Disclaimer : I do not own Akatsuki no Yona, but Hakuya and Yohime my Own.


.

Chapter 11 – Port Cage

.


Setelah menelusuri jejak keberadaan Ryokuryuu, akhirnya mereka sampai ke kota pelabuhan Awa yang ada di wilayah suku bumi. Ketika mereka ingin pergi ke kota, Yun melarang mereka semua. Tentu saja, karena mereka semua mencolok. Putri berambut merah. Putri berambut pink keunguan. Tangan abnormal dan rambut perak. Terutama topeng berbulu yang mencurigakan.

"kalau begitu, aku akan pergi, aku juga ingat sebagian besar jalan di kota".

"Haku, aku juga mau ikut" pinta Yohime dan Yona.

"adiknya tidak boleh ikut, jadi kakaknya juga tak boleh ikut" sahut Haku setelah ia menyuruh Yona istirahat.

"hm... tak masalah, selagi kau pergi mungkin aku bisa terjun dari sini dan menyelam di laut".

"tunggu, memangnya kau sudah lihai berenang?".

"entahlah, karena itu aku ingin terjun ke laut dan menyelam untuk mencobanya..." ujar Yohime yang mencari titik yang bisa ia jadikan sebagai tempat untuk melompat ke laut.

"tahan?! setelah Ryokuryuu ketemu, akan kutemani kau berenang, tapi tahan dulu keinginanmu untuk menceburkan diri ke laut?!" pinta Haku menahan Yohime dan memegang kedua bahu Yohime dari belakang.

Yohime tersenyum dan menyodorkan jari kelingkingnya "janji, ya?".

"dasar... apa boleh buat..." ujar Haku menghela napas dan tertawa kecil, lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Yohime.

Setelah menyerahkan Tsu Quan Dao pada Yun, Haku melirik ke arah Kija "lalu, ular putih...".

"kau tak perlu mengatakan apapun?!" ujar Kija menarik Shina dan berdiri di belakang Yohime dan Yona dengan ekspresi seolah berkata "kami akan menjaga Hime-sama?!".

Selagi memotong sayur sebagai bahan makan malam yang tersisa untuk hari ini, Yun bertanya pada Yohime yang membantunya "kau makin dekat dengan Raijuu akhir-akhir ini, atau kalian memang sedekat itu?".

"eh? apa iya? menurutku sama saja dengan sebelumnya, Yun" ujar Yohime tersenyum.

Tiba-tiba, Yohime merasa kepalanya sakit, ia seperti melihat sebuah pemandangan dari suatu tempat yang masuk tiba-tiba ke dalam kepalanya.

.

Terlihat seorang wanita yang ditarik paksa oleh pria berseragam, sepertinya petugas, berteriak meminta tolong sambil menangis.

Detik berikutnya, salah satu petugas itu dipukul oleh dua orang.

Yang satu dikenali Yohime sebagai Haku.

Yang satu lagi pria bertubuh tinggi semampai, kira-kira tingginya setara Haku, dia memiliki mata ungu dan rambut hijau lurus yang panjang, diikat dengan pita.

Terlihat keduanya kabur bersama wanita itu dari kejaran petugas lainnya.

Pria yang menendang petugas dan lari bersama Haku untuk menolong gadis itu menyerahkan urusan gadis itu pada Haku dan menghilang.

Haku heran melihat pria itu tiba-tiba hilang, tapi Yohime sempat melihat pria itu melompat ke atap rumah.

Pria itu mampu melompat sangat tinggi melewati atap rumah menuju sebuah kapal bajak laut seolah terbang di udara.

"siapa kau? apa mungkin...".

.

Yona memegangi kedua pipi Yohime, menatapnya dengan wajah cemas "kakak?!".

"...Yona? lho, aku..." ujar Yohime memegangi kepalanya, sejak kapan ia tidak sadarkan diri?

"darah rendahmu kumat lagi? kau mimpi buruk? tadi kau mengigau, makanya kubangunkan..." tanya Yona cemas.

"tenanglah, Yona... jangan langsung mengerubunginya dengan pertanyaan begitu, dia bingung, kan?" ujar Yun mengambil air minum yang disodorkan Shina "terima kasih, Shina".

"jangan langsung bangun, tadi kau pingsan tiba-tiba saat sedang membantu Yun memasak..." ujar Haku menahan tubuh Yohime.

Yohime mendongak dengan mata terbelalak "kau sudah kembali? eh? sudah malam?!".

Saat Yohime minta maaf padanya, Yun menepuk dahi Yohime "sudah, istirahat sana... lain kali harusnya kau bilang kalau memang sedang tak sehat... dasar, di saat seperti ini, Raijuu malah kembali tanpa membeli apapun".

"maaf, soalnya aku tak menemukan toko yang bagus".

"sudahlah, intinya besok kita akan ke kota".

"jangan bilang... ah, tapi baru bisa kubuktikan besok" pikir Yohime.


Keesokan harinya, sesuai dugaan Yohime, Haku memilih memisahkan diri dari mereka.

"tunggu, kau sudah janji mau mengajakku semalam, kan?" ujar Yohime menarik lengan Haku dan berbisik "atau mau kubocorkan keributan macam apa yang kau lakukan kemarin di kota terhadap beberapa petugas bersama orang yang tak sengaja kau temui di jalan, Haku?".

"eh? apa benar, Haku?" tanya Yona dengan nada agak kecewa karena ia juga ingin ikut pergi ke kota.

"seperti katanya, tolong bantu aku memilih bahan-bahannya nanti, Yohime-sama..." ujar Haku menarik tangan Yohime.

"pastikan kalian membeli beberapa bahan, ya?!" teriak Yun dari kejauhan yang dibalas dengan lambaian tangan Haku dan Yohime.

.

"mereka berdua bertingkah aneh, ya" gumam Yun.

Mata Yona membulat mendengar ucapan Yun "hah?".

"aku merasa mereka berdua menyembunyikan sesuatu... maksudku, Raijuu pengawalmu dan selalu ada di sisimu, Yohime sebagai kakakmu yang overprotektif juga biasa berada di sisimu, paling tidak saat salah satu dari mereka berdua pergi, harus ada salah satu dari mereka berdua yang ada di dekatmu tapi kini keduanya malah tiba-tiba ingin melakukan sesuatu bersama dan pergi dari sisimu".

"itu tandanya mereka berdua percaya pada kalian" ujar Yona.

"be-benarkah?" ujar Kija senang.

"bukan itu?! bisa dibilang mereka berdua itu tipe mandiri yang tidak suka bergantung pada orang lain dan selalu melakukan sesuatu seorang diri, tiba-tiba keduanya malah lengket... apa mungkin mereka berdua diam-diam sudah menjalin hubungan dan berkencan?" ujar Yun yang mengangkat jari telunjuknya.

"eh?! itu tidak mungkin?!" pekik Yona.

"kenapa tidak mungkin?" tanya Yun dan Kija bersamaan, curiga melihat reaksi Yona.

Yona tersentak, mendadak merutuki dirinya sendiri, tidak ia mungkin menceritakan semuanya, kan? bahwa kakaknya baru saja ditinggal mati tunangannya dan tunangannya adalah pengawal juga kakak kembar Haku. Wajar jika mereka akrab dengan Haku dan Hakuya karena mereka sahabat sejak kecil, t-e-t-a-p-i yang dicintai Yohime sebagai cinta pertamanya adalah Hakuya, sedangkan Haku yang saudara kembar identik Hakuya (wajar saja mirip 99% diluar perbedaan fisik dan sifat) selalu diperlakukan Yohime sama seperti Yona, sudah seperti adiknya sendiri, ia tahu kakaknya masih sangat mencintai Hakuya dan sangat kehilangan Hakuya, karena itu tidak mungkin kakaknya bisa berkencan dengan pria lain terlebih pria itu adalah adik kembar tunangannya, pria yang sangat ia cintai sampai ia rela mati menyusulnya. Meski tak menutup kemungkinan itu bisa terjadi mengingat Haku sangat mirip dengan Hakuya, tetap saja ini masih terlalu cepat.

Tapi Yona tahu betul, wanita dengan harga diri tinggi seperti kakaknya bukan tipe wanita yang suka dikasihani oleh orang lain, sama halnya dengan Haku. Apalagi Yohime dan Haku bukan tipe orang yang suka mengungkit atau membicarakan masa lalu terlebih jika itu masalah pribadi mereka apalagi mengumbarnya pada orang lain.

Untuk menghindari kecurigaan teman-temannya, Yona tertawa kecil dan mengayunkan tangan "yah, kau tahu... kami bertiga sahabat sejak kecil, aku tentu tahu kalau tipe kak Yohime itu tipe pria dewasa yang lembut, baik hati serta pandai memperlakukan wanita sedangkan Haku bukan tipe seperti itu, kan? bahkan Haku selalu diperlakukan sebagai adik oleh kak Yohime, makanya kubilang itu tak mungkin... memang, kami tak pernah melihat Haku tertarik pada wanita di sekitarnya, jadi kami tak tahu wanita seperti apa yang akan ia kencani...".

"bukannya Haku lebih tua dari anda dan Yohime-sama?".

"jadi harusnya kakak, kan?" gumam Yun berpikir sejenak "tapi yah, benar juga... dengan sifat Yohime yang seperti itu, malah lebih pas jika Yohime yang jadi kakak ketimbang Raijuu".

.

"HATSYU?!".

"masuk angin, Haku?".

"tidak... mungkin ada yang sedang membicarakanku...".

"lebih tepatnya kita, telingaku juga gatal... pasti mereka...".

"karena tak biasanya kita jalan berdua, kan? terus apalagi yang harus dibeli?" tanya Haku yang disuruh membawa barang belanjaan, tangan kanannya menenteng tas kainnya sementara bahan makanan untuk makan malam berupa sayur dan ikan sudah ada di tangan kirinya.

"kurasa sudah cukup, tapi sepertinya terlalu cepat jika kita kembali sekarang... bagaimana jika kita pergi ke toko senjata untuk melihat-lihat dulu?".

"ide bagus" ujar Haku mengangguk dan teringat "ah, tunggu dulu... kau belum memberitahuku soal tadi, apa yang kau tahu soal apa yang kulakukan kemarin?".

Yohime menceritakan apa yang ia lihat saat ia tak sadarkan diri "kenapa tak jujur saja bahwa kau memukul petugas karena menyelamatkan seorang gadis? Bukan hanya kau saja yang telah menghajar para petugas mengingat masih ada satu lagi yang menendang petugas... kurasa Yun dan yang lain hanya akan 'harap maklum' atas tindakan spontanmu".

"tapi para petugas itu melihat wajahku, berbahaya jika kau terus bersamaku di kota, Yohime-sama... sebaiknya kita kembali sekarang, kita sudah belanja bahan makan malam, kan?".

"nanti dulu, aku masih ingin menemui orang itu".

"siapa?".

"pria yang menghajar petugas bersamamu kemarin, kau masih ingat tampangnya, kan?".

"jangan katakan hal tak lucu seperti kau tertarik padanya".

Yohime berhenti dan menatap Haku dengan ekspresi terluka "...itu benar-benar sangat tak lucu, Haku".

Melihat sorot mata Yohime, Haku menutup mulutnya dan merutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa kata-kata sebodoh itu keluar dari mulutnya? Jika itu Yona, ini hanya akan berakhir dengan candaan atau pertengkaran konyol mereka, tapi tidak dengan gadis di hadapannya yang baru saja kehilangan pria yang ia cintai, luka yang mungkin tak bisa sembuh itu bahkan masih belum kering.

Haku menutupi sebelah wajahnya, tak berani menatap Yohime selama beberapa saat sebelum ia mengarahkan tangan kirinya "eng, Yohime-sama... aku tak...".

"hei, kau... kau yang kemarin, kan?".

Haku menoleh ke belakang, ia melihat Jae Ha berdiri di belakangnya dengan seulas senyum ramah dan pandangan mata berbinar.

"wah, wah, pasti takdir yang sudah mempertemukan kita... apakah kau mau pergi bersama denganku sebentar?".

Sebelum Jae Ha merangkul Haku, Yohime melingkarkan kedua tangannya ke punggung Haku, memeluk Haku dan menyembunyikan wajahnya ke dada Haku, otomatis Jae Ha serta orang-orang di sekitar mereka menatap keduanya curiga. Haku bisa merasakan tangan kecil Yohime mencengkram punggungnya cukup kuat sehingga ia mengira kalau Yohime menangis.

"tung... hei, aku minta maaf, tapi jangan menangis disini... dilihat orang, malu, kan?" ujar Haku gelagapan saat orang-orang di sekitar mereka yang sempat melihat mereka berdua sejak tadi mengira mereka berdua bertengkar yang berakhir dengan Yohime menangis sambil memeluk Haku yang panik bahkan kini menatap mereka dengan tatapan merendahkan.

"hiks...".

Hanya terdengar suara sedu sedan, pertanda seseorang sedang menangis sebagai sahutan dari ucapan Haku barusan.

Haku menepuk dahinya, merasa tambah bersalah, tak seperti kakak kembarnya, ia tak pernah terbiasa menangani wanita yang sedang menangis sampai sekarang sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah melingkarkan kedua tangannya ke punggung Yohime dan menepuk-nepuk kepala Yohime "baik... sejak awal memang aku yang salah... aku minta maaf...".

Jae Ha yang juga salah paham menutupi mulutnya sambil tertawa kecil "wah, padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang bagus, tapi maaf jika aku mengganggu kalian berdua... jadi selama menunggu tangisan wanita itu reda, bisa dengarkan aku sebentar?".

"kau tak lihat aku sedang sibuk mengurus yang satu ini?" gerutu Haku.

Jae Ha tertawa sambil melambaikan tangan "hei, tak baik jika kau bersikap kasar pada wanita apalagi sampai membuat kekasihmu menangis, aku hanya ingin memberimu saran".

"dia bukan kekasihku, aku hanya pengawal..." ujar Haku terhenti.

"tunggu, apa-apaan kalian berdua?!".

Haku terkejut melihat Yona dan Yun muncul dari jalan di samping mereka dengan tatapan tak percaya atas apa yang dilihat (Yona) dan wajah tersipu merah, tak jelas antara marah atau malu (Yun).

"Yun?! Hime-sama?!".

"ah, akhirnya pria itu pergi" ujar Yohime melirik ke belakang Haku (Jae Ha sudah kabur dari tadi).

"kau... tadi pura-pura menangis, ya?!" pekik Haku.

"memangnya siapa yang menangis? harusnya kau berterima kasih padaku, jika tidak kau bisa dibawa ke tempat mesum, tahu" ujar Yohime menepuk dagu Haku dengan jari telunjuknya.

Tak lama setelah Kija bergabung, Yohime menceritakan apa yang ia lihat semalam di dalam mimpinya bahwa Haku diajak oleh Jae Ha ke distrik merah siang-siang begini dan berakhir dengan dipergoki Yun dan Yona. Tentu saja ketiga temannya salah paham dengan berbagai macam reaksi, reaksi Yona hanya berupa pemakluman yang menyebalkan sedang Kija dan Yun tentu saja mencercanya.

"kau lebih suka kubiarkan itu terjadi?" ujar Yohime melipat tangan.

"terima kasih banyak sudah menolongku" ujar Haku menangkupkan kedua tangannya, karena ketimbang reaksi Yun dan Kija, ia lebih tak ingin melihat reaksi Yona.

"sama-sama, sudah seharusnya aku menolong adik laki-lakiku" sahut Yohime mengelus kepala Haku dan tersenyum lebar.

"tolong jangan perlakukan aku seperti anak kecil" protes Haku.

"tapi siapa orang mesum yang berani mengajak Raijuu ke distrik merah siang-siang begini?" tanya Yun menautkan alis.

"anu..." ujar seorang gadis yang tak asing.

"oh, kau yang kemarin?!" ujar Haku dan Yohime bersamaan.

Akhirnya setelah pindah tempat dan menjelaskan apa yang terjadi, tentu saja Yun sempat ingin menyemprot Haku meski akhirnya ia hanya mengomel seperti biasa, ia tak habis pikir kenapa para petugas Awa bahkan berani melakukan hal itu secara terang-terangan di siang hari.

"aku sudah dengar laporan yang ada, tapi tak kusangka separah ini... karena Yan Kum Ji, kan?" ujar Yohime bersandar di dinding sambil melipat tangan.

"benar, kondisi warga disini ibarat dimasukkan dalam kurungan" angguk wanita itu.

Setelah membicarakan tentang Yan Kum Ji, situasi di Awa serta para bajak laut, mereka pulang ke perkemahan mereka, dimana Shina sudah menunggu dengan perut lapar.

"Yohime-sama... kau masih marah, ya..." ujar Haku melihat mangkuk porsi makanannya yang disodorkan oleh Yohime, dimana sumpit ditancapkan tegak lurus di atas nasinya.

"kata siapa? itu perasaanmu saja, Haku..." ujar Yohime tersenyum lebar.

"ini nasi persembahan orang mati, tahu" protes Haku yang tetap menerima makanannya.

"anggap saja aku sedang mempermainkanmu" sahut Yohime tertawa kecil saat menyerahkan porsi makanan di tangannya "ini, Shina".

Shina mengangguk dan mengambil makanan itu, lalu memakannya bersama Ao.

"yah, kuterima sajalah..." ujar Haku mengambil sumpit itu, detik berikutnya ia menjatuhkan sumpitnya karena merasa merinding.

"kenapa?" tanya Yona heran.

"nggak, hanya saja... tiba-tiba rasanya merinding..." jawab Haku.