Dear Love remake
Another story about Lee Sungmin and Cho Kyuhyun
Rated : T
Genderswitch
a/n : anyeong~ hehe kali ini aku menghadirkan lagi ff yang di remake dari novel yang berjudul DEAR LOVE karya PRINCESS WG, aku suka dengan jalan ceritanya dan karena aku cinta dengan uri Kyumin maka aku meremakenya menjadikan Kyumin sebagai tokoh utama dicerita ini , ok cukup sekian kata2 pembuka dari author, c'mon like this! (ala Girl's Day)
Chapter 11
Standing in that place, holding on to my wishes of our future..
I'm standing there, but you are gone..
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Baekhyun dan Sunny langsung pergi menjenguk Sungmin begitu mereka pulang dari
sekolah. Mereka hanya tahu Sungmin semalam tertabrak mobil, selebihnya mereka
tidak tahu apa-apa.
Sesampainya di kamar inap Sungmin, hanya ada Heechul dan Siwon yang menjenguk di sana. Baekhyun langsung memeluk Sungmin,
"Sungmin….kau baik-baik saja ? Aku hampir mati ketakutan mendengar kau tertabrak mobil."
Sunny meletakkan kantung plastiknya yang penuh dengan buah apel ke bawah ranjang, ia tersenyum malu-malu,
"Aku tidak tahu harus membawa apa ke sini, kata Baekhyun lebih baik membawa apel...tapi kurasa itu ide tolol, masa setelah tertabrak mobil makan apel?"
"Tidak usah repot-repot begitu," Sungmin terharu ,
"kalian habis pulang sekolah ya? Bagaimana sekolah hari ini?"
"Tidak ada kejadian seru apa-apa, si ketua Osis baru membuat peraturan aneh, setiap hari Jum'at-Sabtu kita boleh memakai baju bebas sesuka hati kita. Sunny sepertinya pihak paling bahagia dengan adanya peraturan seperti ini!"
"Iya, Min-ah, jadi aku bisa bebas ingin memakai apa saja." Sunny terkikik lucu,
"Tidak ada lagi yang bisa melarangku memakai rok pendek."
Mereka tertawa bersamaan. Heechul melirik Siwon, membisikkan sesuatu dan kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan itu. Siwon berjalan di depan Heechul, kemudian berhenti sebentar menoleh ke belakang,
"Ingin bicara apa lagi?"
"Kau masih marah padaku ya?"
"Kau ingin membicarakannya di saat-saat begini? Ayolah Heechul, aku sama sekali tidak berselera." Siwon terlihat jengkel.
"Aku tahu kau masih marah. Aku tidak menyalahkanmu."
"Lalu maumu apa?"
"Sekarang kau sudah tahu bukan, Sungmin itu dari dulu selalu menyukaimu. Dia menyimpan semuanya demi aku."
"Ya, aku tahu."
"Lalu apa kau…"
"Heechul!" Siwon memotongnya cepat,
"sebenarnya apa inti dari pembicaraan ini? Tolong jangan bertele-tele."
"Apa kau juga punya perasaan yang sama pada Sungmin? Maksudku, setelah semua yang terjadi semalam….kau kelihatannya sangat terpukul. Tadi saja kau sampai bertengkar hebat dengan Kyuhyun. Aku pikir….mungkin saja kau juga memiliki perasaan khusus pada Sungmin." Siwon menatapnya tak percaya, ia tersenyum getir,
"Dia itu temanku, jika ada sesuatu yang terjadi padanya tentu saja aku akan khawatir. Dan jika dia sampai sakit hati karena ulah laki-laki bajingan itu, tentu saja aku akan mencari perhitungan padanya! Kau ini kenapa sih? Memangnya kau tidak sedih melihat Sungmin disakiti seperti itu? Jika kau menjadi aku, kau pasti juga akan melakukan hal yang sama bukan ?!"
"Aku bukannya tidak sedih dengan keadaan Sungmin. Bagaimana mungkin aku bisa tidak sedih, Sungmin itu temanku sejak kecil! Apa yang kami miliki jauh lebih banyak
dibandingkan kau dan Sungmin!"
"Lalu apa intinya!"
"Intinya, aku rasa kau sebenarnya menyukai Sungmin!" bentak Heechul keras, bahunya turun naik menahan emosi.
Siwon menatapnya tajam, Heechul tidak mampu mengartikan arti dari tatapannya itu. Ia
merasa tidak berkutik, takut untuk mendengar jawaban Siwon yang sesungguhnya.
"Akui saja, Siwon. Sungguh aku tidak keberatan jika kau bersama dengan Sungmin, aku hanya mau memastikan apa yang aku rasakan ini adalah benar."
"Memangnya apa yang kau rasakan?"
"Aku merasa…kau-lah satu-satunya orang yang bisa menghapus luka di hatinya."
"Itu yang kau rasakan?"
"Ya."
"Sungguh itu yang kau rasakan, Heechul? Hanya itu?" Heechul tidak menjawab.
Kemudian Siwon mengangguk kecil di hadapannya, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam,
"Baik, kau mau tahu apa yang kurasakan, Heechul-ah? Aku memang menyukai Sungmin, aku bahkan menyayangi dia melebihi diriku sendiri. Tapi orang yang aku cintai bukan dia!"
Heechul memejam mata saat Siwon melangkah pergi meninggalkannya.
Lagi-lagi aku telah membuatnya kecewa….
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Sore itu Sungmin mengamati butiran-butiran hujan yang membasahi jendela kamar rumah sakitnya. Ia menerawang, melamun sambil menahan rasa sakit yang masih sedikit bersarang di kepalanya. Ia mendengar bunyi ketukan pintu dan tersenyum saat Heechul masuk.
"Kenapa masih ada di sini? Kau belum pulang sejak tadi pagi?"
Heechul duduk di sampingnya, menggerak-gerakkan tulang punggungnya,
"Iya setelah ini aku sudah mau pulang kok. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Tidak mungkin kan, aku menjawab 'aku sudah baikan' ?" Sungmin menunduk sedih.
"Kau masih sedih ne?"
"Kau tahu, Heechul-ah? Lebih baik kita terluka secara fisik daripada hati kita yang terluka, sakitnya tak akan hilang sampai kapanpun juga."
"Tapi Sungmin, kau harus melupakan dia."
"Bagaimana caranya? Bisakah kau beri tahu aku, bagaimana cara melupakan orang yang kita sayangi dan kita benci sekaligus? Orang yang telah membawa kita terbang tinggi, tapi juga mematahkan sayap kita dan menghempaskan kita ke tempat yang paling dalam? Orang yang telah menoreh cinta dan luka di hati kita di saat bersamaan?"
Heechul memeluk Sungmin sebelum gadis itu menangis lagi. Ia membelai pundaknya dengan lembut,
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Sungmin. Aku mengerti…..Ini semua salahku, secara tidak langsung aku-lah yang telah menyeretmu pada Kyuhyun."
"Ini bukan salahmu."
"Sungmin, aku menyesal atas semua perbuatan dan ucapanku tempo hari. Aku memang bukan teman yang baik. Kau pantas marah padaku. Kau memang benar, Siwon terlalu baik untuk orang semacamku, dia sepantasnya denganmu."
Sungmin melepaskan pelukannya, mengamatinya tajam, "Apa maksudmu?"
"Pasti berat bagimu untuk selalu menyimpan perasaan pada Siwon selama ini. Aku memang tolol, baru sadar di saat-saat terakhir, pasti selama ini perbuatanku sudah banyak membuatmu kecewa. Seandainya aku tahu sejak dulu…Kau selalu baik dan perhatian pada Siwon bahkan melebihi rasa sayangku sendiri padanya. Sebenarnya kau-lah yang paling pantas mendampingi Siwon."
"Heechul-ah?"
"Sungmin, aku dan Siwon memang sudah putus, semua karena salahku, tapi aku tidak berharap apa-apa lagi dari hubungan kami. Aku mau merelakannya untukmu."
"Heechul, kau salah….aku…"
"Aku sama sekali tidak keberatan, Sungmin. Kalau memang Siwon bisa menyembuhkan semua luka di hatimu.."
"Heechul, aku tidak lagi mencintai Siwon." jawab Sungmin tegas,
"dan aku tidak mau merusak hubungan kalian. Apa kau tidak sadar, meskipun kalian sudah putus tapi Siwon masih sangat mencintaimu. Aku juga tidak mengerti bagaimana caranya aku bisa melupakan perasaanku pada Siwon, itu semua terjadi tanpa aku sadari."
"Karena Kyuhyun?"
Meski sakit tapi Sungmin mengangguk, "Aku terlambat menyadarinya. Sekarang aku malah berharap aku tidak perlu menyadarinya sama sekali, agar aku tidak perlu menanggung semua ini. Bahkan jika perlu aku tidak usah selamat dari kecelakaan ini, agaraku membawa mati semua luka ini. Aku memang bodoh, bodoh karena bisa jatuh cinta pada orang seperti itu, yang jelas-jelas hanya bermaksud memanfaatkanku."
"Kita semua bodoh, Sungmin. Tak ada satupun dari kita yang terlalu pintar untuk menghindar dari cinta, karena pada akhirnya kita semua terluka."
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Butuh waktu sebulan bagi Sungmin untuk benar-benar memulihkan dirinya dari musibah ini. Perban yang membalut di kepalanya sudah boleh dilepas, dan dia pun sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Setiap orang menyambutnya gembira. Tapi tidak bagi Sungmin. Dia tidak merasakan apa untungnya bisa sembuh dari luka fisik, karena sampai kapanpun juga ia tidak yakin apa luka di hatinya bisa disembuhkan.
Meski ia sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani semua aktivitas sehari-harinya dengan normal kembali, tapi tetap saja ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ada yang pergi dan meninggalkan kekosongan dalam hatinya. Ia merasa apa yang ada di sekelilingnya tidak sama lagi seperti dulu. Bahkan tawa dan senyumnya pun tidak sama lagi.
Begitu banyak orang yang tanpa putus asa terus mencoba menghiburnya, menariknya keluar dari kesedihan itu. Tapi sia-sia saja, bukankah semua itu malah mebuat Sungmin semakin terpuruk? Ia tidak perlu perhatian extra dari mereka semua, juga tidak perlu dikasihani. Yang ia perlukan hanya waktu. Mungkin dengan waktu itu-lah, ia sanggup menyembuhkan lukanya sendiri. Dan mungkin, hanya dengan waktulah ia bisa melupakan Kyuhyun.
Dia telah membuatku hidup, tapi dia juga lah yang membuatku mati seketika. Dia yang
telah membuka hatiku untuk cinta yang baru, tapi dia jugalah yang menutup pintu hatiku
untuk kebahagiaan lain yang bisa kuraih. Aku tak akan bisa melupakan semua
kenanganku bersamanya, tapi aku pun tak bisa melupakan sakit hati ini.
Aku tak tahu salahku di mana, mungkin aku memang terlalu naïf….atau mungkin
kesalahanku hanya satu, yaitu mencintai orang yang salah..
Sungmin tidak pernah menyadari, saat hari pertamanya kembali ke rumah, seseorang mengamatinya dari kejauhan. Saat ia turun dari mobil dan perlahan-lahan dibantu oleh appanya masuk ke dalam rumah, ada seseorang yang berdiri di kejauhan sana, menahan diri untuk tidak menghampirinya. Menahan diri untuk tidak mencintainya lagi.
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Beberapa hari menjelang ujian akhir….
Sungmin mengamati brosur-brosur perguruan tinggi yang berjejer rapi di meja depan ruang guru pengawasnya. Murid-murid kelas 3 berbondong-bondong mengambilnya sambil terus berdebat universitas mana yang paling bagus. Ada yang sudah mantap dengan pilihannya, ada yang masih bingung dan berkonsultasi dengan guru, ada juga yang cuek bebek.
Siwon tersenyum melihat Sungmin datang, "Untuk apa melihat-lihat? Kan sudah pasti mau ke Inggris."
"Kau sendiri untuk apa melihat-lihat? Bukankah waktu itu sudah membeli formulir?"
"Aku berubah pikiran. Aku ingin kuliah di tempat yang aku mau, bukannya semata-mata ingin satu kampus lagi dengan Heechul."
Ternyata Siwon sudah tidak berniat lagi satu kampus dengan Heechul. Sejak putus, hubungan mereka memang menjadi sedikit dingin, ada kesan Siwon selalu menjauhi Heechul dan begitu pun sebaliknya. Karena kedua-duanya makhluk paling popular di sekolah ini, maka kabar putusnya mereka tentu saja langsung menyebar dengan versi yang berbeda-beda.
"Kau jadi kuliah di Inggris?"
"Tidak ada sesuatu yang membuatku harus membatalkannya." Sungmin tersenyum kecil.
"Aku akan kehilanganmu."
"Aku juga."
Siwon mengerut kening sesaat, memberanikan diri untuk bertanya,
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Min?"
"Aku? Aku sudah pulih total, kau bisa lihat sendiri kan?"
"Iya," Siwon tertawa kaku.
"Jika yang kau maksud itu hatiku, kau tahu sendiri aku tidak semudah itu pulih." Siwon diam.
"Ah tapi sudah lah, aku tidak mau memikirkannya lagi. Sebentar lagi ujian, lebih baik aku konsentrasi belajar. Iya kan, Wonnie?"
"I..iya…"
"Hey, bagaimana dengan kau sendiri? Sejak putus dengan Heechul.."
"Aku baik-baik saja, Sungmin. Sungguh. Yaaa..memang masih ada sakit hati sedikit, tapi aku bisa melewatinya."
"Aku ingin sepertimu."
"Kau pasti bisa. Aku pasti akan membantumu. Pasti."
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Plok….plok….plok…..
Seluruh hadirin yang memadati hall dalam acara pelepasan murid kelas 3 berdiri serentak, memberikan tepuk tangan terhangat mereka untuk seluruh murid yang telah dinyatakan lulus.
Seluruh murid itu berbaris rapi di depan, berjejer dan tersenyum bangga sambil memegang surat ijazah mereka. Tepuk tangan meriah terus mengumandang di seantero ruang tertutup itu, tak henti-hentinya memberi pujian pada mereka semua.
Kelas mereka satu persatu diabadikan oleh juru kamera. Kepala sekolah maju ke depan, memberikan pidato pelepasannya penuh dengan rasa bangga. Tepuk tangan semakin meriah saat 10 lulusan terbaik, Sungmin salah satunya, ikut maju dan diabadikan oleh juru foto bersama dengan guru-guru mereka. Tak terasa inilah momen yang sangat ditunggu-tunggu, momen terakhir mereka setelah 3 tahun mengarungi masa high school.
Banyak yang tak kuasa menahan rasa haru dan menangis bersama teman dan keluarga masing-masing. Banyak pula yang terus merangkul gurunya dan mengucapkan terima kasih. Apa yang terus mereka keluhkan saat masih sekolah rasanya bukan apa-apa lagi saat mereka sadar mereka akan berpisah dengannya. Di saat-saat inilah semuanya terasa sangat berharga.
Mungkin setelah lulus, mereka akan berpencar dan tidak pernah bertemu lagi. Mungkin lulusan terbaik akan menjadi orang yang paling melarat, mungkin murid yang nilainya terburuk justru akan menjadi pengusaha sukses. Mungkin mereka yang popular akan menjadi ibu rumah tangga biasa, sedangkan mereka yang di-cap kutu buku malah menjadi orang tenar.
Malam dilanjutkan dengan pesta promnite di salah satu hotel berbintang 5. Semua tampil dengan gaun dan setelan jas terbaik baru selesai sekitar jam 11 malam lebih. Sungmin nyaris tertidur di mobil saat Siwon mengantarnya pulang bersama Heechul. Heechul terus heboh berceloteh tentang mahkota Prom Queen miliknya yang katanya kurang bagus, mutiaranya kurang banyak, kurang mengkilap, dan lain-lain. Baik Sungmin maupun Siwon tidak begitu serius menyimaknya.
Saat Sungmin tengah melamun di tempat duduknya, ia merasa ada mobil lain yang terus menempel di sebelah mobil Siwon. Kecepatannya sengaja menyamai laju mobil Siwon. Sungmin semakin bingung saat mobil itu semakin lama semakin merapat. Siwon juga menyadarinya,
"Mobil siapa itu?! Menyebalkan sekali!"
Sungmin menyipitkan matanya berusaha menembus kegelapan kaca mobil Siwon untuk mengintip siapa si pengemudi misterius itu. Tapi sebelum ia bisa mengintip, Siwon sudah terlanjur hilang kesabarannya. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan raya yang sepi. Mobil itu mengikutinya, berhenti di belakang mobil Siwon. Siwon mengintip dari balik kaca spion,
"Hei, kalian mengenal orang itu?"
Baik Sungmin maupun Heechul sama-sama tercengang melihat siapa si pengemudi misterius yang baru saja keluar dari mobil dan tergopoh-gopoh mendatangi tempat mereka.
"Zhoumi…" Heechul reflek menatap Sungmin, "Itu Zhoumi."
Sungmin menelan ludah.
"Zhoumi siapa?" tanya Siwon heran.
"Zhoumi…..teman Kyuhyun."
"Apa?!"
Sungmin tidak bersuara saat Zhoumi menghampiri mobil mereka dan mengetuk-ngetuk kaca mobil di tempat duduknya. Sungmin nyaris membuang muka kalau saja Siwon tidak cepat keluar dari mobil.
"Hei, mau apa kau!"
Zhoumi terus mengetuk kaca jendela Sungmin, "Sungmin, keluar sebentar, aku harus bicara padamu."
"Bicara apa? Soal temanmu yang bernama Kyuhyun itu? Sudah tidak ada yang harus dibicarakan! Sungmin tidak mau berurusan lagi dengan bajingan-bajingan macam kalian!"
"Tapi ini penting! Sungmin harus tahu semuanya, dia harus tahu jika Kyuhyun…"
"Hey, jangan sebut-sebut nama orang itu lagi di depanku!" Siwon naik pitam,
"suruh dia datang kemari jika berani!"
Heechul ikut keluar dari mobil, serba salah mencoba membujuk Zhoumi pergi. Tapi Zhoumi tidak mau,
"Susah payah aku mencari Sungmin, kau suruh aku pergi?! Aku tidak akan pergi sebelum Sungmin mau mendengar semua penjelasanku!"
"Sungmin tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti kalian lagi!" hardik Siwon.
"Zhoumi-ssi….kau jangan membawa-bawa masalah Kyuhyun lagi, keadaannya sudah membaik sejak sebulan ini, tapi jika kau mengungkit-ungkit nama Kyuhyun lagi di depannya…"
"Tapi, …"
Mereka bertiga tertegun diam saat pintu tempat duduk Sungmin tiba-tiba terbuka, gadis itu keluar dari dalam mobil dengan begitu tenang. Namun kerisauan di dalam hatinya tidak bisa disembunyikan,
"Heechul benar, Zhoumi-ssi, keadaanku sudah membaik sejak sebulan ini. Tolong jangan kau kacaukan lagi."
"Tidak, kau harus tahu yang sebenarnya tentang Kyuhyun! Sungmin, apa kau tahu Kyuhyun juga menderita sejak peristiwa itu?! Dia sengaja berbuat seperti itu semuanya demi kau! Jangan kau kira dia selama ini hanya memanfaatkanmu, Kyuhyun itu sebenarnya benar-benar menyukaimu! Dan jangan kau kira dia mendekatimu hanya karena uang! Memang benar appamu memberinya cek kosong, tapi Kyuhyun tidak mau menerimanya, cek itu bahkan dirobek olehnya!"
Sungmin menatapnya tanpa ekspresi. Semua itu hanya omong kosong baginya.
"Kau harus percaya padaku, Sungmin! Kyuhyun itu tidak bermaksud menyakitimu. Dia sengaja berbuat seperti itu karena…"
"Karena apa, hah!" bentak Siwon tak sabar,
"buang semua omong kosongmu itu jauh-jauh! Sungmin tidak akan semudah itu percaya padamu!"
Zhoumi memelas menatap Sungmin, "Sungmin, kau harus percaya.."
Sungmin tidak bersuara.
"Sungmin, kumohon...percayalah. Semua yang kuucapkan itu benar! Kau harus percaya…."
"Mulai detik itu, aku tidak tahu lagi harus percaya pada siapa."
Sunyi…..
"Aku tidak tahu apa ceritamu itu benar atau hanya omong kosong belaka. Aku juga tidak tahu apa maksudmu menjelaskan semua itu padaku. Tapi jika boleh jujur, sebenarnya aku tidak peduli lagi dengan semuanya. Maafkan aku, Zhoumi-ssi, tapi kumohon berhentilah mencariku. Kau tidak perlu bersusah payah mengejarku hingga ke sini hanya untuk menjelaskan masalah itu, karena itu benar-benar tidak ada pengaruhnya lagi bagiku."
"Aku tidak percaya kau mengatakan itu…..apa kau tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Kyuhyun? Sedikit pun kau tidak mau peduli lagi padanya?" Sungmin tidak menjawabnya.
"Aku tidak percaya kau benar-benar tidak peduli padanya."
"Jika begitu mulai saat ini kau harus percaya," jawab Sungmin tajam,
"dia bukan apa-apa lagi bagiku. Aku bisa saja mendengar semua penjelasanmu itu jika aku memang masih memiliki perasaan padanya, tapi aku tidak mau. Kau, juga Kyuhyun, harus tahu jika aku tidak sebodoh dulu lagi. Entah apa yang bisa membuatku memaafkannya."
"Tapi Sungmin, aku tadi sudah katakan…semua itu…"
Sungmin tidak menghiraukannya, ia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Heechul menyusulnya meski ia masih ragu.
"Sungmin, kau harus percaya! Sungmin!"
Siwon menatapnya garang, "Kau sudah dengar kan? Dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan bajingan itu. Jadi jangan sekali-kali lagi kau mencari Sungmin!"
Zhoumi tak bersuara. Ia tak berdaya saat Siwon masuk ke dalam dan langsung membawa kabur mobilnya beserta Sungmin. Ia hanya bisa berdiri lemas di sana.
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Sungmin berkemas-kemas sehari sebelum keberangkatannya. 2 koper berukuran besar sudah berjejer rapi di kamarnya. Ia hanya perlu memasukkan beberapa baju tebal lagi, setelah itu selesai. Sungmin mengambil bingkai foto kesayangannya yang berisi foto teman-temannya. Ia tersenyum geli melihat pose jenaka mereka di dalam foto itu. Melamun sejenak, lalu memasukkan bingkai itu ke dalam kopernya.
Ia mendesah kecil, rasanya berat sekali meninggalkan semua ini. Keluarganya….. saudaranya…. teman-temannya….. Sepertinya baru kemarin mereka berkumpul bersama tapi besok ia sudah harus berpisah dengan mereka. Sungmin menebak kira-kira perubahan apa yang akan mereka alami selama beberapa tahun ke depan. Tapi mungkin ini lebih baik, siapa tahu dengan begini Sungmin bisa melupakan semua kejadian buruk yang pernah terjadi di sini.
Pintu kamar diketuk dari luar, tak lama kemudian appa masuk ke dalam. Ia tersenyum kecil melihat koper-koper Sungmin,
"Baru berkemas? Besok kan sudah mau berangkat. Cepat ya, rasanya baru kemarin kau memakai seragam sekolah…. sekarang malah sudah ingin kuliah." Sungmin tersenyum menimpalinya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Maksud appa?"
Appa duduk di tepi ranjangnya, "Yaa…perasaanmu karena sudah mau pergi ke Inggris. Waktunya tidak singkat Min."
"Aku akan merindukan teman-temanku."
"Kau tidak merindukan appa?"
"Tentu saja!" Sungmin tertawa sambil merangkul appanya,
"Appa, eomma bahkan Kim ahjumma pun pasti akan kurindukan!"
"Appa lega kau sudah bisa tertawa. Baguslah…."
"Memangnya kenapa jika aku tertawa?"
"Appa kira….kau masih trauma dengan peristiwa itu."
Sungmin tersenyum simpul, "Aku sudah melupakannya, appa. Aku sama sekali tidak memikirkannya lagi."
"Sungguh?"
Sungmin melepaskan rangkulannya, kembali sibuk berkemas-kemas,
"Sungguh. Aku memang tidak memikirkannya lagi."
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Zhoumi sedang berjalan seorang diri di kampusnya, ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh mencari-cari si pemanggil, lalu terkejut melihat siapa orang itu. Heechul berlari kecil menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal,
"Hh…hh…Aku sudah mencarimu ke mana-mana di kampus ini…ada yang harus kita bicarakan….."
"Tentang apa?"
"Tentang semuanya, Zhoumi-ssi, tentang semuanya." Zhoumi kontan tersenyum lebar padanya.
Di meja kantin itu Zhoumi menceritakan semuanya pada Heechul dari awal. Semuanya.
Tentang awal perkenalan mereka dengan Heechul, saat mereka pertama kali mereka bertemu Sungmin, kemudian tentang niat mereka untuk menjebak Sungmin agar appanya mau mengeluarkan uang untuk Kyuhyun, lalu tentang perubahan rencana mereka yang semata-mata karena Kyuhyun benar-benar jatuh cinta pada Sungmin, dan yang terakhir saat Kyuhyun terpaksa melukai Sungmin demi kebaikan Sungmin sendiri.
Heechul tercengang mendengarnya. Meskipun ia agak tersinggung mendengar mereka pernah berniat memanfaatkan dirinya, tapi Heechul lebih terkejut lagi karena Kyuhyun sebenarnya mencintai Sungmin. Sebenarnya ia ragu untuk mempercayai semua ucapan Zhoumi, tapi sepertinya ia tidak punya alasan untuk tidak percaya.
"Apa ceritamu bisa dipercaya?"
"Coba pikir, Heechul-ah, apa untungnya bagiku mengarang-ngarang cerita seperti itu? Aku tidak berbohong sedikitpun! Kyuhyun memang benar terjerat hutang ayahnya, dia memang butuh uang, tapi cek dari appa Sungmin itu sama sekali tidak disentuhnya! Ia sedikitpun tidak mau memakai cek itu!"
"Tapi kenapa di rumah sakit itu…"
"Kan sudah kubilang, Kyuhyun pikir dia tidak pantas mendampingi Sungmin. Dia berbuat itu semata-mata agar Sungmin bisa melupakannya! Lagipula itu permintaan appa Sungmin. Kyuhyun pikir benar juga, mungkin Sungmin memang tidak seharusnya bersama dengannya, dia tipe namja yang tidak mempunyai masa depan." Heechul mengerut kening, berpikir keras untuk memecahkan semua kesalahpahaman ini.
"Sampai sekarang pun Kyuhyun masih belum bisa melunasi hutang-hutang ayahnya. Dia terpaksa bersembunyi selama sebulan ini."
"Apa keadaannya baik-baik saja?"
"Tidak terlalu baik. Kau tahu, kadang saat kita melukai orang yang kita cintai, luka yang kita tanggung jauh lebih sakit daripada orang itu."
"Apa Kyuhyun tahu besok Sungmin sudah mau berangkat ke Inggris?" Zhoumi mematung diam sebagai jawabannya.
"Aku tak akan membiarkan Sungmin pergi begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya."
"Kau mau membantunya?"
"Tentu." Jawab Heechul mantap.
Sungmin mengadakan acara perpisahan dengan beberapa teman akrabnya di salah satu restoran Jepang. Mereka berkumpul di sana memberi ucapan perpisahan terakhir untuk Sungmin. Semua teman akrabnya hadir di sana kecuali Heechul. Tapi sedikitpun Sungmin tidak curiga karena ia sudah menerima telepon dari Heechul yang katanya akan terlambat datang.
"Sungmin kau harus sering-sering kembali nde, jangan lupa pada kami karena asik kuliah disana."
"Iya, dan jangan lupa membawa oleh-oleh." Semuanya tertawa.
"Ya! aku ke sana kan untuk kuliah!"
"Enaknya menjadi Sungmin. Bisa kuliah di tempat impian dan mengambil jurusan kedokteran pula!"
"Bukankah lulusnya lama, Sungmin-ah ?"
"Tidak masalah, itu adalah cita-citaku sejak dulu."
"Bagaimana pun juga kami semua salut padamu, mungkin di angkatan kita ini hanya ada satu orang yang mengambil kedokteran sampai ke Inggris."
"Dan kita semua akan kehilanganmu, Min…."
"Ayo kita tos," Siwon bangkit berdiri sambil mengangkat gelas minumannya,
"Untuk teman kita yang sebentar lagi akan pergi lamaaaaa sekali."
"Untuk Sungmin!"
Sungmin mengikuti semua teman-temannya yang sudah berdiri sambil mengangkat gelas. Ia tertawa kikuk melihat pandangan mata semua pengunjung restoran yang tertuju pada mereka.
"TOOOSS !"
Kira-kira 30 menit kemudian akhirnya Heechul datang juga, baru acara makan-makan itu bisa dimulai.
"Ayo beri kata-kata perpisahan , Sungmin-ah…." desak mereka pada Sungmin di sela-sela acara.
"Kalian terlebih dulu ."
"Okay… aku dulu saja." Sunny mengajukan diri,
"Untuk temanku, Lee Sungmin. Semoga dia tidak lupa dengan kita semua. Semoga dia sukses dengan kuliahnya dan cepat-cepat membawa pulang kekasih barunya!"
"Huuu…" semua menyorakinya.
"Aku! Aku!" giliran Baekhyun,
"aku hanya ingin mengatakan, Sungmin itu teman yang paling baik, paling sabar sedunia, paling imut, paling pintar, paling rajin membuatkan pekerjaan rumah untuk kita semua, pokoknya paling terbaik! Aku pasti akan kehilangan dia selama beberapa tahun mendatang. Semoga dia tidak pernah melupakan kita semua, termasuk aku. Jika sudah menjadi dokter, aku setiap hari boleh check up gratis ya!"
"Huuuu!"
"Aku juga mau," giliran Siwon yang buka suara sembari menatap Sungmin dalam,
"aku baru mengenal Sungmin tidak lama, tapi rasanya aku sudah mengenal dia selama bertahun-tahun. Sungmin itu temanku yang paling baik, yang paling sabar mendengar semua ocehanku jika aku sedang kesal. Dia juga yang selalu mendampingiku setiap kali aku bersedih. Yang jelas Sungmin itu bukan hanya teman yang ada di saat kita senang saja, tapi dia juga selalu ada di saat kita susah. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya dan menjadi temannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaiknya untuknya." Mereka semua serius mendengarnya.
Lalu tiba saatnya bagi Heechul, "Ini sebenarnya bukan perpisahan untuk selamanya, tapi meskipun begitu aku tetap akan merindukan Sungmin. Kami sudah berteman sejak kecil, dulu kami pernah membuat perjanjian aneh jika kami akan sekolah dan kuliah di satu tempat yang sama agar tidak terpisahkan. Ya…meskipun janji itu tidak bisa terwujud,tapi aku tetap merasa sampai kapanpun juga aku dan Sungmin memang tidak akan terpisahkan. Kami sudah melalui semuanya bersama-sama, mulai dari kejadian yang menyenangkan, pertengkaran-pertengkaran kecil sampai kejadian yang menyedihkan, tapi justru karena semua itulah aku bisa belajar bagaimana cara menghargai persahabatan kami. Dan aku bangga karena sampai detik ini aku masih bisa menjadi temannya." Sungmin tersentuh mendengar semua itu.
Setelah itu yang lainnya tak mau ketinggalan bergantian mengucapkan salam perpisahan mereka pada Sungmin. Sungmin tersenyum haru mengucapkan terima kasih,
"Gomawo.. Kalian memang teman-temanku yang baik. Aku pasti tidak akan melupakan kalian semua…Kalian juga, meskipun kita semua akan terpencar-pencar setelah lulus, kita harus sering-sering menghubungi satu sama lain. Jangan sampai persahabatan kita hanya sampai di sini saja."
"Aku jadi ingin menangis." Sunny mengusap matanya cepat-cepat.
Mereka tersenyum menatap Sunny, sedikitpun tidak mengolok-oloknya karena sebenarnya dalam hati mereka masing-masing pun merasa sedih.
Acara makan-makan itu baru selesai sekitar jam 9 malam. Sungmin memberi pelukan hangat pada semua teman-temannya untuk terakhir kali, besok mereka tidak bisa mengantarnya sampai ke airport. Mereka kemudian bubar satu per satu. Tapi mereka semua berjanji akan sering berhubungan sesibuk apapun nantinya. Bahkan sudah ada yang mengusulkan 2 tahun lagi harus diadakan acara reuni.
Heechul memaksa ingin mengantar Sungmin pulang. Siwon akhirnya mau mengalah pulang sendiri.
"Sungmin, kau harus mendengarku baik-baik nde."
"Dengar apa?"
"Tadi sore aku menemui Zhoumi. Aku terlambat datang karena menemuinya."
Sungmin menatapnya tegang, "Untuk apa?"
"Ini masalah Kyuhyun, Sungmin."
"Heechul-ah, tolong jangan bahas soal itu lagi! Jangan sebut-sebut namanya lagi."
"Tapi kau harus dengar dulu Min-ah."
"Sejak kapan kau jadi memihak padanya?! Aku sudah katakan, aku tidak mau lagi berurusan dengannya!"
"Iya, tapi kau harus tahu yang sebenarnya! Kau akan menyesal jika sampai tidak tahu! Kyuhyun itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi kekasihmu. Lihat dirimu, anak baik-baik, dari keluarga kaya, mempunyai otak cerdas, masa depan cerah, kuliah di Inggris, jika aku jadi Kyuhyun aku juga akan merasa tidak pantas mendampingimu!"
"Semua ucapanmu itu konyol sekali."
"Aku tidak berbohong. Kau tahu ? Cek yang diberi appamu itu dirobek Kyuhyun, dia sama sekali tidak mau memakainya!"
Sungmin menutup kupingnya, "Aku tidak mau dengar! Apapun yang ingin kau katakan, aku tidak akan terpengaruh!"
Heechul membanting setir, "Jika begitu aku akan membawamu langsung pada orangnya!"
"Apa? Apa yang kaulakukan, Heechul-ah?"
"Kau harus mendengar sendiri darinya."
"Aku tidak mau! Hentikan mobilmu!"
Heechul mengunci seluruh pintu mobilnya automatis, ia langsung mengencangkan laju mobilnya tanpa menghiraukan permohonan Sungmin. Mobil berkecepatan tinggi itu direm mendadak di depan mobil Zhoumi yang kosong. Heechul turun dari mobil, lalu membuka pintu Sungmin dan menarik temannya itu untuk keluar. Ia tidak peduli meskipun Sungmin berulang kali meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sungmin ditariknya sampai ke sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Mereka menyelinap masuk ke dalam sana dan menemukan Zhoumi seorang diri. Hanya Zhoumi.
"Mana Kyuhyun? Dia harus menjelaskan semuanya pada Sungmin sekarang!"
Heechul mendorong Sungmin pada Zhoumi.
Zhoumi menatapnya getir, "Kyuhyun sudah pergi…."
"Apa katamu!? Itu tidak mungkin, bukankah kau sudah bilang malam ini kita harus mempertemukan Kyuhyun dengan Sungmin!"
"Aku tahu! Tapi….dia sudah pergi."
"Kalau begitu cepat beritahu aku ke mana dia pergi!"
"Aku tidak tahu, Heechul.." Zhoumi menunduk, "aku tidak tahu…."
Sungmin mendesah sinis, "Sudah kubilang, untuk apa memperpanjang masalah ini lagi? Aku tidak akan terpengaruh meskipun dia ada di sini sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi. Untuk apa kalian repot-repot mengarang cerita untuk membelanya? Dia saja tidak mau pusing-pusing!"
"Tapi aku sama sekali tidak mengarang cerita! Semua yang kukatakan itu benar!"
Heechul membela Zhoumi, "Dia benar, Sungmin."
"Kenapa kau begitu yakin dengan semua ucapannya? Kau lebih memihak dia daripada aku?! Apa kau tidak tahu aku sudah cukup menanggung semua sakit hati yang dia buat padaku?! Aku sudah lelah, KimHeechul! Berhentilah menyeretku ke masalah ini lagi. Tolong biarkan aku lepas dari semua masa lalu itu. Lupakan semua yang sudah usai!"
"Kyuhyun pergi bukan karena dia tidak mau bertemu denganmu. Dia pernah bilang bukan? Suatu hari nanti dia akan membawa ibunya pergi meninggalkan ayahnya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi…" Kalimat itu berhasil membungkam Sungmin.
"Aku terlambat datang untuk menyakinkan dia. Tapi sebelum itu dia pernah bilang, dia ingin sekali bertemu denganmu di tempat yang hanya kalian berdua tahu sebelum kau pergi ke Inggris. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya…"
Tapi Sungmin mengerti apa maksudnya. Tempat itu adalah taman tertutup di mana mereka pernah saling berjanji untuk pergi ke sana setiap kali merasa rindu dengan yang lain. Sungmin menggeleng, untuk kesekian kalinya ia menyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai semua itu.
"Kenapa sulit sekali bagimu untuk mempercayai Kyuhyun? Apa yang harus dia lakukan baru kau mau percaya, Sungmin?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin dia benar-benar pergi dari kehidupanku. Semua sudah terlambat, Zhoumi-ssi, sudah terlambat untuk memaafkannya."
"Aku mengenal Kyuhyun luar dalam, aku tahu masa lalunya memang tidak terlalu baik, tapi belum pernah aku melihat dia mencintai seseorang sebesar perasaannya padamu. Aku belum pernah melihat dia mau berkorban sampai seperti ini hanya demi seseorang. Kau harus percaya, Min. Sebenarnya aku pun sudah pasrah bagaimana kau mau membenci Kyuhyun, aku hanya ingin kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli."
Tapi tak ada yang mampu mencegah kepergian Sungmin.
"Sungmin, sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Kyuhyun itu. Mungkin semuanya belum terlambat…" ujar Heechul.
Sungmin tidak menghiraukan bujukan Heechul. Ia pergi begitu saja.
Keesokkan harinya..
Sungmin duduk diam di mobilnya dalam perjalanannya ke airport. Ia hanya membisu tanpa mendengar semua nasehat dari appa dan eommanya seputar Inggris. Ia merasa tidak bergairah lagi pergi ke Inggris. Ada yang menyesakkan, seakan-akan mendesaknya untuk menyelesaikan suatu masalah yang masih menggantung. Ia tidak akan merasa tenang sebelum menyelesaikannya hingga akhir.
"Sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Kyuhyun itu. Mungkin semuanya belum terlambat…"
Kata-kata Heechul terngiang-ngiang lagi dalam benaknya…
Tidak, aku tidak mau!
Sungmin memejam matanya kuat-kuat, setengah mati menghapus semua keraguan yang ada di dalam pikirannya. Hatinya terombang-ambing tak menentu. Tapi semakin ia menghindar, kata-kata dari Zhoumi dan Heechul semakin menghantuinya. Datang menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun.
"kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu! Kyuhyun itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi
kekasihmu."
"cek yang diberi appamu itu dirobek Kyuhyun, dia sama sekali tidak mau memakainya!"
"aku hanya ingin kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli"
"sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Kyuhyun itu. Mungkin semuanya belum terlambat…"
"cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Kyuhyun itu. Mungkin semuanya belum
terlambat…"
"mungkin semuanya belum terlambat…"
"...belum terlambat…"
Sungmin meremas tangannya. Nuraninya berperang hebat di dalam sana. Ia terus mencoba untuk tidak terpengaruh sedikitpun, tapi justru hati kecilnya sendiri yang terus mendesaknya untuk percaya.
Bagaimana jika ternyata Zhoumi dan Heechul tidak membohonginya?
Bagaimana jika Kyuhyun ternyata memang tidak seperti yang ia kira?
Akankah ia menyesal karena tidak mau mendengar kata hatinya?
"Kenapa bisa macet seperti ini? Seharusnya kita tadi pergi lewat jalan lain," keluh eomma saat supir menghentikan laju mobilnya di tengah-tengah kemacetan.
"Setidaknya kita sudah berangkat pagi-pagi, kita tidak akan ketinggalan pesawat. Iya kan, Minnie?"
Sungmin melamun. Masih bergelut dengan kerisauannya.
"Sungmin?"
Aku akan menyesal nantinya jika ternyata Heechul dan Zhoumi benar…
"Sungmin, kau kenapa?" eomma menatapnya bingung.
"Lee Sungmin?"
Sungmin mendongak, menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan mengambil resiko apapun yang nanti akan menimpanya. Lalu tiba-tiba saja, Sungmin membuka pintu mobil dan langsung meloncat keluar.
Eomma memekik, "Sungmin! Apa yang kau lakukan!"
"Lee Sungmin!" teriak appa, "kembali ke sini!"
Sungmin tidak menuruti mereka. Ia tidak sempat berpikir panjang, yang ia inginkan hanyalah berlari ke tempat di mana ia bisa menemui Kyuhyun sebelum terlambat.
Kakinya berlari mengikuti kata hatinya, berlari menerobos kemacetan lalu lintas yang mengepung mobil keluarganya.
Sungmin tidak peduli appa dan eomma terus berteriak ketakutan memanggilnya. Tapi ia tidak takut sedikitpun.
Aku harus ke sana!
Ia terus berlari dan berlari. Berharap keputusannya ini sudah tepat. Berharap ia bisa memiliki akhir yang bahagia.
~~CHO KYUHYUN & LEE SUNGMIN~~
Di taman itu Sungmin menunggu seorang diri. Tak ada yang sanggup menggambarkan seperti apa suasana hatinya saat ini. Ia menunggu dan terus menunggu, berharap Kyuhyun akan muncul di depan matanya. Meskipun ia merasa sebenarnya ia sedang menunggu ketidakpastian yang takkan kunjung datang. Ia tahu harapannya sangat tipis.
Tapi ia terus menunggu.
Sungmin berdiri di tepi danau itu dan mengenang kembali saat-saat ia dan Kyuhyun mengucapkan permohonan. Lalu saat Kyuhyun pergi menelusuri taman itu untuk mencarikannya mawar. Mungkin Sungmin tidak pernah menyadari bahwa saat itulah ia pertama kali membuka hatinya untuk Kyuhyun hingga akhirnya jatuh cinta padanya.
Sungmin meringkuk di sana. Menahan semua kenangan manis itu agar tak menyeruak keluar dan membuat luka di hatinya semakin dalam. Tapi memori itu terus berputar di dalam pikirannya, tertanam dalam jiwanya. Dan Sungmin tak kuasa menipu dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya menginginkan saat-saat indah itu bisa kembali padanya.
Maka ia pun terus menunggu…..
Berjam-jam ia meringkuk di tepi danau itu. Menunggu dan terus menunggu….
Hingga pada akhirnya Sungmin justru tidak tahu kenapa ia mau datang ke tempat ini. Kenapa ia masih juga memberi kesempatan pada Kyuhyun meskipun ia tahu akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan tidak akan pernah terjadi. Kini ia menyesal…
Menyesal telah datang kemari. Sampai kapanpun juga Kyuhyun tidak akan datang. Ia merasa yang ia tunggu-tunggu hanyalah kepalsuan, hanya khayalan yang terlalu tinggi. Ia sudah cukup merasa sakitnya jatuh, dan kini ia harus merasakannya lagi.
Tiba-tiba saja ia lelah terus berharap seperti ini. Ia bosan menangis. Sudah cukup. Semuanya sudah lebih dari cukup. Kyuhyun tidak akan datang. Sampai kapanpun juga ia tidak akan datang.
Di tempat ini aku hanya menunggu khayalanku sendiri. Mungkin begini lebih baik, aku bisa terbangun dari tidurku. Aku bisa membuang jauh-jauh semua mimpiku karena kini aku sudah tahu pasti, Kyuhyun memang tidak pernah bersungguh-sungguh mencintaiku. Di tempat ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan melepaskan diriku sendiri dari bayangannya. Dengan cara inilah aku akan bangkit.
Sungmin bangkit berdiri, memandang seisi taman kosong itu untuk terakhir kalinya.
Ia tersenyum tanpa arti, sedikitpun ia tidak menyesal telah datang ke sini. Karena dengan begini ia akhirnya bisa dengan rela mengucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal pada tempat itu, juga pada Kyuhyun. Di taman itulah ia berjanji akan melupakan Kyuhyun dengan seluruh hatinya.
Sungmin tidak pernah tahu…..
10 menit setelah ia pergi…..
Ya,hanya 10 menit….
Kyuhyun berlari menuju taman itu. Susah payah menerobos masuk untuk pergi ke tepi danau itu. Nafasnya tersengal-sengal, memandang sekeliling untuk mencari Sungmin. Tapi Sungmin sudah tidak ada.
Hanya 10 menit setelah Sungmin pergi…..
Betapa waktu 10 menit itu sanggup mengubur cinta sedalam apapun….
TBC
Chapt 11 hadir~~
Cukup panjang kan untuk chapter ini ? hehe
Buat yang minta jangan siksa Kyupil lagi hmmm nanti akan dipikirkan lagi nde #ditimpuk
Yang kemaren udah review gomawo chingu~ ditunggu lagi reviewnya^^
Buat yang belum juga ditunggu reviewnya^^
Gomawo, anyeong~~~
