Chapter 11
WARNING : SLIGHT OOC, ANGST, HURT/COMFORT INSIDE! BUT IT WILL NOT CHANGE THE MAIN GENRES!
Erin-chan : Yupi, anggap aja pernah. Kenakalan anak kecil siapa yang tahu XD. Nyaa.. ane tergoda dengan kehadiran Zeref..XD. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Shiko Miomi : Ah, semoga kali ini NaLunya berasa! Ahahaha… maap ya telat update…*bows*. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Connor Brown : Ah! There'll be a cute moment between Natsu and Lucy. Hope you like it! Say my hello to Sarah! Aw, thankyou Connor. Btw, don't forget to answer my question at authornote below. Thx..XD
Himiki-chan : Haha… makasih ya uda setia baca..:D Btw, trims BBmx uda di trima.. XD Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
StingyBee : Ah…mungkin zombie? Wkwkw… mari kita saling menebak-nebak..hahah. Trims! Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Karinalu : Nggak apa-apa..:D trims pujiannya..:D yupi, kali ini Natsu walaupun mungkin.. ah, baca saja!..wkwkw. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
TheZarkMon : Maafkan baru update… trims ya udah setia menunggu! Sticy? Jangan khawatir, semakin mendekati kok…hhihhi.. ente bisa menikmati sticy di OS "Because You Are Here". Semoga suka!.Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
I Love Erza : Kya! Ane sibuk sekali..XP. Yah, ane inget betul! Hahaha sekali-kali jadi orang baik boleh donk si 'itu'. Hahaha. Trims uda setia nunggu. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Sarah Brown : HAI! Mungkin benar.. mungkin meleset. Tunggu aja! Hihihi.. makasi uda baca… Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Hana Safira : Maap XC. Masih inget kok, nih buktinya! Ahahah. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Fi-chan nalupi : Makasi! Ini sekarang NaLu lho.. ahahah semoga suka! Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Kokona-chan : Hai! Makasi sarannya! Ga papa kok! Ahaha.. ugh, udah terlanjur X(. Jadi terpaksa ane lanjutkan dengan model seperti ini. Maap..TT_TT. Hei, jangan lupa untuk jawab pertanyaan ane di saat terakir ya, tengkyu..:D
Reminder
'Serius? Sting sebodoh itu? Udah nggak nafsu lagi 'kah dia dengan manusia berjenis kelamin perempuan? Begitu jablaynya kah Sting, sampai mencium Lector? Untung gue masih normal…' pikirnya.
Semua orang di ruangan keheranan mendengarkan A'a rogue yang mendadak kalap dan muntah-muntah seperti ibu hamil.
Sesiangan itu, mereka berdua hanya terdiam. Hingga matahari terbenam pun, kesunyian meliputi rumah itu. Masing-masing masih bergelayut, sibuk sendiri dengan pikiran mereka. Siapa yang akan menyangka, jika mereka berdua akan terlibat semakin jauh dalam masalah ini. Ciuman. Ciuman bibir. Hanya orang nekat dan kehilangan akal sehat yang akan mengatakan bahwa ciuman yang mereka lakukan hanya sekedar uji coba semata.
Lucy kehilangan konsentrasi. Ia meletakkan penanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Keinginannya untuk membuat coretan kasar mengenai kelanjutan novelnya, luluh lantak. Yang ada di kepalanya adalah kilasan peristiwa ketika bibirnya dan bibir Akang Gray menyatu. Ada rasa bersalah yang menggelayutinya. Ia mencium Akang dan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hanyalah uji coba. Menyedihkan. Egois. Bodoh.
' Apa yang udah gue lakukan… Gue bahkan nggak mikirin perasaan Akang.'
Lucy membuka beberapa jemarinya dan mengintip melalui celah itu. Dilihatnya Akang sedang asyik bermain es dengan Plue di teras belakang. Ia memanggil Plue dengan dalih untuk menemani Akang Gray, sementara dirinya mengerjakan draft novel miliknya.
'Cih… gue egois. Gimana kalau Akang bener suka sama gue? Sementara gue pada akhirnya mungkin, bakal bikin Akang sakit. Ugh… gue berharap Madam Juvia di sini… dia yang cinta mati dengan Akang..'
Lucy membayangkan wajah Madam Juvia jika tahu kalau mereka berdua pernah berciuman. Bisa dipastikan, banjir bandang akan membawanya ke lautan terdingin dan menenggelamkannya ke palung terdalam di dunia. Hujan 40 hari 40 malam tanpa henti akan dipastikan terjadi dan menenggelamkan Magnolia tanpa jejak, hanya demi Akang Gray-sama tercinta. Membayangkan segala hal yang bisa dilakukan oleh Madam Juvia membuatnya begidik ngeri.
"Puuun puun?" Plue menepuk-nepuk kaki Lucy dan berhasil membawanya kembali ke dunia nyata. Cewek itu membungkuk dan membawa Plue ke dalam pelukannya.
"Uhm… nggak apa-apa kok." Bisik Lucy seraya menepuk-nepuk kepala putih itu. Meskipun bibirnya mengucapkan bahwa ia tidak apa-apa, Plue tahu bahwa pemiliknya sebenarnya berbohong. Makhluk kecil itu tetap bergetar di dalam pelukan Lucy dan diam-diam tangan mungilnya mengusap-usap kulit pucat Lucy dan uniknya, mampu membuat Lucy merasa tenang.
"Lucy," suara dingin Akang Gray membuat semua perasaan tenang itu menguap seketika. Ia mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan pandangan Akang yang secara mengejutkan menatapnya dengan hangat.
"Ya?"
"Uhm… besok, bukan, hari ini. Hari ini hari terakhir kita bersama, gue penasaran, ada yang mau lo lakukan sebelum kita berpisah?" tanya cowok itu. Lucy bisa merasakan kesedihan tersirat di balik pertanyaan yang dilontarkan oleh Akang.
"Sejujurnya, nggak ada. Gue cuma pingin nulis. Tapi, kalau ada yang pingin lo lakukan, gue ikut." Jawab Lucy dengan enteng. Cowok stripper itu menggaruk-garuk kepalanya dan mulai memikirkan sesuatu dan setelah beberapa saat terdiam, ia menjentikkan jarinya dan dengan cepat segera menarik tangan Lucy.
"Oi, oi! Akang! Ngapain lo narik gue!?" protes Lucy yang dengan susah payah menyeimbangkan tubuhnya akibat sentakan mengejutkan Akang Gray.
"Malam ini kita bakal olahraga!"
"Eh?" malang bagi Lucy, saat Akang membuka pintu rumah mereka, cewek itu tengah memproses kalimat Akang dan tidak menyadari pintu yang mengayun tepat ke arah wajahnya.
-BUAGH!-
"Aaaaaaaaa…! Sialan lo! Buka pintu pelan-pelan dong!" semprot cewek pirang itu seraya mengusap-usap keningnya yang memerah. Akang Gray yang puas menertawakan Lucy, cepat-cepat menutup pintu dan kabur secepat kilat sebelum cewek ganas itu menghajarnya. Tanpa ia ketahui, sebuah lubang telah menghadang jalannya dan…
"Nyyaaa!" pekik Akang dengan genitnya.
-BUGH!-
Wajah Akang yang ganteng makin ganteng maksimal saat wajahnya mencium permukaan tanah dengan keras. Mendengar jeritan feminin dari Akang Gray, Lucy tertawa terpingkal-pingkal, tangannya memegangi perutnya, pipinya meradang memerah, dan air mata menetes dari matanya.
"Bruakakakakakakakak! Aduh, aduh, bruakakakakak….!" Celestial mage itu tertawa hingga perutnya sakit dan pipinya terasa tegang. Sambil mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit, ia berjalan terseok-seok mendekati lubang tempat Akang terjatuh.
"Ngapain lo ketawa kaya orang gila! Tolongin gue! Sialan lo!" semprot Akang dengan wajah memerah.
"Lo sih! Jatuh kaya cewek, jejeritan ga jelas. Jijik gue dengernya." Kicau Lucy yang sesekali masih tertawa karena membayangkan kejadian yang sebelumnya. Wajah akang semakin memerah mendengarkan komentar Lucy.
'Sialan! Napa gue pake jerit kaya cewek sih?! Kejantanan gue hilang dah! Pasti Lucy bakal bilang ke Natsu dan si idiot itu bakal bikin gue jadi bahan tertawaan. Ugh, apes bener." Batin Akang dengan gemas. Ia bisa merasakan kadar kemancungan hidungnya berkurang beberapa persen setelah mencium tanah. Lucy yang saat ini berhasil menenangkan diri membantu Akang berdiri dan mereka berdua melanjutkan perjalanan, dituntun oleh Akang yang masih menggerutu.
"IH WAAAW!" Lucy berdecak kagum melihat pemandangan di depannya. Ribuan bola cahaya seukuran mutiara, mengambang di udara dan berkilauan seperti bintang. Lucy bahkan bisa menyentuh bola cahaya tersebut dan membuat bola cahaya itu berganti warna. Tidak hanya itu, sebuah danau yang luas dan berkilauan, terhampar di depan mereka berdua. Puluhan tonggak batu raksasa mengapung di atas air.
"Akang, keren gila! Lo nemu tempat ini dari mana?" tanya Lucy tanpa melepaskan pandangannya dari pemandangan ajaib di depan matanya. Cowok itu mengacungkan sebuah brosur dan bibir mungil Lucy membentuk 'O' saat melihat sumber informasi Akang.
"Ayo olahraga!" tanpa basa- basi, Akang meletakkan telapak tangannya dan dalam sekejap membekukan danau tersebut. Ia membuat pisau es di sol sepatu miliknya dan Lucy.
"Uhm… bukannya ini adegan dari film 'X-Men'? Nggak kreatif amat lo bikin kejutan." Celetuk Lucy sambil berkacak pinggang.
"Cih, yang penting gue usaha, bawel banget lo." Gerutu Akang. Ia meyodorkan tangannya yang disambut dengan tawa kecil Lucy, sebelum akhirnya cewek itu menerima uluran tangannya dan beranjak mengikuti Akang memasuki danau.
"Eh… eh.. euhh.. susah banget sih!" umpat Lucy yang tertatih-tatih mencoba berjalan di atas es. Tangannya berusaha menggapai Akang yang dengan sengaja berjalan menjauh dan menyeringai dengan ekpresi jahil. Beberapa kali cewek itu terpeleset sebelum akhirnya berhasil menguasai keseimbangan.
"Sini, cupu lo!" ledek Akang seraya mengulurkan tangannya. Dengan wajah memerah, Lucy menyambutnya dan kini mereka saling berhadapan. Dengan sabar, cowok itu menuntun Lucy untuk menggerakkan kakinya secara seirama. Tidak butuh waktu lama, cewek berambut pirang itu berhasil menguasai keadaan dan berseluncur dengan lincah.
"Akang! Sini!" yang dipanggil langsung menghampiri Lucy dan menggamit tangan kecil Lucy. Bergandengan, keduanya berseluncur bersama, sesekali terjatuh, diiringi dengan gelak tawa. Kali ini, celestial mage itu menyuruh cowok yang mempunyai kebiasaan sstripping itu diam di tempat, sementara Lucy berseluncur ke sana kemari mengambil bola-bola cahaya di sekitar mereka dan setelah mendapatkan cukup banyak, ia kembali ke tempat Akang.
"Lihat ini." Perintah Lucy dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Mulailah kakinya mengayun pelan dan berseluncur mengitari Akang Gray sembari melemparkan beberapa bola cahaya ke udara yang berkilauan dengan warna yang berbeda-beda. Bola cahaya itu mengambang di udara dan mengelilingi Akang yang sedari awal, matanya terus mengikuti kemanapun Lucy bergerak. Senyuman tidak pernah meninggalkan wajahnya.
"Ekh!" Lucy memekik pelan saat tiba-tiba tubuhnya tertarik ke satu arah dan dengan sedikit paksaan, tubuhnya berputar dan bertumbukan dengan suatu bidang yang hangat. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Akang sedang menatapnya sambil menyeringai lebar.
"Ugh… uhm.. Ak-akang Gr-Gray?" Lucy berusaha untuk tidak gugup karena kedekatan mereka, tapi suaranya dan perkataannya mengkhianatinya. Tanpa peringatan, tangan kuat Akang sudah berada di pinggang kecil Lucy mengangkatnya ke udara dan serta merta, Lucy memekik ketakutan. Kedua tangannya merengkuh leher kokoh cowok itu, dan semakin menjerit-jerit saat mereka berputar-putar sejenak. Gelak tawa renyah mengalir dari mulut Akang Gray saat mendengar jeritan-jeritan Lucy yang memohon-mohon untuk diturunkan.
"Asyik tahu bikin lo ketakutan!" seru Akang yang tersenyum lebar. Ia menghentikan putarannya dan tetap menahan posisi Lucy yang berada di atas dan bergelayut dengan erat di lehernya, seakan seluruh pusat kehidupannya, berpusat di leher Akang . Perlahan, celestial mage itu mengangkat kepalanya dan menatap Akang dengan wajah memerah.
"LO NGESELIN!" desis Lucy dengan sinis. Ia menempelkan keningnya ke kening cowok yang tengah menggendongnya. Akang bisa merasakan nafas hangat Lucy yang menyapu wajahnya. Jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali mencium bibir mungil kemerahan milik Lucy. Di lain pihak, cewek cantik itu juga setengah mati menahan hasratnya untuk mencium bibir Akang.
'Lucy! Nggak boleh! Cukup sekali dan jangan permainkan Akang!' pikir Lucy. Ia menghembuskan nafas lembut dan perlahan, ia mencium kening Akang. Matanya terpejam. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Jantungnya tidak lagi berdetak kencang, yang ia rasakan hanya kedamaian dan kehangatan yang menyelimuti dadanya. Akang Gray dengan mata terpejam, diam-diam merasakan hal yang sama dengan Lucy. Tapi, perasaan yang lain muncul. Ada sesuatu yang hilang. Dalam hembusan angin malam yang dingin, mereka tenggelam dalam khayalan semata yang tidak akan pernah bisa mereka gapai.
Kesunyian yang nyaman itu berlalu ketika satu per satu bola cahaya di sekitar mereka meredup dan terjatuh begitu saja. Melalui kedua kelopak mata mereka yang terpejam, pendaran cahaya perlahan menyusut dan memaksa mereka untuk membuka mata dan bertatapan dengan kegelapan yang menyelimuti.
"Uhm… Akang.. Lo bisa lepasin gue?" cowok itu mengangguk dan melepaskan pelukannya, membiarkan Lucy berdiri sendiri di atas kedua kakinya. Hanya mengandalkan cahaya bulan, sepasang anak manusia itu mengedarkan pandangan ke segala pejuru. Ribuan bola cahaya itu tergeletak begitu saja di tanah dan di permukaan danau yang beku. Hembusan angin panas tiba-tiba bergelung di kaki mereka dan mengikat mereka.
"Lucy, lo ngerasa kaki lo panas?" gumam Akang Gray yang tengah menyibukkan dirinya dengan acara membuka pakaian. Yang dipanggil segera meninju wajah Akang.
"Bisa nggak sih, sekali-kali kelakuannya kaya orang normal? Dan Ya! Kaki gue panas." Sungut Lucy.
"Cih. Gue nggak tahan. Kaki gue panas banget!" gerutu Akang yang mulai membekukan kepalanya sendiri, demi mendinginkan suhu badannya. Bulir-bulir keringat menetes, membasahi pelipis cewek berambut pirang itu. Perlahan tapi pasti, permukaan danau yang beku perlahan mencair. Riak-riak air mulai bermunculan dan yang membuat Lucy berteriak-teriak panik adalah munculnya pusaran air besar yang menyeret mereka.
"Ugh! To-tolong! Ak-akang! Bekukan danaunya!" pekik Lucy di tengah-tengah usahanya untuk melawan arus yang menyeretnya. Tangan Akang Gray melingkari pinggang mungil dan tangan lainnya ia ulurkan untuk membekukan danau. Namun, semua sia-sia. Pusaran air menimbulkan arus yang sangat kuat, menyeret mereka ke pusat pusaran. Sekuat tenaga, mereka bergerak bersama melawan arus. Lucy, dengan celestial key miliknya, memanggil Aquarius, yang hanya dijawab dengan kehampaan. Bahkan mereka gagal untuk memanggil penguasa air sekalipun. Rasa terbakar di kaki mereka semakin menjalar dan membuat mereka kelelahan.
"Ambil nafas."
'Whisper?!' seru Lucy dalam hatinya.
"Tidak ada waktu untuk berdebat! Tutup mata! Turuti kata-kataku!" mata Lucy terbelalak lebar saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh The Whisper. Ia pernah mendengarnya. Bukan. Ia sering mendengarnya! Hanya saja, ia tidak bisa mengingatnya. Gambaran itu begitu kabur.
"Lucy, gue perintahkan lo tutup mata dan ambil nafas panjang sekarang!" tanpa menunggu diperintah untuk yang ketiga kalinya, ia memberitahu Akang hal yang harus mereka lakukan.
"Apa?! Lucy, ini bukan waktunya bercanda!" sungut Akang yang keras kepala.
"Gue serius! Jangan bawel! Lo ikutin kata-kata gue! Tarik nafas panjang! Kita bakal tenggelam untuk beberapa saat dan pejamkan mata! Siap?"
"Pada hitungan ke-3!" seru Akang di tengah pusaran air yang semakin ganas.
"Tiga!" seru mereka secara serempak. Dipejamkanlah mata mereka dan memasrahkan diri mereka dalam pelukan satu sama lain. Arus air membawa mereka tenggelam ke dalam dinginnya danau, meskipun begitu yang bisa mereka rasakan hanyalah, rasa panas yang membakar tubuh mereka. Waktu bergulir begitu lambat. Dada mereka terasa sesak. Hidung mereka terasa perih. Dalam hitungan beberapa detik, jika semua ini tidak segera berakhir, nyawa mereka akan menjadi hal yang sia-sia untuk dipertaruhkan.
Di saat yang sama…
Natsu, Sting, dan Madam Juvia tengah mengerang kesakitan, terkapar di tengah-tengah lantai ruangan. Wajah mereka membiru, pupil mata mereka membesar. Masing-masing tangan mereka menggapai-gapai ke atas dan mengalami kesulitan bernafas. Sesuatu mencekik mereka dengan tekanan yang begitu besar. Mereka bertiga bisa merasakan limpahan air di dalam mulut mereka.
"Natsu! Madam!" seru Tacik Erza yang kaget dengan erangan-erangan kesakitan dari mereka berdua.
"Sting-kun!" jerit Lector dan Frosch dengan histeris.
"Sting!" kepanikan terpancar jelas dari raut wajah A'a Rogue. Belum pernah ia melihat sahabatnya itu kesakitan tanpa sebab seperti ini. Levy-chan dan Encang Gajeel menghampiri Natsu dan Madam Juvia. Saat Encang Gajeel berusaha menyentuh Natsu, ia tersentak saat mendengar teriakan dari Tacik Erza.
"Argh!" jeritnya tertahan.
"Tacik! Kenapa!?" seru Levy-chan dengan panik. Tacik Erza dengan panik melepas sarung tangan besinya dan tampaklah kulit telapak tangannya yang memerah. Beberapa ruas jarinya melepuh. Melihat itu, Encang Gajeel mencoba menyentuh Madam. Hasil yang didapatkan sama, tangannya melepuh karena menyentuh kaki Madam yang panas seperti air mendidih.
Cece Mira dan Babe Laxus yang hendak menolong Sting, terpaksa menghentikan aksinya. Cece Mira memaksa otaknya untuk berpikir dengan cepat dan saat ide itu mendarat di otaknya, cepat-cepat ia menyuruh Levy-chan untuk menuliskan 'snow' di tengah-tengah ruangan. Otak cemerlang Levy-chan menangkap dengan cepat maksud Cece dan segera melakukan perintahnya.
Rencana tinggal rencana, mereka lupa jika ruangan itu menetralisir setiap magic yang mereka punya. Dengan penuh kekecewaaan dan kecemasan, mereka berharap, 3 kawan mereka bisa menghadapi situasi ini. Beberapa detik berlalu, dan terasa bagai puluhan jam bagi para mage yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Secercah harapan datang saat mereka semua merasakan ruangan bergetar dan semburan air yang deras, memancar dari lantai yang mereka pijak. Air itu semakin banyak dan mulai membanjiri ruangan. Debit air semakin bertambah seiring waktu dan sanggup membuat banjir setinggi pinggang orang dewasa.
"Madam! Natsu! Sting!" pekik Cece Mira saat melihat ketiganya tenggelam tak sadarkan diri. Babe Laxus dengan cepat menyelam dan berusaha menggapai Natsu saat tiba-tiba sebuah lingkar mantra berwarna biru muncul di permukaan lantai. Semua mata tertuju dengan lingkar mantra tersebut dan membuat mereka lupa sejenak dengan ketiga korban.
"Buaaah!" terdengar tarikan nafas yang begitu kuat, seolah-olah hendak menghirup habis semua oksigen yang tersedia.
"Ber-berhasil… Akang! Kita berhasil! Kita masih hidup!" pekik Lucy.
"Y-y-ya.. ya! Kita masih hidup!" seru Akang dengan gembira.
"Lucy-san?!/ Akang?!/Kalian?!" terdengar pekikan penuh rasa terkejut memenuhi ruangan. Bagaimana tidak, sesaat setelah lingkar mantra itu muncul, Lucy dan Akang Gray secara ajaib muncul ke permukaan dan menarik nafas panjang, seakan-akan oksigen adalah hal yang mereka cari-cari. Seiring dengan munculnya mereka berdua, air perlahan surut dan meninggalkan ketiga korban tergeletak tak berdaya.
"Ka-ka-kalian!?" seru mereka berdua bersamaan. Mata mereka terbelalak dan kepala mereka mulai bergerak, menoleh ke sana-kemari, berusaha mengenali situasi dan kondisi. Semua orang basah kuyup, semua orang menatap mereka berdua bagaikan hantu, semua orang terlihat takjub, kaget, dan panik di saat yang bersamaan, dan demi Mavis yang melayang di segala tempat, bagaimana caranya mereka bisa terdampar ke tempat ini?
"Lucy!" seru Cece yang langsung melompat memeluk cewek pirang yang masing terduduk dengan letih di lantai.
"Lu-chan… Akang…" Levy-chan berjalan mendekati mereka berdua dan bergantian memeluk. Kebingungan masih jelas tergambar di raut wajah 2 insan manusia malang itu. Lucy membalas pelukan Cece Mira dan Levy-chan, tapi kedua bola matanya terus bergerak-gerak mencari sesuatu. Ah, bukan, tepatnya, seseorang.
"Sting? Mana Sting?" Cece dan Levy-chan, sontak melepas pelukan mereka dan menunjuk dengan jari lentik mereka ke arah belakang Lucy. Mengikuti arah jari mereka menunjuk, ia melihat sosok Sting yang terkulai lemah di tangan A'a Rogue. Tanpa sepatah kata, ia menggapai Sting dengan cepat dan merengkuhnya dari tangan A'a Rogue. Akang yang melihat tingkah Lucy saat melihat keadaan Sting, merasakan nyeri di dadanya.
'Bahkan dia lupa kalau ada Natsu di sini… Tch!' ia memalingkan wajahnya dari cewek yang memberinya momen manis selama 2 hari belakangan itu dan menoleh ke samping mendapati Madam yang sama terkulainya dengan Sting, berada di dalam tangan Encang Gajeel.
DUG…
"Madam!" cepat –cepat ia beranjak dari posisinya dan merebut Madam dengan posesifnya dari tangan Encang.
DUG DUG…
"Tacik! Babe! Apa yang terjadi! Kenapa Madam? Sting? Di ma-" matanya membulat saat melihat sosok Natsu, tergeletak tak sadarkan diri di pangkuan Tacik Erza.
DUG DUG… DUG DUG…
"Natsu juga?!" pekiknya histeris. "Kami nggak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Hanya saja, tepat sebelum lo dan Lucy muncul, mereka jatuh dan kejang-kejang, wajahnya kebiruan, dan sulit bernafas. Lebih aneh lagi, badan mereka begitu panas seperti api. Bahkan tangan Encang melepuh saat menyentuh Madam." Usai mendengarkan penjelasan Babe Laxus, Encang Gajeel menunjukkan tangannya yang melepuh kepada Akang.
"Juvia…" bisiknya. Ia menatap sosok pucat itu di dalam pelukannya. Dadanya terasa nyeri melihat pengintai abadinya, tak sadarkan diri. Entah bagaimana, ia tidak bisa mengingkari hatinya, ia merindukan sensasi horor yang ia rasakan setiap kali Madam Juvia muncul dari antah berantah, dan mengejar-ngejarnya seperti seorang maniak. Memori indah dengan Lucy yang terekam di otaknya, menguap entah kemana, tergantikan dengan kekhawatirannya pada Madam.
"Oi, Gray! Merasakannya?"
'Maksud lo?'
"Oh… ayolah! Mengakulah seperti pria jantan! Lo suka 'kan sama manusia air itu?"
'Juvia. Namanya Madam Juvia.'
"Gue anggap jawaban lo 'IYA'. Lo keluar dari kompetisi ini?"
'… terserah lo.' Setelah percakapannya dengan suara misterius itu berakhir, ia mengangkat Madam Juvia dan merebahkannya di tempat tidur terdekat. Semua memandang hal itu sebagai suatu peristwa yang langka. Akang menunjukkan kelemahannya. Ia terlihat begitu lemah saat Madam tak berdaya. Ya, akhirnya. Akang Gray mengibarkan bendera putih terhadap tembok yang selama ini membatasi dirinya. Ia tahu apa yang hilang. Akhirnya, Akang menyerahkan dirinya, menyerahkan hatinya, untuk mencoba, setidaknya mencoba, menerima dan menambal kekosongan yang merajam dirinya dengan kehadiran Madam Juvia.
"Frosch benci air…" gerutu Exceed hijau itu sembari berpelukan dengan Lector di udara. Exceed merah nan arogan itu hanya bisa mengangguk pelan dan dengan tenang tetap mengepakkan sayapnya.
"Sting-kun…"
"Fairy-san…"
Secara mengejutkan, Lucy, yang biasanya akan mendadak cerewet melewati batas normal saat melihat kondisi seperti ini, mendadak diam seribu bahasa. Ia hanya diam, jari-jemarinya mengusap-usap wajah Sting yang pucat. Tidak ada yang bisa melihat ekspresi Lucy saat ini. Ah, koreksi. A'a Rogue melihatnya dengan jelas, ia duduk tepat di depan cewek itu. Ada sesuatu di balik cara Lucy memandang Sting, sesuatu yang tidak bisa ditebak. Apapun itu, membuat A'a tertegun.
"Lucy, jam berapa sekarang?"
'Whisper…'
"Jawab gue."
'Entahlah, tebakan beruntung, pukul 11 malam? Kenapa?'
"Say goodbye."
'Maksud lo?'
Lucy mengangkat kepalanya dan memandang sekeliling dengan raut wajah khawatir. Beberapa dari kawanan memandangnya dengan bingung. Levy-chan berusaha meraihnya namun terhenti saat ia mendengar kata yang mengalir dari mulut Lucy.
"Sampai jumpa?" Tiba-tiba sebuah sinar yang menyilaukan mata muncul dari langit-langit dan menghujam, melahap seisi ruangan dalam cahaya. Erangan-erangan karena cahaya yang mematikan terdengar di sana sini. Lucy akhirnya mengerti arti dari salam perpisahan yang ia ucapkan sebelumnya. Hari ke-3 dan ke-4, saatnya bersama Natsu.
'Nggak bisakah… istirahat, 1 hari aja…' pikirnya dengan dongkol. Tanpa perlu menunggu waktu lama, lidah-lidah api dari lingkar mantra yang muncul dari titik cahaya itu, menyambar tubuhnya dan Natsu, membawa mereka melalui dimensi waktu lain. Selang beberapa detik, lingkar mantra itu tertutup dan cahaya menghilang, menyisakan manusia-manusia yang berlindung dari teriknya cahaya.
"Lucy!" pekik Cece Mira, saat mendapati sosok yang dicarinya menghilang begitu saja.
"Lu-chan!"
"Natsu menghilang!"
"Bahkan Natsu?!"
"Tenang…" ucap suatu suara. Kepanikan berubah menjadi kesunyian saat pemilik suara itu bangkit dari duduknya. "Ini giliran Natsu-san." Lanjutnya. Tacik Erza dengan cepat meng-klik-kan kata-kata orang tersebut dan berdecak kesal.
"Cih, lo bener, A'a." gumamnya dengan kesal. "Semuanya, tenang! Ini saatnya Lucy dengan Natsu. Doakan saja yang terbaik." Lanjutnya. A'a Rogue memandang berbagai ekspresi wajah yang ada, lalu mengalihkan perhatiannya ke sosok tak berdaya di lantai.
"Duh, lo bener-bener harus diet setelah semua ini berakhir, Sting." Gumamnya seraya mengangkat tubuh berotot kawat itu ke atas tempat tidur, dengan geraman penuh perjuangan.
"Ughh….." Sinar mentari menerobos dari balik tirai, membangunkan sosok malang itu. Tangannya menggeliat ke sana kemari. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya yang menyambutnya. Saat ia berusaha bangkit, sesuatu menahan dadanya. Hidungnya dengan cepat menangkap bau asing yang mengganggu. Ia membuka matanya dan urat kesabaran seketika pecah, saat mendapati yang menahan dadanya adalah sepasang kaki.
"Natsu…" ia menggeram. Lucy menggeram hingga giginya saling beradu. Penciumannya semakin terganggu dengan aroma anyir dan tengik serupa terasi dari sepasang telapak kaki yang menindihnya. Bagaikan Superman yang mendapatkan energi dari cahaya matahari, Lucy merasakan tenaganya membuncah berkali-kali lipat mengintip wajah tak berdosa Natsu yang tidur dengan nyenyaknya.
"HYAA!" Ia melompat dari tempatnya berbaring dan menimbulkan efek kejut yang fantastis bagi figur pembawa masalah. Natsu jatuh terguling dari tempat tidur dan sukses mencium lantai dengan keras. Pemilik kepala berambut jabrik itu terbangun dan mendapati bibirnya membengkak dan berdarah-darah.
"Agh! Napa mulut gue jadi memble gini!? Seseorang harus bertanggung jawab!" jeritnya.
"Maksud lo, gue?" Mulut Natsu mendadak terkunci saat mendengar nada suara yang sangat familiar di telinganya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Lucy, berdiri tegak membayang-bayangi dirinya, dengan seluruh aura kegelapan di dunia, berkumpul di sekelilingnya
"L-L-Lu-ce? Luce…?" pemilik panggilan 'Luce' itu dengan cepat, mengangkat kaki kanannya ke belakang. Semakin lama, semakin tinggi. Mari kita bayangkan, seorang Kapten Tsubasa yang tengah mengambil ancang-ancang menendang bola dengan pengambilan sudut yang kelewat batas normal, berubah menjadi wanita berambut pirang panjang, berdada montok, bertubuh langsing, dengan kaki jenjang.
"Secret Technique : Tsubasa's skill : Captain Lucy's Kick!" Dan melayanglah tendangan maut ala Kapten Lucy ke wajah tampan Natsu yang sanggup mengirimnya terbang keluar jendela dan menghantam kerumunan di luar dengan dampak yang cukup mengerikan. Lucy yakin, ia mendengar bunyi tulang retak saat ia menendang wajah Natsu.
"Cih, sekalinya idiot, minta ampun bikin emosi." Gerutu Lucy seraya melemaskan pergelangan kakinya setelah melakukan aksi brutal favoritnya. Tak berselang lama, terdengar suara ketukan di pintu utama dan Lucy tidak perlu lagi menebak, siapa yang mengetuk pintu itu. Dengan langkah gontai, ia melangkah dan membuka pintu tersebut, hanya untuk melihat wajah babak belur Natsu yang sudah tidak berbentuk.
"Tumben pakai pintu?" cibir cewek manis itu.
"Ugh…" celestial mage itu menghela nafas panjang dan memutar kedua bola matanya saat Natsu tak memberikan jawaban apa-apa. Ia melambai-lambaikan tangannya, mempersilahkan Natsu untuk masuk. Tanpa banyak bicara, korban kebrutalan Lucy itu segera meringkuk di sofa dan mengerang pelan saat lebam-lebam di wajahnya, menyentuh kain pelapis sofa itu.
"Habis ini mandi. Kita ke pasar." Ujar Lucy yang tengah membereskan tempat tidurnya.
"Ke pasar? Ngapain?" gumam Natsu.
"Lo beli tuh pengharum kaki. Amit-amit gue hidup sama kaki terasi. Ampun ya, lo ganteng-ganteng, kaki kaya kebun jamur, basi banget baunya!" keluh Lucy yang saat ini menyiapkan obat-obatan untuk mengobati memar-memar di wajah Natsu.
"Pelan-pelan, Mak! Buset, sakit tahu!" desis Natsu yang meringis kesakitan. Dengan gemas, Lucy menekan kapas pembersih di tangannya ke luka yang tengah ditanganinya, mengakibatkan Natsu berteriak-teriak memohon ampun. Dengan segala huru-hara yang terjadi, selesai juga proses pengobatan Natsu. Tanpa membuang waktu, Natsu segera meluncur ke kamar mandi.
"Pakai sabun! Biar dakinya luntur!" seru Lucy dari ruang tamu. Mendengar seruan sahabat setianya, wajah anak angkat Igneel itu memerah.
'Idih, berasa kaya jorok banget gue… Tapi, ia juga sih, gue kalo mandi 'kan di empang, gosok-gosok badan juga pakai batu apung. Mungkin waktunya gue coba pakai sabun.' Pikir Natsu. Tangannya dengan lincah mencari-cari benda bernama sabun di antara botol-botol di wastafel.
"Jangan lupa keramas!" seru Lucy lagi.
'Ugh… keramas tuh apa ya?'
"Keramas tuh cuci rambut! Pakai shampoo!" seru Lucy lagi, yang sukses menjawab kebingungan Natsu. Lagi-lagi wajah Natsu memerah.
'Gimana caranya Lucy tahu kalau gue nggak ngerti hal-hal begituan.' Pikir Natsu yang masih sibuk memilah-milah botol.
"Soalnya lo idiot!" jawab Lucy yang ditutup dengan tawa renyah dari mulut kecilnya. Kali ini Natsu benar-benar kalap, bagaimana bisa Lucy mengetahui semua pikirannya. Dengan kesal ia memilih satu botol besar berwarna biru cerah dan membaca aturan pakainya.
"Ugh… bahasa apaan nih. Gue nggak ngerti." Gumamnya. (Me : Tahu 'kan? Beberapa produk menggunakan bahasa Thailand?) Dengan santai, ia menuangkan isi botol itu ke telapak tangannya dan mulai menggosokkannya di badan. Tak lama kemudian, ia mengambil botol berwarna kuning transparan, menuangkan isinya di rambut, dan mulai menggosoknya hingga berbusa. 25 menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka dan terlihat uap air menguar ke ruangan terbuka. Lucy yang tengah sibuk membaca majalah, mengalihkan pandangannya dari majalah tersebut dan menganga lebar.
Apa yang dilihatnya membuatnya tertawa terpingkal-pingkal hingga menitikkan air mata. Natsu yang sudah berpakaian lengkap dan rapi, menyerngitkan alisnya dan segera memeriksa penampilannya. Cewek pirang itu akhirnya sukses mengontrol tawanya dan beranjak dari sofa nyaman tempatnya membaca majalah.
"Ne, Natsu, lo tadi pakai botol yang mana?" tanya Lucy sembari memeriksa botol-botol yang berserakan di atas wastafel. Cowok itu dengan polosnya, menunjuk 2 botol dan menjelaskan dengan gamblang kepada Lucy apa saja yang dilakukannya sebelumnya.
"What!? Yaoloh Natsuuuuu…. Ini 'kan sabun! Masa lo pakai buat keramas!?" pekik Lucy dengan hebohnya. "Ini juga, kondisioner! Lo pakai buat mandi?!" lanjutnya lagi. Natsu dengan wajah dungunya hanya mengangguk-angguk tanpa mengerti kondisi sebenarnya. Akhirnya Lucy mendapatkan penjelasan mengenai penampilan baru Natsu. Rambutnya yang biasa tampil berantakan, kini berdiri tegak dan kaku bagai tersengat listrik. Kulit tubuhnya bercak-bercak kemerahan, bahkan wajahnya pun turut ternoda dengan bercak merah.
"Mandi lagi! Yang ini buat rambut! Yang ini buat badan! Ngerti?" tanya Lucy sebelum menyerahkan 2 botol lain ke tangan Natsu. Cowok itu mengangguk dengan lemah. "Ini badan, ini rambut. Oke? Cepetan sebelum kemalaman." Ucap Lucy sebelum meninggalkan Natsu dengan masalah konyolnya. 20 menit berlalu dan mereka berdua siap melakukan perburuan demi mengusir bau kaki Natsu.
"Natsu, mana Happy?"
"Orga, gue butuh bantuan." Bisik Cak Rufus. Pemilik Black Lightning itu mengangguk dan mengikuti Cak Rufus ke ruang bawah tanah dari guild Sabertooth. Tanpa menimbulkan banyak suara, Cak Rufus menyalakan lampu dan melihat sekeliling. Pandangannya terhenti pada sebuah botol anggur yang tergeletak di atas meja di tengah-tengah ruangan. Air anggur tercecer di permukaan meja. Sebagian membentuk kubangan dan menetes ke lantai.
"Hei, lo minta tolong apa?"
"Ah, ya, gue minta tolong, ambilkan barel anggur di sana." Tunjuk Cak Rufus pada sebuah barel besar di atas sebuah lemari.
"Napa nggak lo ambil sendiri? Mulai lemah nih, ye…" goda Orga. Lelaki bertopeng itu hanya meliriknya dengan dingin. Cowok berbadan raksasa itu langsung menutup mulutnya dan melakukan perintah Cak Rufus tanpa sepatah kata. Saat barel anggur itu terangkat, terdapat jejak lendir berwarna kekuningan yang menempel di sisi bawah barel dan beraroma busuk.
"Euuuh… anjir! Apaan nih?" Pria bertopeng itu menyerngitkan keningnya dan menyuruh Orga untuk membawa barel itu mendekat. Dengan cermat, ia mengobservasi lendir itu dari tekstur hingga rasa.
"Yup, sudah gue ingat." Gumamnya. Orga hanya memandangnya dengan raut wajah masam dan dengan enggan membawa barel tersebut keluar dari ruang bawah tanah menuju bar.
"Jadi,"
"Jadi?"
"Apa itu?"
"Itu apa?"
"Yang lo jilat-jilat. Duh, kenapa lo mendadak bego gini?" keluh Orga sambil meneguk habis bir yang baru saja dipesannya. Yang disebut 'bego' segera memijat-mijat kepalanya. Tanpa disangka ia melepas topi merah khasnya dan meletakkannya di samping gelas anggurnya. Lelaki berambut hijau yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja itu, menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Lendir itu mempengaruhi beberapa saraf otak gue kayanya. Ugh…" jarinya kembali memijat-mijat keningnya.
"Tck, siapa juga yang suruh lo jilat itu lendir…" gumam Orga yang ditanggapi dengan tatapan jengkel dari lelaki flamboyan itu. "Tapi, entah kenapa… gue merasakan sesuatu yang jahat dari lendir itu. Gue sotoy nggak sih?" tanya Orga sembari menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran kursi bar.
"Emang sotoy. Ah, setelah lo bilang, gue bisa merasakan energi jahat itu. Kalau boleh alay, seperti roh jahat. Ah ah ah. Otak gue kehilangan kosakata indah." Keluh Cak Rufus.
"Bicara soal roh jahat, gue seharian nggak lihat penampakan roh nyonya penungggu guild." Celetuk Orga.
"Merindukanku?" tampak sepasang tangan muncul di antara Cak Rufus dan Orga. Dengan lemah gemulai, tangan itu merengkuh leher mereka berdua. Kemunculan sepasang tangan itu diikuti dengan gumpalan rambut berwarna hitam kelam menyeruak muncul dari ruang hampa dan perlahan kepala, leher, dada, pinggang, hingga kedua kakinya.
"Who-whoaaa… Ny-nyai!" seru Orga dengan panik. Kemunculan Nyai Minerva yang mengejutkan membuatnya kalap.
"Merindukanku bukan? Tidak bisakah kalian menyambutku dengan hangat?" tanya Nyai dengan senyumnya yang memuakkan. Cak Rufus hanya bisa memutar bola matanya dan mendengus kesal.
"Nah, selamat hari Halloween. Selamat datang roh-roh penasaran." Kicau lelaki berkostum karnaval itu dengan datar. Wanita beraura gelap itu melihatnya dengan penuh kebencian dan nafsu untuk mencekiknya.
"Maksudmu?"
"Hanya orang berotak jenius dan normal, mampu menelaahnya." Nyai dengan senyum sinis yang menempel di wajahnya, menjauh dari mereka berdua dan berjalan keluar dari guild.
"Aku menantikan puisi-puisi menyedihkanmu untuk dibacakan pada saat pemakamanmu, Rufus." Ucap Nyai dari kejauhan. Orga dan Cak Rufus hanya bisa menatapnya dengan pandangan hampa sampai sosok yang mengintimidasi itu menghilang dari pandangan mereka.
"Nah, Bro, gue turut berduka cita ye." Celetuk Orga tanpa memperhatikan suasana. Pria berambut pirang itu mendengus kesal dan bermaksud mengambil topi kesayangannya saat pandangannya melekat pada sesuatu yang berkilauan di atas lantai. Ia berjalan menyusuri lantai dan mendapati benda berkilauan itu mengarah ke pintu guild.
"Oi, Orga. Sini."
"Hmm?" penyanyi jadi-jadian itu mendekat dan membungkuk di samping Cak Rufus yang sedang berjongkok di ambang pintu guild.
"Menurut database ingatan gue sebelum tercacati, benda ini belum ada. Benar?"
"Ugh… Ya… Nggak… Ugh… Gue rasa iya."
"Orga, gue butuh bantuan lain." Pemilik nama 'Orga' itu mengangguk dengan ragu. Ia bersandar di pintu guild dan memandang Cak Rufus dengan emosi yang bercampur aduk.
"Oi, ini bukan salah satu masalah baru untuk Sting 'kan?" pria itu tersenyum dan Orga mengerang dengan putus asa mengetahui arti di balik senyum itu.
"Memory make : After Image."
Mari kita tengok sebentar guild Fairy Tail…
"APA?!" semua orang menutup telinganya dari serangan suara titan yang menggelegar memenuhi guild. "Bahkan Cece Mira juga menghilang?!"
"Itu benar Opa, Jeng Cana bahkan nggak bisa melihat keberadaan mereka melalui kartu tarot." Jawab Om Macao.
"Sudah berapa hari?"
"Sejak kedatangan orang itu, 5 hari." Jawab Wakaba. Opa Makarov terbengong-bengong.
"5 hari? Dan tidak ada satupun di antara kalian yang bisa menemukan mereka?" tanyanya dengan geram.
"Uhm… Opa, Nonik udah coba ikutin bau dari Cece Mira ataupun Tacik Erza, tapi baunya menghilang. Nonik sulit menemukan lagi baunya. Maafin Nonik…" isak Nonik Wendy. Opa Makarov cepat-cepat menenangkan gadis kecil itu dan Teteh Bisca dengan sigap membawa Nonik Wendy untuk menemani Asuka-chan.
"Warren mencoba menghubungi mereka, tetapi ada sesuatu yang menghalangi." Ucap Max. Kening Opa Makarov semakin berkerut-kerut. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh dan tidak pada tempatnya.
"Siapa 'orang itu'? yang kalian sebutkan sebelumnya."
"Ah, Sting-san, Opa. Ia datang menjemput Lucy untuk menjalankan sebuah misi misterius." Jawab Meme Lisanna dengan suara parau.
"Sting? Sting Eucliffe, Master Sabertooth?!" raut wajah penuh keterkejutan menyelimuti anggota Fairy Tail saat mendengar rentetan seruan dari Opa.
"Sting? Ia adalah Master Sabertooth?" Tanya Charla. Opa menganggukkan kepalanya.
"Di hari aku berpamitan untuk pergi dinas, adalah hari perkumpulan darurat dan tertutup untuk para Master Guild Legal. Satu-satunya yang tidak ada di sana hanyalah Master dari Sabertooth. Lahar telah mencarinya kemana-mana pada hari itu, tapi nihil. Tidak terbayang olehku kalau Sting akan mendatangi Fairy Tail. Ah kesampingkan soal Sting terlebih dulu, ini penting bagi kita semua. Magic Council mendeteksi adanya pertumbuhan dan pergerakan dari 1 Dark Guild. Yang mengkhawatirkan adalah mereka bukan Mage biasa." Suaranya terdengar gemetar saat menjelaskan hal penting tersebut.
"Nggak biasa?" Jeng Cana merespon dengan cepat. Ia memiliki firasat buruk saat mendengar kabar ini.
"Underworld. Peranakan Zeref." Jawab Mavis yang muncul tiba-tiba di samping Opa Makarov.
"Master Pertama!" seru Opa.
"Ah, aku sudah tidak sabar mengatakan 'Underworld. Peranakan Zeref' dengan dramatis. Apakah aku cukup membuat kalian terkejut? " Tanya Mavis dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Ugh… nggak juga." Celetuk Wakaba. Mendengar itu, mata Mavis langsung berkaca-kaca.
"Aku tidak menangis.. ugh.. aku tidak menangis…" bibirnya bergetar, matanya membulat dan sesekali sesenggukan.
"Semuanya! Tolong! Hibur Master Pertama!" seru Opa Makarov dengan panik. Selagi anggota Fairy Tail gaduh dengan usahanya menghibur Master Pertama, Charla diam termenung di tempatnya.
"Kau telah mengambil yang bukan milikmu!"
"Diam!"
"Kita tidak hidup sendiri! Lo, gue, ada di dunia ini dengan tujuan! Sekarang kita di sini, bersama-sama! Gue nggak mau lo berjuang sendirian! Gue nggak mau lagi lihat lo menderita! Kita semua perduli! Lo denger gue?!"
"Rasa mengkhianati jauh lebih nikmat dari pada bibir lo."
"Tolong… tolong… kembali… kembali ke gue…"
"Happy birthday!"
"Ah, jika mata dibalas mata, maka nyawa dibayar nyawa."
"Ingat! Aku akan menyeretmu!"
"Maaf, Zeref…"
"Lupakan, gue percaya sama lo."
"Jaga anak kita…"
"Mama…"
"Akh!" erang Charla yang tengah mencengkeram kepalanya.
"Charla! Kenapa? Ada yang tidak beres?" tanya Jeng Cana dengan penuh kekhawatiran. Ia meninggalkan barel anggurnya dan pergi menuju bar, mengambil selembar kain bersih dan kembali ke Charla. Dengan telaten, ia membasuh peluh dari kening Charla.
'Ini.. ini penglihatan… tapi, kenapa aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Dan lagi, suara-suara ini begitu bising… aku tidak bisa mengenali satupun suara-suara tersebut.' Pikir Charla yang kali ini berdiam di dalam gendongan Jeng Cana.
"Happy," Exceed biru itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia terbang mendekat raut wajahnya berubah menjadi khawatir.
"Temani Charla. Gue rasa, dia butuh penghiburan." Ujar Jeng Cana sembari mengedipkan sebelah matanya. Happy yang kehabisan kata-kata, menggandeng tangan Charla dan mengajaknya mengobrol dengan Pantherlily.
"Charla… mau ikan?"
"Tidak, Happy." Jawab Exceed putih itu dengan lemas.
"Badanmu masih panas, Charla? Kami akan menemanimu dan Nonik Wendy." Exceed itu tersenyum simpul dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sudah lebih baik dan terimakasih."
"Beristirahatlah, Charla." Kali ini Pantherlily angkat bicara. Tersirat rasa lelah di dalam suara berat milik Exceed hitam itu. Begitu juga dengan Happy. Wajah mereka berdua terlihat lesu, suasana gembira saat berjalan-jalan ke taman hiburan sebelumnya berubah drastis saat mereka berdua mendengar kabar hilangnya Natsu dan Encang Gajeel.
-SMACK!-
"Dasar! Gimana caranya lo bisa lupa sama Happy. Kasihan 'kan dia sendirian." Protes Lucy sembari menyendokkan es krim coklat ke dalam mulutnya. Pinky boy itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Ugh, gue lupa kalau dia belum pulang dari acara jalan-jalan dengan Nonik Wendy dan para Exceed. Tacik Erza kelewat panik waktu lo memutuskan untuk pergi dengan Rambut Nanas itu." Jawabnya. Cewek di sampingnya hanya bisa mendesah pelan.
"Namanya, Sting, duh." Gumamnya. Ia bingung, semua orang di dekatnya selalu memanggil setiap orang dengan nama-nama konyol yang memalukan. Ada apa dengan penggunaan nama asli? Lucy tidak bisa berpikir jernih. Tangannya sibuk mengaduk-ngaduk es krim yang mulai mencair di dalam gelasnya. Matanya berbinar-binar dan memandang penuh hasrat saat sesendok penuh es krim coklat, menggumpal dan mengeluarkan uap putih, berkilauan di depan matanya. Ia sudah membuka mulutnya lebar-lebar saat tiba-tiba gumpalan es krim coklat itu menghilang dari sendok dan membuat Lucy meringis kesakitan akibat menggigit sendok kosong dengan giginya.
"Es krim gue?!"
"Orrzzz…. He-hak nus! Orz! Awhe-m.." Lucy melirik dengan jengkel dan menatap dengan sinis cowok menyebalkan di sampingnya.
"Enak, Luce! Adem banget! Ugh… Minta lagi!" serunya dengan ceria. Ia sudah membuka mulutnya lebar-lebar dan berharap bisa mencuri lagi sesuap es krim.
"Siapa bilang lo boleh minta lagi?! Dasar! Beli sendiri sana!" omel Lucy yang sibuk menggali-gali ke dalam gelas demi mendapatkan lagi es krim yang dicuri oleh Natsu. Saat sendok tersebut penuh dengan gumpalan dingin berwarna coklat tersebut, keduanya saling melirik dan dengan cepat mereka membuka mulut demi menyambut datangnya es krim itu. Tangan Lucy cepat-cepat mendorong sendok itu namun sayangnya Natsu menggunakan kekuatan, langsung menarik tangan Lucy sehingga sendok tersebut mengarah ke mulutnya. Tidak tinggal diam, cewek pirang tersebut memburu es krim terakhirnya dan…
.
.
.
.
.
.
.
.
Es krim coklat itu lumer, tetesannya mengotori baju Natsu. Tapi bukan itu yang masalahnya. Keduanya saling bertatap muka, mata terbelalak, nafas menderu. Masing-masing bisa merasakan manis dan dinginnya es krim coklat yang mereka perebutkan.
"Ah! Romantis sekali mereka." Terdengar bisik-bisik di sekitar mereka. Keduanya terdiam, tak ada satupun yang berani bergerak. Seandainya sendok es krim tersebut bisa menjerit, keduanya pasti sudah menjauh. Sayangnya, sendok hanyalah benda mati dan tidak sanggup memisahkan bibir mereka berdua yang tengah terpaut satu sama lain, berbalut cairan kental berwarna coklat.
Ah, seandainya sendok itu menjerit…
Maafkan ane yang lama sekali baru update. Kesibukan di sana sini, kerja praktek, sekaligus menulis buku lainnya. Sepertinya status hiatus akaan kembali berkibar.
Ugh..sedih..TT_TT
Ah, ane ada pertanyaan, tolong di jawab lewat review ya :D
Apa pendapat kalian mengenai "kematian" Lector? Itu saja..:) ane butuh jawaban kalian semua.
Makasi.:D
RnR pliss!
Matursuwun…:3
