Ruangan itu gelap sepanjang matanya melihat, seolah dibalik kegelapan pekat itu masih ada kegelapan lain, tanpa setitikpun cahaya. Kegelapan yang seolah sama dengan hatinya sekarang—tidak, mungkin kegelapan ini telah menelan hatinya jauh sejak lama, ketika ia kehilangan kedua sahabatnya.
Samar-samar dia mendengar isak tangis. Suaranya sangat familiar; suara yang ia dengar setiap hari, terucap dengan penuh semangat, atau terkadang khawatir. Suara yang memberikannya semangat di pagi hari.
"Aichi..."
Suara itu terisak lagi, menciptakan retakan yang seolah menjalar dalam dadanya. Dia mulai berlari lagi, mengejar arah suara itu di tengah kegelapan. Namun dia hanya merasa seperti berlari di tempat, tanpa menemukan tujuannya.
"Aichi..."
Tubuhnya merasa ditahan oleh seseorang, menariknya pergi dari isakan yang mulai menjauh. Dia terus meronta, berharap siapapun yang menahannya sekarang akan melepaskannya, namun entah mengapa, dia tidak dapat mendengar suaranya sendiri.
Dan ketika suara itu makin tertelan dalam kegelapan, setitik cahaya mulai membutakan indra pengelihatannya, dan ia mulai ditarik dalam dunia yang putih—
.
.
.
Ketika ia terbangun, ia berada dalam ruangan yang tak ia kenal. Sedikit demi sedikit detail mulai terlihat di matanya—sebuah meja belajar menempel di seberang, jendela yang terbuka di sebelah tempat tidurnya, dan aroma kare yang merayap di udara.
Kemudian ingatan yang terjadi kemarin menghantamnya, begitu keras seperti ombak membentur karang.
Dia merasakan pandangannya yang mulai buram, dan air yang mulai membasahi pipinya. Buru-buru ia menghapus air matanya dengan pergelangan tangan, dan tangannya yang satu lagi menutup mulut, menahan isak tangis yang hendak bergulir dari mulutnya.
"Aichi?"
Suara laki-laki yang familiar kembali menyadarkan Aichi dimana ia berada, sekali lagi meyakinkannya kejadian kemarin bukanlah khayalan semata. Dia ingin menjawab panggilan laki-laki itu, mengatakan kalau ia baik-baik saja. Sudah cukup dia membuat laki-laki berambut cokelat itu khawatir. Namun yang keluar justru isakannya yang makin keras.
Samar-samar Aichi mendengar hembusan nafas Toshiki dari balik pintu—membuatnya kembali merasa bersalah—dan berkata, "Aku akan meninggalkan makananmu disini."
Ketika langkah laki-laki itu benar-benar menghilang, tangisannya langsung mengalir seperti sungai yang tak terbendung.
.
.
.
-Chapter III - 1: Wasp's Nests-
-The Last Chance-
.
.
.
Hari ini juga Misaki Tokura duduk seorang diri di balik counter, membolak-balik halaman buku yang telah ia baca berkali-kali, menunggu seseorang yang seolah tak akan datang ke toko miliknya dan pamannya—Card Capital. Kalau jujur, memang itulah yang ia inginkan; sebuah ketenangan, dia hanya ingin sendirian untuk sementara. Namun kalau terlalu lama, tentu saja tidak menyenangkan.
Gadis berambut perak itu menutup buku bersampul merahnya dengan keras, hingga suaranya terasa bergema di tempat yang kosong ini. Dia meletakkan buku itu di atas meja, menyentuh judul buku yang ditulis dengan warna putih seolah menulis ulang dengan jarinya; A walk to forgetfulness, ciptaan seorang penulis muda Els Sieghart, seorang penulis yang karyanya tengah merajai daftar novel populer, dan rak bukunya.
Dia menyukai buku itu—tentang seorang pemuda yang membuat janji dengan perempuan yang disukainya bertahun-tahun yang lalu, hanya untuk melupakannya ketika mereka bertemu lagi jauh di masa depan. Akhir cerita itu memang tragis—sang gadis yang membunuh dirinya ketika pemuda itu mengingat janjinya. Walau begitu, dia menyukai cerita itu.
Mungkin karena dia tengah merasakan hal yang sama dengan pemuda itu; dia merasa melupakan sesuatu yang penting. Memikirkan itu saja membuatnya merasa ingin tertawa—karena dia seharusnya tidak dapat melupakan apapun yang ia lihat. Tidak mungkin dia terus mengingat hal yang menyakitkan, sementara melupakan hal yang ingin selalu ia ingat, bukan?
Tak terasa sebuah desahan lepas dari bibirnya. Justru hal itu yang mengganggunya akhir-akhir ini, karena dia merasa melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang membuatnya berpikir Card Capital seharusnya bukan toko yang sepi. Seharusnya Card Capital tempat yang berisik, namun menenangkan.
Ketika pintu kaca otomatis terbuka, dia cepat-cepat mendongak, berharap orang yang ia tunggu (...tunggu, siapa?) telah datang. Harapannya segera memudar ketika seorang laki-laki berambut pirang berantakan memasuki toko, masih dengan seragam biru sekolahnya dan senyum mengesalkannya.
"Nee-chan terlihat tidak senang aku datang." Suara Taishi Miwa terdengar kecewa dibuat-buat.
Dia hanya memutar bola matanya. "Memang tidak."
Taishi mengerang tentang ia terlalu kejam, namun detik berikutnya, dia sudah tersenyum seperti orang bodoh. Dan selanjutnya seperti biasa, laki-laki itu akan langsung duduk di kursi terdekat dari pintu dan merogoh tasnya untuk mengeluarkan satu kotak deck dan mulai memeriksanya.
Misaki membuka mulutnya, hendak menanyakan tentang hal-hal aneh yang ia rasakan ini, namun membatalkan niatnya. Kalau Taishi hanya bersikap seperti biasa, berarti seharusnya tidak ada yang aneh, bukan?
"Kau tidak bersama Kai hari ini?"
Entah mengapa Misaki merasa ingin bicara—apapun itu, dia perlu mengorek informasi. Ketegangan dalam kepalanya mulai membunuhnya.
Taishi mengerjap, mengangkat kepalanya dari kartunya, dan memandangnya langsung. "Tidak. Kami langsung berpisah setelah bel berbunyi." Lalu dia mengerutkan kening. "Dia selalu begitu—menghilang begitu saja ketika bel pulang."
"Lalu bagaimana kau selalu datang ke sini dengannya?" Misaki mengetuk novel merahnya. "Saat pertama kali juga..."
Pertama kali Toshiki Kai dan Taishi Miwa datang ke Card Capital—kalimat itu tiba-tiba muncul di benaknya. Entah mengapa terasa begitu lama, atau hanya perasaannya?
"Nee-chan? Ada masalah?"
Misaki mendongak begitu Taishi berkata begitu. Tentu saja—dia tahu memang ada sesuatu yang aneh; seolah sesuatu meninggalkan sebuah keping informasi penting di depan wajahnya, namun ia masih tidak dapat memproses informasi tersebut. Seperti itulah frustasi yang dirasakan Misaki Tokura sekarang.
Keberadaan Taishi Miwa dan Toshiki Kai adalah informasi penting itu.
"Miwa, apa alasanmu datang ke Card Capital?" ketika Taishi terlihat tersinggung, ia buru-buru menambahkan, "Bukannya aku meragukanmu atau apa, hanya saja—"
Laki-laki itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan gadis itu untuk berhenti bicara—dan benar ia lakukan—ketika laki-laki itu mengerutkan kening. "Jelas ada sesuatu yang mengganggumu, kan, nee-chan?" Misaki mengangguk. "Aku tidak tahu apa yang nee-chan pikirkan, tetapi setelah ini, kau harus memberitahuku hal yang mengganggumu ini, oke?"
Taishi melipat tangannya di depan dada, "Kai memintaku datang ke tempat ini. Kenapa dia tahu tempat ini, aku juga tidak yakin—sejujurnya, aku yang tinggal lebih lama dari dia tidak tahu tempat ini. Jangan tersinggung." Laki-laki itu mengangkat bahu dengan acuh. "Hanya saja, semakin lama aku berada di tempat ini, semakin aku merasa ada yang aneh—" Ini dia, Misaki membatin, "—seolah-olah aku sudah pernah—sering, malah—berada di tempat ini. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
Laki-laki itu mengetukkan jarinya di atas meja, matanya terpejam erat dan keringat mulai membanjir dari keningnya. "...Suasananya berbeda, kau tahu?" Dia menggigit bibir. "Nee-chan, bisakah kau merasakannya? Tempat ini aneh—semuanya. Aku merasa ini bukan Card Capital yang ku ingat. Tapi—" Dia membuka matanya, terpicing pada Misaki, "—Nee-chan ada di sini. Tempat inilah Card Capital. Tetap saja ada yang tidak pas. Dapatkah kau merasakannya?"
Ia tidak mampu menjawab. Tentu ia sadar akan hal itu. Dan Taishi—yang kini mengerang, mencoba mengingat akan sesuatu—juga merasakan hal yang sama. Berarti ini bukanlah khayalannya semata.
Ada yang salah dengan dunia ini.
"Miwa." Laki-laki itu mendongak ketika Misaki memanggilnya. Wajah gadis itu serius—lebih serius dari sebelumnya. "Aku tahu, dunia ini pasti memiliki rahasia—entah apa itu, tapi kita harus membongkarnya."
Senyum jahil laki-laki itu—sedikit dipaksa, kelihatannya—mengembang. "Nee-chan, apa kau tertarik dengan anime yang baru-baru ini tayang? Little—"
"Intinya." Misaki berdeham, menahan keinginannya untuk melempar buku favoritnya ke arah laki-laki yang menyeringai itu. "Aku ingin kau membantuku membongkar rahasia itu. seseorang memanipulasi ingatan kita, berarti ada yang orang itu ingin kita pecahkan dalam ingatan lama kita." Manik biru laut menatap langsung ke arah abu-abu badai, penuh dengan determinasi. "Maukah kau membantuku?"
Taishi berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu ia tersenyum, kini lebih lembut. "Nee-chan yang meminta bantuan padaku, ini terlalu jarang untuk di lewatkan." Ia menjulurkan tangannya. "Kalau begitu, mohon bantuannya, nee-chan!"
Misaki menyambut uluran tangan itu, mengabaikan sengatan listrik yang mengaliri tangannya ketika kulit mereka bersentuhan, dan tersenyum. "Bukankah itu kalimatku?"
Mereka mulai membicarakan rencana mereka—Taishi yang akan mulai bertanya pada beberapa orang (mungkin Kai, batin Misaki), menanyakan apakah mereka merasakan keanehan yang keduanya rasakan. Sementara Misaki, dia sudah memiliki beberapa dugaan, dan kini hanya perlu memastikan apakah dugaannya tepat atau tidak. Dan untuk itu, dia akan bertanya pada seseorang—pamannya sendiri, Shin Nitta.
Keduanya terus berbincang, tidak menyadari sebuah bayangan mengamati mereka. Senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya.
.
.
.
"Ah, benar juga. Tak terpikir olehku mereka akan membuat langkah seperti itu."
Shin memandangi bidak caturnya, kedua manik hijaunya seolah bersinar ditengah kegelapan ruangan itu. Senyumnya merekah pada sepasang kuda hitam yang mulai bergerak, perlahan-lahan menuju kotak yang dekat dengan pinggir papan caturnya, seolah hendak menjatuhkan diri mereka pada jurang yang tak berujung dibawahnya. Dia juga melihat sang raja putih melakukan hal yang sama, namun terus menerus terhalang oleh ratu putih.
Ia mengangkat salah satu kuda hitam itu, memutarnya di langit seolah berpikir dimana ia akan meletakkannya, dan kemudian menetapkan pikirannya—
—Ia meletakkannya di dekat sang raja putih, jelas melanggar peraturan bagaimana kuda seharusnya melangkah.
"Nah, aku akan melihat bagaimana kau menghadapi ini." Ia menopang dagu dengan punggung tangannya. "Kau mendengarku, ratu putih?"
Pion yang ia ajak bicara tak menjawab apapun, seperti kegelapan yang membentang di hadapannya.
Happy birthday buat Misaki-san! Berhubung bagian tiga ini bakalan full sama Misaki dan Miwa (dohohoh), jadi bagian KaiAi mungkin bakalan berkurang _(:'3/
makasih buat yang udah review dan baca bagian-bagian sebelumnya. seriusan, saya seneng banget _(:'3/ maaf ya kelamaan, saya bakalan usahain selesai fic ini sebelum akhir 2014, berhubung saya udah ada rencana mau bikin fic multichap lain- #dor
btw, judul chapter ini dinamain dari judul novel, loh. mungkin seterusnya juga. bagian terakhir mungkin judulnya; "And Then There Were None". Hah. #apacoba
as always; I don't own Cardfight! Vanguard!
