hitam-kebiruan adalah orang-orang yang terpotret di situ.
Jari lentik Lucy menelusuri figura itu. Tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya. Setiap melihat ke arah foto itu, entah kenapa—menimbulkan sensasi aneh. Kehilangan. Tanpa ia sadari, setetes air mata menggenang.
"Gray… kau tidak menyayangi Lucy?"
"Tch, sudah kubilang, aku hanya belajar melukis. Bukan berarti aku meninggalkanmu untuk bermain sendiri."
Perempuan kecil itu menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Oke, aku menyayangimu. Jangan menangis."
"Kenapa kau menangis?" Suara yang Lucy kenali membuatnya tersadar. Gray Fullbuster berdiri di dekatnya. Matanya melihat ke arah tangan Lucy yang sedang menggenggam figura itu erat-erat.
Lucy langsung saja melepaskan figura itu. "I-Itu…"
Jujur atau tidak.
Tiga kata yang terus berputar-putar di kepala Lucy. Dengan berat hati, perempuan itu terpaksa mengatakan kebohongan pada Gray.
"Tidak… entah kenapa… aku…"
Gray tidak bertanya lebih lanjut. Apapun yang melintas di benaknya, dia tidak ingin lagi bertanya tentang penyebab Lucy menangis. Kemudian dia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan jam sepuluh malam. Sudah terlalu malam untuk mereka berbincang. Terlebih sepertinya Lucy lelah.
"Tidurlah," Gray memotong perkataan Lucy. Lucy yang baru ingin menjelaskan mengerjapkan matanya dengan kecewa. Kemudian dia merangkak ke bagian dalam tempat tidur. Dia tidur membelakangi Gray. Entah kenapa, kemaluan yang ia rasakan langsung lenyap karena rasa kecewa itu.
Lelaki berambut hitam itu diam saja. Lucy tidak bisa merasakan hawa kehadiran orang yang di sampingnya, yang berarti Gray tidak menaiki tempat tidur untuk tidur di sampingnya.
Perempuan berambut pirang itu memutuskan untuk menolehkan kepalanya. Dia melihat Gray yang masih berdiri dan menatap figura itu dengan pandangan sendu. Gadis itu berucap, "Gray."
Pria itu tersadar.
Dia kemudian menatap Lucy dan menggaruk lehernya dengan gugup. "H-Hey Lucy. Kau masih bangun? Kukira kau sudah tidur."
Lucy mendengus. "Aku tidak akan tidur semudah itu, kautahu. Daripada itu, kau yang harusnya tidur. Tidurlah di atas sini."
Warna kemerahan langsung terbentuk lagi di pipi Gray. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. "Maksudmu denganmu?"
"Ya." Dia menjawab tanpa basa-basi. Menyadari nadanya mengesankan dia berharap Gray tidur dengannya, Lucy langsung mendehem. "Maksudku, kaubutuh tidur, kan? Tempat yang paling baik untuk tidur ya… di tempat tidur." Lucy mengangkat bahunya dengan gaya lucu.
Gray akhirnya menyetujuinya tanpa banyak omong. Dia memang sudah mengantuk tapi menahannya, bingung tidur di mana. Pemuda itu naik ke atas tempat tidur dengan gugup. Dia lalu berbaring di sebelah Lucy. Lucy yang melihat itu langsung saja merona. Selimutnya hanya satu. Dengan hati-hati dia menggeser selimutnya agar Gray bisa memakainya.
"Ini… pakailah."
"Kau pakai apa nantinya?" Spontan Gray membalas Lucy.
Perempuan berambut pirang itu menunjuk selimut yang sama. "Be-Berdua saja."
"Berdua?" Tawa aneh dikeluarkan Gray dari mulutnya. "Biasanya kau yang mengatakan aku mesum, tapi kini?"
"Su—sudahlah!" Lucy langsung mengganti topik. "Intinya kita harus tidur. Besok kita akan kerja, kan? Urghh, ini semua gara-gara ide konyol Mira-san!" Perempuan itu memajukan bibirnya dengan sebal mengingat perempuan berambut putih itu. Gray dalam hati menyetujui perkataan Lucy.
Mereka berdua menutup mata.
Tapi Lucy tahu, dia tidak bisa tidur. Pikirannya masih tetap bekerja. Sekarang ia seperti orang mesum seperti yang dikatakan Gray. Benaknya menciptakan fantasi-fantasi tidak terbayangkan; dengan dia dan Gray sebagai tokoh utama. Bagaimana kalau Gray malam-malam memeluknya—dan dia tanpa sadar juga memeluk Gray—kemudian… kemudian…
Poff! Langsung saja warna merah menjalar di wajah Lucy. Entah sudah yang keberapa hari ini Lucy bisa merasakan wajahnya panas. Dia ini nakal sekali sih, membayangi dirinya dengan Gray! Lucy mengomeli dirinya.
Pelan-pelan ia melirik Gray yang tidur telentang. Ah… sepertinya pemuda itu telah tertidur. Wajahnya sangat polos; dia terlihat lelah. Apa yang membuatnya lelah? Batin Lucy dalam hati. Dia seperti orang dalam keadaan depresi.
Dan sekarang, ia mendapati tangannya menyentuh wajah Gray. Pelan… tangan itu menelusuri pipi pemuda itu sampai ke bibirnya. Rasanya Lucy ingat sensasi ini. Sensasi yang pernah ia rasakan, entah di mana…
"Lucy menyayangi Gray."
Dia mengerjapkan matanya. Apa yang ia lakukan lagi!? Cepat-cepat Lucy menggelengkan kepalanya lalu tidur agak menjauh dari Gray. Jantungnya berdetak cepat sekali. Dia tidak pernah tidur seranjang dengan siapapun sebelumnya. Kesampingkan Lyon dan ibu angkatnya.
Akhirnya, Lucy tertidur juga. Sepasang mata membuka, memperlihatkan iris mata biru gelapnya. Gray belum tidur. Halus sekali, kepala Gray menoleh untuk memperhatikan gadis bersurai pirang itu. Rambutnya indah sekali. Walaupun tidak terlalu panjang, tapi enak sekali untuk dipandang.
"Kau diam-diam tertarik padaku, eh?" Sebuah seringai manis terbentuk di bibir Gray. Dia senang sekali mengetahui paling tidak Lucy penasaran dengannya. Dia sudah berani menyentuh wajahnya tanpa seizinnya. Artinya, Lucy mempunyai keinginan yang sama dengannya. "Kalau begitu—" dia mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipi Lucy yang merona. Dia mencondongkan tubuhnya agar mendekat pada Lucy. "—Pangeran boleh dapat bagiannya, kan?" Bibirnya menyentuh bibir Lucy dengan pelan. Dia hanya menekannya saja, dan ciuman itu berakhir.
"Selamat malam, Lucy-ku."
XXX
Begitu terbangun, Lucy menyadari tangannya melingkar di sekujur tubuh Gray. Langsung saja perempuan itu melompat menjauh, kaget. Gray yang sudah terbangun melirik Lucy dari ekor matanya.
"Sudah bangun?" Dia mengatakannya dengan nada yang dipanjang-panjangkan. Lucy menggigit bibirnya gugup. "Aku sudah capek, tidak bisa bergerak kaupeluk terus." Bohong. Padahal Gray senang sekali dipeluk Lucy seperti itu.
"Bu-Bukan aku!" Lucy menggelengkan kepalanya dengan panik. "Aku tidak sadar, jadi itu tidak dihitung—"
Gray melempar handuk bersih yang sepertinya baru ke wajah Lucy. "Cepatlah mandi. Pakaiannya sudah disiapkan."
Pemuda itu berdiri untuk berjalan ke bagian lain kamarnya yang sangat besar itu. Lucy tanpa banyak bicara berjalan menuju kamar mandi. Dia memutar keran shower agar air hangat mengalir. Air itu membasahi tubuh Lucy dengan lembut. Segera saja Lucy mengusapkan sabun ke seluruh tubuhnya dengan rata. Setelah selesai, dia membasuh tubuhnya sekali lagi.
Dia keluar dari shower itu. Dia melihat ada sikat gigi yang masih baru dan krim pencuci muka. Kemudian Lucy langsung membersihkan mukanya dan menggosok giginya. Akhirnya dia selesai, Lucy berpakaian dengan rapi. Saat ia keluar, Gray sedang menonton TV. Dia tidak memakai apa-apa sebagai penutup dadanya.
Sial, lagi-lagi wajah Lucy dipenuhi rona merah. "G-Gray. Aku sudah selesai."
"Hn." Jawab Gray. Dia lalu melirik jam. "Untung saja kau bangun lebih pagi. Baru jam enam. Kita masuk kerja jam sembilan. Aku akan mandi dulu. Tolong siapkan bajuku." Pria itu melesat ke kamar mandi.
Siapkan? Lucy menggerutu kesal. Tapi dia tetap saja ke lemari dan membukanya. Baju Gray memenuhi walk-in-closet itu. Ada kemeja-kemeja yang sudah pasti mahal harganya. Lucy menyambar kemeja biru kotak-kotak dan celana hitam yang biasa ia lihat. Matanya menelusuri lemari itu, menemukan tempat Gray menyimpan celana dalamnya.
"Ce-ce-celana?" Lucy tergagap ketika melihatnya. "Ambil tidak ya…?" Nadanya terdengar seperti dia membayangkan tentang Gray. Perempuan itu tanpa banyak omong mengambil satu pakaian dalam Gray. Dia mengambil seluruh pakaian yang sudah disiapkannya dan mengetuk kamar mandi Gray. "Gray, aku sudah mengambil pakaianmu."
Dari dalam, sepertinya Gray menggumamkan nama 'Lucy' jadi dia mengira dia boleh masuk. Ketika Lucy membuka pintu kamar mandi, pemandangan Gray yang tidak berpakaian apapun membuatnya menjerit. Pakaian yang dipeluknya itu langsung jatuh berhamburan. Lucy menutup matanya dengan tangannya, walaupun dia masih bisa melihat Gray dari sela-sela jarinya.
"Lu-Lucy!?" Pekik Gray kaget sekali melihat perempuan berambut pirang itu berdiri sambil menjerit. Insting pertama pemuda itu untuk segera menutup tubuhnya. Dia mengambil handuk dengan cepat. Bulir-bulir air menetes di seluruh tubuhnya. Lucy sudah keluar dari kamar mandi, menjatuhkan pakaian yang sudah dipilihnya di lantai. Gray mengangkat alisnya, kemudian mengambil pakaian yang sudah disiapkan Lucy. Seringai puas ia tampilkan ketika melihat celana dalamnya ada di antara pakaian yang disiapkan Lucy. Ingin rasanya ia tertawa melihat keluguan akan ketertarikan Lucy padanya.
Gray sudah memakai pakaian, keluar dari kamar mandi. Lucy sedang berjongkok di depan sofa sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya. Apa yang sedang perempuan ini lakukan? Gray menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tidak habis pikir.
Pemuda itu menepuk pundak Lucy. "Ayo, mungkin saja pintunya sudah dibuka Mirajane. Ah, aku belum memakai dasi."
"I-Ini," sembur Lucy begitu saja sambil menyerahkan dasi biru gelap di tangannya. "Ta-Tadi aku lupa memberikannya padaku."
"Melempar," Gray mengoreksi kata-kata Lucy.
"Habis, tadi kau bilang 'Lucy!' Jadi kukira kau mengizinkanku masuk."
"Aku sedang mandi, tidak mungkin membiarkan orang masuk. Lagipula, kenapa kau masuk ke dalam kamar mandi saat tahu ada orang di dalam sedang mandi?" Gray menggoda Lucy, membuat pipi Lucy merona lagi.
Dia membalas, "Mungkin saja kan, kau sudah memakai handuk! Aku kan tidak tahu! Kukira kau menyuruhku masuk ke dalam kamar mandi!"
"Ada meja di sebelah pintu kamar mandi. Kau bisa taruh di situ."
Lucy langsung menoleh untuk memastikan kebenaran dari kata-kata Gray. Benar, memang ada meja kaca kecil di samping pintu kamar mandi. Mendengarnya, Lucy membuang mukanya. Gray segera mencoba untuk memakai dasinya. Tapi sepertinya ketegangan yang tercipta di antara mereka membuat Gray jadi gugup untuk memakai dasi itu.
"Kau tidak bisa memakai dasi ya?" Lucy melipat tangannya curiga. Gray yang sedang sibuk membetulkan dasinya tersentak.
Dia menggeleng. "Tentu saja aku bisa! Enak saja kau meremehkanku."
"Buktinya." Lucy menunjuk dada Gray dengan jari telunjuknya. "Kau sama sekali belum selesai memakai dasi, padahal sudah lewat dari lima menit."
Gray tidak peduli dengan perkataan Lucy. Dia berusaha keras untuk memakai dasi di tengah ketegangan itu.
Lucy berjalan mendekat. Dia mendekatkan wajahnya ke dada Gray untuk membantu Gray. Wajah Gray memanas. Kenapa dia bisa merasakan hal seperti ini, sih? Jantungnya berdetak tidak keruan. Jari-jari Lucy menelusuri dadanya untuk membuat dasi itu dengan rapi terpasang. Setelah selesai, Lucy mendongak untuk melihat reaksi Gray. Wajah Gray sudah seperti kepiting rebus.
"G-Gray? Wajahmu kenapa?" Lucy memiringkan kepalanya.
Gray menggeleng kemudian menjauh dari Lucy. "Ayo, pergi."
Mereka kemudian segera menuju pintu. Gray mencoba membukanya, memegang gagangnya dan menekannya. Lucy berharap-harap cemas. Setelah detik-detik slow motion yang begitu dramatis, kenyataan berkata…
Pintu itu terbuka!
Lucy rasanya ingin bersorak-sorak gembira karena ini. Gray menghembuskan napas lega mengetahui pintu itu bisa terbuka. Perempuan berambut pirang di sampingnya menunggu agar Gray keluar. Menyadari itu, Gray keluar dari kamarnya, membuat jalan untuk Lucy. Lucy keluar dengan perasaan gembira. Dia tersenyum senang.
Caprico langsung saja muncul tidak jauh dari mereka. Dia memakai jasnya yang biasa, dan tidak ekspresi di wajahnya. Caprico menunduk pada mereka sedalam-dalamnya.
"Maafkan saya, Tuan. Nona Mirajane—"
"Yap, aku sudah tahu. Tidak apa-apa, sudahlah." Gray mengangguk sedikit pada pelayannya yang terlihat setia itu. Caprico menunduk sekali lagi karena perasaan bersalahnya.
Dia menunjukkan jalan ke arah meja makan, walaupun mereka sudah tahu. "Silahkan, makan pagi, Tuan, Nona—"
"Lucy." Gray menambah cepat-cepat.
"Nona Lucy. Ayo, silahkan." Caprico mengangguk. Sekilas Lucy bisa melihat ekspresi wajahnya tersirat kesedihan ketika mengatakan namanya. Dia lalu mengangkat bahu. Di pikirannya, tidak ada gunanya mencampuri urusan orang lain. Setiap orang berhak untuk menyimpan rahasianya. Kau tidak bisa begitu saja memaksa orang untuk memberitahu rahasia mereka kepadamu, kan?
Di meja, tersedia roti ala prancis yang terlihat menggiurkan. Gula-gula halus disebar di atas roti yang dibakar itu. Ada caramel pula, yang membuat setiap orang ingin menyantapnya.
Lucy duduk di salah satu kursinya. Begitupula Gray. Mereka duduk bersebrangan. Suasana canggung ketika alat-alat makan saling berdentingan. Perempuan berambut pirang itu meneguk susu rendah kalori yang sudah menjadi bagian makan pagi mereka.
Tiba-tiba, ada orang yang menyembunyikan bel. Pikiran Gray langsung berpusat pada Mira. Mira. Mirajane, Mirajane. Pasti dia ingin memastikan apa rencananya berhasil. Dasar dia itu. Kadang bisa mengerikan, tapi kadang bisa menjadi matchmaker yang begitu menyeramkan. Intinya, dia itu menyeramkan dan mengerikan di saat yang bersamaan.
Caprico melesat ke depan untuk membukakan pintu untuk tamu mereka. Sedangkan Gray dan Lucy melanjutkan acara makan mereka yang tertunda gara-gara bel itu. Ketika mereka menyadari, pemuda berambut merah muda berdiri di depan mereka dengan mata terbelalak.
Oh, tidak.
Jumlah kata emang lebih dikit, gomenn... minggu depan kubikin lebih banyak ^^b Writer's block melandaku, nggak juga sih. Cuma lagi stress aja akhir-akhir ini.
Ok, review?
