Update kilat sesuai permintaan. Gue ngerti kalian udah penasaran pan? *dikeroyok*
Happy reading.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit.
"Dok - Ini…" Sambar Itachi panik sambil menaruh celana dalam Sasuke ke atas meja dokter langganannya.
Sang dokter mengedipkan matanya berkali-kali terbengong melihat kepanikan Itachi dan tentu saja Sasuke langsung menendang Itachi kesal sambil mengambil kembali celana dalamnya dari atas meja.
"Memalukan Itachi… Kubunuh kau nanti… Aku benci padamu…" Omel Sasuke.
"Tapi, memang masalahnya ada pada darah di celana dalammu, Sasuke…" Bantah Itachi.
"Ya tapi tidak perlu sampai menaruh celana dalamku di atas meja dokter juga, Kuso Aniki… Bodoh…"
Kebodohan Itachi ini benar-benar sudah di luar batas. Panik boleh saja tapi jangan sampai bertindak memalukan seperti ini juga - begitu pikir Sasuke. Ia malu setengah mati melihat kakaknya yang langsung menaruh celana dalamnya di atas meja dokter tanpa basa basi dan mengeluhkan masalahnya terlebih dahulu. Sasuke ingin kabur dari situ saja rasanya.
Belum lagi Sasuke yang ke rumah sakit dengan masih memakai piyama minus celana dalam. Hanya baju dan celana piyama saja maksudnya, karena celana dalamnya digunakan Itachi untuk barang bukti. Lengkap dengan Itachi yang menggendongnya seperti pengantin baru dari mobil hingga ruangan dokter pribadinya ini, bisa dibayangkan berapa puluh pasang mata yang melihat mereka sepanjang koridor dan ruangan rumah sakit.
Sang dokter akhirnya berdehem agak keras bermaksud menghentikan pertengkaran kedua kakak beradik ini dan menarik nafas panjang berusaha tersenyum biasa lalu mempersilakan Itachi dan Sasuke duduk lagi di depannya. Itachi langsung dengan patuh duduk manis di kursi depan sang dokter sementara Sasuke masih berdiri menyilangkan tangannya di belakang Itachi.
"Uhm – bisa ceritakan kronologis kenapa bisa ada – err, darah di celana dalam adikmu?" Tanya sang dokter.
"Iya, jadi semalam kami berhubungan badan – Ouch…"
Ah, adik manisnya ini menyikut kepala belakang Itachi saat sang kakak mengatakan hal yang terlarang tersebut kepada si dokter. Itachi hanya mengusap kepalanya dan tak mempedulikan adiknya.
"Rasanya aku sudah pelan-pelan - Aduh…"
"Itachi - langsung ke pokok masalahnya saja, jangan ceritakan hal jorok seperti itu…" Akhirnya Sasuke protes dengan nada tinggi sambil menjambak kunciran rambut Itachi.
"Kronologisnya memang begitu, Sasuke - "
Dan sang dokter hanya bisa memijat keningnya. ia sendiri sebenarnya malu jika harus mendengarkan riwayat tempat tidur pasangan yang tidak normal ini, tapi mungkin saja memang infromasi itu memang dibutuhkan.
"Oh, selain itu? Ada keluhan lain? Perilaku misalnya?" Si dokter mencoba bertanya dengan cara lain.
Itachi langsung merasa ada 'coding' di otaknya ketika sang dokter menyebut kata 'perilaku'. Ia membiarkan Sasuke 'menyandera' rambutnya dan kembali memajukan kursinya lebih dekat ke meja sang dokter.
"Benar! Itu dia! Sasuke jadi banyak makan, dia sembelit, kemarin dia mabuk di perjalanan, begitupun ia tetap makan dengan porsi banyak… Tadinya kupikir aku saja yang merasa bahwa ada yang aneh pada nafsu makan Sasuke, tapi ibu dan pamanku juga merasa heran… selain itu, dokter lihat saja, adikku jadi semakin galak - Ough!"
Kekesalan Sasuke sudah memuncak dan kini ia mencekik Itachi sekaligus mengguncang-guncang badannya.
"Kau ini mau konsultasi atau mempermalukanku sih? Lain kali aku akan ke rumah sakit sendiri saja… Kalau bersamamu pasti akan kacau semua… Kau itu bodoh sekali, Itachi… Bodoh…"
Si dokter mengernyitkan alisnya dan berdiri menggenggam tangan Sasuke.
"Setelah berhubungan badan semalam, apa kau mengalami klimaks? Dan setelah itu, apa ada keluhan di sekitar perut?" Tanya dokter serius.
Muka Sasuke merona merah, ia tak bisa menjawab. Ia terlalu malu. Kenapa dokter bodoh itu malah menanyakan hal yang lebih spesifik seputar adegan ranjang? Itu kan tidak mungkin dijawab oleh Sasuke.
"Dia klimaks dan beberapa saat setelahnya dia mengeluh perutnya mulas dan terasa kencang… Hanya sebentar sih, karena setelah itu dia ketiduran, Ah ya - belakangan ini Sasuke juga terlihat seperti mengantuk dan selalu kelelahan…" Jawab Itachi lempeng dan polos.
Sang adik ini sudah kelelahan menghadapi Itachi yang mungkin sekarang kewibawaan dan kecerdasannya sedang nyangkut di kandang sapi. Percuma sudah ia melakukan 'agresi' pada Itachi untuk sedikit lebih menjaga 'kehormatannya' dalam melakukan konsultasi. Sekarang Sasuke lebih sibuk mengatur rencana pembunuhan untuk kakak tercintanya ini karena telah sukses membuatnya malu setengah mati hari ini.
Sang dokter hanya tersenyum dan mengambil sesuatu dari laci lemari obatnya. Dan menaruhnya di atas meja. Itachi dan Sasuke membaca tulisan yang terpampang di luar kemasan tersebut.
"Urine pregnancy test… Silakan gunakan kamar mandi di situ dan taruh urine mu di mangkuk kecil ini sampai garis pembatas disitu…" Sang dokter menerangkan sambil memberikan Sasuke mangkuk kecil berdiameter sekitar lima sentimeter.
"Sasuke hamil lagi, dok?" Seru Itachi tiba-tiba dengan nada yang antusias dan mata yang berbinar.
"Entahlah, kemungkinan besar iya – karena itu kita tes dulu …" Jawab si dokter sambil tersenyum.
Itachi bangun dari duduknya dan langsung menarik Sasuke ke kamar mandi.
"Dengan senang hati kuantar dan kutunggu di depan pintu kamar mandi, Sasuke…"
Sasuke semakin sebal melihat sikap kakaknya yang setelah dipikir-pikir makin mirip Naruto. Entahlah, saat-saat seperti ini ia merasa Itachi benar-benar seperti orang lain. Bukan Sasuke tidak suka, tapi ia terlalu gengsi untuk menerima perlakuan berlebihan dari Itachi. Perlakuan biasa saja ia sudah malu, apalagi jika berlebihan?
Tak banyak bicara dan sudah kehilangan tenaga untuk melawan Itachi, Sasuke masuk ke kamar mandi dan menjalankan semua instruksi dari dokter padanya. Walaupun tidak ingin, Sasuke berusaha merilekskan pikirannya untuk bisa buang air kecil walaupun hanya sedikit demi tes yang dianjurkan dokter.
Jauh di lubuk hatinya, Sasuke juga berdebar-debar antara berharap atau tidak ia akan hamil lagi.
Lima menit berlalu. Cukup lama dan Itachi mulai tidak sabar. Ia membalikkan tubuhnya dan bermaksud masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin adiknya ini butuh kateter agar urine nya cepat keluar atau mungkin harus melakukan kegiatan orang dewasa agar Sasuke terpancing untuk buang air kecil.
"Jangan coba-coba, Itachi - " Sasuke memperingati dari dalam. Sepertinya anak manis ini sudah tahu apa yang akan terjadi, dia sudah menghitung kapasitas kesabaran Itachi jika dia sedang antusias atau panik.
"Kau lama sekali, Otouto - "
"Jelas aku lama, aku tidak bisa buang air kecil ketika aku sedang tidak ingin, bodoh - dan kau mengajakku bicara seperti ini aku jadi semakin tidak ingin… Diamlah…"
"Aku sudah tidak sabar melihat hasilnya…"
"ITACHI!"
Sedikit merengut, Itachi mengurungkan niatnya dan kembali menyender di tembok namun tetap di depan kamar mandi. Syukurlah tak lama kemudian, Sasuke benar-benar keluar dari kamar mandi dengan membawa mangkuk kecil barusan hanya kali ini ditutup oleh selembar tissue.
"Sasuke - "
Sang adik hanya mendelikkan matanya memberi isyarat agar tidak menubruknya atau urine yang sudah susah payah ia keluarkan akan terbuang sia-sia. Sang dokter yang sejak tadi melihat polah kedua saudara kandung ini hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah menaruh sample urine di atas meja, dokter cantik itu mengeluarkan sebuah pipet dan menyedot urine Sasuke dari mangkuk lalu meneteskannya ke semacam kertas putih.
"Aku sengaja melakukan ini di depan kalian karena aku ingin kalian menyaksikan sendiri hasilnya…"
Itachi dan Sasuke bahkan lupa caranya mengangguk karena terlalu antusias melihat tetesan air tersebut yang lama kelamaan berubah menjadi biru di kertas tadi. Dan Itachi menangkap perubahan di kertas reaksi barusan. Ada sebuah garis merah muncul disitu.
"Garis merah itu apa, Dok?" Tanya Itachi sambil menunjuk ke arah garis tersebut.
Senyum sang dokter melebar dan mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Itachi.
"Selamat, untuk hasil sementara adalah positif hamil… Adikmu sedang hamil… Dan usia tiga bulan nanti kami akan melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan kehamilan Sasuke-kun tak ada masalah dan normal…" Jelas si dokter.
Itachi menyambut uluran tangan si dokter dengan wajah masih termangu dan Sasuke juga menunjukkan ekspresi bingung. Pasalnya…
"Ini aneh, mengapa tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti yang sudah pernah terjadi pada Sasuke sebelumnya?" Tanya Itachi lagi.
Setelah melepas jabatan tangannya, sang dokter memandang dua kliennya ini dengan lembut.
"Karena kalian laki-laki, aku sangat memaklumi kalian yang tidak mengerti tentang kehamilan…"
Uchiha bersaudara ini menatap dokter mereka dengan lekat dan memasang telinga mereka baik-baik.
"Dalam sebuah proses kehamilan ada dua jenis tanda yaitu tanda pasti dan tidak pasti… Yang dialami Sasuke-kun ini adalah tanda tidak pasti… Pada wanita, tanda tidak pasti secara fisiologis meliputi keterlambatan atau ketiadaan menstruasi sama sekali, bisa juga adanya perubahan suhu tubuh dan berkurangnya stamina… Secara psikologis bisa berbentuk emosi yang tidak stabil, perubahan perilaku yang mencolok, dan lain-lain… Itu normal karena ada beberapa hormone dalam tubuh manusia yang bisa mengendalikan perilaku dan suasana hati yang bahkan individu tersebut tidak menyadarinya…"
Sasuke mulai malas mendengarkannya. Terlalu banyak kata-kata yang tidak dimengertinya, Sasuke bukan siswa yang berkecimpung di dunia kesehatan. Tapi, Itachi sepertinya sedikit lebih mengerti. Jelas, Itachi kan sudah pernah kuliah, walaupun bukan di jurusan kesehatan.
"Tes urine ini pun bukan hasil pasti dari sebuah kehamilan… Kadang ada beberapa kasus hamil palsu... Bisa karena hormone hCG itu sendiri, bisa juga mungkin karena alat testpack ini yang tidak berfungsi dengan baik…" Terang dokter itu lagi.
"Tes ini tidak pasti? Lalu, tanda pastinya yang seperti apa? Padahal aku begitu menginginkan kehamilan Sasuke…" Gerutu Itachi.
"Hasil dan tanda pasti kehamilan ada pada USG dan denyut jantung bayi atau janin… Makanya tadi ku sarankan untuk kalian melakukan USG setelah dua atau tiga bulan mendatang … Dengan catatan tidak ada keluhan yang hebat… Jika ada keluhan atau ada pendarahan seperti tadi bahkan lebih banyak dan konsisten, kalian harus kembali lagi kesini…"
"Lalu, tujuan USG itu apa?" Sela Sasuke.
"Dan pendarahan yang di alami Sasuke tadi itu kenapa?" Sambung Itachi.
Sang dokter begitu senang dengan kedua kliennya ini. Mereka begitu ingin tahu dan ia merasa harus menjelaskan lebih detail lagi pada keduanya untuk keberhasilan kehamilan pada lelaki ini.
"Tujuan USG di usia muda, yaitu trimester pertama lebih mengacu ke kepastian kehamilan… pasti bahwa kehamilan berisi janin, bukan gumpalan daging atau darah atau apapun, bukan hamil anggur dan sebagainya… Selain itu untuk memastikan letak pembuahan terjadi di dalam rahim bukan di bagian lain… Pernah dengar istilah hamil di luar kandungan? Itulah maksudnya, hamil di luar kandungan adalah pembuahan yang terjadi tidak di dalam kantung rahim, tapi di organ reproduksi bagian dalam yang lain…"
"Selanjutnya, pendarahan yang dialami Sasuke-kun adalah justru tanda bahwa sudah terjadi pembuahan di dalam alat reproduksi Sasuke-kun sendiri… Ketika sel telur sudah 'menangkap' sel sperma dan membawanya ke dalam kantung rahim dan melakukan semacam 'penanaman' di dinding rahim, biasanya terjadi kontraksi pada perut bagian bawah dan kadang terjadi flek atau menetesnya darah dari sana… Jadi, tidak perlu khawatir… Tapi, dengan syarat besok tidak terjadi lagi…"
Sasuke dan Itachi mengangguk mengerti. Sasuke setengah mengerti, masih ada yang harus ia tanyakan ulang pada Itachi dan ibunya nanti di rumah.
"Kudengar kau ada keluhan sembelit, Sasuke-kun? Lebih banyak makan yang berserat ya, tak apa nafsu makanmu bertambah tapi harus seimbang, kakaknya jangan melarang dia makan ya?"
"Hn…"
"Itachi-san, anda mungkin harus lebih sabar, belajarlah dari pengalaman sebelumnya… Jangan sampai adikmu stress dan kelelahan… menurut riwayat kehamilan kemarin, kemungkinan besar kandungan Sasuke memang kurang kuat…Jadi, mencegah lebih baik… Mengerti kan maksudku?"
Itachi merangkul Sasuke dan menarik tubuhnya agar menempel padanya, namun mukanya masih ke arah si dokter sambil tersenyum lebar. Uchiha Itachi sedang berbahagia hari ini. Sangat. Lagi-lagi Sasuke merasa kesal dengan reaksi kakaknya yang terlalu berlebihan.
"Sepuluh bulan lagi, Itachi - " Gumam Sasuke iseng ingin menjahili kakaknya.
Itachi hanya menoleh ke arah Sasuke dengan senyum yang masih lebar seperti sebelumnya. Mungkin kesadaran Itachi sedang terbang.
"Tak apa, Sasuke - sepuluh bulan itu sebentar…" Jawabnya enteng.
Sang dokter berdiri sambil memberikan Itachi secarik kertas berisi resep.
"Sampaikan berita baik ini pada keluarga kalian dan silakan beli obat yang ku resepkan, disitu ada vitamin dan obat penguat kandungan… Sekali lagi - selamat… Kuharap tidak ada kegagalan yang kedua kali…"
.
.
.
"ITACHI- HENTIKAN SENYUMMU ITU … MENJIJIKKAN…" Teriak Sasuke di dalam mobil.
"Hmm? Setelah ini kau mau manpir kemana, Sasuke? Kau ingin kubelikan apa? Kau ingin makan apa?" Itachi malah bertanya masih dengan wajah yang berbinar.
"Nafsu makanku hilang melihat wajahmu yang seperti itu, Kuso Aniki…"
"Sasuke - tak baik marah-marah seperti itu, kasihan malaikatku yang ada di dalam perutmu, nanti tidak bisa tidur…"
Sasuke kehabisan akal untuk memprotes kakaknya. Ini berlebihan. Kakaknya menyebalkan. Itachi sudah kerasukan setan orang bule. Ia harus melakukan pengusiran setan - begitu pikir Sasuke.
Itachi sudah bertekad akan memperbaiki semuanya. Ia akan lebih sabar menghadapi Sasuke. Ia harus mendengar dan mengerti Sasuke lebih dari biasanya. Ia akan menjaga Sasuke dua puluh empat jam jika bisa. Ia akan bernegosiasi dengan paman Madara agar Sasuke tak perlu bekerja sampai ia melahirkan.
"Sasuke - terima kasih atas kehamilan keduamu … Mari berjanji bahwa kita akan memperbaiki semuanya…" Desah Itachi sambil memandang Sasuke.
Muka Sasuke merona tipis. Sebenarnya - sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang entah ada disebelah mana, ia SANGAT SENANG dengan perubahan Itachi. Ia senang Itachi lebih memperhatikannya dari Paris sebelumnya, karena itu ia jadi semakin ingin bermanja dan merajuk pada Itachi. Tapi, ia tak kan pernah mau mengakuinya pada Itachi. Tidak akan.
"I-Itachi - Li—lihat kedepan, kau sedang menyetir mobil… Ba—baka…"
Sang kakak yang hangat dan lembut ini hanya tersenyum geli melihat sikap malu-malu adiknya dan membelai kepalanya dengan sayang.
"Aku punya dua malaikat yang akan selalu menjaga nyawaku - Kau dan bayi yang di dalam kandunganmu…" Jawab Itachi.
"Hn…"
.
.
.
"SUNGGUH? BENARKAH APA YANG SEDANG KULIHAT INI?" Seru Madara saat Itachi memberikan hasil tes urine Sasuke.
"Tentu saja…" Jawab Itachi sambil mengusap hidungnya.
"Kau tokcer, Itachi …" Puji Madara sambil merangkul Itachi.
"Jelas - Karena aku adalah seorang Uchiha Itachi…" Balas Itachi bangga.
Sasuke memijat kepalanya melihat dua lelaki dewasa di depannya ini bertingkah seperti anak taman kanak-kanak yang baru saja mendapatkan sebuah permen. Mikoto tersenyum maklum dan membelai kepala Sasuke.
"Selamat Sasuke, ibu berharap padamu untuk kehamilan keduamu ini…"
Sasuke hanya menyungging senyum tipis. Ia bersyukur semua keluarganya menerima dirinya dan segala kelainan yang ada di dalam dirinya.
"Na~ Itachi, beritahu paman, bagaimana caranya kau bisa langsung tokcer seperti itu?" Tanya Madara masih tersenyum lebar.
"Begitulah paman, jadi aku berada di belakang Sasuke dan setelah itu Sasuke tidak membalikkan badannya, bahkan mengganjal perutnya dengan bant- Aaaarrgghhh…"
Sebuah tendangan mendarat di pinggang belakang Itachi hingga membuat Itachi tersungkur dengan indahnya. Madara menoleh ke arah pelaku dan ia hanya meringis takut melihat aura gelap Sasuke yang sedang terengah menahan marah.
"ITACHI - BERAPA KALI HARUS KU BILANG UNTUK MENUTUP RAPAT KAMARMU SENDIRI?"
"Aku menutup kamarku - kamar kita, Sasuke ..."
Sasuke mencengkeram kerah baju Itachi dan mengguncang-guncang tubuh Itachi dengan keras.
"MAKSUDKU JANGAN BICARAKAN URUSAN TEMPAT TIDUR KITA PADA ORANG LAIN, DASAR BODOH - KUBUNUH KAU…"
"A- aku terlalu senang makanya aku keceplosan, Sasuke - Yuruse…"
Madara menghampiri Sasuke dan langsung ikut merangkul keponakan manisnya ini.
"Hey, Sasuke - tak apalah sedikit berbagi pada pamanmu ini - aku sama sekali belum pernah membuat wanita maupun pria hamil…"
Kemarahan Sasuke benar-benar memuncak. Ia ragu akan melewati masa kehamilannya jika harus berdampingan dengan makhluk-makhluk menyebalkan seperti ini. Sementara Mikoto tertawa geli melihat ketiga lelaki luar biasa di depannya. Hatinya menghangat dan jauh di lubuk hatinya ia berharap seandainya Fugaku melihat kebahagiaan ini, ia pasti berubah pikiran.
"Paman ingin mencoba? Silakan coba pada seekor kucing dulu mungkin? Kalian semua menyebalkan…" Omel Sasuke sambil memberikan jitakan terakhir di kepala Itachi.
"Paman Madara, lihatlah adikku jadi galak…" Rengek Itachi.
Sasuke yang sudah membalikkan badannya, malah di tahan oleh Itachi yang sedang berlutut memeluk perut Sasuke.
"Kau jangan galak seperti mamamu ya, malaikatku…" Mohon Itachi sambil mencium perut Sasuke.
"Khhhh - ITACHIIIII…."
Madara dan Itachi tertawa terbahak-bahak. Ah, keluarga Uchiha ini memang sedang berbahagia. Tak peduli apapun norma berbicara. Mereka bahagia dan berharap semoga kebahagiaan ini akan terus berlanjut.
.
.
.
Malamnya, Sasuke tidak bisa tidur. Tak ada alasan apapun. Hanya tidak bisa tidur. Matanya masih terbuka lebar tak ada kantuk menyerang sedikitpun. Ia mulai gelisah.
"Nii-san…"
Itachi yang baru saja terlelap dengan malas membuka matanya.
"Kenapa, Sasuke?"
"Aku tak bisa tidur…"
"Apa yang kau rasakan? Kau lapar?"
Sasuke menggeleng pelan dan memiringkan badannya menghadap sang kakak dan memandangnya.
"Menurutmu, aku bisa menjalani kehamilan yang sekarang? Mendadak aku merasa tidak yakin…"
Itachi tersenyum dan membelai kepala adiknya.
"Pasti bisa, Sasuke - aku yakin… Aku percaya kau orang yang belajar dari pengalaman buruk…"
Sasuke terdiam. Ia tahu itu. Sebelumnya pun ia sendiri sudah bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia akan memperbaiki semuanya. Keraguannya sekarang mungkinkah hanya pengaruh hormone?
"Nii-san - kau tak ingin menyentuh perutku? Aku takut menyentuh perutku…"
Sang kakak terkekeh geli. Ia tahu pasti bahwa Sasuke hanya ingin disentuh. Ia mengerti cara adiknya merajuk. Adiknya ini sedang gelisah walaupun ia sendiri tak menyadari apa yang sedang digelisahkan, makanya ia seperti ini.
"Apapun untuk adik manisku…"
Itachi mengangkat piyama Sasuke hingga perut putihnya terlihat. Itachi sendiri masih belum percaya bahwa di dalam sana sudah ada kehidupan baru lagi. Itachi mendaratkan tangan kanannya di perut mulus itu dan mengusapnya perlahan. Matanya menatap lekat obyek datar di depan matanya. Beberapa bulan kedepan, perut datar ini akan membesar seperti bola. Itachi tertawa sendiri di dalam hati.
"Aku mencintaimu, Sasuke - " Bisiknya sambil mencium perut adiknya.
Sasuke merasa tenang dan nyaman menikmati sentuhan Itachi. Ia damai menyadari Itachi ada di dekatnya sekarang. Walaupun ia tahu Itachi memang selalu di dekatnya. Ia tahu Itachi selalu menyayanginya dan selalu memilihnya. Si bungsu semakin merasa rileks merasakan nafas Itachi yang menjalari perutnya. Begitu hangat hingga seperti benar-benar ada kehidupan di dalam perutnya.
Masih dengan tangan yang mengelus perut adiknya, Itachi mengangkat badannya dan memandang wajah Sasuke dari dekat. Tatapannya masih lembut dan hangat seperti biasanya. Kakak sulung yang tampan ini memang di karuniai aura yang hangat dan penuh dengan kebaikan hati. Itulah alasan Sasuke begitu mengagumi dan selalu menempel pada Itachi sejak kecil sekalipun. Itachi selalu melengkapi apapun yang kurang di dalam diri Sasuke.
Ciuman sayang mendarat di kening, kedua mata, hidung dan pipi Sasuke. Lengkap sudah kebahagiaan Sasuke. Sungguh, jika Itachi harus mati saat ini, maka Sasuke akan menyusulnya. Ia sama sekali tak bisa jika tak ada Itachi. Dunia tanpa Itachi adalah bukan dunia.
"Nii-san…"
"Oyasumi, Sasuke - tidurlah, aku akan terus menyentuhmu sampai kau tertidur… Tenanglah … Jangan gelisah…"
Si bungsu yang sedang dalam kondisi yang sama sekali tidak bisa dibilang stabil itu hanya mengangguk. Memang, setelah Itachi menyentuhnya dan ia menyadari bahwa sang kakak memang benar-benar ada, ia menjadi lebih rileks dan kantuk mulai datang. Ah, ia memang hanya ingin sedikit lebih di manja oleh Itachi. Minimal, ia tak mau Itachi tidur duluan sebelum dirinya. Mungkin.
Setelah mendapat ciuman lembut dan sedikit dalam dari Itachi, akhirnya Sasuke mengatur nafasnya kembali dan memejamkan matanya. Itachi masih berbaring di sampingnya dengan tangan kiri membelai kening Sasuke dan tangan kanan membelai perut Sasuke. Begitulah, Itachi akan belajar sekali lagi untuk menjadi seorang 'suami' yang baik untuk Sasuke dan ayah untuk anaknya nanti.
.
.
TBC.
Abang Itachi jadi OOC? Menurut gue kagak - semua suami akan seperti itu kalo dapet berita bahagia seputar kehamilan istrinya. Yok, sekarang siapa yang mau daftar jadi istrinya Itachi? *ditabok Sasuke* - *ngga nyambung oi*
Chap ini isinya lawak ye - dan sedikit pengetahuan tentang kehamilan mungkin… begitulah mudah-mudahan ga bosenin.
Thanks for reading.
Please leave your review.
Regards.
