.

.

.

Matanya terus bergerak mengawasi setiap kiri dan kanan jalanan yang sepi. Langit masih gelap namun hawa dingin menyeruak membuat manusia akan enggan keluar dari kungkungan selimut tebalnya. Meski diakui matanya sedikit berat karena menahan kantuk yang menyerangnya, Siwon akan terus melajukan mobilnya dengan tempo pelan. Ditelusurinya jalanan sepi, tidak ada kendaraan lewat di pagi buta. Hanya ada suara hewan malam yang saling bersahutan dan beberapa gerombolan pemabuk yang berteriak satu sama lain. Kecemasan segera menjalari hati Siwon ketika merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya – yang sudah terlindungi mentel –. Siwon cemas dengan tubuh ringkih Kibum yang diterjang dinginnya malam.

Siwon terus menajamkan penglihatannya. Ia tidak mau kehilangan jejak Kibum. Ia hanya ingin berada di dekat istrinya, berbagi kehangatan. Siwon tau Kibum bersedih ketika mengetahui kekasihnya tengah bermesraan dengan yeoja lain di depan wajahnya. Meski tidak tau secara pasti, tapi nalurinya mengatakan jika Kibum tengah tersiksa saat ini. Tersiksa ketika kekasih yang selama ini mengisi relung hatinya yang kosong, sekarang mengkhianatinya.

Siwon masih mencoba bersabar, berusaha tidak membunuh Minho dengan tangannya. Tujuannya untuk saat ini adalah menemukan Kibum dalam kondisi selamat. Ya, dengan selamat. Di dalam benaknya terus memutar kejadian buruk yang akan dilakukan Kibum. Mengunjungi club malam, diperkosa, bunuh diri, dan serentetan pikiran buruk terus menyerangnya.

Minho? Siwon berpikiran akan lebih mudah memberikan sedikit pelajaran setelah bisa membawa istrinya pulang. Belum lagi ia mendapati namja yang menjalin hubungan bersama Kibum tengah bermesraan dengan yeoja lain. Hah... Siwon saja sebagai laki-laki bisa membayangkan betapa sakit hatinya ia jika berada di posisi Kibum saat ini. Seharusnya sejak dulu Siwon menyadari jika chef tampan itu hanya mempermainkan perasaan Kibum. Ia sudah terlambat untuk menyesalinya. Yang bisa ia lakukan hanya memperbaiki semuanya, memulai kehidupan rumah tangga mereka dari awal. Mencoba menjadi perisai untuk melindungi Kibum.

Derit suara ban yang menggesek aspal yang dingin terdengar begitu nyaring. Kaki jenjangnya menginjak rem mobil mendadak. Siwon teringat sesuatu.

Eunhyuk, Ryeowook, dan Sungmin. Ya, teman-teman Kibum.

Kemungkinan besar Kibum akan memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Bukankah kalian juga memilih menumpahkan kesedihan kalian dengan teman dekat kalian. Siwon menekan tombol hijau yang terpampang jelas di sudut kiri iPhonenya. Untuk beberapa saat ia harus mendengarkan dengungan telepon. Wajar jika namja tampan itu harus menunggu agak lama. Dini hari, ia menghubungi salah satu sahabat Kibum. Mungkin sebentar lagi akan terdengar makian kasar untuknya.

" PABOYA ! " Dan benar dugaan Siwon, ia harus segera menjauhkan iPhonenya dari daun telinganya. Lengkingan suara Kim Ryeowook memang tidak ada yang mampu menandinginya. Helaan nafas berat dihembuskan Siwon sebelum kembali menempelkan iPhone pada daun telinganya.

" Ryeowook-ah, apa Kibum ada bersamamu ?" Nada suara Siwon mencerminkan bagaimana ia mengkhawatirkan keadaan Kibum. Tanpa sadar mempererat cengkeraman tangannya pada setir mobilnya. Ia berharap Ryeowook akan memberikan kabar baik padanya. Setidaknya ia bisa bernafas lega jika berada di tempat yang aman.

Tapi sang penerima telepon malah merasakan ada sesuatu yang ganjil. Bagaimana mungkin seorang Choi Siwon yang selama ini kurang akrab bahkan sering bertengkar dengan Kibum, saat ini sedang menanyakan keadaan sahabat karibnya. Pasti terjadi hal buruk pada Kibum.

" Kamu menyakiti Kibum lagi, HAH ?" Suara Ryeowook kembali menggaung di dalam mobil mewah Siwon. Siwon sedikit mengusap daun telinganya yang dipastikan memerah karena mendengar teriakan yeoja bertubuh mungil itu.

" Kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku. Bukan berteriak," ucapnya sebelum memutus sambungan telepon. Tangannya membanting stir kemudinya guna melampiaskan rasa frustasi yang terus menusuk kepalanya.

.

.

.

Sudah jam 4 pagi. Hampir selama 2 jam penuh Siwon mengendarai mobilnya mencari Kibum. Kibum tidak bisa dihubungi. Pasti yeoja berkulit putih itu memilih menenangkan dirinya pasca mendapati kekasihnya bersama yeoja lain. Tapi menurut Siwon, cara yang dilakukan istrinya salah. Iya, salah. Kibum hilang dan sampai sekarang ia belum bisa menemukan keberadaan Kibum. Ia takut jika keluarga Kim akan tau jika anaknya menghilang. Dan... kebohongan mereka selama ini akan terbongkar.

Siwon tidak mau ' pernikahan palsunya ' terbongkar. Bahkan ia ingin diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Memulai hubungan bersama Kibum dari awal. Meski akan terasa sulit dan berat, jika belum pernah mencoba pasti semuanya akan sia-sia. Siwon berjanji akan menjaga Kibum, sudah cukup sikap dingin yang selama ini ia tujukan pada Kibum. Ia berjanji akan berubah menjadi suami terbaik bagi Kibum.

Mobil range rover hitam melaju dalam tempo lambat menyusuri jalanan sepi tak berpenghuni. Sesekali mobil itu akan terhenti, dan kaca mobil akan sedikit terbuka. Menampilkan sosok tampan yang melongok keluar jendela, sekedar mengedarkan pandangannya jauh ke depan. Ada sesuatu yang dicarinya. Raut wajah penuh kecemasan menguasainya.

Meski ia sudah menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk turut serta mencari Kibum, tapi Siwon tidak bisa dengan mudahnya melepas tanggungjawabnya sebagai suami. Matanya terasa berat. Menahan kantuk yang terus menyergapnya. Hampir saja ia menabrak pembatas jalan jika tidak ada teriakan seorang pejalan kaki yang menyadarkannya.

" Sebaiknya aku pulang dan istirahat beberapa jam." Siwon perlahan melajukan mobilnya ke arah perumahan mewah yang dihuninya. Setidaknya ia membutuhkan istirahat sejenak lalu meneruskan pencarian dengan kondisi yang lebih baik. Ia tidak mau mati konyol sebelum memperbaiki kesalahannya. Samar-samar suara deru mesin mobil Siwon mulai terdengar di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Range rover hitam itu seketika berhenti. Siwon beranjak turun dari pacuan mewahnya dan berlari kecil menuju halte yang ada di seberang jalan. Meski pencahayaan tidak terlalu terang ditambah kondisinya yang setengah mengantuk, tapi Siwon yakin sosok yeoja yang duduk di bangku halte adalah Kibum. Derap langkah kakinya yang menghentak permukaan aspal basah terdengar begitu nyaring. Meski begitu, suara yang cukup berisik itu tidak berhasil meraih perhatian sosok yeoja dengan kondisi sedikit mengenaskan. Matanya terlihat sembab – sepertinya bulir airmata terus mengaliri pipi mulusnya –, bibirnya pucat dan sedikit bergetar, pucuk hidungnya berwarna merah, serta tubuhnya menggigil karena mengenakan pakaian tipis yang menyelimuti tubuhnya.

Langkah Siwon terhenti, tepat di depan Kibum. Hati namja tampan ini mencelos. Sosok yang akhir-akhir ini sudah mencuri perhatiannya sekarang terlihat berantakan. Isakan lirih masih bisa didengar inderanya, bagaimana bibir – yang biasanya berwarna merah menggoda, kini bersemu pucat – tengah menggumamkan nama ' Minho ' berulang kali. Gemuruh rasa cemburu langsung menghujam hati Siwon. Gemeretak rahang yang mengeras serta kepalan tangan, seolah menggambarkan bagaimana hasrat Siwon ingin segera memberikan pelajaran berharga pada Jung Minho. Siwon akan memastikan Minho merasakan penyesalan karena membuat Kibum-nya menderita.

Kedua tangannya bergerak cepat melepas mantel yang dikenakannya lalu menyelimutkan pada tubuh istrinya yang menggigil. Siwon sedikit tersentak kaget ketika kulitnya tidak sengaja menyentuh kulit mulus Kibum, tubuh istrinya terasa sangat dingin. Bisa dipastikan Kibum berada cukup lama di ruang terbuka. Kulit putih nan mulus itu terlalu lama bertegur sapa dengan angin malam.

" Kamu mau pulang, Bummie ?" Suara lembut Siwon berbisik lemah tepat di samping telinga Kibum. Hanya saja, si yeoja hanya diam seribu bahasa. Ia masih terus terisak lirih dan bibirnya sesekali meloloskan nama ' Minho '. Membuat Siwon yang duduk di samping Kibum merasakan gemuruh cemburu membakar hatinya.

Siwon mengulurkan kedua tangannya, menangkup pipi bulat Kibum lalu menariknya hingga kedua bola mata mereka bertemu. Buliran kristal terus mengalir tanpa henti.

" Kajja kita pulang, Bummie." Dengan sigap Siwon langsung mengangkat tubuh lemah istrinya ke dalam pelukan, mendekapnya begitu erat. Berbagi rasa hangat. Bibirnya mengecup singkat pipi Kibum. Menyampaikan ungkapan sayang yang selama ini ia tepis. Nyatanya, selama ini Siwon begitu bergantung dengan kehadiran sosok Kibum di sisinya.

.

.

.

Tangannya menarik selimut tebal yang menghiasi ranjang. Ditutupnya tubuh mungil istrinya menggunakan selimut sebatas dada. Tangannya kemudian bergerak mengusap pucuk kepala Kibum penuh rasa sayang. Mata tajam miliknya menelusuri bagaimana mata indah milik Kibum bergerak resah di balik kelopak mata yang membingkainya. Senyum pahit terukir di bibirnya. Rasa bersalah menggedor hati nuraninya. Memori di masa lalu terus berputar di dalam kepalanya, mengulang bagaimana sikapnya yang selama setahun pernikahan mereka terus memberikan tekanan pada Kibum.

Siwon duduk di tepi ranjang dengan tangan kanan terus mengusap pipi bulat Kibum yang masih terasa dingin. Rasanya Siwon ingin memberontak. Ia ingin menjadi manusia paling egois di dunia. Ia ingin mendapatkan perhatian dari sosok cantik yang selama ini berada di sampingnya. Hanya karena keegoisannya, hatinya seolah tertutup untuk mengakui keberadaan Kibum yang sudah menjadi candu baginya.

Meski Siwon tak mengucapkan secara langsung, hal pertama yang dipikirkan ketika terbangun di pagi hari adalah Kibum. Namun penerus keluarga Choi itu terus mengelak.

" Apakah ini terasa sakit bagimu, Kibummie ?" ucapnya lirih sambil terus mengusap pipi bulat Kibum. Sesekali jari telunjuknya mengusap pelipis sosok cantik yang terbaring di atas ranjang. Gerakannya terhenti sejenak ketika bulir kristal bening merangsek keluar dari pelupuk mata Kibum yang terpejam. Siwon menggerakkan ibu jarinya guna mengusap setetes kristal bening. Jantungnya seolah diremas kuat-kuat.

" Istirahatlah, Kibummie. Aku janji, ketika kamu membuka matamu nanti, kamu akan mendapati Choi Siwon yang akan menjagamu setiap saat."

Kecupan hangat diterima kedua pipi Kibum, sebelum akhirnya sosok namja gagah menghilang di balik pintu kamar dengan gurat wajah lelahnya.

.

.

.

Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tangannya yang lain menggenggam erat gelas berisi espresso hangat. Kedua mata sayunya melempar pandangan tak tentu arah. Siwon menghela nafas berat berulangkali, mencoba menenangkan pikirannya. Rasa kantuk yang tadi menyergapnya langsung menguap ketika menemukan Kibum dalam keadaan selamat, meski terlihat sedikit depresi.

Siwon beranjak dari posisi duduknya, meletakkan gelas berisi espresso di atas meja dapur. Ia berniat memastikan suhu tubuh Kibum sudah normal. Terlalu lama merasakan udara malam tidak cukup baik untuk kesehatan. Mungkin Kibum akan terserang demam.

Ketukan langkah kaki jenjangnya yang menapaki setiap anak tangga terasa berat. Baru saja tangan Siwon terulur untuk membuka pintu kamar, telinganya langsung mendengar jerit rintihan Kibum. Nafasnya memburu. Tangannya mendorong kuat pintu kamar dan berjalan tegas menghampiri yeoja cantik yang menggeliat di atas ranjang dengan mata terpejam erat. Kedua tangan Kibum mencengkeram permukaan selimut, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri disertai dengan peluh yang membanjiri paras cantiknya.

Siwon naik ke atas ranjang, bergerak mendekati tubuh Kibum. Namja tampan itu langsung menyusupkan tubuhnya di bawah selimut yang sama dengan Kibum. Merapatkan tubuhnya pada Kibum. Lalu menariknya ke dalam dekapan hangatnya. Membisikkan rangkaian kata penenang sembari mengecup seluruh permukaan wajah cantik istrinya. Kedua tangannya memenjarakan tubuh mungil istrinya, mencoba membagi kehangatan meski terus ada gerakan penolakan dari Kibum yang terus meronta di tengah kondisi tidurnya.

Dengan mata masih terpejam erat, Kibum tanpa sadar telah memanggil nama 'Minho' berulangkali. Nama namja yang menyandang status sebagai kekasihnya. Siwon yang masih terjaga mendengar nama sialan itu menggaung di telinganya, ia hanya diam. Tidak berniat sedikitpun membungkam bibir merah Kibum menghentikan raungan nama kekasihnya. Siwon hanya pasrah dalam diamnya. Ia hanya bisa menyesali keterlambatannya menyadari rasa cintanya untuk Kibum. Ia sudah terlalu jauh membiarkan Kibum mencari tambatan hati lain.

Dalam kesunyian kamar mewahnya, Siwon diam-diam menggumamkan harapan hampa. Harapan jika pernikahan yang dulu dianggapnya sebagai sebuah permainan, akan menjadi sebuah awal kehidupan barunya bersama yeoja yang kini berada dalam dekapannya. Yeoja yang terlalu lama mendapat tekanan karena pernikahan palsu mereka.

" Kibummie, saranghae." Siwon mengecup pucuk kepala Kibum sembari terus mengusap lembut pipi mulus Kibum. Siwon mencoba turut memejamkan kedua belah kelopak matanya, membiarkan sinar matahari pagi yang menelusup masuk ke dalam kamar. Mungkin satu hari ini akan dilalui keduanya dengan berbaring di dalam satu ranjang. Setidaknya Kibum dan Siwon sama-sama lelah dengan kondisi fisik dan psikisnya.

.

.

.

Mata indahnya mengerjap berulangkali, mencoba membiasakan retina matanya dengan cahaya terang yang memenuhi seluruh ruangan. Kepalanya terasa sangat berat dan ia yakin matanya kini sudah bengkak akibat semalam ia menangis selama berjam-jam. Hanya saja, ia merasa aneh. Ia ingin beranjak turun dari ranjang yang dihuninya tapi ada suatu hal yang menahan gerakannya.

Kibum sedikit memperbaiki posisi tidurnya yang dirasa kurang nyaman. Hingga ia menyadari ada sebuah tangan asing yang melingkupi tubuhnya. Ia merasakan seluruh tubuhnya terkurung dalam kungkungan hangat yang belum pernah sekalipun ia rasakan sebelumnya. Kepalanya terdongak ke atas, melihat sosok Siwon sedang terlelap pulas di sampingnya. Helaan nafas teratur menerpa permukaan wajah cantiknya yang sedang menatap paras tampan Siwon.

" Hngghh ~~" Siwon bergumam tidak jelas sembari mengusap kelopak matanya. Bibirnya sedikit dimajukan dan mengubah posisi tidurnya. " Bummie," panggilnya pelan ketika menyadari sosok cantik Kibum sedang menatapnya dalam diam.

Siwon buru-buru memperbaiki posisinya yang masih mendekap erat Kibum. Ia takut jika Kibum menendangnya hingga terjungkir dari atas ranjang. Siwon sepenuhnya sadar yeoja berwajah bak puteri dalam dongeng itu anti berdekatan dengannya. Ia juga tau seberapa kuat tendangan kaki yeoja cantik itu jika sedang marah. Tapi, baru saja Siwon menarik tangannya yang menjadi bantalan kepala Kibum, yeoja itu malah melingkarkan tangannya melingkari perut Siwon. Kibum bahkan bergerak menyandarkan kepalanya di dada bidang Siwon, sambil terus mempererat lingkaran tangannya.

" Bum – Bummiee ~~" Tubuh kekarnya seketika kaku mendapati sikap aneh Kibum yang tidak seperti biasanya. Kedua tangan Siwon terkulai lemas di sisi kepalanya.

Tiba-tiba Siwon mendengar isakan lirih Kibum yang membenamkan wajahnya di dadanya. Tangan Kibum meremas pinggang Siwon, membuat bibir tipis sang namja mengeluarkan ringisan lirih. " Hikss ~ Kenapa Minho memilih yeoja lain daripada aku hikss ~~ ?" Kibum menghempaskan kepalan tangannya menghujam dada Siwon. Melampiaskan perih yang dirasakannya, saat matanya secara langsung bagaimana kekasihnya berciuman dengan yeoja lain. Kibum teramat terpukul. Di saat dirinya sudah mantap untuk memberikan jawaban yang dilontarkan Minho tempo hari, Kibum malah mendapati pengkhianatan dari sang kekasih. Apa ini semua sebagai balasan dari Sang Pencipta pada Kibum karena mempermainkan ikatan pernikahannya dengan Siwon ?

Siwon hanya diam membisu, ia tidak berusaha menghentikan isakan Kibum. Tidak pula menghentikan hujaman kepalan tangan Kibum yang terus dirasakannya. Siwon tau, rasa sakit yang dialami yeoja yang berbaring di dadanya teramat dalam. Siwon membiarkan dadanya terasa sesak, toh rasa sakit yang dirasakannya tidak sebanding dengan Kibum.

" Minho mencium yeoja lain di depan wajahku." Tangan Siwon bergerak mengusap kepala Kibum perlahan lalu menekannya untuk semakin tenggelam di pelukannya.

" Padahal aku sudah membuat keputusan." Kembali Siwon mengelus kepala Kibum, ia hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Kibum.

" Aku akan menerima lamaran Minho. Dan aku akan bercerai denganmu." Siwon menghentikan usapannya dan menggeram kesal. Sebesar itukah rasa cinta Kibum pada Jung Minho sampai memiliki niatan untuk mengakhiri pernikahan mereka ? Tidak adakah sedikitpun keinginan dalam diri Kibum untuk benar-benar mengawali suatu hubungan dengannya ?

Namja tampan itu bangun dari posisi berbaringnya hingga membuat tubuh mungil Kibum terhempas jatuh di atas ranjang. Dalam hitungan detik, kedua lengan Siwon jatuh di sisi Kibum. Memerangkap tubuh yeoja itu di bawah kurungan tubuh besarnya. " Aku tidak akan menceraikanmu, Choi Kibum !" Siwon menatap tajam wajah cantik Kibum yang sedang memasang raut wajah kebingungan. Siwon sengaja menekankan ucapannya saat menyebut nama marga ' Choi '. Ia ingin tau jika Kibum tidak akan pernah melepaskan gelar nama Choi di depan namanya.

Setelahnya, Siwon melesat cepat turun dari ranjang dan secepat mungkin menenangkan dirinya. Ia juga harus memberikan sedikit waktu bagi Kibum untuk beristirahat serta memikirkan kembali ucapannya tadi.

Setidaknya Siwon harus mencoba kembali berbicara dengan Kibum mengenai status hubungan mereka untuk ke depannya.

.

.

.

Sepiring bubur serta segelas susu yang tersaji di atas meja makan sudah tidak mengepulkan uap lagi. Padahal Siwon bersusah payah membuatnya dengan kedua tangannya sendiri tapi Kibum tidak sedikitpun menyentuhnya. Selama beberapa hari ini asupan makanan yang masuk ke dalam lambung Kibum sudah tidak teratur. Kadang makanan yang disajikan Siwon tidak dilirik sama sekali. Kalaupun Kibum menyentuhnya, makanan yang tersaji pasti akan tersisa banyak. Selebihnya, Kibum banyak mengisi lambungnya dengan air putih. Atau sepanjang hari dihabiskan dengan bergelung di dalam selimut. Tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya yang pucat.

Siwon menggeleng lemas dengan usahanya yang sengaja belajar memasak dari resep yang ia temukan di internet. Bagaimanapun juga Kibum harus mengisi perutnya agar kondisinya tidak drop. Namja dengan balutan apron yang menghiasi tubuh kekarnya, berjalan mendekati Kibum yang terduduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Tangannya terulur mengusap pipi Kibum yang masih terlihat chubby, sebelum akhirnya Siwon berlutut di samping Kibum.

" Aku mohon, kamu harus mengisi perutmu. Aku tidak ingin kamu sakit, Bummie," bujuk Siwon dengan nada memohon.

" Aku akan tetap berlutut seperti ini sampai kamu mau memakan bubur itu. Setidaknya beberapa suap bubur harus masuk ke dalam perutmu. Aku mohon, Bummie."

Siwon bersikeras dengan keinginannya. Ia harus membuat beberapa sendok bubur berpindah ke dalam mulut Kibum, apapun caranya. Siwon juga sengaja menyiapkan beberapa butir vitamin yang sengaja diberikan oleh dokter pribadi keluarga Choi. Bagaimanapun juga kondisi Kibum yang terus menurun, tidak diimbangi dengan asupan makanan yang mengisi perutnya.

" Choi Kibum." Siwon kembali memohon, kali ini dengan menggumamkan nama yang seharusnya disandang oleh Kibum sejak lama.

Namja tampan itu menundukkan wajahnya – masih dengan posisi berlutut – sambil meremas kecil ujung apron yang dikenakannya.

Beberapa menit berlalu, telinga Siwon mendengar bunyi alat makan yang bersapaan dengan piring yang menyajikan bubur. Seketika Siwon mendongakkan wajahnya dan melihat sang yeoja tengah menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. Siwon tersenyum lega, setidaknya Kibum masih mau menjaga kesehatannya untuk dirinya sendiri.

Hanya beberapa sendok bubur yang mengisi perut Kibum. Dan itu dianggap tidak cukup oleh Siwon. Segera sebelum sang yeoja cantik meninggalkan kursinya, Siwon bergerak mengulurkan piring kecil yang berisi beberapa butir vitamin yang sengaja ia siapkan. Tak lupa segelas air putih sudah disodorkan di depan wajah Kibum.

Terdengar helaan nafas berat dari Kibum melihat tingkah menyebalkan Siwon yang terlalu mengatur hidupnya.

Tanpa disadarinya, sejak beberapa hari ini Siwon selalu berada di sisinya. Menemaninya dan memperhatikan setiap saat. Padahal setelah kejadian di café itu, Kibum lebih banyak mengurung diri di dalam kamar tanpa memerdulikan Siwon yang terus mengetuk pintu kamarnya. Kibum terus merutuki nasibnya yang tidak seberuntung yeoja lain. Ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Dan Kibum juga harus merasakan rasanya dikhianati kekasih di depan matanya sendiri.

" Bummie, kamu harus makan vitamin ini." Siwon membuyarkan lamunan istrinya lalu menyodorkan vitamin serta segelas air putih mendekat ke arah wajah Kibum.

Terdengar helaan nafas berat yang disuarakan Kibum melihat tingkah namja tampan yang kini semakin mencurahkan perhatian padanya. Kibum meraup beberapa bulir vitamin dalam genggaman tangannya lalu menenggaknya dengan bantuan air putih yang disodorkan Siwon.

Kibum dengan cepat beranjak meninggalkan kursinya dan kembali berjalan lunglai menuju kamarnya. Ia kembali dengan rutinitas hariannya, mengurung diri di dalam kamar. Biasanya kegiatan ini Kibum lakukan sampai hari beranjak malam.

.

.

.

Hari sudah beranjak malam. Cuaca semakin menusuk kulit manusia yang berlalu lalang menembus dinginnya malam. Namun cuaca yang menusuk tidak membuat Minho bergeming dari tempatnya berdiri sekarang. Sudah 2 jam ia berdiri di depan gerbang rumah Kibum untuk menunggu malaikatnya datang menemuinya. Dan juga ia harus menjelaskan kesalahan yang terjadi antara dirinya dan Taemin saat berada di café. Minho sudah berulangkali mengirimkan pesan singkat atau menghubungi Kibum, tapi semua niatannya tidak mendapatkan balasan dari Kibum. Bahkan buket bunga yang dikirimkannya sejak beberapa hari yang lalu, kini teronggok di depan gerbang.

Miris. Satu kata itulah yang dirasakan Minho ketika merasakan kehilangan sosok kekasihnya. Ia sudah ketergantungan dengan kehadiran Kibum di sisinya. Bukan lagi Taemin. Baginya, Taemin adalah masa lalunya dan Kibum adalah masa depannya. Tapi perih yang disimpannya seorang diri dan menyembunyikannya dari Kibum, kini malah menjadi boomerang untuk hubungannya dengan Kibum. Seharusnya sejak awal, ia jujur pada Kibum. Seharusnya, sejak awal pula Minho mengajak Kibum untuk menikah agar kejadian yang tidak ia inginkan bisa dihindari. Semuanya sia-sia. Sudah terlambat untuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Yang Minho bisa lakukan adalah memberikan penjelasan pada Kibum.

Malam itu Minho memang mencium Taemin. Hal itu dilakukannya agar mantan kekasihnya itu menyerahkan smartphone miliknya. Minho sudah teramat tau bagaimana watak asli Taemin. Yeoja itu tidak akan memberikan smartphone milik Minho jika keinginannya tidak dipenuhi. Tidak ada salahnya bagi Minho memberikan ciuman pada Taemin, karena sang chef berpikir ciuman yang diberikannya sebagai tanda perpisahan. Tanpa disangka, kebaikan yang diulurkannya malah dimanfaatkan Taemin untuk menyesap bibirnya. Hingga terjadilah ciuman panas yang kala itu disaksikan langsung oleh Kibum.

Kaki jenjangnya yang dibalut sepatu kulit sebatas mata kaki terus mengetuk permukaan tanah. Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku celananya, berusaha menghalau hawa dingin yang menusuk di seluruh sisi tubuhnya. Minho bersikeras akan tetap berdiri di depan gerbang sampai Kibum mau menemuinya. Tidak ia pedulikan kondisi kesehatannya. Yang menjadi tujuan utamanya adalah memberikan penjelasan agar Kibum tidak salah paham. Dan lagi, pasti yeoja pemikat hatinya itu tengah menahan perih akibat perbuatannya dengan Taemin.

" Kibum tidak akan mau keluar. Sebaiknya kamu pergi." Siwon yang sejak tadi mengamati Minho dari dalam rumah akhirnya memilih keluar. Toh, ia sudah mencoba berbicara pada Kibum untuk menemui Minho tapi tidak ada jawaban. Kibum malah semakin merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya.

" Aku ingin berbicara pada Kibum, hyung." Minho berjalan mendekat pada gerbang yang menjadi sekat antara dirinya dan Siwon.

" Kibum sudah cukup tersiksa melihat kejadian malam itu. Jauhi Kibum," saran Siwon sebelum membalikkan tubuhnya lalu berjalan memasuki rumahnya.

Minho menuruti ucapan Siwon. Untuk malam ini sebaiknya Minho memberikan sedikit kelonggaran waktu bagi Kibum untuk menenangkan diri. Mungkin esok hari Minho bisa mencoba bertemu dengan Kibum saat kondisi hatinya berangsur pulih.

Chef tampan itu memasuki mobilnya dan meninggalkan harapan pada penghuni rumah megah itu.

Sementara Siwon yang sudah memasuki rumah, dikagetkan dengan sosok Kibum yang berdiri di balik tirai jendela dengan derai air mata yang membasahi pipinya. Siwon berlari menghampiri Kibum dan meraih tubuh bergetar itu ke dalam dekapannya.

" Wae ? Apa aku salah mengusir Minho, hmm ?" Tangannya menepuk pipi Kibum pelan sembari memperhatikan paras cantik istrinya dari dekat. Siwon baru menyadari jika Kibum memiliki bibir semerah darah yang membuat wajah putih bak bola salju miliknya semakin elok. Dan alangkah indahnya jika bibir merah itu melengkungan senyuman untuknya. Senyuman yang sukses membuat banyak namja bertekuk lutut dihadapan Kibum.

Kibum terisak lirih dalam dekapan Siwon. Kepalanya menggeleng pelan menandakan apa yang dilakukan Siwon memang benar. Kibum memang tidak ingin bertemu dengan Minho. Melihat wajah Jung Minho saja sudah membuat luka yang dirasanya semakin perih.

" Sebaiknya kamu tidur, Bummie." Siwon bergerak menuntun tubuh istrinya menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai 2. Memapah tubuh ringkih istrinya memasuki kamarnya.

.

.

.

Usapan tangannya pada surai kecoklatan Kibum tidak pernah berhenti sejak semalam. Ya, semalam suntuk Siwon terus berada di samping Kibum. Karena saat Kibum memejamkan matanya, bibir merah Kibum tidak pernah berhenti merancau. Hingga akhirnya Siwon membangunkan istrinya dari alam bawah sadarnya.

Dan akhirnya, Kibum dan Siwon sama-sama terjaga hingga pagi menjelang dengan kondisi saling berdiam diri. Setelah beberapa kali bujukan, akhirnya Kibum mau memejamkan matanya sejenak. Siwon mendekap erat tubuh mungil Kibum sembari menyandarkan diri di sofa kamar.

Namja tampan itu juga turut memejamkan mata lelahnya bersamaan dengan Kibum. Ia juga lelah terus mengkondisikan tubuhnya siaga setiap saat hanya untuk Kibum.

BRAKKK

Kelopak mata Siwon terbuka saat mendengar suara gaduh yang berasal dari lantai bawah. Perlahan, Siwon menarik tubuhnya menjauh dari Kibum.

Ia tidak mau membangunkan Kibum yang belum genap satu jam memejamkan matanya.

Setelah berhasil membaringkan Kibum di atas ranjang, Siwon bergegas turun ke lantai bawah. Ia takut ada pencuri yang memasuki rumahnya. Bahkan ia lupa tidak mengunci pintu rumahnya sejak semalam.

" H – hyung." Siwon keheranan melihat Yunho dan Jaejoong sudah berdiri di ruang tamu rumahnya dengan wajah tegang. Apa mungkin ada berita buruk yang sebentar lagi akan didengarnya ?

Siwon kembali berjalan turun menapaki anak tangga untuk menghampiri sepasang suami-istri yang tidak menyahut pertanyaannya.

" Noona, wae ?" Kini Siwon seolah meminta jawaban dari Jaejoong.

PLAKKK

Satu tamparan keras diterima Siwon sebagai jawaban yang dimintanya. Pipinya berdenyut perih merasakan tamparan yang ia terima dari Jaejoong.

" DEMI TUHAN, Siwonnie. Kenapa kamu bisa gila memainkan pernikahan ini, HAH ?"

.

.

.

_TBC_

HAIIII …. Ada yang nunggu chapter ini ? Hmm… Tidak ada kan ? Jadi next chapter akan lebih lama updatenya xixi….

Maunya ngetik lebih panjang tapi udah dimarahin sama Siwon. Soalnya dia terus-terusan begadang jagain Kibum. Katanya si papa mau istirahat sejenak hehe… *ngarang bebas*

Follow me :: dee_snowyworld

Mind to leave ur REVIEW

or

Always to be SiDers , huh ?