Iam Not Angel
Summary :
Naruto jadi artis? Kok mendadak Naruto begitu terkenal seantero Konoha. Teroris? Masa sih cewek lemah nan miskin macam Naruto jadi begitu ditakuti semua gengster dan Yakuza. Sebenarnya siapa Naruto itu? Sorry summary rada gak nyambung and kurang OK. Maklum masih pupuk bawang.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort and Friendship
WARNING
Cerita Pasaran, Typos, OOC, AU, Newbi, Republish, and many mores
Pair : Tebak sendiri ^-^
Don't Like Don't Read
Author Note:
Tadi pas aku baca ulang fic ini, bener ada keanehan, entah para reader nyadar atau gak. Di Chap 9 ada cerita tentang Yakuza pimpinan Orochimaru dan di ch 6 dan ch 1 ada Orochi sensei yang punya peliharaan Manda. Jadi ada dua nama Orochi. Meski nama sama, orangnya beda. Harap maklum, kalo ada reader yang kebingungan.
Chapter 11
Akhirnya Hinata bisa bernafas lega, tak dikawal Neji lagi. Beberapa minggu ini ia bagai hidup di neraka. Apa yang pernah dialami Naruto terjadi padanya. Bayangin aja? Siapa yang gak marah-marah kalau kemana pun dikuntit kakaknya yang super duper arogan? Ia gak boleh kesini gak boleh kesitu. Abis sekolah harus langsung pulang ke rumah. Aduh malas banget dech. Mungkin hanya Naruto doang yang seneng digituin. Dia sih ogah. Lalu dimana letak kerennya? Paling kakaknya lagi pamer kekuatan ama dia lagi, bahwa ia berhak menentukan hitam putih hidupnya. Dasar payah.
Mobil yang dikendarai Ibiki, sopir Hinata meluncur dengan tenang membelah jalanan. Tiba-tiba di jalan terjadi kemacetan panjang di jalan yang biasa dilintasinya. Katanya ada kecelakaan maut di depan makanya macet. Karena ia harus pulang tepat waktu seperti intruksi Neji-sama majikannya, ia memilih jalan alternatif, melewati gang-gang sempit. Tak pernah terlintas di benaknya kalo pilihannya itu akan membawa kematian bagi kedua majikannya.
Baru beberapa meter mobil berjalan, tiba-tiba ada seorang pria berkulit biru dengan wajah angker seperti monster, menghentikan mobil mereka. Hinata merasakan ada bahaya menghadangnya. Ia komat kamit merutuki Neji. Kenapa ia memilih waktu sekarang untuk tak mengikutinya? Kenapa gak kemaren-kemaren aja? Sekarang, habis dech riwayatnya. Mending kalo langsung dibunuh, kalo diperkosa dulu apalagi kalo banyakan? Hiiiii, bulu kuduk Hinata berdiri semua. Tapi ia tak punya banyak waktu berfikir karena pria itu sudah membuka paksa pintu mobilnya dan menyapanya dengan suara berat nan mengintimidasi.
"Permisi, nona cantik! Bisakah anda keluar baik-baik? Jika tidak terpaksa kami akan menyeret anda?" Kata pria menyeramkan itu sebelum kegelapan menarik Hinata saking ketakutannya.
SKIP TIME
Neji mengendarai mobilnya ugal-ugalan. Beberapa kali ia menyerempet mobil orang lain atau para pejalan kaki yang dibalas dengan segala macam jenis umpatan. Ia tak perduli semua itu. Ia juga tak perduli dikejar polisi lalu lintas karena kecepatan mobil diatas 100km/jam. Ia bahkan tak perduli nyawanya melayang akibat ulahnya ini. Ia hanya tahu, ia harus cepat kalo tidak nyawa Hinata jadi taruhannya.
Tadi Neji mendapat email dari seseorang berupa foto Hinata yang ketakutan karena ada seorang pria yang mau memperkosanya. Baju seragamnya sudah sobek, sedang roknya masih utuh. Di sisi lain ia melihat Ibiki babak belur dihajar beberapa orang. Begitu dapat email, ia langsung melesat pergi. Tak dihiraukannya teriakan kesal ceweknya.
Sepanjang jalan ia mengutuk dirinya sendiri kenapa hari ini ia lalai menjaga Hinata. Kalau sampai ada apa-apa dengan Hinata, ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Brukkkk, ia menubrukkan mobilnya pada orang-orang yang menyiksa Ibiki. 'Waaaa' teriak orang-orang yang ditubruknya. Ia keluar dari mobil dan mulai menghajar orang-orang yang menghalanginya.
Tangkis tendang tangkis tendang, itulah yang terjadi. Neji berulang-ulang menendang dan menonjok orang-orang yang menghalanginya. Bukkkk. Salah seorang dari mereka memukul punggung Neji dengan balok kayu menyebabkan ia oleng dan jatuh ke depan. Hal ini tak disia-siakan oleh mereka. Mereka langsung mengeroyok Neji, menendang, memukul dengan tangan kosong maupun pentungan. Setelah Neji tak berdaya ia dihadapkan pada Kisame, pimpinan geng.
Dengan kondisi menyedihkan, tubuhnya yang berlumuran darah, mukanya bonyok, memar di sekujur tubuh, dan kedua tangan dan kakinya patah, Ia menantang pria di depannya. Ia tak takut dibunuh, ia hanya mengkhawatirkan nasib Hinata. Ia menyesali diri sendiri yang sembrono, datang ke sarang musuh tanpa persiapan apa pun. Ia sudah pasrah jika dibunuh, tapi ia tak akan rela jika mereka menyentuh imouto yang sangat disayanginya. Sungguh ia menyesal. Ia hanya berdoa akan ada pertolongan, meski ia tak yakin doanya didengar. Orang brengsek sepertinya apa masih pantas diperhatikan Tuhan?
Bukkkkk. Kisame menonjok tepat perutnya, membuyarkan lamunannya. Sakit sakit sekali rasanya. Ohokkk, ia mengeluarkan cairan bercampur darah. Amis dan sedikit rasa asin rasanya. Ia sempat mengecap cairan menjijikan itu. Meski badannya remuk redam, ia memaksakan diri, menggigit bibirnya agar tak ada suara kesakitan keluar dari mulutnya. Ia tetap menantang Kisame. Benar-benar keras kepala ni anak.
"Berani sekali kamu menatapku seperti itu, sampah!" Katanya emosi, merasa terhina. Ia bertubi-tubi memukul perut Neji karena ingin mendengar erangan kesakitan Neji. Sayangnya semua itu percumia. Neji keras kepala, tak membiarkan hal itu terjadi, membuat emosi Kisame semakin memuncak. "
"Aku bisa saja membunuhmu sekarang. Tapi tidak. Itu tak menarik. Aku akan memperkosa adikmu di depanmu begitu juga dengan teman-temanku. Itu lebih menyakitkan, iya bukan." Ancamnya sukses membuat wajah Neji memutih. Puas mengancam Neji, ia beralih pada Hinata yang melihatnya dengan sorot ketakutan.
Tubuh Hinata menggigil ketakutan. Pria itu telah merobek bajunya hingga tak berbentuk di depan teman-temannya tadi. Pada waktu kakaknya datang, ia merasa senang. Belum pernah ia merasa sesenang ini melihat kedatangan Neji. Ia berharap kakaknya bisa menolongnya. Melihat kakaknya yang sudah tak berdaya, pikirannya langsung blank. Ia tak mampu berpikir.
Kisame tak membiarkan Hinata tenang. Ia mengelus-elus tubuh mulus nan putih Hinata sebelum meremasnya keras diiringi teriakan Hinata. Teriakan Hinata membuatnya makin bernafsu begitu juga dengan teman-temannya. Sebenarnya ia ingin langsung menerkam gadis ini sejak tadi. Tapi kalo hanya begitu saja tidak asyik. Ia benar-benar ingin memastikan Neji melihat semuanya.
"Jangan pernah menyentuh Hinata, brengsek!" Maki Neji berusaha memberontak. Ia mencoba menggigit orang yang memeganginya untuk melepaskan diri, tapi tak berhasil. Mereka semakin sadis memukulinya. Akibatnya Neji jatuh pingsan.
'Tidak ia tak boleh pingsan. Ia harus sadar. Nasib Hinata ada ditangannya. Tapi aku sudah tak kuat.' Batin Neji. Matanya berkunang-kunang akibat pukulan bertubi-tubi di sekujur tubuhnya. Sebelum tak sadarkan diri, entah mengapa ia berhalusinasi mendengar teriakan nyaring sosok yang amat dikenalnya dengan baik.
SKIP TIME
Naruto mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia ingin cepat sampai ke rumah neneknya. Tadi ia mendengar kabar bibinya mau melahirkan, sedangkan pamannya sedang tak ada di rumah ada dinas di luar kota. Ia diminta ke rumah untuk membantu bibinya karena neneknya sudah tua, tak mampu mengurusnya seorang diri. Sialnya di tengah jalan rantai sepedanya putus. Ia terpaksa turun dan membetulkannya sendiri.
Baru saja ia mau bernafas lega. Pas nengok ke samping ia melihat... seekor anjing jenis blesteran anjing dan serigala yang ukurannya gede tepat di sampingnya. 'Alamak, apalagi ini? Kenapa ada yang begituan di sini?' batinnya ngenes. Tahu sendiri kan, ia takut banget ama anjing jenis apapun. Ia mundur selangkah, Mr. Dogi maju selangkah. Mundur lagi, anjing maju lagi. Begitu terus menerus hingga akhirnya ia memutuskan lari dan always anjing liar itu masih setia mengikutinya dari belakang. Kejar-kejaran diantara mereka pun tak terhindarkan.
Naruto berlari kesetanan, menyusuri tiap gang-gang. Ia makin panik karena ternyata eh ternyata gangnya sepi, tak berpenghuni. 'Mimpi apa gue semalam, kok sekarang gue dikejar kejar anjing anjing liar? Gimana caranya ia minta bantuan?' batinnya merana. Ternyata Tuhan Yang Maha Baik masih berpihak padanya. Sayup-sayup ia mendengar ada orang bercakap-cakap. Tanpa ngecek mereka itu orang baik-baik atau gak, Naruto langsung berlari ke arah mereka karena anjing yang mengejarnya bukan lagi satu, tapi ternyata bertambah banyak. Sejak kapan kawanan anjing itu mengejarnya, ia juga gak tahu. Ia hanya satu hal, kalo berhenti mampuslah dia.
'Aaaaaa...' teriak naruto diiringi 'guk guk guk' menabrak Kisame dkk. Naruto mau lari lagi, sampai matanya melotot, tak sengaja melihat Hinata yang udah setengah telanjang sedang dinistai Kisame. Ia segera membawa lari Hinata ketika perhatian Kisame teralihkan dan sibuk bertarung dengan anjing-anjing liar yang kemungkinan besar terkena virus rabies abis lidahnya menjulur keluar terus-menerus dan iiih air liurnya menetes menjijikan. Ia bersyukur para anjing itu punya mainan baru dan melupakan keberadaannya. Mereka berdua pun berlari kesetanan hingga mencapai pinggir jalan raya pertama takut dikejar anjing kedua takut ama Kisame and the gank.
"Hah hah hah, sepertinya kita sudah jauh. Kita cepat pergi sebelum Kisame dkk menyusul ke sini." Kata Naruto seraya memberikan kardigan buluk kesayangannya pada Hinata untuk menutupi tubuhnya.
"Gak bisa Nar. Hik hik hiks.. niisan niisan masih di sana. Aku takut... aku takut ia..." Hinata tak meneruskan ucapannya. Ia menangis tersedu-sedu di pundak Naruto.
Naruto mengernyitkan dia, melihat jalanan yang tadi dilaluinya. Masa ia mesti balik lagi. Ketemu ama si dogi lagi dong. Glek, ia meneguk ludah. Keder bukan main. Belum pernah ia merasa setakut ini. Bukannya ia takut Kisame, tapi ia takut ama si dogi. Kalo ia tergigit trus terinfeksi penyakit rabies, gimana? Tapi kalo gak nolongin Neji, Neji bisa koit. Bingung, sumpah ini semua dilematis. Oh Tuhan, ia mesti gimana dong?
"Nar.. Naruto?" panggil Hinata, membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya aku gak apa-apa. Kau pergi dulu minta bantuan. Akan ku coba nolong Neji." Setelah sepakat, mereka berjalan ke arah yang berlawanan.
Hinata menyetop taksi yang lewat untuk minta bantuan, sedangkan Naruto dengan mengerahkan segala keberaniannya kembali ke TKP. Ia komat-kamit merapalkan mantera seperti dukun agar selamat, minimal selamat dari serangan panyakit rabies. Please deh, itu cara mati paling gak elit.
Sepertinya doanya terkabul, sampai di tempat perkara, Kisame dkk sudah tumbang oleh para dogi, hanya menyisakan Kisame seorang. Ia yang sudah kepayahan sekarang dikerumuni para anjing. Naruto makin ciut nyalinya. Gimana caranya ia selamat. Selama para anjing itu masih sibuk dengan Kisame, ia berusaha memapah Neji yang sedang berbaring di tanah dekat tampat ia berdiri.
Sayang hal itu tak berlangsung lama. Begitu Kisame sudah ambruk, mereka berlari menyalak bersahutan dan mengerubungi Naruto dan Neji yang masih tak sadarkan diri. Hiiiii, ketakutan Naruto makin menjadi-jadi melihat jarak para anjing dengan dirinya yang makin dekat. Ia diam tak bergerak sambil masih dalam posisi memapah Neji. Kalo gak salah dulu ayahnya pernah bilang kalo para binatang liar akan langsung menyerang segala sesuatu yang bergerak panik karena dianggap ancaman. Jadi ia memilih diam dan berfikir bagaimana cara meloloskan diri. Para anjing itu masih berjalan hilir mudik memutari Naruto, tapi tak menyerangnya. Saat itulah Neji sadar.
"Aku ada dimana?"
"Sssst tenanglah. Jangan banyak gerak! Kita masih dalam bahaya. Sekali bergerak anjing-anjing itu akan menyerang kita." Sahut Naruto menahan agar Neji tidak banyak membuat gerakan.
Hal itu sukses menyadarkan Neji. Kesadarannya langsung 100%. Ia melihat dirinya sedang dipapah Naruto dan sedang dikelilingi para anjing liar. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat gerombolah Kisame beserta ketuanya tumbang di jalan dengan kondisi mengenaskan. Ia sedikit bernafas lega tak mendapati keberadaan Hinata. Ia yakin adiknya selamat.
Para anjing itu tak lagi mengelilingi mereka, melainkan berdiri di depan Naruto dan Neji. Salah satu anjing yang mungkin ketuanya maju lebih ke depan. Ia saling bertukar tatapan dengan Naruto. Seperti ada telepati diantara keduanya. Anjing itu lalu mengajak kawanannya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa mereka pergi?"
"Entahlah. Aku tak tahu. Mungkin ia mempercayai kita orang baik dan tak berniat mengganggu kawanan anjing jadi mereka memilih pergi. Sudahlah tak penting. Kita harus ke RS, lukamu cukup parah."
"Aku masih bisa bertahan, tapi bisa kau periksa Ibiki, sopirku. Itu yang pakai seragam dengan lambang Hyuga."
"Baiklah." Naruto memapah Neji ke mobil yang tadi dikendarai Hinata karena mobil Neji sepertinya rusak parah di jok belakang.
Setelah itu ia memeriksa Ibiki yang ternyata masih hidup, tapi pingsan karena lukanya sama parahnya dengan Neji. Ia pun memapahnya seperti Neji dan ditaruh di dekat Neji. Sesudah semua beres, mereka pun meluncur ke RS. Ia menyerahkan mereka berdua pada pihak RS. Ia masih harus menjemput bibinya dengan meminjam mobil Neji, tentu saja atas seijin Neji, ke RS untuk melahirkan.
Akhirnya ia bisa bernafas lega. Semua kerepotan ini berakhir sudah. Ia tertidur di bangku depan ruang bersalin, menunggu dedeknya lahir. Ia tak menghiraukan orang yang berlalu lalang dan memandangnya dengan tatapan mencemooh ataupun heran. Ia merasa sangat lelah dan membiarkan dirinya dibuai ke alam mimpi. Ia sama sekali tak menyadari kehadiran Ino dan Kiba yang datang setelah dikabari Hinata. Ia tak memperdulikan ucapan terima kasih Hinata dan keluarga yang terdengar sayup-sayup. Ia juga tak memprotes diselimuti dengan kain berbau RS oleh Ino. Saat ini ia hanya ingin tidur.
SKIP TIME
"Gagal lagi rencanaku. Sepertinya aku tak akan pernah bisa menghabisi Big Four sebelum menyingkirkan gadis ini." Batin orang itu. Ia sangat murka mendengar kegagalan Kisame. Hal baik yang didengarnya hanyalah Kisame tidak membuka mulut karena ia sudah tewas akibat serangan anjing-anjing liar itu. Orang yang sudah mati, tak bisa ditanyai lagi.
"Besok, Kau akan habis. Jangan harap kau bisa tertawa lagi seperti sekarang!" Katanya sadis seraya melempar foto Naruto dengan sebilah pisau tepat di kepalanya.
SKIP TIME
Ino terpana tak percaya. Orang tuanya menjemputnya dan berniat mengajaknya tinggal serumah lagi. Ia menangis terharu, orang tuanya sudah memaafkan. Ia nyaris langsung mengiyakan untuk pergi hari itu juga. Ia lalu teringat Naruto, sahabatnya yang sudah berbaik hati mau menampungnya selama ini. Ia pun bilang pada orang tuanya untuk pindah besok saja karena ia belum pamitan dengan Naruto yang sialnya belum pulang dari tadi. 'Apa mungkin persalinan bibinya begitu lama jadi ia memutuskan menginap dan menemani bibinya di RS? Tapi setidaknya ia kan bisa ngasih kabar dulu. Jangan biarkan aku khawatir dong!' batinnya gelisah.
Sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa Gaara, ia jadi lebih mudah gelisah. Ia selalu merasa takut dan cemas kalo ada apa-apa dengan Naruto. Seperti saat ini. Ia terus-menerus menghubungi ponsel Naruto, tapi tak diangkat. Ia baru tahu kabar Naruto setelah Kiba mengabarinya bahwa Naruto sekarang ada di RS Konoha. Mereka berdua pun berangkat berbarengan.
Di depan RS, mereka dijemput Hinata yang tumben penampilannya acak-acakan dan bukannya itu cardigan Naruto? Jangan bilang kalo Naruto terlibat dalam masalah Big Four lagi. Rasa cemas semakin menderanya. Ia pun bangkit menyongsong Hinata menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan beraroma antibiotik. Ia menahan diri tidak muntah. Sambil jalan, Hinata pun menceritakan kronologis peristiwa itu secara singkat. Kiba menggeram, kesal karena lagi-lagi kecolongan. Untung Naruto datang nolongin kalo gak? Ia tak bisa membayangkan nasib buruk yang mungkin menimpa gebetannya. Kalo Neji sih ia gak perduli.
"Lalu dimana Naruto?"
"Dia tadi menemani bibinya yang mau melahirkan. Ah itu dia!" Tunjuk Hinata pada seorang gadis yang sedang duduk di kursi dengan kepala tertunduk. Kepalanya terantuk-antuk, tandanya si empunya mengantuk. Kami pun menghampirinya.
TBC
Apa yang sedang direncanakan orang itu? Ikuti kisah selanjutnya. Maaf updatenya telat lagi gak mood soalnya. Biasa lagi galau karena abis ditinggal orang tersayang.
