Thankfulness

Menyebalkan! Ini sangat menyebalkan! Apakah ini akhir dari segalanya? Tak mungkin. Hanya dengan perlakuan begini, aku tak akan mati. Mungkin hanya akan meninggalkan bekas.

"Ha..aha..ahahaha.." Kagari tertawa seperti orang gila. Antara takut, bahagia, dan menyesal. Itu yang terlintas dari wajahnya.

Aku dapat mencium aroma darah segar yang mengalir keluar dari kakiku. "Ugh.."

Anak buah Kagari telah kabur. Mereka tak ingin terlibat rupanya. Sialan! Nafasku mulai terengah-engah. Mungkin karena panik, aku begini jadinya. Siapa.. pada siapa aku harus berteriak minta tolong.. hanya ada aku dan Kagari. Dewi Haru kalau memang kau ini ada.. tolong aku. Ada kalanya aku sudah cukup bersabar.

Pandanganku sepertinya mulai kabur. Samar-samar terdengar suara seseorang memanggilku.

"Riiiiinnnn!"

Suara itu semakin jelas. Siapa? Apakah ada yang datang?

"Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn!"

"Kakak! Itu.."

"Astaga, Rin! bertahanlah!"

Tubuhku terasa terangkat. Kepalaku kini tak lagi bersandar pada kayu. Dalam keadaan pandangan yang masih samar-samar, aku melihat sosok Len. Aku yakin itu Len. Bukan ayahku, bukan ibuku, tapi Len.

"Yokatta.." aku merasa bersyukur. meski ditemukan dalam kondisi seperti ini.

"Rin! kumohon bertahanlah!" suara Len terasa bergetar. "SIAPA?! SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN INI?!"

Meski pandanganku kabur, telingaku masih dapat mendengar dengan baik. Aku bisa mendengar semua kata-kata Len. Semoga aku tidak pingsan disaat seperti ini. Aku tak ingin lebih banyak merepotkan Len..

"Bu..bukan aku, Len! Bukan aku!" jerit Kagari. Ia berusaha menutupi kesalahannya.

"Kakak itu pelakunya, kak." Ucap seorang gadis kecil. "Aku diperintahkan kakak itu untuk memanggil kakak ini."

"KAGARIIIII!"

"Bukaaaan! BUKAN AKUUU! SUNGGUH! AKU BERANI BERSUMPAH BUKAN AKU PELAKUNYA!"

"MANA BISA AKU PERCAYA PADA KATA-KATA WANITA BRENGSEK MACAM KAMU!"

"HAAH!" Kagari kehabisan kata. "DASAR BOCAH TENGIL! SEENAKNYA MUNUDUHKU!"

"JANGAN SALAHKAN ANAK ITU! KAU KETERLALUAN!"

"Ada apa ribut ribut?! ASTAGA! Nona! Kau tak apa?!"

Aku mendengar beberapa orang dewasa menghampiriku. Entah kenapa.. aku merasa.. sedikit.. nyaman.

...

Aku membuka mataku perlahan. Aroma obat begitu menusuk. Aku, dirumah sakit ya?

"Rin! Kau siuman.." ibu memelukku erat. "Syukurlah.. syukurlah.. syukurlah.."

Aku ingat, Kagari mengejarku hingga terpojok malam itu. Aku merasa tersiksa olehnya. Luka yang Kagari buat pada tangan dan kakiku semalam sudah terbalut oleh perban. Dan pakaianku sudah memakai pakaian pasien rumah sakit.

"Ugh.." aku masih merasakan sakit yang luar biasa dari kakiku. Lukanya pasti sangat dalam.

"Kamu jangan banyak bergerak dulu, Rin! luka di kakimu sangat parah!" Ibu terlihat sangat khawtir pada kondisiku.

"Bu, dressnya... maafkan aku.. aku menyesal.. dan sepatu yang ibu berikan-"

"Sudah! Sudah! Yang penting kau selamat, bagi ibu itu sudah cukup! Ibu takut kehilanganmu!"

"Bu, luka seperti ini tak akan membuatku tewas.." aku mencoba tersenyum menandakan kalau aku baik-baik saja. "Aku tak apa-apa."

"Tapi ibu panik sekali! Tiba-tiba Len mengangkatmu sendirian ke rumah dalam keadaan pingsan!"

"Lalu sekarang Len dimana?"

Ibu tersenyum. "Dia terus menunggumu sampai siuman diluar kamar. Ibu tahu dia sama khawatirnya denganku. Mungkin kini giliran dia yang melihatmu sekarang."

Ibu keluar dari kamarku. Terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang dari balik pintu itu. Lalu tak lama kemudian, kulihat pintu terbuka dan kulihat sosok Len diambang pintu. Wajahnya terlihat bahagia setelah menatapku.

"Rin!" senyum leganya memancar. Ia memanggil namaku seperti seorang anak kecil yang kehilangan sahabatnya setelah sekian lama. childish sekali!

"Len-kun!" kubalas panggilannya dengan senyuman yang tak kalah childish darinya. Aku tak boleh membuatnya lebih mengkhawatirkanku setelah ibu. Tak boleh ada yang mengkhawatirkanku!

"Bagaimana? Kakimu masih sakit?" tanyanya seraya berjalan mendekatiku.

"Begitulah." Kupandang kakiku yang terbalut perban. "Aku nggak pernah seperti ini sebelumnya."

"Kagari sudah ditangani. Kau tenang saja."

"Aku nggak sedang memikirkan Kagari-san, kok."

"Rin..."

"Jangan murung begitu! Sudah kubilang aku nggak apa-apa!" aku tersenyum dalam perasaan menahan sakit yang sangat luar biasa! Dewi Haru.. berikan aku kekuatan!

"Kalau saja waktu itu aku nggak meninggalkanmu sendiri.."

"Jangan salahkan dirimu. Bukan salahmu. Aku saja yang nggak mendengarkanmu.." terangku. "Lagipula, Kagari-san hebat! bisa memakai anak kecil sebagai umpan untuk memancingku!"

"Jangn memuji orang yang telah menyakitimu!" Len menegurku. "Tapi anak itu juga yang memberitahuku untuk segera mencarimu!"

"Anak itu?"

"Ya. Begitu aku kembali, aku mendapati kamu sudah nggak ditempatmu menungguku. Ucap seorang penjaga stand, kamu menitipkan pesan padanya untuk menunggumu di tempat itu, 'kan?"

Aku mengangguk.

"Aku memang menunggu hingga beberapa menit. Lalu anak itu menghampiriku dan bertanya 'Kakak mencari pacar kakak?' begitu tanyanya. Aku memang ragu untuk menjawabnya. Apa saat itu yang dimaksud 'pacar kakak' itu adalah kamu atau bukan aku tak tahu."

Aku mendengarkan ceritanya dengan seksama. Aku ingin tahu bagaimana bisa Len menemukanku dalam keadaan memalukan seperti saat itu.

"anak itu terus memaksaku untuk mengikutinya. Aku memang tidak begitu percaya dengan anak kecil. Sampai dia menjelaskan ciri-cirimu. Berambut kuning pendek, memakai dress merah semerah mawar, berkulit putih bersih, dan cantik. Ia juga bilang kamu mirip dengan bara-hime dalam buku cerita bergambar. Dari itulah aku mempercayai kata-kata anak itu dan menemukanmu dengan kondisi yang tak ingin kulihat seperti kemarin itu..."

"Maaf aku memang menyedihkan. Membiarkanku terlihat buruk, membiarkan Kagari-san menghancurkanku. Maafkan aku yang menghancurkan harimu juga.."

"Nggak! Jangan merasa seperti itu.. aku bersyukur aku yang pertama menemukanmu."

"Aku gagal jadi oujo-sama sehari itu, ya! Dressku saja sepertinya sudah hancur."

Len terdiam. "Mau mengulang hari itu sekali lagi?"

"Bagaimana bisa? Festival itu hanya berlangsung sehari dalam setahun."

"Aku tak bilang festival. Hanya saja kamu harus jadi oujo-sama-ku. Sama seperti kemarin. Dan tanpa Kagari Chika!" Len terlihat bersungguh-sunguh memintaku.

Aku terkejut sekaligus senang. "Setelah pulih. Tunggu aku sampai aku pulih total." Aku tersenyum.

"Aku akan menunggumu, Rin. cepat sembuh.." Len mengusap kepalaku seraya tersenyum.

Dewi Haru.. terimakasih. Hidupku mungkin terkadang tak menentu. Terkadang bahagia, terkadang jatuh. Namun aku bersyukur, hidupku masih dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan sayang padaku. Orang tuaku, Len-kun, dan kuharap Kau juga menyayangiku, Dewi Haru..
Terimakasih banyak...

N.K: Gomenasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiii iiiiiiii! *sujud sujud* aku begitu lemot update! #mojok

R.F: Dasar payah! Viewers mu berkurang baru tahu rasa!

N.K: #mojok aku takuuuut. gomen gomen gomen gomen gomen gomen gomen gomen!