Yo minna~

Saya update lagi nih…

Ada yang masih menunggu kah? *semoga aja masih :D

Kayanya sih banyak yang nunggu ya? XD *PD

Yah sebenarnya saya cukup sedih juga sih ya, soalnya U-niform bentar lagi selesai :D

Tapi author sangat senang karena dapet respon positif dari para readers TAT *terharu

Dan author gaje ini mau minta maaf kalau fic yang lain seperti ditelantarkan T^T

Karena sesungguhnya itu tidak benar! Author sedang fokus dengan fic U-niform ini karena akan selesai ^^

Jadi buat readers yang nungguin FF author yang lain seperti "life" dan "pick up service" diharap bersabar karena author tidak bisa update kilat m(_,_)m *gomen na

Saat.a balas review

Sasusaku uchiha : ini sudah update, gomen ga kilat :)

Yah sakura itu wanita yg kuat karena calon ibu :D

Sasu love saku : ini udah update ^^, gomen ga kilat :P

Dan untuk ff q yg lain sepertinyablm bisa update kilat krn author gaje ini mau fokus di u-niform dulu (mau selesai soalnya) XD

Mia : kan saat sasu 'berhubungan' dg hinata dia lagi mabok jd ga ngerti kan? Nama.a jg mabok? XD

Soal pemuda bermata onyx itu adalah sai atau bukan silahkan dipastikan di chap ini XD

Guest : ya gimana sasu bisa menyadari hinata udah ga perawan kalau saat melakukan 'itu' sasu lagi mabok? Hehhe

Namanya mabok kan ga sadar? XD *udah diatur kok sama author XD

Sasusaku kira : sepertinya ini sudah mendekati akhir :D

Dan kabar gembira akan menyusul nanti :D

Happy reading minna~


Disclaimer : Always Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Warning : ga jelas, typos (don't like don't read)

Rating : T

I'll see you again


Lima tahun memang bukanlah waktu yang singkat, namun Sasuke tidak pernah lelah menunggu Sakura kembali. Karena Sasuke yakin Sakura pasti kembali suatu hari nanti. Buktinya Sakura mengirimi Sasuke surat setelah dua minggu dia dinyatakan menghilang. Meski Sakura tidak mengatakan keberadaannya dalam surat itu, namun surat itu saja sudah cukup bagi Sasuke. Hanya mengetahui bahwa Sakura baik-baik saja sudah membuat Sasuke tenang dan mampu bertahan hingga hari ini.

'Aku akan selalu menunggumu kembali.' Ucap Sasuke dalam hati.

.

.

.

.

.

Di sebuah desa kecil yang damai dengan pemandangan yang asri, seorang anak kecil berlari dengan senyum mengembang diwajahnya. Dia berlari penuh semangat menuju rumah diatas bukit yang lumayan jauh dari keramaian desa. Rumah itu begitu sederhana dengan sebuah taman kecil menghiasi halamannya.

"Tadaima!" seru seorang anak kecil dengan rambut hitam kebiruan.

"Okaerinasai!" balas sebuah suara yang tak jauh dari anak itu.

Anak itu berlari menuju sumber suara dimana ibunya berada.

"Kaa-chan! Mitte! Mitte! Aku dapat nilai sempurna!" seru anak itu penuh semangat.

Wanita yang sedang mencuci piring itu membalikan badannya untuk menatap sang buah hati.

"Benarkah? Kali ini pelajaran apa?" tanya wanita itu lembut pada sang putra.

"Seni lukis!" seru sang anak semangat.

Dua emerald yang sangat indah dan hangat menatap lembut wajah buah hatinya. Wajah yang begitu mirip dengan pria yang sangat dia cintai. Ayah dari anak yang sangay disayanginya itu. Dengan rambut hitam kebiruan yang sama, dengan model rambut bagian belakang mencuat keatas, persis dengan pria yang sangat dicintainya. Kedua onyx hitam dihadapannya menatap bahagia dan penuh semangat.

"Wah, kaa-chan tidak tahu kalau Kiseki pintar melukis?" tanya wanita anggun berambut soft pink itu.

Kiseki menggembungkan kedua pipinya tak suka. Ekspresinya benar-benar sangat lucu mengingat dia mewarisi sebagian besar wajah manis ibunya.

"Kau harus tahu siapa yang mengajarinya, Sakura." Ucap seorang pria bermata onyx yang baru saja muncul.

"Sai ji-chan!" seru Kiseki gembira lalu berlari kearah Sai.

Wanita berambut soft pink yang sedang berdiri dengan senyum menggembang itu adalah Sakura. Sakura yang sama yang menghilang lima tahun yang lalu. Mungkin dia memang sama, tapi tidak 100% sama. Lihat saja perutnya yang dulu membesar sudah tidak ada lagi. Wajah dan sikapnya pun berubah, kearah positif tentu saja.

"Jadi kau yang mengajari Kiseki?" tanya Sakura tenang.

"Kenapa kau tidak kaget?" tanya Sai yang mendekati Sakura bersama Kiseki dalam gendongannya dengan senyum aneh menghiasi wajahnya.

"Memang siapa lagi yang ada dirumah ini selain aku dan Kiseki?" tanya Sakura bosan.

"Kau benar." balas Sai sedangkan Kiseki yang berada dalam gendongan Sai hanya mengamati mereka dalam diam.

"Dan siapa yang tidak tahu kalau Uchiha Sai adalah pelukis hebat?" canda Sakura.

Sai mendengus geli mendengar ucapan Sakura.

"Ne kaa-chan? Apa jiji akan berkunjung hari ini?" tanya Kiseki penasaran.

"Sepertinya begitu, karena paman Sai juga ada disini." Jawab Sakura disertai senyum hangatnya.

"Asik! Apa kali ini jiji akan mengajak tou-chan?" tanya Kiseki penuh harap.

"Kita lihat saja nanti, kaa-chan juga tidak tahu." Balas Sakura dengan senyum sedih.

"Kalau begitu aku mau kekamar dulu! Paman turunkan aku!" seru Kiseki pada Sai.

Setelah Sai menurunkan Kiseki dari gendongannya dia langsung berlari menuju kamarnya yang berada dibagian belakang.

"Apa ayah akan berkunjung seperti biasa?" tanya Sakura pada Sai yang sekarang sudah duduk dimeja makan sambil mengamati Sakura memasak.

"Sepertinya begitu." jawab Sai malas.

"Ada apa?" tanya Sakura setelah menyadari nada bicara Sai yang tidak bersemangat.

"Semakin lama Kiseki semakin mirip ayahnya. Aku seperti melihat Sasuke versi mini." Ucap Sai tanpa beban.

"Kau sudah mengatakan hal itu sejak Kiseki lahir." Jawab Sakura lalu tersenyum geli.

"Kau benar." Jawab Sai kalah.

Sakura sedikit menghela napas sebelum melanjutkan kegiatan memasakannya. Lima tahun yang lalu, tiba-tiba ino menelponnya dan mengabarinya bahwa hinata meninggal setelah mengalami keguguran. Ino tidak menjelaskan detailnya, hingga ketika malam menjelang Sakura mendapatkan telepon kedua yang mengabarkan bahwa ibu Sasuke juga meninggal dunia karena serangan jantung. Saat itu Sakura tahu bahwa Sasuke pasti sedang mengalami kesedihan yang mendalam atas kematian ibunya, juga hinata. Namun Sakura sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Menyusul Sasuke ke Konoha juga tidak ada gunanya, malah mungkin Sakura hanya akan menambah masalah saja jika dia datang waktu itu. Sakura mengira berita mengejutkan yang akan dia terima hari itu sudah berakhir. Tapi ternyata setelah ino seleSai menelpon, lima menit kemudian telpon Sakura kembali berbunyi dan yang menelponnya waktu itu adalah orang yang menurut Sakura tidak akan pernah menghubunginya. Orang itu adalah Uchiha Fugaku, ayah Sasuke.

Flashback

"Moshi-moshi?" jawab Sakura.

"Apa benar ini Haruno Sakura?" suara berat khas Uchiha Fugaku terdengar ditelinga Sakura.

"Benar, ini siapa?" tanya Sakura penasaran.

"Uchiha Fugaku." Jawab Fugaku tenang.

Sakura membulatkan kedua matanya kaget dan menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan kirinya.

"A-ada apa Uchiha-san menghubungi saya?" tanya Sakura gugup.

"Aku punya permintaan." Ucap Fugaku lirih.

Sakura sempat bingung dengan nada suara Fugaku yang pelan dan putus asa.

"Apa yang bisa saya bantu Uchiha-san?" tanya Sakura tulus.

"Bisakah kau menghilang untuk sementara?" tanya Fugaku tak yakin.

"Me-menghilang? Apa maksud anda Uchiha-san?" tanya Sakura kaget.

"Aku memintamu untuk menghilang dan merawat anakmu dengan baik. Aku hanya ingin membuat Sasuke belajar menjadi pria yang tegar dan bertanggungjawab. Karena setelah ini aku tahu dengan pasti Sasuke akan mencarimu. Aku tidak ingin dia bergantung padamu terus-menerus. Apa kau mau melakukan permintaanku?" Jelas Fugaku.

"Ta-tapi kemana aku harus pergi Uchiha-san?" tanya Sakura ragu.

"Kau tidak usah memikirkan hal itu, semua sudah diatur." Ucap Fugaku.

"Baiklah aku akan melakukannya untuk Sasuke." Ucap Sakura lalu menghela napas lelah.

"Terimakasih Sakura." Ucap Fugaku tulus.

Mendengar kata terimakasih yang keluar dari mulut Fugaku dengan tulus membuat hati Sakura lega. Ternyata Fugaku tidak seegois dan semenyeramkan apa yang dia dengar. Mungkin dia memang orang yang kaku dari cara dia bicara, namun dia adalah ayah yang sangat menyayangi anaknya. Itulah yang Sakura tahu dari permintaan serta percakapan singkat itu.

"Dan Sakura? Aku punya satu permintaan lagi, jika kau tidak keberatan?" ucap Fugaku ragu.

"Apa itu Uchiha-san?" tanya Sakura penasaran.

"Mulai sekarang bisakah kau memanggilku otou-san." Ucap Fugaku yakin.

"Ha-hai tou-san!" ucap Sakura serak dan cairan bening membasahi pipinya.

"Arigatou." Ucap Fugaku lalu sambungan terputus.

Malam itu Sakura menangis bahagia karena ternyata Fugaku menyuruhnya menghilang bukan untuk menjauhkannya dari Sasuke, namun untuk menyatukan mereka meski membutuhkan waktu yang lama. Dan keesokan harinya didepan pintu apartemennya Sakura mendapati Sai dengan senyum diwajahnya untuk menjemputnya lalu membawa Sakura menuju desa terpencil di Suna.

Flashback end

.

.

.

.

.

Disebuah ruang makan yang luas suara denting sendok dan piring saling beradu ditengah keheningan. Meja makan yang besar terasa begitu sepi karena hanya ada dua orang disana. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun memakan makanannya dengan tenang dan sesekali mencuri pandang pada sang ayah yang duduk dihadapannya.

"Ada apa Hikari?" tanya Sasuke yang menyadari tatapan Hikari padanya.

"Ano, apa Itachi ji-chan akan datang berkunjung?" tanya Hikari penasaran.

"Sepertinya begitu, memang kenapa Hikari bertanya?" tanya Sasuke lalu mengalihkan pandangannya pada Hikari.

"Apa paman akan mengajak Yuki juga?" tanya Hikari penuh harap.

Sasuke terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan Hikari.

"Jadi karena Yuki? Hem?" tanya Sasuke geli.

"Jangan menertawakanku tou-chan! Ini kan salah tou-chan yang tidak mau memberiku adik!" seru Hikari kesal.

Deg

Akhir-akhir ini Hikari memang selalu merengek pada Sasuke untuk memberinya adik. Hikari bilang dia merasa kesepian tinggal dirumah yang besar tanpa teman. Dan dia juga iri pada teman-temannya yang selalu memamerkan adik-adik mereka yang masih balita.

"Hikari kan punya Yuki, kenapa harus minta adik?" tanya Sasuke.

"Tapi Yuki kan tinggal di Amerika bersama Itachi ji-chan?! Dan Hikari tak bisa melihatnya setiap hari?!" seru Hikari kesal lalu pergi meninggalkan Sasuke sendirian dimeja makan.

"Hikari?" panggil Sasuke.

"Hikari sudah seleSai makan!" seru Hikari tanpa menatap Sasuke.

Sasuke menghela napas lelah dan melanjutkan makannya.

'Sakura, bagaimana kabarmu?' ucap Sasuke dalam hati.

.

.

.

.

.

Sakura memberesakan meja makan dan mencuci semua alat makan yang telah digunakan.

"Kaa-cahn! Jiji sudah datang!" teriak Kiseki penuh semangat.

Sakura menghentikan kegiatan mencucinya lalu berjalan menuju ruang tamu untuk menyambut sang ayah. Ketika sampai diruang tamu, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Kiseki yang tengah tertawa dalam gendongan sang ayah, Uchiha Fugaku. Fugaku tersenyum hangat lalu mengacak rambut hitam kebiruan milik Kiseki yang memiliki model yang sama dengan Sasuke.

"Bagaimana kabar cucu kakek yang hebat ini?" tanya Fugaku lembut.

"Kiseki selalu baik jiji!" seru Kiseki.

"Benarkah? Pantas saja Kiseki semakin berat saja!" canda Fugaku diiringi dengan tawa.

"Itu karena Kiseki sudah besar jiji!" balas Kiseki.

Sakura menatap Fugaku dan Kiseki dengan pandangan terharu. Sejak Kiseki lahir, Fugaku selalu memanjakannya dan menatap Kiseki penuh sayang. Bahkan ketika Kiseki lahir Fugaku meneteskan airmata haru dan memeluknya penuh sayang. Saat itu Sakura tahu bahwa Fugaku sangat menyayangi Kiseki sama besar dengan dia menyayangi Sasuke.

"Tou-san?" panggil Sakura.

Fugaku mengalihkan tatapannya pada Sakura dan tersenyum padanya.

"Tadaima." Ucap Fugaku.

"Okaeri." Balas Sakura.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Fugaku lalu duduk disofa.

"Baik, bagaimana dengan tou-san dan Sasuke?" tanya Sakura.

"Seperti yang kau lihat aku sehat, dan Sasuke sepertinya sedang kurang baik." Ucap Fugaku lelah.

"Sou ka." Balas Sakura sedih.

"Jangan memasang wajah seperti itu Sakura, kau membuat tou-san merasa bersalah." Ucap Fugaku pelan.

"Ne, kenapa jiji dan kaa-chan terlihat sedih?" tanya Kiseki polos.

Sakura dan Fugaku tersadar dari renungan mereka dan menatap Kiseki yang menatap mereka dengan wajah polosnya.

Fugaku tersenyum kecil lalu mengacak rambut Kiseki penuh sayang.

"Kami tidak apa-apa." ucap Fugaku.

Sakura tersenyum lembut menatap Kiseki yang selalu mengiingatkannya pada Sasuke.

.

.

.

.

.

Setelah seleSai makan siang Sasuke pergi menuju ruang kerjanya. Sasuke mendudukan dirinya dikursinya lalu menghela napas lelah. Sasuke menutup matanya, mencoba mengusir kegelisahan yang selama lima tahun ini mengganggunya. Namun setiap Sasuke menutup matanya, ingatannya akan kembali kelima tahun yang lalu. Kemasa dimana dia masih bersama Sakura, dan melewati hari-hari bersama. Sasuke membuka matanya dan membuka laci meja kerjanya lalu mengambil sebuah pigura kecil dari sana. Sebuah pigura yang membingkai foto penuh kenangan indah dan menyakitkan. Foto Sakura yang tengah tersenyum ceria disamping Sasuke yang berwajah datar. Foto yang Sakura ambil ketika mereka masih tinggal bersama di London. Sasuke memandang pigura ditangannya penuh rindu.

"Sakura" ucap Sasuke.

Sasuke POV

"Sakura." Ucapku pada keheningan disekelilingku.

Selama lima tahun ini aku selalu menunggumu, menantimu. Setiap hari aku selalu memikirkanmu hingga aku tak menyadari jika hari telah berganti. Setiap malam aku merindukanmu hingga membuatku tak bisa tidur. Namun hanya itu yang bisa kulakukan, hanya itu yang membuatku percaya. Aku selalu percaya bahwa kita pasti bertemu lagi, aku percaya itu. karena kau selalu menjadi bagian dari diriku. Dan selamanya aku akan merasakan dukunganmu ketika aku sangat membutuhkannya. Karena kita terikat oleh benang tak kasat mata. Sekarang kau menghilang, kau memang menghilang tapi asal kau tahu Sakura, tak seharipun aku melupakanmu. Aku memang tak bisa mengatakan semua ini dihadapanmu. Tapi aku tahu kau ada disini, dihatiku. Ketika aku tersesat dan merindukanmu seperti orang gila. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sangat bersyukur memilikimu didalam hidupku. Jika saja aku memiliki waktu untuk mengatakannya padamu.

Asal kau tahu Sakura, aku akan bertemu kembali denganmu karena kau tidak benar-benar pergi. Aku bisa merasakan kehadiranmu berjalan disampingku setiap hari. Menjagaku, mendukungku, dan menemaniku.

"Aku akan bertemu kembali denganmu" ucapku yakin.

End of Sasuke POV

Always you will be part of me

And I will forever feel your strength when I needed most

You gone now, gone but not forgotten

I can't say this to your face but I know you here

I'll see you again, you never really left

I feel you walk beside me

I know I'll see you again

.

.

.

.

.

Malam mulai menyapa dan suasana riang berubah menjadi kesunyian. Sakura berjalan pelan menuju taman didepan rumahnya dengan segelas ocha hangat ditangannya. Sakura duduk dikursi taman didepan rumahnya. Suasana damai dan tenang menemani kemelut pikiran Sakura. Sakura tak menyangka kedatangan Fugaku kali ini adalah untuk membawanya pulang kembali ke Konoha. Tempat dimana dia dilahirkan yang memiliki banyak kenangan. Bukan tanpa alasan Fugaku memutuskan untuk membawa Sakura kembali. Semua ini dilakukan atas permintaan orang tua Sakura memohon Fugaku untuk membawa Sakura pulang. Sejak pertama memang Fugaku sudah mengatakan niatnya pada kedua orang tua Sakura. Pada awalnya kedua orang tua Sakura menentang keras rencana Fugaku. Namun setelah meyakinkan mereka bahwa Sakura akan baik-baik saja, kedua orang tua Sakura mengijinkan Sakura pergi. Hanya saja lima tahun adalah batas kesabaran kedua orang tua Sakura.

"Tou-chan, kaa-chan." Gumam Sakura.

Tanpa sepengetahuan Sakura, Fugaku dan Sai tengah menatapnya dari balik kaca ruang tamu dibelakang Sakura.

"Ji-san, aku rasa lima tahun sudah cukup bagi Sasuke." Ucap Sai singkat.

"Ku rasa kau benar Sai." Balas Fugaku lalu menatap Sai.

"Aku akan menyiapkan semuanya kalau begitu ji-chan." Ucap Sai sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Fugaku.

"Aku selalu berdoa untuk kebahagian kalian." Gumam Fugaku sebelum meninggalkan ruang tamu.

Angin bertiup pelan menerbangkan helaian rambut soft pink milik Sakura. Sakura menutup matanga sejenak untuk merasakan hembusan angin diwajahnya. Mengingatkannya pada kenangan dimasa lalu. Sakura membuka mata dan menatap langit hitam penuh bintang yang menemaninya.

"Ne Sasuke, aku akan kembali." Ucap Sakura dengan senyum mengembang dibibirnya.

Sakura POV

"Ne Sasuke, aku akan kembali." Ucapku pada langit malam dan senyum mengembang dibibirku.

Dulu, kita tertawa lepas dan hari-hari menyenangkan karena kita mirip satu sama lain, saling memahami. Kau tidak tidak peduli dengan kebohongan sepele yang dulu dilakukan bukan. Meskipun kita tak punya tempat untuk kembali itu tidak masalah. Karena kita akan saling melindungi senyum yang mengembang dibibir. Banyaknya bintang dilangit sama dengan orang-orang yang pernah kutemui. Pergi, atau bahkan meninggalkanku pada akhirnya. Aku tidak pernah berpikir aku kekurangan apapun saat ini. Aku hanya ingin berada disampingmu Sasuke. Melihat kebahagiaan, kesedihan, dan semua hal yang kau lalui. Itu semua dimulai dari sini, saat ini juga. Aku harap kita dapat mengawali masa depan kita sekarang. Mulai hari ini aku yakin kita akan menjaga perasaan yang kita bawa sejak lama. Karena perasaan itu seperti daun yang berterbangan diterpa angina musim panas. Aku akan kembali dan memastikan kenangan yang kita miliki akan mekar untuk waktu yang sangat lama.

"Aku akan pulang, Sasuke." Ucapku bahagia.

End of Sakura POV

There are as many stars as people I've met, left

or the things I don't want to lose

I don't think I lack anything, now

I just want to by your side, watching

Happiness, sadness,and everything else

It start right here, right now

Let's make the future begin now

.

.

.

.

.

TBC


Akhirnya update juga :D *tebar bunga

Gimana chap kali ini? Apakah memuaskan? *semoga iya :D

Maaf nih author ga kilat update.a, hehehe

Soalnya author lg sibuk kuliah dan banyak tugas T^T *curhat

Seperti biasanya, hal yang bisa kita pelajari dari chap ini adalah

"ibu adalah seseorang yang memiliki jiwa begitu tegar meski dalam kesulitan. Dia akan berusaha membuat kita bahagia dengan caranya yang kadang tidak kita duga" *love you mom T^T*

"seorang ayah memang selalu bermuka garang dan bicara dengan keras, tapi itu semua bukan berarti mereka tidak menyayangi kita. Karena jika kalian lihat lebih dekat, kalian akan tahu kalau ayah adalah orang yang paling peduli pada kita dan selalu mengawasi kita. Ayah selalu punya cara lain untuk menunjukan kasih sayangnya." *love you dad T^T*

Dan yang lain

"jangan pernah berhenti percaya pada mimpi yang kalian buat. Karena sebagian mimpi memang membutuhkan jalan yang panjang untuk mewujudkannya. Jangan pernah berhenti dan berusaha. Lakukan yang terbaik dan lakukan kebaikan disetiap prosesnya. Hingga kau tidak akan menyesal nantinya"

Ya, jangan lempar author yang banyak omong ini :D

Semoga kita bisa mengambil nilai positif dari sebuah cerita, meski itu fiktif sekalipun. Karena kebaikan itu sesungguhnya memiliki banyak wajah ^^/

Seperti biasa, akhir kata tapi bukan kata terakhir

Silahkan tinggalkan jejak kalian jika berkenan ^^

Arigatou minna~ ^^