Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary :"Kau benar-benar sudah mengganggu hidup ku,". "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu,".
Chapter 11
Saat itu, cahaya matahari sore sudah nyaris berganti dengan sinar rembulan. Hembusan angin juga mulai menyejuk karena malam akan segera datang.
"Kalau begitu…".
.
.
.
"Jadi pacar ku ya?".
Tapi, Naruto belum menunjukan perubahan ekspresi apa-apa. Masih sama seperti beberapa detik lalu, detik dimana Gaara mengucapkan permintaan balas budi padanya.
Jadi—pacarnya? Aku?
"Mak-Maksud mu… Kau ingin menyewa ku?" Naruto bertanya guna mengkonfirmasi.
Gaara sungguh ingin menepuk jidat. Pujaan hati rupanya salah tangkap.
Niat hati ingin mengklarifikasi, eh, malah disela lagi.
"Kau ingin menunjukkan ku pada mantan pacar mu? Atau di depan gebetan mu yang mengganggu? Di depan Ibu mu? Ah—jangan-jangan kakak mu ya?" hujam Naruto bertubi-tubi.
Naruto benar-benar salah paham. Gaara jadi geram.
"Tidak," pemuda merah itu memotong tajam. Naruto jadi terdiam.
"Aku tidak akan pernah menyewa mu," Gaara melanjutkan dengan nada tegas.
Sirat bingung tentu saja tergambar jelas di wajah si pemuda pirang. Ditambah—ia kan baru bangun tidur. Jelas pikirannya belum nyambung!
"Pacar sungguhan…".
Eh?
"Jadilah pacar sungguhan, untuk diri ku," netra hijau kebiruan milik Gaara menatap mata biru langit itu dengan intens.
"Aku—mencintai mu, Naruto,".
Menegaskan kalau pemuda merah itu serius, tidak main-main, dan tidak mengada-ada dengan apa yang ia katakan.
Pemuda pirang itu sesungguhnya tidak buta-buta amat perihal cinta. Kerap kali ia berselancar di dunia maya hanya untuk menggali lebih dalam apa itu cinta.
Sedikit banyak ia mulai mengerti, walau belum pernah mengalaminya sendiri. Namun ini hanyalah permintaan balas budi. Tidak perlu menyatakan perasaan yang terpendam di hati.
Tapi, saat menatap binar Gaara yang melembut, di dalamnya seolah ia melihat kilas balik perbuatan pemuda merah itu padanya.
Yang selalu dengan bodohnya ia hiraukan, yang tidak pernah ia perhatikan.
Kalau selama ini ialah yang selalu jadi perhatian, selalu jadi bahan pemikiran.
Naruto sudah melahap habis pelajaran percintaan saat ia menjadi pacar sewaan. Jadi tentu ia paham apa yang sedang Gaara lakukan.
Yang membuatnya harus berpikir ulang adalah…
Apa… yang harus ia lakukan?
Haruskah ia menerimanya? Mencerna perasaan Gaara dan menyingkirkan bayang-bayang Uchiha?
Lagipula, Gaara mencintainya. Bukankah tidak baik menolak perasaan cinta dari seorang manusia?
Namun…
Dalam benak dan hatinya, Gaara tidak lebih dari sekedar teman. Mana tega ia memanfaatkan perasaan sahabatnya untuk bahan pelampiasan? Apalagi ia melakukannya hanya untuk sebuah permintaan!
Ia sama seperti Kiba—juga teman-temannya yang lain.
Apa mungkin hanya Sasuke yang berbeda? Selalu muncul kapan saja, membuat tubuh dan pikiran Naruto kehilangan energi dalam sekejap mata.
Membuat jantung berdebar dengan hebatnya, membuat hati terenyuh akan kehangatan dibalik kalimat dinginnya.
Tapi—lagi-lagi,
Naruto sudah membulatkan tekad untuk melupakan pria itu. Melenyapkannya dari kalbu. Menghilangkan bayangnya hingga menjadi debu.
Pada akhirnya, Naruto menyunggingkan senyum kecil pada kawan berambut merahnya itu. Ditatapnya Gaara dengan matanya yang bewarna biru.
Mungkin, tiada salahnya mencoba.
"Baiklah. Aku bersedia…".
Tidak mungkin Gaara tidak terkejut. Dan bukan salah siapa-siapa otak Gaara secara dadakan menjadi selambat siput. Yang Gaara dengar hanyalah kalimat berikut,
"Aku akan jadi pacar sungguhan mu, Gaara,".
Janji tetaplah janji. Mana mungkin aku menjilat ludah ku sendiri?
Dari balik jendela kaca tempat Sasuke bernaung, ia bisa melihat hiruk pikuk kota Konoha. Saat ini, pria itu sedang melaksanakan tugasnya sebagai direktur—yang berarti ia ada di kantor, duduk sambil membaca laporan dari karyawan.
"Dasar pemabuk putus cinta,". Sasuke belum bisa berhenti mengingat perkataan Karin beberapa jam yang lalu (wanita yang berbaik hati mengijinkan dirinya untuk menumpang tidur dan mandi setelah menemukan dirinya begitu berantakan).
Sasuke ingat ia pergi ke sebuah bar kemarin malam. Tujuannya hanya untuk membeli minuman menyegarkan (yang kenyataannya memabukkan). Ia ingat ia duduk di tempat terpencil di bar tersebut—dan ia sendirian.
Ia tidak pernah menyangka kalau mitra bisnisnya—Karin—akan menjumpainya dalam keadaan memalukan. Menangis dan meracau tak karuan mengenai kekasih (bayaran) yang sudah menjadi mantan.
Walau dalam hati ia (agak) bersyukur karena itu Karin—bukan sekretarisnya yang genit atau lebih-lebih penguntit.
Sasuke menghela nafas, meletakkan punggungnya di sandaran kursi.
Tapi… itu memang benar.
Mabuk-mabukan mengenai mantan. Menyedihkan, memalukan, menyakitkan.
Lantas apa yang harus dia lakukan? Ia dihadapkan hanya pada dua pilihan.
Terpuruk dalam kenangan… atau mengajaknya balikan?
Pagi hari di halaman kampus tercinta.
Terlihat Kiba mengucek mata. Tidak, bukan karena matanya gatal atau sedang mengikuti casting iklan obat anti iritasi mata.
Ia takut ada sesuatu yang salah—seperti menderita rabun dadakan atau semacamnya sehingga pengelihatannya ngawur.
Kiba tidak yakin, yang ia lihat ini—masa iya—Naruto—teman sejurusannya, dan itu di sampingnya—Gaara…? Anak orang kaya yang jadi pewaris tahta dan calon dokter paling ganteng sedunia?
Seharusnya ini tidak aneh. Kiba sangat sadar dan sangat tahu kalau Naruto dan Gaara itu teman dekat. Wajar—mereka satu klub dan juga seangkatan.
Tapi apa-apaan rangkulan di leher Naruto yang dilakukan Gaara? Dan kenapa wajah Naruto jadi kesal malu-malu ala karakter tsun-tsun di anime favoritnya?
Ini serius? Kiba mode ibu-ibu arisan : on.
"Eh—Kiba," sapa Naruto yang kebetulan menangkap Kiba sedang termenung akibat ulahnya pagi ini. Pemuda bertato merah itu menoleh kaku. "Ah—Naruto. Tidak biasanya, pagi sekali kau datang," jawabnya.
Naruto melirik Gaara. Dan kenapa dia malah melirik Gaara—bukan menjawab pertanyaannya? Kiba bingung setengah mampus.
"Tadi aku menjemputnya," jawab si pemuda merah dengan nada datar. Naruto hanya senyum-senyum.
Kiba manggut-manggut (berusaha) paham. "Oh, dijem—". Kiba tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia menemukan sebuah kejanggalan secara mendadak.
EH! TUNGGU BENTAR! Dijemput Gaara?
Oi—oi—oi…
"Tumben?" Kiba menatap kedua sejoli itu minta penjelasan. Tapi Naruto hanya umbar-umbar senyum tanpa menjawab. Melihat gelagat Naruto yang makin tidak karuan anehnya, Kiba melontarkan pertanyaan baru,
"Kalian itu kenapa sih?" Kiba keceplosan akibat kebingugan yang berlebihan. Diliriknya Naruto dan Gaara bergantian. Saat beradu tatap dengan pemuda merah itu, ia malah melukis senyum setipis kulit martabak telur kebanggaan kantin dan menjawab,
"Kita pacaran,".
Dan Naruto tidak menunjukkan protes atau bahkan penolakan saat Gaara merangkulnya (mesra) di bagian pinggang. Jadi Kiba berasumsi bahwa, kalau mereka betul-betul pacaran.
"Oh, pacaran toh…" Kiba mau tertawa lega. Ia berbalik hendak melanjutkan perjalanan yang tertunda ke gedung fakultasnya.
Lho—tapi… bukan jawaban seperti itu yang dia minta!
Pemuda penyukai anjing itu benar-benar tidak bisa menghilangkan sebuah fakta yang baru saja ia dapat tadi pagi dari kepalanya.
Naruto pacaran dengan Gaara? Itu sungguhan?
Baru pertama kalinya Kiba tidak menaruh minat apa-apa pada Ebisu-sensei yang masih dengan setia memberikan materi. Ia lebih tertarik dan penasaran pada si jabrik jagoan klub renang—yang sekarang sedang (sok-sok) menulis di bukunya.
Jangan-jangan… cuma—sewaan?
Mendadak melintas sebuah pemikiran konyol. Kiba ingin ketawa.
Serius… dia disewa lagi? Mujur banget tuh anak!
Tapi kalau pacaran sungguhan bagaimana? Kiba sungguh dilema.
Sebenarnya kalau dipikir lagi—kenapa Kiba harus repot-repot kepo masalah Naruto pacaran dengan siapa—atau sewaan apa beneran—atau apapun itu.
Kiba selalu berdalih, mereka sudah berteman lumayan lama, jadi (menurutnya) wajar saja bila ia penasaran dengan apa yang terjadi pada pemuda pirang tersebut. Apalagi mereka sealiran—sama-sama anak perantauan. Bukan sesuatu yang aneh bila saling memperhatikan.
Faktanya, selama berteman dengan Naruto, Kiba belum pernah menjumpai Naruto berpacaran dengan siapapun. Neither woman nor man. Pemuda itu sudah membentengi dirinya dengan label 'teman segala umat'.
Ia tahu hubungannya dengan Sasuke juga semata-mata untuk menghindar dari penyakit kanker—alias kantong kering—walau ujung-ujungnya, Naruto malah terkena virus cinta.
Yang membuat Kiba bertanya-tanya,
Apa yang membuatnya mau menerima Gaara sebagai seorang kekasih?
Padahal jelas-jelas si pirang itu terkena sindrom galau stadium 3 akibat putus hubungan dengan Uchiha.
Mungkinkah… Gaara sekedar pelampiasan saja? Pikir Kiba menduga-duga.
Naruto masih ada satu jam untuk leha-leha, sebelum ia ada pertemuan dengan Ebisu untuk membahas kelanjutan karya tulisnya.
Saat langkah kakinya berbelok ke kantin, lengan kurus Naruto mendadak ada yang menarik. Ditolehkannya kepala melihat siapa pelakunya.
"Ki—Kiba?" gagapnya.
Diperhatikannya sang sahabat yang mengenakan hoodie abu-abu dipadu dengan celana berwarna khaki dan sepatu kasual warna hitam.
"Ada apa?" tanya Naruto santai. Kiba melepaskan tangannya dari Naruto.
"Naruto, ceritakan pada ku,". Kiba berkata to the point alias tanpa basa-basi.
Raut bingung terpampang jelas di wajah si pirang. "Cerita…?".
Pemilik rambut coklat itu mengangguk pasti, lalu ia tersenyum.
"Nih, buat mu,". Ia mengeluarkan susu coklat yang Naruto duga berasal dari mesin minuman yang dipajang di dekat pintu masuk kantin.
"Kenapa tiba-tiba kau jadi baik begini sih?" Naruto berkata sambil tertawa kecil dan kemudian duduk di bangku.
"Itu buat mu, kalau-kalau tenggorokan mu kering akibat bercerita panjang lebar," Kiba membuat alibi.
Naruto kembali tertawa. "Jadi… apa yang harus aku ceritakan?".
Kiba mengambil posisi yang enak, sebelum Naruto memulai ceritanya. "Ne, sejak kapan kau dan Gaara jadian?" tanyanya dengan seringai menyebalkan tepat di ujung bibir.
Mimik Naruto berubah 180 derajat. "HAH?! SIAPA YANG JADIAN?! KAU ITU BODOH YA?!" Naruto lepas kontrol mengenai suaranya—dan sudah pasti membuat seluruh penghuni kantin saat itu menoleh cantik kearahnya, dan dia masih dengan bodohnya melanjutkan kalimat tadi dengan nada tinggi.
"AKU DAN GAARA TIDAK JADIAN TAU!". Kiba menukikkan alis. Ia berani sumpah, reaksi Naruto yang ini bukanlah harapannya.
Ia sudah berekspetasi kalau pemuda itu akan memerah hebat hingga menyaingi merahnya tomat sambil berusaha menutup-nutupi pertanyaannya tadi. Tidak teriak-teriak macam penjaja sayur keliling yang biasa lewat depan asramanya begitu.
"Duh bodoh! Jangan teriak-teriak dong!" Kiba berucap sambil meletakkan telunjuk di bibir, isyarat memberi perintah diam—sambil sesekali mengamati kantin yang heboh dadakan akibat ulah sang sahabat. Ia pun menunduk meminta maaf untuk memaklumi kelakuan Naruto yang diluar perkiraan.
Naruto kemudian mengerucutkan bibir—tanda merajuk dan menahan malunya yang tak kentara.
"Kau yang membuat ku begitu," katanya kesal. Ditusuknya kotak susu dengan sedotan, lalu meneguknya cepat-cepat.
Kiba mengusap kepala—pening. "Eh—sungguh, kau jadian dengannya tidak?". Tapi di sisi lain ia masih tetap penasaran dengan kebenarannya. Ia tak mau mati tanpa tahu kepastian. Bisa-bisa ia gentayangan!
Naruto melirik Kiba, penuh arti sehingga Kiba pun tak mengerti arti dari tatapan itu—karena artinya terlalu banyak.
"Janji takkan cerita siapa-siapa?" kelingking mungil disodorkan tepat di depan wajah si penyuka anjing. Dan pemilik marga Inuzuka itu sangat ingin tertawa geli. Man, kamu sudah kuliah tapi masih percaya janji kelingking?
Tapi-eh-tapi, Kiba tetap menyambutnya dengan senang hati. Dijabatnya kelingking tersebut dan terikatlah suatu janji.
Senyum Kiba ramah sambil berkata, "Aku takkan bilang-bilang,".
"Uchiha-san…" panggil seorang pemuda berambut pirang dari jauh.
Pemilik nama—yang tepatnya adalah Uchiha Sasuke pun menoleh-noleh mencari si pemanggil.
"Uchiha-san," kali ini suaranya lebih jelas. Dan lebih dekat.
Sasuke pun menengok kesana-kemari.
"Uchiha-san!" Sasuke terpenjat kaget karena bahunya ditepuk dengan keras dari arah belakang.
Sasuke berputar, mendapati rambut pirang yang berkibar pelan karena tiupan angin yang lembut.
Dan apalagi yang lebih indah daripada melihat dua kelereng biru yang tengah menatap mu dengan teduh, juga bibir yang tengah mengulas senyum lima jari yang sangat menggemaskan?
"Naruto…" Sasuke akhirnya buka mulut, mengulas senyum tipis dan mengangkat tangannya guna mengelus pipi yang punya tiga pasang goresan itu.
"… Uchiha…".
"… Uchiha!".
"Tuan Uchiha!".
Sasuke terpenjat. Tubuhnya menegang dan bersamaan dengan itu—angannya seputar Naruto menghilang.
Rupanya… yang tadi hanyalah lamunan.
"Apa anda sedang tidak enak badan?" tanya orang yang menegurnya barusan.
Pandangan Sasuke yang tadinya buram pun kembali fokus. Ia ingat, kalau hari ini ia ada rapat internal bersama para manager, dan pikirannya masih sempat melayang-layang?
"Tuan Uchiha—".
"Aku tidak apa-apa," sahut Sasuke cepat. Pria itu kemudian mengatur nafasnya. "Ayo, lanjutkan," katanya lagi.
Para manager yang tadinya memasang mimik khawatir pun kembali seperti sedia kala. Dan rapat itu selesai kemudian—tanpa ada gangguan seperti tadi.
Sasuke kembali ke ruangannya setelah ia memesan kopi pada salah satu office boy yang ia jumpai di lorong. Duduk ia di 'singgahsana', lalu berbalik dengan segera untuk memandang jalanan kota.
Sial… rutuknya.
Bisa-bisanya pemuda itu… bisa-bisanya ia masuk ke pikiran ku saat sedang kerja!
Sasuke mengelus wajahnya kasar. Heran pada dirinya sendiri mengapa memikirkan 'mantan pacarnya' bukan pada waktunya.
Diraihnya ponsel yang ada di saku celana.
No notifications. Tak ada pemberitahuan dari siapa-siapa hari ini. Maklum sih, ponsel itu tergolong baru ia miliki—karena yang sebelumnya harus diganti akibat jatuh dari ketinggian yang tidak main-main. Dan nomor pribadinya hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.
Contohnya Itachi, Sakura, Karin, dan oh…
Naruto juga.
Biasanya ia menggunakannya minimal seminggu sekali, apakah hanya untuk menelpon atau mengganggu si pirang dengan pesan singkat—pokoknya sasarannya adalah Naruto.
Dan ia baru sadar, betapa rindunya ia dengan suara berisik dan nada kesal Naruto saat mengangkat teleponnya. Ia juga rindu membayangkan ekspresi si pemuda saat ia melihat balasan pesan singkatnya.
Sasuke sungguh rindu.
Dia benar-benar telah mengganggu ku.
Seringai Sasuke pun terangkat. Kau harus bertanggung jawab, Naruto.
Hampir seminggu berlalu—dari kejadian dimana Naruto bercerita pada Kiba soal jadiannya dengan Gaara.
Pemuda pirang itu sedang sibuk-sibuknya berurusan dengan skripsi—wajar karena ia sudah diminta untuk sidang minggu depan.
Saat Naruto keluar dari gedung fakultasnya, sambil menenteng laptop yang mati dan memanggul tas ransel, Gaara menyapanya dengan seulas senyum tipis di bibir.
"Bagaimana hari ini?" tanyanya.
Naruto menghela nafas. "Melelahkan!" keluhnya seperti anak manja, lalu berjalan beriringan bersama Gaara.
Pemuda berambut merah itu melirik sejenak Naruto yang berstatus sebagai pacarnya itu. "Wajah mu buruk sekali," ujarnya.
Si rambut pirang membalas ketus. "Hei, maaf saja ya. Tapi wajah ini adalah pemberian ayah ku, tahu!".
Gaara tertawa kecil, "Maksud ku, kantung mata, kerutan dan gurat capek semuanya terpatri jelas di wajah mu. Apa kau kurang tidur?" balas si pemuda merah. Terangkat tangannya untuk mengecek muka Naruto.
Baru tersentuh ujung pipi, Naruto sudah menepisnya kuat-kuat.
"Ah—maaf. Aku kaget…" ucap Naruto canggung. Manik biru miliknya bahkan tak menatap Gaara lagi. Hanya jalanan yang kini dipandangnya.
Gaara pun sama halnya.
Kembali memandang jalan, namun dengan tangan yang terkepal kuat.
"Ne, Naruto. Mau ku traktir ramen?" Gaara kembali membuka obrolan.
Naruto melirik calon dokter itu dengan tatapan tidak enak. "Memangnya tidak apa-apa?" cicitnya.
Gaara balas memandang. "Tentu tidak. Kau kan pacar ku," jawabnya ringan. Naruto yang mendengarnya pun hanya bisa diam.
"Dan lagi… ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu," lanjut Gaara tanpa Naruto tahu.
Bersambung...
Hai kalian semua~~~ Para pembaca setia yang selalu menunggu kelanjutan OTP kita tercinta
Pertama sekali Ao mau minta maaf karena sangat lama meng-update cerita ini. Terimakasih pada virus WB dan pekerjaan yang sangat menumpuk di luar sana, ugh mau nangis rasanya.
Kedua, gimana ceritanya? Maaf ya kalo pendek, karena Ao juga buru-buru bikin akibat dari inspirasi yang baru nongol. Dan maaf banget kalau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pembaca, dan makin gak jelas!
Ketiga, chap depan (chap 12) adalah chap terakhir alias TAMAT. Jadi, tungguin aja ya, gimana akhir dari cinta segi sepuluh ini (?), eh maksudnya cinta antara Sasuke Naruto dan Gaara ini... okeh?
Dan yang terakhir seperti biasa, jangan lupa review biar cerita Ao makin baik dan memenuhi syarat (emangnya mau bikin KTP?) okeh, pokoknya jangan lupa komen-komen di review ya, saya tungguin lohh
Sankyuu
AkaiLoveAoi
