Disclaimer: I do not own Naruto

Warning: Adult/Mature theme, lime, a lil bit OOC-ness, alur yang agak sedikit ngaco, plus one OC (Elise). Pembaca dimohon kebijaksanaannya yaa.

Written for my lovely best-friend, the late Jessica Jo. May she rest in peace. Love you so much, sis.

-000-

Chapter 11: Hinata Hyuuga's Hectic Night

Suara dengkuran halus dapat terdengar dari kedua orang yang sedang tertidur pulas di ranjang king-size tersebut. Mereka berdua membentuk huruf 'T' diagonal. Kepala si laki-laki berbantalkan perut si perempuan. Sebuah kipas angin yang menempel di langit-langit mengirimkan deru suara serta angin lembut yang melelapkan kedua orang tersebut. Tirai yang menutup jendela raksasa di kamar tersebut masih tertutup rapat, menghalangi sinar matahari masuk, membuat kedua orang itu tak tahu-menahu bahwa pagi telah tiba dan mereka berdua harus bangun untuk menghadapi... realita.

Bunyi getaran lembut yang diikuti oleh irama ringtone berisik dari sebuah telepon genggam mendadak terdengar dari meja di samping tempat tidur dan mengganggu ketenangan pagi itu.

Si perempuan-lah yang pertama kali mendengar bunyi menjengkelkan tersebut. Ia menemukan dirinya menggeliat di tempatnya serta sedikit meronta-ronta akibat 'suatu' benda berat yang menahan perutnya. Matanya masih setengah tertutup, namun ia cukup sadar untuk merasakan denyutan hebat yang berdentum-dentum di kepalanya. Suara ringtone handphone yang membangunkannya tak menolong sakit kepalanya. Bunyi itu membuat denyutannya makin parah.

Sambil mengerang tangannya berusaha mencari-cari handphone berisik tersebut. Begitu ia mendapatkannya, ia langsung menekan tombol reject tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya.

Dan saat itulah ia sadar.

Kedua mata lavendernya terbuka lebar saat ia mengamati handphone di tangannya dengan seksama. Walaupun jenis handphone itu sama dengan punyanya, tapi barang itu bukan miliknya! Ringtone-nya jelas-jelas berbeda!

Lalu... milik siapa?

Dia meletakkan Blackberry tersebut di sampingnya. Bukan hanya handphone, ranjangnya pun terasa asing. Sejak kapan springbed-nya berubah jadi waterbed?

Mengabaikan kepalanya yang berdenyut-denyut, gadis itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tempatnya berada. Ini jelas sekali bukan kamarnya. Kamarnya tidak sebesar ini dan jelas-jelas tidak menggunakan kipas angin! Kamarnya menggunakan AC!

Ia terkesiap saat 'benda' yang sejak tadi mengganjal perutnya tiba-tiba bergerak. Pandangannya otomatis turun untuk melihat benda tersebut. Ia menahan jeritan kaget yang hampir keluar dari tenggorakannya saat melihat pria berambut merah itu tertidur pulas dengan berbantalkan perutnya. Pikirannya serta merta menjadi liar. Berbagai hal buruk mengenai apa yang mungkin ia lakukan dengan lelaki ini di malam sebelumnya menyerang benaknya.

Saking paniknya, Hinata merasa jantungnya hampir keluar lewat mulutnya.

Butuh beberapa menit bagi gadis itu untuk menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan-lahan. Mungkin saja sesuatu yang buruk tidak terjadi karena sesuai penglihatannya, lelaki itu masih berpakaian, sementara dirinya sendiri masih memakai pakaian dari malam sebelumnya.

Lalu... apa yang terjadi?

Si gadis menyerah mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Mengingat hanya membuat kepalanya makin sakit. Karena itulah ia kembali membaringkan kepala pada bantal di belakangnya sambil menatap wajah lelaki yang masih pulas di atas perutnya. Kalau saja ia sedang tidak berada dalam situasi seperti ini, ia mungkin akan tersenyum melihat mulut si lelaki yang terbuka sedikit. Sama sekali tak terlihat seperti dirinya sehari-hari. Saat tertidur seperti ini laki-laki itu terlihat polos dan... menggemaskan.

Wajah si gadis sontak memanas.

"G-Gaara..." Ia berbisik lembut. Ia sudah memutuskan, kalau dia sendiri tak tahu apa yang terjadi semalam, mungkin cowok itu tahu. "Gaara..." cobanya lagi.

Lelaki itu tetap bergeming. Maka si gadis bermata lavender pun mulai mengguncang kepalanya. Jari-jarinya yang panjang menyentuh tato 'Ai' misterius milik si lelaki yang merupakan salah satu daya tariknya terhadap kaum perempuan. "Gaara..." bisiknya lagi. Ia takut apabila ia meninggikan suaranya, cowok itu mungkin akan terbangun karena kaget. Dan dari pengalaman, si gadis tahu bahwa terbangun karena kaget bisa membuat seseorang menjadi sangat kesal dan menyebalkan.

Gaara yang kesal adalah hal terakhir yang diinginkannya pagi itu.

Setelah beberapa bisikan serta guncangan kemudian, Gaara masih tetap pulas. Maka si gadis pun mencoba cara lain. Ia menahan kepala Gaara, sebelum membebaskan dirinya dan kemudian meletakkan kepala lelaki itu perlahan-lahan di atas kasur.

Ia pun kemudian membungkuk di atasnya.

Ini adalah sesuatu yang dulu selalu ibunya lakukan untuk membangunkannya. Ia tak tahu apa cara ini juga akan bekerja pada orang lain. Tapi ia tetap akan melakukannya.

Didekatkannya bibirnya ke telinga Gaara. Kemudian, dengan sangat halus, ia meniup lubang telinga lelaki itu. Ia melakukannya berkali-kali. Wajahnya memerah, memerah, dan memerah setiap kali ia mengulanginya. Hingga akhirnya si lelaki berambut merah tersebut menggeram sambil menutupi telinganya.

Perlahan-lahan, ia pun terbangun. Mata azure-nya menatap bingung pada gadis yang membungkuk di atasnya.

"Hinata?" tanyanya bingung. Suaranya serak.

Hinata menawarkannya sebuah senyuman kecil sambil mengamati saat kesadaran perlahan-lahan merasuki lelaki itu.

"Selamat pagi," ucap Hinata lembut.

Gaara tak menjawab. Ia bangkit dan duduk menghadap gadis itu. Kerutan jelas-jelas berada di dahinya. "Bagaimana perasaanmu?"

"Eh? Uhh..." Hinata kaget atas pertanyaan yang mendadak itu. "S-Sedikit... pusing."

"Hanya sedikit?"

"B-Begitulah."

Gaara memberinya pandangan tak percaya. "Biar kuambilkan aspirin."

"T-Tunggu," Hinata menahan tangan Gaara saat lelaki itu beranjak dari tempat tidur. "Tu-Tunggu sebentar." Gaara menaikkan sebelah alisnya. "A-Aku perlu tahu apa yang terjadi." Hinata melepaskan pegangannya dari Gaara. Wajahnya menunduk malu saat lelaki itu menuruti permintaannya kemudian duduk di sebelahnya. Benar-benar di sebelahnya, sangat dekat hingga kedua paha mereka bersentuhan. "D-Dimana kita sekarang? Dan... uhh... m-mengapa k-kau ada disini bersamaku?"

"Ini kamarku." jawabnya singkat. Ia sengaja mengabaikan pertanyaan selanjutnya. Hinata mendapat firasat kalau jawaban untuk pertanyaan terakhir akan menjadi sebuah cerita yang panjang. "Apa hal terakhir yang bisa kau ingat?"

"Eh?" Hinata memejamkan matanya. Denyutan kepalanya makin menjadi-jadi saat ia kembali berusaha untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Semuanya terlihat begitu kabur. Ia bahkan mengalami kesulitan saat mencoba mengingat hari apa kemarin. "A-Aku tak ingat apapun..."

Hinata bisa merasakan tangan Gaara menepuk bahunya. "Pelan-pelan saja. Pertama kali hangover memang menyakitkan."

Hangover? Benarkah dia hangover? Selama ini ia hanya menyaksikan orang-orang di sekelilingnya mengalami hal tersebut. Ia sendiri belum pernah mengalaminya. Tunggu, kalau dia hangover itu berarti... semalam dia... mabuk-mabukan?

"A-Apa yang sesungguhnya terjadi semalam?" Suaranya dipenuhi kepanikan saat Hinata mencengkeram lengan Gaara dan menatap cowok itu lekat-lekat, seakan-akan memohon kepadanya untuk memberikan penjelasan.

"Aku tidak melakukan apapun yang tak kau inginkan, jangan khawatir." katanya sebelum beranjak ke kamar mandi untuk menepati janjinya mengambil aspirin.

Ya, Hinata memang khawatir Gaara mengambil keuntungan darinya saat ia tak sadarkan diri. Namun ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada itu. Hinata takut kalau-kalau semalam ia tanpa sadar membocorkan rahasianya. Rahasia tentang taruhannya dengan Sasuke.

Namun, jika dilihat dari sikap lelaki itu yang begitu tenang dan terkendali (tidak seperti ketika di the Ritz malam itu), ia masih bisa berasumsi kalau semalam dirinya tak mengatakan apapun yang bisa membahayakan jiwanya.

Hinata memandangi Gaara yang berjalan menuju pintu kamar mandi. Si rambut merah membiarkan pintu tersebut terbuka saat ia mencari-cari aspirin di lemari kabinet. Si Hyuuga menghela napas kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah, ke arah bajunya. Ia memang masih berpakaian seperti yang terakhir kali diingatnya. Sebuah tube top merah dan celana selutut. Hanya saja, blazer yang juga semalam dipakainya tak tampak dimanapun.

"Blazer yang kau pakai semalam ada di mobilku." Gaara tiba-tiba berkata seakan-akan bisa membaca pikiran gadis itu. Ia telah kembali dari kamar mandi dan sekarang menyodorkan segelas air beserta dua butir aspirin pada Hinata. Gadis itu mengucapkan terima kasih saat mengambil gelas dan aspirin dari tangan Gaara.

Setelah meneguknya, Hinata merasa ingin berbaring sekali lagi. Tapi ia menahan keinginan tersebut. Ada banyak hal yang perlu ia cari tahu sekarang.

"Kau mau ganti baju?" Gaara menawarkan saat melihat Hinata yang tampak tak nyaman dengan pakaiannya. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, ia itu langsung berjalan menuju kloset pakaiannya dan menarik keluar sebuah kaus abu-abu. Dilemparnya kaos tersebut hingga tepat mengenai kepala Hinata. "Pakai itu." katanya.

Dia sendiri tanpa malu-malu langsung melepas baju yang tampaknya juga ia sejak semalam, kemudian menggantinya dengan sebuah kaus hitam. Namun itu belum seberapa, karena beberapa saat kemudian tanpa pemberitahuan Gaara mendadak menurunkan jeansnya. Hinata pun sontak menyembunyikan wajahnya dengan kaus yang diberikan lelaki itu.

Orang ini betul-betul tak tahu malu, pikir Hinata.

Bagaimana ia bisa terjebak dengan lelaki ini? Padahal terakhir kali yang Hinata ingat, lelaki itu meninggalkannya di ruangan klinik dengan dasinya yang bernoda darah.

Dasi...

Ingatan baru tiba-tiba membanjiri kepalanya. Dasi! Ya, benar sekali! Dasi-lah yang merupakan awal dari semua ini. Karena dasi sialan itulah awalnya Hinata menyetujui permintaan Ino. Sedangkan keberadaan dasi pembawa masalah itu sendiri sekarang tak jelas entah dimana.

"Apa kau akan mengganti bajumu atau kau mau aku melakukannya?"

Hinata tersentak kaget, kemudian mendongak dan mendapati Gaara menyeringai ke arahnya. "T-Tidak usah. A-Aku bisa sendiri."

Hanya saja tak seperti Gaara, Hinata masih punya urat malu dan menolak untuk mengganti bajunya dengan kehadiran pria itu.

"Tidak usah lepas bajumu. Langsung pakai saja. Lepas saja celana itu. Kelihatannya sempit sekali." Gaara benar. Celana itu memang sempit sekali. Karena dari awal celana tersebut memang bukan miliknya. "Nih, pakai ini." Ia melemparkan sepasang celana boxer ke arah Hinata. Kemudian bersandar pada lemari di belakangnya sambil mengamati si gadis yang berada di atas ranjang, seakan-akan menunggu gadis itu untuk melepaskan celananya. Ketika Hinata sama sekali tak membuat gerakan untuk melepas celana sempitnya, Gaara menaikkan sebelah alisnya, "Well?"

"A-Aku... A-Aku..." Ia terbata-bata, bingung bagaimana mau mengutarakan keinginannya tanpa mempermalukan dirinya sendiri.

"Kau mau ke toilet?"

Hinata punya firasat kalau dari awal lelaki itu tahu ia tak nyaman di bawah pengawasannya. Dan pada saat yang sama lelaki itu juga menolongnya agar ia tak mempermalukan dirinya sendiri. "Ya, ya." Hinata bergegas turun dari ranjang dan menyeberangi kamar menuju kamar mandi dengan membawa kaus dan celana boxer yang diberikan Gaara. Dari ekor matanya ia bisa melihat lelaki itu menyeringai ke arahnya.

Dasar aneh.

"Kalau sudah selesai, turun saja. Kita bicara di bawah." Gaara berteriak dari luar kamar mandi, yang dibalas Hinata dengan teriakan "Baik!" dari dalam.

Hinata menghela napas lega saat mendengar pintu kamar Gaara terbanting tertutup. Entah mengapa ia merasa lebih lega setelah mengetahui lelaki itu menunggunya di bawah, bukan di luar kamar mandi ini. Gadis itu mengigit bibirnya saat melihat kamar mandi di hadapannya. Jujur saja, ia iri melihat bath tub berkaki milik lelaki itu. Ia iri melihat tempat pancuran miliknya. Dan, demi Tuhan! Orang itu bahkan punya jacuzzi sendiri di dalam kamar mandinya! Sesuatu yang selalu diidam-idamkan Hinata sejak dulu. Namun karena ukuran kamar mandinya tak sebesar kamar mandi ini, keinginan tersebut menjadi mustahil.

Apakah Gaara akan marah kalau dia mencoba pancuran itu sebentar? pikir Hinata takut-takut. Ia ta akan marah, 'kan?

Tanpa pikir panjang Hinata pun langsung menanggalkan semua pakaiannya dan melangkah ke bawah pancuran.

Memangnya siapa sih yang bisa menolak godaan untuk mandi? Begitulah pikir si pewaris Hyuuga.

Siraman air pertama yang mengenai kulitnya secara spontan merilekskan seluruh tubuhnya.

Ia memejamkan mata dan seketika pikirannya pun melayang kembali pada kejadian-kejadian sehari sebelumnya...

-000-

Kembali ke sore hari ketika mereka bertiga, Hinata, Ino, dan Tenten baru saja keluar dari kelas detensi mereka, Elise Northway dengan sengaja menyenggol Hinata hingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan pantatnya menyentuh lantai lebih dulu. Tenten harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan Ino agar gadis itu tidak mencakar muka Elise Northway yang melenggang pergi dengan senyum kemenangan.

Begitu Ino tenang dan Hinata telah berdiri kembali, saat itulah ide cemerlang tersebut muncul di kepala si gadis pirang.

"Bagaimana menurut kalian kalau kita pergi ke pestanya si Northway malam ini?"

Pertanyaan tersebut disambut dengan penolakan Hinata dan anggukan bersemangat dari Tenten. "Aku belum pernah ke pesta!" kata si cewek berambut cokelat. "Pasti rasanya menyenangkan sekali, berdansa sepanjang malam," katanya dengan pandangan menerawang.

"A-Aku tidak suka pesta." kata Hinata dengan nada mencicit. "Apalagi pestanya Elise Northway. Pasti ada Sasuke disana. Aku tak mau bertemu dengannya."

"Oh ayolah Hinata! Tidakkah kau ingin membalas si Northway? Kita harus membalasnya!"

"Bagaimana caranya?"

"Kita kalahkan dia dalam pestanya sendiri!"

"Me-Mengalahkannya...?"

Tenten menyela, "Maksud Ino, kita harus tampil lebih cantik dari Northway dan mengalahkannya di pestanya sendiri."

"T-Tampil lebih cantik?" seru Hinata tak percaya. "Elise Northway jelas-jelas lebih cantik. B-Bagaimana mungkin o-orang sepertiku bisa mengalahkannya?"

Ino mendadak berhenti, kemudian berbalik menghadap si gadis Hyuuga, kedua tangannya menepuk pipi pucat gadis tersebut. "Siapa bilang Elise lebih cantik darimu? Kau seratus kali lebih cantik darinya, Hinata! Tidak, seribu kali malahan! Kau hanya bersikap rendah hati dan tak menunjukkannya!" seru gadis itu berapi-api.

Hinata tersenyum mendengar pujian Ino padanya. "T-Terima kasih, Ino. T-Tapi... Tapi... A-Aku tetap tak mau pergi. K-Kalian berdua pergilah. J-Jangan biarkan aku m-merusak kesenangan kalian."

Mereka bertiga berjalan dalam diam setelah kalimat tersebut. Ketika mengetahui bahwa Hinata selalu pulang dengan berjalan kaki, dan karena detensi ibunya Ino tak bisa menjemputnya, Tenten pun menawarkan diri untuk mengantar kedua temannya itu dengan mobilnya. Karena itulah saat ini mereka bertiga berjalan menuju lapangan parkir yang sepi tersebut menuju sebuah Honda Civic abu-abu milik si gadis berambut cokelat.

Ketika sudah berada di dalam mobil, Ino mendadak berkata, "Memang nanti pasti ada Sasuke, karena dia yang mengundangku." Hinata mengernyit mendengarnya. "Awalnya aku memang tak mau datang, tapi setelah kelakuan Elise padamu..." Ia menengok ke arah Hinata yang duduk di belakang, "Kupikir kita harus membalasnya. Lagi pula, bukan hanya ada Sasuke nanti. Orang-orang penggila pesta yang lain pun pasti akan datang." Ino mulai menghitung satu-satu kenalannya yang mungkin akan datang. "Ada Suigetsu, Sai, Naruto, Sakura, Gaara..." Pipi Hinata merona ketika mendengar nama lelaki berambut merah itu disebut.

Akhir-akhir ini hal itu memang tak terhindarkan. Apapun yang berhubungan dengan Gaara seakan-akan merupakan pemicu yang membuat pipi gadis itu memerah.

"Ah, ya. Ngomong-ngomong, ada apa sih antara kau dan Gaara?" tanya Ino. Matanya yang biru melebar penuh ingin tahu. "Itu pertama kalinya loh Gaara mau menggendong cewek di hadapan anak-anak lain."

"Eh... emm..." Hinata mengalihkan pandangannya dari Ino. Tangan yang berada di pangkuannya mendadak terlihat menarik. "T-Tidak ada apa-apa. M-Mungkin d-dia merasa bersalah?"

"Tapi yang menendang bolanya tadi 'kan Naruto?"

Tenten yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan kedua temannya tiba-tiba berbicara, "Jangan bohong, Hinata. Aku tahu ada sesuatu antara kau dan Sabaku." Gadis itu memberi Hinata pandangan jail melalui cermin.

"A-Apa?"

"Waktu itu aku pernah melihat Sabaku menggendongmu masuk ke mobilnya." Ia menyeringai pada Hinata. Seringainya melebar saat melihat wajah gadis itu memucat. "Setelah itu kalian bolos, kan?"

"WAH! SERIUSAN?" pekik Ino bersemangat. "BENARKAH ITU HINATA?" Ia menengok ke belakang untuk memastikan berita tersebut.

"B-Bukan. A-Aku d-dipaksanya i-ikut." Hinata tak berani melihat ke depan. Ia membungkukkan badan dan menempelkan wajahnya di lututnya.

"Bagaimana kau bisa tahu, Tenten?" tanya Ino.

"Aku kebetulan sedang izin toilet dan melihat mereka berjalan ke parkiran. Karena penasaran, kuikuti saja. Bukannya aku usil atau apa. Tapi, ayolah! Hinata dan Gaara? Berduaan? Siapa sih yang tak curiga?" Ia terkekeh. "Ada apa sih sebenarnya? Apa ini semacam... hubungan rahasia seperti di novel-novel? Karena Gaara populer sementara Sasuke tak begitu menyukaimu, jadinya kalian berdua memutuskan untuk merahasiakan hubungan kalian dari orang lain?"

Analisa Tenten yang bak detektif membuat Hinata hampir tersedak ludahnya sendiri. Sebelum gadis itu bisa menyangkalnya, Ino sudah lebih duluan berkata, "Oh, jadi itu alasannya mengapa Gaara mau menggendongmu! Sampai ngasih dasi segala! Wow!" Kemudian ia mengernyit, "Oh... my... god! Aku baru ingat!" Ino berseru sambil menepuk dahinya. Secepat kilat ia mengeluarkan handphonenya. Hinata mengambil kesempatan tersebut untuk menjelaskan keadaannya pada mereka berdua. Namun Ino mengangkat tangannya, "Tunggu, tunggu. Tunggu sebentar. Aku menyimpan alamatnya di..." Dengan semangat ia menggeser layar iPhone-nya. "...sini! Biar kutebak alamatmu Hinata!" Ia mengacungkan jari telunjuknya. "Kau tinggal di blok 5 nomor 2 dekat rumahnya Gaara, kan?"

Hinata sama sekali tak tahu bagaimana alamat rumahnya bisa sampai ke handphone-nya Ino. "I-Iya..."

"Sudah kuduga! Gaara pernah memesan bunga dari tokoku untuk diantar ke alamat itu! Waktu itu dia tak menyebutkan nama. Hanya bilang bunga itu untuk gadis pemilik rumah itu. Tak kusangka kalau rumah itu milikmu! Kau suka bunganya, Hinata? Aku yang merangkai itu untukmu loh," katanya sambil mengacungkan jempol.

"Nah, kau sudah tak bisa mengelak lagi." kata Tenten. "Mengaku sajalah, Hinata. Rahasiamu aman bersama kami, kok." Ia mengedipkan mata ke arah Ino. "Bolos bareng, digendong, dikirimi bunga, kalian beneran... pacaran, kan?"

"H-H-Hentikan!" Hinata berseru dengan nada tinggi. "A-Aku tidak pacaran dengan Gaara."

Ino menaikkan kedua alisnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"S-Semua yang kalian katakan benar, k-kecuali satu hal. A-Aku tidak pacaran dengan dia. L-Lagi pula orang seperti Gaara mana mungkin mau dengan orang sepertiku." Kalimat terakhir ia ucapkan sambil berbisik. "A-Ada alasan mengapa semua i-itu terjadi..."

Untuk kedua kalinya sore itu, Ino dan Tenten terdiam akibat kata-kata dari Hinata.

"Well..." Ino memulai, memecahkan keheningan. "Aku punya waktu banyak untuk mendengar ceritamu. Kau akan ikut pesta kan? Ada Gaara loh..." Alis Ino yang pirang bergerak naik turun dengan sugestif. "Tidakkah kau mau mengembalikan dasi itu pada pemiliknya?"

Tentu saja maksud Ino adalah dasi merah yang tersimpan di dalam tas Hinata.

"Aku belum mencucinya."

"Oh, kembalikan saja itu padanya. Toh, tidak ada orang yang sadar kalau dasi itu kena darah. Ayolah Hinata!"

Hinata menghela napas kemudian dengan berat hati mengangguk. Ia bisa merasakan tubuhnya terdorong ke belakang akibat inersia saat Tenten meningkatkan laju mobilnya. "Kita harus bergegas. Kudengar berdandan itu butuh waktu lama?"

-000-

Hinata menatap pantulan dirinya pada cermin besar di hadapannya. Ia harus mengakui, setelah make up dan hair do yang diberikan Ino padanya, ia terlihat lebih... beranikah ia mengatakannya? cantik. Rambut indigonya yang lurus kini sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Perubahan yang menyenangkan. Secara keseluruhan, Hinata menyukai penampilannya. Kecuali satu hal.

Dahinya mengernyit melihat ujung rok yang hanya mencapai pertengahan pahanya. "I-Ino... A-Aku tak yakin bisa mengenakan ini?"

Seorang gadis dengan rambut cokelat panjang mendadak muncul di belakang Hinata. Wajahnya terkejut mendengar kalimat yang barusan gadis itu katakan. "Apa kau bilang? Rok itu terlihat menakjubkan, Hinata!"

Hinata sontak berbalik untuk memastikan pengelihatannya. "Tenten?" tanyanya tak percaya. Rambut Tenten yang biasanya berbentuk dua cepolan di atas kepalanya kini tergerai anggun mencapai pinggangnya. Kedua mata Hinata terbelalak melihat betapa berbedanya Tenten dengan rambut cokelat bergelombangnya. "R-Rambutmu terlihat indah..."

Mendengar pujian si gadis indigo, wajah Tenten memerah. "Benarkah?" Pandangannya jatuh ke bawah. "Ino yang menyarankannya."

Karena keduanya sama-sama tak punya pengalaman dalam lapangan dress up maupun make up, si gadis indigo dan si brunette bergantung sepenuhnya pada saran-saran yang diberikan oleh si model berambut pirang, yang saat ini sedang menggunakan curl iron untuk mengikalkan bagian bawah rambut panjangnya.

Kloset pakaian Hinata, yang hanya dipenuhi oleh sundress-sundress, t-shirt, dan kimono sama sekali tak bisa digunakan untuk menandingi Elise Northway. Sama halnya dengan si tomboi Tenten yang kloset pakaiannya dipenuhi oleh hoodie-hoodie, t-shirt, serta bermacam-macam pakaian tradisional lainnya. Oleh karena itulah, saat ini mereka berada di kamar Ino Yamanaka, yang jumlah koleksi dalam klosetnya bisa menyaingi koleksi sebuah butik.

"Bibiku seorang desainer. Dia yang memberikan baju-baju itu untukku." kata Ino saat Hinata dan Tenten mengagumi koleksi pakaiannya. "Orang tuaku tak mungkin memberikanku semua ini."

Hinata dan Tenten harus mengaku bahwa mereka terkejut saat tiba di rumah keluarga Yamanaka. Sepanjang hidup mereka, Tenten dan Hinata memang selalu hidup di lingkungan perumahan papan atas. Mereka tak menyangka saat menemukan bahwa rumah Ino berada di lingkungan perumahan kelas menengah. Namun, meskipun ukuran rumahnya tak seberapa dibandingkan rumah keluarga Hyuuga, Ino sama sekali tak terlihat minder. Tidak, malahan Hinata-lah yang dibuat minder saat ibunya Ino dengan ramah menyambut mereka. Ia iri pada suasana rumah Ino yang begitu... rumah.

Setelah merias wajah kedua temannya, Ino membiarkan Tenten dan Hinata memilih pakaian yang mereka inginkan dari kloset pakaiannya. Tenten memilih sebuah dress hitam yang mencapai pertengahan pahanya. Ia mengenakan pakaian tersebut bersama sepasang ankle boots. Rambutnya yang ia biarkan tergerai memberinya kesan anggun dan berkelas.

"Elise Northway is going down, going down, going down..." senandung Ino saat melihat Tenten selesai berpakaian.

Lain Tenten, lain pula Hinata.

Tidak seperti si brunette yang langsing, Hinata dengan tubuhnya yang satu ukuran diatas Ino mengalami kesulitan dalam memilih pakaian yang muat untuknya.

Pada akhirnya Ino memilihkan tube top serta rok mini untuk si gadis Hyuuga. Namun, setelah memakainya dan menghabiskan lima menit menatap pantulan dirinya di cermin, Hinata tak yakin ia akan ke pesta dengan menggunakan pakaian tersebut. Ia meringis, bisa-bisa sebelum sampai rumah ia sudah masuk angin dengan pakaian seminim itu. Lagi pula, tube top membuat dadanya terlihat dua kali lebih besar. Kalau ayahnya melihatnya bisa-bisa ia dipecat sebagai anak.

"Ada apa, gadis-gadis?" Ino menghampiri kedua temannya dengan ujung rambut ikal sempurna. "Oh my god, Hinata! Kau terlihat cantik sekali!" Ia berseru pada temannya yang pemalu.

Mendengar pujian Ino, kepercayaan diri Hinata sedikit membengkak. Meskipun kedua tangannya tak berhenti menarik-narik turun rok mini yang dipakainya. "T-Terima kasih, Ino. Kau juga terlihat menawan." komentar Hinata pada dress floral yang dipakain Ino. "T-Tapi... Umh, Tidakkah kau punya sesuatu yang lebih... panjang u-untukku?"

Senyum Ino sedikit memudar, Ia mengerutkan kening saat berusaha mengingat-ingat isi klosetnya. Ia pun kembali mencari-cari dalam lemari tersebut. Setelah beberapa menit, ia kembali lagi dengan membawa sebuah celana denim selutut. "Bagaimana dengan ini? Bokongmu akan terlihat seksi memakainya. Gaara pun tak akan bisa berpaling." godanya.

Wajah Hinata tak berhenti memerah saat ia berusaha mengenakan jeans tersebut. Separuh karena kata-kata Ino yang terus terngiang, separuh lagi karena ia merasa malu. Jeans tersebut sangat sulit dikancing akibat pinggulnya yang besar. Namun pada akhirnya, ia tetap berhasil mengenakan denim tersebut. Meskipun rasanya tak terlalu nyaman.

Sebelum ketiga gadis itu berangkat, Ino memberikan sebuah blazer pada Hinata. "Pakai ini." katanya. "Supaya tidak masuk angin." Ia mengedip pada Hinata.

Hinata Hyuuga tak bisa lebih bersyukur lagi.

Sekali lagi ia mengecek isi tas tangannya. Handphone, check. Dompet, check. Tissue, check. Dasi-nya Gaara, check. Yak, dia siap pergi ke rumah Elise Northway. Bukan untuk berpesta. Tapi seperti yang tadi dikatakan Ino. Hanya untuk menunjukkan pada gadis sombong itu bahwa ia juga bisa berdandan. Dan tentunya, mengembalikan dasi di tas tangannya ini kepada pemiliknya.

Setelah meninggalkan rumah Yamanaka, malam itu Hinata, Ino dan Tenten tidak langsung berangkat menuju kediaman keluarga Northway. Alasannya, Tenten sedang mengidam makan vongole bianco di Bistro Garden, sehingga ketiga gadis itu mampir dulu ke restoran tersebut selama satu jam.

Untuk malam itu, Hinata menelepon ayahnya yang (untungnya) sedang berada di Cina untuk urusan bisnis dan mengatakan bahwa malam itu ia akan pulang agak larut. Ayahnya tidak menyanyakan selarut apa ia akan pulang malam itu, maka Hinata pun tak memberitahunya. Tapi ayahnya berpesan agar ia selalu berhati-hati dan tetap menjaga agar baterai handphonenya jangan sampai habis. Menurut Hiashi, dalam keadaan darurat apapun, handphone adalah benda utama yang harus selalu ada bersamamu. Selain itu, Hiashi mewanti-wanti Hinata agar selalu mengaktifkan handphonenya supaya ia bisa mengecek keadaan putrinya itu setiap saat.

Ketika mereka sampai di kediaman keluarga Northway sekitar jam setengah sembilan, tempat itu ternyata sudah penuh oleh remaja-remaja hormonal yang dipenuhi semangat pesta. Ruang tamu keluarga Northway, yang sudah berubah fungsi menjadi lantai dansa, telah padat oleh pasangan-pasangan yang berdansa sambil menggesekkan tubuh mereka satu sama lain.

Hinata menatap ngeri pemandangan di hadapannya.

Mendengar musik yang keras membuat Tenten begitu bersemangat hingga ia langsung terjun ke lantai dansa. Ketika Hinata hendak memanggil temannya tersebut, seorang lelaki, yang ia duga seniornya, tapi tak tahu siapa namanya, sudah mengajak Tenten berdansa.

Seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangan Hinata. Ketika menoleh, ia menemukan Ino-lah yang melakukannya. Gadis itu menariknya menuju salah satu sofa.

"Kita duduk disini saja!" seru Ino keras melawan kencangnya musik. "Aku akan ambil minum untukmu, kau tunggu disini ya!"

Hinata mematuhi kata-katanya dan duduk manis di sofa tersebut. Kedua tangannya tersilang di depan dadanya. Matanya mengamati sekelilingnya, mencoba mengenali wajah setiap orang yang hadir di tempat itu. Sejauh ini, belum sekalipun ia menemukan Elise Northway.

Ketika pandangannya jatuh ke pintu masuk, Hinata terkesiap. Ternyata bukan dia, Ino, dan Tenten-lah tamu yang datang paling terlambat. Masih ada orang lain yang ternyata datang lebih lambat dari mereka.

Gaara dan Sakura.

Hinata bisa merasakan perasaannya campur aduk saat ia melihat Sakura yang memeluk lengan Gaara dengan posesif. Ia tidak tahu apa yang harus dipikirkannya. Berbagai pertanyaan saling berkejaran di benaknya. Apa yang dilakukan Sakura bersama Gaara? Apa Gaara tadi menjemputnya? Apa mereka bertunangan? Tapi Naruto kan suka sama Sakura! Dan Naruto itu temannya Gaara, seharusnya ia tahu itu dan tidak mencomot gadis yang disukai temannya!

All's fair in love and war, oh yah mengapa quote tersebut mendadak muncul di kepalanya? pikir Hinata jengkel.

Mendadak Hinata merasa dirinya sangat konyol. Apa yang sebenarnya dilakukannya disini? Menunggui Gaara untuk mengembalikan dasinya?

Oh, lelaki itu pasti akan menertawakannya.

Untuk orang sekaya Gaara, apalah arti sebuah dasi? Jangankan selembar dasi, ia bahkan bisa membeli pabrik dasi tersebut!

Hinata memejamkan mata, kemudian menghela napas. Tidak ada gunanya ia berada disini. Masa bodoh dengan apapun yang Elise Northway pikirkan tentangnya. Asalkan Hinata menjaga jarak sejauh mungkin dari gadis itu, ia yakin dirinya pasti selamat. Lagipula dia sudah biasa di bully Sasuke, orang paling kejam seantero Konoha Gakuen. Tidak mungkin Elise Northway lebih buruk dari si Uchiha itu, kan?

Hinata berdiri dari tempatnya, kemudian secepat mungkin berjalan menuju pintu keluar sambil menghindari tubrukan orang-orang. Ia bisa memanggil taksi, kemudian mengirim SMS pada Ino bahwa ia tak enak badan dan harus pulang. Ia sudah hampir mencapai pintu saat sebuah suara melengking yang familiar menghentikannya.

"Kenapa terburu-buru, Hyuuga?"

Mendengar namanya disebut, Hinata menoleh, dan mendapati tak lain dan tak bukan sang pemilik rumah sendiri berdiri tak jauh darinya. Di tangannya terdapat dua buah gelas kristal yang berisi cairan berwarna madu.

"H-H-Hei..." sapa Hinata gagap.

"H-H-Hei." Ia meniru kegagapan Hinata untuk mencemooh gadis itu. "Menyapa orang saja tak sanggup. Dasar idiot." Ia tertawa.

Hinata menelan ludah mendengar hinaan gadis itu. Ia melihat ke sekelilingnya, mencari-cari rambut pirang atau rambut cokelat yang familiar. Namun tak menemukan apapun. Ia rasa ia harus menghadapi Elise sendirian. Dan ia tak yakin dirinya bisa bertahan atau tidak. Karena saat ini ia sedang berada dalam teritori gadis itu.

"K-Kenapa? K-Kenapa... kau m-membenciku? A-Aku tak pernah melakukan apapun p-padamu."

Ia tertawa mendengar Hinata. "Hanya karena kubilang idiot bukan berarti aku membencimu, Sayang." katanya dengan suara semanis madu. Hinata menemukan dirinya berjengit mendengar Elise memanggilnya 'sayang', kemudian tanpa sadar melangkah mundur saat gadis itu bergerak mendekatinya. "Dengar, aku memang orangnya seperti ini. Aku selalu mengatakan apa yang kusukai. Jadi jangan cepat tersinggung kalau kau berada di sekelilingku, mengerti?"

Hinata terdiam tak bisa menjawab. Ia juga menyadari kakinya tak lagi membawanya mundur. Sekarang ia terdiam di tempat saat Elise mendekatinya seperti predator mendekati mangsanya.

"Aku senang kau meluangkan waktu untuk datang ke pestaku. Kupikir orang kuper sepertimu lebih memilih nonton TV kabel daripada datang ke pesta seperti ini." Dari dekat, Hinata sadar kalau ternyata Elise sedikit lebih tinggi darinya, entah karena memakai heels atau bukan. Tapi yang jelas, Hinata harus mendongak sedikit untuk melihat gadis itu. "Silahkan," Ia meyodorkan salah satu gelas kristal yang sejak tadi dipegangnya ke arah Hinata. "Aku menghargai usahamu yang datang malam ini." Ia menatap Hinata dari atas ke bawah, "Make up dan rambut seperti itu pasti butuh waktu."

Sebuah suara tiba-tiba berbicara dalam kepalanya. Mungkin Elise tidak jahat, kata suara itu. Mungkin saja dia Cuma salah paham, atau terpengaruh oleh Sasuke. Meskipun masih terdengar sinis dan tak sopan, tapi mungkin ini cara gadis itu untuk meminta maaf. Begitulah kata suara dalam kepala Hinata yang entah mengapa mendadak berada di pihak Elise. Sensor tanda bahaya dalam kepalanya juga tak mengatakan apapun.

Mungkin saja... Elise memang tak bermaksud jahat.

Seperti orang yang terhipnotis, Hinata pun meraih gelas yang diberikan Elise padanya. Gadis bermata abu-abu itu tersenyum licik melihatnya. Ia kemudian menyentuh gelas Hinata menggunakan gelasnya. Si gadis Hyuuga tersenyum saat mendengar bunyi 'cling' kecil sebelum menenggak apapun isi gelas tersebut tanpa rasa curiga sedikitpun.

Itulah hal terakhir yang bisa diingatnya sebelum benaknya mendadak menjadi kabur seperti kabut.

Hinata mematikan pancuran air sebelum mengambil handuk dari rak. Ia tahu ia sudah bertindak tak sopan dengan mandi tanpa izin di kamar orang lain. Ia harus meminta maaf pada Gaara nanti. Setelah mengeringkan tubuh dan mengenakan baju yang diberikan Gaara tadi, Hinata pun keluar dari kamar sambil membawa semua barang-barangnya.

Di lantai bawah, seorang pelayan dengan sopan memberitahu Hinata bahwa Gaara menunggunya di game room. Pelayan itu juga menawarkan diri untuk membawa barang-barang Hinata, yang ditolak si gadis Hyuuga dengan sopan.

Begitu tiba di game room, Hinata mendapati Gaara sedang menekuni Xbox-nya sambil duduk di sofa dengan kaki berselonjor di atas meja kopi di depannya. "Kupikir kau tidur lagi." katanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar.

"Eh... a-aku..."

"Mandi duluan, ya?"

Hinata langsung memerah mendengarnya. Ia terkadang bingung bagaimana lelaki itu bisa menebaknya dengan begitu mudah.

"I-Iya... M-Maaf... A-Aku membutuhkannya."

"Tak apa. Sampai kapan kau mau berdiri disana? Duduklah."

Hinata mengambil tempat duduk pada sofa lain di samping Gaara setelah meletakkan semua barang-barangnya.

"Jadi, sudah ingat?"

"S-Sudah. T-Tapi h-hanya sedikit."

Gaara mengernyit. Ia mem-pause gamenya sebelum memandang Hinata. "Sedikit bagaimana?"

"H-Hanya sampai ketika aku minum b-bersama Elise." jawab Hinata jujur.

Kali ini Gaara meletakkan stick Xbox-nya dan memfokuskan perhatiannya sepenuhnya pada Hinata. "Minum apa?"

"Eh... A-Aku juga tak tahu itu apa. Tapi warnanya seperti madu... dan rasanya manis."

"Mungkin itu mocktail."

"A-Aku tak tahu."

Gaara tampak berpikir sejenak. "Minuman sekuat apapun tak mungkin bisa membuatmu benar-benar lupa ingatan. Pasti cewek itu memasukkan sesuatu ke dalam minumanmu."

Hinata terkesiap mendengarnya. "M-Memasukkan a-apa?"

"Obat. Mungkin narkoba. Kau 'kan pintar. Cari saja di google obat apa yang bisa membuat orang lupa ingatan." jawabnya enteng. "Yang terpenting kau selamat sekarang. Dan untungnya semalam kau mendatangiku."

"M-Mendatangimu?"

Gaara tak berkata apa-apa selama beberapa saat, hanya memandanginya, sebelum berkata, "Kau betul-betul tak ingat, ya?" Ia mengambil stick Xbox-nya, lalu kembali menekuni game apapun itu yang dimainkannya tadi.

"T-Tolonglah, b-beritahu aku apa yang terjadi semalam. Dan a-apa yang terjadi pada Ino dan Tenten?"

"Aku tak tahu siapa Tenten. Dan percayalah, kalau aku bisa menemukan Ino semalam, kau pasti tak akan terbangun di tempatku hari ini."

Hinata makin khawatir sekarang. "A-Apa aku merepotkanmu semalam?"

Gaara melirik Hinata sebentar. "Kurang lebih."

Bibir bawah Hinata bergetar mendengar jawaban pria itu. "M-M-Maafkan aku..."

Sebelum Hinata bisa melanjutkan pidato penyesalannya, Gaara sudah menyela, "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Kau lapar?"

Belum lagi Hinata bisa menjawab, perutnya sudah mengambil alih menjawab pertanyaan tersebut untuknya. Bunyi 'kruuk' tersebut rupanya terdengar begitu keras hingga ke telinga Gaara. Dan tanpa diduga, lelaki itu tiba-tiba terkekeh.

"Lapar, ya? Aku sudah minta dibuatkan sandwich."

Hinata mengangguk sebelum memberi pandangan marah pada perutnya. Bagaimana perutnya sendiri bisa mengkhianati dan mempermalukannya?

"Tunggu sebentar..." Gaara tiba-tiba berkata, Ia kembali mem-pause gamenya, lalu berdiri dan meninggalkan Hinata di ruangan tersebut sendirian. Si gadis Hyuuga yang tak tahu harus melakukan apa karena kepergian Gaara yang tiba-tiba memutuskan untuk melakukan tour sendiri mengelilingi ruangan tersebut.

Ruangan itu cukup besar, dan sepertinya sering digunakan. Langit-langitnya tinggi dengan tipikal jendela besar di sisi ruangan, sementara di sisi lain terdapat sebuah perapian yang di atasnya berjejer foto-foto. Hinata pun berjalan menuju perapian, kemudian menghibur dirinya sendiri dengan melihat foto-foto tersebut. Terdapat banyak sekali gambar Gaara bersama kedua kakaknya. Dari latar belakangnya, Hinata bisa menduga gambar-gambar tersebut kebanyakan diambil di Inggris. Ia pun langsung mengambil kesimpulan kalau Gaara tumbuh besar disana. Namun ia tiba-tiba teringat. Gaara pernah berkata padanya kalau dia berasal dari sebuah kota kecil di gurun pasir Australia. Lalu, bagaimana dia bisa nyasar ke Inggris?

"Melihat sesuatu yang menarik?"

Hinata terlonjak mendengar suara yang mendadak muncul di belakangnya tersebut. Ia berbalik dan menemukan Gaara berdiri persis di belakangnya dengan blazer di tangan.

"Nih." Ia menyerahkan blazer di tangannya. Bagaimana blazer tersebut bisa terlepas darinya masih misteri untuk Hinata. Dan ia bertekad untuk mengetahuinya. "Dan ini handphonemu. Kutemukan di jok mobil."

Hinata cepat-cepat meraih Blackberry-nya dan mengecek layarnya. Wajahnya memucat ketika menyadari baterainya habis. Ia bisa membayangkan ayahnya yang mencoba meneleponinya semalaman. Dia pasti murka karena tak bisa menghubungi Hinata.

Gaara yang masih berdiri di tempatnya mengamati wajah Hinata saat berbagai emosi muncul di wajah gadis itu. Tak butuh seorang jenius untuk menebak apa yang sedang dipikirkannya.

"Kau mau menelepon seseorang?" Hinata mendongak ke arah lelaki di hadapannya. Wajahnya sedikit ragu-ragu, kemudian menggeleng.

"T-Tidak usah. A-Aku... A-Aku... mau pulang. J-Jadi... Bisakah sekarang kau m-memberitahuku apa y-yang terjadi s-semalam?"

Gaara terdiam dan hanya memandanginya selama beberapa saat, sebelum berbalik dan kembali duduk di sofa. Ia menepuk tempat di sebelahnya, memberi sinyal pada Hinata agar ia duduk di situ. Si Hyuuga mematuhinya tanpa protes. Gadis itu ingin secepat mungkin mengetahui kebenarannya agar ia bisa pulang ke rumah dengan tenang.

"Kau yakin mau tahu?"

Hinata mengangguk pasti.

Gaara melihat keyakinan di matanya. Ia pun menghela napas, sebelum akhirnya mulai menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi sepanjang sisa malam sebelumnya.

-000-

Gaara menatap bosan pada pemandangan di hadapannya. Pesta itu tak ada bedanya dibandingkan pesta-pesta sebelumnya. Tak ada yang menarik perhatiannya. Minuman yang sama, orang-orang yang sama, wanita-wanita yang sama. Benar-benar membosankan.

Disampingya, Sakura juga terdiam seribu bahasa. Nampaknya gadis itu pun sama bosannya dengan dirinya. Atau ia tak bisa menemukan alasannya untuk ikut pesta ini. Sakura mendatanginya sore itu dan mengatakan bahwa Elise Northway menyelenggarakan pesta di rumahnya. Gaara tak mengetahui hal ini. Ia pun tak diundang. Tapi, karena Sakura diundang, dan gadis itu memintanya untuk mengantarnya karena ia tak punya kencan untuk malam itu, Gaara pun akhirnya datang.

Ia ikut pesta ini hanya karena ingin bertemu Sasuke dan menyelesaikan apa yang belum terselesaikan di antara mereka sore itu. Namun, bahkan setelah mengelilingi rumah tersebut, ia tetap tak bisa menemukan si Uchiha itu di mana pun.

"Gaara, kau mau berdansa?" tanya Sakura tiba-tiba, mencoba untuk mencairkan kebisuan di antara mereka.

"Hn." Gaara pun langsung berdiri, kemudian bersama Sakura menuju lantai dansa.

Saat itulah gadis itu muncul.

Gadis terakhir diatas bumi ini yang Gaara pikir akan ia temui di lantai dansa pestanya Elise Northway.

Hinata Hyuuga.

"GAARA!" teriak gadis itu. Ya, dia berteriak. Gadis yang Gaara tahu selalu berkata dengan lembut dan gagap itu meneriaki namanya dari seberang lantai dansa. "GAARA!" gadis itu berteriak sekali lagi sambil melambai-lambaikan tangannya dengan semangat.

Gaara menyadari pandangan aneh yang Sakura berikan padanya. Pertama gadis itu melihat ke arah si Hyuuga yang masih seperti orang gila memanggil-manggil namanya, kedua dia melihat Gaara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Gaara, kau kenal orang itu?" tanyanya pelan-pelan.

"Kalau dia bukan kembarannya yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa, Ya, aku kenal."

Karena masih terlalu bingung dengan tingkah Hinata Hyuuga yang betul-betul baru itu, Gaara pun tak membuat gerakan apapun untuk menghampirinya. Yang justru malah membuat gadis itu bergerak mendekatinya.

"GAARA! AKU DARI TADI MENCARI-CARIMU!" Bahkan dari dekat pun gadis itu tetap berteriak, tanpa gagap, dan yang membuat Gaara makin bingung, gadis itu melingkarkan lengannya di sekeliling dirinya, kemudian tanpa malu menggesek-gesekkan tubuhnya padanya.

Sakura mengamati semua adegan ini dengan mata terbelalak. Wajahnya tak percaya. Seorang gadis yang tak ia kenal mendadak muncul entah darimana kemudian memeluk pasangan dansanya dan menggesek-gesekkan tubuhnya seperti seekor kucing.

"APA-APAAN INI?" teriak Sakura tak mau kalah.

Hinata yang sepertinya baru menyadari bahwa Sakura berdiri disana kini melirik gadis itu. Dahinya mengernyit melihat si gadis berambut pink yang jengkel. "Apa yang kau lakukan disini, Sakura Haruno?"

Sakura tak tahu bagaimana gadis bermata seram itu bisa mengetahui namanya. Tapi ia jelas-jelas tak suka dengan cara gadis itu menyela dansanya bersama Gaara kemudian memandangnya seakan-akan dialah yang seorang pengganggu disitu.

"Bukan, pertanyaannya adalah apa yang kau lakukan disini?" Sakura menusuk bahu Hinata dengan telunjuknya.

"AKU INGIN BERTEMU GAARA!" teriak si gadis Hyuuga sekali lagi.

"Dia alasanmu datang kesini, Gaara?" tanya Sakura galak pada temannya yang berambut merah.

"Bukan. Aku bahkan tak tahu kalau orang sepertinya mau datang ke tempat seperti ini." jawab Gaara lambat-lambat. Sekarang mereka bertiga sudah menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Gaara pun berusaha melepas cengkeraman Hinata dari sekelilingnya.

"Tapi kau mengenalnya, kan?"

"Begitulah."

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, SAKURA?" Hinata yang sudah melepas pegangannya pada Gaara kini berdiri di hadapan Sakura. Kedua tangannya berada di pinggang seakan-akan mencoba menantang si gadis berambut pink itu.

Sakura pun tak mau kalah dan juga berkacak pinggang. "AKU YANG MENGAJAK GAARA KE SINI. DIA KENCANKU! DAN KAU," Sakura menusuk bahu Hinata sekali lagi, membuat si gadis Hyuuga mundur ke belakang, "CEWEK GA JELAS ASALNYA TIBA-TIBA DATANG DAN MENGGANGGU. PERGI SANA! SHOO!"

Mungkin karena wajah Sakura yang memancarkan rasa tak suka padanya, atau mungkin suara kasar gadis itulah yang membuat Hinata mendapatkan kesan bahwa dirinya terancam. Maka hal pertama yang muncul di pikiran si gadis Hyuuga adalah untuk menghilangkan ancaman tersebut.

Hinata pun mendadak menerjang ke arah Sakura dan mulai mencakari wajah si gadis berambut pink itu. Pada awalnya Sakura tak siap dengan serangan Hinata hingga dia jatuh ke belakang. Namun begitu ia menyadari apa yang gadis gila ini lakukan padanya, ia pun langsung menjambaki rambut gelap gadis itu sekuat tenaga.

Kalau tadi mereka hanya menarik perhatian beberapa orang di sekeliling mereka, kini mereka sudah menarik perhatian semua orang di lantai dansa. Orang-orang pun mulai bersorak saat melihat dua gadis yang berkelahi seperti wanita jalang itu.

Gaara yang tak suka melihat arah kejadian ini pun langsung menginterupsi. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Hinata yang hendak menampar wajah Sakura, kemudian dengan mudah ia mengangkat si gadis Hyuuga dan untuk kedua kalinya hari itu, memanggulnya di bahunya.

Kaget karena tubuhnya mendadak terangkat, Hinata pun meronta-ronta dan memukuli punggung Gaara. Lelaki itu hanya menggeram, matanya mencari-cari sesosok pria berambut pirang yang mencolok di kerumunan. Ketika ia menemukan orang itu, ia langsung menembus kerumunan untuk menghampirinya. Di bahunya, Hinata kini mulai menggigiti punggungnya, membuatnya meringis.

"Naruto!"

"Gaara! Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa gadis itu? Eh? Hinata?" Ia menatap bingung pada gadis yang sedang meronta-ronta di punggung Gaara.

Rupanya Naruto berada di barisan paling belakang saat perkelahian Sakura dan Hinata berlangsung. Gaara pun menghela napas. "Kuceritakan kapan-kapan saja, ouch!" serunya saat Hinata sekali lagi berhasil menggigitnya. "Sakura masih ada disana. Kau tolong dia, mengerti?"

Wajah Naruto langsung berubah panik. "SAKURA?" teriaknya.

"Ya, dan tolong kau antar dia pulang. Dia datang bersamaku, tapi cewek ini," Gaara mengedikkan kepala pada gadis di bahunya, "tak mungkin aku meninggalkannya. Bagaimana dia bisa sampai kesini pun aku tak tahu."

Tapi Naruto sudah tak lagi mendengarkannya karena si pirang itu sudah pergi menerobos kerumunan untuk menyelamatkan si gadis berambut pink yang masih tertinggal di belakang.

Gaara menghembuskan napas kesal. "Sekarang, apa yang harus kulakukan padamu?" tanya Gaara pada Hinata. Tapi gadis itu tak menjawab. Ia sudah berhenti menggigiti punggung Gaara, dan sekarang berteriak-teriak.

"TURUNKAN AKU GAARA! APA YANG MAU KAU LAKUKAN? KAU MAU MEMBAWAKU KE KLINIK LAGI?" Kemudian dia tertawa heboh karena kata-katanya sendiri.

Gaara harus, harus, harus, mengeluarkan gadis itu dari tempat ini secepat mungkin. Sebelum mulutnya mempermalukan mereka berdua lebih jauh lagi. Dalam perjalanan keluar, Gaara bisa melihat Elise Northway meniup sebuah ciuman ke arahnya. Entah mengapa ia mendapat firasat gadis itu terlibat dengan alasan mengapa si Hyuuga bertingkah aneh seperti ini.

Setelah sampai di luar, Gaara langsung membawa Hinata ke mobilnya. Didudukkannya gadis itu di jok depan, kemudian dia sendiri memutar mobil dan naik ke jok pengemudi. Gaara belum mau menyalakan mesin. Ia masih terlalu bingung dengan semua kejadian ini.

Disampingnya, Hinata sekarang terkikik-kikik sendiri. Gaara melirik ke arahnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada jok sambil memejamkan mata. Dan ketika Gaara melihat lebih dekat, ia sadar bahwa wajah gadis itu yang biasanya pucat, sekarang merah. Merah seperti orang demam.

Seketika Gaara pun tahu bahwa gadis ini mabuk.

Tapi, dari apa yang diketahuinya, ia yakin Hinata Hyuuga yang bagaikan biarawati ini tak mungkin datang ke pesta pada Jumat malam kemudian mabuk-mabukan untuk mempermalukan dirinya sendiri. Pasti ada alasan mengapa ia datang kemari, atau ada seseorang yang mengajaknya, dan tentunya... ada orang yang menawarinya minuman keras. Bahkan mungkin mencekokinya dengan obat.

Gaara menghembuskan napas kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

Kenapa sih dia harus menjadikan si Hyuuga ini urusannya? Kenapa tadi dia tak meminta orang lain saja yang mengurus gadis ini. Mungkin si Northway tak keberatan meminjamkan salah satu kamarnya untuk gadis ini.

Gaara sudah hampir turun dari mobil untuk membawa Hinata kembali ke dalam dan menyerahkannya pada Elise ketika ia teringat wajah Elise Northway di dekat pintu tadi. Seandainya Gaara meminta bantuannya, cewek itu pasti akan meminta imbalan macam-macam. Dan Gaara seratus persen lebih memilih mengurusi Hinata Hyuuga yang mabuk daripada berurusan dengan si Northway.

"Hinata." Gaara mencoba memanggil namanya, tapi gadis itu masih terkikik-kikik sendiri. "Hinata." Gaara mengeraskan suaranya sedikit, dan ternyata sukses menarik perhatian gadis itu.

Dia menatap Gaara dari balik bulu matanya yang tebal. Senyumannya lebar layaknya orang mabuk. "Ya, Gaara?"

Saat itulah Gaara baru menyadari bahwa wajah Hinata bermake-up, dan rambut gadis itu yang biasanya lurus entah mengapa sedikit bergelombang. Gaara menemukan dirinya mengernyit memandangi semua itu. Entah mengapa ia lebih memilih melihat Hinata dengan wajah pucatnya yang polos.

"Siapa yang membawamu kemari?"

"Tenten."

Baiklah, pertanyaan itu sama sekali tak membantu. Siapa Tenten?

"Apa yang kau lakukan di pestanya Northway?" coba Gaara sekali lagi.

"Aku ingin... ingin... bertemu denganmu." jawabnya lambat-lambat. Dengan tangan kanannya, ia mengelus pipi Gaara. Namun lelaki itu sama sekali tak terpengaruh, dahinya tetap mengernyit.

"Baiklah, kau bertemu denganku sekarang. Apa ada yang mau kau katakan?"

Hinata menurunkan tangannya. Kepalanya juga menunduk. Namun, meski gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya, Gaara masih tetap bisa melihat bibirnya yang mengerucut.

"Aku tak suka melihatmu bersama Sakura..." bisiknya perlahan-lahan.

Kedua alis Gaara terangkat mendengarnya. Apa dia tak salah dengar? Apa gadis ini cemburu melihatnya bersama gadis lain?

"Kau... cemburu?"

Hinata mendongak mendengar pertanyaannya. Ia tersenyum, senyuman lembut yang biasa Gaara lihat di bibir gadis itu. Gaara hampir merasa lega melihatnya. Namun ia tak siap ketika wajahnya mendadak berada sangat dekat dengannya. Kemudian tanpa pemberitahuan, gadis itu langsung menciumnya.

Namun Gaara tidak kaget berlama-lama, karena detik berikutnya ia langsung melumat bibir Hinata dengan ganas. Masa bodoh kalau gadis itu sedang mabuk. Di alam bawah sadarnya dia yakin gadis itu pasti menginginkannya.

Hinata melingkarkan lengannya di leher Gaara kemudian berpindah dari joknya untuk duduk di pangkuan lelaki itu. Gaara sendiri meletakkan tangannya di belakang kepala Hinata untuk menarik gadis itu mendekat dan memperdalam ciuman mereka. Ia bisa mengecap rasa alkohol di dalam mulutnya.

Gaara harus mengakui ia kaget saat jok tempatnya bersandar mendadak turun ke belakang, membuat tubuhnya jatuh berbaring dengan Hinata berada di atasnya. Gadis itu tersenyum menggoda, kemudian menggesekkan tubuhnya pada Gaara, membiarkan lelaki itu merasakan payudaranya yang lembut, jari-jarinya mengelus otot-otot di lengan lelaki itu. Gaara menatap ke dalam mata Hinata, dan tersenyum saat melihat gairah membara pada mata pucat gadis itu.

Mungkin ia bisa sedikit menyukai sisi 'liar' Hinata yang baru diketahuinya ini.

Gaara menarik kepala gadis itu turun kemudian mencium bibirnya yang lembut. Hinata mengerang. Gaara tak membuang waktu dan langsung memasukkan lidahnya ke mulut gadis itu. Kedua tangannya berkutat untuk melepas blazernya. Begitu selesai, Gaara melemparnya asal-asalan ke jok belakang kemudian menaikkan tube top Hinata hingga ke atas dadanya. Gaara melepas ciuman mereka sebentar untuk melepas tube top tersebut.

Meskipun dalam keadaan remang-remang di dalam mobil, Gaara masih tetap bisa melihat tubuh Hinata yang hanya mengenakan bra tanpa tali. Payudara gadis itu terlihat sesak di balik branya. Gaara pun tak bisa menahan keinginannya untuk menjilati kulit payudara gadis itu yang tak tertutup branya.

Hinata terkesiap saat merasakan lidah Gaara yang basah dan hangat menjelajahi kulitnya. Lelaki itu tak membuang waktu dan langsung melepas kait branya, kemudian meremas payudara yang lembut itu di tangannya. Hinata mengerang saat merasakan mulut Gaara menciumi kulitnya, kemudian menggunakan lidahnya untuk menjilati putingnya.

"Oh Tuhan..." erang Hinata lagi. "A-Aku... Aku..." Ia terkesiap saat merasakan tangan Gaara menyusup ke balik jeansnya. "Perasaanku tak enak..."

"Sudah terlambat kalau kau mau berhenti sekarang..." gumam Gaara di kulitnya saat tangan lelaki itu menemukan pusat gairah Hinata.

"Rasanya... a-ada yang bergerak naik... di perutku."

Gaara seketika menghentikan semua kegiatannya saat ia menyadari maksud gadis itu.

"Holy shit..." bisiknya sebelum secepat kilat bangkit duduk dan membuka pintu mobilnya. Di pangkuannya, Hinata mengernyit sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Gaara berpikir untuk menggendong Hinata keluar. Namun sebelum ia sempat melakukannya, Hinata sudah membungkukkan tubuh sambil memegangi perutnya. Gaara pun tahu ia sudah tak bisa menahannya lagi. Punggung gadis itu membungkuk makin dalam saat ia mengosongkan isi perutnya.

Gaara sangat bersyukur ia membuka pintu mobilnya tepat waktu.

Gaara kemudian menyusupkan sebelah tangannya di perut Hinata, sementara sebelah yang lain berada dipunggung gadis itu. Ia bisa mendengar rintihannya setelah selesai mengeluarkan apapun yang dimakannya malam itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Gaara. Hinata menjawabnya dengan anggukan lemah, sebelum Gaara merasakan beban tubuh gadis itu kembali di tangannya. Hinata sudah membungkuk lagi. Dan tak lama kemudian, ia melalui ronde kedua. Kali ini tak separah yang pertama, namun tetap banyak.

Gaara melihat ke sekeliling tempat parkir itu. Berharap tak ada orang yang lewat dan melihat pemandangan ganjil seorang gadis setengah telanjang yang muntah dari dalam mobil. Ia bernapas lega ketika tak melihat satu orang pun di sekitar situ.

Kemudian Gaara kembali mendengar rintihan Hinata. "Lebih baik?" tanyanya sambil mengusap-usap punggung telanjang gadis itu.

"Mmmh... ya..."

Gaara mengambil beberapa lembar tissue dari kotak tissue di dasbor mobilnya, kemudian memberikannya pada Hinata. "Gunakan ini untuk mengelap mulutmu."

Gadis itu mengangguk dan melakukan sesuai kata-kata Gaara. Begitu selesai, ia menghela napas dan menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.

"Mungkin kau harus mengenakan pakaianmu lagi. Kau bisa masuk angin kalau begitu terus." kata Gaara, kemudian menutup pintu mobilnya. Sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan apa yang tertunda tadi. Namun entah mengapa, setelah Hinata muntah kegairahannya tiba-tiba lenyap.

Ia menyalakan mesin saat Hinata dengan kikuk mencoba mengenakan branya kembali. Gaara menghela napas kemudian menolong gadis itu mengenakan pakaiannya. Setelah selesai, ia mengembalikan Hinata ke jok di sampingnya. Saat mereka sudah melaju di boulevard yang akan membawa mereka langsung ke blok 5, Gaara melirik Hinata dan menyadari gadis itu sudah terlelap.

-000-

Tentu saja Gaara tak menceritakan cerita itu sampai ke detail-detailnya pada Hinata. Ia yakin gadis itu pasti akan freaked out kalau tahu yang sebenarnya. Beberapa hal memang lebih baik dirahasiakan saja.

"Setelah itu sebenarnya aku mau langsung memulangkanmu ke rumahmu. Tapi, melihat kondisimu dan kondisiku, orang tuamu pasti bisa salah paham. Karena itulah aku membawamu kemari." Gaara menyelesaikan ceritanya.

Padahal Gaara sudah sengaja meninggalkan detail-detail yang mungkin akan membuat gadis itu malu. Tapi memang si Hyuuga sudah dasarnya pemalu, ia masih saja memberikan Gaara pandangan ngeri setelah mendengar bahwa mereka berciuman.

"A-A-Apa?"

"Aku tak akan mengulang ceritanya lagi."

Hinata shock.

Yah, siapa yang tidak syok setelah diberitahu kalau pada malam sebelumnya kau mabuk, kemudian berkelahi dengan seorang Sakura Haruno, SAKURA HARUNO! Salah satu cewek di Konoha Gakuen yang tak mau kau bikin kesal, lalu menciumi Gaara Sabaku, dan muntah di hadapannya.

Hinata merasa dirinya bisa pingsan kapanpun.

"K-Kau tak berbohong, 'kan?"

Gaara merengut padanya. "Untuk apa? Tak ada untungnya buatku."

Selama Gaara bernarasi, mereka berdua sudah berpindah tempat duduk. Gaara merasa dirinya tak bisa bercerita dengan baik apabila ia menetap di satu tempat yang sama. Karena itulah saat ini mereka berdua duduk berhadap-hadapan di pinggir salah satu jendela raksasa di ruangan tersebut.

Hinata memeluk kedua kakinya. Wajahnya tenggelam di lututnya. Ia seharusnya punya firasat hal seperti ini akan terjadi. Mana mungkin Elise akan membiarkannya bersenang-senang di pestanya. Perempuan itu pasti akan melakukan sesuatu untuk mempermalukannya.

Dan dia berhasil.

Meskipun demikian, Hinata bersyukur karena Gaara ada disana dan walaupun mereka tak begitu mengenal satu sama lain, lelaki itu masih mau menolongnya.

"Maafkan aku... Sungguh. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatan..." kata Hinata untuk yang kesekian kalinya pagi itu.

"Sudahlah." kata Gaara untuk yang kesekian kalinya juga. "Lagipula itu sudah berlalu. Seperti yang kubilang tadi, yang terpenting kau sekarang tak apa-apa."

Pintu ruangan itu mendadak terbuka, dan masuk seorang pelayan yang tadi dijumpai Hinata di dekat tangga. Ditangan pelayan tersebut terdapat sebuah nampan besar yang Hinata yakin berisi sarapan.

"Letakkan saja di meja." kata Gaara pada pelayannya yang bingung mau meletakkan nampan tersebut dimana ketika melihat tuannya berada di jendela.

"Baik, Master."

Begitu si pelayan pergi, Gaara berdiri. "Biar kuambilkan."

"T-T-Tunggu!" Hinata menarik pergelangan tangan lelaki itu, menghentikan gerakannya. "Biar aku saja yang ambil. K-Kau duduk disini." Ia sudah terlalu banyak merepotkan lelaki itu. Membawakan nampan mungkin hal termudah yang bisa ia lakukan setelah apa yang Gaara lakukan untuknya.

Gaara hanya mengangkat bahunya sedikit, kemudian duduk seperti permintaan Hinata. Sementara gadis itu melepas pegangannya lalu meninggalkan Gaara dan berjalan ke tengah ruangan untuk mengambil sarapan mereka. Hinata lalu berjalan kembali ke tempat ia dan Gaara duduk, di pinggir jendela yang hangat karena tertimpa cahaya matahari. Pinggir jendela itu cukup besar untuk mereka berdua duduk beserta nampan dan sarapan mereka.

Sejak kecil Hinata tahu ia bukanlah orang yang ceroboh. Dulu ia sering sekali membawa nampan sarapan seperti ini ke kamar Hanabi untuk membangunkan adiknya yang tukang tidur itu. Jadi sama sekali bukan masalah bagi Hinata untuk membawa nampan tersebut dari meja menuju jendela, bukan?

Hanya saja, ketika Hinata berjalan mendekati jendela, yang dalam kasus ini berarti juga mendekati Gaara, lelaki bermata azure itu harus memilih saat itu untuk mengamati kaki-kakinya gadis itu yang mulus. Tatapannya yang intens tentu saja disadari oleh Hinata. Dan sebagai seorang gadis yang penggugup, kakinya pun bergetar saat Gaara tak kunjung mengalihkan matanya.

Hinata bahkan tak sadar saat ia menginjak jarinya sendiri saking gugupnya.

Ia pun serta merta kehilangan keseimbangan.

Meskipun sudah kehilangan keseimbangan, Hinata masih tetap bisa menahan dirinya agar tak terjatuh. Namun lain dengan nampan di tangannya. Ia berusaha menangkap semua piring dan cangkir yang berisi cairan mendidih agar tak jatuh.

Namun, malang baginya karena satu cangkir berisi teh panas malah terpental dan jatuh ke depan. Isinya tumpah dan mengenai bagian depan tubuh Gaara.

"Oh, tidak..."

Cangkir teh tersebut pun jatuh dan pecah di lantai.

Gaara berkedip sekali, kemudian langsung terlonjak berdiri dengan wajah kesakitan. "Panas. Panas. Panas. Panas. PANAS." Dia langsung menggeliat dan berusaha mencopot kausnya yang basah dan mendidih.

"Ya Tuhan, maafkan aku!" pekik Hinata yang buru-buru meletakkan nampan tersebut di dekat jendela sebelum menarik kaus Gaara ke atas untuk menolong lelaki itu mencopotnya.

Hinata sudah tak tahu lagi berapa kali ia sudah minta maaf pada Gaara. Belum lagi rasa bersalahnya akibat semalam hilang, ia sudah kembali berbuat salah pada lelaki itu.

Hanya saja, saat itu Hinata tak punya waktu untuk memikirkan jumlah kesalahannya.

Ia selalu melihat di film-film ketika adegan dimana sang tokoh utama melakukan sesuatu yang akan menjadi suatu kesalah-pahaman apabila terlihat oleh orang lain. Ia selalu berpikir situasi seperti itu tak akan pernah terjadi padanya ―sampai Kankurou Sabaku tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut tepat saat Hinata sedang membantu Gaara untuk melepas bajunya.

Pintu ruangan tersebut tak terkunci (tentu saja). Dan sebagai salah satu 'tuan' di rumah tersebut, tentu saja Kankurou tak pernah repot-repot mengetuk pintu apabila mau masuk ke suatu ruangan (kecuali ruangan milik pribadi). Pria berambut cokelat itu hanya berkedip beberapa kali saat melihat seorang gadis berambut gelap yang tak dikenalinya sedang berusaha 'menelanjangi' lelaki yang kemudian ia ketahui adalah adiknya.

Jujur saja, seandainya kau berada di posisinya Kankurou, apa yang akan kau lakukan?

Kau baru saja pulang dari perjalanan bisnis dan memutuskan untuk mengunjungi adik kecilmu, dan mungkin juga menyantap sarapan bersamanya. Kau masuk ke rumahmu, berjalan ke ruangan tempat adikmu biasa menghabiskan waktunya untuk bermain game, lalu masuk tanpa pemberitahuan berharap mungkin akan mengagetkannya dengan kedatanganmu yang tiba-tiba.

Tapi malah kau yang dikagetkan.

Kankurou tahu kalau adiknya suka gonta-ganti pacar. Namun ia sama sekali tak menyangka adiknya akan seberani ini dengan melakukannya di PAGI hari, di ruangan tak terkunci yang bisa dimasuki SIAPA SAJA. Apa yang akan terjadi seandainya bukan dia yang datang, sebut saja... ayah mereka?

"... apa aku mengganggu sesuatu disini?" Dari sekian banyak hal yang ingin diucapkannya. Hal itulah yang pertama keluar dari mulutnya.

Wajah Hinata berubah warna semerah tomat. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Ia menggunakan kaus Gaara di genggamannya untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan menyelidik Kankurou.

"Ini bukan seperti yang kau pikirkan..." Gaara memulai. Sadar sepenuhnya bahwa kakaknya pasti sudah berpikir macam-macam.

"Benarkah?" Ia bergerak menuju tengah ruangan. "Karena semuanya terlihat seperti apa yang kupikirkan."

Gaara menghela napas. "Aku serius. Kenalkan, ini Hinata. Hinata, itu kakakku, Kankurou."

Oh, rasanya Hinata ingin sekali menggali lubang kemudian bersembunyi di dalamnya saat mengetahui kalau pria itu adalah kakaknya Gaara. Hinata merasa dewa sedang tak berada di pihaknya belakangan ini, karena masalah terus menerus mendatanginya seperti serangga.

Hal terakhir yang diinginkannya saat itu adalah apabila Temari, kakak sulungnya Gaara, juga muncul di ruangan tersebut.

Jantung Hinata nyaris copot ketika orang yang barusan dipikirkannya itu mendadak masuk lewat pintu yang tadi dilewati Kankurou. Ia masih mengenakan gaun tidur dan rambutnya tergerai. Matanya terbelalak melihat game room yang sudah ramai di pagi hari.

"Kankurou! Kapan kau tiba?" Kemudian matanya beralih dan jatuh pada si gadis bermata pucat. "Loh? Hinata? Apa yang kau lakukan disini?"

Yap, pagi yang sempurna untuk Hinata Hyuuga.

-000-

A/N: Aku sungguh minta maaf atas (lagi-lagi) update yang seperti siput iniii. Saat ini aku sedang liburan, dan cukup sulit menemukan waktu yang tepat untuk menulis. Dan lebih sulit lagi menemukan tempat dimana aku bisa dapet internet gratis (gak modal). Dan dengan jadwalku yang padat, *cieilah*, empat hari lagi aku udah harus balik ke kampus T-T

Seperti yang sebagian dari kalian mungkin sudah ketahui (atau dulu pernah ku katakan sebelumnya), cerita Lawless ini tak akan di publish seandainya sahabatku yang cantik, Jessica Jo (aku memanggilnya Jejo) tidak menyemangatiku. Dia lah orang yang pertama kali mendengar cerita ini, dan juga satu-satunya orang yang sudah mendengar akhir cerita ini. Saat aku sedang writer's block, dia jugalah yang jadi inspirasiku.

Namun dia sudah pergi sekarang.

Bila para pembaca sekalian tidak keberatan, saat membaca tulisan ini, kumohon kalian mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum sahabatku yang baik itu. Dia adalah orang yang sangaaat baik, talented, manusia paling baik yang pernah aku jumpai di atas bumi ini. Aku tak ingin dia tersesat dan langsung sampai ke surga : )

Terima kasih ya atas kesetiaan kalian semua yang terus membaca cerita ini, mereview, memfavorite. Aku sangat bahagia kalian menyukai cerita ini.

Balasan untuk review... aku ngutang lagi gapapa ya? ^_^v *ditimpukin* Tapi tetep jangan bosen untuk ngereview oke? Reviews are what keeping this story alives. Dan aku sangat menantikan feedback, opini, kritik dan saran kalian tentang cerita ini : D

Oke deh, sekarang shiorinsan undur diri duluu

See ya in the next chapter guys!

love you!

xoxo
shiorinsan