—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

Uhhh… senengnya liat sasuke kecil dalam gendongan mamih mertua *Mikoto-sama : Gag sudi saiya punya menantu kaya kamu* - *Naruto chaps 500*

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

ZephyrAmfoter : Gomen Zephyr-kun… litning spid apdetnya lagi rusak… jadi lelet gini. Arigatou Zephyr-kun… Rifyu mu udah cukup bikin aku semangat!

Hikari Uchiha Hatake : yg dilakukan Kakahina dikamar? Xixixixi… mungkin mau 'itu'… Xixixixi *ketawa mesum* kakashi Cuma mau ketemu kok, tapi baca ajah deh…*di injek Hikari-chan* Arigatou Hikari-chan…

Ayano Hatake : yg bener? Bikin deg2n? padahal saiya sempet takut adegannya gag masuk akal lho… Arigatou Ayano,udah bikin takut saiya ilang… udah setia rifyu juga.. Yah. Selama tulisan *padahal kan diketik* saiya diterima readers FFN, saiya akan terus menulis *atou ngetik?*

Tori-chan Nadeshiko : Arigatou tentang jawabannya tori-chan.. Yosh, ini lebih cepet dari chaps kemaren. Arigatou..

Riichan LuvHiru : Arigatou Rii-chan… iyah.. tak kita potong tumpeng buat Anbu ya? … boleh ajah, karna sejujurnya saiya juga ngerep itu…

miss hakuba : Hinata Hamil? Um… gimana ya? Arigatou Miss hakuba.. syukur chaps ini lebih cepet dari kemaren apdetnya…

Mhaya Hatake : Myaha~~!~~!… WELCOME… Wah senengnya ada lagi yang bersedia merifyu Fic saiya… Arigatou… rencana ending chaps 13/15 masih bingung… pairing ending juga masih bingung…Arigatou Rifyu lagi yah…*Puppy eyes no jutsu*

sava kaladze : Kya~~~ Saiya juga suka.. pokoknya setiap adengan itu saiya suka… Arigatou sava… wah.. ada lagi yang minta Hinata hamil… gimana ya? Yaps Apdet. Pasti.

Awan Hitam : KK.. Kecekek…*berontak lepas dari Gemplokan K awan* Padahal kemaren Lhyn nunggu2 lho… *muka kecewa* tapi gag papa… yg penting K awan balik lagi… *meluk2* Lhyn juga mesem2 ngebayangin apa yang bakal mereka lakuin dikamar *Hentai mode ON* Arigatou atas jawabannya… jangan lupa rifyu lagi ya? Tar Lhyn kasih Cerebrofit no Jutsu deh.. *di lempar sendal*

Violet7orange : Kya~~~~ SEMANGAT BARU! WELCOME Violet… Arigatou dah bersedia rifyu fic saiya… iyah… gag teu kenapa saiya yg FANS BERAT *satu milyar ton* Kakashi malah menistakan dia… Gaara.. masih rencana mau keluar… Arigatou… Rifyuh lagi yah? *Puppy eyes no jutsu*

Hyuneko : Kya~~~ jangan gitu ama Kakashi *peluk2 kakashi* jangan dibikin mati… apa lagi tragis… biarlah dia saiya enakin dikit di chaps kemaren.. kan di chaps2 sebelumnya saiya bikin menderita… Arigatou Hyuneko…

nina luv tenzou : WELCOME Wah senengnya saiya ada tiga new reviewer di Fic Saiya chaps kemarin…Arigatou Nina… iyah cepet nih apdetnya… Rifyu lagi ya? *Puppy eyes no jutsu-lagi-*

Azuka Kanahara : Arigatou Azuka.. arigatou atas jawabannya..arigatou tetep kasih saiya semangat..

Kurosaki Kuchiki : Gomen Kurosaki.. emang ngegantung.. udah gitu tu chaps paling pendek diantara chaps2 di Fic ini… saiya lagi mentok. Arigatou Kurosaki.. Iyah lanjut.

NoNameNoFace: WELCOME NoName… Wah.. ternyata gag cuman Tiga.. tapi Empat Riviewer Baru...Saiya agak bingung baca Rifyu kamu… Tapi saiya tetep berterimakasih Noname udah mau rifyu… Rifyu lagi yah?

akasuna no hataruno teng tong : Yah.. gag papa qo kalo mau lewat PM… Arigatou Teng-chan… baca langsung biar tau reaksinya y?, FB saiya : De' Ranuphatma –Linknya ada di Profil saiya qo-.

ARIGATOU untuk semuanya…buat yang udah rifyu, buat yang belum sempet rifyu.. Arigatou…

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

Disclaimer : Om Masashi yang baek hati banget sampe2 mau ngasih Kakashi buat saiya *Kapan?*

Warning : AU, pre Junior Author… jadi sorry banged kalo gaje.. OOC (Pasti), OC (beberapa peran gag penting), typo (Buanyak banget) N' segala macem temen satu paketnya… dan saiya mengharapkan…Dukungan, Kritik dan Saran... kalo untuk Flame… saiya terima meskipun saiya gag minta… Ikhlas…

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

"Hanabi-chan kau dimana, aku sudah menunggumu didepan gerbang?" Tanya Hinata pada seseorang yang ada di sebrang saluran telfonnya.

"Aku masih dikelas Nee-san, tunggu sebentar aku mau membereskan buku-bukuku dulu." Suara yang sangat dikenalnya menyahut.

"Kau yakin mau pulang sekarang? Inikan masih jam sekolah Hanabi-chan." Kata Hinata lembut pada adiknya.

"Iyah, sudah tidak ada sensei yang mengajar kok, Gomen Nee-san merepotkan. Neji-nii pasti sangat sibuk kalau aku minta dijemput sekarang." Kata Hanabi. "hah… dimana Sakura meletakkan novel itu…" Gadis itu tampak menjerit frustasi.

"Apa yang kau katakan Hanabi-chan?" Tanya Hinata, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat.

"Ini, aku mencari novel milik temanku. Aku tidak tahu dimana dia meletakkannya, anak itu sekarang sedang di UKS, Padahal aku ingin sekali membacanya."

"Bukan itu tapi—"

"Gomen, Nee-san.. aku cari novelnya dulu.. jaa."

Tut..tuut.. tut… Saluran telepon terputus.

Hinata sedikit terkejut dengan hubungan yang tiba-tiba terputus. Dia menarik nafas panjang untuk sedikit menenangkannya. Tapi kemudian jantungnya berdetak lebih cepat lagi saat matanya memandang Porsche putih yang sangat dikenalnya memasuki halaman Konohas School, melewati saab hitamnya yang terparkir diluar gerbang.

Entah perasaan apa yang menghampirinya saat itu. Dia merasa bahwa dia akan merasa sakit bila mengikuti mobil itu. Dia takut sesuatu hal akan membuatnya lemah. Tapi… dia memutar kunci mobilnya, menstaternya dan mulai menjalankan mobil itu pelan. Setengah berharap penumpang didalam Porsche itu bukan orang yang dikiranya. Karna dia tidak bisa berharap salah melihat mobil. Dia terlalu mengenal mobil itu, hapal diluar kepala plat nomornya.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

'Nyamannya… ternyata aku begitu mengantuk, sampai-sampai tidurku terasa begitu menyenangkan.'

Sakura terlelap dalam kenyaman, tubuhnya terasa hangat, hatinya nyaman. Membuatnya ingin terus tertidur, memejamkan mata dan pergi dari dunia nyata. Tapi bagaimana pun juga bila rasa ngantuk telah hilang, seseorang harus membuka mata dan kembali ke dunia nyata.

Sakura membuka matanya sedikit. Langit-langit ruangan itu tampak lebih terang dari sebelumnya, lalu menutup matanya lagi. Dan, tiba-tiba dia sadar bahwa ada seseorang yang tengah menggenggam tangannya. 'Sasuke ya?'. Dia menutup matanya lagi, mengeliat pelan sebelum mulai kembali menyadari bahwa tangan yang menggenggam tangannya bukan tangan Sasuke. Tangan yang lebih besar, lebih keras, dan lebih hangat.

Sakura membuka matanya lebih lebar, lalu memiringkan wajahnya kekiri, ketempat seseorang yang menggenggam tangannya berada. Dan… rambut perak, dengan sepasang mata berbeda warna tengah memandangnya. Sakura mengerjap pelan. 'Ini mimpi ya?'.

"KAMI-SAMA." Jerit Sakura terkejut. Dia bangkit dan duduk mendadak di tempat tidurnya. Matanya memandang sosok Kakashi dengan tak percaya. Dengan cepat dia menarik tangannya dalam genggaman pria itu. "Oh, tidak. Aku pasti sudah gila." Gumamnya pelan.

"Sakura, kau baik-baik saja?" Kakashi bertanya khawatir melihat gelagat Sakura.

Sakura tampak kebingungan. "Kakashi?" dia memanggil pelan, Kakashi hanya tersenyum lembut. Sakura mengira dia bermimpi, tapi kemudian dia menyadari sosok itu terlalu nyata. Sakura mengulurkan tangannya menyentuh pipi Kakashi. Hangat. Dia mencubitnya pelan. Ini nyata, Sakura membelalak tak percaya, lalu buru-buru menarik tangannya kembali.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Sakura, memandang Kakashi marah. Nadanya sama sekali bukan nada seorang wanita menolak seorang pria, tapi lebih seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.

"Menemuimu." Jawab Kakashi singkat. Bangkit dari kursinya dan duduk ditepi tempat tidur Sakura.

"Ada urusan apa menemuiku? Aku kan pernah bilang agar kau tidak menemuiku lagi." Sakura tampak lebih tenang dari sebelumnya. Meskipun jantungnya kini berdetak lebih kencang. Jaraknya dan Kakashi tak lebih dari setengah meter sekarang. Sakura meremas-remas selimutnya gugup.

"Jadi harus ada urusan bila aku ingin menemuimu?" Kakashi memandang Sakura, sementara Sakura hanya mampu memandang gugup selimut kusut ditangannya. "Lalu, apa kau fikir aku akan berhenti menemuimu hanya karna kau mengatakannya saat emosi mempengaruhimu?"

"Aku memikirkan apa yang akan ku ucapkan. Aku tidak mau bertemu dengamu lagi, aku tidak mau menjalani hubungan yang tidak semestinya." Kata Sakura, dia sempat membalas pandangan mata yang terus memandangnya, dan sekejap itu rasa sakit langsung menyergap hatinya, sorot mata itu memilukan, maka buru-buru kembali memandang selimut kusut itu lagi, tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi.

"Apakah berteman denganku adalah hubungan yang tidak semestinya, Sakura?" Kakashi bertanya halus.

'Berteman? Berteman? Kami-sama… apa dia pikir aku bisa berteman dengannya dengan segala perasaan ini? Disampingnya, menemaninya, duduk bersamanya sebagai teman, bicara sebagai teman. Dengan perasaan yang terlalu sulit untuk ditahan dan hanya sebagai teman?' Batin Sakura sakit, dan dia menggeleng kuat-kuat.

"Aku ingin melupakanmu." Kata Sakura, kali ini memandang mata Kakashi, seolah ingin menunjukan bahwa dia serius dengan kata-katanya.

"Kau tidak akan bisa. Kalau pun bisa aku tidak akan membiarkannya." Kakashi balas memandang mata emerald itu tajam. Seolah dia ingin menunjukkan hal yang sama.

"Kita tidak bisa jadi teman Kakashi. Terlalu banyak perasaan dalam hubungan yang akan kita jalani. Jadi lebih baik agar jangan ada hubungan apapun diantara kita." Sakura mencoba menjelaskan dengan lembut.

"Aku terbiasa menjalani hubungan palsu. Dan kukira kau juga seperti itu." Kata Kakashi dingin.

"Apa maksudmu?" kelembutan Sakura lenyap. Dia memandang tajam mata berbeda warna itu.

"Kau juga menjalani hubungan palsu dengan Sasuke." Kakashi memandang Sakura dengan pandangan menghujam.

"Itu tidak sama." Sakura tak tahan dengan pandangan itu, terlalu… menghujam, menyakitkan. Maka dia mengalihkan pandangannya kembali keselimut kusut.

"Itu sama saja. Kau tidak mencintainya, tapi kau menjalani hubungan palsu itu." Suara Kakashi terdengar hampa.

"Aku berusaha mencintainya." Sakura meremas selimutnya lebih kuat.

"Jadi kau fikir aku tidak berusaha mencintainya? Apa kau yakin kau bisa?" senyum meragukan yang tak dilihat Sakura muncul di bibir Kakashi.

"Aku berusaha." Sakura sedikit keras.

Kakashi tersenyum lembut. "Sudahlah, aku datang bukan untuk berdebat dan menyakitimu. Aku tidak akan memaksamu kalau kau tak mau walau hanya untuk sekedar berteman denganku. Tapi setidaknya Sakura… ijinkan aku untuk menemuimu saat aku tak bisa lagi menahan rinduku." Kakashi mengenggam tangan Sakura lagi, suaranya bergetar berat. Dan kemudian membawa tubuh itu dalam dekapannya.

Sakura mematung. Wajahnya memanas, jantungnya berdetak dengan sangat cepat, air matanya mengalir lembut. Dan tanpa sadar dia membenamkan kepalanya di dada bidang Kakashi, dan semakin terisak disana, lukanya terbuka semakin lebar. Rasa sakit dan perih menyayatnya dalam.

"Sakura… Kau…" Kakashi begitu gugup saat menyadari sesuatu yang basah di dadanya. Dia melepaskan pelukannya dan memandang mata Sakura yang memerah. "Sakura…"

"Biarkan seperti ini Kakashi…" Sakura kembali kedalam pelukan pria itu. "Kenapa kau datang lagi? Kenapa kau melakukan semua ini padaku Kakashi?" Sakura terisak, Kakashi merengkuh gadis itu semakin dalam.

Pelukan itu…

Pelukan yang sangat dirindukannya, hangat dan menenangkan. Nyaman, aman, dan segala perasaan lain yang membuatnya melambung saat dalam pelukan seorang Kakashi. Aroma mint maskulin yang membuatnya ingin terus bersandar didada bidang itu. Tidak ada lagi, tidak ada siapapun lagi yang bisa memberinya perasaan seperti itu selain Kakashi.

"Maafkan Aku Sakura." Bisik Kakashi lembut.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

Tubuh Hinata bergetar hebat, Air matanya turun dengan deras. Hatinya terasa sakit luar biasa. Ternyata benar. Segala kecurigaannya benar. Tentang mata Kakashi yang berbeda, tidak hampa. Tentang Kakashi yang lebih hangat, tentang Kakashi yang jatuh semaikin dalam, tentang pandangan Kakashi pada gadis itu dimalam pesta Kurenai dan tentang malam itu, malam dimana Kakashi bukan lagi mengigaukan Sakura Haruno, tapi mengigaukan Sakura yang lain. Dan Sakura itu adalah Sakura yang sekarang berada dalam pelukan suaminya. Semuanya benar. Sekarang Hinata tahu apa alasan kenapa semua itu terjadi.

Hinata menutup pintu itu pelan, dan meninggalkan ruang UKS itu dengan perasaan hancur. Waktu untuknya telah habis. Dia tidak lagi diijinkan mencoba, semua harapannya sia-sia, semua usahanya mendapatkan cinta itu percuma. Dan sekarang dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa sakit. Dia tidak pernah mendapatkan cinta yang selama ini diperjuangkanya.

Hati itu terlalu kuat menolaknya, dan sekarang malah dimiliki gadis lain. Gadis yang baru datang dalam kehidupan mereka dan gadis itu mendapatkan apa yang selama dua tahun ini sangat di inginkannya.

Hinata berlari dengan sisa-sisa kesadaran dalam dirinya. Berlari lemah dan gemetar. Tenaganya telah terserap habis oleh segala kesakitan didadanya, tubuhnya terasa begitu ringkih. Hinata berlari sambil terus menabrak siapa pun dan apapun yang ada didepannya. Berlari dalam isakan yang semakin keras meninggalkan suaminya dalam pelukan gadis lain. Meninggalkan ketegaran dan kemampuannya untuk berharap. Meninggalkan asanya.

"Hinata-chan…" Seseorang memanggilnya.

Tapi Hinata tak perduli. Pikirannya terlalu dikuasai rasa sakit hingga tak mampu memikirkan hal lain.

"Hinata-chan." Sebuah tangan menangkap tangannya dan membalikkan tubuhnya yang lemah. "Ada apa? Kenapa kau menangis?"

Hinata mendongak dan memandang mata biru cerah yang memandangnya prihatin. Rambut pirangnya mencuat keras diatas kepalanya.

"Na.. Naruto-K kun.." Hinata terbata, rasa gugup menambah perasaannya yang sudah sangat tidak enak.

"Kenapa Kau menangis?" Naruto mengusap air mata di pipi Hinata lembut.

"A-Aku.. A-ku.." sakit.. sangat sakit… dan tangis Hinata semakin meledak.

"Hi-Hinata.. maaf a-aku tidak bermaksud—" Naruto yang tidak tahu harus mengatakan apa akhirnya hanya mampu membawa Hinata kedalam pelukannya. "Jangan menangis. Aku mohon Jangan menangis." Bisiknya pelan sambil merengkuh gadis itu semakin dalam. *Oh… so Sweet*

Mendengar kata-kata itu Hinata semakin tak dapat menahan air matanya. Dan dia menangis semakin keras. Lalu perasaan nyaman yang menyusup tiba-tiba membuatnya merasa semakin sakit dan air matanya semakin deras lagi. Tapi… kemudian dia menyadari satu hal, setiap dia meneteskan air mata, maka rasanya dia semakin kuat. Dan dia melepaskan air matanya, dia tak lagi berusaha menahannya.

"Kau boleh menangis Hinata… menangis lah, tapi… jangan disini… semua orang memperhatikan kita." Kata Naruto sedikit gugup.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

Hinata kembali menghirup aroma kopinya sebelum kemudian meminumnya sedikit lagi. Kopi itu adalah gelas ke tujuh setelah Teh, Orange Juice, Chocochino, Banana split dan beberapa minuman lainnya yang dia harapkan bisa sedikit menenangkannya sejak tiba di café itu bersama Naruto.

Setelah mengantar Hanabi yang tampak sangat terkejut melihat kondisi Hinata, Naruto membawa Hinata kesebuah café di kawasan pinggiran konoha. Hari telah gelap sekarang, namun sejak kedatangan mereka di tempat itu Hinata belum juga mengeluarkan satu kata pun. Dan Naruto pun hanya banyak diam, karna setiap dia bertanya Hinata akan menangis semakin kencang.

Tiga cangkir Mochachino telah Naruto pesan, meskipun tidak seperti Hinata yang memesan minuman lagi karna minumannya sudah habis, Naruto kembali memesan karna cangkir sebelumnya telah dingin meski masih setengah penuh.

Hinata menarik nafas dalam-dalam dan melirik diam-diam kearah pria didepannya itu. Sejujurnya dia merasa tidak enak telah merepotkan Naruto, menemaninya menangis dengan tanpa banyak bicara, padahal sejujurnya Hinata suka sekali dengan cara pria itu bicara. Tapi sekarang sepertinya Hinata juga harus menyukai cara pria itu diam. Diam hanya demi agar Hinata tidak menangis semakin kencang. Mau-tidak-mau Hinata memerah memikirkan itu.

Hinata masih memandangi wajah Naruto, sementara pria itu tampak asik mengamati sesuatu diluar jendela disamping mereka. Hatinya sudah jauh lebih tenang sekarang. Meski tetap saja masih sakit. Bagaimana tidak? Wanita mana yang tidak sakit hati melihat dan mengetahui penghianatan suami yang di cintai dengan matanya sendiri?

Wanita sekuat apapun pasti akan merasa hancur. Dan lagi, Hinata bukanlah wanita yang kuat. Dia lemah, dan kelemahannya itu lah yang telah membawanya dalam kondisi seperti ini. Kalau saja dia kuat, setidaknya mampu terlihat kuat, Otou-samanya tidak akan meminta permintaan itu. Dan kalau saja dia bisa lebih kuat, Sakura mungkin tidak akan meninggal, dan dia tidak akan mengganti nama Hyuuga menjadi Hatake. Dan semua ini tidak akan terjadi.

Kalau Saja.

Tapi dia lemah… terlalu lemah hingga membuat orang yang paling di inginkannya jatuh cinta padanya saja dia tidak mampu. Air mata Hinata kembali menitik, dia buru-buru menundukkan wajahnya saat melihat gerakan pria itu hendak memandangnya.

"Ma-maafkan aku Naruto-kun." Kata -atau lebih tepatnya bisik- Hinata. Dia bisa merasakan pria itu tengah memandangnya.

"Maaf? Kenapa kau minta maaf Hinata-chan?" Suara Naruto sedikit mengejutkan Hinata. Suara itu dalam dan tenang. Hinata tidak suka suara itu, dia lebih suka suara Naruto yang biasa, suara yang cempreng dan penuh keceriaan, membuatnya merasa hangat hanya dengan mendengarnya.

"Aku me-merepotkanmu."Hinata masih hanya mampu berbisik. Dia mengusap air mata dipipinya.

"Hahaha…" Naruto tertawa, membuat Hinata mendongak memandang wajah kecoklatan itu. "Tidak ada yang merepotkan dan direpotkan Hinata, kita teman dan aku menemanimu, lagi pula aku bukan shikamaru." Katanya dengan nada miliknya dan cengiran khasnya yang entah bagaimana caranya telah membuat pipi Hinata memanas.

"Arigatou Naruto-kun." Hinata mengangguk sebagai ganti membungkuk.

"Kau sudah lebih baik Hinata-chan?" Tanya Naruto menatap mata lavender itu tajam.

Hinata mengangguk. "Tapi aku belum mau pulang." Katanya susah payah menahan air mata agar tidak terjatuh lagi.

"Aku belum bilang mau mengantarmu pulang Hinata-chan, kau harus ikut denganku kerumah Teme, kau harus membantuku memberi alasan agar dia tidak membunuhku." Kata Naruto, dia tidak sadar telah membuat mata Hinata membelalak terkejut. Dia memanggil seorang waiter untuk membayar semua billnya.

"Me..mem..bunuh mu.."

"Iyah, kau tahukan kalau si Teme itu lebih suka langsung bertindak dari pada memaki terlebih dulu, kalau ada Hinata-chan setidaknya itu membuat dia berfikir untuk menunda perbuatannya dan itu memberiku waktu untuk menjelaskannya. Syukur kalau setelah dijelaskan dia tidak jadi membunuhku." Naruto bangkit kemudian memakai jaketnya yang di dekapkan pada sandaran kursinya.

"Ta.. tapi kenapa?" Tanya Hinata masih belum mengerti, kenapa Sasuke ingin membunuh Naruto, bukankah itu tidakan kriminal kelas berat?

"Harusnya siang tadi aku melawannya berduel basket di atap, tapi karna aku melihatmu menangis jadi aku malah mengejarmu. Hah.. padahal kakinya masih pincang tapi tetap keras kepala." Jelas Naruto. Dan Hinata menghela nafas lega.

Masalahnya tidak separah yang dia bayangkan. Tidak separah masalah yang tengah dihadapinya sekarang.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

"Sakura?"

"Eh, iyah ada apa Sasuke?" Tanya Sakura menjawab panggilan Sasuke dari ponselnya, kemudian menutup sebuah buku yang gagal mengalihkan perhatiannya. Padahal biasanya buku itu selalu menarik untuk dibaca.

"Apa ada yang kau fikirkaan?" Tanya suara dingin itu.

"Tidak. Tidak ada." Jawab Sakura berbohong. Fikirannya dipenuhi oleh sebuah sosok saat ini.

"kau lebih pendiam hari ini." Tanya sasuke, nadanya mengintrogasi, membuat Sakura merasa tak nyaman.

"Aku baik-baik saja Sasuke?" kata Sakura lemah. Dia tak tahu bagaimana caranya meyakinkan orang lain bahwa dia baik-baik.. saja sementara dirinya sendiri tidak yakin dia baik-baik saja.

Kakashi baru saja menemuinya siang tadi, dia melihat Kakashi tidak lama, tapi tidak tahu apakah pria itu melihatnya lama atau tidak. Dia tengah tertidur saat itu. Tak banyak yang terjadi diantara mereka, hanya sedikit pertengkaran kecil, beberapa pelukan, dan sebuah ciuman di kening. Hanya Kening. Karna seperti yang Kakashi bilang, dia ingin menjadi teman. Dan selebihnya hanya diam.

Diam.

Saling menikmati perasaan masing-masing. Dan tak dapat di pungkiri Sakura menikmatinya. Menikmati setiap detik bersama pria berambut perak itu. Menikmati segala kenyamanan yang melembutkan hatinya, menikmati setiap debaran jantungnya, perasaannya meringan. Dia merasa begitu aman, begitu terlindungi, merasa begitu berarti, pandangan mata yang selalu bisa membiusnya, membuatnya merasa seakan dialah pusat dunia. Seakan tidak ada hari kedepan tanpa senyumnya.

Dan semua perasaan itulah yang tengah menghatui fikirannya saat ini. Membuatnya kembali merasa rendah. Merasa begitu jahat. Begitu kejam. Dia menikmati setiap detik bersama seorang pria yang telah beristri. Memeluk dan menghirup aroma tubuh itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita yang memiliki pria itu. Begitu hinanya perasaan Sakura, dan lebih hina lagi saat Sakura tak mampu menolaknya.

"Sakura!" terdengar sentak kaget dari ponsel Sakura.

Sakura mengerjapkan mata, dia tersadar dari lamunannya dan menghela nafas. 'Kakashi lagi'. "Maaf Sasuke, aku.. aku rasa aku—" Sakura berhenti bicara, tampaknya dari sebrang Sasuke seperti tidak sedang mendengarkannya karna samar-samar dia mendengar suara Sasuke yang agak jauh.

"Usir saja mereka." Gerutu Sasuke pada seseorang.

"Teme kau tega sekali mau mengusirku, aku datang untuk minta maaf." Terdengar suara lain yang Sakura kenal. Cempreng dan Ceria. Naruto.

"WOY TEME APA YANG KAU LAKUKAN? YA AMPUN HINATA-CHAN…"

"HINATA! KENAPA ADA DIA DIBELAKANGMU DOBE? KENAPA KAU MENGHINDAR BAKA!"

Sakura bisa mendengar teriakan-teriakan dari mereka, Sakura sedikit shock mendengar Sasuke berteriak seperti itu, membuatnya penasaran ingin melihat seperti apa wajah dingin itu saat berteriak, dan hal apa yang bisa membuatnya berteriak seperti itu. "Ada apa Sasuke?" Tanya Sakura lembut.

"Sakura, nanti kutelfon lagi. Hinata pingsan." Seru telah kembali kenadanya sendiri. Dingin dan kaku.

"WOY TEME CEPAT BAN—"

'tut..tut..tut..'

Sambungan telepon terputus.

Sakura membeku. Hinata pingsan. Hinata. Hinata istri Kakashi. Hinata wanita yang telah di hianatinya. Istri yang telah disakiti karna dia mencintai suaminya. Hinata. Rasa bersalah menghantam Sakura telak.

Air mata menetes dipipi Sakura tanpa bisa lagi dia tahan. Padahal sejak kemarin dia terus berusaha menahan air mata itu agar tidak terjatuh. tapi rasanya sekarang terlalu sulit karna setelah sebutir menetes maka puluhan butir lainnya akan meluncur mulus jatuh kepipi putih Sakura.

'tok..tok..tok..'

"Saku-chan? boleh aku masuk" terdengar suara Nii-channya lembut dari luar pintu kamarnya.

Sakura menoleh kearah pintu. Dia jadi gugup, sama sekali tidak mengira Nii-channya akan datang saat dia menangis. Padahal biasanya Nii-channya akan datang setelah jam Sembilan malam untuk mengucapkan selamat tidur, dan ini baru setengah delapan.

Oh, tidak. Dia tidak mau dipergoki tengah menangis dikamarnya. Pasti akan sulit berkelit untuk tidak memberi jawaban yang memuaskan. Sakura segera menghapus air matanya dan melipat tangannya diatas meja belajarnya dan meletakkan kepalanya disana, pura-pura tertidur.

'clek'

Sakura bisa mendengar suara pintu dibuka. Kemudian suara langkah mendekat.

"Sakura… kau sudah tertidur?" Sakura merasakan sebuah tangan mengusap pundaknya lembut. Dia tidak menjawab. "Hah, dasar kau ini." kali ini dia merasakan tangan hangat itu mengusap rambutnya pelan. Lalu mengambil ponsel yang masih ada digenggemannya.

Kemudian pelan-pelan tangan besar itu mengangkat kepalanya dan membaringkannya di sebuah lengan, dan sebuah lengan lain menyusup di bagian belakang lututnya. Sakura sengaja membiarkan seluruh tubuhnya terkulai lemas saat kedua tangan besar itu mengangkat tubuhnya, membaringkannya diatas tempat tidurnya dan menyelimutinya dengan nyaman.

"Good night honey." Sebuah belaian lembut dikepala Sakura membiusnya, dan sebuah kecupan yang tak kalah lembut dikeningnya membuatnya tak tahan untuk tidak membalas curahan kasih sayang Nii-channya itu.

"Emmmhh.." Sakura pura-pura menggeliat. "Nii-chan.." suaranya parau tanpa di buat-buat. "good night bee.." balasnya.

"Bee?" Tanya Sasori. Memandang wajah ngantuk Sakura.

"Yang bergitu menyukai madu kan lebah, hingga rela mengorbankan nyawa untuk melindungi madu miliknya." Kata Sakura masih dengan suara parau.

"Kau benar. Tidurlah, sepertinya kau begitu kecapean hingga jam segini sudah tertidur." Sasori menggeleng-geleng sambil tersenyum manis, senyum yang Sakura yakin bisa membuat satu kompi wanita berteriak-teriak melihatnya.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

"Sakura, Sasuke-sama sudah menjemput anda." Ayame memberi tahu tentang kedatangan Sasuke saat dia membuka pintu.

"Bawa saja dia masuk Ayame." Seru Sakura dari meja makan, Sakura mengolesi selai coklatnya lebih banyak dari biasanya.

"Suasana hatimu sedang buruk ya?" Tanya Sasori yang duduk disamping Sakura. Sakura hanya meliriknya sedikit. Nii-channya terlalu tahu tentang Sakura untuk dibohongi. Banyak-banyak coklat saat suasana hati sedang buruk memang kebiasaan Sakura.

Beberapa saat kemudian Sasuke datang diekori dengan Ayame yang langsung beranjak kedapur, membuatkan kopi hitam untuk Sasuke tanpa diminta, sepertinya dia telah menghapal kesukaan pria bertampang dingin itu.

Sasuke menarik kursi yang ada disisi lain Sakura, lalu duduk bersandar tanpa mengucapkan apapun pada tuan rumah. Bagi Sakura itu bukanlah suatu masalah, dia mengenal kedua orang yang mengapitnya itu, terlalu dingin untuk sekedar saling menyapa -apalagi sejak kejadian di ulang tahun kurenai waktu itu-. Sedangkan untuk Sasori dan Sasuke yang memang pada dasarnya lebih suka untuk saling tidak peduli maka hal seperti itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.

"Kau sudah sarapan Sasuke?" Tanya Sakura, sambil mengigit potongan pertama rotinya.

"Hn." Jawab Sasuke. Matanya yang memandang ketengah meja kini beralih ke Sakura, alisnya sedikit terangkat. "Kau kurang tidur ya?" katanya memijat pelan bagian bawah mata Sakura yang memang sedikit menghitam.

"Ehem…" Sasori berdehem. "Kupikir itu karna dia terlalu banyak tidur. Tidak biasanya dia tidur jam delapan kurang." Katanya sambil menyeruput kopinya.

Kemudian Ayame datang dan meletakkan secangkir kopi didepan Sasuke, Sasuke menggumamkan "Terimakasih" pelan, lalu ayame pun duduk didepan Sakura.

"Iya, semalam setelah kau menutup telfonmu aku langsung tertidur Sasuke." Sakura meminum susu coklat dinginnya. "ngomong-ngomong kenapa kau menutup telfonnya tiba-tiba?" Sakura kembali mengigit rotinya.

"Ada sedikit kecelakaan." Jawab Sasuke singkat. Sama sekali tidak memuaskan Sakura malah membuatnya semakin penasaran.

"Kecelakaan? Apa yang terjadi? Kecelakaan apa yang membuat Hinata pingsan?" Sakura tak dapat menahan nada khawatirnya mengingat ucapan Sasuke semalam yang mengatakan Hinata pingsan.

"Aku melempar bola basket kearah Dobe, tapi dia menghindar dan bolanya menghantam Hinata." Kata Sasuke sedikit terdengar nada bersalah di suaranya.

"Kau ini, lalu bagaimana keadaannya?" Sakura memberi sedikit pandangan menyalahkan pada pria ayam itu.

"Dia tidak apa-apa, tidak terlalu keras sebenarnya." Sasuke kembali meminum kopinya.

"Sakura. Aku berangkat." Sasori bangkit dari kursinya, mengecup pipi Sakura dan mengacak rambutnya pelan."Ayame, aku sudah mentrasnfer uang untuk belanja minggu ini." Katanya pada Ayame, Ayame hanya menganguk pelan."Sasuke. jaga Sakuraku baik-baik." Katanya kembali mengecup pipi Sakura. "Lain kali kalau aku dirumah jangan biarkan dia datang menjemputmu." Katanya dalam bisikan pada Sakura. Kemudian meraih tas yang tergeletak di sofa didepan televisi dan beranjak pergi.

Sakura memandang kearah Sasuke karna sepertinya dia mendapat deathglare dari pria itu. Dan memang benar Sasuke tengah menatapnya tajam seolah berkata "Memangnya kenapa?". Sakura menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Maksudnya supaya kalau dia dirumah dia yang mengantarku kesekolah. Bukan bermaksud apa-apa Sasuke." Katanya menjelaskan. Sasuke hanya mengangguk paham."kau beruntung dia tidak menyuruh seseorang untuk menguntiti kita." Lanjut Sakura kemudian.

Dia jadi teringat saat dulu dia berkencan dengan Gaara dan tiga orang menguntit kencan mereka, dua orang suruhan kakak perempuan Gaara dan seorang suruhan Nii-channya, hingga akhirnya mereka mengbekuk ketiga penguntit itu dan mengikat mereka dibawah tiang listrik. Sakura tersenyum kecil mengingatnya.

"Aku baru saja memikirkan itu." Sasori yang baru dua langkah dari Sakura kembali berbalik. Dan menyeringgai nakal.

"Nii-chan… mungkin seharusnya Nii-chan mulai mencari pengganti Temari-san agar tidak menggangu hubunganku dengan Sasuke." Seru Sakura sedikit jengkel.

"Aku tidak pacaran dengan Temari." Sasori menyanggah.

"Aku tidak bilang pacaran.." Sakura mengejek. "Tapi kalau Nii-chan ingin mencari pacar, dia harus wanita yang bisa mengerti kalau Nii-chan itu sibuk." Sakura menggigit rotinya lagi. "Mungkin Ayame cocok." Serunya saat tatapannya menangkap sosok wanita sederhana didepannya. Membuat gadis itu memerah seketika, tapi tak berani bicara.

"Jangan bicara aneh-aneh Sakura." Sasori sedikit berteriak dari arah ruang tamu.

Sakura kembali melayangkan fikirannya. Mungkin kalau Nii-channya menikah dengan Ayame keduanya akan jadi pasangan yang cocok. Ayame gadis lembut persis seperti bayangannya tentang istri seorang Sasori. Ayame cukup cantik, meskipun penampilannya sangat sederhana, terlalu sering memakai rok dan terlalu biasa. Tapi sedikit rombakan bisa membuat Ayame tampil sangat memukau. rambut merah dan rambut coklat mungkin bisa melahirkan spesies baru yang langka. Rumah mereka akan di penuhi teriakan anak-anak nantinya, tidak akan terasa sepi meskipun Sasori tengah menjalankan misi. Sakura tertawa membayangkan ini.

"Sakura?" seru dua orang lain yang ada dimeja makan itu. Sakura memandang Sasuke dan Ayame bergantian. Keduanya memberinya pandangan ganjil yang menggelikan. Mungkin mereka mulai mengkhawatirkan kejiwaan gadis berambut pink itu. Dan Sakura tertawa lebih keras. Tapi tawanya segera berhenti ketika menyadari entah kapan terakhir kali dia tertawa. Dan kemudian tertawa lagi, menikmati rasanya tertawa yang hampir dia lupakan.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

Hinata duduk di sebuah bangku ditengah taman kediaman Hyuuga. Mengingat setiap kenangan masa kecilnya dirumah itu. Saat otou-samanya masih ada, masih hidup, selalu ada untuk melindungi amak-anaknya, mengajari dan mendidik dengan tegas, menyayangi dengan kaku tapi hangat.

Garis wajah penuh ketegasan yang selalu menimbulkan rasa segan bagi siapa saja yang memandangnya. Hinata merindukannya. Nasehat-nasehatnya, segala pendidikan tentang kehidupan yang tak pernah Hinata dapatkan dari sekolah didapatkannya dari pria itu.

"Otou-sama.." desah Hinata, dan setitik air mata jatuh dari mata lavendernya.

Segalanya berawal dari sana. Dari kecenderungan pria itu untuk melindunginya, atau dari kecenderungan Hinata yang membutuhkan perlindungan pria itu. Yah sepertinya yang kedua lebih tepat. Kalau saja dia sedikit lebih kuat, dia masih bisa tinggal bersama Hanabi dan Neji di rumah ini. Kalau saja dia sedikit lebih kuat. Dia tidak akan merasakan rasa sakit ini.

"Hinata?"

Hinata berbalik, dan mata lavender yang identik dengan miliknya memandangnya. Berjalan penuh ketegasan kearahnya."Neji-nii."

"Apa yang membuatmu duduk ditempat ini lagi?" Tanya suara itu dalam dan tenang.

"Aku hanya merindukan Otou-sama." Jawabnya lirih.

"Hanabi menceritakan apa yang terjadi kemarin. Bisakah kau menjelaskannya padaku Hinata?" tanyanya lembut dan duduk didepan Hinata.

"Bukan apa-apa Neji-nii, Hanya masalah kec—"

"Kakashi?" Neji memotong kalimat Hinata. Kedua pasang mata lavender bertemu. Hinata mengangguk pelan menyadari tak ada gunanya berbohong pada pria yang telah mengenalnya lebih dari dirinya sendiri.

"Aku sedang memikirkan sesuatu tentang hubungan kami." Katanya begitu lirih, namun telinga Neji yang begitu sensitive terhadap suara Hinata dapat mendengarnya seakan Hinata berbicara dengan nada biasa.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya pendek.

"Aku berfikir bahwa mungkin selama ini hubungan kami… sia-sia." Lambat dan lirih. Hinata tak lagi mampu membalas pandangan mata lavender didepannya.

"Tidak ada yang sia-sia Hinata, jangan berfikir macam-macam." Neji tampak mencoba menenangkan meskipun sepertinya dia tahu usahanya sangat percuma.

"Dia tidak pernah mencintaiku Neji-nii, Aku lelah…" Hinata menghela nafas dalam-dalam.

Neji memandang Hinata dengan perasaan sedikit was-was. Keduanya terdiam sekian lama. Sama-sama terlalu takut untuk bicara.

"Kau tampak pucat, apa kau kurang sehat?" Tanya Neji. Hinata hanya menggeleng, meskipun sebenarnya dia memang merasa pening dan sedikit mual, dia menduga itu efek kepalanya terhantam bola basket semalam. Dan kemudian fikirannya kembali terfokus pada apa yang ingin dia katakan.

"Aku ingin mengembalikan Kakashi pada Sakura." Katanya sedikit lebih tegas dari setiap kata yang di uapkannya sebelumnya.

Hening….

Neji memandang Hinata tak percaya, jantungnya berpacu cepat. "Jangan bercanda Hinata, Sakura sudah meninggal, kau tak berniat membunuhnya kan?" pekik Neji, terlalu lepas kontrol.

Hinata menunduk. Membuat jantung Neji berdetak semakin cepat. "Maksudku Sakura yang lain. Aku yakin kau pasti mengetahui tentang kedatangannya kan?"benar-benar tidak lebih dari suara hembusan angin.

"Kakashi bukan barang yang kau pinjam Hinata." Neji sedikit rileks dan mencoba menjernihkan fikiran adiknya itu."Kau istrinya, dia milikmu."

"Hatinya tidak Neji-nii, aku lelah dengan semua ini. Aku fikir mungkin aku bisa memulai kehidupanku yang baru, yang lebih baik bersama orang yang mencintaiku." Hinata terisak. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri.

"Aku akan kekamarku." Katanya pedih dan dia bangkit. Tapi baru saja dia berdiri kepalanya terasa berputar begitu cepat. Pandangannya memutih dan….

Hinata pingsan.

—2nd Sakura © Lhyn Hatake—

—TuBiKonTiNyu—

Yah… beginilah Chaps ke 11 saiya…

Ada pertanyaan? Klik tombol Rifyu…

Ada Yang SUKA? Klik tombol rifyu…

Ada yang gag Suka? Klik tombol rifyu…

Ada yang AAA….*Hujan golok*