Matahari telah bersinar dengan terang, para burung juga sudah bercicit indah, dipinggir jalan telah ramai dengan orang yang berlalu lalang, beberapa toko juga sudah membuka tirai depannya.

Hari masih berjalan dengan normal, biasa, tak ada yang berbeda dengan hari sebelumnya.

Tetapi, ada satu kejanggalan disalah satu ruang inap rumah sakit yang berada di Tokyo –lebih tepatnya ruang inap para istri kisedai.

Suasana tak seceria biasanya –kali ini tampak suram dan mencekam, padahal si buah hati barusan lahir.

Ada apa dengan mereka?

Bagaimana jika kita melihat lebih dalam apa yang terjadi disini, kita lihat apa yang menyebabkan suasana dalam ruangan itu menjadi suram dan mencekam.

Tetapi sebelum it–

"Tes..Tes..-nodayo" Si hijau sedang sibuk dengan sebuah toa ditangannya.

"Oi. Kalo mau nge-tes toa ga perlu pakai nodayo..Hoaaamm" Si dim menguap dengan sedikit air mata yang menggenang disudut matanya.

"Urusai-nanodayo."

"Midorima, cepat lakukan, aku lelah!" Si merah beralis cabang sedang memegang senter dan diangkat tinggi-tinggi guna untuk dijadikan lampu sorot layaknya dipanggung pementasan drama.

"Sabar-nodayo!"

"Midorimacchi, cepetan-ssu! Keburu lebaran kucing." Si kuning duduk dikursi yang terbuat dari bahan dasar plastik itu ikutan membuka suara.

"Lebaran masih lama-nodayo, lagian juga tidak ada lebaran kucing. Iyuh."

"Shintarou, kau lama sekali. Cepat selesaikan." Si merah yang diakui telah mengidap ke-absolute-an stadium akhir tersebut membuka mulutnya, ia telah lelah dan malu karena diminta untuk berpose seperti patung sedang menahan kencing disudut panggung-drama-jadi-jadian itu.

Jika si merah-absolute telah bersuara, maka itu artinya ia sudah tidak bisa dibantah lagi dan tidak ada perpanjangan waktu.

"Krauuss…. Munch.. Munch.." Si ungu sibuk makan snack yang ia bawa kesana-kesini.

"Murasakibara, makananmu tercecer dipanggung-nodayo!"

Si ungu tak menghiraukannya, ia sibuk dengan snack-nya.

Sebenarnya ini ada apa, sih, kisedai sedang apa?

CLAP. "Siap? Mulai. Eksien." Kata pemuda berambut raven sedikit berteriak sembari menepuk tangannya sekali, dia –diceritanya– sebagai sutradara telah memberi aba-aba bahwa pertunjukan telah dimulai.

Midorima –si hijau– berdeham pelan, "Suatu hari, saat matahari baru saja menampakan dirinya diufuk barat–"

"TIMUR-SSU!" Kise –Si kuning– membetulkan.

"Maaf. Kita bisa ulangi-nodayo?"

"Cepat lakukan, aku mengantuk." Aomine –si dim– menguap untuk kesekian kalinya.

Midorima menarik nafasnya, "Suatu hari, saat matahari baru saja menampakan dirinya diufuk timur, menandakan hari telah sore–"

"PAGI OI!" Kagami –si merah beralis cabang– membenarkan lagi.

Midorima menghela nafas, "Jangan terlalu nervous, Shintarou." Akashi –si merah mengidap absolute– telah lelah dengan kesalahan temannya (read: budak) yang sudah dua kali.

"Mido-chin, didepanmu hanya ada Shota-chin, Ueta-chin, Zurou-chin, Shirou-chin, R–"

"HUAA SETOP! Spoiler detected." Author lompat keluar dari dalam guci ajaib.

"Oke, dorama panggung picisan-absurd ini tidak bisa dilanjutkan, dikarenakan Murasakibara –titan ungu– hendak spoiler. Saya sebagai author minta maaf karena ada yang mengganggu diawal cerita, mohon untuh dihiraukan saja." Author membungkukkan badan.

"Hoo, kau berani menghiraukanku, ya?" Akashi langsung menebar gunting.

Semuanya mati.

Sama seperti kemarin, berakhir tragis.

.

.

.

Ignore.

.


Problems

Pair

"AkaFuri! MidoTaka! AoKise! MuraHimu! KagaKuro!"

Disclaimer

"Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei and story belongs to Kiriko Saki"

Genre

Romance, Humor, Parody

Warning

Typo(s), Shonen-ai content, MPreg, OOC, Humor FAILED.

DLDR

.

.


.

Suasana begitu mencekam disini, mereka semua saling berhadapan dengan sang pendamping hidup masing-masing, menatapnya dengan tatapan dengki dan tak suka.

Si chihuahua berhadapan dengan sang singa, tidak seperti dulu saat Winter Cup, kali ini si chihuahua berani menatap mata sang singa dengan tajam. Sang singa menatapnya dengan mata dwiwarnanya dan gunting merah berada ditangan kanannya.

Disebelah mereka, terdapat si elang bin jahil berhadapan dengan si katak hijau bin maniak oha-asa, mereka juga bertatapan dengan tajam, sesekali si elang bergumam meremehkan sang lawan.

Tak berbeda jauh dengan mereka berempat, si kuning berisik berhadapan dengan si dim pemalas, saling melempar tatapan tak suka, sesekali si dim mendecih malas.

Kutanya malam,

Dapatkah kau lihatnya perbedaan

Yang tak terungkap

Tapi mengapa kau tak berubah

Ada apa dengamu~

Mereka semua menghiraukan lagu yang tiba-tiba terdengar.

"Sei! Pokoknya aku duluan!" kata si chihuahua dengan intonasi yang sedikit ditinggikan.

"Kouki, jika aku bilang 'aku dulu' itu berarti aku yang pertama, itu tidak dapat diganggu gugat lagi, aku mutlak."

"Tidak bisa, Sei!"

"Kouki, aku tidak menerima bantahan."

"Sei, aku yang pertama kali bilang 'aku duluan' berarti aku yang pertama, bukan kau, aku lebih mutlak darimu."

Akashi menyeringai disertai aura membunuh dibelakangnya, "Tapi maaf saja, ya, aku tidak bisa dibantah, aku selalu benar dan aku lebih lebih mutlak darimu"

"Aku juga tidak mau dibantah." Kouki membuang mukanya dengan acuh.

Akashi menarik dagu Kouki agar ia mau bertatap mata dengannya, "Terlalu cepat 10 tahun bagimu untuk menantangku dalam hal kemutlakan, bagaimanapun juga aku ini terlahir dengan kemutlakkan."

Kouki menatap suaminya dengan tak suka.

Sial.

.

"Kazunari, itu milikku!"

"Tidak, itu milikku Shin-chan!"

"Kau mencurinya dariku-nodayo!"

Kazunari –si elang– menangkat sebelah alisnya tak suka, "Mencuri? Haha, jangan bercanda deh, kau yang mencurinya dariku, Shin-chan."

Midorima tersenyum meremehkan lalu membenarkan letak kacamatanya, "Kau yang bercanda-nanodayo. Dari awal itu sudah milikku."

"Tsk," Kazunari menatap remeh, "Milikmu? Mana ada, Shin-chan, yang ada itu adalah milikku, hak kepemilikkan ada diaku."

"Kazunari jangan bodoh, kau mengarang tentang hak kepemilikan-nanodayo."

"Tidak mengarang, ini fakta."

"Kalau faktanya, itu adalah milikku-nodayo."

"Jangan mimpi deh."

Midorima geram dengan manusia bersurai raven didepannya, "Kau yang mimpi-nanodayo."

"Cih, berisik tsundere."

.

"Daikicchi, ini saja-ssu!" si kuning menunjuk sesuatu.

Si dim melirik yang ditunjuk oleh istrinya, "Tidak. Itu jelek, bagus ini."

"Itu lebih jelek-ssu!"

"Jelekan punyamu Ryouta." Aomine –si dim– menunjuk sesuatu yang tadi sempat ditunjuk oleh istrinya.

"Punyaku lebih baik darimu, Daikicchi!" Ryouta tak mau kalah.

Aomine menghela nafasnya dengan bosan, "Ah, tidak bisa, ini saja. Bagus ini."

Ryouta menautkan alisnya, "Jangan diputusin sepihak-ssu."

"Tetapi aku punya insting, ini lebih baik dari pada itu, Ryouta."

Ryouta mendengus kesal, "Insting kadang salah-ssu. Daikicchi, jangan terlalu percaya dengan insting dong."

"Hatiku juga berkata bahwa ini lebih bagus."

"Hatimu suram-ssu."

Aomine menatap istrinya dengan malas bercampur kesal, "Oi, apa kau sadar, selama ini kau juga selalu memutuskan semuanya secara sepihak"

Ryouta sedikit terkejut, "Salah sendiri tidak menyangkalku-ssu." Kata Ryouta acuh.

Temee..

Aomine sudah sangat begitu kesal sekali (pemborosan kata detected)

.

Disisi lain pada ruangan itu terdapat dua manusia berbeda warna –ungu dan merah tua –telah speechless.

"Oi, apa yang terjadi disini, aku merasa seperti akan terjadi perang dunia" kata si merah tua –Kagami Taiga.

"Hnn, mereka semua mengeluarkan hawa mengerikan" balas si ungu –Murasakibara Atsushi– sembari melirik mereka satu per satu.

Saking mencekamnya, Murasakibara tak kuat memakan kripik kentangnya.

Kagami melihat mereka dengan tatapan ngeri-takut, mereka kesambet apaan, sih?

"Oi, Murasakibara.." bisik Kagami sedikit mendekat ke titan ungu yang sedang sibuk berpikir makan-kripiknya-ga-ya.

".." tak ada jawaban darinya.

Kagami menyenggol lengan Murasakibara, "Apa?"

"Kau melihat mereka tidak–"

"Lihatlah, masa tidak lihat, mereka besar-besar gitu"

TUK

"Aku belum selesai bicara, baka! Lagian yang besar itu kau, ukuran mereka standar." Kagami menjitak kepala titan ungu itu.

Murasakibara hanya cemberut sambil mengusap kepalanya yang tadi dijitak oleh sialis cabang.

"Mereka memperdebatkan sesuatu yang tak penting" bisik Kagami.

"Iya, Mine-chin sama Kise-chin debat tentang warna selimut yang mau dipakai sama Shota-chin,"

"Ryouta, warna ini sajalah, bagus ini." Aomine menunjuk selimut berwarna gelap seperti kulitnya yang dim itu –coklat tua.

"Jelek-ssu. Gelap banget, nanti Shotacchi kepanasan, bagus ini." Ryouta menunjuk selimut berwarna kuning agak keemasan dan ada sedikit gradasi warna merah.

Aomine menatap selimut yang ditunjuk Ryouta dengan tatapan malas, "Ih, jelek. Itu selimut mirip sama matanya Akashi-tukang suruh sebelum dikalahkan sama Tetsu, jelek ah jelek."

WUSS..(?)

Sebuah gunting warna merah lewat depan jidatnya, hampir kena jidat dim Aomine.

"Maaf, Daiki, guntingku terpeleset sampai sana." Ucap si pemilik gunting merah tersebut tanpa menoleh kekorban sedikitpun, ia masih beradu mata dengan lawannya.

"OI, AKASHI, KALAU KEPLESET GA SAMPAI SINI JUGA KILIS!" Aomine mencak-mencak.

Akashi tak menghiraukannya.

"Sudahlah, Daikicchi. Ini saja ya, ini warnanya agak kuning gitu, kaya aku-ssu."

"Tidak mau, ini saja."

Ryouta pout. Nyebelin juga makhluk dim ini..

"Terus, Aka-chin sama Kou-chin debat tentang siapa dulu yang mainan sama Ueta-chin," lanjut Murasakibara.

"Sei, aku dulu saja ya"

"Tidak, Kouki, aku mau main dengan Ueta-chan duluan."

Kouki mengerutkan dahinya, "Tapi aku juga mau duluan!"

"Kouki–"

"Sei, aku dulu saja, Sei ngurusin laporan-yang-bikin-mata-kena-maag itu dulu aja."

Akashi menghela nafasnya sebentar, "Aku bermain dengan Ueta-chan, kau yang mengerjakan laporanku, aku sedang lelah berhadapan dengan huruf dan angka."

"Tidak mau ah, laporannya ngeri, baru baca satu kalimat awalnya aja udah bikin mata kena maag dadakan gitu." Kouki melipat tangannya didada.

"Mata tidak bisa kena maag, sayangku.."

"Yang nyuruh betulin kalimatku siapa? Jangan sok pinter deh, Sei." Kouki menatap Akashi dengan tatapan meremehkan.

Suamimu memang pinter banget sampai ga ketulungan, Furihata!, batin Kagami.

".." Murasakibara tak kuat melihat kegiatan berantemnya kedua keluarga baru itu sampai-sampai ia tak bisa melanjutkan kalimat bersambungnya tadi.

Kagami yang tau Murasakibara telah lelah, maka mau tak mau ia harus yang melanjutkan kalimat bersambung si titan ungu.

"Midorima dan Takao yang dari tadi..–"

Kagami melihat pasangan hitau-hitam dan seketika sweatdrop besar-besaran (?).

"–sedari tadi mereka memperebutkan…nasi uduk sisa tadi malam."

"Nasi itu punyaku-nodayo!"

Kazunari mendecih, "Jangan suka ngerebut milik orang, Shin-chan."

"Aku tidak merebutnya, kau yang merebutnya, Kazunari."

"Kau! Nasi uduk itu milikku ih!"

Midorima menaikkan kacamatanya, "Kazunari, kau jangan suka mengakui nasi uduk orang lain menjadi nasi udukmu-nanodayo."

Kazunari memincingkan matanya, "Bukannya yang suka 'mengakui nasi uduk orang lain menjadi nasi udukmu' itu kau ya, Shin-chan?"

"Cih," Midorima tersenyum miring, "Jangan suka memutar fakta. Itu kau, bukan aku ya."

"Mana ada, itu kau, Shin-chan."

"Kau-nanodayo."

"Kau!"

Kagami pusing melihat mereka semua, semoga anaknya besok tidak absurd seperti mereka juga, maapin mereka ya Kami-sama, doa Kagami ala Baim.

Murasakibara membuka kripik kentangnya lalu ditaburin di luar jendela ala naburin bunga dimakam,

"Aku lelah Kami-sama, punya temen absurd semua–"

Kau juga absurd, baka!, batin Kagami nangis.

"Baby-chin ga lahir-lahir–"

Aku juga oi!, batin Kagami nangis kuadrat.

"Dan aku lelah karena terlalu tampan, Kami-sama aku lelah batin!"

GUA JUGA UDAH LELAH BATIN JIWA RAGA DENGER LU KAYA GINI, ELAH.., batin AkaFuriAoKiMidoTakaKaga berjamaah.

Efek dari keseringan kumpul sama anak kisedai, Murasakibara jadi OOC seperti tadi.

"WUUUSSS! Trenetnetnetnot! Elsih projen lagi terbang ulala~"

"DUNGTAKDANGBAS! Supermin lagi pesen tiket pesawat buat mudik lebaran, tapi tidak jadi, karena harga tiket mahal semua~"

Semua yang ada disana, tanpa terkecuali, sweatdrop.

Suara absurd muncul tiba-tiba dan tidak diketahui sumbernya ada dimana, mereka yang lagi berantem jadi ter-pause-kan. (bahasa aneh detected)

Sejak kapan Supermin naik pesawat ya? Perasaan dia bisa terbang, batin Akashi berpikir.

Elsih projen bisa terbang whoa.., batin Aomine.

Mereka semua yang ada disana tengok kanan kiri mencari si sumber suara dan ternyata oh ternyata mereka ada ditengah-tengah mereka semua, tak ada yang menyadarinya karena dua makhluk yang bersuara dan bermain robot Supermin plus boneka elsih projen tersebut pakai misdirection.

"Tat-chin jadi ketularan Kuro-chin, bisa pakai misdirection segala."

Bukan hanya robot supermin dan boneka elsih saja, mereka juga membawa, boneka anabel hijab serta robot transformer pakai gaun.

Melihat boneka dan robot yang TetsuTatsu bawa mengakibatkan AkaFuriAoKiMidoTakaKagaMura sweatdrop, speechless, jawdrop, sakit mata, mata pening, perih, kepala pening, dan sakit dan kutu dan sweatdrop dan sakit dan kutu, rasanya ngefeel sekali, nano-nano.

"Eh, itu anabel-nya suruh ganti baju dulu, sudah berabad-abad tidak ganti" Tetsuya menyerahkan gaun warna pelangi yang panjangnya satu meter, padahal panjang bonekanya cuma 30cm.

Tatsuya mengangguk, "Hayo, para suami, tutup mata kalian, ana-chin mau ganti baju dulu" katanya.

Ana..-chin?, Murasakibara langsung gigitin tembok.

Ga ada yang mau liat turunannya jenglot ganti baju!, batin Aomine.

Tatsuya dengan telaten mengganti baju anabel layaknya mengganti baju anaknya sendiri.

"Semoga anakkku besok tidak seperti ana-chin, semoga, semoga,semoga, kumohon Kami-sama, jauhkan boneka itu dari Tat-chin, Kami-sama.." Murasakibara komat-kamit sambil bakar sesajen –keripik kentang– dibakar satu per satu.

"Atsushi, lihatnya, ana-chin pakai baju ini cantik ya?" Tatsuya menunjukkan hasil karyanya.

Murasakibara melotot, "Aduh aku liat jenglot, Kami-sama, Kami-sama, Kami-sama, Kami-sama." Ia semakin komat-kamit seperti mbah dukun yang sedang mengobati pasiennya lalu menyebur segelas koka-kola ke sesajennya yang kini telah ia bakar sebungkus-bungkusnya.

"Dia nampak sangat cantik, Tatsuya-kun"

Kagami ikut bakar sesajen, ia membakar selimut warna coklat yang sedang dipegang Aomine.

"OI! ITU SELIMUTNYA SHOTA!"

"amberegul emesiyu amberegul amberegul emesiyu emesiyu farewei farewei, ciao belah, belah duren~" Kagami komat-kamit.

Tatsuya dan Tetsuya mengacuhkan ritual mbah dukun para suami dipojokan, mereka sibuk bermain.

"Elsih makan selasih dulu, aaa~" Tetsuya menyuapi boneka itu dengan selasih.

"Mungkin megateron dan opitimus mau makan juga, tapi mereka makan apa ya?" Tatusya berpikir.

"Oli–" Kalimat Akashi terpotong oleh Tetsuya dengan tampannya, "Makan selasih campur sayur opor kali, Tatsuya-kun."

"Mereka semakin gila, semakin gila, semakin gila, semakin gila" Kagami dan Murasakibara komat-kamit sambil tebar sesajen kemana-mana.

"Oi, jangan mengotori kamar-nanodayo!"

Alih-alih mendengarkan teguran dari dokter tsundere itu, mereka berdua malah semakin menjadi-jadi.

"Kami-sama melindungimu.." Murasakibara dan Kagami melemparkan sedikit sesajen kemuka Midorima.

"Kami-sama melindungimu.." Mereka melemparkan sedikit–agak–banyak kemuka Aomine.

"Kami-sama me–" tatapan tajam dari Akashi dan gunting laknatnya yang membuat nyali Kagami dan Murasakibara menciut.

Kagami dan Murasakibara melanjutkan acara komat-kamit ala mbah dukun ngobatin pasiennya dipojokan.

"Sei, mereka makin hari makin absurd aja ya, mungkin mereka saking capeknya nunggu anaknya lahir," bisik Kouki sambil menarik Akashi mendekat.

Akashi mengangguk.

"Kalian membicarakan kita berdua?" Tetsuya melirik tajam pasangan merah-coklat.

"Kalian tak tau tak akibatnya jika membicarakan kita berdua dibelakang?"

Kita disamping kalian, bukan dibelakang kaliaann!, jerit Kouki dalam hati.

Tatsuya dan Tetsuya mengeluarkan cambuk dari tas mereka.

"Sini kakak pecut.." kata Tatsuya sambil tersenyum nista.

"Kalian harus teriak 'pecut akuh pecutt' lalu kalian berdua akan kami ikat ikat dengan jurus tali menali dipramuka dulu, Akashi-kun, Kouki-kun"

Kita harus maso gitu?!, jerit AkaFuri bersamaan.

Oi, kenapa jadi menjerumus ke bedeesem begini-nodayo, Midorima melihat mereka ngeri.

Melihat TetsuTatsu yang berjalan mendekat, Akashi sedikit ketakutan, ya walaupun ia membawa gunting saktinya tetapi tetap saja Akashi tak akan tega melukai dua orang yang sedang hamil besar begini.

"Te-Tetsuya.. Tat-Tatsuya-san, berhentilah.." Kouki sembunyi dibalik Akashi.

"Sei, kalahkan mereka berdua dengan jurus kage bunshin no jutsu-mu itu.." bisik Kouki dengan kaki yang bergetar dan tangan yang memegang baju Akashi erat-erat.

"Mana bisa? Itu bukan jurusku dan itu berasal dari anime sebelah, aku cuma bisa jurus.." Akashi menarik nafas.

".." Kouki menunggu kelanjutannya.

"Jurus… hayaku no lari, ayo naik dipunggungku, cepat!"

Kouki segera loncat ke punggungnya, lalu Akashi segera masuk zone dan segeralah mereka berdua ngacir keluar.

Berhubung Akashi itu memiliki WiFi Zone, maka Zone pun menyebar kemana-mana, Midorima masuk zone lalu menggendong Kazunari pergi keluar, Aomine masuk zone langsung ngacir keluar.

"Aku ditinggal Daikicchi! Hidoi-ssu!" Ryouta langsung pakai perfect copy dan segera meniru lari Aomine.

Tertinggallah mereka berempat. Karena sibuk komat-kamit, Murasakibara dan Kagami tidak bisa masuk zone seperti yang lain.

"Yah, mereka gitu.." Tatsuya memanyunkan bibirnya.

"Aku mah apa atuh.." Tetsuya sedih ditinggal teman-temannya.

Melihat Kagami dan Murasakibara yang sibuk sembur-semburan koka-kola dipojokan, mereka jadi eneg seketika.

"Kalian menjijikan. Hentikan, Taiga-kun, Murasakibara-kun."

"Iya, Atsushi, sudah."

Akhirnya acara komat-kamit pun selesai.

KRIK

KRIK

"Kalian berdua..–" Kagami membuka suara.

"–kenapa jadi gila bin absurd bin stress bin aneh bin ubin sih, aku sama Kaga-chin takut loh"

TetsuTatsu hanya nyengir, "Maafkan kami, kami hanya bercanda tadi." Ucap mereka bersamaan.

"Kaga-chin, kirim email ke mereka semua buruan, suruh balik kesini lagi, kasian dedek bayi ditinggal sembarangan gini, aku mau makan dulu."

".." Huh?Apa tadi dia bilang?

Ditinggal sembarang?

"Makan, makan~"

Dikira barang kali ditinggal sembarangan..

Kagami meraih ponselnya lalu mengirim email ke AoKiMidoTakaAkaFuri, menyuruh mereka kembali dan bilang TetsuTatsu telah jinak kembali.


2 jam berlalu,


Entah mereka lari sampai mana, yang pasti mereka sangat lama dalam kembali kekamar.

BRAK

Pintu dibuka kasar oleh Aomine dengan Ryouta dalam gendongannya, "Hah, lelahnya.."

Lalu disusul pasangan MidoTaka dan AkaFuri.

"Kalian semua lari sampai mana sih? Lama amat baliknya"

"Sampai kecamatan sebelah" jawab Kouki.

Kagami jawdrop.

"At..Atsushi..Akh!"

Murasakibara yang baru saja mau mengambil poki-nya tiba-tiba terhenti lalu menoleh ke Tatsuya.

"Tat-chin kenapa?" Murasakibara mendekat, "Tat-chin mau poki juga?"

"BAKA! Dia mau melahirkan, Murasakibara!" Aomine menjitak kepala Murasakibara.

"Tatsuya-kun bertahanlah, Murasakibara-kun cepat bawa istrimu keruang operasi, dia sudah tidak bisa menahannya lagi." Tetsuya ikut panik.

Murasakibara langsung menggendong Tat-chin-nya, "Mido-chi–"

"Aku tau apa tugasku-nanodayo. Cepat bawa dia, sebentar lagi aku susul." Dan Murasakibara langsung ngacir keluar bersama Tatsuya.

"Kazunari, aku tinggal dulu ya-nodayo."

CUP

Midorima mengecup bibir istrinya sekilas.

"Semangat, Shin-chan, eh tapi aku mau ikut, boleh, kan?" Midorima menautkan alisnya.

"Aku mau nunggu Shin-chan sama dedek bayi sama Tatsu-chan diluar, nemenin Murasakibara juga.." Kazunari tersenyum lebar.

Midorima menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum mengiyakan permintaan sang istri tercinta.

"Sei, kita juga harus ikutan, ayo!" Kouki menarik Akashi dengan semangat, "Oh ya, aku titip Ueta-chan ya, minna" lanjut Kouki.

"Aku juga titip Zurou dan Shirou, arigatou" Kazunari, Midorima, Akashi, dan Kouki berjalan keluar.

Tersisa Kagami, Tetsuya, Ryouta dan Aomine.

"Aku ju–"

"Tidak. Kau tidak dengar permintaan mereka berdua? Kita yang ada disini disuruh menjaga tiga bayi ini." Kagami menghentikan niat Tetsuya yang hendak ikut menunggu Tatsuya.

Tetsuya mengangguk menurut.

"Daikicchi, jadi anak kita pakai selimut ini ya-ssu?" Ryouta menunjuk selimut warna kuning keemasannya.

Aomine menghela nafasnya berat, "Iya, lagian selimutku sudah dibakar Bakagami sialan itu!"

Tanpa aba-aba, Ryouta langsung menyelimuti Shota yang sedang tertidur terlelap dengan nyamannya, "Mimpi indah ya Shotacchi, Mama sayang kamu-ssu"

"Papamu ini juga mencintaimu" Aomine mencium dahi sang anak.

Walaupun tadi pagi mereka berdua –ah tidak hanya berdua, mereka semua sedikit berdebat mulut dan saling melempar tatapan dengki, tetapi jika pada dasarnya mereka mencintai pasangannya, mereka akan tetap kembali seperti biasa, penuh cinta, canda tawa dan saling mengasihi.

"HUEEE… Anakku kapan lahir?" Tetsuya nangis dipojokan.

"Eh? Sabar-sabar, bentar lagi lahir, sayang" Kagami memeluk Tetsuya dari belakang.

"Iya deh, amin, cepet lahir ya nak, emak keberatan ini, jadi berasa kaya habis pakai misdirection overflow, cepet capeknya." Tetsuya mengusap perutnya yang besar itu.

"Aku juga yakin, pasti si dedek bayinya Tetsuyacchi bentar lagi lahir kok" Ryouta nimbrung.

"Iya, percaya sama Bakagami. Insting seorang ayah lebih kuat jika menyangkut tentang anaknya, Satsuki bilang 'ikatan perasaan ayah dan anak itu sangat kuat' begitu" kata Aomine.

"Kata-katanya bagus, lebih bagus lagi kalau nyebut namaku bukan 'bakagami'" Kagami melirik Aomine tajam lalu tertawa.

"Aomine tumben bisa ingat sesuatu selain basket ya," Kagami menepuk-nepuk punggung Aomine.

"Hei, aku tak sebodoh dirimu ya"

"Aomine-kun memori otaknya ditambah berapa giga?"

"Aku tambahin 1000+ giga, biar dia bisa inget sama aku terus-ssu."

Aomine melirik Ryouta, "Hah, inget Ryouta bikin kepala pening plus migran"

"Ryouta-kun kau seperti virus, haha" oke, disini Tetsuya memang mengucapkan 'haha' dengan gembira tetapi wajahnya tetap datar layaknya tembok.

"Hidoi-ssu!"

"Virus yang bikin aku cuma inget sama kamu terus.."

"Ahomine mulai gombal-gembel"

Mereka menunggu operasi Tatsuya dengan sedikit bercanda dan tak lupa juga berdoa untuk keselamatan bayi dan Tatsuya serta keselamatan Murasakibara yang mulai lapar sejak tadi.

.

.

.


TBC


.

.

.


HUWAAA

Maaf ya baru apdet nih, lagi atit ni jadi kalo garing maav ya /?

Semoga suka.

Terima kasih buat yang sudah ripiuw, lup yu al..


.

Thanks to

Indah605; shaakun; Zhang Fei; Anak nyasar; Plum Fox; ; miyunakamura9; Miharu348; Hana Ma-chan; Kurohime; Lingkaeru; RisaSano; blackeyes947; Coletta Black Beat; ByuuBee; uzumaki himeka; Midorissu; citrusfujo; URuRuBaek; Yozorra; Rhymos-Ethereal; Joy; AoKeisatsukan; Midorima Liu Kths; Midoseme Takauke; momonpo, and You..