Summary: 2045, Omega dan Beta perempuan mengalami degradasi populasi, angka kelahiran menurun, cuaca yang terus memburuk, perang dunia. Jeon Jungkook, wakil kapten dari Pasukan Brigade Khusus ke 13, harus terjun ke dalam kejamnya peperangan dan menemukan setitik harapan di dalam tahun-tahun yang mengerikan.

Warnings: Rape, forced pregnancy, ABO AU, mpreg, angst, character death

Author's note: more drama, romance, and angst to come. Major character death. I'm sorry beforehand.


10 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

01.22 p.m

Kelompok satuan tentara khusus gabungan Daehanminguk Gukgun dan Yeokjuk yang mengemban tugas operasi militer rahasia ke daerah Hanbando Bimujang Jidae memang pulang dengan tangan hampa, tapi di lain sisi mereka juga membawa harapan besar dengan meleburkan markas perbatasan Korea Utara di Hanbando Bimujang Jidae.

Selepas para tentara selain Jaebeom dan Jinyoung terbangun dari tidur mereka, Namjoon langsung memberitahu bagaimana Jae-hwan mengebom salah satu markas terbesar yang dimiliki oleh Korea Utara tersebut dan meluluhlantakkan bangunan yang konon tidak tertumbangkan oleh siapapun, kendati Beta itu telah sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya sebagai seorang Chugyeokja.

"Bagaimana mungkin kau berasumsi dia yang melakukannya, Daehwi?" tanya Hoseok terheran-heran mendengar penuturan Namjoon.

Ada kesan yakin yang meliputi wajah Namjoon saat ia menjawab, "Kau ingat sewaktu kau menyelamatkanku, kan? Dia berlari menuju laboratorium biomas dan nuklir. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan dia? Bisa saja dia mengorbankan sisa-sisa kesadarannya sebagai manusia dengan mengebom habis Hanbando Bimujang Jidae."

"Tapi bagaimana mungkin? Kita sudah melihat penampakkan banyak Chugyeokja hingga saat ini, dan kita sudah menyaksikan bagaimana mereka sudah sepenuhnya tercabut dari karsa mereka sebagai manusia," tanggap Yoongi dengan dahi berkerut, tidak setuju dengan ide yang dipaparkan oleh Namjoon. Lagipula, bagaimana bisa manusia-manusia gila seperti mereka mengendalikan akal dan pikiran mereka?

Mendengar perkataan Yoongi, Jungkook kembali terkenang akan tatapan yang diberikan oleh Jongdae di saat-saat terakhirnya sebagai seorang Chugyeokja, sebelum Jungkook mengakhiri hidupnya.

Mata seorang manusia yang balas menatapnya, penuh dengan rasa heran.

"Bisa jadi… ada banyak dari sekian hal yang belum kita ketahui soal Chugyeokja ini," akhirnya Jungkook menimpali ucapan Yoongi.

Pertanyaan terbesar di antara mereka justru menggeser pertanyaan tentang Chugyeokja dari benak semua orang.

Apa dengan demikian, perang sudah berakhir? Dengan hancurnya markas Hanbando Bimujang Jidae?

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tanpa seorang pun berani mengutarakannya.

Karena jauh di lubuk hati mereka, mereka tahu perang masih berlanjut.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya setelah ini?" Won-shik ikut melempar pertanyaan setelah lama mendengarkan.

"Bertahan hidup, sudah pasti." Namjoon menyahut. "Setelah ini kita akan rehat dari operasi-operasi militer sambil bertahan hidup. Para pasukan militer Korea Utara di Pyongyang sama sekali belum menampakkan jejak dari rencana mereka selanjutnya setelah Seojoon berhasil meluluhlantakkan gudang persenjataan, apalagi setelah markas perbatasan dihancurkan."

"Bukankah ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang mereka, selama mereka kehilangan sebagian dari kekuatan mereka?" selidik Taehyung, ikut memberikan pendapatnya. "Kita bisa menghentikan perang jika kita menghancurkan mereka terlebih dahulu."

Mendengar ucapan Taehyung, Alpha bersurai abu kecoklatan itu bergeming selama beberapa saat. "Kedengarannya memang mudah untuk melakukannya, tapi kita sudah kehilangan banyak orang-orang kepercayaan kita. Aku khawatir, apabila kita salah mengambil langkah, maka kitalah yang akan kalah dalam peperangan ini."

Semua orang di dalam mobil van militer saling melemparkan pandangan pada satu sama lain, menimang-nimang kebenaran di balik ucapan Namjoon.

"Yang dikatakan oleh Namjoon-hyung adalah benar. Lebih baik kita juga memperkuat kekuatan militer kita sekaligus beristirahat." Jungkook menyela sambil melirik ke arah Taehyung, yang mengingatkan Omega itu akan percakapan mereka beberapa jam lalu.

Kita akan menjadi keluarga. Jangan sampai ada yang mengganggu perihal itu.

"Kita sudah sampai di tempat istirahat, kawan-kawan," suara Jaebeom menjadi pemecah keheningan di antara mereka.

Satu persatu anggota kelompok Minguk berjalan menuruni van, memasuki tempat perehatan sejenak mereka di daerah Sinmak.

Namjoon menjadi yang terakhir turun di antara mereka. Tidak sedikit pun pandangannya beralih dari salah satu lengannya.

Mengamati.

"Kenapa kau tidak bisa berhenti memandangi tanganmu, Joon-ah?" Namjoon menyentakkan kepalanya begitu ia menyadari Jackson sedang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di dada. "Apa kau terluka? Kenapa kau tidak meminta pada Seokjin untuk mengobati lukamu?"

Buru-buru Namjoon memanjangkan lengan baju operasi militernya, berdeham untuk menenangkan diri. "Bukan apa-apa. Aku tidak terluka." Ia berdiri di atas tanah yang sudah diselimuti oleh salju dengan posisi tubuh menghadap sahabat baiknya selama ia masih menjadi anggota muda dulu. Dalam hatinya, ia berharap Jackson akan cepat meninggalkannya dan bergabung bersama yang lain untuk menggeledah setiap barisan rumah penduduk yang sudah tidak terjamah.

Untungnya Jackson kembali fokus pada yang lain dan berjalan meninggalkannya-memeriksa satu persatu jendela rumah yang mereka lihat.

Tatkala yang lain sudah sibuk dengan tugas mereka masing-masing, Namjoon kembali menggelung seragamnya dan memperhatikan ruam-ruam kemerahan yang semakin banyak bermunculan di lengannya. Ia ingat betul apa yang ia baca di jurnal milik Kangin, tentara Korea Utara yang berubah menjadi Chugyeokja selepas dikarantina oleh Korea Selatan. Bercak-bercak aneh, berwarna merah, yang lama kelamaan akan menyebar ke seluruh tubuh sementara sang korban akan kehilangan kewarasan mereka sebagai manusia.

Namjoon bergidik.

Hidupnya tidak akan lama lagi.


10 November 2045, Sariwon District, Hwanghae Province, North Korea

02.44 p.m

"Dasar anak aneh."

Jihoon berusaha mengacuhkan Woojin yang sedari tadi sibuk berdiri di belakangnya, memperhatikan anak itu bermain-main dengan koleksi mainannya di ruangan milik Seojoon yang sudah berpindah tangan menjadi milik Jungkook.

Tidak memberi respon, Jihoon kembali menyibukkan diri dengan koleksi mainannya, menubrukkan figurin Iron Man ke tumpukan lego berupa imitasi bangunan. Sengaja ia meninggalkan mainan-mainannya tersebut berserakan di atas meja Jungkook karena hanya Jungkooklah yang tahu cara untuk menyusun kepingan lego-lego tersebut menjadi sekumpulan mainan-mainan baru untuk Jihoon. Sejak ia menerima mainan-mainan tersebut dari Seojoon dan melihat Jungkook menyusun sekumpulan blok mainan tersebut, Jihoon terobsesi dengan lego. Setiap hari ia terus meminta Jungkook menyusunkannya blok mainan yang baru dan begitu Jungkook berangkat ke perbatasan bersama sang ibu beserta tentara lainnya, Jihoon berusaha menyusun mainan mengikuti imajinasinya sendiri.

Sayangnya Jihoon masih bisa merasakan Woojin berdiri di belakangnya, mengamati dengan tajam. Jihoon membenci Woojin yang selalu mengganggunya, mengamatinya seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahat yang menjadi 'teman' ayahnya di tempatnya yang terdahulu, sebelum ia bertemu dengan Seojoon-Appa, Jungkook-hyung dan sang Eomma.

Semula Woojin tampak acuh tak acuh dengan Jihoon, menarik dirinya dari bocah tersebut. Sedangkan Jihoon-lah yang berinisiatif duluan menjalin pertemanan dengan Woojin, hingga anak itu mulai menunjukkan ketertarikan dengan kumpulan mainan milik Jihoon. Acapkali bocah remaja itu mengganggu Jihoon saat Jungkook meninggalkannya sendirian di ruangan milik sang Alpha pemimpin Yeokjuk dengan mengambil mainan miliknya tanpa sepengetahuannya. Dan setiap kali Jihoon memergokinya, Woojin hanya mengusut senyuman kaku—terkesan jahil.

Jihoon beberapa kali mengadukannya pada sang Eomma maupun Jungkook, tapi tidak sedikitpun ia ditanggapi dengan serius.

("Kalau begitu, coba untuk berbagi mainan dengannya?"

"Tapi ini mainan pemberian Seojoon-Appa!")

Belum lama Jihoon tenggelam dalam mainannya, tiba-tiba Woojin memajukan diri dan merebut mainan figurin Iron Man dari tangan Jihoon. Teriakan tidak senang berkumandang begitu saja dari mulut Jihoon.

"Kembalikan!" protesnya kesal pada Woojin.

Bukannya mengembalikan mainan milik Jihoon, Woojin hanya terkekeh sambil menjulurkan lidah. "Tidak karena kau mengacuhkanku."

Dengan kesal, Jihoon menarik lengan baju Woojin untuk menggapai mainan miliknya. Tak ayal Woojin berjinjit dan berusaha menjauh dari Jihoon. Bagaimanapun juga Jihoon terlalu kecil untuknya dan dengan mudahnya ia bisa mengambil paksa barang milik anak itu.

"Aku bilang kembalikan!" teriak Jihoon, mulai mencubit lengan Woojin dengan gemas. "Aku akan adukan ke Eomma dan Jungkookie-hyung kalau kau jahat padaku!"

Woojin hanya tersenyum jahil padanya seperti yang biasa ia lakukan apabila Jungkook tidak berada di dalam ruangan, "Oh, ya? Memangnya kapan mereka kembali? Kau yakin Eommamu masih hidup?"

Mendengar perkataan Woojin, Jihoon mulai merasakan matanya sembab. Ia merasa begitu sedih bukan kepalang saat Woojin berkata demikian. Tangannya kembali berkutat pada anak itu, mulai memukul-mukul Woojin dengan tidak senang.

"Eomma akan kembali!" teriak Jihoon, "Eomma itu kuat! Jungkookie-hyung juga berjanji akan melindungi Eomma!"

"Kau masih kecil, makanya kau tidak tahu betapa berbahayanya di luar sana. Ada banyak orang jahat yang berkeliaran, terutama di daerah perbatasan, tempat berkumpulnya orang-orang yang mengerikan. Eommamu pasti sudah mati saat ia tiba di sana!"

Akhirnya Jihoon berhenti memukuli Woojin dan jatuh berlutut di hadapan pemuda itu, menangis sekencang-kencangnya yang ia bisa. Sekilas ekspresi jahil di wajah Woojin berubah panik menyaksikan tangisan Jihoon, tapi ia sama sekali belum mau memberikan figurin Iron Man pada Jihoon.

"Cengeng, masa begitu saja kau menangis?" Woojin masih mengejeknya sekalipun ia merasa sedikit panik, masih belum mau berhenti menggoda Jihoon.

Tangisan Jihoon kian melengking hingga akhirnya Jimin menampakkan diri pada ambang pintu dengan tergesa-gesa, menggendong anak itu dalam satu tangkapan mudah dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. "Ooh, Jihoon-ah, kau kenapa?"

Jihoon hanya lanjut tergugu dan membenamkan kepalanya di pundak Jimin, menangis keras-keras. Melihat keadaan anak itu, Jimin segera melayangkan pandangan pada Woojin, menyalahkan. "Woojin, apa yang kau lakukan padanya?"

Woojin mengangkat bahu, seolah-olah tanpa perasaan bersalah, "Aku hanya mengambil mainannya dan bilang apa dia yakin ibunya akan kembali dengan selamat, lalu dia menangis."

Tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Jimin membuka mulutnya lebar-lebar, hendak mengomeli anak itu habis-habisan hingga Mark ikut muncul bersama dengan Baekhyun.

"Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun cemas mendengar suara tangisan Jihoon. Ia langsung mengusap kepala mungil anak itu, berupaya meredakan tangisannya.

Mark seperti langsung memahami apa yang dilakukan oleh Woojin dan menyentak paksa mainan Iron Man dari tangannya, menggertak marah. "Lagi-lagi kau membuat masalah, Woojin. Sudah kukatakan berulang kali, Woojin, Jihoon lebih kecil daripadamu dan kau mengerjainya habis-habisan seperti." Ia menghampiri Jihoon dan memberikan kembali mainan Iron Man milik anak itu, tanpa hasil.

"Memangnya apa yang dia lakukan?" Baekhyun masih keheranan.

"Dia mengatakan pada Jihoon kalau V-hyung tidak akan kembali dari misi ini," kata Jimin dengan suara yang melengking daripada seharusnya. "Aku tidak mengerti bagaimana anak remaja sepertimu bisa mengucapkan hal menyakitkan seperti itu pada anak sekecil Jihoon. Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak memukulmu."

"Pukul saja aku," Woojin berujar dengan sikap santai, membuat Jimin, Baekhyun dan Mark terkesiap mendengarnya. "Kalau itu membuatmu merasa lebih baik karena aku sudah berbuat jahat padanya."

Mark menarik Woojin bergegas keluar ruangan, ekspresinya berkerut oleh rasa jengkel, "Aku benar-benar akan menguncimu setelah ini, Woojin. Aku sudah mengatakan aku tidak akan main-main dengan ucapanku untuk menghukummu apabila kau berbuat kenakalan seperti ini."

Suara langkah mereka bergema dan berlarut-larut hilang hingga ke ujung lorong.

"Tapi-tapi," Jihoon terisak di dekapan Jimin, "Bagaimana kalau Eomma benar-benar tidak kembali?"

"Dia akan kembali, Jihoon-ah," bujuk Jimin lembut. Matanya beralih pada Baekhyun yang tampak cemas melihat keadaan bocah itu. "Eommamu adalah orang yang kuat dan hebat, dia pasti bisa melindunginya sendiri."

"W-Woojin bilang—" ia mendengus serak, "-Eomma pergi ke tempat yang banyak orang jahat berada-"

"Dia pasti akan kembali, Jihoon-ah," Baekhyun ikut membujuknya.

"Aku ingin Eomma! Aku ingin Eomma sekarang!" Jihoon menjerit tepat di telinga Jimin, membuat dua orang Omega yang sedang berupaya meredakan tangisannya melompat kaget. "Aku tidak ingin Eomma mati!"

"Ssh, tenang, Jihoon-ah, dia pasti akan kembali—"

"Aku ingin Eomma sekarang!"

Mau tak mau Jimin berlari membawa Jihoon ke ruangan yang biasa ia tiduri bersama sang ibu dengan Baekhyun mengekor di belakangnya. Terkadang aroma tubuh Taehyung yang melekat pada seisi ruangan menenangkan Jihoon saat anak itu mulai berulah, membuatnya terlelap tanpa sadar setiap kali Baekhyun ataupun Jimin menidurkannya di atas ranjang.

Hampir satu jam berlalu ketika akhirnya Jihoon mulai tenang, walaupun sekujur tubuhnya masih gemetar karena isak tangis. Belaian lembut tangan Baekhyun di kepalanya mulai membuat kedua mata anak itu berat oleh rasa kantuk, sampai akhirnya ia benar-benar jatuh tertidur di atas ranjang. Baik Jimin maupun Baekhyun menghembuskan napas lega melihat satu masalah hari itu berakhir.

"Bukan saja merebut mainan Jihoon, tapi juga apa yang dikatakan oleh Woojin benar-benar keterlaluan," gumam Jimin pada Baekhyun. "Jihoon masih terlalu kecil untuk dicekoki hal-hal seperti ini, apalagi mengingat sejak lahir ia sudah terpisah dari V-hyung dan baru saja kehilangan Seojoon yang merupakan sosok ayah baginya. "

"Pasti ada sebab kenapa Woojin bisa berkata seperti itu," ujar Baekhyun dengan nada netral. "Dia tidak punya orang tua sejak lahir dan sudah lama ia bersama dengan satuan tentara Daehanminguk Gukgun. Bisa saja kepribadiannya dibentuk dari cara ia dibesarkan, apalagi kau tahu bagaimana watak orang-orang yang sudah terjun lama di peperangan."

"Hal itu tidak bisa dijadikan alasan," Jimin bersikeras, "Jungkook-hyung sudah memintanya berjanji untuk melindungi Jihoon, bahkan memberinya senjata pistol. Bagaimana bisa Alpha itu dengan bodohnya meminta Woojin yang selalu mengganggu Jihoon untuk melindunginya?"

"Aku pernah dengar anak kecil selalu bersikap jahat pada orang-orang yang mereka sukai. Woojin melakukannya karena dia menyukai Jihoon, sayangnya dia salah dalam menyampaikan hal itu," ia terdiam selama beberapa saat, "Walau tidak kupungkiri dia sudah melewati batas."

"Lain kali aku akan memukul anak itu," Jimin masih bersungut-sungut, mengepalkan tinju. "Dia butuh sedikit pelajaran."

Baekhyun memutar bola matanya dengan dramatis, "Yah, seharusnya kau juga tidak membenarkan cara mendidik anak-anak lewat kekerasan."

"Biarkan saja! Dulu aku juga selalu menjewer adikku kalau dia mulai berulah!"

"Ya, ya. Sesukamu saja."

Jimin tidak melanjutkan perdebatan singkat mereka dan berjalan keluar ruangan untuk mengambil makan siang mereka yang sejenak terlupakan.

Sementara Baekhyun duduk di sudut tempat tidur, menunggui Jihoon yang sudah terlelap. Kepalanya menoleh pada jendela yang menghadap ke hamparan luas permadani berwarna putih keabuan disertai bentangan langit yang biasanya berwarna oranye, kini sebagian diselimuti warna putih.

Karena penasaran, ia memperhatikan pemandangan langit di hadapannya dengan seksama dan bergumam, "Itu apa?"


10 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

09.52 p.m

"Seharusnya setelah makan malam, kita pergi tidur," lirih Jungkook ke telinga Taehyung yang terkapar lemas setelah melewatkan sebagian malam mereka dengan bercinta. Gema suara perutnya berkumandang tepat setelah ia berujar demikian, mengundang tawa dari Omega di sebelahnya.

"Kau sendiri yang meminta supaya aku mau bersedia bercinta denganmu," seloroh Taehyung dengan kedua mata menyipit, mengecup pelan bibir Jungkook dan mengulumnya selama beberapa detik-berhati-hati karena wajah sang Alpha masih belum sepenuhnya pulih dari lebam yang dibuat oleh tentara Korea Utara. "Kalau kau tidak terlalu lelah setelah ini dan kalau badai sudah sedikit mereda, kita bisa menelusuri daerah sini untuk mencari bahan makanan."

"Menarik. Aku butuh asupan makan yang banyak setelah hampir mati kelaparan kemarin," ucap Jungkook, memegangi wajahnya yang masih biru di beberapa tempat.

"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ia merasakan Taehyung menyentuh beberapa titik sensitif di wajahnya akibat luka yang ia peroleh, "Kau tidak boleh mati sebelum diriku."

"Aku juga tidak ingin kau mati sebelum diriku. Bagaimana kalau kita mati bersama-sama saja?"

"Bagaimana kalau kita tidak perlu mati?" Taehyung mengerutkan kening, "Jihoon masih butuh aku dan juga dirimu-sebagai ayahnya yang baru."

Telinga Jungkook memerah mendengar panggilan barunya, "Uh, aku? Seorang ayah? Appa?"

"Kau yang mengatakannya padaku tadi pagi, Jungkook-ah, tepat sebelum kau tertidur. Kalau kau ingin kita bertiga menjadi sebuah keluarga. Kau, aku, dan juga Jihoon," Omega di hadapannya memperjelas kalimatnya pada sang Alpha. "Apa sekarang kau ingin menarik tanggung jawabmu sebagai ayah dari Jihoon?"

"B-bukan begitu!" sahut Jungkook dengan cepat. Ia menegakkan diri di kepala tempat tidur. "Hanya saja, aku merasa kurang siap untuk dipanggil… Appa." Kali ini rona merah merayap hingga ke wajahnya, membuat Taehyung terkikik gemas melihatnya. "Astaga, Hyung. Aku belum sepenuhnya siap dipanggil Ayah oleh Jihoon sekarang. Bagaimana kalau dia menolak memanggilku dengan sebutan Appa?"

Tangan Taehyung bergerak menyentuh pipi Jungkook yang tidak terjamah oleh memar, "Dia pasti akan senang sekali, bisa memanggilmu dengan sebutan Appa. Masa aku harus berulang kali bercerita bagaimana dia tidak bisa berhenti berceloteh tentang dirimu, eo?"

"Tapi… tapi… Bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik? Bagaimana kalau aku tidak bisa sehebat Seojoon?"

"Janganlah menjadi seorang ayah, kalau begitu. Jadilah seorang manusia yang beradab," ucap Taehyung khidmat. "Dan jadilah sosok teman untuknya."

Senyuman di wajah Jungkook mengembang mendengar ucapan Taehyung. "Keluarga. Kalian berdua adalah keluarga utamaku sekarang."

Kali ini ciuman yang tercipta di antara mereka diinisiasi oleh Jungkook.


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

03.23 a.m

Seokjin terkesiap dari tidurnya tanpa sebab.

Napasnya masih tersengal begitu tangannya menyentuh sebelah ranjang yang ia tiduri. Dingin karena tidak ada sosok yang ikut tidur di sebelahnya.

"Joon-ah?" desisnya memanggil nama sang kekasih. Sudah tentu tidak ada jawaban.

Diambilnya arloji pintar di atas nakas yang baru saja menunjukkan pukul tiga lewat dinihari.

Sebenarnya tidak aneh baginya mendapati Namjoon sama sekali belum datang ke tempat tidur, mengingat Alpha itu sudah beberapa bulan ini menyibukkan diri dengan jurnal yang ditinggalkan oleh presiden Moon Jae-in. Entah apalagi yang masih diselidiki oleh Namjoon di dalam buku itu, padahal Namjoon telah menerangkan padanya kalau ia sudah menyelesaikan isi jurnal tersebut sebanyak dua kali.

Karena rasa penasarannya pula, akhirnya Seokjin memaksakan dirinya yang masih diserang rasa kantuk untuk keluar dari kamar yang seharusnya ia tiduri bersama sang kekasih. Pelan-pelan ia menyeret kedua kakinya menyusuri lorong gelap rumah terbesar yang dapat tim Minguk temukan di daerah Sinmak, dibantu oleh penerangan dari lampu senter arloji pintarnya.

Beberapa pintu yang ia lewati hening, kontras dengan suara badai yang berkecamuk di luar. Bisa dipastikan beberapa rekan mereka yang lain selain Hoseok dan Won-sik yang sedang berjaga, sedang terlelap dalam kamar masing-masing.

Ia berhenti di sebuah pintu berbahan kayu meranti di akhir lorong, dan mengetuk pelan pintu tersebut sembari berbisik, "Joonie? Kau di dalam?"

Ada selang beberapa detik sampai ia mendengar suara benda bergeser disertai suara ketukan langkah kaki di atas lantai parquet. Lalu suara manusia yang menyahutnya, "Jin-hyung? Jinnie? Kau belum tidur?" pintu di hadapannya kini setengah terenggang, menampakkan separuh wajah Namjoon dalam keremangan malam.

"Kenapa kau masih belum tidur juga? Kau tidak merasa lelah?" Seokjin berbalik tanya, menguap lebar-lebar tanpa menutup mulut.

"Uh, mungkin sebentar lagi."

"Apa kau masih membaca isi jurnal itu? Kau sudah membacanya dua kali. Sampai berapa kali kau mau membaca isinya?"

Jeda di antara jawaban Namjoon memberikan kesan bimbang, "Aku hanya sedang memastikan beberapa hal detail di dalamnya. Ada yang perlu aku telusuri lebih jauh."

Seokjin mengerutkan dahi. Biasanya Namjoon tidak setertutup ini terhadap dirinya. Dari nada bicaranya pun, Beta itu merasa curiga dengan jawaban Namjoon. "Menelusuri apa? Soal percobaan terhadap para Omega? Atau Chugyeokja?" ia menangkap kepanikan dari Namjoon.

"Bukan apa-apa," Namjoon menyahutnya dengan cepat, terlalu terburu-buru malah. "Aku akan ke kamar setelah ini. Kau tidurlah duluan."

Seokjin berdehum pelan dan mengiyakan keinginan Alpha tersebut, berangsur-angsur kembali ke kamar. Ia menyelimuti dirinya kembali dengan selimut sampai kemudian ia mendengar suara langkah kaki berat-yang sudah pasti milik Namjoon-dan merasakan tangan sang Alpha melingkari tubuhnya, merengkuhnya dalam pelukan meski dengan gerakan yang terkesan canggung.

"Joonie," panggil Seokjin lembut, "Kalau ada apapun, kau bisa menceritakannya padaku, ne?"

Desahan napas di belakang tengkuknya menyentak berhenti. "Ne."

Baru saja lelap kembali menyambut Seokjin tatkala ia mendengar suara Namjoon berbisik lirih di belakangnya, "Aku selalu mencintaimu, Jinnie. Selalu."

Aku tahu.


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

10.44 a.m

Jungkook baru saja hendak bergilir ganti waktu jaga dengan Hoseok sewaktu ia mendengar Namjoon memanggil Beta tersebut ke ruangan pribadinya sementara. Merasa tidak ada urusan dengan keduanya, ia hanya meluncur pergi meninggalkan perehatan sementara mereka bersama Yoongi yang ditugaskan menjadi rekannya dalam mengawasi keadaan sekitar.

Waktu hampir menunjukkan pukul sebelas, tapi badai yang seperti tidak pernah berhenti masih berlangsung di hadapan mereka. Jungkook mungkin akan berakhir diam tak bergerak dalam kepungan badai jika Yoongi tidak datang menemaninya sambil menyodorkan satu kaleng bir yang entah bagaimana bisa berakhir di tangan Alpha bersurai perak itu.

"Ini, minumlah," kata Yoongi di sebelahnya.

Jungkook menatapnya dengan heran. "Kita sedang mengenakan masker."

"Lalu?" Yoongi balas menatapnya.

"Bagaimana kau meminumnya, Hyung?"

Dengan sikap acuhnya yang bisa disalahartikan sebagai sifat pemalas, Yoongi menunjuk ke bangunan di belakangnya, "Kita bisa singgah sejenak di sana dan minum-minum sebentar."

"Tapi kita sedang menjalankan tugas."

"Kita sedang menjalankan tugas, bocah. Ambil bir ini atau aku akan meninggalkanmu di luar sini sendirian," ujar Yoongi dengan nada setengah menyuruh, membuat Jungkook menggelengkan kepalanya dengan gemas.

"Aku ini pimpinan Yeokjuk, dan aku malah mendengarkan orang di bawahku untuk mehanggar aturan," keluhnya.

"Hei, aku ini masih seniormu!"

Keduanya berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan yang kemungkinan besar dulunya digunakan sebagai toko kelontong, terlihat dari jajaran barang-barang di dalamnya. Mata Yoongi menangkap sebuah bungkus rokok yang telah lewat tanggal kedaluarsanya. Ia menawarkan rokok tersebut pada Jungkook dan ditolak oleh Alpha yang bersangkutan. Jungkook mulanya mengira Yoongi akan mengembalikan bungkus rokok tersebut ke tempatnya, sampai kemudian ia menyaksikan Yoongi membakar putung rokok tersebut dengan pemantik api dan mengisapnya dalam-dalam.

"Hyung. Rokok itu sudah kedaluarsa."

"Rasanya masih tetap sama."

Kening Jungkook berkerut, "Bagaimana kau tahu? Kita 'kan selama ini dilarang untuk merokok!"

"Aku menyesal tidak pernah memperkenalkanmu akan hal ini," kata Yoongi sambil menyeringai. Ia kembali mengisap rokok tersebut, menghembuskannya dalam kepulan asap berwarna putih. "Aku tidak akan bisa melakukan ini kalau ada Jimin, sekalipun di markas Yeokjuk beberapa tentara terkadang menawarkan rokok. Terakhir aku mengisap barang ini sewaktu masih setingkat kelasi biasa."

"Kau merokok untuk menenangkan dirimu, ya?"

"Untuk membantuku mengalihkan pikiran dari Jimin, sebenarnya," matanya menatap netra hitam Jungkook. "Kau beruntung Taehyung ada ikut bersama kita, jadi kau tidak perlu meninggalkannya di markas lama-lama."

"Tetap saja aku waswas kalau melihatnya di medan musuh. Biarpun dia pernah menjadi seorang Alpha dan tentara yang disegani, sekarang dia sudah dilucuti dari statusnya yang dulu," Jungkook menerawang ke langit-langit, "Aku takut kalau ada seseorang yang menyakitinya. Mau sehebat apapun dia, dia adalah seorang Omega. Ada kalanya dia akan takluk pada seorang Alpha yang lebih dominan. Dan aku takut aku tidak bisa menjaganya."

"Aku juga berpikir demikian soal Jimin. Sekarang pun aku mengkhawatirkan dirinya di markas," Yoongi menyeletuk. "Sekarang situasi memang aman, tapi tetap saja kita masih berada di medan perang. Aku tidak akan pernah tahu siapa yang akan pergi di antara kita. Apakah aku, ataukah itu Jimin, kau, ataukah yang lainnya. Terkadang dunia ini mengerikan bagiku. Terlalu mengerikan sampai-sampai aku takut tidak bisa menjaga Jimin dengan baik. Aku terlalu takut kehilangan dirinya, lebih daripada aku takut kehilangan nyawaku sendiri." Yoongi menyeka kedua matanya. "Menyaksikan anakku sendiri mati… juga jauh lebih menyakitkan."

Jungkook tidak mengatakan apapun. Hanya diam dan mendengarkan, lalu meneguk kaleng bir di tangannya hingga kosong.

"Kau tahu, Jungkook-ah?" Yoongi menerawang jauh ke belakang Jungkook, "Sewaktu aku baru saja bergabung dengan Daehanminguk Gukgun sampai sebelum aku bertemu dengan Jimin, aku selalu berpikir, di medan perang ini aku akan memperjuangkan hidup dan matiku. Aku tidak akan lagi takut untuk mati karena aku sudah lama bergelut dalam bahaya. Tidak peduli bagaimana aku mati nanti, aku akan mati sebagai seorang prajurit yang sudah dengan tangguh berjuang membela negaraku," Alpha itu meneguk birnya. Perlahan-lahan kuncup telinganya dironai warna merah, "Kalaupun aku mati nanti, aku akan kembali pada keluargaku."

"Sepertinya kita semua memiliki cara berpikir yang sama setelah bertahun-tahun melalui perang," kata Jungkook mengiyakan ucapan Yoongi. "Hanya saja—" Alpha muda itu teringat percakapannya dengan Taehyung.

Aku tidak boleh mati sekarang. Ada orang-orang yang harus kuperjuangkan.

"—aku tidak boleh mati untuk saat ini. Ada Taehyungie-hyung dan juga Jihoon."

Yoongi mendengus menahan gelak tawa mendengar ucapan Jungkook, nyaris menyemburkan cairan pahit bir dari dua lubang hidungnya. "Astaga. Kau benar-benar sudah berubah sekarang, Jungkook-ah."

Jungkook mengerucutkan bibir, merasa tersinggung. "Aku serius, Hyung. Kalau aku mati duluan, tidak akan ada yang melindungi mereka selain diriku. Maksudku, sudah pasti ada yang melindungi mereka, tapi tentu mereka bukanlah prioritas utama orang lain selain diriku."

"Aku mengerti, aku mengerti," anggukan bertubi-tubi ditawarkan oleh Yoongi pada Jungkook. "Aku juga berpikir sepertimu sekarang. Aku sudah tidak bisa lagi menatap medan perang dengan keadaan yang sama seperti dulu. Dulu, biasanya aku akan merasa masa bodoh akan pikiran kapan maut menjemputku. Lalu setelah bertemu Jimin, aku mulai dibayangi rasa gentar. Aku takut, kalau suatu saat aku tidak akan bisa kembali dari misi dengan selamat dan kembali bertemu dengan Jimin."

Keduanya masing-masing meneguk bir mereka hingga kaleng-kaleng tersebut kosong.

"Ah, pembicaraan ini jadi terdengar menyedihkan begini," Yoongi kembali berucap. "Sekarang kita kembali keluar. Atau mungkin menyisir daerah ini."

Jungkook mengikuti Yoongi keluar dari bangunan toko kelontong tersebut dan bersiaga kembali dengan senjata laras pendeknya. Separuh kepalanya mengawasi keadaan sekitar, waspada, dan separuhnya lagi memikirkan perkataan Yoongi.

11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

12.24 p.m

Ingatan akan ucapan Jae-hwan mengenai Hyung-sik langsung menyeruak keluar dari benak Taehyung begitu ia selesai memoles dan mengisi amunisi persediaan senjata mereka di mobil recoinnaissance yang hanya sanggup memuat maksimal 6 orang di dalamnya.

Omega itu baru saja mengunci pistol tangan dan langsung berdiri menyentak dari posisi ia duduk semula, mengejutkan Jinyoung yang masih fokus sepenuhnya pada bubuk mesiu di hadapannya.

"Hei, ada apa? Kau mengejutkanku!"

"Aku benar-benar bodoh," seru Taehyung sambil menepak kepalanya sendiri, dahi berkerut tidak senang. "Aku benar-benar bodoh," ia kembali mengulangi ucapannya, kali ini kedua matanya menumbuk pada mata Jinyoung yang menyorot heran, "Hyung-sik masih hidup."

Jinyoung hampir menyemburkan semua isi serbuk mesiu dalam gerakan panik, "Apa-apaan?! Yang benar saja?! Kau tahu darimana? Dan-dan bagaimana-"

"Ada seorang tentara Korea Utara yang memberitahuku soal ini," kata Taehyung, menarik napas sedalam-dalamnya. Ia berusaha untuk tidak ikut panik mengingat kenyataan kalau Alpha yang dulu pernah merenggut sebagian hidupnya dalam kubangan hitam masih mampu menapakkan kedua kakinya di muka bumi. "Hyung-sik, astaga, kenapa aku bisa sepelupa ini… Kita harus segera mengabarkan hal ini pada Jungkook dan yang lain! Kita harus segera kembali ke markas Yeokjuk secepatnya!" pikirannya kali ini langsung berotasi pada keadaan putranya, Jihoon.

Tangan Taehyung merapal di sekitar dadanya, dalam hati ia bersungguh-sungguh mendoakan keselamatan putranya tersebut, berharap tidak ada satu bahayapun yang mengancam nyawa putranya mengingat Hyung-sik masih hidup.

Mungkin Alpha itu masih tidak sadarkan diri, masih tertangkup dalam keadaan koma, tapi cepat atau lambat, Taehyung yakin Hyung-sik akan mulai menjalarkan lagi aksinya untuk mendapatkan yang ia inginkan. Ia melompat keluar dari kendaraan reconnaisance selang beberapa detik memasang masker wajah dan berlari secepat mungkin kembali ke basis sementara satuan kelompok Minguk. Ia hampir-hampir tidak mempedulikan Jinyoung yang mengekor sesudahnya, berteriak pada Taehyung meminta Omega itu agar mau menungguinya.

Baru saja ia tiba di dalam foyer rumah tersebut, ia sudah berteriak, "A-aku punya berita buruk!"

Hanya ada Jackson, Jaebeom dan Seokjin yang menyambutnya di dalam rumah dengan ekspresi penuh tanda tanya.

"Berita buruk apa?" Jackson menjadi penengah di antara ketiganya.

Taehyung melepas masker di wajahnya dan menarik napas dalam-dalam, berkonsentrasi pada ucapannya sendiri, "Hyung-sik—" suaranya seperti tertahan di saluran trakea, "Aku-aku mendengar dari Jae-hwan kalau Hyung-sik masih hidup."

Bukan main raut terkejut yang dimainkan oleh ketiga rekannya tersebut, "Yang benar saja?! Dia masih hidup?!" teriak Jackson masih tidak percaya-melompat dari sofa yang sedang ia tiduri, "Bagaimana mungkin dia masih hidup?! Bukankah kalian sendiri yang bercerita kalau Seojoon-daehwi sudah mengebom markas di Pyongyang dengan mengorbankan dirinya?"

"Pasti dia benar-benar titisan iblis, Messiah yang akan menghancurkan dunia ini," komentar Seokjin, entah bercanda dengan ucapannya atau tidak, pernyataannya tersebut terdengar seperti sebuah fakta.

"Karena itu kita harus memberitahu yang lain dan secepat mungkin kembali ke Sariwon. Keadaan Hyung-sik memang koma saat ini, tapi Jae-hwan mengatakan padaku cepat atau lambat Hyung-sik bisa dipastikan akan sadarkan diri," air mata mulai berkumpul di matanya, "Kalau ia sampai bangun dari komanya, bisa aku pastikan dia akan membalas dendam dengan pembalasan yang berkali lipat. Dan Jihoon—Jihoon pun dalam bahaya!"

"Oke, oke! Tenang, Tae!" Seokjin mengarahkan Taehyung agar Omega itu mau menenangkan dirinya dengan duduk di sofa sebelahnya. "Kita akan bicarakan ini baik-baik begitu Jungkook dan Yoongi kembali dari jam jaga mereka. Namjoon juga masih belum bisa ditemui untuk saat ini karena dia masih berbicara dengan Hoseok."

"Tapi… Tapi—"

Bagaimana kalau Hyung-sik sudah bangun dari tidurnya saat ini?

Bagaimana kalau ternyata ia sudah melakukan pelacakan markas mereka saat ini?

Bagaimana kalau Alpha itu sudah melakukan penyerangan ke markas Yeokjuk di Sariwon?

Terlebih lagi, bagaimana kalau Alpha itu sudah tiba di tempat Jihoon dan mengambil putranya tersebut tanpa sepengetahuan Taehyung?

Jihoon-nya yang malang, yang baru saja ia bisa dekap dengan mudahnya tanpa perlu berangan-angan, yang selalu ia kecup penuh kasih sayang, yang selalu bersikap manja. Putra yang begitu ia cintai. Putra satu-satu dari seorang Kim Taehyung.

Apa yang harus ia lakukan?

Apa? Apa?

Won-sik tiba-tiba muncul dari ambang pintu dengan wajah yang masih bengkak akibat tidur, "Aku sudah mendengar percakapan kalian dari kamar, dan sebaiknya kita menunggu sebentar seperti yang dikatakan oleh Jin-hyung. Apalagi kalau kita kembali di saat-saat badai masih belum reda, kita hanya akan mempersulit diri sendiri."

Mudah saja Taehyung mendengarkan ucapan Won-sik dan juga Seokjin, kalau dia masihlah seorang Alpha. Tapi sekarang ia adalah seorang Omega, yang mudah diombang-ambingkan oleh masalah perasaannya sendiri, apalagi kalau hal itu menyangkut putranya sendiri.

Mereka menunggu selama beberapa jam berikutnya, menunggu hingga Seokjin mengingatkan mereka untuk jam makan siang yang sudah terlewat selama beberapa saat.

Taehyung hanya bisa menatap makanannya dengan perasaan hambar, isi kepalanya beralih pada Jihoon.

Hanya telinga dan matanya yang bisa berfungsi sepenuhnya, mendengar suara dentingan alat makan dengan piring, percakapan singkat antara rekan-rekannya, dan juga suara Seokjin memanggil Namjoon dan Hoseok di ruangan lain.

Bunyi decitan pintu memecah keramaian di sekitarnya.

Sosok Hoseok berdiri di ambang pintu, "Jin-hyung. Namjoon memintaku untuk menyampaikan kalau sebaiknya ia makan di ruangannya. A-ada-ada sesuatu yang harus ia selesaikan di dalam sana. Di mana porsi makanannya sekarang?" beta itu menundukkan kepalanya, seolah-olah tidak ingin ekspresinya dibaca oleh orang lain.

"Kenapa dia bilang begitu padamu? Apa sebaiknya bukan aku yang mengantar makanannya ke dalam langsung?" Seokjin menaikkan sebelah alis, sedikit kesal mendengar ucapan Hoseok yang berkesan ingin menutupi sesuatu.

Perhatian semua orang jadi tertuju pada Beta berambut merah itu.

"Kau tidak bisa menemuinya untuk seharian ini," kata Hoseok, berusaha sekuat tenaga tidak balas menatap Seokjin.

"Tapi dia harus tahu kalau Hyung-sik masih hidup," Taehyung ikut menyuarakan diri, "Kita harus mendiskusikan hal ini sekarang juga. Jika Hyung-sik masih hidup, dia pasti akan segera membuat rencana serangan balasan."

Kedua mata Hoseok membola, tampak sedikit merah mengingat ia belum tidur sama sekali selesai bergilir waktu jaga, "Aku-aku akan membicarakannya dengan Namjoon dan juga Jungkook-ah kalau dia sudah kembali dari waktu patroli. Biar kami yang mendiskusikan hal ini."

Semua orang di dalam ruangan terheran-heran melihat perilaku Hoseok yang serta merta segera pergi ke kamar tidurnya bersama dengan Won-sik. Taehyung yang telah habis kesabaran melihat sikap yang diberikan oleh Hoseok dan Namjoon, merasakan tangan Jaebeom meraihnya dan berkata, "Ini sudah permintaan Namjoon. Lebih baik kita ikuti apa yang mereka inginkan. Kita tidak akan perlu menunggu lama-lama begitu Jungkook-daehwi kembali ke sini."

Mendecih kesal, Taehyung jatuh ambruk di atas sofa dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.

Tidak dihiraukannya ekspresi kecut di wajah Seokjin, di antara wajah datar rekan-rekannya yang lain.


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

04.17 p.m

Jungkook kembali ke tempat pernaungan sementara mereka dan mendapati Omega yang telah ia klaim beberapa hari lalu duduk dengan postur tegang-di antara rekan-rekannya yang duduk dalam posisi sama kalutnya. Saat ia mendekat ke arah ruang tengah, ia melihat Taehyung menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi memegangi dahi, kedua matanya yang sembab sehabis menangis menatap Jungkook.

"Hyungie?"

"A-aku baru ingat, Hyung-sik masih hidup," desis sang Omega sambil menghembuskan napas, "Jaehwan memberitahuku-kalau Hyung-sik masih hidup, walau dalam keadaan koma."

Jungkook menelan ludahnya. Masker yang ia kenakan telah tersampir di lengan kirinya, "Dia-masih hidup? Tapi… Seojoon-"

"Dia berhasil meluluhlantakkan sebagian dari pusat militer di Pyongyang, tapi itu tidak cukup untuk membunuh Hyung-sik, nampaknya," Taehyung kembali menjelaskan. Di sebelahnya, Jackson bolak-balik melirik pasangan tersebut secara bergantian.

"Dia bukan manusia," timpal Yoongi, muncul di belakang Jungkook. "Lagipula, tidak ada satupun dari kita yang menyaksikan 'kematian' dari iblis ini. Bisa jadi ini berita yang disampaikan oleh Jaehwan itu adalah benar."

Taehyung berdiri dan meremas pundak Jungkook, "Karena itu, Kook-ah, kita harus segera kembali ke Sariwon. Jihoon ada di sana, dan kalau sampai-"

Tangan sang Alpha bergerak menyentuh wajah Taehyung, "Aku tahu. Mungkin sebaiknya kita mendiskusikan hal ini bersama-sama-"

"Jungkook-ah," ia mendengar suara Hoseok memanggilnya. Jungkook menoleh, "Kau dan aku, kita ke tempat Namjoon sekarang."

Kernyitan di dahinya cukup mengindikasikan rasa heran yang timbul di dalam diri Alpha muda tersebut, yang justru disambut oleh rasa heran rekannya yang lain. Setelah meletakkan persenjataannya dan juga perlengkapan yang lain, Jungkook berjalan beriringan memasuki ruangan pribadi sementara milik Namjoon.

Sang Alpha bersurai coklat yang kini punya peranan sama dengannya tersebut terduduk di balik sebuah meja kayu, dengan punggung bersandar pada kursi kerja. Di hadapannya, terbentang sebuah jurnal lusuh milik mendiang presiden Moon Jae-in.

"Hyung? Kenapa yang lain tidak ikut berdiskusi bersama kita di sini?" Jungkook langsung menyuarakan rasa herannya.

"Aku tidak ingin membuat kegaduhan," jawab Namjoon tanpa pikir panjang. Ia memberi tanda pada Jungkook agar Alpha muda itu mau mendekat, diikuti oleh Hoseok.

"Hyung-sik masih hidup," kata Jungkook sembari mendekat ke meja kerja di depannya. "Tae-hyungie mendengarnya dari Jaehwan-tentara Korea Utara yang membantu kita itu. Kalau memang yang dikatakannya adalah benar, kita harus segera kembali ke Sariwon dan-"

"Aku tahu dengan kegentingan dari berita ini. Tapi aku juga punya berita buruk untukmu," potong Namjoon.

Jungkook mengangkat kedua tangannya, memperagakan buncahan rasa bingung dalam dirinya, "Huh? Yang benar saja, Hyung? Apa memangnya yang lebih buruk dari seorang Hyung-sik masih hidup, padahal bisa saja dia merencanakan sesuatu saat ini?"

Ia merasakan tangan mendarat di pundaknya, "Kemungkinan besar, misi ini adalah misi terakhir dari seorang Kim Namjoon."

Kali ini Jungkook terperangah.

"Apa?"


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

04.39 p.m

"Menurutmu, apa yang dibicarakan oleh mereka di dalam sana?" tanya Taehyung pada Seokjin.

Seokjin menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di atas bantalan sofa, "Sudah pasti membicarakan tentang rencana kapan kita bisa kembali ke Sariwon. Dan mungkin juga hal lain."

"Kenapa Namjoon sama sekali tidak mau mengajak kita dan yang lain untuk berdiskusi?"

"Pasti ada sesuatu… yang membuatnya terpaksa melakukan hal itu."

Taehyung memiringkan tubuhnya ke arah Seokjin, "Apa kau sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap begitu, Hyung? Dan kenapa hanya Hobi yang diajaknya berbicara, bukannya yang lain?"

"Dia sama sekali tidak memberitahuku apa-apa, entah kenapa." Seokjin sendiri masih bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh Alphanya itu saat ini.

Sejak kemarin, Namjoon sudah mengunci dirinya di dalam ruang kerja sementaranya begitu mereka menentukan pembagian kamar tidur. Kalau Seokjin tidak mengingatkannya untuk makan malam, sudah pasti Namjoon akan bertahan di dalam sana sampai ia kembali ke kamar mereka. Bahkan pagi tadi, Namjoon sudah langsung meluncur dan menyibukkan diri di dalam ruang kerjanya tanpa Seokjin menyadarinya. Biasanya, dibandingkan dirinya, Namjoon lebih terbuka dalam menyampaikan kegundahan di dalam hatinya. Alpha bersurai coklat itu selalu melimpahkan semua keluh kesahnya pada Seokjin, termasuk dalam hal pekerjaan dan beban tugas yang ia emban sekarang.

Dan kini, sikap tertutup Namjoon membuatnya sedikit khawatir. Ia takut akan ada hal yang tidak beres sedang berusaha ditutup-tutupi oleh sang Alpha.

"Jangan khawatir, ia akan cerita juga pada akhirnya," Jackson yang sedari tadi duduk di seberang mereka menenangkan sang Beta. "Kalian sudah lama bersama, pasti dia akan bercerita juga padamu nanti."

"Aku juga akan tetap memarahinya begitu dia bercerita padaku nantinya. Aku memang bukan penasihat yang baik, tapi aku 'kan bisa menjadi telinga untuknya!"

"Ya, ya. Percuma saja kau bercerita pada kami juga."

"Kupikir kau akan membantuku, Yoongi-yah," ia memelototi Yoongi yang sedang berusaha tidur di atas kursi sofa.

"Memangnya aku bisa apa?" Yoongi membuka satu mata ke arah Seokjin sebelum kembali menidurkan diri.

Taehyung memijat pundak lebar Seokjin sebelum Beta itu menggulingkan Yoongi dari kursinya.

"Aku juga kesal karena Namjoon tidak menyertakan kita di dalam sana. Tapi setidaknya dengan sedikit kepala, permasalahan akan cepat beres. Sekarang kita hanya perlu menunggu."

Tetapi kaki Taehyung tidak pernah berhenti menghentak-hentak dengan tidak sabaran.


"Apa maksudnya dengan ini adalah misi terakhir seorang Kim Namjoon, hyung?" Jungkook memperjelas kalimat tanyanya pada dua orang di hadapannya, memandangi mereka satu persatu.

Ia memperhatikan Namjoon dan Hoseok yang saling bertukar pandang.

"Ini adalah salah satu kesalahan misi yang tidak pernah bisa diprediksi," kata Namjoon selang beberapa saat kemudian. Ia berdiri dan menarik lengan seragam bertugas yang menutupi sebelah tangannya, menggulungnya.

Jungkook mengumpat terang-terangan, terkejut dengan apa yang ia lihat.

"Ini-apa yang terjadi?"

"Aku sudah terkontaminasi gas yang diedarkan oleh Jaehwan," kata Namjoon.

Mata Jungkook tertuju pada lengan kirinya yang sudah dipenuhi oleh ruam-ruam warna merah, sebagian mengelupas membuat totolan bekas luka bakar.

Pemandangan mengerikan di mana ia menyaksikan transformasi Jaehwan menyergapnya.

"Kau-Hyung? Kau akan menjadi seorang Chugyeokja?"

"Kemungkinan besar ini adalah gejala yang ditunjukkan sebelum aku sepenuhnya menjadi Chugyeokja. Dalam tiga sampai tujuh hari ke depan, aku akan menjadi seperti mereka," Namjoon menggelung kembali lengan seragamnya. "Aku sudah membaca tuntas buku jurnal Daetonglyeongnim dan juga jurnal yang dulu pernah ditemukan oleh Taehyung. Aku yakin aku mengalami semua gejala yang dimiliki oleh mereka."

"Pasti ada cara untuk menghentikan penyakitmu ini, Hyung," Jungkook berusaha menstabilkan pikirannya sendiri. Ia tidak ingin lagi kehilangan seorang rekannya. "Karena itu kita harus segera kembali ke Sariwon, ke markas Yeokjuk, dan-"

"Percuma saja," Hoseok memotong ucapannya. Jungkook menyentak berbalik pada Beta itu, "Kau lihat bagaimana penyakit itu menguasai Jaehwan. bagaimana kita mengobati penyakit ini?"

Jungkook berteriak frustasi, "Lalu kau mau apa?! Joon-hyung telah lama menjadi pemimpin kita-dan, dan-kau ingin kita kehilangan rekan lagi, Hyung? Seperti kita kehilangan yang lain?"

"Tentu saja aku tidak ingin!" Hoseok balas berteriak pada Jungkook, kini kedua matanya bergelimang air mata, "Tapi-tapi kau tidak tahu bagaimana pengaruh dari penyakit itu sudah mempengaruhi Namjoon!" telunjuknya menunjuk pada Namjoon yang ikut tegang di kursi duduknya. "Tadi siang, saat dia memanggilku, dia tiba-tiba menyerangku dan berusaha menggigit tanganku!"

Jungkook melempar pandangan pada Namjoon, terkejut bukan main. "Hyung? Kau benar-benar melakukannya?"

Dilihatnya Namjoon menutup wajahnya dengan kedua tangan, berputus asa. "Aku mulai kehilangan kendali atas diriku. Aku-aku sudah tidak bisa lagi mengecap apapun. Bahkan jatah makan siang yang disiapkan oleh Seokjin, aku tidak bisa merasakan apa-apa." Alpha itu kemudian menurunkan kedua tangannya dan mempertunjukkan sebelah matanya yang mulai memerah, "Tapi aku tahu kalau daging mentah itu terasa nikmat."

Jakun Jungkook bergerak naik turun. Kerongkongannya terasa begitu kering, "Tidak adakah jalan keluar dari masalah ini?"

Hoseok menyeka airmatanya, "Namjoon memanggilku karena dia ingin menyerahkan posisi daehwi padaku. Dia bilang, dia tahu kalau umurnya sebagai seorang manusia yang masih memiliki karsa dan akal sehat tidaklah lama, karena itu dia memintaku untuk segera menggantikan dirinya. Pengaruh dari senjata biologis itu terlalu cepat menguasai dirinya."

"Aku tahu kau akan bisa menggantikan posisiku, Seokie," Namjoon berusaha membesarkan hati Hoseok. "Kau punya potensi untuk memimpin dalam dirimu. Kau selalu teroganisir, cekatan, dan terlebih lagi, kau tahu bagaimana untuk mengarahkan orang-orang dalam tim."

"Tapi aku tidak ingin kau menyerahkan posisimu dengan cara seperti ini," Hoseok kembali terisak. "Kau masih belum mengajariku banyak hal bagaimana caranya untuk memimpin orang. Bagaimana kau bisa pergi dengan tiba-tiba seperti ini?"

"Aku juga tidak menyangka aku harus pergi secepat ini. Aku minta maaf." Hoseok bergerak untuk memeluk Alpha itu, tapi Namjoon menghentikannya dengan cepat, "Kita tidak bisa berdekatan untuk saat ini. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya kalau pikiranku kembali hilang seperti tadi siang."

Jungkook menjatuhkan diri di atas kursi berlengan terdekat darinya, mengepal dan merenggangkan kedua tinju di tangannya. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini, Hyung? Apa kau juga berniat memberitahu yang lain? Bagaimana dengan Jin-hyung? Bagaimana kita akan kembali padamu?"

Sorot mata Namjoon memudar saat ia mendengar nama Seokjin disebut. "Aku akan memberitahu semuanya hari ini juga, selesai makan malam. Kita semua berkumpul ke ruang tengah dan-Jungkook. Aku ingin kau yang menjalankan misi terakhir yang dapat aku berikan padamu."

"Misi terakhir?" Jungkook tidak benar-benar ingin tertawa, dan ia hanya terkekeh ringkai.

"Sebelum kalian kembali ke Sariwon besok pagi, aku ingin kau menembakku tepat di kepala."


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

05.27 p.m

Jungkook dan Hoseok baru saja keluar dari ruangan Namjoon begitu waktu menunjukkan hampir setengah enam. Badai di sekitar mereka sudah cukup mereda, tetapi ketegangan di antara mereka justru bertambah secara diam-diam.

"Jadi, bagaimana?" Won-sik spontan melempar pertanyaan pada mereka.

"Kita akan kembali besok pagi. Secepatnya," Jungkook mengumumkan. Sewaktu ia bersitatap dengan Seokjin, buru-buru ia membuang muka dengan melihat ke arah Taehyung.

Mendengar kabar tersebut, sang Omega langsung memilin kedua tangannya dan menghembuskan napas lega, "Syukurlah. Kupikir kalian akan mengulur waktu lebih lama lagi!"

"Lalu setelah ini kita membereskan persediaan yang kita bawa dan berangkat besok?" Jaebeom kembali memastikan dan melihat Jungkook menganggukkan kepala padanya.

Sedangkan Seokjin yang menangkap perubahan sikap Jungkook, serta merta melangkahkan kakinya pada sang Alpha dan nyaris menarik kerah baju pemuda berambut hitam tersebut. "Dan Namjoon? Kenapa dia belum keluar?"

"Dia akan keluar sehabis makan malam nanti," Jungkook berusaha menjawab. "Ada-ada sesuatu yang genting dan harus kami sampaikan."

Jawabannya masih belum memuaskan Seokjin. "Apa yang kalian bicarakan di dalam? Kenapa kalian tidak membicarakannya sekarang?"

Hoseok menepis tangan Seokjin, sehalus mungkin. "Hyung. Ini sudah menjadi keputusan Namjoon."

Ucapan itu cukup membungkam Seokjin selanjutnya. Sang Beta melangkah mundur dari Jungkook dan berteriak jengkel, mengejutkan yang lain. Ia pergi menuju kamarnya dan membanting pintu keras-keras.

"Dia marah," ucap Jackson.

"Aku tahu," Jungkook menimpali.

Ia merasakan Taehyung ikut mendekat ke arahnya dan berdesis lirih, "Memangnya apa yang kalian bicarakan di dalam?"

"Sesuatu yang penting. Untuk sementara kami tidak bisa memberitahunya pada kalian sampai batas waktu yang ditentukan." Hanya itu yang bisa disampaikan Jungkook. "Bisakah kita juga ke kamar?"

Taehyung tercenung sejenak mendengar pernyataan sang Alpha, tapi sama sekali tidak menolak sewaktu Jungkook menggenggam salah satu tangannya kuat-kuat.


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

07.06 p.m

Makan malam berlangsung hambar. Tidak ada percakapan yang mengalir di antara para satuan tim khusus Minguk, kecuali beberapa patah kata antara Jackson dan Jinyoung mengenai persediaan makanan. Sisanya mereka lebih banyak menutup mulut, merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka.

Terlebih lagi semua perhatian orang tertuju pada Namjoon. Alpha itu masih belum menunjukkan diri sama sekali dan Hoseok lah yang mengirimkan makan malam pada Alpha itu, sesuatu hal yang membuat Seokjin masih jengkel terhadap Beta berambut merah tersebut.

Hoseok baru saja mengambil piring berisi makan malam Namjoon saat Alpha tersebut pada akhirnya menunjukkan diri.

Para tentara Minguk yang telah berkumpul di ruang tengah mencondongkan tubuh mereka ke arah lorong di mana ruang kerja tempat Namjoon memendam diri berada. Dikarenakan sumber cahaya yang minim dan langit-langit lorong yang cukup tinggi, mereka kesulitan untuk menangkap sosok Alpha tersebut.

"Kau ke mana saja! Menyembunyikan diri di ruang kerja hanya akan membuat kami khawatir padamu!" omel Seokjin pada Namjoon, entah apakah dengan ia membuang muka hanya sebagai gestur pura-pura untuk menunjukkan kejengkelannya pada sang Alpha.

"Aku minta maaf. Aku akan menjelaskan semuanya sekarang," kata Namjoon. "Tapi mungkin sebaiknya kalian semua untuk sementara menjaga jarak dariku selama aku, Jungkook, dan Hoseok menjelaskan semuanya."

Semua orang dilanda was-was mendengar penuturan Namjoon. Bahkan Jaebeom yang biasanya selalu bisa mengendalikan emosinya, kini tidak berhenti memainkan tangannya di atas meja.

"Kenapa kami harus menjaga jarak darimu?" tanya Jinyoung.

"Kita semua sama-sama belum mandi di sini, tidak perlu malu dengan aroma tidak enak dari tubuhmu," Yoongi berucap setengah bercanda dan membuat Won-sik memukul punggungnya cukup keras.

"Kita sedang serius di sini."

"Aku juga serius, sialan!" ia balas memukul Won-sik.

Tapi Namjoon tergelak mendengar percakapan mereka. "Sebaiknya aku memang menjelaskan semuanya pada kalian. Kalian ingat tentang senjata biologis yang dilancarkan oleh daetonglyeongnim ke Korea Utara?"

"Apa hubungannya senjata biologis dengan-"

Ucapan Jinyoung tidak sempat terselesaikan karena Seokjin langsung bangun dari tempat ia duduk, mempercepat langkahnya menuju Namjoon. Jungkook menahan Beta itu dengan tubuh bidangnya, "Hyung. Duduklah."

Kedua mata Seokjin membulat oleh amarah, "Kenapa kami tidak boleh melihatnya?" nada suaranya terdengar bergetar. Ekspresinya kini dirundung oleh ketakutan yang tidak bisa dideskripsikan dengan tepat. "Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" ia berusaha mendorong Jungkook agar Alpha itu menyingkir, "Katakan, Joon-ah, apa yang terjadi padamu?!"

"Aku telah terkontaminasi oleh gas tersebut," Namjoon berkata pada akhirnya. "Waktuku tidak akan lama lagi."

Seokjin bereaksi dengan tertawa hampa, "Kalian sedang bercanda, kan? Aku bisa menebak kalian hanya ingin membuat kami ketakutan dengan membawa topik tentang gas itu. Ya, kan?" saat ia tidak mendengar tidak satupun dari mereka merespon, Seokjin kembali mengulangi ucapannya, "Ya, kan?"

"Namjoon sama sekali tidak bercanda," Hoseok membantu Jungkook menahan Seokjin, terpaksa memaksa Beta yang lebih tua itu kembali ke atas sofa. "Aku-aku akan menjadi daehwi dari Batalion ke 13 setelah ini, menggantikan posisinya mulai malam ini."

"Besok kau tidak akan ikut bersama kami? Pulang ke Sariwon?" tanya Jackson tidak percaya. Kedua matanya yang merah mengindikasikan Beta itu juga hampir menangis.

"Tidak mungkin aku ikut pulang bersama kalian ke sana. Lagipula kalian sudah lihat bagaimana Jaehwan berubah menjadi Chugyeokja sewaktu kita berada di Hanbando. Aku tidak ingin membuka peluang kalian ikut terluka selama aku berangsur-angsur kehilangan akal."

"Kau ingin kami meninggalkanmu di sini? Pelan-pelan menjadi Chugyeokja sendirian sementara kami pergi kembali ke Sariwon?" Jaebeom akhirnya ikut angkat bicara.

"Aku sudah membuat kesepakatan supaya Jungkook menembak mati diriku—" bertepatan dengan kalimat tersebut, Seokjin memekik memotong ucapannya. Namjoon berusaha sekuat tenaga mengacuhkan pasangannya tersebut dan melanjutkan, "-setidaknya malam ini sebelum aku semakin kehilangan waktu sebagai manusia."

"Kau tidak bisa melakukan itu!" teriak Seokjin, masih keras kepala. Air matanya sudah tumpah ruah, "Kau tidak bisa mati dengan cara begini! Pasti ada jalan lain untuk mengembalikan dirimu menjadi manusia! Aku akan mencari jalan keluarnya-"

"Bisakah kau melakukannya hanya dalam semalam, Jinnie?"

Kalimat itu membungkam Seokjin.

Sosok Namjoon yang terkubur dalam naungan bayangan hitam tetap berdiri tegap di persinggahan lorong, "Aku tahu kau marah padaku. Tapi ini-ini adalah kecelakaan yang tidak dapat kita prediksi. Terkadang ada rencana yang tidak bisa sepenuhnya berhasil. Aku minta maaf padamu-pada semua orang, karena aku tidak akan bisa bersama kalian sampai akhir. Aku berharap, peperangan ini akan cepat berakhir."

"Tidak bisakah kami menemani sampai akhir?" lirih Taehyung di penghujung diskusi terakhir mereka.

"Kalian bersedia menyaksikan aku dieksekusi oleh Alpha-mu sendiri?"

"Sudah banyak pertumpahan darah yang kita saksikan. Lagipula, kita sudah bersumpah setia untuk selalu menjalani semuanya bersama-sama sampai pertempuran terakhir, kan?"

Bayangan Namjoon bergerak tersentak di posisinya, terpegun akan ucapan Taehyung.

Jungkook mengangsurkan tatapan dari pasangan Omeganya pada Namjoon, "Kupikir juga lebih baik kami berkumpul menemuimu untuk terakhir kalinya sebelum aku menembakmu, Hyung."

Hanya ada beberapa detik yang berlalu di antara mereka, tapi jeda yang diberikan sebelum Namjoon merespon terasa cukup lama.

"Kalau begitu, kita berkumpul di hanggar belakang. Setelah sepuluh menit, kalian semua kembali masuk dan biarkan Jungkook melaksanakan tugasnya dengan baik."

Namjoon mengakhiri diskusi singkat mereka dengan membalikkan tubuhnya, pergi kembali menuju ruang kerja yang telah menjadi tempat bernaungnya selama seharian penuh.

Taehyung memeluk tubuh Seokjin yang digempur oleh isak tangis. Seluruh tubuh Beta itu gemetar oleh senggukan dan gelombang kesedihan yang luar biasa, membuat Taehyung lambat laun ikut menangis bersamanya.

"Tidak bisa… A-aku belum siap melepasnya-"

"Aku tahu, Hyung. Aku tahu."

Sepintas ia menangkap tatapan sendu Jungkook.

Dan pada saat itu juga, pikirannya berubah kosong.


11 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

09.00 p.m

Mereka berkumpul di hanggar tepat pukul sembilan malam. Sebelumnya, Taehyung menemani Jungkook mengisi amunisi di pistol semi otomatis miliknya.

("Namjoon akan benar-benar pergi setelah ini?"

"Ya. Maafkan aku. Kita kehilangan satu orang lagi."

"Kenapa kau meminta maaf?"

Jungkook tidak dapat menjawabnya.)

Seokjin semula mengurung diri di dalam kamarnya, urung menampakkan diri hingga Namjoon muncul diikuti oleh Hoseok yang mengambil jarak beberapa langkah darinya.

Alpha itu tidak lagi mengenakan masker serta jas bertugasnya, melainkan hanya mengenakan seragam bertugasnya minus ammo bandolier yang selalu menempel dari pundak melingkari bagian tubuhnya. Sewaktu ia menapakkan kaki di hanggar, semua anggota Minguk kecuali Hoseok dan Jungkook, menegang di tempat masing-masing.

Won-sik menggumam pelan, tapi tidak cukup pelan untuk tidak didengar, "Demi siapapun-"

"Ini-ini benar-benar serius?" Jinyoung mengarahkan kepalanya pada Hoseok dan Jungkook.

Siapapun bisa melihat tubuh Namjoon telah diselimuti oleh ruam berwarna merah yang sebagian lagi telah berubah menjadi luka bakar menjemukan-berwarna coklat melepuh, menampakkan sedikit kerak-kerak yang mengocok isi perut. Luka bakar telah memenuhi kedua tangannya dan berakhir menjadi ruam berwarna merah ke bagian wajah bagian kiri Alpha itu. Tatapan Namjoon kosong sampai ia benar-benar tiba di hanggar, menyadari tatapan seluruh rekan-rekannya.

"Kalian benar-benar menungguku di sini," kata Namjoon sambil setengah tersenyum, ujung bibirnya tertarik menyentuh kedua pipinya, membuat cerukan berupa sepasang lesung pipit.

"Joon. Kau-kau... "

Namjoon hanya tersenyum pada Jackson sebelum menjawab, "Aku tahu. Mengerikan, bukan?"

Ia mendengar Jackson menyumpah pelan.

Di balik maskernya, Taehyung menggigit bibir. Ia ingat sekali luka bakar di tubuh Namjoon juga sama persis seperti sekumpulan Chugyeokja yang menculiknya beberapa bulan lalu serta wujud Jaehwan sebelum mendiang Beta tersebut kehilangan karsanya sebagai manusia. Ia berusaha menenangkan diri sembari menyentuh sebelah lengannya, meremasnya kuat-kuat, "Tapi Jin-hyung belum datang."

"Aku di sini," Seokjin muncul tepat di belakang Jungkook, Hoseok dan Namjoon, berdiri di ambang pintu yang menyambungkan antara pekarangan belakang dengan rumah yang mereka singgahi. Ia melenggang ke sebelah Taehyung tanpa menoleh sedikit pun ke arah Namjoon.

"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" telaah Namjoon sesudahnya.

"Mungkin ada pesan dan kesan yang ingin kau sampaikan pada kami," kata Yoongi, berusaha terdengar setenang mungkin walaupun Alpha mungil itu sudah meneteskan setitik air mata di balik masker yang ia kenakan.

"Benar juga. Aku belum menyampaikan pesan terakhirku untuk kalian semua," Namjoon tercenung selama beberapa detik. Ia memutar tubuh menghadap Jaebeom dan Jinyoung yang berdiri paling dekat dengannya. "Jaebeom dan Jinyoung, aku belum lama mengenal kalian. Tapi kalian adalah rekan-rekan setim yang sangat loyal dan juga-sayang sekali aku belum pernah mengajak kalian berbicara secara lebih personal. Setidaknya setelah ini, kalian bisa berbicara lebih dekat dengan Jungkook dan Hoseok-selaku pemimpin Batallion ke 13 yang baru. Terima kasih atas kerja sama kalian selama ini."

"Begitu pula denganmu, bung," seloroh Jaebeom lirih. Jinyoung membalas dengan menundukkan kepala.

"Dan Won-sik. Banyak sekali yang telah kau lakukan demi tim kita. Tetaplah bersikap seperti Won-sik yang apa adanya. Jangan memendam apapun sendirian, kita ini adalah tim. Tidak semuanya bisa diselesaikan sendirian." Ia berhenti untuk melihat reaksi Won-sik yang hanya bisa menganggukkan kepala berulang-ulang. "Aku sudah mengenalmu cukup lama dan-kuharap kau akan banyak membantu Hoseok setelah ini. Mungkin setelah Hoseok, kau adalah kandidat penggantiku yang paling meyakinkan."

"Untung kau tidak memilihku," tawa Won-sik datar. "Selamat jalan, Daehwi."

"Dan Jackson. Aku tahu kau menangis. Jangan berpura-pura kuat seperti itu," ia terkekeh saat menatap sahabatnya tersebut. "Kau adalah orang yang paling lama kukenal di Daehanminguk Gukgun. Aku tidak tahu seberapa banyak yang telah kau lakukan untukku, tapi kuharap setelah ini kau jangan membuat kesal orang dengan keluhanmu yang menyebalkan."

"Kau benar-benar brengsek, man, padahal sebentar lagi kau akan mati," gerutu Jackson, berhenti sejenak untuk menghirup ingusnya. "Dan aku tidak pernah mengeluhkan apapun kecuali pada dirimu dan-Mark-hyung."

"Baguslah kalau begitu," Namjoon kembali terkekeh. Kali ini ia beralih pada Yoongi, "Dan Yoongi-hyung, aku juga tahu kau menangis. Kau memang kelihatan dingin, tapi aku tahu kau adalah orang paling hangat. Jaga dirimu baik-baik, karena Jimin membutuhkan dirimu. Juga-kau adalah salah satu sahabat terbaik yang bisa kumiliki. Setelah ini, jadilah orang yang lebih bermotivasi."

"Begitu kau tiba di Valhalla, sampaikan salamku pada Odin," sahut Yoongi tawar. "Soal motivasi, kau tahu, kan, seberapa besarnya aku bekerja keras?"

"Kami semua tahu," Namjoon mengiyakan. Sekarang tiba Taehyung. "Kau adalah prajurit yang hebat, Tae. Sosok yang paling bisa diandalkan, sekalipun kau bukan lagi seorang Alpha. Aku senang kau bisa bertemu kembali dengan putramu. Banyaklah bersabar menghadapi Jungkook setelah ini, karena dia adalah Alphamu."

Taehyung mengacungkan ibu jari ke arah Namjoon dan tidak mengatakan apapun. Ia mengira Namjoon akan membuat salam perpisahan untuk Seokjin, tetapi Alpha itu justru melanjutkan, "Hoseok. Aku tahu kau bisa menjadi pemimpin yang tepat setelah ini. Kau memang penakut di antara yang lain, tapi kau punya potensi yang lebih besar daripada diriku untuk menjadi seorang pemimpin. Apapun yang terjadi, utamakan kepentingan kelompok. Ada kalanya kau harus berkorban, demi keberhasilan misi." Ia mengambil napas tanpa membalikkan tubuh untuk mengamati Hoseok dan Jungkook, "Jungkook. Banyak sekali perubahan yang kusaksikan pada dirimu selama belakangan ini. Kau adalah prajurit yang terhebat di antara yang lain. Seojoon pasti akan bangga padamu, juga kakakmu beserta ayahmu. Apapun yang terjadi, semua orang di Minguk menjadi tanggung jawabmu dan Hoseok."

"Aku mengerti, Hyung."

"Seokjin," penantian semua orang akhirnya terwujud. Atensi semua orang kini tertuju pada Beta yang berdiri di sisi kanan Namjoon, beberapa langkah darinya. "Sudah sepatutnya kau marah padaku karena aku tidak mengatakan apapun. Tapi aku tidak berani mengutarakan perihal gejala yang aku alami ini karena-karena aku tidak ingin melihatmu bersedih."

Seokjin mematung di dekatnya.

Semakin waktu berjalan, udara di sekitar mereka terasa semakin menggigit tulang.

"Aku ingat pada malam kau berkata padaku, kau takut tidak akan ada manusia yang tersisa di muka bumi ini. Sesungguhnya aku juga terus memikirkan pernyataanmu itu. Aku juga masih terus terngiang akan betapa takutnya kau akan kematian." Langit di atas kepala mereka gelap, hanya ada jatuhan gugusan kumpulan debu bercampur salju. "Semua orang pada akhirnya akan mati, dan aku tidak ingin kau bersedih hanya karena aku mati sebelum dirimu. Aku ingin setelah ini kau melanjutkan hidup tetap sebagai seorang Seokjin. Anggaplah aku terus hidup, hanya saja saat ini aku hidup sebagai kenangan."

Alpha itu menunggu jawaban dari Seokjin, tetapi sang Beta hanya diam sampai Taehyung yang menyenggolnya, "Hyung? Kau tidak akan berkata apapun?"

Seokjin menengadahkan kepala, terbata-bata, "A-aku—"

Tiba-tiba Jaebeom berteriak nyaring, menyita perhatian semua orang. Namjoon tiba-tiba berlari ke arahnya dengan dua rahang berusaha mengatup tepat di bagian lehernya yang terekspos. Jinyoung langsung bergerak menarik Jaebeom menjauh dari Namjoon, sementara Hoseok dan Jungkook menjegal Alpha itu ke atas tanah putih, mengunci gerakannya. Namjoon menggeram marah, meronta. Alpha itu sempat bereaksi dengan menyergap kaki Jungkook menggunakan rahangnya sebelum Hoseok menekan tubuhnya lebih keras ke atas tanah.

Taehyung menelan ludah saat ia melihat kedua mata Namjoon mulai dipenuhi warna merah seluruhnya.

"Hobi-hyung, kita angkat dia ke tiang kolom!" teriak Jungkook, memberi instruksi. Ia menyeru pada yang lain, "Seseorang, ambilkan tali ataupun rantai supaya kami bisa mengikatnya! Cepat! Yang tidak berkepentingan, kalian masuk ke dalam!"

Semua orang mengikuti instruksi Alpha itu, termasuk Taehyung yang terpaksa menyeret Seokjin yang masih enggan untuk berpindah tempat.

Mata Omega itu sendiri juga masih belum bisa lepas dari sosok Alpha yang dulu ia kenal sebagai salah satu senior yang paling disegani, sang kapten yang cerdas dan loyal. Kini sosok itu telah menjadi salah satu dari Chugyeokja yang telah kehilangan akal manusianya, berusaha menggigit dan mencengkeram siapapun yang berdiri terlalu dekatnya. Termasuk pula Jungkook dan Hoseok yang berjuang mengikatnya ke tiang kolom.

Jungkook segera mengambil pistol semi otomatisnya dan menegakkan beberapa jengkang dari Namjoon, mewanti-wanti apabila Alpha tersebut hendak menerkamnya.

Hoseok meremas pundak Jungkook dengan suaranya yang telah kehilangan semangat, "Lakukan yang terbaik, Jungkook-ah."

"Aku mengerti, Hyung."

Beta tersebut menghilang ke balik pintu, meninggalkan Jungkook berduaan dengan Namjoon.

"Hyung," panggil Jungkook pada Namjoon. Namjoon menggeram padanya, terdengar marah dan senewen. "Sejujurnya aku sangat benci sekali saat orang-orang memberiku tanggung jawab yang begitu berat seperti ini. Seperti yang dilakukan oleh kau dan juga Seojoon. Aku ini tidak sehebat yang kalian pikirkan, tahu?" entah kenapa ia mulai menyerocos begitu banyak hal. Mungkin ini adalah siasat yang ia lakukan untuk meredakan kekalutannya karena harus membunuh rekannya sendiri. "Dan aku benci harus membunuh rekanku sendiri, benci sekali. Hal itu membuatku seperti berdosa. Pertama adalah Jongdae-hyung, dan sekarang dirimu."

Namjoon berusaha meraih Jungkook dengan rahangnya, gagal. Ia menyeru dengan dengkungan tinggi.

"Kau tahu? Aku menyiapkan dua butir peluru di dalam pistol ini," Jungkook kembali melanjutkan, mengangkat pistol di tangannya ke arah wajah Namjoon. "Satu adalah untuk kepalamu, dan satu untuk jantungmu. Hanya untuk memastikan, kalau aku benar-benar membunuhmu. Ini terpaksa kulakukan hanya karena kau memintanya." Jungkook membidik ujung pistol ke kepala Namjoon.

Tangannya bergetar hebat. Hampir-hampir ganggang pistol yang ia pegang terlepas dari genggamannya.

"Kau adalah orang yang paling kukagumi, setelah Tae-hyungie. Kau selalu tahu banyak hal, selalu bisa bersikap tenang dalam situasi apapun. Benar-benar seorang sosok pemimpin yang layak dikagumi. Jika bukan karenamu dan juga Taehyungie-hyung, aku tidak akan menjadi seperti sekarang."

Sambil meyakinkan dirinya, Jungkook menarik napas dalam-dalam.

Ia membuka pengaman pistol. "Dangyeol, Daehwi."

"Biar aku yang melakukannya."

Jungkook menurunkan pistol untuk menoleh ke asal sumber suara tersebut.

Ia terkesiap melihat sosok Seokjin muncul di belakangnya.

"Hyung, kau tidak bisa berada di sini!"

"Aku tahu. Tapi biarkan aku yang melakukannya," Seokjin bersikeras, suaranya terdengar mantap dan lugas. Jungkook tidak yakin Seokjin sudah bisa mengendalikan emosinya setelah pesan terakhir Namjoon padanya terpotong secara mendadak.

"Kau tidak bisa mengendalikan emosimu saat ini, Hyung. Kalau sampai kau kehilangan kendali, kau hanya akan membahayakan dirimu."

"Aku tahu itu, sudah kubilang, Kook-ah," sahut Seokjin, tidak mau mundur. "Biar aku yang melakukan ini. Aku belum selesai mengutarakan apa yang ingin kukatakan padanya. Juga… biarkan ini menjadi momen terakhir bagi kami."

Jungkook bimbang menerima ucapan Seokjin sampai akhirnya ia menghela napas panjang. Diserahkannya pistol semi otomatis itu pada Seokjin. "Dengar, hyung. Ikuti apa yang diutarakan oleh Joon-hyung. Teruslah hidup demi dirinya." Ia melakukan salam hormat militer pada Namjoon sebelum memunggungi Namjoon dan Seokjin di belakangnya.


Seokjin berusaha melapangkan dada sewaktu jari-jemarinya menyentuh permukaan ganggang pistol dari Jungkook. Entah kenapa, ia yang sudah terbiasa bertahun-tahun menghunus berbagai jenis senjata, kini merasakan beban yang tersampir di tangannya terasa begitu membebani. Seolah-olah ia sedang menggenggam beban yang berkilo-kilo jauh lebih berat.

Ditentengnya pistol itu ke arah Namjoon. Tepat ke arah dua alisnya bertautan.

"Joon. Apa kau masih mengenaliku?" ia disahut oleh senggakan marah. "Oh. Aku lupa kalau kau sudah kehilangan nalurimu sebagai manusia saat ini. Tapi kau masih berada di dalam sana, kan? Maaf aku mehanggar salah satu kesepakatan kita. Aku melakukannya ini demi kita berdua."

Gambaran masa lalunya di mana ia pertama kali mengenal Namjoon berkelebatan. Saat-saat pertama Namjoon dengan kepalanya yang masih botak baru saja diterima sebagai anggota tentara muda dan ia masih belum terlalu peduli pada sosok Alpha itu. Yang ia kenali jelas dari Namjoon adalah kalau ia jenius. Juga punya sepasang lesung pipit.

Dan juga cukup manis.

"Aku senang kau masih memikirkan diriku hingga di saat-saat terakhir. Tapi jangan pikir dengan begitu aku bisa memaafkanmu. Kau mati terlalu cepat dariku, babo. Padahal selama ini aku yang mencemaskan sampai umur berapa aku akan hidup, akan seperti apa dunia ini nantinya, kapan manusia akan berhenti berkelana di dunia yang sekarat ini. Justru malah kau yang pergi duluan." Bayangan Namjoon di pandangannya mulai kabur. "Kau memang brengsek. Kalau begini, seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu beberapa tahun lalu."

Ia ingat kali pertama ia menyadari perasaannya pada Namjoon.

"Kurasa aku tahu alasan aku suka padamu, Jin-hyung. Kau adalah orang yang berjiwa besar. Kau selalu berusaha menghibur banyak orang. Sekalipun kau sendiri sedang kesakitan."

"Padahal kau pernah bilang padaku, kau paling takut kalau kau akan kehilangan diriku. Sekarang, kenapa kau malah pergi meninggalkanku?!" Namjoon sudah berupa bayangan berwarna kelabu di matanya. Ia berusaha menghapus airmatanya dengan susah payah. Ia tidak ingin sosok Namjoon hilang di kedua matanya. Ia masih ingin terus memandangi wajah Alpha yang selama ini telah menjadi belahan jiwanya. "Lihatlah keadaan saat ini. Semua orang berduka karenamu. Setelah ini, tanpa dirimu, siapa yang akan menjadikanku prioritas pertama mereka yang harus dilindungi?"

Ia ingat saat-saat pertama Namjoon memasuki dirinya.

"Kau cantik. Sempurna. Punya beribu pesona. Mimpi apa aku hingga bisa mendapatkanmu?"

"Tapi ini juga salahku. Aku tidak bisa melindungimu. Aku terlalu lemah, aku akui itu." Seokjin mengeratkan pegangannya pada ganggang pistol. "Seharusnya dari awal aku sadar, aku pun juga harus melindungimu. Aku juga terlalu berpuas hati, berpikir kau sudah sepenuhnya selamat dari maut setelah kita berhasil pulang dari misi sebelumnya. Nyatanya kau sudah sekarat saat itu juga."

Ia ingat bagaimana Namjoon selalu ada untuknya, selalu menjadi tempatnya bercerita.

"Mungkin kita memang ditakdirkan untuk mati bersama-sama."

Seokjin melangkah lebih dekat dan menurunkan pistol, mengamati Namjoon. Ia tahu ia hanya akan membuat dirinya dalam bahaya jika berdiri terlalu dekat dari Namjoon yang masih menggeliat berusaha melepaskan diri. Tak ayal, ia terlalu mencintai seorang Kim Namjoon.

Anehnya, Namjoon juga mulai tenang sewaktu Seokjin berlutut persis di depannya. Meraih dagu sang Alpha dengan tangannya dan mendaratkan ciuman ke bibir Namjoon. Seokjin tahu kemungkinan Namjoon akan meraup wajahnya, membuatnya terluka, tapi ia tidak peduli. Ini adalah ciuman terakhirnya dengan Namjoon.

Tidak sehangat saat kami pertama berciuman.

Dan Namjoon diam, bergeming.

Sewaktu ia melepaskan ciuman, Seokjin kembali menatap wajah Namjoon yang telah dipenuhi oleh luka bakar berwarna hitam. Sekalipun demikian, sosok itu adalah sosok paling tampan yang pernah ia lihat.

"Aku akan selamanya mencintai satu orang. Dan orang itu adalah dirimu, Joon-ah."

"Seokjin?"

Mendengar namanya kembali disebutkan oleh suara yang seperti telah berabad-abad ia rindukan, membuat Seokjin tersentak kaget. Dilihatnya kedua mata Namjoon yang semula berwarna merah darah, kini kembali berwarna putih lengkap dengan pupilnya yang berwarna coklat.

"Namjoon?"

Ia seperti bermimpi, tetapi dilihatnya Namjoon memang sedang balas memandangnya dengan kedua matanya.

Namjoonnya telah kembali.

"Seokjin-aku-aku juga ingin mengatakan betapa aku mencintaimu-" Namjoon berkata padanya, membuat Seokjin menjatuhkan pistol yang sedari tadi ia pegang ke atas tanah. Kedua tangannya kini memegangi Namjoon. "-Seokjin-seandainya aku bisa jujur padamu dari awal-"

"Joon! Joon! Kau kembali! Aku-aku tidak sedang bermimpi, kan?!" seru Seokjin, airmatanya kembali tak terbendung. Ia memeluk Alphanya kuat-kuat, "Jangan pergi, aku mohon-"

Sewaktu matanya menangkap sepasang mata milik Namjoon kembali diselimuti warna merah, Seokjin segera melompat mundur sebelum Alpha itu menggigit wajahnya.

Namjoon tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Dalam sekejap, Namjoon kembali menjadi sosok Chugyeokja yang menguasai dirinya, menggeram sekuat tenaga pada Seokjin, begitu bersikukuh untuk melepaskan dirinya.

"Joon?" Seokjin kembali memanggil, "Namjoon?"

Percuma karena Namjoon tidak akan menjawabnya.

Terdengar suara adu dentingan rantai disertai suara benturan antara logam dengan lantai kayu.

Rantai yang sebelumnya mengikat Namjoon telah terlepas dari tiang kolom. Rasa terharunya kini tergantikan oleh kengerian yang tak terperikan. Namjoon menggerung marah ke arah Seokjin-bukan-sosok Chugyeokja itu kini sedang mengambil ancang-ancang untuk menyerang Seokjin.

Seokjin menghindar ke samping, menyadari ia telah menjatuhkan pistol yang seharusnya ia gunakan untuk menembak Namjoon. Ia kelabakan mencari pistol tersebut, tidak sepenuhnya bisa memusatkan atensi pada Chugyeokja yang telah melesat ke arahnya.

Matanya pun menangkap benda berwarna hitam tersebut tergeletak beberapa langkah dari Namjoon. Ia berlari untuk mengambil pistol tersebut, sementara sosok Chugyeokja yang mengincarnya semakin mendekat.

Seokjin berhasil mengambil ganggang pistol bertepatan dengan wajah kedua rahang Namjoon yang begitu dekat dengannya.

Suara teriakannya beradu dengan suara lengkingan milik Namjoon.

"Tapi kuakui. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa ketakutan akan mati dan tidak pernah bisa bertemu dirimu. Kupikir justru akulah yang malah pergi mendahuluimu."

Terdengar suara letupan senjata api. Dua kali.


Rumah yang mereka inapi tersebut terasa kosong dan sunyi begitu Jungkook kembali masuk di dalamnya. Ia hanya mendengar suara langkah kaki bergema di sekitar dan Jungkook langsung menyimpulkan kalau rekannya yang lain sedang berusaha mengalihkan pikiran mereka dari eksekusi mati Namjoon dengan cara beraktifitas seperti biasa.

Sesaat ia mempertanyakan keputusannya telah memberi izin Seokjin untuk mengambil alih tugasnya. Ia tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan oleh Beta itu mengingat ia harus menembak kekasihnya sendiri.

Tanpa sadar ia malah tiba di depan ruang kerja Namjoon.

Lampu ruangan tersebut masih menyala dan barang-barang di atas meja masih berserakan. Jungkook menggelengkan kepalanya. Bahkan di saat-saat terakhir, Namjoon tetap membandel untuk tidak membersihkan barang-barang miliknya. Ada pistol tangan yang tidak beramunisi, sebuah pisau lipat, sebuah jam saku yang telah lusuh, beserta jurnal milik almarhum presiden Moon Jae-in.

Jungkook mengamati jurnal lusuh tersebut yang terbuka tepat di gambar bagan pengembangan percobaan senjata biologis yang telah membunuh banyak orang dengan cara mengubah mereka menjadi Chugyeokja, termasuk Namjoon. Ada beberapa nama ilmuwan di dalamnya dan juga orang-orang yang terlibat dalam pengembangan senjata biologis tersebut, termasuk Moon Jae-in sendiri. Tertulis pula harapan besar Moon Jae-in dengan adanya senjata tersebut; yakni dengan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang layak dihuni.

Tujuan bodoh macam apa itu?

Kini Jungkook paham betul kenapa Namjoon begitu tertarik untuk mendalami jurnal milik mendiang presiden.

Tertanda percobaan telah dimulai sejak tanggal 9 Oktober 2022 di Sinan dan tidak pernah tertulis kapan percobaan itu berakhir. Secara detail juga ada cetakan gambar anatomi tubuh manusia, yang diperinci pada bagian otak. Jurnal itu juga menjelaskan secara rinci bagaimana pengaruh dari emisi gas yang dilancarkan berpengaruh pada manusia-sampai menjelaskan kalau sampai saat ini belum ada penawarnya.

Lalu rencana pelepasan gas senjata biologis tersebut ke Korea Utara, ke markas besar perbatasan.

Hati Jungkook melengos tatkala ia menangkap sebagian dari jurnal itu masih sepenuhnya belum kering dari titik-titik gelap air yang membasahi permukaannya.

Ia sudah tahu itu adalah bekas air mata Namjoon.

Jungkook menyambar jurnal itu dan memasukkannya ke dalam saku seragam bertugasnya, bergumam, "Hyung. Kau pergi terlalu cepat."

"Apa yang kau lakukan di sini?" Ia mendengar Taehyung berbicara padanya. Sontak Jungkook menoleh, "Bagaimana dengan Namjoon? Dan ke mana Jin-hyung?" Seraut senyum tipis ditawarkan oleh Jungkook, membuat Taehyung mendesis pelan, terkejut karena ia langsung paham apa yang terjadi. "Kau tidak-? Jungkook? Apa yang kau-"

Suara letupan senjata api bergema di antara mereka, menghentikan interaksi keduanya. Disusul oleh letusan lain.

Jungkook dan Taehyung bertatapan sekilas sebelum bergegas menuju sumber suara tersebut. Didengar mereka suara langkah kaki berderap, saling memberitahu kalau yang lainnya juga sedang menuju tujuan yang sama.

Yoongi membeliakkan mata sewaktu ia melihat Jungkook, "Kook-ah?! Kenapa kau ada di sini?!"

Jungkook tidak punya kesempatan untuk menjawabnya sampai mereka tiba di pekarangan belakang-ke muka hanggar-dan menemukan lantai kayu yang sebelumnya berwarna coklat pudar, telah dipenuhi oleh kubangan berwarna merah.

Jackson mengeluarkan pekikan rendah melihat jasad Namjoon yang tak bernyawa, bergelimang di bawah kakinya. Ia segera berlutut untuk memeriksa keadaan tubuh yang dulu adalah sosok sahabatnya dibantu oleh Hoseok.

Jinyoung baru menyusul mereka sambil menyeru "Di mana Seokjin?" saat mereka mendapati tubuh yang lain terbaring di bawah jasad Namjoon.

"Jin-hyung!" teriak Hoseok kalang kabut, segera memeriksa denyut nadi dari Beta itu.

"Kenapa-kenapa dia bisa ada di sini?!" tanya Won-sik tidak percaya.

Jaebeom nyaris ikut berlutut untuk memeriksa keadaannya, "Dia baik-baik saja? Jangan bilang padaku—"

"Aku baik-baik saja," dengan suaranya yang serak, Seokjin menjawab mereka. Beta itu dengan agak terhuyung-huyung berusaha bangkit. Masker dan seragam bertugas yang ia kenakan telah bersimbah darah. Ketika Jaebeom bergerak untuk membantunya, Beta itu mendesis pelan, "Aku bisa bangkit sendiri."

Yoongi melihat Seokjin dan Jungkook secara bergantian, mengharapkan penjelasan, "Tapi, bukannya Jungkook yang—"

"Aku butuh dua orang untuk menguburkan jasad Namjoon. Siapa yang ikut denganku?"

Hoseok dengan ragu-ragu mengangkat tangannya dan juga Jackson sebelum Jungkook bisa mengajukan diri. Seokjin memberi gestur pada keduanya untuk menggeser tubuh Namjoon supaya tubuh Alpha itu berada pada posisi yang seharusnya, sementara Won-sik melenggang mencari sekop untuk menguburkan jasad mendiang kaptennya tersebut.

Ada sebuah luka menganga tepat di dahi Namjoon dan juga lubang di dada kirinya. Kedua matanya yang sebelumnya masih terbuka setengah, kini telah ditutup oleh Jackson. Genangan darah menghiasi sekeliling tubuh jasad sang Alpha, membuatnya seolah-olah memiliki dua sayap dari darah di balik punggungnya.

Semua pemandangan yang mereka lihat kini terasa seperti sebuah lukisan surealis jika saja tidak ada mayat Namjoon yang menjadi objek sorotan di dalamnya.

"Bagi yang tidak lagi berkepentingan, kita kembali ke dalam," Jungkook memberi mandat tanpa ada satupun yang membantah.


"Aku merasa khawatir dengan keadaan Seokjin-hyung saat ini," Jungkook mendengar Taehyung berucap di sebelahnya. Mereka bersandar pada kepala tempat tidur, duduk di antara satu sama lain, menunggu hingga Seokjin, Jackson, dan Hoseok kembali. "Dia sama sekali tidak berkata banyak sewaktu kita menemukannya bersama jasad Namjoon. Aku tahu dia memang orang yang tidak banyak bercerita tentang perasaannya sendiri, tapi, melihat dia bersikap tenang setelah menembak kekasihnya sendiri, aku jadi mencemaskannya."

"Apa menurutmu keputusan yang salah aku membiarkannya bertukar posisi denganku?" Jungkook melempar pertanyaan, tiba-tiba teringat kembali bagaimana Seokjin mendatanginya untuk menawarkan diri menjadi orang yang menembak Namjoon. Ia tidak bisa mempelajari perasaan Beta itu karena sepenuhnya wajahnya ditutupi oleh masker. "Aku hanya berpikir, kalau dia yang menembak mati Namjoon-hyung, dia akan punya lebih banyak waktu dengannya."

"..biarkan ini menjadi momen terakhir bagi kami."

Tapi ia ingat getaran perasaan sewaktu Seokjin berkata demikian.

"Mungkin itu adalah pilihan yang baik."

Mereka mendengar suara decitan pintu disusul dengan suara benturan benda keras dan suara langkah kaki. Jungkook dan Taehyung beranjak dari tempat tidur untuk mengintip dan menemukan Hoseok dan Jackson telah kembali. Tanpa Seokjin.

"Di mana Jin-hyung?" sergap Taehyung panik melihat keduanya tiba tanpa Beta itu.

"Dia memaksa kami pergi duluan," kata Jackson getir. "Aku tidak bisa menolak permintaannya itu. Dia jauh lebih kehilangan daripada kita semua."

"Tapi dia tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh, aku berani jamin," Hoseok menambahkan dengan maksud menjernihkan kepanikan di antara mereka. "Soalnya dia bilang, dia tidak ingin mengecewakan Namjoon dan akan hidup untuknya."

Ucapan itu membuat Taehyung tersedak oleh tangisannya sendiri sampai Jungkook setengah mendekap pasangan Omeganya, menuntunnya masuk ke dalam kamar tidur setelah bertukar salam sebentar pada Hoseok dan Jackson.

Seokjin kembali pukul dua dini hari, Jungkook tahu karena ruangannya dengan ruangan Seokjin bersebelahan. Alpha itu bermaksud keluar kamar untuk menyapa Seokjin-meninggalkan Taehyung yang begitu lelap dalam tidur. Tapi kemudian ia langsung mendengar suara benturan pintu diikuti oleh suara pintu dikunci.

Mungkin Jungkook terlalu lelah setelah apa yang seharian penuh telah ia alami.

Karena ia sama sekali tidak menangkap suara senggukan tangis pilu, samar-samar terpendam di balik tembok, berkumandang tidak lama begitu ia terlelap dalam bunga tidur.


12 November 2045, Sinmak, North Hwanghae

10.00 a.m

Perjalanan mereka ke Sariwon dimulai pada pukul sepuluh.

Begitu memasuki kendaraan masing-masing, tidak ada satupun dari mereka ada yang angkat bicara. Mereka masih dirundung oleh rasa berduka mengingat Namjoon baru saja meninggal tadi malam dan telah dikuburkan di daerah yang sudah pasti tidak akan pernah bisa mereka datangi lagi. Percakapan yang berusaha diangkat oleh Jackson pun berlangsung hambar dalam hitungan menit.

Semuanya masih terasa seperti mimpi.

"Oh, lihat. Hari ini cuacanya cerah," sejenak mereka mengira pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Jackson-tapi jelas-jelas suara tersebut milik Seokjin. Kini semua mata memandang ke arahnya, dengan kedua alis terangkat heran. "Kenapa? Kenapa memandangiku begitu?"

"Hyung? Kau baik-baik saja, kan?" selidik Hoseok kebingungan.

Seokjin menatap wajah rekan-rekannya satu persatu, "Kalian mengira aku gila, ya?"

"Biar kami tanya sekali lagi, Hyung," Taehyung mengulangi, "Kau baik-baik saja, kan?"

"Tentu aku baik-baik saja!"

"Apa kau-sama sekali tidak merasa bersedih?"

Seokjin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Taehyung, "Perasaan sedih itu tentulah masih ada. Tapi kupikir, apa bagusnya kalau aku terus bersedih. Sekarang aku akan terus hidup untuk Namjoon karena dengan demikian memorinya akan terus hidup di dalam ingatanku, kalau itu menjadi pertanyaan kalian." Nadanya berubah setengah mengejek sewaktu ia menyaksikan berbagai reaksi yang diberikan oleh yang lain, "Hei, hei! Kenapa malah kalian yang kelihatan bersedih begitu, sialan?!"

Yoongi berusaha selihai mungkin untuk menghapus air matanya, "Kami tidak menangis. Tapi adalah suatu hal yang wajar untuk kita bersedih, Hyung. Apalagi kalau itu adalah Namjoon."

Lagi-lagi Seokjin tersenyum, lebih lebar daripada sebelumnya dan melihat ke hamparan luas bebukitan berwarna putih disertai bentangan langit kelabu kemerahan. Senyuman di wajahnya terlihat kontradiktif dengan tatapan sendu yang ia siratkan.

"Yah. Mungkin kalau kalian pikir-pikir, justru Namjoon akan mencemooh kita dari atas sana karena menyia-nyiakan air mata untuknya. Yang terpenting sekarang, kita harus melakukan hal yang terbaik dengan sisa hidup yang kita miliki."


13 November 2045, Sariwon District, Hwanghae Province, North Korea

09.34 p.m

"Jihoon-ah. Sudah jam sembilan lewat. Kau sama sekali belum mengantuk?"

Jihoon tetap melanjutkan susunan legonya. "Belum."

Jimin menghela napas panjang. Setelah kejadian beberapa hari lalu yang terjadi antara dirinya dengan Woojin, entah kenapa anak itu semakin keras kepala untuk dinasihati. "Tapi sudah jam segini. Biasanya Eommamu akan menyeretmu ke tempat tidur kalau kau masih bermain seperti ini."

"Tapi 'kan tidak ada Eomma di sini. Siapa yang mau menggendongku?"

Akhirnya Jimin turun tangan menarik paksa Jihoon dari mainannya, membuat anak itu berteriak tidak senang. "Kau yang meminta, Jihoon-ah. Ini sudah lewat waktu tidurmu. Jadilah anak baik dan pergi tidur, oke?"

"Aku masih belum mengantuk!" ia menggeliat meminta turun dari Jimin, tanpa hasil. Karena ia tidak berhasil terpenuhi keinginannya, tangisannya langsung pecah di telinga sang Omega. "Turunkan aku!"

"Jihoon-ah, menangis tidak akan menyelamatkanmu, oke? Ini waktunya tidur!"

"Aku tidak mau! Aku baru mau tidur kalau ada Eomma di sini!" teriaknya senewen, meronta-ronta di gendongan Jimin. "Semua orang bilang dia akan pulang-tapi E-Eomma tidak pernah pulang-"

Perasaan bersalah menyelimuti Jimin. Lagi-lagi anak itu menyebut ibunya. Seharusnya Taehyung dan yang lain memang dipastikan kembali setidaknya hari ini, tapi entah kenapa tidak ada tanda-tanda kapan kawanan tentara Minguk tersebut akan kembali. Ia sudah kewalahan menjadi babysitter dari Jihoon. Sekarang ia ingat kenapa ia lebih menyukai bayi ketimbang anak-anak seusia Jihoon.

Sembari membawa tubuh Jihoon yang tidak bisa berhenti berontak di gendongannya, Jimin pelan-pelan teringat kembali akan Alphanya sendiri. Sudah hampir dua minggu lebih ia tidak melihat sang Alpha dan kini disesaki oleh rindu yang tertahankan. Heatnya dipastikan akan datang sebentar lagi dan ia tidak mau melewatkan heat sendirian tanpa sang Alpha.

"Jimin-ah, kenapa dengan Jihoon?" ia menangkap suara Baekhyun bertanya padanya. Omega itu diiringi oleh Chanyeol di belakangnya, ekspresi keduanya sama-sama terlihat cemas melihat Jihoon yang seluruh wajahnya sudah merah dan dipenuhi airmata serta ingus dan liur.

"Dia menolak aku bawa ke tempat tidur. Seharusnya ia sudah tidur sejak pukul sembilan tadi," sungut Jimin, menahan emosi. Telinganya sudah mulai berdengung akibat teriakan Jihoon yang tak kunjung berhenti.

"Sini, biar aku yang menggendongnya," kata Chanyeol menawarkan diri yang justru ditolak mentah-mentah oleh Jihoon-yang menangis dengan lebih keras. Tidak sengaja wajah Alpha itu juga ikut tertampar oleh ulah Jihoon, membuatnya terpaksa mundur. "Wow. Dia benar-benar keras. Pasti dia mewarisinya dari—"

"Jangan menyebut nama itu kalau kau tidak ingin dia membuat gendang telingamu pecah!" seru Baekhyun mengingatkan, matanya melotot pada sang Alpha.

Chanyeol membungkam mulutnya, "Oh. Baiklah. Sampai nanti, Baekhyunnie."

Baekhyun melambaikan tangannya dengan malu-malu menunggu Chanyeol meninggalkannya untuk bergabung bersama tentara yang lain dan beringsut pada Jimin, membantu Omega yang lebih muda itu membawa Jihoon ke ruang tidur mereka.

Seperti biasa, tangisan Jihoon baru akan reda setelah mereka mendiamkannya di atas tempat tidur selama beberapa saat. Seolah mengikuti nalurinya, Jihoon memeluk bantal yang selalu ditiduri oleh sang ibunda, menghirup aroma Omega itu untuk menenangkan dirinya seperti halnya ia mengonsumsi endorfin.

Jimin membelai kepala Jihoon, memijat ubun-ubunnya dengan penuh kelembutan. "Aku berjanji Eommamu akan kembali, Jihoonie. Bersabarlah sedikit lagi, oke?"

Jihoon tidak menyahut dan malah mendekap bantal di pelukannya kuat-kuat.

Mendadak, Baekhyun berdiri dari tempat tidur dan bergerak menuju jendela. Ia menyelipkan tangan di antara kerai penutup jendela dan membeliakkan mata saat menangkap apa yang ia lihat.

"Lihat, Jihoonie!" seru Baekhyun senang, "Itu Eommamu tiba!"

Mendengar nama sang ibu, Jihoon langsung melompat turun dari tempat tidur dan berlari mendekati jendela-masih memeluk bantal yang menyimpan aroma induknya. Jimin mengekor bocah itu tak lama kemudian. Dengan bantuan Baekhyun, ia melihat ke arah hamparan tanah lapang di hadapan mereka. Matanya menelisik di antara kegelapan saat ia melihat dua pasang cahaya beriringan menuruni bebukitan jauh nun di sana.

"Itu Eomma!" ia memekik girang.

Jimin ikut antusias menyadari situasi tersebut. Ia menepuk pundak mungil Jihoon dan berseru, "Ayo, sekarang kita ke bawah untuk menjemput Eommamu!"

Bersama Baekhyun, ketiganya menderapkan langkah menuju hangar bawah tanah. Jihoon berlari paling depan, disusul oleh Jimin dan Baekhyun.

Panel beton hangar tertarik ke atas diikuti oleh dua buah kendaraan militer yang meluncur masuk menyusuri area parkir militer yang didominasi oleh lantai beton yang dilapisi oleh mortar epoxy. Jihoon melompat-lompat kegirangan sambil melempar kedua tangannya ke atas, berteriak-teriak heboh, "Eomma! Eomma!"

Benar saja, belum sempat kendaraan recoinnaissance berhenti pada tempatnya, puncak kap terbuka lempar dan sosok Taehyung mencuat keluar. Omega bersurai abu-abu itu melompat turun dari kendaraan berlapis baja tersebut, meskipun Jungkook yang muncul sesudahnya memrotes aksi sembarangannya dengan raut panik.

"Jihoonie!" teriak Taehyung tidak kalah antusias melihat sang putra, seolah-olah ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan anaknya tersebut. Digendongnya dengan mudah tubuh sang bocah, dibuatnya berputar-putar selama beberapa saat sebelum ia memeluk kembali putranya, menciumi pipinya dengan penuh kasih sayang. "Jihoonie, Jihoonie! Eomma merindukanmu!"

Perasaan rindunya pada sosok sang putra kini telah terobati begitu ia melihat wajah mungil anak laki-laki tersebut menyeringai begitu lebar padanya. Jihoon menelusupkan kepalanya ke cerukan leher Taehyung, menghirup aroma sang induk berkali-kali. "Kenapa lama sekali! Jihoonie merindukanmu!"

"Eomma minta maaf, oke? Setelah ini kita akan selalu bersama-sama, ya?"

Jihoon menganggukkan kepalanya keras-keras dan kembali menidurkan kepalanya di pundak sang Omega, "Jangan pergi lagi."

"Tidak akan. Eomma tidak akan mau lagi berpisah darimu."

Tidak lama mereka saling berkasih-kasihan, Jungkook muncul di sebelah Taehyung, mengamati keduanya dari dekat. Begitu Jihoon menyadari siapa yang berdiri di dekat mereka, anak itu menyodorkan tangannya pada Jungkook yang kemudian meraih tangan mungilnya.

"Selamat datang, Hyung. Jangan pergi lagi setelah ini. Berjanjilah untuk tetap bersamaku seperti yang diucapkan Eomma."

Jungkook merasakan bibirnya tertarik menjadi sebuah senyuman saat Jihoon menggenggam tangannya erat-erat, tidak bermaksud melepaskan, "Aku pulang, Jihoon. Ayo kita bersama-sama lagi setelah ini."

Yoongi turun dari kendaraan militer dan segera disambut oleh Jimin oleh derai airmata. Jimin melompat ke tubuh sang Alpha, melingkarkan kedua kakinya ke pinggul Yoongi hingga membuat Alpha tersebut kehilangan keseimbangan dan terpuruk ke atas lantai beton. Tanpa protes sedikit pun, Yoongi menahan beban tubuh Jimin di atas tubuhnya dan menciumi wajah sang Omega bertubi-tubi, "Aku pulang, Jimin-ah."

"Untung kau masih hidup, Hyung."

"Kalau aku mati, memangnya kau bisa menemukan penis seperti milikku ini?"

Jimin membalas ucapannya dengan menggigit bibir Alpha itu, "Aku merindukanmu, sialan."

Satu persatu personel tentara lain berkeliling di antara gabungan regu kecil yang terdiri dari sepuluh orang tersebut dengan antusias, menyalami mereka.

"Jongdae, Junmyeon, dan Hyun-woo gugur jauh sebelum kami berhasil menyelamatkan mereka. Dan Kyungsoo, kami tidak berhasil menyelamatkannya. Tapi kami sempat bertatap muka dengannya sebelum dia ikut gugur dalam misi ini."

"Benar-benar tidak ada yang berhasil hidup, eo?" ratap Yugyeom yang berdiri di antara personel tentara yang lain sembari menyeka airmatanya. "Tapi setidaknya kalian semua berhasil sampai ke sini lagi dengan selamat."

Sebentar Hoseok menjelaskan misi yang berakhir gagal karena mereka tidak berhasil menyelamatkan rekan-rekan di pasukan khusus di mana ia dulu pernah tergabung di dalamnya.

Chanyeol yang sedari tadi berdiri di belakang Baekhyun untuk mengamati sekitarnya, ikut memeluk kawan-kawannya tanpa jeda sedikitpun. Saat ia berhenti di tempat Seokjin, Alpha jangkung tersebut menolehkan kepalanya ke sekeliling, "Tunggu dulu. Di mana Namjoon-hyung?"

Keheningan yang dalam menyambut mereka. Hoseok kehilangan kata-kata, matanya kelabakan mencari-cari sosok Jungkook, berharap Alpha itu akan membantunya menjelaskan.

"Namjoon gugur dalam misi ini."

Kalimat itu tanpa terduga meluncur dari mulut Seokjin, membuat semua kepala terarah padanya.

"Tunggu—Namjoon—?" Junghwan yang baru saja bergabung menyambut mereka menyuarakan rasa terkejut semua orang. "Namjoon-bagaimana dia bisa—?"

"Dia bertransformasi menjadi salah satu dari Chugyeokja-karena tampaknya tanpa sengaja ia menghirup gas yang telah dikembangkan oleh Daetonglyeongnim sebagai senjata biologis menghadapi Korea Utara."

Junghwan menelan ludahnya, "Astaga, Seokjin-"

"Bagaimana kalau kita menjelaskan semuanya di dalam nanti malam? Ada banyak hal yang harus disampaikan dari misi kita kali ini," Seokjin segera memotong ucapan Beta tersebut seraya menyodorkan senyuman tipis, kepalanya bergerak ke arah Hoseok, "Bukankah lebih baik kita menjelaskan apa saja yang telah terjadi dalam misi kita ini, Daehwi?"

Hoseok membulatkan matanya, terbata-bata. Tapi saat Won-sik menepuk bahunya, Beta itu menarik napas dalam-dalam dan membalas, "Ya. Ada banyak yang harus kami sampaikan malam ini."

Reuni singkat mereka berakhir setelah Jungkook menurunkan perintah pada personel tentara Yeokjuk yang lain untuk kembali pada tugas masing-masing sementara tentara khusus Minguk yang baru tiba di pangkalan rahasia membenahi diri mereka sampai pertemuan besar yang telah ditentukan nanti malam.

Jungkook yang semula menambatkan perhatiannya pada Jihoon dan Taehyung, tak ayal menoleh pada Seokjin yang masih berdiri di tempat ia berdiri sebelumnya, menatap lurus ke gerbang markas yang telah kembali tertutup rapat. Perhatiannya tersita lagi pada Jihoon yang mulai menyerocos tanpa henti padanya, memintanya berjanji untuk bermain dengannya sepanjang hari yang tersisa.

Dan Seokjin, sementara rekan-rekannya yang lain pergi mendahuluinya di belakang, ia masih saja terus memandang lurus ke arah pintu gerbang. Berharap jika pintu itu terbuka, akan ada sosok yang ia cintai berdiri di sana. Sewaktu ia kembali tersadar itu hanyalah sebuah harapan kosong, sang Beta memutar tubuh dan berbalik pergi menuju ruang tidurnya. Kali ini sendirian, tanpa sosok Namjoon.

Bagaimanapun juga, ia harus membiasakan diri untuk tidur seorang diri mulai sekarang.


14 November 2045, North Korea Central Military Commision, Sadong-guyok District, Pyongyang

"Tidak bisakah kalian menemukan di mana para bedebah ini berada?" suara berat seorang Alpha menggema dalam seisi ruangan konferensi yang dihadiri oleh dua puluh lima orang tentara yang memegang peranan penting di Korea Utara.

Di sebelahnya, seorang Alpha lain yang duduk tepat di pusat konferensi memandangi wajah satu persatu para peserta rapat yang hadir, menyelidiki. Dibanding partnernya yang lebih temperamental, Alpha itu bersikap jauh lebih terkontrol dalam menghadapi situasi genting yang mereka hadapi.

Sesuai dugaannya, tidak ada satupun peserta rapat yang mampu menjawab pertanyaan sang adik. Suasana di dalam ruang konferensi hening disertai oleh rasa tegang yang menyesakkan.

Merasakan adiknya yang juga mulai bersikap tidak sabaran, Choi Siwon pun ikut angkat suara. "Kalian sudah mengerti situasi sekarang ini, kan? Kita telah kehilangan enam puluh ribu personel tentara dan juga satu markas utama di perbatasan. Kita juga ikut kehilangan enam senjata rudal yang seharusnya bisa membantu kita memenangi peperangan ini, tapi sekarang kita kehilangan semuanya. Thailand dan aliansi mereka sudah memukul telak sebagian dari pasukan kita di Asia Tenggara. Amerika sekarang sudah tidak bisa berbuat banyak kecuali mengharapkan bantuan kita di sana."

Choi Seunghyun menggeram marah, "Minho. Sekarang katakan, langkah apa yang sudah kalian lakukan sekarang ini setelah mendapatkan kabar seperti itu?" sang Alpha muda yang namanya baru saja disebutkan langsung menciut di kursinya, menatap sang wakil panglima sekaligus sang kakak dengan sikap gelagapan. "Setelah Hyungsik jatuh koma, sekarang kau malah kehilangan arah tidak tahu harus mengambil sikap apa?"

"Choi Seunghyun, duduk di kursimu dan bersikaplah tenang," Choi Siwon mengingatkan adiknya, tetapi tidak diidahkan sama sekali oleh Alpha tersebut.

"Saat ini kita hanya punya tiga rudal yang tersisa dan peperangan masih belum mencapai puncaknya. Sedangkan para pasukan pemberontak itu juga sama sekali tidak kita ketahui di mana keberadaannya, padahal mereka lah yang menjadi sumber permasalahan utama kita sekarang." Choi Seunghyun menatap tajam ke arah sang adik, membuat Alpha yang ia maksud tersebut ketar ketir di atas kursinya.

"Tenang saja, aku sudah mengirimkan tiga regu untuk bergerak menyisir arah selatan, ke distrik Sariwon," tanpa disangka terdengar suara seseorang yang telah lama tidak berkumandang di dalam ruang konferensi.

Dua panglima besar Choi mematung di tempat mereka masing-masing, termasuk seluruh peserta rapat di dalam ruang konferensi. Semua kepala kini tertuju pada sosok tinggi di sudut ruangan konferensi, tepat di dekat pintu masuk.

"Hyung-sik?"

Hyung-sik dengan tubuh tegapnya berdiri menuju ke meja konferensi diikuti oleh empat barisan tentara pengawal. Belum sempat ia mencapai kursi di mana Siwon dan Seunghyun berada, sepuluh orang tentara yang lain menghadang mereka dengan sikap waspada.

"Bukankah kau jatuh koma?" selidik Siwon heran. Matanya bergerak menyusuri tubuh Hyung-sik dari atas hingga ke bawah. Walaupun Alpha itu telah selamat dari ledakan yang telah meluluhlantakkan sebagian dari markas utama di Pyongyang, tetap saja ia kehilangan mata kirinya yang kini telah ditutupi oleh eyepatch berwarna hitam dan juga sebagian wajah tampannya yang telah terkubur oleh bekas luka.

"Aku memang jatuh koma, tapi aku masih hidup," kata Hyung-sik, tersenyum dingin.

"Kami tidak ingat mengundangmu ke dalam rapat paripurna ini," Siwon masih bersikap tenang.

"Aku tahu. Tapi Jongin sudah mati dan jabatan daejang telah kembali padaku."

Seunghyun berteriak keras ke arah Alpha itu, "Jangan sembarangan, Hyung-sik! Kau tidak punya wewenang di sini sekarang! Kau sudah kehilangan statusmu sebagai daejang setelah kau gagal melaksanakan tugasmu!"

"Lalu, apakah keputusan itu memang turun langsung Songun? Atau hanya keputusan sementara yang kalian berikan karena aku jatuh koma?"

"Songun yang memberikan kami mandat itu secara langsung," balas Siwon.

"Kalau begitu, untuk menebus semua kesalahanku, aku mengirimkan tiga regu ini ke distrik Sariwon karena aku mendapat kabar ada aktivitas asing yang tertangkap satelit pengintai di sana," Hyung-sik masih tidak mau mundur dari posisi ia berdiri, sekalipun sepuluh tentara penjaga mengarahkan moncong pistol ke arahnya. "Aku berani jamin, pasti ada salah satu dari satuan tentara Yeokjuk di sana. Kalau kita berhasil menemukan salah seorang dari mereka, kita bisa mencari tahu di mana mereka berada dalam waktu singkat."

Kedua Choi bersaudara saling bertatapan sebelum melempar pandangan curiga pada Hyung-sik, "Apa Songun sudah mengetahui tentang hal ini?" tanya Seunghyun tidak percaya.

Mesin proyektor di atas kepala mereka mendadak meluncur turun dan menyala secara otomatis, menampilkan satu layar besar gelap dengan siluet seseorang di dalamnya.

"Aku sudah mengizinkan Hyung-sik untuk menjalankan tugasnya. Untuk sekarang ini, gelar Daejang akan kembali dipegang olehnya."

"Tapi, Songun-"

"Keputusanku sudah bulat. Apapun harus dilakukan kalau kita menginginkan kemenangan."

Ucapan itu cukup membungkam Seunghyun, yang kini ekspresinya dipenuhi oleh rasa amarah.

Siwon masih berusaha bersikap senetral mungkin, "Kalau begitu, lakukan tugasmu dengan baik, Hyung-sik." Ia menutup konferensi, "Sekarang kesimpulannya, kita akan menunggu kabar dari regu yang telah dikirimkan oleh Hyung-sik ke distrik Sariwon, sampai-"

Pidato singkatnya sempat terpotong oleh suara tembakan yang menggema di dalam ruangan. Alpha itu mengerjap terkejut sewaktu ia mendapati sosok Seunghyun di sebelahnya tiba-tiba tumbang dari kursi yang ia duduki. Refleks, ia ikut menunduk untuk melindungi diri bersamaan dengan suara tembakan lainnya. Kini seisi ruangan dipenuhi suara teriakan yang saling beradu beserta suara desingan peluru.

Siwon membalikkan tubuh Seunghyun yang telah bersimbah darah di atas lantai, menyadari adiknya telah tertembak tepat di wajah yang kemudian menembus ke jaringan otaknya. Alpha itu menyumpah pelan sembari menutup kedua mata sang adik, sementara satu tangannya mengambil pistol yang tersembunyi di balik jas bertugas yang ia kenakan.

Ia menembaki satu persatu personel tentara yang telah berkhianat padanya. Berhasil ia menembaki beberapa orang tentara, pistolnya terarah ke Hyung-sik yang masih dikelilingi oleh personel tentara penjaga. Ia langsung tahu apa yang direncanakan oleh Hyung-sik, mengingat bagaimana satuan tentara penjaganya mulai menghabisi peserta rapat yang berpihak pada Choi bersaudara.

Baru saja ia bermaksud membidik Alpha tersebut, ia merasakan ujung moncong pistol tertanam di pelipisnya.

"Hyung. Aku mohon, turunkan senjatamu."

Tidak perlu menoleh ia tahu suara itu berasal dari sosok sang adik bungsunya, Choi Minho. "Hyung-sik," Siwon sama sekali tidak berniat menurunkan senjata, "Dia sudah merencanakan ini semua, bukan?"

"Turunkan senjatamu, Hyung!" bentak Minho, suaranya bergetar. "Aku tidak main-main, aku bisa saja membunuhmu!"

"Seharusnya aku dan Seunghyun tidak menjadikanmu tentara seperti kami. Itu adalah suatu keputusan yang salah-"

Timah panas kini bersarang tepat di antara kedua matanya, menidurkan Alpha Choi tersebut untuk selamanya.

Minho menurunkan pistolnya, seluruh tubuhnya terguncang hebat.

"Kau tidak membunuhnya, tapi lihat, kini kau malah menggegar hebat seperti tikus yang sekarat," ia menangkap suara Hyung-sik berujar padanya. Dingin dan mengancam. Ia meremas pundak Minho, "Kau sudah bertugas dengan baik, Minho. Terima kasih atas kesetiaanmu padaku. Sekarang kau bisa menggantikan posisi Seunghyun sebagai Chasu."

Minho bergeming sampai ia mendapati Seungwan menyuruh personel tentara lain menggotong dua jasad kakaknya ke tempat lain, "Akulah-yang berterima kasih padamu."

Bersamaan dengan ruangan yang berlarut-larut sepi setelah konflik yang sejenak terjadi di dalam ruangan konferensi, mesin proyektor kembali menyala dan menampilkan siluet seseorang di dalamnya, "Hyung-sik, sekarang aku tidak akan menolerir kesalahan yang kau buat. Cukup sekali kau gagal, dan sekarang aku ingin kau segera menemukan mereka. Jangan lagi mengulangi kesalahan yang pernah dibuat oleh mendiang ayahmu. Kita membutuhkan Omega itu dan juga putramu."

"Ye, Songun-nim."


TBC

Catatan Penulis:

Karakter di dalam bagian cerita ini adalah sebagai berikut:

Kelompok Minguk:

Jeon Jungkook aka JK (25), Kim Taehyung (27), Kim Seokjin aka Jin (29), Jung Hoseok aka Hobi (27), Min Yoongi aka Suga (28), Park Chanyeol aka Yeol (26), Kim Yugyeom aka Brown (25), Kim Won-sik aka Ravi (28), Park Jinyoung (27), Lim Jaebeom (27), Wang Jackson aka Jackson (27).

Kelompok Minguk yang gugur:

Kim Namjoon aka RM (27)

Pasukan Korea Utara yang gugur:

Choi Siwon (37), Choi Seunghyun (36),

Pasukan Korea Utara di Pyongyang:

Park Hyung-sik (31), Choi Minho (31), Son Seungwan (27)

Halo, haha lama tak bersua. Sudah hampir setahun tidak update fanfic ini, saya jadi lupa ceritanya gimana haha. Sebenarnya kemarin udah janji mau update di awal Januari, cuma ternyata dunia kerja itu berat ya haha :") jadi sering pulang malam dan kalau pulang pun pasti langsung tidur, ga sempat menulis lagi. Ditambah tahu-tahu MS Word yang biasa dipakai ngetik tahu-tahu lisensinya habis, wahaha. Apalagi akhir-akhir ini kemampuan menulis kayaknya jadi menurun, yang dulu sehari bisa ngebut menulis 10k, sekarang cuma 1k udah alhamdulillah :") Mungkin feelnya juga udah agak turun setelah lama ga nulis.

Jadi maafkan saya ya atas keterlambatannya. Semoga chapter dua bisa segera diusahakan secepatnya.

Saya pribadi udah membaca ulang fic ini dari awal dan ternyata banyak banget kesalahan fatal di dalam cerita haha, kalau ada waktu mungkin akan direvisi. Pantas ya kalau penulis novel ulung bisa punya lebih dari satu editor haha, lah ini penulis fanfic doang, kelabakan bukan main :")

Seperti chapter sebelumnya di chapter ini ada yang mati dan itu adalah Namjoon haha. Saya nulis ini sambil nangis sih, soalnya saya lumayan suka karakter Namjoon (apalagi sekarang dia bias utama saya! :"(). Cuma ya karena memang sudah di awal sudah ada rencana pas baru bikin fic ini bakalan ada adegan di mana Namjoon mati dan Seokjin yang terpaksa ngebunuh dia, dan akhirnya sekarang baru terwujud adegan ini.

Setelah ini bakalan banyak persiteruan lagi, sih, dan bakalan lebih banyak penderitaan lagi, haha. Semoga dalam lima atau enam chapter berikutnya, fic ini rampung. Dan kabar tidak menyenangkan, mungkin Guns, Roses and Babies bakalan on hold selama beberapa saat. Maafkan :(

Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan memasukkan cerita ini ke cerita favorit kalian (ini pembaca gak ada yang bikin dua akun, kan? Kenapa tiba-tiba jadi banyak yang memasukkan cerita ini ke kolom favorit, ya?)! Sampai jumpa di chapter depan! Ditunggu komentar dan juga tambahan favorit di kolom kalian!