[ 201014 | 0406 ]

Kaisoo Gender switch

Sexy Rose

Chapt 11

"Precious Rose"

Music : Fur Elise - Beethoven

By. Lien

::::


.

As joy dances away, spring becomes the wings of my tears,

They turn to fluttering flower petals, meant only for you.

Whenever you feel the wind's caress, I am with you...

Protecting you, as you live and breathe,

Is more important than any sadness or loneliness.

If we are reborn someday, we'll meet beneath the cherry blossoms,

And when we do, I swear we'll smile and laugh forever.

.


. . .

"...Kegelapan mencari cahayanya. Iblis mencari malaikatnya. Kim Jongin mencari Kyungsoo-nya..."

Mata sudah lelah untuk memandang, kaki letih untuk melangkah. Jiwa seakan rapuh tuk merasakan, ingin semua ia istirahatkan sejenak dalam hentian napas dan pejaman mata. Terlalu pedih. Sedikit sentuhan dalam sukma yang damai, merebut ketenangan yang tersimpan, berhembus datang tak menyapa, meraup wangi di kala tersenyum, membanjir mata tak terjaga. Ia terjatuh pelan dalam seketika. Terasa sesak napas di dada. Sungguh berat badannya untuk menyangga. Rasanya ia selalu terjatuh saat berpijak.

Benang terputus, ia tersesat. Kehilangan arah dalam pencarian. Dalam ketenangannya ia putus asa. Obsesi dendam yang mengakar kuat dalam raga, telah terpotong dengan mudah oleh keputusan hati yang tak lagi mendusta. Tegas bisikanya telah menyemai benih-benih bunga.

Yang ia inginkan saat ini, hanya bertemu dengannya. Tetapi dia menyembunyikannya dengan sangat sempurna, sampai seorang Kris sebagai pencari terlihai tak bisa menemukannya.

Kegilaan memuncak. Ia frustrasi. Ini sudah hampir satu minggu, entah apa yang terjadi padanya. Ia tertunduk, rambut diremas putus asa.

"Aku mengerti kau ingin segera menemukannya," Luhan mendekat dan menyentuh pundak Jongin. "...tapi bersabarlah sedikit lagi, Kris sedang mengusahakannya." Ujarnya menenangkan.

"Chanyeol sudah pasti membaca langkah kita, karena itu ini tidak akan mudah." Sambung Sehun yang tengah duduk di seberang meja. "Tapi apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan setelah menemukan Kyungsoo?"

Tak ada tanggapan.

"Kau mengerti apa yang akan terjadi setelah itu, bukan?" Lanjut Sehun persisten.

"Aku tidak bisa berpikir." Hanya itu yang keluar dari bibir Jongin. Ia masih tertunduk.

Helaan napas terdengar dari seberang. Sehun menatap datar pada Jongin. "Yah... aku tidak memaksamu untuk berpikir, tapi setidaknya pikirkan bagaimana kau akan melindungi Kyungsoo setelah itu."

"Sebenarnya aku tidak ingin membandingkan siapa yang paling terluka diantara kalian, tetapi kondisi Kyungsoo adalah yang paling krusial jika kau dan Chanyeol tidak menghentikan semua ini." Luhan beranjak, lantas duduk di samping Sehun.

"Apa boleh buat, mereka sudah tersesat oleh ambisi mereka sendiri. Dan Jongin, dia termakan oleh rencananya sendiri." Sambung Sehun sarkastis.

Kini helaan napas lemah terdengar dari bibir Luhan. "Jangan terus menyalahkannya, kau akan membuatnya semakin tertekan." Tegur wanita itu pada suaminya sembari menatap tajam.

Sehun tersenyum menenangkan lantas mengusak puncak kepala istrinya sebelum membelai rambut panjangnya. "Sekali-sekali kau harus keras pada adikmu." Ucapannya pun bernada sarkasme. "Agar dia konsisten dengan tujuannya, terutama kali ini, kita tidak bisa membiarkan dia pergi tanpa mengerti apa yang akan dia lakukan."

Luhan menoleh pada Jongin, menatapnya miris penuh rasa iba. Pria yang sudah diakui sebagai adik kandungnya sendiri itu tak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Sejak ia belajar mengingat, Luhan hanya tahu bahwa Jongin tak pernah bahagia. Jongin tak pernah tersenyum untuk dirinya sendiri. Dia hanya pria yang hidup di dalam kegelapan dan bernapas atas nama dendam. Tetapi kini setelah dia mengerti sebuah kebahagiaan, mengapa kebahagiaannya justru tersembunyi di balik jurang tak berdasar. Mengapa harus istri dari kakaknya? Mengapa harus jalan penuh dosa? Mengapa harus yang terlarang?

Adikku yang malang, tak akan ada seorangpun yang membenarkan jalanmu. Bahkan aku tak menginginkan kau berjalan di jalan seperti ini.

Luhan ingin Jongin menyerah, sesungguhnya, tetapi tidak akan ada kebahagiaan yang lain bagi Jongin selain Do Kyungsoo. Karena itu selama ini ia terus berada di sampingnya dan mendukung keinginannya.

"Aku ingin istirahat." Jongin beranjak dari kursi dan menghilang di balik pintu ruang keluarga.

Sehun tertunduk sembari memijat kedua pelipisnya.

"Berpura-pura keras padanya ketika kau tidak bisa." Sindir Luhan, ia mengelus punggung Sehun penuh kasih.

"Aku hanya ingin dia membuka mata dan berpikir." Ujar Sehun lemah.

"Kemarilah." Luhan menarik bahu Sehun dan membawa tubuh suaminya berbaring dengan kepala di atas pangkuannya, lantas ia mulai menyenandungkan sebuah lagu yang menenangkan, karena Luhan tahu bahwa Sehun juga frustrasi memikirkan keadaan Jongin.

.

Dia hilang dalam langkahnya, hilang laksana bayangan, sirna bak kabut musim semi. Tetapi menghantui dalam mimpi, terbayang dalam angan, hidup dalam napasnya dan kekal dalam hati. Tahukah dia bahwa ia juga meringkuk menahan sakit? Pengecut jika seorang diri tanpanya. Ia sendiri menyadari bahwa tak akan ada alasan atau satu hal apapun yang bisa membuat perasaan itu lenyap. Jongin terlanjur dalam mengakui suara hatinya yang selalu dipendam.

Tak akan ada cercaan yang bisa meruntuhkannya. Tak akan ada hinaan yang akan membuatnya menghentikan langkah. Biarlah ia berlebur dengan lumpur dosa, bermandikan aroma bangkai, asalkan ia bisa memeluk sang mawar. Ia hanya perlu menutup mata dan menulikan telinga atas semua ucapan sampah.

Jongin terkekeh dalam pejaman mata. Mungkin Kyungsoo telah membuat dirinya semakin gila. Pikirnya.


.

Suara sepatu merah berhak tinggi menimbulkan ketukan semakin nyaring seiring cepatnya kaki melangkah. Suara sepatu pria di depan seakan menjawabnya dengan suara yang sama nyaring. Kesunyian koridor semakin mempertegas situasi. Yang di belakang mengekori yang di depan, dan yang di depan berusaha lepas dari yang di belakang. Sehingga yang satu menjadi iritasi.

"Berhenti mengikutiku, Byun Baekhyun!" Geram pria yang di depan sembari menoleh tajam ke belakang.

Langkah kaki jenjang itu juga terhenti. "Katakan di mana Kyungsoo." Bukan nada meminta, tetapi intonasi memerintah yang terdengar dari wanita cantik itu.

"Demi Tuhan ini di perusahaan dan kau mengekoriku seharian penuh. Tidak sadarkah kau orang-orang melihat kita?" Ujarnya tanpa mempedulikan pertanyaan Baekhyun.

"Bukankah kau sengaja berjalan di koridor sepi ini agar aku mengikutimu karena kau akan menjawab pertanyaanku, Chanyeol?" Balas Baekhyun datar serta bersikeras.

Chanyeol mendekat, dan berhenti hanya beberapa jarak di depan Baekhyun. "Apa yang kau inginkan?" Perntanyaan dengan suara dalam dan mengancam, mengirimkan kengerian pada wanita yang dihadapinya.

Tetapi mata sipit wanita itu tak menunjukkannya, dia masih terlihat kokoh, dan siap.

"Aku sudah mengatakannya berpuluh-puluh kali dalam sehari ini. Kau hanya tinggal menjawabnya." Balas Baekhyun tak kalah dingin.

"Kenapa?"

Baekhyun mengerti arti pertanyaan singkat itu. "Aku hanya ingin mengetahui keadaannya." Ia tak sepenuhnya berbohong, meskipun di balik itu ia mencarinya untuk membantu seseorang.

"Sejak kapan kau peduli pada Kyungsoo? Kau bahkan tidak memiliki ikatan emosional dengannya yang mengharuskanmu berbuat sejauh ini hanya untuk mengetahui keadaannya." Skakmat. Chanyeol mematikan langkahnya.

Baekhyun mengatup bibirnya rapat. Yang terburuk adalah karena Chanyeol bukan pria yang mudah dikelabui. Tentu dirinya bukan lawan yang sebanding untuk memulai perang argumentasi.

"Sikapmu yang membuatku khawatir padanya." Jawab Baekhyun sekenanya, yang ada di pikirannya.

Suasana tiba-tiba hening.

Chanyeol menatap dengan ekspresi tak terbaca, membuat wanita itu mengerutkan kening.

"Baekhyun, aku mencintainya."

Ia terdiam. Baekhyun sudah tahu itu. Tetapi mengapa ia merasa tak nyaman mendengarnya. Apa yang merasuki dirinya? Apakah kepedulian dan rasa iba terhadap pria yang ia ketahui sesungguhnya menyembunyikan luka yang dalam, telah mempengaruhi hatinya?

Baekhyun mulai berpikir lebih dalam, benarkah ia melakukan ini untuk membantu Jongin? Benarkah hanya atas perasaan terenyuh pada takdir Kyungsoo? Atau sesungguhnya karena ia ingin melepaskan Park Chanyeol dari deritanya setelah ia melihat jelas bahwa pria Park itu juga terpuruk. Yang mana alasannya? Apakah ketiganya? Atau...

Pikirannya mulai tersudut. Ia menghela napas, lantas melihat Chanyeol yang tengah mengerutkan kening menatap dirinya yang tengah melamun di tengah konversasi.

"Aku akan menjadi pengganti Kyungsoo." Ujar Baekhyun. Itu bukan kalimat putus asa, tetapi diucapkan dengan penuh kesadaran.

Pria tinggi itu terpaku. Baekhyun berhasil membuat pikirannya membentur tembok.

"Aku akan menjadi pengganti Kyungsoo. Jika perlu aku bisa menjadi seperti dirinya, atau seperti yang kau inginkan, tapi ku mohon lepaskan dia, dan hentikan semua ini." Lanjut Baekhyun, nada suaranya membujuk.

Chanyeol termangu dengan raut wajah terkejut. "Sebenarnya apa yang membuatmu menjadi seperti ini."

"Aku tahu tidak seharusnya aku campur tangan, tetapi aku tidak bisa begitu saja mengabaikan apa yang sudah ku lihat." Akunya, kini Baekhyun terlihat frustrasi.

"Kalau begitu tetaplah di luar garis, Baekhyun. Aku tidak akan segan menghancurkanmu juga jika kau melangkah lebih dari ini." Mata itu kembali menajam, memberi peringatan serta gertakan.

Sakit. Ia pun sudah memprediksi penolakan itu. Tetapi tetap saja sakit, tanpa alasan jelas yang ia ketahui.

Baekhyun menelan ludah kasar. "Kau mencintainya tapi dia tidak mencintaimu, Chanyeol. Sekeras apapun kau berusaha mengikatnya dia tidak akan pernah mencintaimu."

"Kau pikir aku tidak mengetahui hal sesederhana itu?" Geram pria itu. "Dengar, aku tidak peduli dia mencintai siapa. Aku hanya perlu menyimpannya di sisiku. Selamanya." Ujar Chanyeol mutlak.

Jika begitu, itu artinya kau akan menderita selamanya. Kau akan terluka seumur hidupmu. Dan kau akan menghancurkan setiap tarikan napas mereka yang saling mencintai.

"Berhenti melakukan hal yang tidak berguna." Ujar Chanyeol sedikit lebih tenang. "Ayahku menyayangimu seperti putrinya sendiri, jangan membuatku melukaimu."

Baekhyun terpaku. Menatap diam pada pria yang kemudian melangkah jauh dari jangkauan mata. Hatinya membeku, dan lagi-lagi tanpa alasan rasanya ia ingin menumpahkan sesak di dada ke dalam tangis yang ia tahan.

Semakin masuk ke dalam kehidupan mereka, perasaannya semakin kacau.


.

Hujan.

Hujan telah kembali lagi, mengguyur deras menyapa sepi, seketika mengusik hati. Hening rinainya mulai bersenandung resah, tersulam rasa dalam duka kerinduan, meninggalkan sepenggal cerita lara. Pada siapa ia harus titipkan syair kelam saat cinta berselimut kabut hitam? Haruskah ia diam dan membisu, tersudut ruang kegelapan hatinya?

Helaan napas gelisah terdengar di kamar yang sunyi. Tangan mengelus perut yang semakin membengkak. Mata menatap sayu pada jatuhnya tangisan langit yang menimbulkan embun melapisi kaca bening yang memisahkan kamar dengan beranda. Di luar sana, pohon-pohon di hutan melambai mengikuti ke mana arah angin bertiup.

Suasana ini, membuat hatinya semakin hampa.

"Apa kau sedang menikmati kebahagiaanmu?" Ucapan sarkasme bernada sumbang memecah keheningan.

Kyungsoo menoleh ke arah sumber suara. Di sana Chanyeol sedang menyender pada sisi pintu. Tatapan mata bulat wanita itu berubah datar tanpa emosi. Tetapi ia tak akan menyalahkan pria itu atas sindirannya, karena kenyataan bahwa dokter Xiumin tidak bisa mengangkat janin di perutnya, sudah mematahkan rencana Chanyeol. Usia kehamilan yang semakin bertambah matang mengakibatkan tindakan itu akan membahayakan sang Ibu, dan tentu Chanyeol tidak akan mengambil resiko untuk membahayakan nyawa Kyungsoo. Karena itu mau tidak mau Chanyeol harus berdamai dengan dirinya sendiri untuk bisa menerima kenyataan itu.

"Nikmati sepuasnya, karena setelah dia lahir, kita akan menyerahkannya ke panti asuhan di luar Negeri."

Kalimat itu terdengar bersamaan dengan petir menggelegar di luar sana. Seharusnya Kyungsoo yang paling mengerti bagaimana sifat Chanyeol, tetapi ia lengah dan tak memikirkan kemungkinan itu.

"Chanyeol..." Rajukan putus asa mengalun dari bibir pucat Kyungsoo. "Ku mohon,"

"Tidak tidak, sayang...kau tidak berhak memohon." Sela Chanyeol. Dia berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang samping Kyungsoo. Tangannya terangkat, meraih pipi tirus wanita berambut merah. "Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku, tapi pengkhianatanmu telah mengingatkanku kembali bahwa kau hanyalah pelacur jalang." Ujarnya.

Air mata mengenang di pelupuk, hingga tumpah perlahan dalam jejak di pipi. Sudah sepantasnya ia mendapat cacian itu. Kyungsoo tak menyesali kalimat Chanyeol. Ia hanya menyesali karena telah melukai pria itu.

"Bahkan tangismu kini hanya terlihat seperti dusta, sayang." Chanyeol menghapus air mata di pipi kanan Kyungsoo. "Kau harus membayar semua yang telah kau lakukan, dan aku yang memutuskan bagaimana kau akan bernapas."

Hanya gemuruh hujan yang terdengar, ketika keduanya berdiam dalam tatapan dalam.

Kyungsoo menunduk. "Terimakasih." Setidaknya dia akan terlahir ke dunia.

Chanyeol menyeringai, lalu mendecih. "Terimakasih?" Derai tawa terlepas. Dia berdiri dan beranjak ke arah pintu. "Oh, Kyungsoo, kau benar-benar pintar memainkan perasaan pria." Chanyeol berkata selagi berjalan memunggungi Kyungsoo, dan tak terlihat lagi saat keluar dari ruangan.

Kyungsoo semakin tertunduk dalam. Kemudian terisak.

Ia butuh kekuatan untuk lebih kuat. Dan bertahan.

Tetapi hanya dengan bayangan wajah Kim Jongin yang muncul dalam benak, dapat menghentikan suara isaknya. Betapa ia merindukan pria itu. Betapa ia ingin meringkuk dalam dada kokohnya dan bersembunyi dari segala macam sakit. Namun takdirnya adalah menebus dosa pada Park Chanyeol. Lalu apa yang harus ia lakukan?


.

Kedatangan Kris ke rumah Sehun dan Luhan bagai membawa angin segar di musim kemarau. Pria itu menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan sebuah alamat.

"Aku membutuhkan waktu yang cukup lama karena Park Chanyeol menyembunyikan Kyungsoo dengan sangat baik." Pria blasteran berambut pirang itu menyandar pada punggung sofa sembari menyilang kaki.

Jongin termangu. Hampir satu bulan ia menunggu. Ia bahkan hampir menyerang langsung ke kediaman keluarga Park jika saja Luhan tak menahannya. Karena ia sudah putus asa, selagi waktu terus berjalan.

Kali ini benarkah ia bisa menemuinya?

Ia mengambil kertas yang diletakkan Kris di atas meja, dan menatap huruf-huruf dan angka-angka yang menunjukkan di mana keberadaan Kyungsoo.

"Pulau?" Gumamnya.

"Ya, Park Chanyeol membawa Kyungsoo ke pulau pribadi milik keluarga mereka. Tempat rahasia yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali para Park sendiri." Jawab Kris ringan.

"Bagaimana kau menemukannya?" Sehun yang tengah duduk berdampingan dengan istrinya ikut menimpali.

"Sayang sekali aku tidak bisa memberitahumu bagaimana aku bekerja, Sehun." Kris terkekeh.

"Kenapa kau bersikap seperti orang asing bahkan pada sepupumu sendiri." Celetuk Luhan.

"Maafkan aku kakak ipar, tapi tetap saja aku tidak bisa memberitahu kalian." Kris membuat tanda silang dengan jarinya. "Jadi...bagaimana? Kapan kita akan berangkat, Jongin?" Pria jangkung itu mengalihkan perhatiannya pada Jongin.

"Tidak." Jawabnya tegas. "Aku akan pergi sendiri." Jongin memutuskan.

Ruangan seketika hening, tiga pasang mata terpaku pada pria yang masih menatap kertas di tangannya.

"Jangan gila!" Seru Luhan akhirnya.

"Jika ingin bunuh diri tidak di sana tempat yang tepat, Jongin." Sindir Sehun tajam.

"Jongin yang ku kenal tidak bodoh, jadi mari dengarkan apa rencananya." Kris menengahi, dia menurunkan kaki dan menumpu kedua siku di atas lutut dengan punggung menunduk.

"Aku tidak punya rencana." Jawab pria itu lugas.

"Bagus. Kurasa kau sudah bodoh." Sela Kris cepat dengan ekspresi frustrasi sembari melempar tubuhnya kembali menyadar pada sofa.

"Dengar sahabatku, Kim Jongin. Kami tahu kau tidak lemah, tapi kau juga harus tahu orang-orang pribadi yang Chanyeol pilih tidak selemah yang kau pikirkan." Kris menggerutu, wajahnya terlihat sedikit jengkel.

"Kau bisa saja mati di tangan orang-orang Chanyeol bahkan sebelum sempat bertemu Kyungsoo." Sambung Sehun datar.

Jongin mengangkat wajah lalu menatap kedua sahabatnya. "Aku membawa Kyungsoo dari rumah itu seorang diri, sekarang pun aku akan menjemput Kyungsoo seorang diri. Tidak peduli bagaimanapun situasinya." Ia menjeda selagi menghela napas. "Dengan kalian ikut bersamaku, apa kalian ingin membuatku terlihat seperti seorang pengecut?"

Ketiga orang itu terdiam. Kini mereka mengerti jalan pikiran Jongin. Pria itu, ingin mendapatkan Kyungsoo dengan usahanya sendiri.

Tapi ada seorang wanita yang tetap tak bisa memasrahkannya. Luhan menatap khawatir.

"Bisakah kau berjanji bahwa kau akan membawa kembali nyawamu juga? Tidak bisakah ini di selesaikan dengan permbicaraan diantara kalian bertiga? Tidak bisakah—"

"Sayang," Sela Sehun sembari merangkul bahu istrinya lalu menenangkannya.

Mereka semua tahu, bahwa apa yang telah terjadi tak akan selesai dengan hanya konversasi sederhana. Jika Jongin tetap dengan keputusannya maka sudah dapat bisa dipastikan seseorang di antara mereka akan terluka fisik maupun psikis, atau yang terburuk adalah kehancuran ketiganya.

"Kris, terimakasih." Jongin tersenyum untuk pertama kali sembari memperlihatkan kertas pemberian pria blasteran itu.

"Aku akan segera datang jika kau membutuhkanku." Balas Kris dengan senyum tipisnya, yang disambut anggukan kecil Jongin.

"Luhan," Jongin beranjak mendekati wanita yang masih menatap dengan mata kepedihan. Ia bersimpuh di depan Luhan, lalu menggenggam tangannya. Ia tahu wanita cantik itu begitu menyayangi dirinya. Jongin akan selalu mengingat, selama mengarungi kegelapan hidupnya, Luhan selalu mendampingi sebagaimana seorang kakak perempuan yang begitu peduli pada adik laki-lakinya. Bahkan saat mereka keluar dari panti asuhan dan hidup mandiri, Luhan lah yang merawat dirinya. Karenanya Jongin bisa memahami gejolak resah yang dirasakan kakak perempuannya.

"Selama ini kau selalu menjadi Ayah sekaligus Ibu untukku, kau salah satu orang yang paling berharga bagiku, karena itu tenanglah, percayalah padaku. Aku akan kembali, dan membawa Kyungsoo bersamaku." Ujarnya menenangkan.

"Maafkan aku karena selalu memarahimu, tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau mengingkari janjimu." Luhan tersenyum, air mata yang mengenang di pelupuk berusaha ia tahan.

Jongin menoleh menatap Sehun di samping Luhan, dalam diam memberi isyarat untuk menjaga istrinya, yang di balas helaan napas lemah namun sarat persetujuan oleh pria berkulit pucat.

. . .


.

Setiap detik jarum jam yang dilalui selama perjalanan, Jongin merasa itu adalah waktu terlama yang pernah ia lalui, namun masa yang paling tenang yang pernah ia rasakan meskipun hatinya sudah sangat tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang sudah lebih dari tiga bulan menghilang dari rengkuhan. Rintik gerimis tak juga berhenti sejak ia menginjakkan kaki di sana, seperti pulau hujan, atau kota hujan, awan hitam tak pernah menyingkir dari langit, jalanan dan pohon-pohon menjadi basah, udara begitu dingin, angin tak lelah membelai.

Ia menghentikan mobil tak jauh dari sebuah rumah, rumah satu-satunya di daerah itu, begitu sunyi senyap walaupun beberapa orang pria berpakaian serba hitam berdiri di sekitar rumah. Jika diamati, tak ada celah untuk menyelinap, pria-pria yang menjaga rumah itu begitu waspada, seolah tak akan ada seekor semut pun yang akan lolos dari pandangan mata. Meski begitu ia memang tak berniat untuk masuk diam-diam. Tidak ketika ia datang untuk menemui Kyungsoo.

Jongin memasukkan timah panas ke dalam selongsong, menyiapkannya untuk berjaga-jaga lalu memasukkan senjata api tipe Colt miliknya ke dalam sarung yang terikat tali sandang di bahu kiri, lalu menutupinya dengan jas hitam yang dikenakannya. Tanpa keraguan Jongin keluar dari mobil, menajamkan mata selagi kaki semakin dekat ke arah rumah.

Kedatangan Jongin seperti lonceng peringatan bahwa perang akan dimulai. Para pria berbaju hitam dalam posisi sigap, mata siaga selagi tangan meraih senjata masing-masing. Sementara sang lawan masih bersikap tenang tanpa menghentikan langkah, namun jelas ancaman berada di ujung mata.

"Berhenti di sana!" Peringatan pertama terdengar mengancam.

Namun Jongin masih melangkah.

"Tuan Kim Jongin, jika anda mendekat lebih dari ini maka kami tidak akan menahan tangan kami." Seorang pria bertubuh tinggi yang bisa Jongin pastikan adalah pimpinan orang-orang Chanyeol, berdiri di tengah barisan yang menghadang.

Tetapi Jongin masih tak mengindahkan.

Lalu tembakan pertama dilepas, mengarah pada kaki kiri Jongin namun ia menghidar dengar keakuratan yang begitu tepat sehingga peluru tak mengenainya. Kegesitan dan kelincahan Jongin menghindar bersamaan saat ia bergerak mengeluarkan senjatanya sendiri, membuatnya berhasil mengenai tiga pasang kaki para pria berpakaian serba hitam. Jongin tak ingin mengambil nyawa siapapun, melumpuhkan mereka akan lebih baik, karena demi kepentingan Kyungsoo yang sudah pasti tak akan menyukai jika ia datang dengan mengorbankan nyawa orang lain.

Suara letusan terdengar saling bersahutan. Debaman dari suara pukulan dan keluhan sakit membuat suasana semakin menegangkan.

.

Napas terengah. Keringat menetes dari rambut basah. Orang-orang itu terkapar tak berdaya dan berusaha tak membunuh mereka ternyata menguras lebih banyak tenaga. Jongin berdecak, terdapat robekan di sudut bibir, goresan peluru yang meleset di bahu kanan, kedua cedera itu mengeluarkan darah, akan tetapi ia seakan mati rasa.

Kaki melangkah, mendekati pintu utama rumah. Setelah membukanya, ia dihadapkan pada seorang wanita asing yang menyambutnya dengan todongan senjata ke arahnya.

"Siapa kau?" Tanya wanita itu tajam tanpa memberi waktu Jongin untuk bernapas.

Matanya menilik, mengamati keseluruhan penampilan wanita asing itu. Dia mengenakan rok putih selutut dengan kemeja hitam, dia juga memiliki raut wajah yang lembut di balik tatapan tajamnya. Tidak mungkin wanita itu juga salah satu orang-orang Chanyeol. Namun kenyataan bahwa dia memegang senjata tanpa sedikitpun tampak gemetar, mencengangkan dan membingungkan penilaiannya.

Jongin melangkah, kening wanita itu bertaut namun dia tak bergeming, dan detik kemudian wanita itu tercekat saat melihat langkah Jongin terhenti tepat ketika ujung senjata itu menempel erat di dada kirinya.

"Apa yang kau lakukan?" Ekspresi wanita itu berubah panik.

Dan hal itu menyakinkan Jongin bahwa dia adalah orang baik.

"Di mana Kyungsoo." Tanyanya.

Wanita itu tertegun, terlihat berpikir keras. Kepekaaan yang menjadi kelebihan telah menuntunnya. Lalu ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan yang lebih, seakan teringat dan menyadari sesuatu. Lantas perlahan wanita itu menurunkan senjatanya. Dia masih membisu selagi berbalik memunggungi Jongin, isyarat bahwa dia membuka jalan.

Kini raut wajah Jongin yang terlihat bingung, memandang ragu pada wanita yang memunggunginya, sebelum ia memutuskan untuk bergerak cepat, menelusuri seluruh bagian rumah yang memusingkan. Kesabarannya terkikis, Kyungsoo tak ada di manapun, ia mulai frustrasi membayangkan bahwa ia tak akan bisa menemukan wanita itu lagi. Hingga ia menemukan sebuah koridor di dalam salah satu ruangan tertutup.

Jongin berdiri di depan pintu, jantungnya berdegup, perasaannya bergejolak. Instingnya kuat berkata bahwa Kyungsoo berada di sana. Ia memasukkan senjatanya ke dalam jas, tak ingin menakuti ataupun mengagetkan Kyungsoo, lantas ia mendorong pintu itu, sesaat ia heran karena tak terkunci, namun Jongin tak punya waktu untuk memikirkan hal kecil itu.

Pintu terbuka, dan di saat itulah ia seakan menemukan napasnya kembali. Mendung kelabu seolah sirna disinari mentari, wanita itu di sana, berdiri di samping ranjang dengan posisi defensif, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, tubuhnya begitu kurus, raut wajahnya seketika berubah terkejut menyadari seseorang yang baru saja memasuki ruangan.

Dia terlihat tak mengerti, mengapa Kim Jongin berada di sana.

.

"Kyungsoo,"

Suara itu memanggilnya. Suara yang begitu ia rindukan. Suara yang secara mengejutkan bisa menyenandungkan alunan indah kala dirinya tertekan, seperti waktu itu. Masa-masa bersama pria itu menari-nari dalam benak, membuat rindu semakin membuncah. Namun ada yang berbeda, Kim Jongin yang kokoh kini terlihat rapuh dengan tubuh yang terlihat kurus. Apa yang terjadi padanya?

Air mata mengenang, menetes deras begitu saja. Wanita itu menangis dalam diam.

Pria itu mengalihkan pandangannya, pada perut yang telah membesar. Sudah berapa bulan? Lima bulan, kira-kira? Matanya merefleksikan berbagai macam emosi yang bercampur menjadi satu. Penyesalan. Kerinduan. Cinta. Derita. Luka. Seakan segala macam rasa yang dimiliki manusia berada dalam dirinya.

"Bodoh." Rajuk Kyungsoo bak gadis belia bersamaan dengan isakan kecil yang terlepas.

"Kyungsoo," Panggil Jongin lagi, suaranya jelas merindu. "Ikutlah bersamaku," Pintanya sarat permohonan.

Isakan kecil masih terdengar, Kyungsoo menghapus air mata yang seolah enggan untuk berhenti.

Kakinya beranjak untuk mendekat, "Aku—" namun terhenti seketika.

.

Ruangan hening.

.

Kyungsoo tercekat. Matanya melotot lebar, jantungnya seakan berhenti berdetak, dunia berhenti berotasi, kala pria bertubuh tinggi telah berdiri di belakang Jongin sembari menodongkan senjata tepat di kepalanya. Seringai lebar berbaur dengan kemarahan dan kebencian mendalam.

"Maaf merusak nostalgia manis kalian." Suara bariton itu berkata.

Suasana mencekam menyelimuti udara. Memberi gelenyar dingin pada kulit. Mereka bertemu pada akhirnya, seakan parodi kehidupan mereka sudah tertulis dengan cantik namun dramatis.

"Chanyeol," Ia bersuara menggumamkan nama suaminya. Mata tak berkedip berganti menatap Ayah sang janin dalam kandungan, pria itu tak bergerak, tatapan tajam terpasang di matanya, rahang mengeras tanda siaga.

"Aku bertanya-tanya apa kau mampu datang kemari, tak ku sangka kau bisa menemukan tempat ini." Chanyeol menyeringai, pandangan berkilat tajam.

"Dan aku akan membawanya pergi." Balas Jongin tegas.

Dorongan ujung senjata pada kepala menjadi balasan dari pria yang lebih tinggi, menunjukkan posisi siapa yang terdesak saat ini.

"Ku mohon hentikan." Kyungsoo menimpali, suaranya hanya terdengar seperti bisikan sayup.

Ruangan kembali hening.

Namun hanya beberapa belas detik. Jongin menepis ujung senjata di belakang kepalanya dengan cepat kemudian melayangkan tendangan yang ditepis oleh lengan Chanyeol saat itu juga. Keduanya mundur dalam bersamaan, menciptakan jarak aman pada masing-masing, namun lagi-lagi hanya sesaat, karena ketika Jongin baru saja mengambil pistol di dalam jas, satu peluru sudah bersarang di perutnya. Chanyeol lebih cepat. Sejanta di tangan terlempar entah ke mana, dan Jongin jatuh bersimpuh. Darah mulai timbul dan membasahi kemeja putih.

Seringai lebar terlukis di bibir pria yang lebih tinggi, senjata masih mengarah pada target. Sementara Kyungsoo kini hanya terpaku, terlalu terkejut dengan kejadian yang begitu cepat, ia hanya menyadari ketika Jongin terjatuh. Air mata menetes dalam diam, mata melotot lebar, napasnya tercekat, dunia seakan mulai berputar tak jelas.

"Terlalu lemah." Sindir Chanyeol sinis. "Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku maupun keluarga Park, karena sampai kapanpun kau hanya sampah yang kami buang." Chanyeol mendekat, berdiri tepat di hadapan Jongin yang terduduk bersimpuh, lalu menempalkan ujung pistol di keningnya. "Aku sengaja menunggumu di sini, agar bisa melenyapkanmu dan mengakhiri leluconmu."

"Lelucon?" Jongin mendecih di kala ia mulai kehilangan irama napasnya. "Dendamku untuk Ibu, dan perasaanku padanya bukan lah lelucon!"

Bersamaan dengan seruan kalimatnya, Jongin menendang kaki Chanyeol sehingga menyebabkan pria tinggi itu jatuh ke lantai dengan posisi miring. Jongin berusah berdiri dengan cepat namun luka tembak di perut yang terasa panas membuat ia kembali jatuh bersimpuh. Ia pun kelelahan, setelah menghadapi belasan orang-orang Chanyeol seorang diri. Kini cedera di sekujur tubuh mulai ia rasakan, dan perlahan melumpuhkan.

"Hentikan," Kyungsoo melangkah, namun tubuhnya terasa begitu berat lantas ia berhenti. Tangannya gemetar, jantung bertalu keras menatap dua pria di depannya.

Apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan mereka?

Derai tawa terdengar tiba-tiba, mengejutkan ke dua pihak lainya. Chanyeol dengan santai kembali berdiri melihat Jongin tak berdaya. "Aku tidak peduli dengan dendam bodohmu. Tapi kau akan membayar semua yang telah kau lakukan. Kau akan menyesal sudah berani mengganggu hidupku."

Chanyeol menendang dada Jongin dan membuatnya jatuh terlentang. Pria tinggi itu mendekat lalu menginjak luka tembak di perutnya. Suara geraman pilu terdengar selama darah merembes semakin banyak mengalir. "Sudah saatnya mengakhiri permainan ini selamanya." Dia mengarahkan senjatanya lurus dengan dada kiri Jongin.

"Tidak." Gumam Kyungsoo. "Tidak. Ku mohon, jangan." Ia terisak, sekali lagi beranjak hanya satu langkah ragu sebelum berhenti. Kakinya gemetar, suaranya serak. "Ku mohon! Ku mohon jangan! Ku mohon! Ku mohon!" Pintanya terus menggumamkan permohonan sembari berderai air mata.

Chanyeol menoleh pada Kyungsoo, isak wanita itu akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia menatap wanitanya dengan mata sendu bercampur luka. "Sudah ku katakan, kau tidak pantas memohon, sayang." Ujarnya dingin.

"Kau...yang akan...ku buat, menyesal!" Jongin berucap terengah. Dengan tangan gemetar ia meraih ujung pistol Chanyeol dan menggenggamnya erat, lalu berusaha untuk merubah arah ujung senjata itu berlawanan.

Namun Chanyeol tak begitu saja berdiam diri. Saling mendorong dengan adu kekuatan, tetapi Jongin harus menyerah kala Chanyeol kembali menginjak luka tembak di perutnya dengan keras. Saat bersamaan ketika tak ada yang menyadari, Kyungsoo melangkah cepat ke arah meja di dekat jendela, tujuannya adalah senjata Jongin yang sesaat lalu terlepas dari genggamannya. Luasnya kamar menjadi penghambat ia bergerak tepat waktu, karena begitu mengambil pistol di bawah meja, suara dentuman kembali terdengar, membuatnya langsung terpaku di tempat. Jantung berdetak sakit, tanpa sadar menahan napas. Ia menoleh perlahan dan mendapati pria yang dicintainya menutup mata perlahan, sementara dada kirinya telah ditembus timah panas.

Tawa puas dari suara bariton terdengar begitu kejam. Yang perlahan menulikan telinga Kyungsoo. Wajahnya tanpa ekspresi, seakan dunia telah berakhir. Wanita itu memegang senjata yang baru saja ia ambil, dengan kedua tangan menggenggam erat lalu mengarahkan pada suaminya, kemudian rentetan tembakan terdengar. Seorang wanita amatir yang pertama kali memegang senjata api, seakan menggila menembak tanpa arah sembari memejamkan mata.

.

Ruangan hening. Untuk ke sekian kali.

Mata Kyungsoo terbuka perlahan. Kemudian yang dilihatnya adalah Chanyeol mendekat tertatih sembari memegang luka tembak di dada kanannya, lutut kiri dan paha kanan pria itu juga mengeluarkan darah selagi timah panas juga bersarang di sana.

Air mata menetes seakan tak pernah berhenti. Di saat yang sama terdengar hujan yang datang bergemuruh. Seolah dunia juga tengah berduka. Pria tinggi itu akhirnya jatuh tersungkur di depannya, membuat mental wanita itu terguncang, dalam kesadaran yang tipis, Kyungsoo mengangkat senjata di tangan, lalu menempelkan ujungnya pada pelipis.

Kesalahan. Dosa. Kehilangan.

Ketika wanita lacur merasa tak pantas lagi untuk hidup...

"Jangan," Suara lemah terdengar dari bibir Chanyeol, napas pria itu tersenggal menahan rasa sakit dari tiga peluru di tubuhnya.

"Hiduplah."

Dia berkata. Kalimat terakhir yang diucapkan sebelum mata itu terpejam setelah kesadarannya menghilang.

Hiduplah?

.

Hening.

.

Senyap.

.

Senjata terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Ia pun tumbang, bersimpuh sembari menatap kosong pada dua pria yang terkapar di hadapannya. Kemudian Kyungsoo menjerit. Jeritan panjang memekkakan malam sunyi yang menyayat. Bahkan burung gagak sang pemandu kematian pun takut untuk mendengarnya. Dunia meratapi, angin berhembus kencang, hujan mengalunkan irama duka. Duka itu, lebih kelam dan gelap dari apapun.

Inikah hukumannya?

Mengapa?

.

If there are thoughts that can be realized just by praying,

Then I shall pray with all my life and soul...


.

TO BE CONTINUE...

[ 210316 | 1439 ]


.

Kalau tidak ada halangan FF ini akan update seminggu/10 hari sekali, tapi bisa juga lebih cepat, tergantung dari waktu luang yang saya punya ^^.

Terimakasih semuanya... Thank you very much,

Lien.

Question :

FF ini baru dilanjut? Haha, begitulah. Gimana adek bayinya kak? Udah umur berapa sekarang? Ssst...yang ini di belakang aja yah^^. Apa ini edisi mewekers? Hiks...pissss :v. KAKAK! apa kabar? Baikkk...^^. Kenapa lama amat thor? Thor kemane aje sih? Semedi bareng si buta dari gua hantu T_T. Jangan ada php diantara kita lagi oke? Oke, doakan aja,, Anak sastra ya ka? Anak S1 Sosiologi, sayang^^. Endingnya mungkin berpuluh taun kemudian kaliya? Ratusan juga boleh, hihi^^. Ff nya ga bakal lebih dari 14 chap ya kak? Maafkan aku yang plin plan ini, kayaknya endinya pas di ch 15 T_T. Eonni nasib Kyungsoo kenapa jadi gini? Maaf, sayang, Kyungsoo aku nistakan . . How could you make such a story like this?! Uhuk, inspired by my own life(?)^^". Happy ending pls? Lets see...^^.

Thank To :

12154kaisoo . FarydahKAISOO8812 . kim fany . overdyosoo . Kim YeHyun . Rahmah736 . AuifyRuhta . Re-Panda68 . Desta Soo . Red Sherry . blossomkimp . LittelDi . MeriskaLu . Sofia Magdalena . exoldkspcybxcs1 . . Dyovie . xoxo0293 . veronicayosiputri9 . Nkhaairunnisa . Kim124 . avs1105 . sushimakipark . Lovesoo . kkoch11 . DBSJYJ . QingrouLu . Justmine Rewolf . ParkYeol92 . alexa . Guest . SNAmaliia . overdokai . Dodyora . Kyungri . Guest . Amelia Do . Kyungra26 . kadi couple . hea . Wakhyu Kurnia . reru95 . cha83 . Rumah Kepompong . ryanryu . sopiyuliawati15 . The little spagetthy . Guest . sehunsdeer . . oshbaek .21113kadi . apple . ditama . Myllexotic . aamelianvts . LeeRain . Yang Dae . In Cherry . Tiaa SuhunXiu .

. . .