Arco Iria Present

KINGS

Enjoy!


Baekhyun berlari di antara rimbunnya pepohonan. Tangannya mengengam erat sebilah pedang yang ia gunakan untuk mempertahankan dirinya sendiri. Pemuda itu berhenti tiba-tiba. Ia terengah-engah, sambil mengengam dadanya yang berdetak tak karuan, raja Persei itu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon.

'Aneh−' Baekhyun bergumam dalam hati, menyadari keanehan pada tubuhnya karena ia merasa begitu lelah. Baekhyun menutup matanya, ia ingin beristirahat sebentar, menenangkan jantung dan rasa mual yang kembali menghantamnya.

Untuk beberapa saat, seluruh tubuh Baekhyun yang tegang mulai terasa nyaman. Raja Persei itu terbuai dalam suasana hutan yang begitu tenang. Ia hampir saja jatuh tertidur.

SWUSSSHHH!

−Namun tentu saja ia tidak dapat tidur dengan tenang saat sebuah panah meluncur melewati wajahnya dan menancap di pohon. 'SIAL!' Baekhyun langsung membuka matanya cepat dan bergerak waspada. SWUSHH−sebuah panah kembali terbang ke arahnya, namun gerakan Baekhyun lebih cepat dan dia berhasil bersembunyi di balik pepohonan.

Baekhyun menahan napasnya. Berusaha tenang dan meminimkan hawa keberadaannya sesedikit mungkin. Sambil memicingkan matanya, Baekhyun memperhatikan sekelilingnya, mencari tahu keberadaan pemanah yang sedang menyerangnya. Dan Raja Persei itu menemukan gerakan mencurigakan dari balik semak-semak.

Tanpa Ragu, Baekhyun melepaskan pedangnya dari sarung. 'Menyerang, atau menghindar' timbangnya dalam hati saat melihat sebuh panah kembali melucur ke arahnya. Ia punya kurang dari satu detik untuk menentukan pilihannya.

Baekhyun berdecak, 'hanya orang pengecut yang lari dari situasi seperti ini!' –lalu mengangkat pedangnya dan menangkis panah yang meluncur ke arahnya itu. Baekhyun berlari ke arah semak semak itu dengan kecepatan tinggi dan dan langsung menendang sosok yang bersembunyi di semak-semak itu.

SRAK SRAK BRUK!

Baekhyun dan pemuda itu berguling di antara rerumputan. Baekhyun dapat melihat wajah geram penuh kemarahan darinya. Ia berusaha memukul jatuh Baekhyun dengan mencekram pundaknya, Namun Baekhyun dengan sigap menghantam wajah pemuda itu dengan tinjunya. Namun pemuda itu cukup kuat, ia melempar Baekhyun yang awalnya berada di atasnya ke tanah. Tapi riwayatnya telah tamat saat Baekhyun lebih dulu meninju telinga dan tengkuknya.

"Ka-kauu! B-brengsekk!" umpat lawannya itu dengan mata berkunang-kunang, pemuda itu mencekram Baekhyun untuk memberikan perlawanan terakhirnya. Namun ia gagal−dan pingsan, begitu saja di atas tubuh Baekhyun.

Baekhyun berdecak, " kau berat! Sialan!" umpatnya dan melempar tubuh pemuda itu dari atas tubuhnya. Baekhyun berdiri dengan agak kelimpungan, ia mengambil pedangnya yang terlempar dan mengemasnya kembali. Raja Persei itu kemudian meludah, ada sedikit warna kemerahan di ludahnya. Nampaknya Baekhyun melukai gusinya.

Dengan segera, Baekhyun menjelajahi seluruh tubuh pemuda itu dan menemukan kertas berwarna biru terikat di busurnya. Baekhyun mengambil dan mendapati tulisan sepuluh poin di kertas itu. Lumayan, ini adalah poin pertama yang Baekhyun dapatkan pagi ini.

Baekhyun berbalik, ia kembali berjalan untuk menyusuri kawasan pegunungan yang sangat luas itu.

Baekhyun berhenti berlari dan melihat ke arah langit untuk memperkirakan waktu. " Hampir siang hari. Dan hujan akan turun." Gumamnya saat melihat posisi matahari dan hembusan angin yang kencang. Puncak gunung masih terlihat sangat jauh dan ia hanya mendapatkan 10 poin.

Sungguh. Ini tidak mudah.

Tubuh Baekhyun menegang seketika saat mendengar langkah kaki. Pemuda mungil itu segera bersembunyi di balik semak-semak. Untuk beberapa detik Baekhyun bersiap menyerang. Dan seorang pemuda pun muncul.

Mingyu! Itu Mingyu!

Baekhyun menghela napas lega. Dan saat Mingyu menyadari keberadaan Baekhyun di balik semak-semak, pemuda yang sekarang penuh dengan peluh dan kotoran itu langsung menerjang keberadaan Baekhyun.

"MING−hmmph!" Baekhyun memekik saat Mingyu membekap mulutnya. Pemuda itu menempelkan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan Baekhyun untuk diam."

Mingyu memandang sekeliling, lalu melepas telapak tangannya dari bibir Baekhyun. Matanya tajam memandang Baekhyun penuh arti. Untuk beberapa saat, Mingyu seperti orang yang berbeda. "Sudah waktunya. Ayo kita pergi!" ujar Mingyu. Pemuda itu langsung mengengam tangan Baekhyun dan menariknya setengah berlari.

"Tu-tunggu!" Baekhyun tergagap sambil menahan tubuhnya, " apa yang terjadi Mingyu?! Kemana kita?!"

Mingyu masih memasang wajah waspada. Ia masih menarik pergelangan tangan Baekhyun untuk mengikutinya. " Baek−maksudku, Yang Mulia. Aku akan berusaha untuk menjelaskan semua ini secara singkat." Baekhyun mengernyit. Menahan napas saat Mingyu berbalik dan menatapnya dengan mata penuh harap. " Aku akan membawamu kembali ke Persei."

Baekhyun membelalakan matanya, " apa?! Ta-tapi−bagaimana bisa?!"

"Rakyat Persei membutuhkanmu. Mereka berusaha membebaskan diri karena saat ini Exordium sedang melakukan gencatan senjata. Rakyat-rakyatmu telah pulih, dan mereka siap untuk melawan. Tapi mereka tidak bisa melakukannya tanpa dirimu, Yang Mulia! Kita harus cepat! Kupikir rencanaku sudah diketahui oleh beberapa pihak."

Baekhyun terdiam. Ia ingin membuka mulutnya namun tak mampu berkata, seolah kata-kata tertahan di kerongkongannya. Ribuan pemikiran berkecamuk di kepalanya. Ada perasaan gelisah yang menahannya untuk pergi.

Ia tak yakin.

Baekhyun tak yakin ini adalah pilihan yang benar!

" Tu−TUNGGU! Ming−Tapi−" Baekhyun tergagap, ia masih tidak dapat memproses kata-kata dari Mingyu.

SWUSSHHH!

"AKHH!" Mingyu terjatuh. Dan Baekhyun terlonjak syok saat melihat rekannya itu tertembus sebuah panah di lenganya.

"AWAS!" Baekhyun memekik saat sebuah panah kembali meluncur. Pemuda itu segera menjatuhkan dirinya. Matanya membelalak saat Mingyu jatuh terperosok di atas dedaunan. "MINGYU!" raja Persei itu menemukan Mingyu yang mengaduh kesakitan saat lengannya terus menguncurkan darah. Baekhyun menolehkan wajahnya kebelakang, mendapati Yunho yang sekali lagi ingin meluncurkan panahnya.

"MINGYU! AYO PERGI!" Baekhyun memperingatkan Mingyu, pemuda itu segera memaksa dirinya bangkit dan ikut berlari bersama Baekhyun.

Mingyu dan Baekhyun berlari secepat yang mereka bisa di antara pepohonan. Dan tiba-tiba, Mingyu menariknya ke daerah tengah hutan yang memiliki jurang yang lebar. Bersembunyi untuk sementara di balik pohon super besar.

"Di situ−" Mingyu menunjuk tebing. "Di dalam jurang itu terdapat sungai yang alirannya lambat, aku telah menyiapkan perahu di hilirnya dan kita dapat kabur menuju ke Persei! Kita hanya harus menuruni tebing ini dan berenang mengikuti arus!"

Baekhyun terdiam, menekan kedua belah bibirnya satu sama lain. "Mingyu, katakan kepada rakyat Persei untuk menunda rencana pemberontakan."

Mingyu tergagap, " ke-kenapa?"

"Aku tidak ingin ada nyawa yang terbuang sia-sia lagi Mingyu. Exordium jauh lebih kuat daripada rakyat Persei. Jika terjadi gencatan senjata, itu hal yang bagus, setidaknya tidak akan ada korban dari pihakku. Tetap menunggu, jangan melawan dan biarkan aku mengurus semuanya di sini. Katakan kepada Jongdae untuk tidak bertindak gegabah."

Napas Mingyu tercekat, " Ta-tapi−rakyat Persei membutuhkanmu."

Baekhyun mengeleng, " tidak. Mereka tidak membutuhkanku. Mereka hanya membutuhkan pemimpin untuk mengarahkan jalan mereka. Dan Jongdae lah yang kupilih untuk melakukan tugas itu. Jika aku menghilang, itu hanya akan membuat masalah yang lebih besar."

"Ta-tapi, rakyat-rakyatmu sungguh menderita sekarang. Mereka menjadi sangat kurus karena tidak ingin memakan bahan makanan yang diberikan oleh Exordium." Sanggah Mingyu.

Baekhyun menghela napas berat, dadanya kian sakit mendengar keadaan rakyatnya yang sungguh menyedihkan. "Mingyu−perintahkan mereka untuk memakan makanan itu. Rakyatku harus tetap sehat dan kuat, para orang dewasa harus membangun kota kembali dan Anak-anak harus tetap bisa bermain. Jika mereka menolak bahan-bahan makanan yang diberikan oleh Exordium. Itu artinya mereka menyia-nyiakan pengorbananku. Bahan-bahan makanan itu adalah hasil 'jerih payah'-ku di sini!"

Mingyu terdiam, Ia tak mampu berpikir apapun. Badannya lemah seketika. "A-apa kau yakin dengan keputusanmu?"

Baekhyun menganguk mantap.

"A-apa kau akan baik-baik saja di sini Yang Mulia. Kau masih bisaikut denganku, Yang Mulia?" tanya Mingyu lagi.

Dan Baekhyun menganguk tanpa ragu-ragu. "Aku akan baik-baik saja. Daripada menghawatirkanku, rakyat-rakyatku seharusnya menghawatirkan diri mereka sendiri!"

SWUSH! –Sebuah panah kembali meluncur dan terancap di dekat mereka. Baekhyun menoleh ke belakang, mendapati Yunho telah menemukan mereka. "Pergilah Mingyu! Dan juga aku sungguh bertanya-tanya, apa yang membuatmu membantu kami?"

Mingyu terdiam, memandang Baekhyun dengan sayu, " aku jatuh cinta dengan seorang dari rakyatmu, hingga aku rela melepaskan segalanya. Membawamu kembali adalah salah-satu caraku untuk mendapatkan hatinya, Yang Mulia."

Baekhyun terkekeh, lalu menggeleng pelan. " Sungguh naïf!" desahnya. Lalu menatap tajam Mingyu untuk segera pergi dari tempat itu. Langkah kaki Yunho sudah semakin dekat.

Baekhyun tersenyum, tangannya terangkat untuk mencegat Mingyu sebentar, " apa kau sungguh-sungguh mencintai dirinya?"

Mingyu menganguk, matanya menyorotkan sinar mantap yang mendalam. Baekhyun mendenguskan napasnya pelan. Lalu membuka bibirnya.

"Ikutilah paruh burung bangau yang malu-malu terhadap Sang Cahaya Dunia. Dan berjalanlah terus hingga kau menemukan orang-orang tua bermata satu, temukan pemimpinnya, dan lihatlah dari sudut pandangnya untuk menemukan sebilah pedang yang menancap di tubuh sang dewi."

Mingyu terdiam, " a-apa itu?" gagapnya. Pemuda itu tida mengerti.

Dan Baekhyun tersenyum lebar, matanya nyaris hilang, " jika kau menemukannya dan memberikan kepada orang yang kau cintai, maka ia sungguh akan menerimamu. Sebab, disanalah hati seluruh rakyat Persei berada."

Mingyu menganguk pelan, matanya berkedip-kedip lucu berusaha mencerna teka-teki Baekhyun.

"Sekarang, PERGILAH! Atau kau mungin akan diremukan oleh Yunho."

Mingyu mendesah kecewa, dia berdiri, dan menetapkan hatinya untuk menerima apapun keputusan yang diambil oleh raja Persei itu. Ia mulai melangkah ke dalam jurang itu, memegang batu-batu yang kuat untuk turun ke dasarnya. Untuk terakhir kalinya, Mingyu kembali bertanya, " apa kita akan bertemu lagi Yang Mulia?"

Baekhyun menatap Mingyu dalam-dalam, " aku pasti akan bertemu denganmu lagi, cepat atau lambat. Dalam keadaan bernyawa maupun tidak bernyawa."

Mingyu berdecak, " kumohon jangan katakan itu, Yang Mulia. Kau tentu akan kembali dengan selamat kepada rakyatmu." Gumamnya.

Lalu tanpa pikir panjang, Mingyu langsung melepaskan gengaman tangannya pada tebing jurang. Membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja ke atas sungai di bawahnya.

Baekhyun memandang sendu ke dalam jurang. Mingyu berasur-asur menghilang terbawa arus. Baekhyun berbalik, mendapati Yunho yang berjalan ke arahnya dengan wajah sangar.

Baekhyun mencabut pedangnya dari sarung. Ia harus melawankan lelaki brengsek ini.


.

.

.

PRAKK−Baekhyun menahan napasnya saat pedangnya bertabrakan dengan pedang Yunho. Wajah pemuda itu menggeram, dan mencoba mendorong Baekhyun.

Baekhyun mundur dengan jarak yang cukup jauh, tubuhnya lebih kecil daripada Yunho. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.

"Apa yang kau diskusikan dengan temanmu itu?" desis Yunho sambil mengacungkan pedangnya kea rah Baekhyun. " Apa yang kalian berdua rencanakan?"

Baekhyun memandang Yunho tajam, kuda-kudanya menguat. Baekhyun dalam mode yang sangat waspada, mengingat Yunho tampak serius ingin menyakitinya. "Apa itu urusanmu?" jawab Baekhyun.

Yunho mendenguskan napas mengejek, " Ya, sebagai warga Exordium yang baik aku bertanggung jawab atas tindakan apapun yang melawan kerajaan."

" kau terlalu berlebihan." Baekhyun masih memperhatikan tubuh Yunho dengan seksama, melihat apakah terdapat luka atau kelemahan yang dapat ia manfaatkan. Baekhyun menutup matanya, ia tidak menemukan sedikitpun kelemahan di tubuh Yunho, namun raja Persei itu harus tetap waspada.

Yunho mengangkat pedangnya, menerjang Baekhyun terlebih dahulu. Baekhyun membelalakan matanya, ia menghindari terjangan Yunho dengan menggerakan dirinya ke samping kiri. Kakinya terangkat dan−DUAK−Baekhyun menendang bahu Yunho hingga dia tersungkur.

Yunho mengeram, ia bangkit dengan cepat lalu mengayunkan pedangnya ke arah Baekhyun. Gerakannya pasti, namun tidak mematikan. Entah bagaimana, Yunho sama sekali tidak menyerang bagian-bagian vital Baekhyun.

PRANG−Baekhyun berputar, dan pedangnya tanpa sengaja terlepas dan jatuh tertancap beberapa meter di belakangnya. DUAK−Baekhyun menahan napasnya saat merasakan hantaman di lengannya, ia terpental dan jatuh tersungkur di tanah.

Baekhyun menarik napsnya dalam-dalam. Mengerjapkan matanya untuk beberapa kali. Dalam waktu sepersekian detik, Baekhyun menyadari ada yang salah dengan tubuhnya, ia menjadi sangat pusing dan lemah. Matanya berkunang-kunang dan perutnya mual. Dengan susah payah, Baekhyun bangun dan mengapai pedangnya.

Yunho berjalan pelan, memperhatikan Baekhyun dengan seksama. "Kau begitu kuat saat ujian babak pertama, kenapa kau sekarang begitu lemah?" tanyanya.

Baekhyun mengeram, membangkitkan dirinya dengan susah payah dan menghindari Yunho, " Diam!" ujar Baekhyun. Suaranya tegas, dan tersirat sedikit keraguan. Setelah menimbang beberapa saat, Baekhyun kembali maju mengacungkan pedangnya.

Yunho dengan sigap menghindar, dan Baekhyun tetap dalam mode menyerangnya. Saat itu, Baekhyun pun menyadari bahwa Yunho pun juga adalah petarung yang hebat. Yunho berputar, berusaha menancapkan pedangnya pada Baekhyun, dan itu membuat bahunya terbuka dan CRAKK−

Baekhyun berhasil menusuk tepat di bawah bahu kanannya. Cukup dalam, sampai Baekhyun sendiripun merasa syok dibuatnya.

"argghhh!" Yunho memekik dan terjatuh di tanah. Wajahnya memerah dan peluh mengalir dengan deras, ia mengumpat penuh kemarahan. "Brengsek!"cercanya.

Dengan wajah datar yang menyembunyikan kekagetannya, Baekhyun mendekatkan pedangnya ke leher Yunho sebagai ancaman, " diam atau kuputuskan kepalamu."

Yunho mengatup mulutnya, sorot matanya yang tajam seolah-olah dapat membunuh Baekhyun. " Jika kau ingin membunuhku maka silahkan. Jangan ragu, karena jika kau tidak membunuhku sekarang, mungkin saja aku akan menusukmu saat kau berbalik." ujarnya, dengan tangan sedikit bergetar, Yunho mengambil lembaran-lembaran poin para peserta dari sakunya. Melemparnya asal ke arah Baekhyun.

Baekhyun mengernyit, " kau menyerang anggota kelompokmu?"

Dan Yunho hanya bungkam sebelum akhirnya kembali berkata, " kau bisa mengambilnya dan secara otomatis memenangkan babak ini. Aku terluka, dan kau punya kesempatan untuk membunuhku." Yunho memandang Baekhyun dengan tajam, namun terdapat arti di dalamnya.

" Tapi aku akan mengatakan bahwa yang kau lakukan adalah sia-sia."

Baekhyun menahan napas, sama sekali tidak mengerti atas apa yang dibicarakan oleh Yunho, " apa maksudmu! Jangan mempermainkanku!" Baekhyun semakin mendekatkan pedangnya pada leher Yunho, menekan kulitnya tanpa melukai.

"Tidak ada yang bisa kau lakukan." Ujar Yunho, " dia tidak mau membiarkanmu menang."

"Si-siapa?" Baekhyun tergagap, bingung saat mencerna perkataan Yunho.

Darah segar menguncur deras dari bagian dada kanan Yunho. Pemuda itu tidak menjawab, ia menundukan kepalanya. "Dia akan membunuhku."

Baekhyun mengigit bibirnya, lalu melempar pedangnya menjauh. Ia maju, menarik kerah baju Yunho yang berlutut di tanah. "Siapa Dia yang kau maksud! Brengsek!"

Yunho terkekeh, matanya memandang tajam pada Baekhyun, tangan kanannya yang bergetar karena mnenahan sakit melepaskan gengaman Raja Persei di depannya. "Dia−yang berusaha menghentikan pemikiran bodohmu tanpa menghancurkan harga dirimu."

"Apa maksudmu!?" napas Baekhyun terengah. Sebuah nama melintas di dalam pikirannya. "Me-mengapa dia melakukannya?!"

"Kau kuat, berani, adil dan penuh pengertian. Karena itu kemungkinan untukmu menang sungguh besar. Jika kau maju pada peperangan, kau mungkin saja terluka dan mati. Dia tidak menginginkan itu. Yang Mulia ingin kau tetap di sisinya."

−CHANYEOL

Baekhyun membatu. Kepalan tangannya mengeras dan−BUK! Pemuda itu melayangkan bogemnya pada Yunho. Yunho tersungkur di tanah, menahan sakit pada rahangnya.

"Tidak ada seorangpun yang akan mengirimkan orang yang dia cintai ke medan perang." Gumam Yunho dalam hati.

Baekhyun mengigit bibir, rasa mual terasa naik ke perutnya. A-apa dia ketakutan?!" tanyanya dengan pilu, "Apa rajamu itu sungguh takut aku akan mengancamnya?!"

"Kau salah paham." Yunho menjawab dengan suara datar.

"Jika dia sungguh menganggap aku ancaman! Dia seharusnya membunuhku!" Baekhyun menghentakan kakinya. "Kau−kenapa kau menerima permintaannya!"

Yunho terkekeh," Karena dia rajaku. Dan ia berjanji akan memberikan apa yang kuinginkan." Matanya memandang Baekhyun dengan remeh, " Aku tahu kau berjuang untuk rakyat-rakyatmu. Tapi aku pun juga memiliki orang-orang untuk dilindungi! Wilayahku rusak parah karena berada di perbatasan, Pasanganku sakit parah, dan orang-orang di sana tidak diperbolehkan masuk ke kota karena khawatir akan membawa bibit penyakit. Penyakit yang bahkan−sangat mudah disembuhkan jika saja orang-orang memperbolehkan kami membeli obat di kota! Karena itu, dengan menjadi orang penting di kerajaan, aku dapat membuat wilayahku lebih makmur!"

Baekhyun bungkam.

"Kau masih punya banyak cara untuk melindungi rakyatmu! Tapi untukku− menjadi jenderal adalah satu-satunya jalanku!"

Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Baekhyun. Ia mengigit bibirnya, rasa kesal, marah, dan kecewa bercampur jadi satu. Harga dirinya luluh lantak. Baekhyun merasa dia sungguh tak dihargai.

Apakah Chanyeol membual atas apa yang ia katakan selama ini?

Apakah ia akan terus menjadi pelacur di sini!?

"Ka−kau hendak kemana?" Yunho mengernyitkan dahinya saat melihat Baekhyun berbalik dan berjalan dengan langkah berat meninggalkan dirinya.

Baekhyun menolehkan kepalanya kepada Yunho. Yunho terhenyak saat melihat mata bulat Baekhyun yang sudah nampak berkaca-kaca, " a-aku−aku akan pergi untuk meninju muka rajamu itu!" sahut Baekhyun, suaranya parau.

Yunho bungkam, matanya memandang awas dan memperhatikan Baekhyun yang berjalan dengan langkah tersoek-seok. Hingga beberapa saat kemudian, bahu raja persei itu merosot dan tubuhnya jatuh ke tanah. "Astaga!" pupil Yunho melebar seketika saat melihat itu. Dengan susah dengan tangan yang masih mengeluarkan darah, Yunho mengangkat tubuhnya dan menghampiri Baekhyun.

Membawanya segera kembali ke kerajaan.


.

.

.

Chanyeol berjalan pelan di beranda istana. Jubahnya yang besar dan berat terseret begitu saja di lantai, dan mahkotanya berada di puncak kepala karena dia baru saja melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi dari kerajaan tetangga. Dua orang prajurit dan seorang pelayan pribadi berada di sisi Raja Exordium itu.

Hujan pada sore hari itu deras sekali. Hingga titik-titik hujan pun luput mengenai wajah Chanyeol. Tapi entah bagaimana ia menyukainya. Rasanya dingin dan menenangkan.

"Yang Mulia." Pelayan Chanyeol memanggil Raja Exordium itu dengan suara pelan. Dan dibalas dengan kerlingan mata dari Chanyeol.

"Yang mulia, hamba mendengar sedikit informasi dari prajurit-prajurit berpatroli di Mama. "

"ada apa?"

"Mereka bilang, bahwa terdapat 2 orang mencurigakan di kota Mama. Diperkirakan itu adalah Kris dan pelayannya Suho. Namun saat dikejar mereka berhasil kabur dengan cepat. Informasi ini masih belum dapat dipastikan, Yang Mulia."

Chanyeol bergetar menahan amarah, rahangnya menajam. " Apa yang kedua bedebah itu lakukan di sini?! Mereka pasti merencanakan satu hal! Pelayan! Segera perintahkan untuk meperketat penjagaan di kota Mama dan pastikan bahwa mereka menemukan orang-orang mencurigakan itu."

Pelayan Chanyeol menganguk mantap.

Dalam hatinya, Chanyeol tahu benar bahwa Kris mungkin saja akan merencanakan sesuatu yang berbahaya untuknya. Ia harus melindungi diri dan kerajaannya.

Dan akhirnya raja Persei itu teringat akan satu hal.

Baekhyun.

"Apa ujian babak ketiga pada pemilihan Jenderal sudah selesai?" tanya Chanyeol pada pelayan pribadinya.

"Benar Yang Mulia. Ujian babak ketiga telah selesai. Namun tidak didapatkan seorang pun pemenang."

Chanyeol mengernyit sambil memberhentikan langkahnya. " Bagaimana bisa tidak ada seorang pun yang menang?"

"Sebab tidak ada seorang pun yang berada di puncak gunung pada waktu yang ditentukan, Yang Mulia. Para petinggi militer kemudian berharap untuk menggunakan cara pemilihan yang lain."

"Bagaimana dengan Baekhyun?" tanya Chanyeol cepat sambil memicingkan matanya pada si pelayan.

Pelayan itu menundukan kepalanya, " tuan Baekhyun saat ini berada di balai pengobatan tabib Sangho. Tuan Baekhyun dibawa oleh tuan Yunho dalam keadaan tidak sadarkan diri."

Chanyeol terhenyak, ia berbalik dan mendekati pelayannya itu dengan wajah tegas, " apa Baekhyun baik-baik saja?" tanyanya, Terselip nada khawatir di perkataannya.

Dengan sedikit bergetar, pelayan itu menggeleng pelan. " Dia baik-baik saja Yang Mulia. Tidak ada luka yang parah pada tuan Baekhyun.

"Pelayan." Chanyeol melangkah mantap meninggalkan pelayannya. " Siapkan waktuku saat ini. Karena aku ingin mengunjungi Baekhyun dan melihat keadaannya." Ujar Chanyeol. Langkahnya mantap berjalan untuk mengunjungin balai pengobatan.

Namun gerakan kaki jenjang raja Exordium itu berhenti saat seseorang bermata bulat berjalan pelan menghampirinya.

Kyungsoo.

Pasangan Kai itu berpapasan dengan Raja Chanyeol. Bersama dengan kedua anak buahnya mereka membungkuk untuk memberi salam. Mata Chanyeol bergulir pada tangan Kyungsoo yang berada di perutnya.

"Apa kandunganmu baik-baik saja?"

Dengan wajah ragu-ragu Kyungsoo menganguk. Matanya yang bulat besar masih tetap menyorotkan sinar sendu penuh kesedihan. Perlahan, bibirnya yang tebal terbuka, namun tertutup lagi seolah ragu menyampaikan apa yang ada di kepalanya.

"Jika kau ingin mengatakan sesuatu. Katakanlah Kyungsoo." Ujar Chanyeol. Meskipun di dalam hatinya ia tidak sabar untuk mengunjungi Baekhyun.

"Ma-maafkan kelancangan hamba Yang Mulia." Suara Kyungsoo bergetar, keraguan terlihat jelas darinya. " Namun hamba saat ini berniat untuk menyampaikan jawaban hamba atas tawaran Yang Mulia."

Chanyeol terdiam. Teringat atas penawarannya kepada Kyungsoo tempo lalu.

"Tentu, apa jawabanmu Kyungsoo?"

Kyungsoo menutup matanya, memberikan keberanian dalam hati. "Ha-hamba akan menerima tawaran Yang Mulia, jika−" dan Kyungsoo menjeda kalimatnya sebentar sebelum kemudian melanjutkannya.

Hujan di Exordium pada hari itu pun semakin deras.


Baekhyun mengernyit dalam tidurnya saat bau akar obat yang kuat masuk ke penciumannya. Perlahan raja Persei itu membuka kedua matanya, memandang ruangan agak gelap yang penuh dengan tanaman obat.

Ia merasa familiar.

Ini adalah ruang pengobatan milik tabib istana. Sangho.

Baekhyun memegang kepalanya yang pusing seraya mencoba bangkit dari tidur. Perutnya sangat mual meskipun sudah agak membaik dibandingkan sebelum ia pingsan.

Beberapa saat kemudian, bola mata Baekhyun bergulir pada jendela di ruangan itu, menyadari suara berisik yang dari tadi dia dengar. Ternyata di luar hujan lebat, dan hari masih cukup terang sampai Baekhyun dapat menyimpulkan saat ni masih sore hari.

KRIEETT.

Baekhyun menolehkan kepalanya dan mendapati Sangho berada di depan pintu. Bajunya sedikit basah karena titik hujan dan wajahnya tampak khawatir.

Saat tabib bernama Sangho itu melihat Baekhyun, ia berjalan tergopoh-gopoh pada pemuda mungil itu. Dan langsung bersujud. Membuat Baekhyun hanya berkedip kedip bingung.

"Tuanku. Maafkan kecorobohan hamba yang membuat engkau mengalami semua ini."

Baekhyun terdiam bungkam, merasakan perasaan kurang nyaman saat atmosfer udara di ruangan itu kian tegang, " a-apa yang terjadi? Apa yang membuatmu merasa bersalah hingga sujud seperti itu."

Sangho mengangkat wajahnya dari lantai, memandang Baekhyun dengan pandangan sendu. Tubuh ringkih pria tua itu bangkit, terseok pelan ke arah Baekhyun, mengengam tangan kanannya. Sangho terdiam sebentar, ibu jarinya bergerak di pergelangan tangan Baekhyun untuk merasakan nadinya.

"Tuanku−" Sangho membuka mulutnya, suaranya parau dan tubuhnya tampak tegang. "Ka-kau sedang mengandung."

"Ap-apa?" Baekhyun mengenyit, ia tidak paham dan tidak mengerti. Apa Sangho sedang mempermainkannya?! " Jangan bercanda!" ujar Baekhyun sambil menarik tangannya dari gengaman Sangho.

Tidak mungkin!

"Apa yang kau katakan Sangho!?" Suara Baekhyun meninggi, ia tidak ingin dipermainkan.

Sangho menggeleng, " ini menjelaskan semuanya Tuanku. Rasa pusing dan kelelahan, mual-mual, juga−ketidaksadaranmu ini. Engkau sedang mengandung seorang anak, Tuanku."

"JANGAN BERCANDA!" Baekhyun terengah, matanya panas dan dadanya kian sakit. Apa yang lelaki tua ini katakan!? Tidak. Tidak. Dia tidak mungkin mengandung. Dia laki-laki.

"Me-meskipun setiap hari Yang Mulia menyetubuhiku. Kau sungguh lancang dengan menyamakan ku dengan wanita. Laki-laki tidak dapat mengandung! Itu adalah kemampuan istimewa yang hanya dimiliki oleh wanita! " Baekhyun berdiri dari tempat tidurnya, ia sungguh ingin menampar Sangho atas candaanya.

Sangho mengeleng, wajahnya terangkat mantap untuk memandang Baekhyun lagi. " Saya tidak bercanda tuanku. Terdapat sebuah kacang yang dapat membuat seorang laki-laki mengandung."

Dan Baekhyun terdiam. Napasnya terhembus pendek-pendek menandakan dia sangat panik. Di dalam pikirannya terputar segala kejadian mengenai dirinya dan Chanyeol. "T-tidak mungkin!−" Baekhyun tercekat teringat akan Kyungsoo yang juga sedang mengandung, bulir-bulir air mata jatuh perlahan-lahan.

Ini tidak mungkin.

Dia tidak mungkin mengandng seorang anak.

Terlebih, dari seorang penjajah yang menyakiti rakyatnya sendiri.

"Ini tidak mungkin Sangho." Mulut Baekhyun mengatup rapat, berusaha menahan tangisnya, tangannya terulur dan memukul perutnya sendiri. Dan bibir raja Persei itu terus menyuarakan kata 'tidak mungkin'.

Sangho meringgis, tidak menyangka bahwa reaksi Baekhyun akan separah ini.

"Oh, tuanku." Sangho kembali bersujud, " kumohon jagalah sikap anda. Janganlah sakiti bayi itu karena dia adalah milik 'Yang Mulia'!"

Tangisan Baekhyun mengeras. Ia ingin mati saja. Sudah cukup dengan memberikan tubuhnya pada Chanyeol, dan sekarang ia harus mengandung anaknya. Sungguh sebuah penghinaan. Baekhyun tidak dapat berkata-kata mendengarnya. Ini terlalu menyakitkan untuknya.

Dialah penghianat yang sesungguhnya untuk Persei.

Dan tiba-tiba terbesit sebuah pemikiran di benak Baekhyun.

Apakah Chanyeol dengan sengaja membuatnya hamil? Karena itulah dia berusaha keras untuk menghentikan Baekhyun menjadi seorang jenderal.

BEDEBAH ITU!

Baekhyun mengigit bibirnya, tangannya mengambil sebilah pedang dari atas nakas. Berjalan cepat menuju pintu, giginya bergemeletuk satu sama lain, dan wajahnya memerah.

"Tuanku−kemanakah engkau akan pergi?"

Baekhyun terdiam, tangannya memegang kenop pintu dan membukanya. "Untuk memberi pelajaran pada rajamu itu!" dan pemuda mungil itu pun menerobos hujan deras.

.


.

Chanyeol mendekap erat-erat sosok yang terdiam di dalam pelukannya. Tangan raja Exordium itu perlahan naik untuk mengelus surai hitam milik Kyungsoo, yang masih terisak.

Kyungsoo terdiam akan kenyamanan dekapan dari rajanya, bulir-bulir air mata sedikit demi sedikit meluncur melewati pipinya, " Yang Mulia−a-akankah pilihanku adalah yang terbaik? Meskipun semua ini adalah pilihan Hamba, hamba tetap merasa ragu."

Chanyeol terdiam, sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh yang sama mungilnya dengan Baekhyun. " Semua ini adalah pilihanmu, aku akan menjamin kau dan bayimu agar tetap baik-baik saja. Janganlah risau."

Kyungsoo menganguk diam-diam, dan Chanyeol melepaskan pelukannya. Mengusap surai Kyungsoo lagi untuk menenangkan pasangan sahabatnya itu.

"Maafkan hamba yang telah bersikap lancang kepadamu Yang Mulia." Suara Kyungsoo terdengar sayup-sayup diantara derasnya suara hujan.

Chanyeol terkekeh, raja Exordium itu menggelengkan kepalanya lembut. Dan tanpa ia sadari matanya menangkap sosok yang berdiri di antara hujan.

"Baekhyun!" Chanyeol terlonjak kaget saat menemukan pemuda mungil tersebut berdiri di tengah hujan. Wajahnya memerah, keseluruhan penampilannya terlihat sangat kacau. Di tangannya terselip sebilah pedang.

"Yang Mulia!" seluruh prajurit dan pelayan sang raja maju ke depan, melindungi Chanyeol karena mereka merasakan tanda bahaya dari Baekhyun.

Chanyeol mengeleng, tangannya menyingkirkan prajurit-prajuritnya agar membuka jalan. "Biarkan!" ujarnya tegas. Mata Chanyeol masih tetap memandang Baekhyun, ia tidak bergerak dan tetap berdiri di bawah guyuran hujan.

"YANG MULIA!" Prajurit dan pelayannya memanggil panik saat Chanyeol melangkahkan kakinya untuk mendatangi Baekhyun. Raja Exordium itu bergidik merasakan angin kencang dan dinginnya air hujan.

Apa yang Baekhyun lakukan di tengah hujan badai seperti ini?!

Chanyeol berhenti tepat di depan Baekhyun, terdiam dan menunggu perkataan dari pemuda mungil di depannya ini. Hati Chanyeol mencelos sedikit saat menyadari tubuh Baekhyun yang bergetar kedinginan, matanya tampak redup,dan tubuhnya terlihat sangat ringkih.

Chanyeol tidak berkata apapun, raja Exordium itu perlahan-lahan melepaskan jubahnya yang besar dan berat itu, lalu menyampirkannya pada Baekhyun. " Kau bisa sakit−"

PLAKK!

"LEPASKAN AKU!" Baekhyun memekik, ia menepis tangan Chanyeol yang ingin memberikan jubahnya. Raja Exordium itu termundur selangkah dan membuat mahkota di pucuk kepalanya terjatuh di tanah. Mata Chanyeol membulat lebar saat tiba-tiba saja pedang yang digengam Baekhyun sudah begitu dekat dengan lehernya.

"LINDUNGI RAJA!" Chanyeol tidak dapat berpikir, yang didengarnya adalah suara teriakan prajurit dan suara hujan. Matanya hanya terfokus pada satu hal. Baekhyun.

Apa yang terjadinya dengannya?

Di depannya, Chanyeol tahu bahwa Baekhyun menangis. Air matanya tertutup hujan, tapi hal itu dapat dilihat dengan jelas. Matanya. Mata Baekhyun terlihat sangat menderita seolah-olah tidak ada lagi cahaya di dunia.

"Kau−" suara pemuda mungil itu bergetar , menahan amarah dan kesedihannya. Tangannya mengengam erat pada gangang pedang siap untuk menancapkannya pada leher Chanyeol. "−apa yang kau lakukan padaku?"

Chanyeol terdiam.

"Kenapa?−kenapa kau melakukan semua ini padaku?" Baekhyun menangis tersedu-sedu, merasakan tubuhnya disergap oleh prajurit-prajurit Chanyeol. Tubuhnya dipaksa turun ke bawah dan pedangnya di rebut paksa.

"Mengacungkan pedang kepada Yang Mulia Raja! Menjatuhkan mahkotanya! Bahkan hukuman mati pun tak pantas untukmu!" seorang prajurit berseru, menekan ujung pedangnya yang runcing pada leher Baekhyun.

"Lepaskan dia!" Chanyeol menggeram, suaranya terdengar sangat berbahaya. Namun tak seorang prajuritnya pun menuruti dia. "LEPASKAN DIA!"Chanyeol sekali lagi berseru, suaranya seolah membelah hujan.

Dengan berhati-hati dan tetap waspada, prajurit Chanyeol pun menurunkan pedang mereka.

"Tidak. Kumohon." Suara Baekhyun terdengar, " silahkan bunuh diriku. Kematian sungguh sebuah anugerah bagiku."

Chanyeol mengigit bibir, " APA YANG KAU BICARAKAN!? JIKA KAU MATI, SIAPAKAH YANG AKAN MELINDUNGI RAKYATMU!"

Baekhyun terdiam sambil mengigit bibirnya, ia tidak mau mati, tapi untuknya−kematian adalah jalan tercepat agar semuanya baik-baik saja. Agar−ia tidak dapat merasakan penderitaan ini lagi.

Chanyeol berdecak, dan tanpa pikir panjang mendekap pemuda mungil itu di dalam pelukannya. Mengangkatnya tinggi.

"Tidak lepaskan aku!" Baekhyun memberontak, air matanya mengalir deras dan hatinya seolah remuk. Namun Chanyeol tak mengindahkan teriakan dan pekikan Baekhyun. Raja Exordium itu berjalan cepat menuju ruangan pribadinya.

Yang ia pikirkan adalah bahwa Baekhyun harus baik-baik saja.

.

.

.

BRUKKK!

Chanyeol melepaskan dekapannya pada Baekhyun dan membiarkan pemuda mungil itu terjatuh di ranjang besarnya, tak peduli akan keadaan mereka berdua yang basah kuyup. Pemuda mungil itu sudah tidak memberontak, namun ia masih tetap menangis tersedu-sedu dan matanya seolah ia sudah tidak bernyawa lagi.

"Kenapa−kenapa kau melakukan ini kepadaku?" kalimat Baekhyun terputar berulang-ulang seperti sebuah musik rusak.

"Apa yang kau maksudkan?" Jemari Chanyeol mengusap poni basah Baekhyun yang menutup wajah manisnya

Baekhyun memandang perabotan yang ada di kamas Chanyeol dengan asal, tak mampu memandang wajah lelaki di atasnya. " Bagaimana kau dapat tidak megetahuinya? semuanya adalah hasil dari perbuatanmu?"

"Apa ini karena ujian pemilihan jenderal itu?"

Baekhyun mendesis murka. Bisa-bisanya Chanyeol tidak menyadari apa yang telah dia perbuat. "Mengapa harus diriku Yang Mulia? Mengaa?! Aku adalah seorang laki-laki. Kau−kau mempunyai ratusan selir yang dapat kau gunakan!"

Chanyeol terdiam, raja Exordium itu mencoba mencerna maksud akan kata-kata Baekhyun. Tapi ia tidak berhasil. Ia tidak mengerti. "Apa maksudmu Baekhyun?!" Chanyeol kembali bertanya, suaranya ia lembutkan agar membuat Baekhyun tak memberontak.

Dan sebelum Baekhyun membuka mulutnya kembali pintu kamar Pribadi Chanyeol terbuka. Sekitar sepuluh atau lebih dayang masuk ke dalam kamar. "Yang Mulia−hamba mohon kepada Yang Mulia agar berkenan membasuh dirinya. Agar Yang Mulia tidak terkena penyakit."

Chanyeol mengernyit, merasa tergangu dengan kedatangan dayang-dayang itu. Ia masih belum mendengar kata-kata dari Baekhyun.

"Pergilah." Baekyun menyahut, suaranya terdengar memohon, " pergilah Yang Mulia. Jangan merendahkan harga dirimu dengan mendengarkan kata-kataku Yang Hina ini." Bulir air mata kembali jatuh dari kelopak mata Baekhyun, ia kembali terisak, tidak mampu menerima kenyataan bahwa di dalam tubuhnya bersemayam sesosok kehidupan yang berasal dari seorang musuh besar. Penjajah dari rakyat-rakyatnya. "Pergilah, dan biarkan aku sendiri. Mohon abaikan seluruh kelancanganku."

Chanyeol mengigit bibirnya, menelusuri setiap inci demi inci wajah pemuda mungil di depannya. Dan yang ia temukan hanyalah raut keputusasaan. Chanyeol beranjak bangkit dari atas tubuh Baekhyun, berjalan pergi dari ruangan itu.

Benar. Ia harus memberi waktu kepada Baekhyun.

"Panggilkan dayang yang lain untuk membersihkan tubuh Baekhyun!" perintah Chanyeol sebelum menghilang di balik pintu besar kamarnya.

.

.

.

Baekhyun berjalan sangat pelan mengikuti dayang-dayang yang akan memandikannya. Manik Baekhyun pun tanpa sengaja memandang ke arah langit. Memandang hamparan biru indah yang muncul setelah turunnya hujan.

Membangkitkan rasa penuh kerinduan Baekhyun pada kampung halamannya.

Raja Persei itu merindukan rakyatnya. Sedikit penyesalan menyusup saat dia mengingat tawaran Mingyu. Sekarang dia gagal menjadi seorang jenderal, terjebak di istana, dengan sebuah kehidupan lain yang tidak diinginkannya.

Ia ingin bebas.

Meski hanya sekejab mata.

Sebuah mimpi yang tidak sanggup ia pikirkan.

BUK! Baekhyun memukul bagian leher dayang yang mengelilinginya., gerakannya cepat dan rapi. Perempuan-perempuan itu jatuh pingsan dalam sekejab. Baekhyun berlari pergi, merasakan jemari kakinya menapaki tanah berair. Dalam pikirannya, wajah panik dan kecewa Chanyeol muncul.

Namun ia tidak peduli.

Baekhyun merindukan sebuah kebebasan.

Sebentar saja.

.

.

.

"YANG MULIA!" Seorang prajurit berlari-lari melewati pintu dari ruang ganti Chanyeol.

Chanyeol yang sedang dipakaikan baju oleh pelayan memandang prajuritnya itu dengan pandangan penasaran. Apa ini berhubungan dengan Baekhyun? Sebab ia merasakan perasaan tidak enak sepanjang waktu.

"Tu-tuan Baekhyun memukul seluruh dayang-dayangnya dan kabur keluar istana!"

Mata Chanyeol melotot, "APA?!" Teriaknya murka. Raja Exordium itu menyingkirkan pelayan yang masih berusaha mengancingkan kemejanya. Chanyeol keluar dari ruang gantinya, tak peduli dengan penampilannya yang berantakan−toh dia masih tetap terlihat tampan.

"Segera kirimkan 50 orang prajurit untuk mencari Baekhyun di seisi istana! Dia pasti masih berada di kawasan istana saat ini!" Perintahnya. Ketakutan menyusup di benak Chanyeol saat ia mengingat laporan pelayannya yang mengatakan bahwa saudaranya Kris terlihat di kota.

"Ta-tapi−beberapa saat lalu gerobak besar yang mengirim bahan makan ke istana keluar ke kota. Tuan Baekhyun pastilah menyusup di antara gerobak-gerobak itu."

Chanyeol mengepalkan kepalan tangannya. Ia menggeram. Ingin membunuh seluruh orang di istana itu. Jika saja dayang-dayang itu tidak membuatnya membersihkan diri, mungkin saja Baekhyun akan tetap berada di istana tanpa membuat masalah!

Tak berapa lama, Chanyeol mengernyit saat prajuritnya membawa Sangho−tabib istana. Saat Sangho berada di depannya, tabib itu segera menjatuhkan tubuhnya di lantai, bersujud dalam-dalam kepada Chanyeol.

"Yang Mulia. Hamba pantas untuk mendapatkan kematian!" Sangho terisak.

Chanyeol memandang Sangho dengan khawatir, " apa yang terjadi?"

Lelaki tua yang menjabat sebagai tabib istana itu menelan ludahnya dengan payah. " Tu-tuan Baekhyun, sungguh tertekan akan kehamilannya."

Napas Chanyeol tertahan di tenggorokannya, dan jantungnya seolah akan meledak. "A-apa?" Dengan langkah terseok dan kepala kosong Chanyeol berjalan ke arah Sangho.

Sangho meringgis, "Be-benar. Tuan Baekhyun sedang membawa sebuah kehidupan di dalam tubuhnya."

Chanyeol terdiam, mulutnya tak tak mampu merapalkan kata-kata apapun. Seluruh otaknya memutar kejadian Baekhyun beberapa saat lalu. Jadi inikah alasannya?

"Sudah berapa lama?" Chanyeol bertanya, suaranya terdengar mengerikan di antara senyapnya ruangan itu.

"Su-sudah satu bulan lamanya." Jawab Sangho seluruh tubuhnya bergetar. Terutama saat suara sepatu Chanyeol yang mengetuk lantai saat Raja Exordium itu mendatangi dirinya.

"A-apakah anak itu adalah milikku?" Chanyeol bertanya sekali lagi, suaranya begitu berbahaya.

Sangho terisak, ia menundukan kepalanya dalam-dalam penuh dengan penyesalan, " jika tuan Baekhyun tak berhubungan dengan laki-laki lain. Maka pastilah anak itu milik-mu tuan."

Chanyeol menggeram, dengan cepat tangannya menari pedang dari pinggang salah satu prajuritnya dan mengacungkannya pada Sangho. " Bagaimana kau bisa mengetahuinya sekarang?!"

Pria tua itu menggeleng, tubuhnya bergetar hebat saat merasakan dinginnya besi tajam di lehernya. "Hamba tak tahu Yang Mulia. Hamba sungguh tak tahu. Hamba tak pernah mengira bahwa tuan Baekhyun saat ini sedang mengandung!Jika saja−jika saja hamba melakukan sesuatu saat tuan Baekhyun mengeluhkan penyakitnya−"

"KAU!" Chanyeol berteriak murka, hampir saja ia kalap menusukan pedang di tangannya. "Karena kecerobohanmu, Baekhyun harus menghadap segala beban yang ada, apa bisa kau bayangkan jika saja ia lulus pada ujian pencarian Jenderal!?"

"Hamba mohon ampun. Hamba pantas untuk mati!"

Chanyeol mengigit bibirnya, PRAAKK!−tangannya melempar pedang yang dipegangnya. Ia berbalik, dan membiarkan Sangho untuk tetap bernapas, " Jika Baekhyun dan bayi yang dikandungnya terluka. Maka nyawa dirimu dan seluruh keluargamu akan melayang!" ujar Chanyeol tegas.

Ia berjalan tegap sambil memanggil prajurit-prajuritnya, " ambilkan kudaku! Dan kerahkan 150 prajurit untuk mencari Baekhyun! Ia harus ditemukan sebelum terjadi sesuatu yang berbahaya padanya!"

.

.


.

.

Baekhyun melambatkan larinya sebentar. Ia menghembuskan napasnya pendek-pendek karena kelelahan. Baekhyun telah sampai di sisi lain di kota Mama, ibukota Exordium. Masyarakat mulai melakukan aktivitasnya kembali setelah hujan lebat.

Baekhyun menarik langkahnya dengan agak terseok, masuk ke dalam gang kecil dan mengistirahatkan tubuhnya. kakinya mati rasa karena ia berlari sangat jauh tanpa menggunakan alas kaki. Raja Persei itu memandang kaki-nya yang lecet di seluruh sisi. Tapi ia tidak peduli. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan hatinya.

Baekhyun kembali terisak, tangan lentiknya jatuh ke perutnya, memukulnya dengan daya lemah. Sedikitpun, Baekhyun masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia mengandung seorang anak di tubuhnya.

"Kenapa−" Baekhyun kembali bertanya, " Mengapa harus diriku?"

Ratapan Baekhyun berhenti seketika saat mendengar sayup-sayup suara. Baekhyun berdiri, instingnya merasakan tanda bahaya. Dan saat dia menyadari, gerombolan laki-laki bertubuh tambun dengan wajah mengerikan muncul dari sisi gang yang lain.

Baekhyun bangkit dari duduknya segera. Berusaha keluar dari gang itu. Namun pergerakannya terhenti saat bahunya dicekram kuat oleh sebuah tangan.

"Wow. Wow. Mau ke mana kau, manis?"

Baekhyun mengeraskan rahangnya waspada, pemuda mungil itu mengepalkan tangannya. Ia menimbang dalam hatinya. Terdapat 6 orang laki-laki dan semuanya bertubuh besar, dan Baekhyun saat ini tidak bersenjata. Baekhyun bisa saja merobohkan 2-3 orang di antara mereka dan mencari celah untuk kabur.

Tapi−

Sanggupkah tubuhnya? Jika ia melawan, tidak ada jaminan bahwa ia tidak akan terluka. Dan saat ini, seorang bayi sedang tumbuh di tubuhnya meminta sebuah perlindungan.

Baekhyun mengigit bibirnya, tanpa ia sadari, tangannya turun ke perutnya. Memastikan bayinya aman. Ya, meskipun sedikit, Baekhyun tetap memiliki jiwa keibuan.

"Lepaskan aku!" Baekhyun memerintah dengan suara tegas, ia mengyingkirkan tangan salah satu pria itu.

"Kau−sungguh galak manis." Pemuda yang lain memukul pantat Baekhyun, lalu mengangkat rahang pemuda mungil itu. Baekhyun menggeram, siap melepaskan tinju saat itu juga.

"Dia cantik! " salah seorang membuka suaranya. "Dari pakaiannya, dia sepertinya orang kaya!" Yang lain menyahut.

Pemuda di depan Baekhyun itu terkekeh, " BENAR! Kita bisa menjualnya! Pemuda ini pasti akan laku keras di pasar budak!"

BUAKK!

"UGHHH!" Seluruh pemuda itu terhenyak saat Baekhyun memukul wajah seorang pemuda dan membuatnya terhuyung ke belakang. Mereka berteriak murka, dan menahan tubuh Baekhyun.

"LEPASKAN AKU!" Baekhyun meronta, merasakan kedua tangannya ditahan dan seorang pemuda bersiap-siap akan memukul bagian depan tubuhnya. Ini gawat! BAYINYA! BAYINYA DALAM BAHAYA! Baekhyun terhenyak, ia tak mampu berpikir ia pikirkan hanyalah keselamatan bayinya.

BUAK! DUAK!

Dan Baekhyun menahan napasnya saat matanya tiba-tiba saja menangkap bahwa pemuda tambun yang ingin memukulnya itu telah terjatuh di tanah.

BUAKK! DUAK! Baekhyun membelalakan matanya tak percaya saat sebuah sosok menarik lengannya dan melepaskannya dari cengkraman dua orang pemuda tambun itu. Sosok itu kuat dan cepat. Setelah membawa Baekhyun di sisi gang yang aman, ia dengan tangkas menghabisi sisa pemuda yang lain.

Dan keenam pemuda tambun itu terkapar di tanah dalam keadaan tak sadarkan dirinya. Dalam waktu kurang dari dua menit.

Baekhyun terdiam kaku. Sosok itu berbalik dan mendatanginya. Mendorongnya pada dinding gang dan memerangkap tubuhnya di situ. Tubuhnya sangat tinggi dan wajahnya tak terlihat karena ia memakai jubah panjang dan pencahayaan gang yang remang-remang.

Di antara bau anyir darah yang bercampur dengan air sehabis hujan, sosok itu membuka tudungnya.

Rambutnya yang pirang berjatuhan di depan wajahnya.

Dan Baekhyun terhenyak.

"K-Kris!?"

.

.

.

To Be Continued.


A/N: YUHUUUUUU! AKHIRNYA! AKHIRNYA CHAPTER 10 BROJOL JUGA! ASYIK! Akhirnya−setelah sekian lama KINGS update juga(hampir dua bulan sejak update terakhir). HOORAAYYY! Terharu banget sama reader-reader sekalian yang masih menunggu cerita ini. Terutama dengan kakak, Restika Dena yang kayak orang kebakaran jenggot minta update. Dan dedek Myungie yang selalu kasih semangat! Makasih! Makasih banyak!

Maaf ya kalau ada typo atau kesalahan dalam chapter ini, ngak diedit soalnya. Dan untuk para reader baru, Welcome. Terima kasih sudah meninggalkan jejak ya.

Untunglah, writer/story block yang author alami kemarin sudah sembuh. Jadi sekarang ide KINGS lancer cer cer lagi. Tapi minggu depan author UTS, jadi chapter selanjutnya ngak akan keluar dalam hitungan 1 minggu, mianhae~ #semogacepatupdate

Sekarang saatnya membalas pertanyaan dari pembaca:

1. (Pertanyaan dari hampir semua reader) Baekhyun hamil kan? Iya kan? Iya dong~?

–Benar, Baekhyun hamil. Dan bisa dipastikan kalau mami belum bisa menerima kenyataan itu dengan baik.

2. Chanbaek kapan resmi?

– Masih lama sayangku.

3. Kyungsoo nerima tawaran ceye ngak?

JENGG−JENGGG−JENGGG~ #insertingdramaticbackgroundsound

4. Kalau Chanyeol suka memperluas wilayah dan menjajah kerajaan lain terus ngikutin tradisi (baca prolog), itu artinya Chanyeol suka ngeraep raja-raja lain dong?!

–Syukurlah ngak! #Fyiuhhh Soalnya author juga ngak rela Chanyeol ena-ena dengan orang lain selain Baekhyun. Lagian juga aggap aja raja lain itu bapak-bapak tua berbulu, jadi kayaknya langsung dibunuh sama Ceye #buset. Kalau Baek kan beda, bohay, seksi, cantik menggoda gitu, siapa coba yang ngak nafsong?

Yap, sekian pertanyaan dari pembaca-pembaca sekalian.

Terakhir aku tentu saja berterima kasih kepada para reader sekalian, yang muncul maupun yang tidak muncul. Atas kesediaannya membaca ffku yang sederhana ini. Juga terima kasih banyak pada yang telah meninggalkan review, like, follow. Love u guys~

See You Next Time~