Love Me Right
Cast :
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
Park Jimin
Cameo :
Kim Chanmi from AOA
Genre : Romance, drama, hurt/comfort.
Rate : T
Boys Love, Yaoi, Shounen ai, Mpreg, OOC, typo
RnR
.
.
.
Hana
Dul
Set
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
1 Minggu Kemudian….
Seorang perawat menutup pintu ruangan VIP menggunakan tangan kirinya. Ditangan kanannya terdapat bayi perempuan dalam baluta kain berwarna biru muda dengan topi berwarna sama seperti kain yang digunakannya. Pandangannya tertuju pada seorang lelaki yang tengah tertidur dipinggir ranjang rumah sakit dengan melipat kedua tangannya. Perawat itu berjalan menuju lelaki yang tengah tertidur. Tangannya yang terbebas ia gunakan untuk mengguncang bahu lelaki tersebut.
Hoseok mengangkat kepalanya saat merasakan guncangan pelan dibahunya. Ia membuka matanya perlahan. Menatap perawat itu dengan mata sayu khas orang bangun tidur.
"Maaf tuan jika saya mengganggu anda. Bayi anda tidak mau berhenti menangis dari tadi, sepertinya bayi anda sedang ingin bersama anda." Ujar perawat itu sopan.
Hoseok mengucek kedua matanya pelan. "Bayi ku ? bukankah ia sedang di inkubator ?"
"Sekarang sudah tidak lagi tuan. Bayi anda sudah sehat, semua organ tubuhnya juga sudah berfungsi dengan baik."
"Jinjja ? apa itu artinya aku bisa membawanya pulang ?"
"Ya. tentu saja tuan."
Perawat itu menyerahkan bayi itu kepada Hoseok. Hoseok menerima bayinya pelan. Matanya menatap kagum pada wajah polos bayinya yang tertidur dalam gendongannya.
"Baiklah tuan saya permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."
"Ya terima kasih suster."
"Sama-sama tuan. Jika anda membutuhkan bantuan anda bisa memanggil saya. Permisi"
Perawat itu berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan, meninggalkan Hoseok yang masih memandangi wajah bayinya.
"Lihatlah Tae, Seokhyun terlihat mirip seperti dirimu. Padahal waktu pertama kali lahir ia terlihat seperti diriku." Ujar Hoseok seraya menolehkan kepalanya kearah Taehyung.
Hoseok meletakkan Seokhyun disamping Taehyung. Mendekatkan wajahnya ke wajah Seokhyun dan mencium pipi gembil bayi berumur seminggu itu dengan lembut. Bayi itu memberikan respon dengan menggerakan wajahnya sedikit. Hoseok tersenyum dan meletakkan telunjuknya di pipi Seokhyun. Bayi itu menolehkan kepalanya kearah telunjuk sang ayah. Bibirnya bergerak lucu membuat gerakan menghisap. Hoseok menarik telunjuknya kembali. Bayi mungil itu membuka matanya secara perlahan dan menatap orang dewasa di depannya dengan tatapan polosnya.
"Wahh anak appa sudah bangun rupanya. Apa tidur mu nyenyak baby girl? " ujarnya seraya tersenyum kearah bayi berumur seminggu itu. Hoseok tertawa pelan saat bayinya merespon dengan senyuman imut di wajahnya. Ia mengangkat bayi itu dan menggendongnya.
1 detik
2 detik
3 detik
"huks.. huks.. oekk.. oekkk…"
Hoseok terlihat panik saat mendengar bayinya menangis cukup kencang. "sshhh…shhh cup cup.. appa disini sayang, sudah ya berhenti menangisnya, jika Seokhyun menangis nanti umma jadi sedih… sudah ya shh.. ssh.." bukannya diam tetapi bayi berumur seminggu itu malah menangis semakin kencang. Tak kehabisan akal, Hoseok kembali meletakkan Seokhyun di samping tubuh Taehyung. Mengangkat tangan Taehyung dan meletakkan putrinya didalam tangan lemas Taehyung. Ajaibnya bayi itu kembali diam dan tertidur.
Hoseok tersenyum melihatnya. Air mata kembali lolos dari kedua matanya. Ia menggunakan telapak tangannya untuk menghapus air matanya. "Kau merindukannya eoh ?" ujarnya seraya mengusap pelan kepala putrinya.
Kepalanya terangkat menghadap Taehyung, menatap nanar pada tubuh lemah didepannya. Kini air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Mau sampai kapan kau terus menutup matamu seperti itu Tae ? apa kau tidak merindukan bayi kita eoh ?"
"…"
"Kau bisa lihat bukan, kalau Seokhyun sangat membutuhkanmu, ia membutuhkanmu Tae. Aku mohon bukalah matamu Tae aku juga sama seperti Seokhyun. Aku membutuhkanmu. Aku merindukanmu. Bangunlah Tae biarkan aku menebus semua kesalahanku…. Hiksss.."
Grepp..
"Eomma." Hoseok menolehkan kepalanya kearah ibu mertuanya.
"Pulang dan beristirahatlah. Sudah tiga hari kau disini dan belum istirahat, biar eomma yang menjaga Taehyung dan Seokhyun disini. Kau pulang saja." ucapnya lembut.
"Ani.. eomma aku akan terus disini sampai Taehyung bangun. Aku ingin menjadi orang pertama yang dlihat Taehyung saat ia sadar nanti."
Baekhyun menghela napasnya cepat. Ia mengusap punggung menantunya dengan lembut. "Jika kau terus memaksakan dirimu seperti ini kau bisa saja sakit dan bila Taehyung sudah sadar dan mengetahuinya ia pasti akan sedih." Ucap Baekhyun tegas.
Hoseok terdiam sebentar. Apa yang dikatakan mertuanya ada benarnya juga. Ia tidak mau sakit dan bukan menjadi orang pertama yang dilihat Taehyung saat sadar.
"Kau bisa mengambil Seokhyun padaku setelah istirahatmu selesai dan merawatnya sampai Taehyung sembuh. Anggaplah ini sebagai tebusan atas semua kesalahamu kepada Taehyung."
"Nde eomma. Aku akan pulang." Hoseok bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu meninggalkan ruang perawatan istrinya.
.
Jungkook membuka matanya saat cahaya matahari pagi menyinari wajahnya melalui jendela kamarnya. Ia bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Jungkook menekan tombol kunci untuk sekedar melihat siapa yang mengirimnya pesan atau menelponnya. 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan yang terpampang di layar ponselnya. Jungkook membuka satu per satu pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk. Berharap salah satunya adalah Hoseok. Namun Jungkook tak menemukan sama sekali nomor kontak Hoseok yang masuk ke ponselnya.
Sudah terhitung satu minggu Hoseok tak menghubungi dan menenuminya. Hal itu membuat Jungkook cemas sekaligus takut.-Takut bila Hoseok jatuh cinta pada istrinya dan pergi meninggalkannya- Jungkook segera menepis pikiran itu dari otaknya.
"Tidak.. tidak.. tidak mungkin. Aku yakin Hoseok hyung hanya sedang sibuk saja sekarang." Ujar Jungkook mencoba berpikir baik tentang kekasihnya.
Jungkook meletakan ponselnya ketempat semula dan menggeser tubuhnya kepinggir ranjang. Kepalanya kembali menoleh kearah ponselnya yang tergeletak manis diatas meja. Berharap jika ponselnya bergetar dan menyala menampilkan nomor kontak yang sangat di rindukan.
'apa aku susul saja kekantornya' ujar Jungkook bimbang dalam hati.
.
Jungkook menatap bangunan kokoh didepannya dangan pandangan ragu. Dengan pelan ia melangkahkan kakinya memasuki bangunan kokoh itu. Jungkook mendorong pintu kaca dan disambut oleh seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat rapi bername tag 'Kim Chanmi'.
"Permisi tuan ada yang bisa saya bantu." Ujar Chanmi sopan terhadap Jungkook yang terlihat bingung saat memasuki gedung Jung Corp.
"Bisakah saya bertemu dengan Jung Hoseok ?"
Chanmi mengerutkan dahinya samar saat mendengar nama yang menurutnya tak asing lagi. "Maaf tuan, tetapi untuk saat ini presdir Jung sedang mengambil cuti selama beberapa hari. Jadi untuk saat ini presdir Jung sedang tidak diruangannya."
"Cuti ? dalam hal apa Hoseok hyung mengambil cuti selama itu ?" Tanya Jungkook penasaran.
"istrinya sedang melahirkan tuan. Maka dari itu presdir Jung mengambil cuti selama beberapa hari."
Jungkook tertegun saat mendengar alasan Hoseok mengambil cuti beberapa hari. Perasaan takut serta khawatir kembali menyelimuti hatinya.
"Apa anda memiliki pesan yang ingin disampaikan tuan ?" Tanya Chanmi lembut.
"tidak.. terima kasih noona. Kalau begitu saya permisi."
Jungkook membalikan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah pelan. 'Baiklah. Mungkin minggu depan Hoseok hyung sudah masuk ke kantornya.' Batin Jungkook menyemangati dirinya sendiri.
.
Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti tepat didepan gedung Jung Corp. Seorang lelaki tampan, dengan balutan setelan rapi kantor nya keluar dari mobil tersebut. Hoseok berjalan memasuki kantornya dengan terburu-buru. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya akan memberikan salam dan sapa kepadanya. Terkadang ia membalasnya selebihnya ia hanya menganggukan kepalanya saja. Matanya tak berhenti melirik jam di tangan kirinya.
Bruk..
"Awww.."
"Maafkan saya tuan, saya tidak se….."
Hoseok membulatkan matanya saat mengetahui orang yang menabraknya barusan.
"Hyu… hyung."
"Jungkook.".
.
Saat ini keduanya sedang berada didalam kafe. Keduanya terlarut dalam diam. Sudah terhitung sepuluh menit mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ada yang ingin ku bicarakan/ Ada yang ingin ku bicarakan." Ujar Jungkook dan Hoseok bersamaan.
"Kau duluan." Ujar Hoseok tenang kepada Jungkook.
"apa benar istrimu sudah melahirkan hyung?" ujar Jungkook lirih.
Hoseok menatap mata Jungkook intens. Dari sorot matanya dapat ia lihat sebuah kerinduan yang mendalam. Hoseok menundukan kepalanya, memalingkan tatapannya sebentar .
"Ya." jawabnya singkat sambil kembali mengangkat kepalanya.
Jungkook membuang napas pelan. Hatinya kembali diselimuti oleh rasa cemas dan takut saat mendengar jawaban singkat Hoseok.
Hoseok menyesap sedikit vanilla latte diatas mejanya sekilas untuk menutupi rasa gugupnya. "Ju.. Jungkook ah." panggil Hoseok ragu. Ia benar-benar bingung harus bagaimana mengatakan semuanya.
"Nde hyung."
"Aku juga ingin berbicara denganmu. Maafkan aku yang telah menghilang dari hadapanmu selama seminggu terakhir ini. Istriku memang sedang melahirkan dan saat ini keadaannya masih kritis. Tetapi untungnya bayi ku dalam keadaan sehat."
"…" Jungkook terdiam saat mendengarkan cerita dari Hoseok, dapat ia dengar sebuah nada kebahagiaan disana.
"Dan… aku rasa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi Jungkook ah. aku.. aku… jatuh cinta terhadap istriku sendiri." Matanya mulai memanas saat Jungkook mendengar pangakuan yang sangat jujur keluar dari mulut Hoseok. Namun ia segera menahannya dengan menundukan kepalanya sebentar dan tersenyum kearah Hoseok.
"Baiklah jika hyung menginginkannya aku akan menerimanya. Selamat atas kelahiran bayimu hyung, semoga saja bayimu diberikan kesehatan dan tumbuh menjadi anak yang baik."
Hoseok menatap sendu Jungkook yang sedang tersenyum didepannya. Dapat ia lihat sebuah luka dalam pancaran matanya. Meski mulutnya mengucapkan kata selamat dan do'a untuknyan sekalipun.
"Ya, terima kasih Jungkook ah. Aku minta maaf jika ini begitu menyakitkan bagimu."
"Tidak hyung. Aku baik-baik saja. Sampaikan salamku untuk istri dan juga bayimu."
"Ya akan ku sampaikan."
"Baiklah aku pulang dulu hyung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."
"aku akan mengantarmu."
"Tidak.. tidak usah aku bisa pulang sendiri naik bus. Lagipula kau juga harus kembali ke kantor hyung. Aku pulang dulu hyung. Permisi."
Air matanya jatuh tepat saat ia membalikan badannya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Mengabaikan pasang mata yang memperhatikannya. Meninggalkan Hoseok sendirian di kafe yang sepi.
.
.
.
TBC
Holla Yoon Ji balik lagi. Maaf ya lama updatenya soalnya kmren Yoon Ji lagi dapet tugas praktek diluar daerah selama ya tiga mingguan la. Jadi Yoon Ji ga bawa laptop dlu. Kata mamah sih takut ntr ilang hehe *lebay… bodo amat, dari pada gabisa lanjut hehehe #plak..
Sekarang aja Yoon Ji masih ko prakteknya. Jadi nanti kalo lama updatenya maklumin aja ya, karena dibalik praktek juga bnyak tugas yang numpuk minta diselesaiin hehhehehe..
Ok.. jangan lupa juga reviewnya buat ff ku yang banyak typo dan makin absurd ini ceritanya hehehe..
See you the next chapter guys ..
