Bagian 11
Rencana Penyelamatan
" Kalian lihat benda ini?" tanya Naruto sesampainya di kediamannya.
Rumahnya penuh dengan kehadiran teman-teman dekatnya, bukan untuk bertandang, melainkan karena kepanikan yang mencekam.
Benda mungil yang berkelip-kelip milik Naruto membuat semua heran.
" Benda apa itu?" tanya Ino.
" Oh, ini adalah semacam alat pendeteksi. Tepatnya seperti GPS. Ia terhubung dengan alat utama." kata Shikamaru.
" Tapi, apa hubungannya?" tanya Tenten.
" Kalian tahu? Saat aku membawa Hinata ke rumahku, aku sempat menyematkannya." kata Naruto.
Semua melongo, benda apa yang disematkan dan kapan?
( Malam saat Naruto menculik Hinata )
" Kau masih mencintaiku, begitu?" kata Naruto. Membuat Hinata mengangguk pelan.
" Kau benar-benar mencintaiku, tapi kau malah menikah dengan orang lain?" kata Naruto.
" Maafkan aku." kata Hinata.
Naruto menghela nafas.
" Mungkin sudah saatnya aku merelakanmu." kata Naruto.
Hinata hanya menangis tanpa mengeluarkan suara.
" Kalau begitu, maka terimalah permintaan terakhirku." kata Naruto.
Hinata perih. Pelan ia mengangguk.
" Sematkan ini padamu, terutama saat pernikahanmu nanti." kata Naruto memberikan semacam pin pada Hinata.
" Dengan ini kita akan mudah mencari Hinata." kata Ino.
" Baiklah, begini rencananya." kata Naruto.
Naruto pun mulai sibuk memberitahu rencananya kepada teman-temannya. Begini, begitu, dan akhirnya mereka pun sepakat untuk melakukan pencarian Hinata. Tak ketinggalan Neji ikut partisipasi dalam pencarian, karena dia adalah sepupunya, sekaligus pengawalnya.
" Bagaimana? Apa kalian sudah siap? " tanya Naruto.
" Ya, kami semua sudah siap! " jawab mereka dengan pasti.
" Ayo kita berangkat! Cepat! " kata Naruto memimpin.
Hinata, dimana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja? Aku mengkhawatirkanmu. Batin Naruto.
Namun, ada masalah.
" Oh, tidak." kata Naruto.
" Ada apa?" tanya Neji.
" Pin yang ku berikan pada Hinata rupanya sudah terlepas." kata Naruto.
" Atau mungkin di lepas." kata Ino.
" Rupanya, brengsek itu sudah melepasnya." kata Tenten.
" Bagaimana sekarang?" kata Kiba.
Semua kebingungan. Bagaimana sekarang?
" Rupanya mereka cukup cerdas, tapi tidak secerdas itu." kata Lee.
" Kembalikan, brengsek." kata Hinata memberontak.
" Kau takkan membutuhkannya." kata Lee.
Dengan sigap, Lee menghempas dan menginjak pin tersebut. Membuat benda itu tak bernyawa lagi.
" Kau brengsek." kata Hinata.
Perkataan Hinata membuat wajah Lee merah padam.
Ruangan yang di tempatinya agak remang. Hinata sendiri di ikat pada sebuah kursi.
" Kau terlalu banyak bicara." kata Lee geram.
Di ambilnya sebuah kain dan di ikatkannya pada mulut Hinata, membuat gadis manis itu tak mampu bersuara, kecuali semacam cicitan kecil.
" Naruto..." kata batin Hinata
